LORENE : My Beautiful Model (2/end)

My Beautiful Model(1)

Lorene : My Beautiful Model

|Chaengwoo|

©2017 tyavi’s Warm Up Fict

[ASTRO] Eunwoo and [Twice] Chaeyoung

Romance, Fluff | Twoshot | PG-13

Previous :

part 1

Summary :

Falling in love can make you do anything.

.

.

.

“Uwaaaaahhh!”

Chaeyoung berseru dari balik kaca mobil yang berlapis film, takjub dengan pemandangan puluhan wartawan serta ratusan massa yang sudah menunggu kedatangan Top Model LORENE di luar gedung. Setelah merampungkan sekian banyak pemotretan di luar kota, project mereka akan ditutup dengan menggelar Fashion Show seperti yang biasa mereka lakukan 6 bulan sekali. Dulu—sebelum Chaeyoung tertarik dan kemudian masuk menjadi model LORENE—ia hanya bisa melihat dari TV dan berita di internet tentang betapa mewah dan dinanti-nantikannya pergelaran Fashion Show milik agensi Eomma-nya tersebut. Tapi kini, Chaeyoung bahkan bisa melihat (dan merasakan) dengan mata kepalanya sendiri bagaimana jutaan kilatan flash kamera menghujaninya begitu mobil terbuka. Untung saja para bodyguard sudah bersiaga mengamankan jarak para wartawan sehingga mereka bisa memasuki gedung utama.

Kajja, uri aegi!” V merangkul Chaeyoung, yang belum terbiasa dengan situasi ini, keluar dan berjalan di atas karpet merah menyusul Minhyun dan Chanwoo yang sudah lebih dulu keluar. Teriakan-teriakan tertahan para gadis yang berbaris di belakang garis pembatas semakin terdengar. Fashion Show belum dimulai tapi kenapa hanya dengan berjalan di atas karpet merah saja, Chanwoo dan Minhyun sudah terlihat begitu keren? Chaeyoung tidak tahu sihir apa yang digunakan para Top Model LORENE. Padahal sepuluh menit yang lalu di mobil Minhyun masih bertengkar dengan V, Chanwoo masih sibuk bermain game di ponselnya, dan Cha Eunwoo duduk tenang dengan buku tebalnya yang berjudul “Mengapa Dunia itu Datar”. Mereka seakan menjadi orang yang berbeda saat tampil di depan publik, berpose di depan kamera, dan mungkin juga saat berjalan di catwalk nanti.

Kyaaaa, Son Chanyoung!”

“Son Chanyoung imut sekali!!”

Saat sedang sibuk memerhatikan Minhyun dan Chanwoo yang berjalan keren di depannya, Chaeyoung mendengar namanya di antara seruan-seruan para fans yang mengelukan nama keempat Top Model LORENE. Kontan saja Chaeyoung menghentikan langkah dan menoleh ke sisi kanannya, setengah tidak percaya.

‘A-aku punya fans?!’ jeritnya dalam hari. Tidak menyangka eksistensinya yang terhitung baru di antara para Top Model LORENE sudah mulai mendapat perhatian. Tanpa sadar, Chaeyoung pun melambaikan tangan ke arah kerumunan. Membuat gadis-gadis itu semakin berteriak kegirangan—well, jarang sekali seorang model LORENE mau repot-repot menyapa para fansnya, biasanya mereka hanya akan berjalan tanpa acuh di hadapan para fansnya dan hal itupun sudah membuat para gadis hampir pingsan. Saat ia hendak menyapa para gadis yang berada di deretan belakang, Chaeyoung terkejut melihat Eunwoo yang sudah berdiri di belakangnya sambil memandanginya dengan ekspresi aneh.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Eunwoo dengan kening berkerut.

“Menyapa fansku! Memangnya ada yang aneh?” balas gadis berambut pendek itu seraya menangkupkan kedua tangannya di depan muka.

“Jangan terlalu akrab, kau tidak tahu ‘kan berapa lama kau akan bertahan di dunia model ini? Bisa saja ini adalah fashion show pertama dan terakhirmu,” cibir Eunwoo sambil berjalan melewati Chaeyoung.

Mwoya…”

Chaeyoung heran. Perasaan kemarin pemuda itu masih baik padanya. Tapi kenapa sejak mereka kembali ke Seoul Eunwoo malah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

::

Chaeyoung gemetar di balik tirai. Manik karamelnya bergerak mengobservasi pemandangan di dalam venue. Berapa banyak orang yang ada di sana? Ratusan? Atau mungkin ribuan? Ia tidak menyangka kalau jumlah penonton Fashion Show LORENE sudah hampir menyamai jumlah audience konser yang digelar stasiun-stasiun TV setiap akhir tahun. Ternyata kepopuleran LORENE bukan main-main. Kemana saja Chaeyoung selama ini? Ia sudah meremehkan bisnis Eomma-nya rupanya.

KYAAAAAAA!”

Tiba-tiba saja Chaeyoung dikejutkan dengan suara teriakan para audience yang semakin membahana. Kontan saja kepalanya berputar ke arah pintu masuk panggung, mendapati Chanwoo berjalan dengan santai menuju ke tengah panggung. Badannya yang jangkung dibalut jaket bermotif army dipadu dengan celana gombrong berwarna khaki. Kendati ekspresinya terkesan dingin dan tak acuh, Chaeyoung tidak bisa bohong kalau Chanwoo benar-benar terlihat keren saat ini. Apalagi rambut cepaknya yang diacak dan disisir ke depan. Sangat cocok dengan fitur wajahnya yang berpipi tembam dan hidungnya yang bangir. Tapi kekaguman Chaeyoung tidak bertahan lama begitu ia mengingat kejadian di hotel waktu itu.

.

.

.

“Kau ini benar-benar Chaeyoung?” tanya Chanwoo, agak kaget.

“Iya, Oppa! Ini Chaeyoung, Son Chaeyoung adikmu!!” sahut Chaeyoung mulai agak kesal. Buat Chanwoo akhirnya memilih untuk percaya dan bergerak memeluk adik perempuan yang sangat dirindukannya itu.

Bogoshipo, Chaeyoung-a!

Nado, Oppa!” ujar Chaeyoung seraya membalas pelukan Chanwoo. Kedua kakak beradik itu pun berpelukan seakan sudah lama berpisah. Namun momen keakraban itu tak bertahan lama kala Chanwoo kemudian malah memiting kepala Chaeyoung dengan lengan kekarnya.

Ya! Akhirnya mengaku juga kau, ya! Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tahu kalau ini kau?” cerocos Chanwoo kemudian, tidak peduli dengan Chaeyoung yang sudah menggeliat sambil menjerit-jerit minta dilepaskan. “Bisa-bisanya kau memakai marga bibi Seungwan. Kalau bukan karena Eunwoo hyung, kau pasti sudah ketahuan saat kusuruh membuka baju!”

Mwo?!

Setelah mendengar pengakuan Chanwoo, entah datang dari mana kekuatan itu, tiba-tiba saja Chaeyoung menginjak kaki Chanwoo keras-keras, buat pemuda Jung itu kontan melepaskan Chaeyoung dan menjerit kesakitan. “Jadi selama ini Oppa bersikap jahat padaku karena Oppa tahu?!”

“Tentu saja! Ya, bagaimana mungkin aku tidak bisa mengenali wajah jelek dan badan boncel-mu ituaw!” Chaeyoung buru-buru menghadiahi Chanwoo tendangan di tulang keringnya dan ia memang pantas mendapatkannya. Bagaimana bisa ia berpura-pura tidak tahu sejak awal? Membuat Chaeyoung malu saja!

Ya! Awas kau kulaporkan pada Eomma! Seenaknya saja menyamar jadi laki-laki dan menyusup ke LORENE!!”

“Laporkan saja! Eomma sudah tahu, week!”

Ya, Son Chaeyoung! Awas kalau kau berbuat yang aneh-aneh!! Aku akan menyuruh Eomma mengeluarkanmu dari LORENE!!!”

.

.

.

“Aish, si menyebalkan itu! Dia pikir aku akan berbuat apa, hah?” tanpa sadar Chaeyoung mendumal sendiri.

“Siapa yang menyebalkan?”

“Itu, si Chanwoo Op—” Chaeyoung menyahuti suara barusan dan terkejut melihat wajah Eunwoo berada persis di pundaknya, “—aigo, kapjagiya!”

Refleks Chaeyoung melangkah mundur karena jarak Eunwoo yang terlalu dekat. Namun fatal, ia kehilangan keseimbangan hingga nyaris terjatuh ke belakang kalau saja Eunwoo tidak lebih cepat menahan pinggangnya.

Ya, kau nyaris mematahkan lehermu, tahu!” omel Eunwoo panik. Maniknya memandang ngeri pada tangga menuju belakang venue yang berada tepat di belakang Chaeyoung.

“Ini semua karena Sunbae!” Chaeyoung malah balas berteriak, tidak mau kalah.

Mwo?”

Sunbae! Sunbae terlalu…dekat,” ia meneruskan perkataannya namun dengan suara yang semakin lama semakin tidak terdengar. Eunwoo pun hanya mengerutkan keningnya kemudian melepaskan Chaeyoung untuk berdiri tegak. Pada saat ini barulah Chaeyoung merasakan sedikit nyeri di pergelangan kakinya. Gawat, jangan-jangan kaki Chaeyoung terkilir?

Baru saja Chaeyoung hendak menunduk, mencoba menyentuh kakinya, namun Eunwoo sudah lebih dulu memegang kedua pundaknya, membuatnya kembali berdiri tegak. Sejenak pemuda Cha itu melihat ke arah Chanwoo yang tengah berjalan menuju backstage.

“Sebentar lagi giliranmu tapi kenapa kau malah melupakan kostummu, sih?” ujar Eunwoo lantas mengeluarkan sebuah bucket hat warna hitam dari kantung tuxedo-nya dan mulai memakaikannya pada Chaeyoung. Menjadikannya aksesoris pelengkap busana sporty—kaos polo hitam dan jumpsuit jeans gondrong serta sneakers metalik—yang Chaeyoung kenakan. Eunwoo membenarkan posisi topi itu pada Chaeyoung hingga menutupi kedua mata gadis itu. Untuk beberapa detik, Eunwoo terdiam kala sepasang manik hazelnya terkunci pada bibir tebal Chaeyoung dan tahi lalat di bawah bibirnya.

“Tapi Sunbae…aku tidak bisa melihat,” protes Chaeyoung membuyarkan lamunan Eunwoo. Alih-alih, lelaki Cha itu malah mendaratkan sebuah jitakan halus di puncak kepala Chaeyoung. “Pabo! Ini namanya fashion. Sudah sana ini giliranmu.” Ia membalik tubuh mungil Chaeyoung dan mendorongnya menuju panggung.

Chaeyoung yang sebelumnya sudah merasa rileks kini kembali tegang kala kakinya menjejaki panggung dan terdengar suara sorakan riuh para audiens. Ia menaikkan sedikit letak bucket hat-nya, memerhatikan ribuan penonton yang kini benar-benar berada di depan matanya. Chaeyoung mengembuskan napas beberapa kali, mencoba menenangkan dirinya sebelum kemudian mulai melangkah menyusuri panggung menuju ke titik tengah. Ini tidak berhasil, ia masih merasakan kakinya bergetar hebat. Chaeyoung pernah dengar kalau di saat-saat seperti ini ia harus memikirkan hal yang menyenangkan sehingga rasa tegangnya hilang. Maka Chaeyoung pun mulai memutar otaknya, mencoba mencari-cari hal menyenangkan apa yang kira-kira baru saja dialaminya. Dan benaknya pun kembali memutar kejadian di backstage beberapa menit lalu, sebelum Chaeyoung naik ke panggung. Ia baru sadar kalau baru saja Eunwoo berpolah perhatian lagi padanya. Eunwoo membenahi penampilan Chaeyoung dan menangkapnya saat ia akan jatuh—yeah, walaupun itu juga salah Eunwoo sih. Tanpa sadar kedua pipi Chaeyoung berjungkit tinggi. Ia senang Eunwoo sudah tidak bersikap dingin lagi padanya.

KYAAAAAA, SON CHANYOUNG!”

Chaeyoung semakin melebarkan senyumnya dan menegakkan badan seraya melambaikan tangan kala langkah kakinya sudah sampai di titik tengah.

::

Riuh sorak penonton serta tepuk tangan mengiringi langkah Chaeyoung kembali ke belakang panggung. Di sana ia langsung disambut oleh V, Minhyun, Chanwoo, serta Eunwoo.

Good job, uri aegi!” V langsung mengajaknya ber-highfive sedang Minhyun memberikan senyum bangga layaknya seorang induk ayam pada anak ayamnya yang sudah bisa terbang. Tidak sia-sia usaha Chaeyoung berlatih catwalk dengan dua buku tebal—yang mungkin biasa dibaca Cha Eunwoo—di atas kepala setiap malam.

Manik karamel Chaeyoung beralih pada Chanwoo yang berdiri setelah V, masih dengan tatapan anak anjing yang minta dielus kepalanya. Tapi Chanwoo malah mendengus dan mengalihkan wajahnya. Buat Chaeyoung serta-merta kecewa.

Eiy, dasar si Tuan Tinggi Gengsi!” cibir V.

“Kau tidak boleh seperti itu, Chan. Setidaknya hargailah usaha Chanyoung, kau sendiri ‘kan yang selalu meremehkan kemampuannya selama ini,” Minhyun menambahkan dengan bahasa yang lebih rasional. Tak heran jika ia disebut ‘Appa’nya para Top Model LORENE, ia benar-benar bijak.

Menyerah, Chanwoo akhirnya melipat kedua tangan di depan dada seraya berjalan mendekati Chaeyoung. Setelah sampai di adapan gadis bertubuh mungil itu, Chanwoo merendahkan tubuhnya jangkungnya menyamai tinggi Chaeyoung.

“Meski kau jelek, kuakui penampilanmu tadi bagus,” ujar Chanwoo kemudian mulai mengacak puncak kepala Chaeyoung hingga bucket hat yang dikenakannya lepas.

“Aish!” jerit Chaeyoung refleks dan melayangkan sebuah tinjuan ke perut Chanwoo. Setelah penyamarannya diketahui oleh Chanwoo. Chaeyoung sudah tidak sungkan lagi untuk membalas perlakuan Chanwoo. Masa bodoh dengan yang namanya menjaga imej!

“Wah, Chanyoung sekarang sudah berani melawan Chanwoo!” V berseru heboh menyaksikan pertengkaran kedua adik-kakak tersebut. Tak kalah heran seperti V, Minhyun juga memandang heran kea rah Chanwoo dan Chaeyoun. “Sejak kapan kalian jadi seakrab ini?” tambahnya.

Sementara V tertawa geli hingga memegangi perutnya sendiri, ia menoleh ke arah Eunwoo yang terdiam di sebelahnya dengan pandangan lurus—lurus ke ara dua bersaudara Jung tersebut. V menghentikan tawanya.

“Ada apa, Eunwoo-ya? Kau tidak ingin mengucapkan selamat pada Chanyoung juga?” tanya V dan itu sedikit membuat Eunwoo terkesiap. Chaeyoung yang sudah berhenti berkelahi dengan Chanwoo juga ikut memandangi Eunwoo, berharap pujian juga keluar dari bibir lelaki Cha itu.

“Sekarang giliranku.”

Namun alih-alih, Eunwoo malah tak acuh dan berjalan melewati Chaeyoung menuju panggung.

Yeah, dia memang begitu sih,” respon Minhyun agar Chaeyoung tidak tersinggung.

Yes, uri Ice Prince!” sahut V. “Nah, kajja! Kita kembali ke ruang ganti.”

Chanwoo sudah berjalan lebih dulu di depan mereke sebelum kemudian V menyusul sambil berlari-lari kecil menuruni tangga seperti bocah. Chaeyoung baru saja ingin berbalik mengikuti Minhyun saat kemudian ia mendengar teriakan.

KYAAAAAAAAAAAAAAA!”

Kepala Chaeyoung sontak kembali berputar ke arah panggung. Menyadari bahwa para audiens baru saja berteriak heboh karena Eunwoo. Tanpa sadar, tungkai Chaeyoung bergerak ke sisi pembatas panggung dengan backstage hingga ia bisa melihat penampilan Eunwoo lebih jelas dari sini. Sepasang manik karamelnya menangkap pemandangan Eunwoo, yang mengenakan setelan tuxedo, tengah berjalan menuju titik tengah. Mimik serius yang ditampilkannya benar-benar menunjang kesan classy dari outfit serta tatanan rambutnya yang disisir ke belakang. Kening mulusnya terekspos seketika menyihir seluruh audiens termasuk Chaeyoung sendiri.

‘Ada apa ini? Aura yang dikeluarkannya benar-benar berbeda dengan penampilan Chanwoo sebelumnya. Bahkan juga berbeda jika dibandingkan dengan auranya saat ia tersenyum lebar. Apakah Top Model LORENE memiliki semacam aura mereka sendiri?? Atau mereka dilatih untuk bisa mengekspos aura tertentu saat menggunakan outfit senada???’ Chaeyoung mulai membatin dalam hati.

Terlalu fokus memerhatikan penampilan Eunwoo, Chaeyoung hampir terlonjak saat seseorang berbisik di telinganya.

“Chanyoung­-a, aku tahu kau ingin berlama-lama memandangi Eunwoo, tapi sekarang giliranmu berganti pakaian.”

Kontan saja Chaeyoung memutar kepalanya dan langsung disambut oleh senyum ramah Minhyun. Rupanya pemuda itu menyadari Chaeyoung tidak mengikutinya menuju ruang ganti dan langsung mencari gadis itu yang ternyata masih berada di backstage.

A-aniyo! Aku tidak mau memandangi Eunwoo…um, aku akan segera ke ruang gan—aw!” Chaeyoung baru saja hendak menuruni tangga saat ia merasakan nyeri yang teramat sangat di pergelangan kakinya hingga ia jatuh terduduk.

“Ada apa?!” Chanwoo yang baru saja kembali dari ruang ganti segera berlari menghampiri mereka saat melihat Chaeyoung terjatuh. “Sepertinya kaki Chanyoung terkilir,” sahut Minhyun tak kalah khawatirnya.

Dengan tanggap Chanwoo segera melepas sepatu kets Chaeyoung dan melihat pergelangan kakinya yang sudah membiru. “Ya! Kenapa kakimu bisa begini?!” serunya panik.

“Aku akan beritahu manajer,” ucap Minhyun dan bergegas menuju pintu keluar backstage.

“Kau tunggu di sini, aku akan mengambil kotak P3K dulu,” titah Chanwoo sebelum kemudian berlari menyusul Minhyun. Sedang Minhyun dan Chanwoo meninggalkannya, Chaeyoung meringis, sedikit bergidik ngeri melihat pergelangan kakinya sendiri. Ia tidak tahu kalau kakinya sudah sebengkak itu. Padahal barusan Chaeyoung merasa kakinya baik-baik saja. Apakah Chaeyoung terlalu menikmati berjalan di atas panggung hingga ia tidak sadar kalau kakinya terkilir?

“Kenapa kau masih di—tunggu, ada apa dengan kakimu?” Eunwoo yang baru saja turun dari panggung hendak menegur Chaeyoung namun seketika perhatiannya teralih pada kaki telanjang Chaeyoung yang tampak membiru. Tanpa basa-basi, ia langsung mengangkat tubuh mungil Chaeyoung.

“T-tunggu, Sunbae! Kau mau membawaku ke mana?”

::

Mendaratkan tubuh mungil Chaeyoung di sofa, Eunwoo masih mengacuhkan protes gadis Jung tersebut. Lantas berjalan menuju pintu ruang tunggu dan memutar kuncinya. Chaeyoung pun membelalak. “Sunbae, aku harus segera kembali ke ruang ganti!”

Dan kali ini tatapan tajam Eunwoo yang menyahutinya. “Tidak boleh,” balas Eunwoo tegas.

“T-tapi…ini adalah Fashion Show pertamaku dan aku mau melanjutkannya sampai selesai. Kau sendiri ‘kan yang bilang mungkin saja ini bisa menjadi Fashion Show terakhir—”

Kalimat Chaeyoung terhenti kala Eunwoo berlutut di hadapannya dan memegang kedua lengannya erat. Sangat erat sampai Chaeyoung sedikit meringis merasakan pegangan Eunwoo di lengan kurusnya.

“Aku muak melihatmu berjuang sampai memaksakan diri seperti ini.”

“A-apa maksudmu?”

“Sebenarnya untuk siapa kau berusaha sekeras ini?!”

Pegangan Eunwoo semakin erat seiring pertanyaan-pertanyaan yang terus dilontarkannya pada Chaeyoung.

“Tidak bisakah kau hanya melihatku?”

Belum cukup Chaeyoung dibuat terkejut dengan perkataan Eunwoo barusan, lelaki Cha itu kemudian memajukan wajahnya dan mendaratkan bibirnya pada Chaeyoung. Membungkam kedua belah bibir Chaeyoung rapat, tak memberikan sedikitpun celah untuk sebuah jawaban keluar dari mulut Chaeyoung. Eunwoo memagutnya begitu dalam dan lama sebelum kemudian terdengar suara pintu didobrak disusul seruan.

“CHA EUNWOO!”

Chanwoo masuk dengan gusar, menarik tubuh Eunwoo menjauhi Chaeyoung dan langsung menghadiahi paras tampannya dengan tinjuan. Chaeyoung menangkupkan mulutnya kaget.

“Apa yang kau lakukan, hah?! Beraninya kau—”

“Chanwoo tenanglah!”

Beruntung Minhyun dan V merangsek masuk untuk melerai sebelum Chanwoo menghajar Eunwoo lebih parah lagi. Buru-buru V Minhyun memegangi Chanwoo sedang V menghalangi di depan badan Euwnoo. Mengembuskan napas kasar, Chanwoo beralih pada Chaeyoung dan menarik gadis itu keluar dari ruangan.

“Kau harus keluar dari LORENE!”

::

Lima bulan berlalu sejak Chaeyoung keluar dari LORENE. Hal terakhir yang Chaeyoung ingat adalah Eunwoo menciumnya kemudian Chanwoo menghajar pemuda Cha itu. Lantas keesokan harinya muncul berbagai artikel bertajuk “Cha Eunwoo dan Son Chanyoung dilarikan ke Rumah Sakit, Pergelaran Fashion Show LORENE Terpaksa Dihentikan”, hingga akhirnya pihak LORENE mengeluarkan pernyataan resmi : “Son Chanyoung Memutuskan Untuk Keluar Dari LORENE Karena Alasan Kesehatan”.

Setelah keduanya saling mendiamkan selama tiga hari, akhirnya Chanwoo menyambangi kamar Chaeyoung dan mengungkapkan alasan dibalik tindakannya waktu itu. Ternyata Chanwoo mengira kalau Eunwoo gay, dan ia tidak ingin Chaeyoung disalah-persepsikan oleh Eunwoo sebagai lelaki. Chaeyoung sadar kalau Chanwoo hanya ingin melindunginya. Dan ia juga tidak dapat berbohong kalau fakta bahwa Eunwoo mencium ia sebagai Son Chanyoung telah mengusik benaknya sampai sekarang. Ini semua merupakan salahnya yang sudah berpura-pura menjadi lelaki agar bisa masuk ke LORENE dan menjadi dekat dengan Eunwoo.

Tapi Chaeyoung tidak tahu jika akhirnya harus seperti ini.

Ia yang sedikit demi sedikit sudah mulai menikmati profesinya sebagai model harus berhenti di tengah jalan. Dan juga hubungannya yang ia pikir sudah lebih dekat dengan Eunwoo kini berakhir membingungkan. Chaeyoung masih sulit percaya jika Eunwoo mengungkapkan perasaannya pada Son Chanyoung.

Tapi Chaeyoung sangat merindukan pemuda itu.

Lima bulan, Chaeyoung pikir selama itu ia bisa melupakan sosok Cha Eunwoo beserta perasaannya. Tapi Chaeyoung salah, karena pemuda itu terus muncul di benaknya dan juga menghiasi mimpi-mimpinya. Chaeyoung pikir ia harus melupakan Cha Eunwoo . Toh, ia tidak akan pernah bertemu dengan pemuda Cha itu lagi.

Tapi Chaeyoung tidak menyangka kalau ia akan kembali lagi ke sini, gedung utama LORENE.

Hari ini LORENE kembali menggelar Fashion Show, Chaeyoung sudah tahu dari lima hari yang lalu saat ia membaca beritanya di Naver. Tak terbersit sedikitpun di pikiran Chaeyoung untuk menghadiri acara tersebut. Tapi tiba-tiba saja Chanwoo menyuruhnya untuk datang sehingga di sinilah Chaeyoung sekarang. Berada di belakang kerumunan para gadis yang berbaris di sisi pintu masuk, menunggu kedatangan para Top Model LORENE. Pemandangan yang sungguh familiar hingga Chaeyoung kembali teringat saat pertama kali ia turun dari mobil dan disambut oleh ratusan flash kamera para wartawan.

Omong-omong, kali ini ia tampil seperti biasanya saat akan datang ke LORENE. Dengan atasan kemeja putih dan celana jeans oblong. Rambutnya yang sudah panjang sebahu setengah ditutupi dengan flat cap hitam dan ia mengenakan kaca mata berbingkai bulat tebal—dengan harapan para fansnya yang dulu tidak bisa mengenalinya sebagai Son Chanyoung. Tak mau berhadapan dengan para gadis, Chaeyoung memilih untuk masuk lewat pintu yang lain. Untuk pertama kalinya, ia mengungkapkan identitasnya pada penjaga agar ia bisa masuk. Chaeyoung sudah tidak peduli lagi jika sekarang para staff di LORENE sudah mengetahui wajahnya.

Seraya naik lift menuju lantai 4, di mana ruang tunggu berada—yang Chaeyoung masih ingat betul letaknya—Chaeyoung segera menghubungi Chanwoo. Memastikan keberadaan pemuda Jung tersebut sebelum menuju ke ruang tunggu.

“Oh, kau sudah sampai?” sahut Chanwoo di seberang telepon.

Ting!

“Hm, kau di ruang tunggu ‘ka—”

Seiring pintu lift yang perlahan terbuka, menampilkan sesosok lelaki bertubuh jangkung yang sangat familiar. Dan sekonyong-konyong Chaeyoung merasakan oksigen lenyap dari sekelilingnya. Ya Tuhan, saat ini Cha Eunwoo berdiri tepat di hadapannya.

Chaeyoung belum siap. Hatinya belum siap untuk bersitatap dengan sepasang manik hazel itu lagi. Sia-sia sudah usaha Chaeyoung melupakan lelaki bermarga Cha itu selama lima bulan belakangan ini. Sekarang apa yang harus Chaeyoung lakukan di—

Eunwoo mengalihkan pandangannya dan berjalan masuk lift.

Seketika hati Chaeyoung mencelos. Apa lelaki Cha itu baru saja mengabaikannya? Ah, tidak. Jangan-jangan Eunwoo tidak mengenalinya karena kini Chaeyoung tampil sebagai Jung Chaeyoung bukannya Son Chanyoung. Iya, benar. Jung Chaeyoung adalah sosok asing bagi Cha Eunwoo. Lekas Chaeyoung keluar karena ini adalah lantai tujuannya.

::

Hanya Chanwoo yang tengah bermain game yang Chaeyoung dapati saat ia masuk ke ruang tunggu. Entah di mana Minhyun dan V berada. Sedangkan Eunwoo? Chaeyoung baru saja berjumpa dengannya barusan.

“Ada apa?” tegur Chanwoo mendapati adik perempuannya itu malah melamun. Chaeyoung pun buru-buru menggelengkan kepala.

A-aniyo.”

“Apa kau bertemu Eunwoo hyung?” ujar Chanwoo kemudian seakan bisa membaca pikiran Chaeyoung.

“Hah?”

“Kupikir kau bertemu dengannya karena ia langsung keluar begitu tau kau ada di sini.”

Oppa memberitahu Eunwoo sunbae aku ada di sini?” heran Chaeyoung.

“Iya, dan aku menyuruhmu datang juga untuk dia,” Chanwoo masih menjawab santai sambil bermain game di ponselnya. Berbanding terbalik dengan Chaeyoung yang kini mengerutkan keningnya dalam-dalam.

“Kenapa? Bukannya Oppa tidak suka kalau Eunwoo sunbae—”

“Dia sudah tahu kalau kau perempuan.”

Chaeyoung terhenyak. Ada apa ini? Ternyata Cha Eunwoo sudah tahu kalau ia seorang perempuan? Lalu kenapa tadi pemuda itu…

Ya, Jung Chaeyoung!”

Chanwoo berseru saat Chaeyoung sontak saja berlari keluar ruangan. Ia berlari menuju lift hingga tanpa sengaja—

Brukk!

—bertabrakan dengan seorang pemuda yang baru saja keluar dari lift. Badan Chaeyoung yang mungil tidak bisa menahan benturan tubuh semampai pemuda itu hingga akhirnya ia jatuh terjerembab.

“Aw!” Chaeyoung meringis merasakan nyeri pada bokongnya yang bercumbu dengan lantai. Belum sempat Chaeyoung menyadari siapa yang sudah menabraknya saat sebuah tangan terulur di depan wajahnya.

“Kau tidak apa-apa?”

Déjà vu.

Chaeyoung pikir pemuda itu mengabaikannya karena tidak dapat mengenalinya. Pada saat inilah Chaeyoung sadar kalau ia salah. Eunwoo mengenalinya karena sedari awal Eunwoo sudah tahu kalau Chaeyoung adalah seorang gadis yang ditabraknya di lift. Bukankah selama ini Eunwoo selalu menolongnya agar identitas Chaeyoung tidak ketahuan?

Alih-alih menerima uluran tangan Eunwoo yang merendahkan tubuhnya, Chaeyoung malah melingkarkan kedua tangannya pada leher lelaki Cha itu. Memeluknya erat seraya Eunwoo membawa tubuhnya bangkit berdiri.

Tangan Eunwoo terangkat mengelus surai Chaeyoung yang sudah tumbuh sebahu. “Rambutmu sudah tumbuh panjang, cantik.”

“Kenapa berpura-pura tidak mengenaliku?” ujar Chaeyoung di sela-sela tengkuk Eunwoo, setengah menahan tangis.

“Karena aku terlalu merindukanmu sampai-sampai rasanya aku ingin memelukmu saat itu juga.”

Chaeyoung tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Eunwoo dengan mata sembabnya. Seakan memastikan kalau yang mengatakan kalimat cheesy barusan benar-benar seorang Cha Eunwoo.

“Sekarang aku sudah melihatmu saja, apa yang akan kau lakukan?”

Eunwoo tersenyum. Berbisik lembut sebelum kemudian memajukan wajahnya dan memagut Chaeyoung penuh kerinduan.

.

PicsArt_08-18-09.52.21

“Menjadikanmu milikku.”

.

fin.

::

Epilog.

Eunwoo : “Dari awal aku sudah tahu kalau dia perempuan.”

Chanwoo : “Sudah tahu?”

Minhyun : “Iya, aku juga.”

V : “T-tapi…Ya! Apa hanya aku yang tidak tahu kalau Chanyoung perempuan?”

“Aish, dalam hal begini seorang V memang payah.”

Chaeyoung : “Kenapa sunbae tidak bilang kalau sudah tahu aku perempuan?”

“Kupikir kau menyamar karena ada sesuatu yang ingin kau kejar.”

“B-bagaimana Sunbae bisa tahu?”

“Dan aku sangat kesal saat kau malah mengejar Chanwoo”

MWO??”

“Chanwoo itu Oppa-ku Sunbae!”

“Hah? Jadi siapa yang kau kejar?”

Eiy, dalam hal ini seorang Cha Eunwoo juga payah.”

“Sini, kau harus dididik untuk tidak sembarangan mencium gadis yang kausuka—atau lebih tepatnya adik perempuan orang lain.”

YAAA OPPAA!

Aigo, aku juga ingin punya adik perempuan.”

“Omong-omong, kenapa Sunbae hanya curiga pada Chanwoo oppa? Bukankah V oppa dan Minhyun oppa juga bersikap baik padaku?”

“Um, kalau curiga dengan V hyung, tidak mungkin. Dia memang terkesan playboy—”

Ya!”

“—tapi sebenarnya dia tidak punya banyak pengalaman dengan perempuan.”

LOL!”

“Diam kau, Minhyunie!”

“Dan kalau Minhyun hyung juga tidak mungkin. Dia memang baik tapi aku sudah tahu kalau dia punya orang yang disukai.”

“Benarkah? Minhyun sunbae?”

Yeoksi.”

Ya! Kenapa kau tidak pernah cerita padaku?! Kau anggap aku apa sih, Hwang-nim??”

“Lanjut.”

Yeah, kalau Chanwoo…dia jarang dekat dengan perempuan. Dan aku tahu dia benci dengan para model perempuan yang mengejar-ngejarnya. Makanya ia tidak mau LORENE merekrut model wanita atau bekerja sama dengan mereka.”

“Serius, Oppa?”

“Hm.”

“Makanya aku langsung curiga saat dia malah mengganggumu terus. Jarang-jarang seorang Jung Chanwoo tertarik pada perempuan.”

“Iya, benar itu.”

Yeah, uri Emperor will become an old virgin.”

“Diam!”

end.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s