Accidentally Family (Chapter 12)

PicsArt_10-10-10.39.11

Accidentally Family

|LEORENE|

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family, Life | Chaptered | PG17

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Previous :

 Prolog | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09  | 10 | 11

Summary :

“Ugh, aku mual…”

.

.

.

Chapter 12

“Joohyun sayang, maafkan aku. Sungguh tadi aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Tapi kamu memang tidak bisa masak ‘kan?”

Chagi, walau kamu tidak bisa masak, tapi aku tidak pernah menyesal memilihmu menjadi istriku. Jadi maafkan aku, ya?”

Yeobo…

“Aish, tidak, tidak! Panggilan yeobo terkesan tua, kita ‘kan baru menikah empat bulan.”

Pria bermarga Jung itu terus mencerocos pada panci berisi sup kepiting yang meletup-letup di hadapannya. Sebelah tangannya yang tidak memegang sodet, terangkat mengusak surai kelamnya frustasi. Yup, Jung Taekwoon sedang sibuk latihan membujuk Joohyun sembari memasak sup kepiting sesuai keinginan gadis Bae tersebut.

Padahal pagi tadi mereka berdua berada di dalam suasana hati yang bagus dan menghabiskan waktu dengan berolahraga bersama. Lantas memutuskan untuk mampir ke pasar basah membeli bahan masakan sup kepiting lantaran Joohyun mengatakan ingin makan itu tiba-tiba. Tapi petaka datang saat keduanya sibuk memilih bawang bombai—yang ternyata adalah bahan masakan kesukaan keduanya—Taekwoon salah bicara hingga menyinggung perasaan Joohyun. Alhasil Taekwoon harus pulang ke rumah menggunakan bis sambil membawa barang belanjaannya karena Joohyun membawa serta mobilnya pulang.

Namun tampaknya Joohyun juga baru pulang saat Taekwoon sampai di apartemennya karena Aboeji mengiriminya pesan, menanyakan kenapa hanya Joohyun yang menjemput Miki dari kediaman Bae—dengan ekspresi kesal pula. Dan feeling Taekwoon mengatakan kalau gadis Bae itu berada di kamar Miki sejak Taekwoon belum kembali hingga ia sibuk berkutat di dapur saat ini.

Suara peluit yang berasal dari lubang mulut teko sebagai pertanda air yang ada di dalamnya sudah mendidih, membuyarkan lamunan Taekwoon hingga pria berhenti mengacak rambutnya dan beralih mematikan kompor. Kemudian ia menuangkan air mendidih dari teko ke dalam mangkuk stainless berisi beberapa potong ayam. Setelah beberapa sekon, ia membawa mangkuk tersebut ke tempat mencuci piring dan membuang airnya sebelum lantas memasukkan potongan ayam tersebut ke dalam panci berisi sup kepiting. Aroma harum sup kepiting tercampur kaldu ayam pun menguar hingga ke lantai dua. Membuat siapapun merasa perutnya bergolak saat mencium wanginya. Sayang Joohyun terlalu gengsi untuk menghampiri sumber aroma lantaran masih tersinggung dengan ucapan Taekwoon saat di pasar tadi.

Selepas menata mangkuk-mangkuk kecil dan sumpit serta sendok di meja makan, Taekwoon membawa panci berisi sup yang masih mengepul dan meletakkannya di tengah meja. Melepaskan apron yang terpasang di tubuhnya, Taekwoon menoleh lagi ke arah tangga. Agak ragu untuk memanggil Joohyun turun. Bagaimana kalau istrinya itu masih marah? Apa seharusnya Taekwoon biarkan Joohyun untuk menyendiri dulu? Tapi bukankah Joohyun belum makan sejak pagi?

Maka dengan fakta terakhir itu Taekwoon pun memantapkan hati untuk naik ke atas. Mulut boleh terkunci, tapi perut tidak bisa bohong, kan? Namun baru saja tungkai Taekwoon menginjak anak tangga pertama, terdengar bel apartemennya ditekan. Untuk beberapa sekon, Taekwoon bimbang untuk melanjutkan langkah atau berbalik membuka pintu untuk tamu-tak-diundang-di-waktu-yang-tidak tepat. Dan akhirnya ia memilih opsi kedua lantaran terdengar suara pintu kamar Miki terbuka. Mungkin Joohyun akhirnya terpaksa keluar karena Taekwoon tak kunjung membukakan pintu—dan belnya terdengar semakin memekakan telinga.

Ceklek.

Oppaaaa!”

Bersamaan dengan pintu yang terbuka, berhamburlah seorang gadis memeluk Taekwoon disertai seruan nyaring yang sangat familiar. Siapa lagi yang akan memanggilnya seperti itu dan memeluknya seperti ini kalau bukan Jung Soojung, adik perempuan Jung Taekwoon.

Ya! Jangan suka tiba-tiba memeluk seperti itu!” tegur Taekwoon seraya melepaskan pelukan Joohyun. Di saat-saat sensitif seperti ini fatal jika Joohyun ia membuat Joohyun salah paham. Soojung pun mengerucutkan bibirnya, namun ekspresinya kembali berseri saat melihat sosok di belakang Taekwoon.

“Oh, Soojung datang?”

Eonnie!” Ia melewati Taekwoon begitu saja dan menghampiri Joohyun. Bahkan Soojung sudah tak sungkan lagi untuk memeluk Joohyun. Sedangkan gadis Bae itu hanya berdiri kaku di tempatnya, belum terbiasa. Sejenak Taekwoon tersenyum melihatnya, sebelum kemudian terdengar suara lelaki menginterupsi.

“Selamat siang, Hyung. Maaf menganggu akhir pekanmu.”

Taekwoon kembali menoleh ke arah pintu dan menemukan Lee Hongbin berdiri di sana sambil menenteng dua paperbag besar di tangannya.

“Oh, kau datang bersama Soojung, Hongbin-a?” ujar Taekwoon spontan seraya mempersilahkan Hongbin masuk. Sedangkan Soojung sudah lebih dulu berjalan ke ruang tamu seraya menggandeng lengan Joohyun.

“Aku yang memintanya menemaniku belanja kado untuk Miki, Oppa,” sahut Soojung. Sesampainya di ruang tamu, aroma sup yang berasal dari meja makan di sudut ruangan langsung menyambangi indera penciuman keempatnya.

“Hmm, Oppa habisa masak?”

“Ya, kau dan Hongbin belum makan siang ‘kan?”

“Tentu saja belum dong! Hmm, sudah lama aku tidak makan masakan Oppa!” Dengan semangat Soojung menghampiri meja makan yang cukup untuk menampung empat orang tersebut, namun maniknya membelalak saat melihat apa yang tersaji di atasnya.

Oppa, kau makan ini?!” ujarnya histeris sambil menunjuk panci besar berwarna putih tersebut. Membuat Joohyun kontan mengikuti arah yang ditunjuknya dan menjadi bertanya-tanya. Dan Taekwoon hanya mengangguk mengiyakan.

Are you crazy? Kau ‘kan alergi kepiting!”

“Hah?” Refleks Joohyun menoleh pada Taekwoon. Raut wajahnya yang semula datar kini terlihat khawatir.

“Aku baik-baik saja, Soojung. Tidak perlu berlebihan begitu.”

“T-tapi…Taekwoon.”

“Tidak usah cemas, Joohyun. Aku baik-baik saja, sungguh. Kalau tubuhku sudah merasa tidak nyaman aku pasti akan berhenti makan. Aku bisa menjaga diriku.”

“Taekwoon hyung memang seperti itu, dia tidak pernah mendengarkan. Jika kita melarangnya untuk makan, dia tetap memakannya,” Hongbin angkat bicara seraya menarik kursi dan mendudukkan diri di sana. Sekali lagi ia menoleh pada Joohyun, “Tenang saja, Noona. Buktinya ia masih sehat ‘kan sekarang?” lanjut Hongbin dan tersenyum untuk meringankan kekhawatiran Joohyun.

“Nah, ayo kita makan.”

***

Lee Jaehwan mengemudikan sedannya memasuki halaman sebuah rumah bergaya minimalis di kawasan Mapo-dong. Namun demikian, rumah ini terkesan tenteram dengan kebun yang di rawat di depan rumah, dan beberapa pot bunga yang berjejer di sekitar pintu masuk. Seungwan familiar dengan rumah ini dan rasanya sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kakinya di sini.

Jaehwan yang lebih dulu melepas sabuk pengamannya dan berjalan keluar mobil. Sejenak ia merenggangkan ototnya yang pegal setelah menyetir dari Seoul ke sini. Sadar Seungwan tidak juga keluar, Jaehwan pun berjalan memutari sedannya dan membuka pintu mobil di sisi gadis Son itu.

“Kenapa tidak keluar?” tanyanya begitu melihat Seungwan masih mematung di tempat duduknya sambil memegangi sabuk pengamannya.

“Um, Jaehwan…”

“Tidak ada alasan untuk kabur, kita sudah sampai di sini, Nona Son.”

Lekas Jaehwan mencondongkan tubuhnya masuk ke mobil untuk melepas sabuk pengaman Seungwan. Lantas menarik tangan gadis itu untuk turun dari mobil. Seungwan tidak bisa melawan lagi saat Jaehwan membawanya masuk ke dalam kediaman Lee tersebut.

Eomma, Jyanie pulang!” serunya nyaring begitu memasuki ruang keluarga. Dan sepersekian sekon kemudian datanglah seorang wanita yang masih tampak cantik kendati umurnya sudah menyentuh setengah abad, berjalan tergopoh-gopoh dari arah dapur.

“Aish, kenapa teriak-teriak begitu, sih!” omel Nyonya Lee yang masih mengenakan apron dan membawa sendok sayur. Namun niatnya untuk marah-marah seketika sirna begitu Jaehwan memetakan senyum manis di wajahnya seraya mendorong punggung Seungwan ke depan tubuhnya.

“Lihat siapa yang Jaehwan bawa?”

***

Setelah mengisi penuh perut mereka dengan sup kepiting buatan Taekwoon, Soojung menghabiskan waktunya bersama Joohyun di kamar Miki. Ia menyerahkan dua kotak besar berisi baju bayi darinya dan Hongbin. Pertama Joohyun mencoba mengenakannya pakaian yang diberikan Hongbin pada Miki. Yaitu setelan kemeja yang dipadu celana pendek dan dihiasi dasi kupu-kupu dan Soojung tertawa melihat betapa dewasanya Miki memakai baju—yang ukurannya sedikit kebesaran—itu.

Aigo, kenapa keponakan Auntie jadi kelihatan tampan begini, sih?” candanya pada Joohyun yang juga balas tersenyum. Agaknya Joohyun masih merasa canggung dengan Soojung dibanding Sooyeon yang sudah pernah mengajaknya mengobrol. Beruntung Soojung juga memiliki sifat easy going  sehingga lama-kelamaan Joohyun bisa terbawa suasana. Padahal kesan pertama yang Joohyun dapatkan saat pertama melihat Soojung adalah dingin, sombong, serta anak konglomerat yang manja. Maklum saja, wajah Soojung saat ia diam memang terkesan judes.

Lantas Joohyun mengganti baju Miki dengan pemberian Soojung. Kontan saja gadis Jung itu tersenyum sumringah melihat betapa lucunya Miki mengenakan setelan baju jumpsuit jeans.

“Wah, memang Auntie tidak salah pilih. Miki-ku jadi lucu sekali!” seru Soojung senang seraya menggendong Miki. Senyum yang terpatri di paras cantik gadis Jung itu semakin melebar saat Miki ikut tertawa girang dan mulai berceloteh.

Eonnie, eonnie, Miki sudah bisa menjawab?” Soojung berujar heboh dengan antusias. Kontan membuat Joohyun tertawa melihatnya. Bae Joohyun tidak memiliki saudara dan ia tidak menyangka kalau reaksi adik iparnya akan seheboh itu saat bermain dengan anaknya. Mungkin inilah yang dimaksud kenapa kau harus menikah. Karena dengan menikah tidak hanya kau akan mendapat seseorang yang akan mendampingimu seumur hidup, tapi kau juga akan memiliki orangtua baru, kakak baru, dan juga adik baru. Sederhananya, kau akan memiliki keluarga baru yang akan melengkapi apa yang tidak kau miliki sebelumnya.

“Iya, Soojung-a. Minggu depan Miki akan berumur 7 bulan.”

Aigo, pantas saja kamu sangat berat, Miki-ya. Tangan Auntie sampai pegal, kamu harus mendapatkan hukuman,” canda Soojung lantas mulai menciumi kedua belah pipi gembul Miki.

Diam-diam, Joohyun tersenyum memerhatikan Soojung dan Miki sambil duduk di atas single bed yang berada di kamar Miki. Hingga kemudian ia tidak sengaja bersitatap dengan Soojung dan gadis itu melempar senyum padanya.

“Oh, iya. Hampir saja lupa, aku ‘kan juga membawa hadiah untuk Eonnie!” Soojung meletakkan Miki kembali ke boks bayinya dan mengamit kotak kado yang lebih kecil dari yang diberikannya pada Miki.

“Ini hadiah pernikahan dariku. Terima kasih sudah mau menikah dengan Oppa-ku si manusia es, Eonnie.” Soojung menyodorkan kotak pada Joohyun yang kontan diterima gadis Bae itu sambil tergelak. “Gomawo, Soojung-a.”

You’re welcome, pretty Eonnie.”

Sementara Soojung kembali menghampiri Miki dan bermain dengannya, Joohyun mulai membuka kotak berwarna merah marun tersebut. Ternyata hadiah pernikahan yang Soojung berikan adalah sebuah buku. Tapi tunggu, buku bersampul krem itu terlihat seperti album foto. Penasaran, Joohyun pun membukanya dan lantas menemukan sebuah foto keluarga. Joohyun dapat mengenali wajah Sooyeon, Soojung, dan Taekwoon yang memakai pakaian senada berwarna hitam. Berarti seorang lelaki dan wanita paruh baya yang berada di tengah-tengah mereka tak lain adalah orangtua Taekwoon. Di bawah foto keluarga itu terdapat tulisan—yang sepertinya sengaja Soojung tambahkan—berbunyi “Welcome to Jung Family, our new family member.”. Sejenak Joohyun tersenyum, terharu dengan hadiah Soojung, dan lantas kembali membalik lembaran selanjutnya. Menemukan sebuah foto bocah lelaki yang mengenakan setelan jeans, tengah duduk di atas batu.

“Ini foto masa kecil Taekwoon?”

Yeah, siapa lagi anak lelaki di keluarga Jung kalau bukan Jung Taekwoon.

“Iya, itu dari album foto yang kubawa saat pergi ke Amerika. Karena Oppa sudah menikah, kupikir lebih baik aku memberikan fotonya pada Eonnie,” sahut Soojung.

Kyeowo…” Joohyun refleks berujar.

“Iya, kan? Sooyeon eonnie bilang Oppa memang sangat lucu saat kecil, tapi ia berubah menjadi menyeramkan begitu tumbuh dewasa.”

Spontan Joohyun menoleh pada Soojung dengan ekspresi serius. “Menyeramkan?”

“Ia, dia sangat pendiam dan dingin pada semua orang. Bahkan ia bisa membuat orang takut dengan tatapannya yang tajam.”

Serta-merta Joohyun tertawa. Astaga, ia pikir Taekwoon benar-benar menjadi sosok yang menyeramkan. Tapi sejujurnya Joohyun juga takut pada Taekwoon sih saat mereka pertama kali bertemu di restoran. Ia pun kembali membalik halaman demi halaman, memerhatikan wajah Taekwoon kecil. Tapi semakin Joohyun perhatikan, entah kenapa semakin mirip saja.

Taekwoon saat kecil benar-benar mirip Miki.

***

“Aku pulang dulu, Oppa.”

Pamit Soojung saat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia beralih memeluk Joohyun, “Aku pulang dulu ya, Eonnie.” Dan kembali mencium pipi Miki yang berada di gendongan Joohyun. “Annyeong, Miki-ya. Nanti main lagi dengan Auntie, ya!”

“Iya, sudah sana pulang.” Taekwoon mengusap puncak kepala Soojung, lantas menoleh pada Hongbin. “Kau akan mengantarnya ‘kan?”

“Iya, Hyung,” tanggap Hongbin. Pemuda Lee itu juga ikut melambaikan tangannya pada Miki yang tersenyum lebar. “Annyeong, Miki-ya.” Hongbin memamerkan senyum berlesung pipinya yang menawan dan kemudian membungkuk hormat pada Joohyun. “Aku permisi dulu, Noona.”

“Iya, hati-hati, Hongbin-a.

Keduanya—Joohyun dan Taekwoon—berdiri di ambang pintu seraya melambaikan tangan pada Hongbin dan Soojung yang melangkah menuju lift. Saat kedua tamu tidak diundang itu sudah menghilang dari pandangan, Taekwoon dan Joohyun pun saling bersitatap dengan canggung. Tanpa sadar keduanya berpolah rukun kendati mereka sedang bertengkar sebelum Soojung dan Hongbin datang.

“Tenang saja, Hongbin dan Soojung sudah mengenal sejak lama, mereka hanya teman. Jadi Hongbin tidak mungkin berselingkuh dari Seulgi.” Taekwoon memberanikan diri buka suara, mencoba mencairkan suasana.

“Memangnya aku tanya.” Namun Joohyun hanya membalasnya sambil lalu.

Taekwoon pun kembali meremas surai legamnya.

Ternyata belum baikan ya’.

 

***

Soojung melempar pandangannya ke luar jendela. Alunan lagu ‘Narcissus’ milik Heechul x Wheein x Kim Jung Mo mengisi keheningan yang menyelimuti keduanya. Sesekali ia menoleh pada Lee Hongbin yang sibuk di balik kemudianya. Sebenarnya sudah lama sekali Soojung tidak menghabiskan waktu berdua saja bersama Hongbin seperti ini. Saat di Mall ia tidak merasa canggung karena di sana ramai. Begitu pula saat berada di rumah Taekwoo, karena di sana ada Joohyun dan Miki. Tapi sekarang, begitu mereka berada di mobil dan hanya berdua, Soojung mendadak merasa canggung. Terlebih Hongbin juga tidak banyak bicara saat bersamanya.

Kata apa yang cocok menggambarkan hubungan di antara Soojung dan Hongbin saat ini. Sepasang kekasih? Well, itu dua tahun yang lalu, sebelum Soojung memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Salahkah sifat belum dewasa-nya yang tidak tahan berhubungan jarak jauh dengan Hongbin sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka sebelum berangkat ke Amerika. Tapi Soojung tidak menyangka kalau nyatanya ia masih menyukai pemuda Lee berlesung pipi itu. Sooyeon sudah bosan mungkin mendengar curhatan Soojung—yang tak jarang juga dihiasi dengan mewek-mewek jelek—betapa ia merindukan asisten Jung Taekwoon itu saat menempuh Strata Dua di Amerika.

Jadi kata apa yang cocok menggambarkan hubungan di antara mereka berdua sekarang. Teman? Soojung dan Hongbin terlalu canggung untuk dikatakan sebagai teman. Mungkin status ‘adiknya teman’ Hongbin lebih cocok untuk nya sekarang. Kalau bukan karena Jung Taekwoon, Jung Soojung juga tidak mungkin mengenal Lee Hongbin.

Oppa.”

“Hm.”

Masih dengan posisinya yang berpangku tangan di tepian jendela, Soojung menghela napas perlahan. “Lusa aku akan kembali ke Amerika.”

“Hm, ya…jam berapa pesawatmu berangkat?” jawab Hongbin tidak terlalu fokus.

Tanpa Soojung sadari, sejak tadi Hongbin mengenakan earphone di telinga sebelah kirinya. Raut kesal beberapa kali tergambar di wajahnya kala mendengar suara operator menyahuti panggilannya, bukannya suara gadis yang mengusik pikirannya sejak tadi. Hongbin kembali menyentuh layar ponsel pintarnya, melakukan panggilan ke nomor kontak bernamakan “Kang Seulgi”.

“Jam 3.15 sore,” Soojung terdiam sejenak. “Bisakah Oppa datang?” lanjutnya kemudian, berharap Hongbin bersedia mengantar kepergiannya esok lusa.

Hongbin nyaris memukul kemudinya kesal karena lagi-lagi yang terdengar adalah suara operator.  Apa Kang Seulgi sudah memblokir nomornya? Hongbin pun melepaskan earphone yang bertengger di telinganya dan mengambil alih kemudi. Membelokkan mobilnya memasuki lobby sebuah Hotel berbintang.

Oh. Aku akan datang.”

***

Hal yang paling dirindukan dari kediaman Lee selain pemandangan bunga-bunganya yang memanjakan mata, tapi juga masakan Nyonya Lee yang selalu menggugah selera. Belum lagi semua bahan-bahan yang digunakan juga berasal dari kebun kecil di belakang rumah—tidak heran kalau Nyonya Lee memiliki wajah yang awet muda. Dapat dipastikan kau akan pulang dengan badan sehat dan gemuk setelah berkunjung dari kediaman Lee. Lihat saja Lee Jaehwan, kalau bukan karena profesinya sebagai dokter sangat menguras tenaga, mungkin ia juga sudah bertubuh gempal sekarang.

Woaahh, galbitang!

Antusias Jaehwan begitu Nyonya Lee meletakkan sepanci besar sup iga khas Korea yang baru dimasaknya. Ia buru-buru mengangkat mangkuknya dan hendak menyendokkan sup saat Eomma-nya menepuk tangannya.

“Seungwan harus makan lebih dulu!” Lantas Nyonya Lee mengamit mangkuk Seungwan dan menuangkan sup iga hingga setengahnya. Abai dengan Jaehwan yang kini mengerucutkan bibirnya.

“Anak Eomma sebenarnya siapa sih?!” protesnya.

“Anak yang jarang pulang ke rumah memangnya masih bisa dianggap anak?” balas Nyonya Lee enteng seraya menyerahkan kembali mangkuk keramik tersebut sambil tersenyum manis. Kontan membuat Seungwan tertawa melihat perubahan ekspresi Jaehwan karena Eomma-nya memperlakukan Seungwan berbanding terbalik dengannya.

“Dengar Seungwan-a. Kata-kata Eomma persis sekali dengan kata-katamu di restoran tadi. Apa kalian ini berkomplot untuk mengomeli-aw!”

Jaehwan berhenti mendumal saat Nyonya Lee melayangkan sendok kayu ke kepalanya. “Jangan salahkan Seungwan, kamu ini memang perlu diomeli, tahu! Sudah cepat makan.”

Eomma jujur saja, aku ini anak angkat‘kan?”

Ya! Kalau aku harus mengangkat anak, aku pasti memilih yang lebih bagus.”

Mwo? Eomma! Anakmu ini di mana tidak bagusnya? Aku tampan dan pintar. Jangan lupa aku ini dokter lho, Eomma. Dokter!!” Jaehwan masih berceloteh tidak terima.

“Ya, ya, terserah kau saja Dokter Lee.”

Eomma!”

Seungwan suka keluarga Lee. Keluarga ini sederhana dan harmonis. Dan yang terpenting adalah orang-orangnya yang sangat hangat. Jaehwan yang ceria dan suka bercanda, tentu turun dari kedua orangtuanya. Meski hanya tinggal berdua, Jaehwan dan Eomma-nya saling menyayangi. Serta menjalani hidup dengan bahagia seperti tak kekurangan apapun.

Dan Seungwan suka berada di dalamnya. Karena ia tidak memiliki keduanya, baik keluarga yang hangat dan orang-orang yang saling menyayangi.

Saat Jaehwan undur diri ke toilet untuk buang air kecil, Nyonya Lee beralih pada Seungwan yang sejak tadi terdiam sambil mengaduk-aduk sup iganya. Lamunan gadis Son into baru sadar buyar begitu Nyonya Lee menambahkan beberapa sendok sup ke mangkuknya hingga nyaris penuh. Kontan saja ia menoleh pada Eomma Jaehwan yang menatapnya dengan khawatir.

 “Makanlah yang banyak. Kenapa tubuhmu sekurus ini? Bukannya belum lama ini kau baru saja melahirkan?”

***

Sudah tiga puluh menit sejak Joohyun masuk ke kamar Miki, belum juga ada tanda-tanda gadis Bae itu akan keluar. Masa iya Joohyun mau mengurung diri lagi setelah sebelum Soojung dan Hongbin datang ia sudah berada di sana selama berjam-jam. Taekwoon sudah tidak bisa berdiam diri lagi. Ia harus segera membujuk Joohyun. Atau paling tidak, membuat gadis itu tidak pula melewatkan makan malamnya di dalam kamar.

Sudah lima menit sejak Taekwoon melangkahkan kakinya ke lantai dua. Sudah berulang kali pula ia mondar-mandir di hadapan kamar Miki. Masih bingung memikirkan cara apa yang ampuh untuk membuat hati Joohyun luluh.

“Joohyun sayang, maafkan aku. Sungguh tadi aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Tapi kamu memang tidak bisa masak ‘kan?”

Taekwoon pun mulai melatih kalimatnya.

Chagi, walau kamu tidak bisa masak, tapi aku tidak pernah menyesal memilihmu menjadi istriku. Jadi—”

BRUKK!

Taekwoon buru-buru memutar kenop pintu kamar Miki begitu mendengar sesuatu jatuh di dalam  dan menemukan Joohyun sudah terkapar di lantai.

“Bae Joohyun!”

***

“Kau mengatakannya pada Eomma-mu?”

Todong Seungwan begitu ia dan Jaehwan menghabiskan waktu dengan duduk di sepasang sofa beludru di taman belakang. Maniknya masih terarah ke jutaan bintang yang bertebaran di langit malam Mapo-dong. Jaehwan yang semula juga ikut menengadah ke arah langit, kini beralih memandang figur Seungwan yang duduk sambil mengangkat kedua kaki di sebelahnya. Untuk sepersekian sekon, Jaehwan biarkan maniknya dimanjakan paras cantik Seungwan yang selalu dikaguminya sebelum kemudian ia menjawab.

“Kamu tahu ‘kan tidak ada satu hal pun yang kurahasiakan dari Eomma?”

Dengan cepat Seungwan balas menatapnya dengan ekspresi kecewa. “Tapi, Lee Jaehwan…”

“Kenapa? Apa Eomma menanyaimu dengan nada sinis? Tidak ‘kan? Kau tahu betul Eomma-ku bukan orang yang seperti itu.” Seungwan kesal karena Jaehwan masih bisa tersenyum saat berkata demikian.

“Kau terlalu banyak ikut campur.”

“Siapa yang akan mencampuri hidupmu kalau bukan aku, Seungwan-a.”

Jaehwan benar. Siapa lagi yang mau repot-repot mengurusi hidup seorang Son Seungwan kalau bukan Lee Jaehwan. Seungwan mengembuskan napas kasar karena ucapan Jaehwan benar, ia tidak punya siapa-siapa lagi selain Jaehwan.

“Kau membawaku ke rumah Eomma-mu begitu aku sampai di Korea—” Seungwan menyandarkan kepalanya di pundak kokoh Jaehwan, “—lantas apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Mempertemukan aku dan dia?”

Dan memeluk lengan berotot Jaehwan erat.

 “Aku tidak mau bertemu dengannya, Jaehwan-a.”

***

Taekwoon melajukan sedan hitamnya dengan kecepatan tinggi. Setelah menemukan Joohyun berbaring di lantai kamar Miki sambil memerangi perutnya, Taekwoon langsung menggendongnya ke mobil, hendak membawa Joohyun ke Rumah Sakit. Perhatian Taekwoon terbagi dua antara fokus dengan kemudinya dan Joohyun yang terus mengeluh kepalanya pusing di sepanjang jalan.

“Tahan sedikit, Joohyun-a. Sebentar lagi kita akan sampai di Rumah Sakit.”

Ugh, aku mual…”

Refleks Taekwoon meletakkan sebelah tangannya di kening gadis Bae itu, mengecek kalau-kalau Joohyun demam. Tapi suhu tubuh Joohyun normal-normal saja. Untuk sesaat Taekwoon pun bisa bernapas lega. Ia pun mulai mengamit ponselnya, menekan dial pada salah satu kontak dan mengenakan earphone di sebelah telinganya. Sambil menunggu panggilannya tersambung, Taekwoon mulai berpikir.

Bukannya ia ingin asal menganalisa, tapi dengan semua ciri-ciri yang ditunjukkan Joohyun belakangan ini : tiba-tiba ingin makan sesuatu, mood yang naik turun, dan sekarang ia pusing serta mual. Apa jangan-jangan—

‘—Joohyun hamil?’

Cepat-cepat Taekwoon mengusir pikiran itu. Lebih baik sekarang ia buru-buru membawa Joohyun ke rumah sakit agar dokter memeriksanya dan ia akan mendengar hasil yang lebih akurat.

Ne, Hyung?”

Lamunan Taekwoon buyar begitu terdengar sahutan dari earphone-nya.

“Hyuk-a, bisa tolong kau jaga Miki dulu. Aku harus membawa Joohyun ke rumah sakit.”

***

 

Noona kenapa, Hyung?”

“Aku juga tidak tahu, Hyuk. Tiba-tiba saja dia mengeluh kepalanya sakit dan perutnya mual. Aku akan mengabarimu begitu hasilnya keluar.”

 

Tut.

Sanghyuk memandangi ponselnya dengan bingung. Beberapa sekon kemudian ia mengedikkan bahu dan memasukkan ponselnya ke dalam kantung celana selututnya seraya memintal langkah menuju pintu apartemennya. Keluar dari apartemen miliknya, Sanghyuk hanya berjalan beberapa langkah menuju pintu apartemen yang berada tepat di sebelahnya. Dengan mudah ia menekan password dan langsung masuk tanpa sungkan layaknya rumah sendiri. Sambil berlalu menuju tangga, Hyuk memandangi foto pernikahan yang terpatri di dinding. Menampilkan seorang gadis cantik bergaun putih bersama seorang pria tampan yang mengenakan tuxedo hitam.

Naik ke lantai dua, Sanghyuk langsung menemukan dua pintu kamar yang saling berhadapan. Tanpa ragu ia memutar kenop pintu di sebelah kanannya, berjalan menghampiri boks bayi yang berada di sudut ruangan.

Annyeong, Miki-ya,” sapa Sanghyuk sambil melongok ke dalamnya. Mendapati Miki yang masih terbangun mengedip-ngedipkan mata bulatnya dan lantas tertawa menyambut sepasang tangan besar Sanghyuk yang kemudian mengangkatnya.

Yup, ini adalah apartemen Taekwoon dan selama ini Hyuk tinggal di sebelahnya. Sanghyuk pun menggendong Miki menuruni tangga dan keluar dari apartemen keluarga Jung. Membawa Miki menuju apartemennya sendiri. Begitu masuk, pemandangan figur-figur bintang yang tergantung langit-langit ruang tamulah yang menyambut Miki. Sanghyuk segera meletakkan Miki di dalam boks bayi yang berada di dekat sofa cokelatnya. Menyalakan mainan berbandul di atas kepala Miki agar bayi itu tenang, ia berjalan menuju pantry dan membuatkan sebotol susu bayi. Lantas Sanghyuk menyerahkan botol tersebut pada Miki dan mendudukkan diri di sofa, bersiap mengubah channel televisinya ke siaran khusus bayi.

“Ayo main dengan Hyung sementara Eomma dan Appa-mu mengurus adik bayi baru.”

***

Setelah sampai di IGD, Joohyun pun langsung ditangani dokter hingga Taekwoon harus menunggu di luar. Tak berselang lama seorang perawat keluar dan memberitahu Taekwoon kalau gejala yang ditunjukkan Joohyun adalah gejala alergi dan ia harus dirawat. Kontan saja Taekwoon menghela napas lega dan langsung terduduk karena kakinya sudah lemas berjalan mondar-mandir karena cemas sejak tadi.

“Anda tidak apa-apa, Tuan?” tanya perawat wanita tersebut dengan raut wajah khawatir.

Taekwoon hanya mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah. “Tidak apa, aku baik-baik saja.”

“T-tapi…wajah anda memerah.”

“Hah?”

Mengamati kedua tangannya, Taekwoon baru sadar telah muncul bercak-bercak kemerahan di sana. Dan mungkin juga sudah menjalar sampai leher dan wajahnya karena perawat itu terus memandanginya dengan cemas. Akhirnya malam itu ia pun juga harus dirawat karena alergi kepiting yang dimilikinya.

***

Saat Taekwoon membuka mata, paras Joohyunlah yang pertama ditemuinya. Kekhawatiran terpancar jelas dari sepasang manik karamelnya yang menatap Taekwoon lekat-lekat. Joohyun meringis memandangi bercak kemerahan yang memenuhi wajah Taekwoon.

“Taekwoon-a, gwenchana?” ujarnya seraya menyentuh pipi Taekwoon yang terasa panas. Alih-alih menjawab, Taekwoon malah berusaha bangkit dan menegakkan tubuhnya. Ia memegang tangan Joohyun di pipinya seraya berujar, “ Kau tidak apa-apa, Joohyun-a?”

“Kenapa malah balik bertanya?” Joohyun melepaskan tangannya dengan kesal. Karena Taekwoon terlalu bodoh, malah mengkhawatirkannya dibanding tubuhnya sendiri. Baru Taekwoon sadari ia dan Joohyun sama-sama mengenakan pakaian pasien saat gadis itu berdiri membelakanginya.

Taekwoon pun menarik lagi tangan Joohyun, agak kuat hingga gadis Bae itu jatuh terduduk di atas pangkuannya. Ia pikir Joohyun akan melakukan perlawanan dan bergegas bangkit, namun yang terjadi selanjutnya adalah sepasang lengan kurus Joohyun yang melingkari lehernya. Taekwoon pun membalas pelukan Joohyun lebih erat.

“Maafkan aku, gara-gara aku kamu jadi makan kepiting padahal kamu alergi,” lirih Joohyun di telinganya dan mulai terisak.

Taekwoon mengelus surai light brown Joohyun. “Tidak, Joohyun-a. Maafkan aku karena memasukkan bahan yang membuatmu alergi—tapi sebenarnya kamu alergi apa?”

Joohyun merenggangkan pelukannya dan mengalihkan tatapannya, tengah berpikir. “Dari ciri-cirinya; kepala pusing dan perut mual sih sepertinya karena makan ayam.”

“Ayam?”

“Hm, bukannya alergi, tapi aku memang tidak bisa makan ayam karena akan begini jadinya. Aku juga tidak tahu kenapa.”

“Astaga, Joohyun.” Taekwoon mulai meremas surai kelamnya.

“Kenapa? Kenapa?”

Lelaki Jung itu meringis. “Aku memasukkan ayam di supnya.”

Ya! Siapa pula yang memasukkan ayam di sup kepiting?!”

“Um, karena aku suka…lagi pula kamu tidak sadar ada ayam di dalam supnya?”

“Tidak, itu karena…aku masih marah denganmu jadi aku tidak terlalu memerhatikan apa yang ada di makananku,” bela Joohyun dengan bibir di-pout-kan.

Dan dibalas Taekwoon dengan memincingkan mata. “ Dasar ceroboh.”

Joohyun baru saja akan membalas saat Taekwoon malah menarik tubuh mungilnya, menenggelamkannya di dalam dada bidangnya.

“Tadi aku takut sekali, tahu,” bisik Taekwoon di telinga Joohyun. Gadis itupun mulai membalas pelukannya. “Maafkan aku.” Dan Joohyun pun mulai terisak lagi.

Taekwoon menjauhkan Joohyun demi memandangi paras cantik Joohyun dengan mata sembabnya. Lantas tangannya bergerak menghapus jejak air mata di pipi istrinya sebelum kemudian membawa Joohyun kembali ke pelukannya. Taekwoon bersyukur karena akhirnya mereka berbaikan. Dan tanpa sadar ia tertawa.

“Kenapa tertawa?” protes Joohyun.

“Sebenarnya… di perjalan ke Rumah Sakit aku sempat berpikir kalau kamu hamil.”

Mendengarnya, Joohyun sontak saja melepaskan pelukannya dan menatap Taekwoon dengan wajah tersipu.

Yaaa, m-mana mungkin aku…hamil.”

Kontan saja Taekwoon mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa? Kau tidak ingin punya anak?”

“A-anak?”

Taekwoon mengangguk. “Iya, anakmu dan aku. Anak kita sendiri.”

Mendengar perkataan Taekwoon barusan, Joohyun jadi termenung. ‘Anak kita sendiri…apa itu artinya aku mengandung anak Taekwoon di rahimku sendiri?’

Melihat Joohyun hanya terdiam, Taekwoon berpikir kalau ia sudah salah bicara dan buru-buru meralatnya. “M-maaf, bukan maksudku tidak suka dengan kehadiran Miki, tapi—”

“Aku mengerti, Taekwoon.” Joohyun menunduk dan memilin-milin ujung baju pasien yang digunakannya. “Aku juga mau mengandung anakku sendiri,” lanjutnya dengan suara yang lirih.

“Kamu bilang apa tadi?”

Ugh, Joohyun rasa wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang.

“Aku juga mau—hmmpphh…”

Ia tak melanjutkan ucapannya karena Taekwoon sudah lebih dulu membungkam Joohyun dengan kecupan. “Bagus kalau begitu, lalu kenapa tadi kamu bilang tidak mungkin?”

Dan kini giliran Joohyun yang tertawa. “Itu karena kita baru mulai melakukannya dua minggu yang lalu, Tuan Jung.”

Taekwoon meng-oh-kan jawaban Joohyun, baru paham kalau istrinya tidak bisa serta-merta hamil sekarang begitu mereka melakukannya kemarin. Joohyun pun tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Taekwoon gemas karena ekspresi polos pria Jung itu sangat lucu. Lantas ia bergerak bangkit dari pangkuan Taekwoon, hendak menuju ke ranjangnya sendiri yang terletak bersebelahan dengan ranjang Taekwoon.

“Um, baiklah sepertinya sekarang aku tahu alasan dibalik semua gejala yang kamu tunjukkan…”

“Hah? Apa maksud—”

Joohyun kembali menoleh dan terkejut mendapati bercak darah di paha Taekwoon. Ia pun buru-buru mengecek bagian belakang tubuhnya.

“ASTAGA, KENAPA TIDAK BILANG?!”

“Sebenarnya sudah terasa ada yang hangat sejak tadi sih…”

TBC

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s