Accidentally Family (Chapter 11)

PicsArt_09-27-12.34.19

Accidentally Family

|LEORENE|

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family, Life | Chaptered | PG17

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Previous :

 Prolog | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10

Summary :

“Jadi, mulai sekarang setiap Minggu kita akan begini?”

.

.

.

Chapter 11

Lee Hongbin memarkirkan sedan silver-nya di pelataran sebuah kafe bernuansa serba putih. Kafe ini adalah tempat langganan pemuda Lee itu menyantap sarapan di akhir pekan. Segera setelah Hongbin memesan spaghetti bolognaise dan secangkir greentea latte panas, ia mendudukkan diri di sofa beludru tepat di tepi kaca—spot favoritnya setiap datang ke kafe ini.

Setelah mengecek ponselnya untuk beberapa saat, Hongbin melemparkan pandangan ke luar jendela. Netra hazel-nya menangkap pemandangan para pejalan kaki yang berlalu-lalang serta kendaraan-kendaraan yang sesekali melintas. Sementara itu telinganya dimanjakan lantunan musik akustik dari lagu “The Manual” milik Eddy Kim. Dalam keheningan benak Hongbin pun melayang pada malam di mana ia terakhir bertemu Kang Seulgi—gadis yang memenuhi pikirannya seminggu belakangan ini.

.

.

.

Malam setelah pesta ulang tahun Taekwoon di Café. Setelah berpamitan pada semuanya, Hongbin dan Seulgi berjalan beriringan menuju pelataran parkir. Ia merasa waswas dan sesekali melirik pada gadis cantik yang lebih pendek darinya itu. Memang sih tadi gadis Kang itu tersenyum saat mengucap perpisahan dengan teman-temannya, tapi Hongbin tidak lupa bagaimana gadis itu terus terdiam membisu di sepanjang pesta. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang ada dipikirkan gadis itu saat ini.

Hongbin sadar kalau ia sudah bertindak gegabah dengan mengatakan kebohongan seperti itu di hadapan teman-temannya. Tapi Hongbin tidak tahu harus mengatakan apalagi mengingat di sana ada Bae Joohyun, yang tak lain adalah atasan Kang Seulgi. Apa yang akan dipikirkan istri Taekwoon jika ia melihat Seulgi yang notabenenya tidak ada hubungan spesial apapun dengan Hongbin berada di acara khusus teman dekat suaminya?

“Lee Hongbin-ssi,” suara Seulgi mengalihkan perhatian Hongbin serta membuatnya menghentikan langkah, sama seperti yang gadis Kang itu lakukan. Seulgi yang sedari tadi tertunduk kini menengadah, membuat keduanya bersitatap. Dapat Hongbin lihat rasa keingin tahuan dari sorot mata gadis itu.

“Apa maksud perkataan anda tadi?”

Dan akhirnya pertanyaan itu terlontar. Wajah Hongbin menegang dan ia menangkupkan sebagian wajahnya. Seharusnya ia sudah memperkirakan hal ini. Harusnya ia sudah menyusun kata-kata untuk menjelaskan pada gadis itu maksud dari perkataannya. Dan, oh, apa gadis itu kembali berbicara formal padanya?

“Apa maksud anda mengakatakan kalau saya adalah calon istri anda? Anda tahu ‘kan kalau saya bukan

“Aku serius.” Hongbin menghela napas.

Berbanding terbalik dengan Seulgi yang kini membelalakan mata. “Hah?”

Hongbin balas menatap Seulgi lekat-lekat. Berharap gadis itu dapat menemukan kesungguhan dalam kata-katanya. “Aku mau kau menjadi istriku, nona Kang Seulgi.”

Tapi Seulgi justru mengernyit tidak percaya. “Maaf, tapi hubungan di antara kita hanyalah hubungan kerja.”

“Apa itu artinya aku tidak boleh menyukaimu? Apa aku tidak boleh menikahi rekan kerja samaku sendiri?”

Seulgi melangkah mundur. “Kau hanyalah utusan Presdir Jesly Kr.”

“Dan Presdir mengutusku karena ia percaya padaku. Dia tidak pernah sekalipun melarangku menjalin hubungan dengan perusahan yang bekerja sama dengan Jesly Kr.”

“Aku harap kau membedakan masalah pribadi dan pekerjaan.”Tidak tahan dengan percakapan ini, Seulgi berbalik dan berjalan menjauhi Hongbin. Lelaki jangkung itu lekas mengejar.

“Kalau begitu aku bicara padamu atas nama Lee Hongbin pada Kang Seulgi. Bukan perwakilan Jesly Kr dengan asisten wakil Presdir Bae Corporation,” ujarnya pada punggung Seulgi yang semakin menjauh.

“Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.” Tiba-tiba gadis Kang itu menghentikan taksi yang melintas. Seulgi bergegas masuk dan hendak menutup pintu. Namun Hongbin bergerak lebih cepat menahannya dan menjulurkan badan, membuat Seulgi tak bisa melawan.

“Kalau begitu kuharap kau memikirkannya baik-baik karena aku serius mengatakannya. Selamat malam.”

Setelah berkata demikian, Hongbin pun menutup pintu taksi Seulgi.

.

.

.

“Permisi, pesanan anda, Tuan.”

Lamunan Hongbin terusik suara pelayan yang membawakan pesanan. Hongbin tersenyum ramah dan membiarkan pelayan wanita itu menata makanannya di atas meja. Barulah setelah pelayan itu pergi, Hongbin mengusak surainya frustasi. Untuk kesekian kalinya, ia merasa risau. Khawatir apa setelah ini seulgi mau menemuinya lagi atau tidak.

Drrttt…drrttt…

Ponsel Hongbin bergetar di atas meja. Lekas ia mengamit benda persegi panjang itu dan serta-merta maniknya membulat membaca pesan yang baru saja diterimanya.

“Apa bisa kita bertemu?”

***

Pagi-pagi sekali Taekwoon melajukan mobilnya menuju taman. Minggu pagi ini Taekwoon dan Joohyun akan menghabiskan waktu dengan berolahraga bersama. Joohyun turun dari mobil dan mengedarkan pandangan, ini adalah kali pertamanya ke taman ini kendati jaraknya tidak begitu jauh dari apartemen yang ditempatinya 6 bulan belakangan bersama Taekwoon. Setelah mematikan mesin dan mengunci mobil, Taekwoon berjalan menghampiri Joohyun. Tanpa sadar manik hazel-nya memindai penampilan Joohyun dari ujung kaki sampai ujung kepala. Istrinya terlihat fresh pagi itu dengan setelan jaket sports abu-abu dan celana training sebatas lutut. Surai cokelat Irene hanya dikuncir kuda dan entah mengapa Taekwoon sangat suka saat gadis itu melakukannya. Paras putih Joohyun tampak menawan kendati tak ada sedikit make up-pun yang melapisinya. Serta-merta sebuah kurva tercipta di paras Taekwoon—kagum dengan kecantikan natural wanitanya.

“Taekwoon, aku tidak tahu kalau tamannya seluas ini. Wah, ada banyak sekali orang.”

Alih-alih menanggapi ucapan Joohyun, pandangan Taekwoon malah jatuh pada tungkai mungilnya yang dibungkus sepatu sports warna abu-abu dan ungu dengan tali yang tak terikat. Joohyun menoleh karena Taekwoon tak menyahuti dan mendapati lelaki Jung itu berlutut di depannya untuk mengikatkan tali sepatunya kembali.

Kontan saja Joohyun tersenyum melihat perhatian kecil dari suaminya itu. Sebelah tangannya menyentuh puncak kepala Taekwoon dan menyisir surai pendek lelaki itu. Merasakan sentuhan Joohyun, Taekwoon menengadah dan memberikan eyesmile-nya pada Joohyun. (Astaga, untung saja tidak ada Miki di sini. Kalau tidak Joohyun pasti bingung memilih yang mana yang lebih imut, Miki atau Taekwoon.) Tampaknya suasana hati keduanya sedang bagus pagi ini setelah menghabiskan waktu bersama seharian kemarin.

Kegiatan olahraga mereka diawali dengan pemanasan jogging mengelilingi taman selama 20 menit, lalu Taekwoon meminjam bola basket dari seorang anak lelaki dan memainkannya bersama Joohyun. Gadis Bae itu angkat tangan, ia benar-benar tidak sanggup bermain satu lawan satu bersama Taekwoon. Joohyun tidak tahu kalau ternyata suaminya sangat mahir bermain basket. Dan kalau tidak salah tadi Taekwoon sempat mengembalikan bola sepak milik seorang bocah yang nyasar di tengah-tengah permainan mereka. Pria Jung itu menendang bolanya dengan mulus ke lapangan sepak bola, tempat di mana bocah itu berada.

Setelah melakukan lay up terakhir, Taekwoon memungut bola basketnya dan menghampiri si empunya yang sedari tadi antusias menonton permainannya bersama Joohyun dari pinggir lapangan. Menjatuhkan bokong ke rumput hijau, Joohyun melihat Taekwoon mengusap kepala dan mencubit pipi bocah lelaki itu sebelum kembali merajut langkah ke arahnya. Sebuah kurva masih terjungkit di wajahnya—tipikal Jung Taekwoon kalau habis bertemu dengan anak kecil. Joohyun merebahkan tubuhnya kelelahan dan Taekwoon pun ikut berbaring di sebelahnya.

Sejenak keheningan dan suara nafas berderu yang saling bersahutan menyelimuti mereka. Joohyun memejamkan matanya, merasakan hangat cahaya matahari menerpa wajah cantiknya. Saat ia akhirnya membuka mata dan menoleh pada Taekwoon di sebelahnya, lelaki Jung itu tengah menyugar surai kelamnya yang sudah basah dengan keringat. Beberapa sekon kemudian Taekwoon menoleh, buat padangan keduanya bertemu dan mereka saling tersenyum.

“Jadi, mulai sekarang setiap Minggu kita akan begini?” tanya Taekwoon seraya melipat kedua lengan di belakang kepala.

“Um, sepertinya begitu.”

Taekwoon kembali menengadah, matanya—yang memang sudah sipit—semakin menyipit karena cahaya terik matahari yang kini menerpa wajahnya. “Tidak buruk. Aku juga sudah lama tidak olahraga. “

“Tapi aku merindukan Miki,” sahut Joohyun yang serta-merta membuat Taekwoon menoleh lagi padanya.

“Tapi kamu senang juga ‘kan hanya berdua denganku?” lelaki Jung itu berujar dengan seringai jahil terpeta di bibir.

“Um…ya…itu sih…” Joohyun mendadak gagu karena Taekwoon entah sejak kapan jadi terlihat semakin tampan dengan rambut basah dan bulir-bulir keringat yang mengalir hingga ke pelipis.

Joohyun kembali mengingat bagaimana ia menghabiskan seharian penuh kemarin bersama Taekwoon karena pagi-pagi sekali Aboeji-nya sudah menculik bayi lelakinya itu dari apartemennya. Yeah, mulai sekarang, setiap sabtu Miki akan berada di rumah Haraboeji-nya. Awalnya mereka berdua hanya menghabiskan waktu untuk melakukan pekerjaan rumah. Namun di penghujung hari, Taekwoon meluapkan segala kerinduannya pada Joohyun seminggu belakangan ini karena mereka sibuk bekerja dan mengurus Miki. Mereka pun menghabiskan malam dengan penuh kasih sayang dan memutuskan untuk tidur lebih awal dari biasanya.

Tiba-tiba saja pipi Joohyun terasa panas. Masih terbekas jelas di ingatannya bagaimana sentuhan-sentuhan lembut Taekwoon malam itu. Bahkan Joohyun masih bisa merasakan kecupan-kecupan Taekwooon yang tertinggal di tengkuknya. Gesekan lembut dan hisapan-hisapan pelan bibir lelaki Jung itu membuatnya geli seakan ada ratusan kupu-kupu menggelitiki abdomennya. Bohong jika Joohyun bilang ia tidak menikmatinya. Bahkan kalau Joohyun boleh jujur, ia sangat suka saat Taekwoon melakukan—

“Aku haus,” keluh Taekwoon tiba-tiba membuyarkan lamunan Joohyun.

“Hah? O-oh, aku lupa membawa minum,” jawab Joohyun refleks terbata lalu mulai memukul pelan kepalanya. ‘Apa yang baru saja kau pikirkan, Bae Joohyun? Sejak kapan pikiranmu jadi semesum ini?!’

“Kamu kenapa? Wajahmu merah.” Taekwoon yang menyadari perubahan pada istrinya itu mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Joohyun. “Apa terlalu lama terpapar matahari, ya?” tanyanya kemudian, lebih kepada dirinya sendiri. Mungkin agak khawatir karena membawa Joohyun yang jarang keluar rumah berjemur terlalu lama.

“T-tidak, kok. Aku tidak apa-apa, Taekwoon,” Joohyun buru-buru menepis tangan Taekwoon sebelum pemuda itu menyadari alasan sebenarnya dibalik wajahnya yang mungkin kini sudah semerah tomat.

“Kalau begitu kau tunggu di sini, biar aku yang membeli minum,” perintah pria Jung itu sebelum kemudian bangkit berdiri. Baru saja Taekwoon akan pergi saat—

“Taekwoon.”

—Joohyun kembali memanggilnya sambil menjulurkan kedua tangannya. Mengerti akan maksud Joohyun, Taekwoon pun lekas menarik tangan Joohyun. Tapi alangkah terkejutnya Joohyun saat Taekwoon mencuri kesempatan mengecup bibirnya kala tubuhnya bangkit berdiri. Joohyun yang merasa tidak siap pun terkesiap namun Taekwoon sudah lebih dulu berjalan seakan tidak terjadi apa-apa.

Ya, Jung Taekwoon!” kesal Joohyun.

“Kau tunggulah di bangku itu,” Taekwoon malah menunjuk bangku taman bercat putih di sebelah Joohyun, tak acuh dengan protes istrinya.

“Aish!” Joohyun masih bergumam kesal seraya berjalan menuju bangku taman hingga tidak menyadari kalau ada seorang wanita tua yang duduk di sana. Kontan saja Joohyun menutup wajahnya dengan sebelah tangan, merasa malu karena mungkin saja wanita tua itu melihat apa yang Taekwoon lakukan padanya tadi.

“Kalian pasangan kekasih yang manis,” ujar wanita tua itu dan tersenyum ramah pada Joohyun.

Ne? Ah, bukan, Halmeoni. Kami sudah menikah,” Joohyun mau tak mau menurunkan tangannya dan balas tersenyum kikuk.

“Benarkah? Kalian masih muda.”

“I-iya.”

“Kalian pengantin baru?”

“Tidak, kami sudah punya anak.”

Manik karamel wanita tua—yang masih tampak cantik kendati sudah dihiasi keriput di sekelilingnya—itu berbinar mendengar perkataan Joohyun. “Benarkah? Berapa umurnya?”

Lekas Joohyun mengambil ponsel di kantong jaketnya dan menunjukkan wallpaper-nya yang menggunakan foto Miki pada wanita tua itu. “Ini bayi laki-lakiku. Baru berumur enam bulan dan namanya adalah Jung Miki.”

Aigo, lucunya!” ujar wanita itu seraya tersenyum lebar. Senyum yang serta-merta menular pada Joohyun. Ia pun menundukkan kepala hormat.

“Terima kasih, Halmeoni.”

“Dia benar-benar mirip dengan Appanya, ya?”

“Um, iya, sepertinya begitu.” Joohyun tersenyum ragu mengingat Taekwoon bukanlah ayah biologis Miki.

“Kalau sudah besar pasti tampan. Appanya saja tampan,” wanita tua itu berujar lagi seraya mengerling jahil pada Joohyun. Gadis Bae itu hanya bisa balas tersenyum dan hilang sudah rasa canggungnya pada wanita tua ini. Memang kadang terasa menyenangkan bisa bercakap dengan orang yang tidak kau kenal.

“Baguslah, semoga kalian selalu menjadi keluarga bahagia.”

Joohyun tersenyum, “Jeongmal kamsahamida, Halmeoni.”

Bersamaan dengan berakhirnya konversasi Joohyun dan wanita tua itu, terdengar suara seruan Taekwoon memanggilnya dari jauh.

“Ah, permisi, suamiku memanggil.”

Wanita tua itu mengikuti arah padangan Joohyun, mendapati Taekwoon yang memandangi dari jauh juga ikut tersenyum ramah padanya. Joohyun segera bangkit berdiri. “Senang bertemu denganmu Halmeoni.” Tak lupa ia membungkukkan badan hormat pada wanita tua itu sebelum kemudian berlari menyusul suaminya.

“Kau beli apa?” tanya Joohyun yang segera disambut Taekwoon dengan uluran sebuah minuman kotak dengan bungkus gambar kartun.

“Minuman jeli.”

Mwo? Apa kau ini bocah? Kenapa membeli minuman jeli?”

“Aku sedang ingin saja,” jawab Taekwoon enteng sambil menyedot minuman jeli miliknya.

“Tapi kita ‘kan habis olahraga. Lagipula aku haus, bukannya mau minum jeli” protes Joohyun. Tapi akhirnya juga ikut menancapkan sedotan di minuman jelinya.

“Sudahlah, minum saja. Tadinya justru aku hanya ingin membeli satu.”

Mwo?”

“Salah siapa olahraga tidak membawa minum,” sindir Taekwoon.

“Aku ‘kan sudah bilang lupa!”

“Yasudah, minum saja jelinya. Ini juga segar kok, rasa semangka.”

“Aish!”

“Kau tidak mau? Yasudah, untukku saja, ” ujar Taekwoon lalu memegang minuman jeli Joohyun dari sebelah kanan gadis itu dan menyedotnya.

“Taekwoon!”

Joohyun menyikut perut pemuda itu, membuatnya bergerak mundur dan mengaduh kesakitan. Joohyun memandangi minuman kotaknya yang sudah mulai enteng.

“Belikan aku minum lagi!!”

Wanita tua itu tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri muda itu berjalan sambil berangkulan.

***

Jam baru saja menunjukkan pukul 7 pagi saat sedan putih Jaehwan memasuki lobby utama hotel Shangri-La. Setelah memberikan kunci pada valet yang kemudian mengambil alih mobilnya, Jaehwan segera memacu langkah memasuki hotel. Tujuannya bukan lagi meja resepsionis—seperti tamu-tamu pada umumnya—melainkan lift hotel. Setelah pintu lift terbuka, Jaehwan lekas masuk dan menekan tombol 4 seakan ia sudah hafal di luar kepala. Begitu juga saat pintu terbuka dan ia merajut langkah menuju kamar nomor 407. Baru saja Jaehwan mengamit ponselnya, hendak melakukan panggilan, saat kemudian pintu terbuka. Menampilkan sosok gadis cantik dengan balutan dress selutut warna putih.

Morning, Beautiful.”

Sapa Jaehwan yang serta-merta menimbulkan kurva di wajah gadis bermarga Son tersebut.

Morning, Jaehwan-a.

Yeah, tujuan Jaehwan pagi-pagi ke sini tak lain adalah menjemput Seungwan untuk mengajaknya sarapan dan juga jalan-jalan.

***

Joohyun dan Taekwoon memutuskan untuk mampir ke pasar basah sebelum ke rumah orangtua Joohyun untuk menjemput Miki. Di mobil, saat perjalan pulang dari taman, tiba-tiba saja Joohyun mengatakan kalau ia sedang ingin makan kepiting. Taekwoon pun menyanggupi keinginan Joohyun dan berniat membuatkan gadis itu sup kepiting.

Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran yang terletak di pintu masuk pasar, Taekwoon menggandeng Joohyun menyusuri pasar dengan berjalan kaki. Rasanya sudah lama sekali Taekwoon—apalagi Joohyun—tidak berbelanja di pasar tradisional seperti ini. Yang biasa melakukan kegiatan belanja memang Taekwoon, tapi ia lebih sering ke pasar swalayan mengingat ia selalu membawa serta Miki saat berbelanja. Untungnya sekarang Miki sedang tidak bersama mereka sehingga mereka bisa berbelanja dengan lebih leluasa.

Taekwoon menoleh pada Joohyun yang berjalan di sebelahnya. Kepala Joohyun terus menoleh ke kiri dan ke kanan, tampak takjub dengan pemandangan aneka sayuran segar dan berbagai hewan laut yang masih berada di aquarium. Sesekali aroma jajanan khas pasar menerpa indera penciuman keduanya. Membuat perut mereka yang tadi pagi hanya diisi setangkup roti lapis isi tuna sebelum berolah raga mulai bergolak meminta diisi kembali.

“Kamu mau jjeokbal, Joohyun-a?” Taekwoon akhirnya bersuara melihat istrinya meneguk ludah.

Eoh? A-ani, aku akan makan sup kepiting buatanmu saja nanti, Taekwoon-a.”

“Kamu serius? Tapi kalau kamu sudah lapar—”

Gwenchana, Taekwoon-a. Kajja!” selak Joohyun cepat dan langsung menggandeng lengan Taekwoon pergi meninggalkan kedai bibi yang menjual kaki babi. Keduanya kembali menyusuri pasar dengan saling bergandengan hingga kemudian salah satu kios sayuran menarik perhatian mereka.

“Taekwoon-a, itu…” Joohyun yang menghentikan langkah lebih dulu bersuara.

“Bawang bombay!” sahut Taekwoon antusias. Keduanya pun saling bertatapan dengan mata berbinar-binar. Yep, tidak salah lagi. Bawang bombay adalah bahan makanan kesukaan keduanya. Sulit untuk menemukan kesamaan dari kedua orang yang selalu bertengkar seputar pasta atau ramyeon hingga akhirnya mereka berdua bertemu dengan bawang bombay. Dengan cepat Taekwoon menghampiri bak berisi tumpukan bawang bombay dan mulai melihat-lihat bersama Joohyun. Sang bibi pemilik kios menyambut mereka dengan ramah dan memberikan Taekwoon keranjang untuk meletakkan bawang bombay pilihannya. Taekwoon menerimanya dan balas membungkuk hormat. Baru saja ia hendak memilah-milah mana bawang bombay yang bagus untuk dimasaknya nanti saat Joohyun sudah menyodorkan beberapa buah bawang bombay kepadanya. Sejenak Taekwoon memerhatikan kualitas bawang-bawang yang berada di tangan Joohyun sebelum kemudian menggeleng dan mulai memilih sendiri bawangnya.

Sontak saja Joohyun memberenggut. “Kenapa kamu ambil lagi? Aku sudah memilihkan bawang bombaynya, Taekwoon-a.

“Bawang yang kamu pilih itu tidak bagus, Joohyun-a. Kamu harusnya memilih bawang bombay yang seperti ini,” Taekwoon berujar seraya menyodorkan bawang bombay pilihannya.

“Tidak ada bedanya, tuh.”

“Tentu saja berbeda, bawang bombay yang ini akan lebih enak saat dimasukkan ke sup nanti dibanding yang kamu pilih,” sahut Taekwoon tidak terima. “Orang yang biasa memasak pasti tahu mana bawang yang lebih enak atau tidak.

Mungkin Taekwoon terlalu sibuk memilih bawang bombay hingga ia tidak bisa melihat perubahan pada paras Joohyun.

“Jadi maksudmu selain tidak bisa memasak, aku juga tidak bisa memilih bawang bombay dengan benar?”

Karena kini gurat-gurat kemarahan mulai terlihat di wajah Joohyun dengan sorot matanya yang menatap Taekwoon tajam.

“Bukan begitu, Joohyun-a. Tapi aku—”

“Kalau begitu aku pulang saja!” setelah berkata demikian, Joohyun memacu langkahnya meninggalkan Taekwoon.

“Bae Joohyun!”

***

Lagu Gap yang dinyanyikan oleh VIXX Ken dan EXID Hani mengalun di seluruh penjuru Café, menemani Jaehwan dan Seungwan yang sedang menyantap setangkup roti lapis sebagai menu sarapan. Sesekali tatapan keduanya bertemu dan mereka saling tersenyum. Seungwanlah yang mengalihkan pandangannya lebih dulu ke pemandangan di luar jendela besar yang berada tepat di sisi kirinya. Berbanding terbalik dengan Jaehwan yang masih mengunci manik hazelnya pada figur gadis cantik yang kini duduk di hadapannya. Binar-binar kebahagian terpancar jelas dari kedua matanya serta sebuah kurva yang terus terjungkit tinggi di parasnya. Rasa-rasanya ia tidak akan bosan memandangi Seungwan seharian kalau saja gadis itu tak menoleh lagi padanya kemudian.

“Memangnya kamu tidak ada tugas pagi ini, Dr. Lee?” tanya Seungwan lantas menyesap espresso hangatnya.

Jaehwan menyelesaikan kunyahannya sambil menggeleng. “Tidak ada yang lebih penting dibanding sarapan dengan seorang gadis cantik sepertimu, Seungwan-a,” balasnya kemudian.

Pria Lee itu pikir reaksi Seungwan selanjutnya adalah tersipu malu karena kalimat cheesy-nya, tapi ternyata Jaehwan salah. Karena yang tergambar di paras Seungwan beberapa detik kemudian ada sebuah kerutan di dahi dan tatapan mengintimidasi—sungguh, bukan reaksi yang Jaehwan harapkan sama sekali.

“Cepat katakan, sudah berapa banyak rekan kerja wanitamu yang kau ajak makan, Lee Jaehwan?” todong Seungwan.

Kontan saja Jaehwan terbahak melihat ekspresi menyelidik Seungwan yang terlihat lucu di matanya. “Tidak ada, Seungwan-a. Satu-satunya gadis yang kuajak makan selain dirimu, hanyalah ibuku.”

“Bohong.”

“Serius.”

Seungwan meletakkan cangkir espresso-nya dan melipat kedua tangan di depan dada. Berbanding terbalik dengan Jaehwan yang kini justru menyadarkan punggungnya di sandaran kursi, bersiap mendengar wejangan dari Seungwan sebentar lagi.

“Astaga, Lee Jaehwan. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Ingat umurmu, kamu harus cepat-cepat cari pacar, tahu!”

“Pacar, ya?” Jaehwan bergumam pada dirinya sendiri.

Ani, bukan pacar tapi istri. Memangnya kamu tidak kasihan dengan Eomma-mu yang selalu kamu tinggal sendirian di rumah saat kamu bertugas di rumah sakit?”

“Kenapa tidak kamu saja?” celetuk Jaehwan yang kontan saja menghentikan cerocosan Seungwan dan membuat manik karamel gadis itu membelalak.

“Hah?”

“Maksudku kenapa tidak kamu saja yang tinggal di rumahku bersama Eomma. Terus-terusan tinggal di hotel pasti mahal ‘kan?” Jaehwan buru-buru mengoreksi perkataannya agar Seungwan bisa meraih oksigen lagi.

“Astaga, aku kira…” Seungwan mendumal sambil mengelus dada.

“Kamu sudah selesai makan ‘kan? Kalau begitu ayo kita pergi,” Jaehwan berkata seraya bangkit dari kursinya.

“Ke mana?” Seungwan menyahut dengan dahi berkerut sebelum lelaki itu meninggalkan meja.

Jaehwan mengangkat sebelah alisnya, “ Tentu saja ke rumahku.”

“S-sekarang?” balas Seungwan agak khawatir.

“Iya. Ini semua karena kamu terus mengungkit Eomma-ku, Seungwan-a. Aku jadi merindukannya, tahu!”

“Memangnya kamu belum bertemu Eomma-mu, Jaehwan-a?” Seungwan berujar seraya menyusul langkah kaki jenjang Jaehwan yang sudah lebih dulu berjalan menuju pintu keluar.

“Sudah 3 hari aku tidak pulang dan aku langsung menemuimu dari rumah sakit.”

Heol, anak macam apa kamu ini? Kenapa malah menemuiku bukannya—”

“Kamu tunggullah di sini, Miss Son. Aku akan mengambil mobil dulu,” sela Jaehwan saat mereka sudah sampai di luar Café.

Seungwan hanya bisa berdecak sebal kala Jaehwan sudah melesat pergi sebelum ia sempat menjawab. Sementara menunggu Jaehwan kembali, Seungwan pun terdiam memerhatikan pemandangan Seoul yang sudah tak dijumpainya selama dua tahun. Orang-orang yang berlalu-lalang di depan Café hingga beberapa toko yang baru dibuka di seberang jalan. Pada saat itulah, iris Seungwan tidak sengaja melihat sosok seorang pria berperawakan jangkung baru saja keluar dari toko bungan di seberang jalan. Lelaki itu berpenampilan santai dengan setelan training yang membalut tubuh semampainya, berjalan sambil mengendus wangi sebuket bunga yang menutupi setengah wajahnya. Kendati tidak dapat melihat jelas paras pria itu, entah kenapa Seungwan merasa familiar. Orang itu seperti…

“Ada apa, Seungwan-a?” suara Jaehwan—dengan mobil sedannya yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan Seungwan—dari kaca mobil yang terbuka membuyarkan lamunan gadis Son itu.

“Ah, tidak. Tidak ada apa-apa.” Seungwan menggeleng, berusaha mengusir sekelebat bayangan yang terbesit di pikirannya dan buru-buru membuka pintu mobil Jaehwan.

***

Hongbin terus memandangi ponselnya sambil melipat tangan di depan dada. Membaca kembali sederetan kata yang ternyata berasal dari Soojung yang minta ditemani membelikan hadiah untuk Miki. Alhasil kini ia berada di toko perlengkapan bayi, di salah satu Mall di kawasan Gangnam. Soojung yang sebelumnya asik berkutat di pojok pakaian bayi laki-laki, menoleh pada Hongbin hendak meminta pendapat tapi mengurungkan niatnya karena pemuda Lee itu belum juga beranjak dari tempatnya sejak 10 menit yang lalu. Akhirnya Soojunglah yang berinisiatif untuk menghampiri Hongbin lebih dulu.

“Kenapa, Oppa? Menunggu pesan dari seseorang? Atau kecewa karena yang mengirim pesan barusan adalah aku, bukannya orang yang Oppa tunggu?” ujar Soojung menyadarkan Hongbin dari pikirannya yang berkecamuk.

Hongbin buru-buru menggeleng dan berusaha menyembunyikan ponselnya di saku celana bahannya. “Sudah pilih barang apa yang mau kau beli?” ia berusaha mengalihkan perhatian Soojung. Yang lantas langsung disambut Soojung antusias. Gadis Jung itu kembali menuju tempat pakaian bayi laki-laki dan mengambil dua gantungan baju sekaligus.

“Menurut Oppa lebih bagus yang mana?” ujarnya kemudian seraya mengangkat sebuah setelan baju jumpsuit jeans di tangan kiri dan setelan kemeja yang dipadu celana pendek dan dihiasi dasi kupu-kupu di tangan kanan. Kedua baju bayi itu sangat lucu sehingga Soojung bingung harus memilih yang mana.

“Dua-duanya bagus,” tanggap Hongbin kemudian tanpa berpikir lama. Dan Soojung rasanya ingin menepuk jidat.

“Kalau begitu untuk apa aku menyuruhmu memilih, Oppa?!” kesal Soojung.

“Beli saja dua-duanya, satu lagi biar aku yang bayar,” Hongbin tidak mau ambil pusing.

“Wah, Oppa memang yang terbaik!”

Saking senangnya tanpa sadar Soojung melangkah maju dan memeluk Hongbin.

***

Seulgi mengelus daun telinganya seraya menjauhkan ponselnya. Baru saja ia menelepon Joohyun untuk menanyakan kado apa yang bagus untuk diberikan sebagai hadiah pernikahan untuk presdir Jesly Kr. Namun tampaknya suasana hati bos sekaligus sahabatnya itu tidak begitu bagus sehingga alih-alih alternatif hadiah yang diterima Seulgi tapi malah bentakan yang menyambangi rungunya.

Setelah mengelilingi lantai berisi perabotan di salah satu Mall di kawasan Gangnam, Seulgi memutuskan untuk membelikan satu tea set berukiran bunga warna emas dan ungu sebagai hadiah. Alasannya tak lain karena Seulgi menyukai desain satu set peralatan minum teh itu. Selain itu hadiah ini juga tampak mewah dan berkelas, sepertinya cocok untuk diberikan pada presdir sekelas perusahaan Jesly Kr.

Selepas menyelesaikan prosedur pembayaran di kasir dan membungkusnya dengan kertas kado, Seulgi memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Kebetulan juga ia tidak ada agenda lain setelah ini. Menghabiskan 5 hari dalam seminggu untuk berkutat dengan pekerjaan di kantor, sekali-sekali Seulgi butuh waktu untuk bersantai dan menjernihkan pikirannya. Karena akhir-akhir ini juga ada yang mengusik benaknya. Apalagi kalau bukan si pemuda Lee yang secara tiba-tiba mengungkapkan perasaannya. Saat itu Seulgi sangat terkejut sehingga ia tidak bisa mendengarkan penjelasan Lee Hongbin lebih lanjut lagi dan memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Seulgi benar-benar bingung. Ia belum yakin kalau lelaki Lee itu serius dengan perkataannya.

Dan pada saat itulah, kala Seulgi melewati toko peralatan bayi, maniknya tak sengaja menangkap sosok pemuda yang beberapa hari ini menghantui pikirannya tengah bersama seorang gadis. Belum sempat Seulgi mencerna situasi yang terjadi di hadapannya hingga dilihatnya gadis itu memeluk Lee Hongbin dengan girangnya. Kontan saja hati Seulgi mencelos. Ia tidak menyangka kalau Lee Hongbin memang hanya mempermainkannya. Maka tanpa berlama-lama memandangi pemandangan menyesakkan tersebut, Seulgi buru-buru berbalik hendak pergi saat ia malah tidak sengaja menabra seseorang.

Spontan saja Seulgi membungkukkan badan hormat seraya berujar, “Maaf, aku—”

“Seulgi eonnie?”

Mendengar namanya disebut, Seulgi pun menengadahkan wajah dan mendapati sosok yang familiar tengah berdiri di hadapannya.

“Park Sooyoung?”

Ya, gadis jangkung yang ditabraknya barusan adalah Park Sooyoung, junior sekaligus teman dekatnya saat duduk di Sekolah Menengah dulu. Sooyoung pun langsung memeluk Seulgi dengan senang.

“Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu, Eonnie! Bagaimana kabar Eonnie?”

Seulgi membalas pelukan Sooyoung, tak kalah senang bertemu dengan teman lamanya itu. “Baik, Sooyoung-a. Bagaimana kabarmu?”

“Baik!” sahut Sooyoung seraya memamerkan gummy smile-nya. “Eonnie sendirian?” tanyanya kemudian yang hanya dibalas Seulgi dengan senyum setengah dipaksakan. “Iya, kau sendiri? Bersama Sungjae?” ia balas bertanya serta menanyakan apakah Sooyoung berada di sana bersama suaminya.

Aniyo, Eonnie. Sungjae oppa sangat sibuk, jadi aku ke sini dengan suami Jiyeon eonnie.”

Bersamaan dengan perkataan Sooyoung barusan, seorang pria jangkung menghampiri mereka. “Ya! Sooyoung-a, jangan tiba-tiba berlari seperti itu dong!”

Setelah Sooyoung melepaskan pelukannya, Seulgi dapat melihat jelas pria yang baru saja melontarkan protes pada Sooyoung. Serta-merta manik karamel Seulgi membelalak. Ternyata kakak ipar yang menemani Sooyoung berbelanja adalah Kim Wonshik. Tak berbeda dengan Seulgi, Wonshik juga terkejut.

Eoh, nona Kang?” ucapnya spontan.

“Lho, Oppa kenal dengan Seulgi eonnie?” tanya Sooyoung bingung sementara Wonshik masih belum mengalihkan pandangannya dari sosok Seulgi. “Iya, nona Kang adalah calon istri temanku, Sooyoung-a.”

Jinja? Teman Oppa yang mana?”

Pada saat itulah, Wonshik melihat Hongbin berjalan di belakang Seulgi.

“Ah, itu dia! Oi, Lee Hongbin!”

Ia pun mengira Seulgi datang bersama Hongbin dan langsung menyapa pemuda Lee itu. Tapi Wonshik menyesali tindakannya saat melihat Soojung berjalan di belakang Hongbin. Berbanding terbalik dengan ekspresi Seulgi yang mendadak pucat. Kedatangan Sooyoung dan Wonshik membuatnya lupa dengan keberadaan Hongbin untuk sesaat. Dan kini pemuda itu malah berada tepat di belakangnya. Berkat seruan Wonshik, Hongbin menyadari presensi Seulgi di sana. Lekas Hongbin menghampiri mereka karena tidak ingin kehilangan kesempatan menemui Seulgi yang sulit dihubunginya beberapa hari ini. Namun gadis Kang itu sudah lebih dulu berpamitan pada Sooyoung dan Wonshik sebelum Hongbin sampai.

“Tunggu sebentar, Seulgi-ssi!” Hongbin lantas mengejarnya.

“Ada apa ini, Oppa?” tanya Sooyoung bingung melihat Hongbin berlari menyusul Seulgi yang pergi dengan gusar.

“Sepertinya momennya tidak pas, Sooyoung-a. Gadis yang bersama Hongbin barusan adalah mantan pacarnya,” bisik Wonshik kemudian.

“Astaga, pantas saja Seulgi eonnie kelihatan kesal begitu.”

Tungkai Hongbin yang lebih jenjang dari Seulgi membuatnya berhasil meraih lengan gadis Kang itu sehingga akhirnya Seulgi menghentikan langkahnya.

“Seulgi-ssi¸ ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

Seulgi menoleh dan menatap Hongbin dengan muak. “Memangnya Anda kira saya berpikir seperti apa? Berpikir kalau Anda dan gadis barusan memiliki hubungan? Dengar, Hongbin-ssi. Dari awal tidak ada hubungan apapun di antara Anda dan saya selain masalah pekerjaan.”

“Tapi, Seulgi-ssi—”

“Maka dari itu, berhentilah berkata kalau Anda serius menjadikan saya calon istri Anda di saat Anda sudah menjalin hubungan dengan gadis lain.”

TBC

PicsArt_01-16-02.11.55

tyavi’s little note : Aku ga pernah bosan untuk minta maaf karena selalu lama update. Real life emang kejam dan mager adalah penyakit paling membahayakan :”)

Yeah, pertama kalinya Leorene berantem…

Seungwan dan Jaehwan yang mulai sekarang mungkin bakal sering muncul…

Dan Seulgi serta Hongbin yang masalahnya belom kelar dari chapter 9…

Selamat menunggu di penantian tak berujung ini /digamvar berjamaah/

BTW ACCIDENTALLY FAMILY AND MY OTHER CHAPTERED FICT ARE AVAILABLE INI WATTPAD NOW! VISIT MY WATTPAD : tyavi97

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s