LORENE : My Beautiful Model (1)

My Beautiful Model(1)

Lorene : My Beautiful Model

|Chaengwoo|

©2017 tyavi’s Warm Up Fict

[ASTRO] Eunwoo and [Twice] Chaeyoung as Jung Chaeyoung

Romance, Fluff | Chaptered | PG

Summary :

Falling in love can make you do anything.

.

.

.

Menjadi putri bungsu dari pendiri LORENE, salah satu agensi model bergengsi di Korea, tidak menjadikan Chaeyoung memiliki minat untuk berada di bawah hujaman flash kamera seperti kakak sulungnya yang sudah lebih dulu debut dan kini menjadi satu dari keempat Top Model LORENE, Jung Chanwoo. Sepertinya darah seni yang dimiliki Jung Taekwoon lebih kental pada diri Chaeyoung dibanding Chanwoo. Karena Chaeyoung lebih suka menekuni seni melukis atau membuat graffiti ketimbang memanfaatkan kecantikan yang diwariskan Bae Joohyun sebagai model.

Entahlah, Chaeyoung hanya merasa bahwa para model-model itu hanya mengandalkan tampang mereka ketimbang otak ataupun bakat.

Yeah, itulah pemikiran Chaeyoung sebelum ia yang sedang iseng datang ke gedung agensi orangtuanya tanpa sengaja—

Brukk!

—bertabrakan dengan seorang pemuda yang baru saja keluar dari lift. Badan Chaeyoung yang mungil tidak bisa menahan benturan tubuh semampai pemuda itu hingga akhirnya ia jatuh terjerembab.

“Aw!” Chaeyoung meringis merasakan nyeri pada bokongnya yang bercumbu dengan lantai. Belum sempat Chaeyoung melayangkan sumpah serapah pada pemuda-siapa-entah-itu yang sudah menabraknya saat sebuah tangan terulur di depan wajahnya.

“Kau tidak apa-apa?”

Dari balik bucket hat kebesarannya—yang sengaja ia gunakan untuk menutupi wajahnya agar tidak dikenali sebagai salah satu anak pemilik LORENE—Chaeyoung dapat melihat sosok pemuda jangkung dengan wajah yang tampan tengah menatapnya dengan khawatir. Untuk beberapa sekon, Chaeyoung merasa oksigen lenyap dari sekelilingnya.

Melihat gadis itu tak bereaksi ditambah ia juga kesulitan melihat wajah Chaeyoung, tanpa basa-basi pemuda itupun langsung mengangkat tubuh mungil Chaeyoung dengan mudah. Membuat Chaeyoung kembali berdiri sekaligus mengembalikan kesadaran gadis Jung itu. Alih-alih, Chaeyoung malah semakin menunduk karena rona merah sudah mulai menyembul di kedua pipinya. Bingung, si pemuda hendak membungkukkan badannya, berusaha melihat wajah Chaeyoung namun sebuah seruan sudah lebih dulu menginterupsinya.

“Di sini kau rupanya, Cha Eunwoo! Ppalli, pemotretannya sebentar lagi akan dimulai!!” seru seorang pria berumur 30-an yang sepertinya adalah manajer pemuda yang dipanggilnya Cha Eunwoo itu.

Eunwoo pun mengurungkan niatnya dan balas berteriak, “Baik, Hyung! Aku akan segera ke sana.” Sebelum pergi, ia sempatkan untuk menoleh lagi pada Chaeyoung dan berujar.

“Kau tidak apa-apa ‘kan? Maafkan aku, ya.”

Chaeyoung tidak lupa bagaimana pemuda Cha itu tersenyum lebar padanya.

‘Ia benar-benar seperti…Pangeran.’

::

Chaeyoung tidak peduli lagi jika ada yang mengatainya menjilat ludah sendiri karena—Yeah, Chaeyoung memang mengingkari kata-katanya untuk tidak akan menjadi model—kini ia berada di ruang audisi Next Top Model yang selalu diadakan LORENE dua tahun sekali. Tubuh Chaeyoung mendadak kaku dihujami tatapan oleh keempat Top Model LORENE yang juga selaku juri pada audisi kali ini. Sayangnya, Chaeyoung benar-benar tidak berpikir panjang saat akan mendaftar hingga ia lupa kalau LORENE adalah agensi model khusus laki-laki.

“Jadi, bisa kau mulai perkenalan dirinya sekarang karena waktu kami tidak banyak,” ujar salah satu dari mereka yang sangat familiar bagi Chaeyoung, siapa lagi kalau bukan kakak lelakinya, Jung Chanwoo.

“N-namaku?” Tubuh Chaeyoung agak bergetar, takut Chanwoo dapat mengenalinya. Maniknya jatuh kebawah kembali menelisik penampilannya yang sudah berubah 180 derajat dengan rambut berpotongan pendek dan kemeja serta jumpsuit jeans yang membalut tubuhnya. Beruntung Chaeyoung sudah menyiapkan nama lain untuknya. “Namaku Chanyoung, Son Chanyoung.”

Seorang lelaki yang memiliki bola mata yang berbeda warna berjalan mendekatinya dan menarik dagu Chaeyoung, membuatnya menengadah. Dari jarak sedekat inilah Chaeyoung dapat melihat jelas manik lelaki itu yang berwarna merah pada mata kiri dan berwarna biru pada mata sebelah kanan. Pemuda itu menatapnya lekat-lekat sebelum kemudian berujar, “Wajah yang…cantik.”

Bugh!

“Aw!” Beruntung salah seorang dari mereka sudah lebih dulu memukul punggung si lelaki bermanik merah-biru sebelum ia mengamati Chaeyoung lebih jauh lagi. “Bahkan namanya sangat imut,” si pemuda masih berujar sambil mengelusi punggungnya.

“Berhenti menggodanya, V!” teriak lelaki yang bermata lebih sipit—orang yang sama ya memukul pemuda itu barusan.

Alih-alih marah, cengiran pemuda yang dipanggil V itu malah semakin lebar. Sepertinya ia satu-satunya model yang memiliki sifat konyol dibanding Top Model lainnya yang masih bergeming di tempat mereka dan memandangi Chaeyoung seakan gadis—ralat, pemuda itu adalah alien yang perlu diinterogasi habis-habisan.

“Hei, terima saja dia. Bukankah dia yang paling lumayan dibanding peserta sebelumnya?”

‘Iya! Kumohon cepat akhiri audisi ini dan langsung terima aku sebelum aku ketahuan, Ya Tuhan!!’ jerit Chaeyoung dalam hati.

“Tapi dia pendek,” sahut Chanwoo.

‘Ugh, Oppa!

“Bukankah justru imut? Di antara kita belum ada yang memiliki karakter imut ‘kan?” V masih bersikeras, lalu memandangi satu persatu rekan sesama modelnya. Kontan saja ia cemberut, “Aku bosan bekerja dengan tembok keras spesies manusia kulkas seperti kalian.”

“Hmmpphhh!” Saatnya memang tidak tepat sih, tapi gara-gara perkataan V, Chaeyoung jadi ingin tertawa.

“Minhyun hyung, bisa tolong kau bawa V hyung keluar,” seru Chanwoo yang langsung dibalas pemuda bermata sipit tadi.

“Dengan senang hati, Chanwoo-ya. Aku percayakan hasil audisi padamu dan Eunwoo.”

“Baik, hyung.”

Minhyun pun langsung menyeret rekan seumurannya itu keluar dari ruang audisi.

Ya! Kenapa kalian tega sekali padaku?! Aku ini juga juri! Ya! Awas kalau kalian macam-macam pada dongsaeng-ku!!”

Fokus memerhatikan V yang diseret Minhyun keluar sambil berteriak-teriak (bahkan sampai memanggil Chaeyoung yang baru dikenalnya dengan sebutan ‘dongsaeng’) membuat Chaeyoung tidak menyadari kehadiran seorang lelaki jangkung yang kini berdiri tepat di hadapannya.

“Namamu Chanyoung?” Eunwoo yang dari awal Chaeyoung hadir di ruangan ini terdiam akhirnya buka suara. Buat Chaeyoung yang sudah mulai bisa rileks karena tingkah V kini kembali tegang. Ugh, pemuda ini—

“I-iya.”

—adalah alasan dibalik presensi Chaeyoung di ruangan ini.

“Berapa umurmu?” Eunwoo kembali bertanya dengan tanpa ekspresi.

‘Benar-benar berbeda dengan saat menabrakku kemarin. Kemana senyum seindah Pangeran miliknya?’

“17 tahun.”

“Sangat muda, cocok dengan penampilanmu sekarang.” Eunwoo menelisik Chaeyoung dari ujung kaki sampai kepala. Gadis itu tampak seperti bocah lelaki yang imut mengenakan jumpsuit jeans dipadu sneakers warna putih.

“Tapi bukankah dia terlalu pendek?” seru Chanwoo.

‘Aish!’.

“Tingginya 159 cm, beratnya 48 kg. Pas, dia juga masih bisa tumbuh ‘kan?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku membaca profilnya tadi.”

Chaeyoung menghela napas lega karena Eunwoo sepertinya tidak curiga sama sekali padanya. Tapi ketentraman Chaeyoung tidak bertahan lama saat Chanwoo kemudian berkata.

“Baiklah, sebelum kau diterima, kami harus mengecek sesuatu.”

‘Eh, t-tunggu! Mengecek apa maksudnya?!’ Chaeyoung mendadak panik kala Chanwoo juga meninggalkan meja juri dan berjalan ke arahnya.

“Buka bajumu.”

“A-apa?!” Chaeyoung sontak berteriak.

“Kau tidak tahu? Ini adalah audisi menjadi model, dan menjadi model laki-laki suatu saat kau pasti akan disuruh berpose tanpa atasan.”

‘Ya Tuhan, Aku tidak pernah berpikir sampai ke sana!! Bagaimana ini?!’

Tangan Chanwoo terangkat, hendak mencopot kancing kemeja Chaeyoung saat kemudian Eunwoo menghalanginya.

“Tidak usah.”

‘Eh!

“Toh, dia akan debut dengan imej imut ‘kan? Dia tidak akan mendapatkan pose seperti itu di umurnya saat ini.”

Chaeyoung melongo. Ia tidak menyangka Eunwoo akan membelanya seperti ini.

“Lagipula tidak ada yang bagus dilihat dari badan seorang bocah umur 17 tahun.”

“Benar juga.”

‘Sial!’.

::

“Cahaya siap? Yup, kita mulai pemotretannya.”

Chaeyoung tidak pernah menyangka kalau LORENE sangat mempersiapkan segala projek yang akan dikerjakannya hingga mereka melakukan pemotretan tentang Summer jauh berbulan-bulan sebelum musim panas itu datang. Yup, karena sekarang Chaeyoung sedang meringkuk dengan selimut menutupi seluruh tubuh—kedinginan karena mereka berada di pantai saat musim dingin. Mohon digaris bawahi sekali lagi bahwa ini adalah akhir musim dingin dan Chaeyoung hanya mengenakan kaos polo dan celana sebatas lutut.

“Son Chanyoung, apa yang kau lakukan?” tegur seorang penata rias yang kebetulan lewat. “Coba kau lihat Cha Eunwoo, apa dia terlihat kedinginan?”

“Tapi ini ‘kan musim dingin,” Chaeyoung merajuk.

“Kau harus belajar profesional seperti Eunwoo!”

Sontak saja Chaeyoung mengikuti arah perhatian penata rias itu dan mendapati Eunwoo tengah berpose dengan pakaian khas pantai. Senyum yang membuat Chaeyoung jatuh cinta pada pandangan pertama terus terpatri di wajahnya seraya Eunwoo berpose mengikuti arahan sang fotografer.

Cha Eunwoo itu hanya wajah dan senyumnya saja yang menawan dan cerah seperti sinar matahari. Chaeyoung tidak pernah menyangka kalau sosok Eunwoo yang sebenarnya adalah seorang lelaki yang mempunyai sifat dingin dan jarang bicara. Hobinya hanya menyendiri sambil mendengarkan musik dan membaca buku. Jangan pikir yang ia baca adalah buku fiksi dengan cerita roman picisan. Pemuda itu bisa membaca buku ensiklopedia bahkan pada waktu senggangnya saat pemotretan. Tak heran jika ia memiliki otak yang encer dan berwawasan luas. Usut punya usut, katanya Eunwoo akan masuk jurusan hukum Universitas Seoul jika salah seorang staff LORENE tidak meng-casting-nya di jalan dan menjadikan Eunwoo satu dari keempat Top Model LORENE. Tapi Chaeyoung belum tahu pasti apa yang menjadikan Eunwoo berubah pikiran dan lebih memilih untuk debut menjadi model. Yang jelas, sosok Eunwoo membuat Chaeyoung sedikit demi sedikit mengubah persepsinya pada sosok model.

“Taraaa~”

Chaeyoung hampir jatuh terjengkang saat pemandangan Eunwoo tiba-tiba berubah menjadi segelas cup kertas berwarna cokelat. Alih-alih membantu, si pelaku malah terbahak.

“V hyung!” seru Chaeyoung kesal.

“Ini, susu hangat, aku tahu uri aegi pasti kedinginan,” V menyerahkan gelas yang ternyata berisi susu hangat itu kepada Chaeyoung lantas mengelus puncak kepala Chaeyoung beberapa kali. Yeah, meskipun usil Chaeyoung akui kalau hanya V-lah satu-satunya orang yang memperlakukannya sangat baik. Padahal mereka baru kenal tapi V sudah menganggap Chaeyoung sebagai adik karena ia adalah maknae. Dan apa katanya tadi? Ia bahkan memanggil Chaeyoung bayi. Tapi Chaeyoung tidak akan marah karena V sudah mengerti kalau ia kedinginan.

Sambil Chaeyoung mulai menyesap susu hangatnya, V pun memosisikan bokongnya di sebelah Chaeyoung.

“Kau jangan menatap Eunwoo terus Chanyoung-a, nanti naksir!” ledek V menyadari kemana arah perhatian Chaeyoung sejak tadi.

Kontan saja Chaeyoung tersedak. Gadis mungil itu terbatuk-batuk sejenak sebelum kemudian menyahut, “M-mwoya?! Siapa juga yang naksir sama Eunwoo!!”

Eiy, sudah tidak usah bohong. Aku saja terpesona dengan ketampanannya.”

“H-hah?”

“Sejak pertama bertemu hingga sekarang, aku masih tidak percaya ada orang setampan dirinya.”

Kontan saja Chaeyoung menggeser posisi duduknya menjauhi V. “E-eiy, Hyung kau membuatku takut…”

V terbahak. “Ya, Komaeng!” V menarik kepala Chaeyoung dan mengunci dengan lengannya. “Kau berpikiran apa tentangku, eoh? Aku ini masih normal, tahu!”

Ugh, kau merusak rambutku, Hyung!” Chaeyoung memberontak. Tapi V malah semakin mengeratkan rengkuhannya sambil tertawa lebar hingga akhirnya—

Bugh!

—seperti déjà vu, Minhyun memukul punggung V. Membuat lelaki bermata biru-merah itu mengaduh kesakitan dan melepaskan kunciannya pada Chaeyoung.

“Kau tidak sadar badanmu sebesar apa, hah? Bisa-bisanya kau mengunci badan Chanyoung yang lebih kecil begitu.”

“Aw, kenapa kau selalu memukulku, Minhyun-a!” rajuk V dengan ekspresi dimanis-maniskan yang kontan saja membuat Minhyun geli.

“Ini giliran kita, bodoh! Sudah, cepat bangun.” Dengan cepat lengan Minhyun menarik V untuk berdiri dan bergantian mengunci kepalanya seraya diseret menuju tepi pantai.

Sebelumnya, Chaeyoung pikir keempat Top Model LORENE adalah sosok gentleman yang keren—benar-benar cocok menyandang gelar Top Model setara Internasional. Meski ia belum dekat (kecuali dengan V), setelah Chaeyoung menjad salah satu bagian dari mereka, ia jadi bisa mengetahui sifat asli mereka. Seperti Minhyun yang ternyata bisa bersifat seperti kucing dan anjing setiap bersama V.

Biar Chaeyoung beritahu pengamatannya selama ini. Keempat Top Model LORENE memiliki imej mereka masing-masing. Hal ini bukanlah label yang disisipkan LORENE saat mendebutkan mereka, melainkan imej yang tercipta dari sosok pribadi mereka masing-masing hingga publik memberi label pada masing-masing dari mereka. Hwang Minhyun disebut seperti pemuda yang keluar dari ‘Manga’ karena postur tubuhnya yang tinggi tegap dan mata yang sipit. Side profile-nya tampak mengagumkan dengan hidung yang bangir dan rahang tegas yang khas. Sedang V yang memiliki sifat ceria juga memiliki kesan misterius dengan kedua bola matanya yang memiliki warna berbeda. Ia lebih ekspresif dibanding ketiga Top Model LORENE lainnya karena itu ia memiliki julukan pemuda ‘Anime’. Netizen juga curiga kalau sebutan V miliknya mewakili kata Visual (meski keempat Top Model LORENE bisa dikatakan Visual sih).

Lalu Jung Chanwoo (sebenarnya Chaeyoung malas mengatakan ini) tapi ia dijuluki ‘Emperor’. Itu karena Chanwoo adalah model pertama LORENE yang dapat menembus dunia Internasional. Yeah, Chaeyoung baru menyadari saat ia masuk ke LORENE kalau kakak sulungnya itu bisa menjadi orang yang sangat berbeda saat berpose di depan kamera. Kendati Chanwoo tampan, tapi ia juga tidak bisa disebut paling tampan di antara keempat Top Model LORENE. Namun aura yang Chanwoo keluarkan saat ia berpose benar-benar mengagumkan. Pemuda berumur 18 tahun itu bisa menjadi sosok berkelas bak model Internasional kendati ia hanya berpose tanpa ekspresi. Dan Chanwoo lah satu-satunya model LORENE yang jarang tersenyum di potretnya. Tapi Chaeyoung tidak gengsi mengakui kalau Chanwoo dapat mencapai semua itu dengan kerja kerasnya sendiri meski ia adalah putra dari pendiri LORENE. Dan presdir Bae juga mengakui kalau Chanwoolah yang membawa LORENE menjadi sebesar ini.

Dan terakhir, ada Cha Eunwoo. Model yang belum lama ini bergabung dengan LORENE dan dalam waktu singkat mampu berjajar dengan ketiga Top Model LORENE lainnya. Wajah tampan sempurna yang dimilikinya bagai warisan dari surga. Hal itu diperkuat dengan foto masa kecilnya yang tampak seperti Pangeran. Karena itulah julukan ‘Pangeran’ melekat erat pada sosoknya. Belum lagi ia memiliki senyum menawan yang mampu membuat mencuri perhatian publik dalam waktu singkat. Dan setelah Chaeyoung mengetahui kecerdasan pemuda Cha itu , presentase kesempurnaan Eunwoo nyaris menyentuh 100 kalau saja pemuda itu lebih sering tersenyum di kesehariannya.

Ya, Son Chanyoung!”

Chaeyoung hampir melompat dari tempatnya saat seseorang tiba-tiba saja berteriak di telinganya. “A-ah, Iya!” Saat Chaeyoung menengadah, baru ia sadari kalau orang itu adalah Chanwoo.

“Kau ini mau bekerja atau melamun sih? Ini sudah giliranmu, cepat sana, fotografer sudah memanggilmu berkali-kali tahu!” cerocos Chanwoo tanpa jeda. Sikap ini juga yang harus dihadapi Chaeyoung semenjak bergabung dengan LORENE, yaitu diketusi oleh Jung Chanwoo. Chaeyoung tidak tahu hati kakak lelakinya itu terbuat dari apa karena tak henti-hentinya bersikap kasar pada dirinya. Kalau bukan karena ia adalah anggota baru, Chaeyoung pasti sudah menendang bokong Chanwoo sampai ke laut!

Lekas Chaeyoung bangkit dan berjalan ke arah yang ditunjuk Chanwoo, menghampiri salah seorang penata rias yang terlihat sedang bertengkar kecil dengan Eunwoo. Sebelum Chaeyoung sampai, Eunwoo sudah lebih dulu melenggang dan penata rias itupun langsung menyodorkan setelan baju renang tertutup alih-alih celana renang pada Chaeyoung.

Menurut, Chaeyoung pun langsung membawa pakaian renang itu ke bilik untuk mengganti baju. Tak berselang lama, Chaeyoung kembali keluar dengan pakaian renang yang sudah membalut tubuhnya. Ia mengecek penampilanya sekali lagi, memastikan tidak ada bagian tubuhnya yang terlihat seperti wanita sehingga mereka akan curiga. Untuk pertama kalinya Chaeyoung bersyukur memiliki dada yang tidak begitu besar sehingga setelah ia lilit dengan kain, kini dadanya benar-benar rata seperti laki-laki.

Tanpa curiga, Chaeyoung berjalan menuju spot fotonya dan mulai berpose. Setelah beberapa kali melakukan pemotretan, kini Chaeyoung sudah mulai terbiasa dan percaya diri untuk dipotret. Akan tetapi, alih-alih memuji kemajuan Chaeyoung, reaksi sang fotografer malah berbeda dengan apa yang Chaeyoung harapkan.

“Ada apa ini? Hei, siapa yang memberinya pakaian renang SMP itu?!” sang fotografer mulai berteriak tidak puas dengan penampilan Chaeyoung. Di sisi lain penata rias yang memberikan Chaeyoung pakaian renang itu mulai ketakutan sebelum kemudian tiba-tiba terdengar seruan.

“Aku!” Eunwoo yang baru keluar dari bilik ganti mengacungkan tangannya. “Aku yang menyuruh penata rias memberikannya baju renang itu.”

“Apa?”

“Sebagai gantinya—” Eunwoo mulai melepas kaos polonya, “—biar aku yang berpose tanpa atasan.” Meninggalkan celana renang sebatas paha yang menutupi bagian bawah tubuhnya.

Ya, Cha Eunwoo! Apa kau sudah gila? Ini musim dingin!!” Minhyun yang memerhatikan dari tepi pantai, berteriak khawatir. Dan tak hanya Minhyun, Chanwoo, dan V, seluruh staff serta sang fotografer juga terkejut dengan keputusan gila pemuda Cha tersebut.

“Lalu kau akan membiarkan Chanyoung tidak muncul di majalah?” tanya sang fotografer.

“Tidak, tapi kami akan muncul bersama.”

Setelah berkata demikian, Eunwoo langsung mengangkat tubuh Chaeyoung. Sebelum membawanya, Eunwoo masih sempat berbisik pada Chaeyoung. “Kau bisa tahan dinginnya sebentar ‘kan?” Yang lantas dibalas Chaeyoung dengan anggukkan kepala, masih terlampau kaget dengan perlakuan Eunwoo barusan.

Eunwoo pun berjalan memasuki laut sambil menggendong Chaeyoung. Padahal ini adalah akhir musim dingin, tapi Chaeyoung merasa hangat berada di rengkuhan Eunwoo seperti ini. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Eunwoo yang hanya berjarak sepuluh senti dari wajahnya. Saat air sudah sebatas pinggang, Eunwoo membenarkan posisi Chaeyoung. Buat paras gadis itu jadi semakin dekat dengannya.

“Sekarang tahan napas.”

Eunwoo membawa Chaeyoung masuk ke air untuk membuat seluruh tubuh mereka basah.

“Reflektornya, cepat!” teriak sang fotografer bersiap mengambil foto Eunwoo dan Chaeyoung saat mereka muncul di permukaan. Menghasilkan gambar dramatis kala keduanya buru-buru mengambil napas dengan rambut yang sudah basah. Eunwoo tampak seksi dengan kondisinya yang bertelanjang dada.

Sementara sang fotografer sedang sibuk mengambil gambar sebanyak-banyaknya. Eunwoo kembali mengajak Chaeyoung bicara. “Kau tidak kedinginan ‘kan?”

“Harusnya aku yang bertanya begitu. Kau tidak kedinginan?”

Kalau Chaeyoung sih memakai baju renang ketat yang melapisi hampir seluruh tubuhnya. Tapi Eunwoo? Ia hanya menggunakan celana renang pendek. Dinginnya air laut langsung menyentuh kulit putihnya.

“Makanya teruslah bicara.”

“Hah?”

“Hadap aku dan bicara. Karena napasmu membuatku hangat.”

“I-iya.”

“Peluk aku lebih erat. Suhu tubuh manusia adalah penghangat terbaik.”

Sebenarnya Chaeyoung tidak mau melakukan ini, karena ia takut kalau nanti Eunwoo bisa merasakan dadanya yang bergemuruh. Tapi ia tidak punya pilihan lain sehingga Chaeyoung akhirnya merengkuh Eunwoo lebih kuat.

::

“Sini, Chanyoung-a!

Seru V begitu Chaeyoung masuk ke kamar hotelnya. Setelah mendapat pesan singkat dari V yang berisi “setelah ganti baju, kumpul di kamarku ya!”, Chaeyoung langsung datang ke kamar hotel bernomor 4012 itu dan mendapati V sedang mengobrol bersama Minhyun dan Eunwoo. Seperti biasa, pemuda bermata merah-biru itu langsung menarik Chaeyoung duduk bersamanya di atas kasur. Sebenarnya situasi ini agak canggung, berada di kamar hotel bersama beberapa lelaki. Memang ini bukan pertama kalinya Chaeyoung berkumpul dengan keempat Top Model itu sih. Tapi biasanya ia hanya duduk-duduk mengobrol di ruang rias dan itupun ada banyak staff yang berlalu-lalang. Tapi ini adalah kali pertama Chaeyoung melakukan pemotretan di luar kota bersama Top Model LORENE lainnya sehingga mereka pasti akan menginap di hotel.

Setelah mengoper gelas berisi cokelat hangat pada Chaeyoung, V mulai membuka konversasi.

“Kudengar presdir punya anak perempuan yang sangat cantik,” celetuk V.

Chaeyoung bersyukur cairan cokelat itu belum menuruni kerongkongannya, atau kalau tidak ia pasti sudah tersedak sekarang.

‘Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba mereka membicarakanku??’.

“Adik Chanwoo maksudmu?” sahut Minhyun.

“Iya, Chanwoo ‘kan anak presdir juga.”

‘Oh, mereka tahu? Aku pikir mereka tidak tahu karen Oppa juga merahasiakan statusnya dari publik.Ternyata mereka berempat sudah bersahabat dekat’.

“Tapi aku tidak tahu kalau presdir punya anak perempuan, kupikir anaknya Chanwoo saja,” V kembali berujar.

“Itu karena presdir Bae tidak suka mengumbar privasinya. Kalau saja suaminya bukan model juga dan Chanwoo juga tidak mengikuti jejak mereka, mungkin kita tidak akan pernah tahu Chanwoo,” balas Minhyun.

‘Iya, betul. Itu sebabnya Eomma tidak pernah membawaku ke agensi saat masih kecil. Appa memang melarang Eomma mengatur kami agar juga menjadi model. Appa ingin membebaskan kami untuk menentukan masa depan kami sendiri. Itu juga sebabnya aku harus selalu memakai topi, masker, atau kacamata saat berkunjung ke agensi. Eomma bilang kalau aku tidak mau jadi model, aku harus menyembunyikan identitasku’.

“Kalau anak perempuannya memang cantik, kenapa tidak jadi model juga?”

Minhyun langsung menghadiahi V dengan bantal. “Itu karena LORENE tidak punya model perempuan, bodoh!”

“Aish, itulah kenapa LORENE terasa membosankan,” protes V sambil meremas bantal yang tadi menghantap wajah tampannya.

“Apa kau pernah melihatnya? Anak perempuan presdir,” Eunwoo yang sedari bersedekap di atas sofa tiba-tiba bersuara. Kontan saja Chaeyoung memusatkan perhatiannya pada sosok lelaki Cha tersebut.

‘Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan dia ingat saat menabrakku di depan lift tempo hari?’ Chaeyoung mulai gelisah.

“Belum. Kau pernah melihatnya, Eunwoo-ya?”

“Tidak.”

Tanpa sadar Chaeyoung menghela napas lega.

“Tuh ‘kan! Makanya aku penasaran!” V masih ngotot.

“Untuk apa kalian penasaran pada bocah ingusan itu?” Chanwoo yang tiba-tiba masuk ke kamar menyahut. Lantas dengan santai ikut mendaratkan bokongnya di sebelah Eunwoo. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, V pun langsung menodongnya dengan pertanyaan.

“Chanwoo-ya, jujur saja, kau punya adik perempuan yang cantik ‘kan?”

“Memang kau dengar dari mana?”

“Ada seorang staff yang melihatnya ke agensi kita.”

“Dia bohong.”

“Maksudnya kau tidak punya adik perempuan.”

“Aku punya, tapi adik perempuanku itu tidak cantik.”

‘M-mwo?!’.

“Ah, kau ini benar-benar licik. Bilang saja kau tidak mau mengenalkan adik perempuanmu pada kami!” V memberengut.

Dan Chanwoo memutar bola matanya malas. “Serius deh, badannya kurus dan dadanya juga rata. Benar-benar tidak menar—aw!” Chanwoo mengaduh begitu merasakan pukulan Chaeyoung di lengan kekarnya.

Ya! Son Chanyoung, kenapa kau memukulku?”

‘Astaga, aku refleks!’.

“A-ada lalat di lenganmu!”

Mwo?! Ya, aku tidak lihat lalat, tuh! Kau ini sudah berani padaku, eoh? Kau pikir kita akrab?!” Chanwoo langsung bangkit dan mengunci kepala Chaeyoung dengan tangannya.

Ya! Ya! Hentikan! Jung Chanwoo, badanmu lebih besar darinya, tahu!” Minhyun mencoba melerai pertengkaran konyol dua orang yang sebenarnya kakak-beradik tersebut.

Sementara itu, Eunwoo malah bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu dengan lemas. “Aku mau ke kamar.”

“Ada apa dengannya? Dia diam terus setelah pemotretan,” Chanwoo yang akhirnya melepaskan Chaeyoung berujar setelah Eunwoo keluar dari kamar.

“Bukannya dia memang begitu?” V menjawab enteng.

Berbanding terbalik dengan Minhyun yang justru tampak khawatir. “Jangan-jangan dia sakit?”

::

Chaeyoung bergeming di depan kamar 4014, kamar yang tak lain ada milik Eunwoo. Ia tidak tahu apa yang merasukinya hingga mengambil kompres demam dan persediaan obat demamnya lalu datang ke kamar pemuda Cha itu. Sepertinya rasa khawatir sudah menghentikan kerja otak Chaeyoung sehingga tanpa sadar ia sudah berjalan ke kamar ini. Kalau dipikir-pikir semua ini memang salah Chaeyoung. Eunwoo jadi masuk ke laut hanya menggunakan celana renang adalah salah Chaeyoung. Dan kalau nantinya pemuda itu terserang demam, adalah salah Chaeyoung.

‘Yup, Jung Chaeyoung. Ini adalah kewajibanmu untuk membawakan obat dan memastikan ia baik-baik saja’ Chaeyoung berusaha meneguhkan dirinya.

Setelah menghela napas beberapa kali, Chaeyoung pun mulai mengetuk pintu Eunwoo. Di ketukan ketiga, pintu terbuka dan menyembullah wajah Eunwoo.

“Chanyoung?” Kendati wajahnya agak pucat, ekspresi kaget kentara terlihat di paras Eunwoo. “Ada ap—”

“Maafkan aku, Sunbae! Gara-gara aku kau jadi demam begini. Ini untuk Sunbae!!” Chaeyoung membungkuk seraya menyodorkan plester dan obat pada Eunwoo.

Untuk sesaat, Eunwoo terkejut dengan sikap Chaeyoung namun sepersekian sekon kemudian ia menyentuh puncak kepala Chaeyoung dan tersenyum. “Apa ini? Kau bertingkah seperti orang yang menyukaiku.”

Melihat Chaeyoung yang masih bergeming di tempatnya, Eunwoo pun mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Chaeyoung untuk melihat wajah gadis itu. Manik hazelnya pun seketika membelalak mendapati wajah Chaeyoung yang sudah semerah tomat.

“M-maaf.” Chaeyoung cepat-cepat mengalihkan wajahnya dan memberikan plester dan obat yang dibawanya ke dada Eunwoo sebelum lantas berlari meninggalkan pemuda Cha itu.

“Chan!”

Eunwoo meremas surai pendeknya frustasi. “Sial! Apa yang baru saja aku katakan?”

::

“Ah, aku kangen bocah ingusan itu.” Chanwoo berujar sambil memandangi langit-langit kamar hotelnya. Gara-gara membicarakan Chaeyoung bersama teman-temannya, ia jadi rindu pada adik perempuan satu-satunya itu. Sejak Chanwoo menjadi model, ia memang jadi jarang menghabiskan waktu dengan Chaeyoung. Kendati demikian, Chanwoo selalu menyempatkan diri untuk pulang dibanding tinggal sendiri di apartemen. Setidaknya bisa bertemu dengan saudarinya itu meski hanya sebentar. Tapi sekarang ia sedang ada pemotretan di luar kota selama tiga hari sehingga tidak bisa bertemu dengan Chaeyoung.

“Chaeyoung sedang apa ya saat ini?” Chanwoo pun menggeliat dan meraih ponselnya. Alih-alih menelepon Chaeyoung, Chanwoo malah menuju aplikasi recorder dan memutar kembali rekaman telepon dari Chaeyoung.

Oppa menyebalkan! Kau kemanakan alat-alat melukisku, eoh!”

Eiy, anak itu memang tidak ada manis-manisnya.”

BRUKKK!

Chanwoo hampir melompat dari kasur kala terdengar suara pintu dibanting disusul dengan kemunculan sosok yang dirindukannya tadi, Jung Chaeyoung. Tapi sayangnya sosok Chaeyoung yang kali ini berambut pendek sehingga bukannya sapaan manis penuh kasih sayang—

Ya! Apa yang sedang kau lakukan di kamarku!”

—tapi malah bentakan yang diterima Chaeyoung kemudian.

“A-anu, Chanwoo hyung…boleh tidak kalau aku tidur dengan Hyung saja?”

M-mwo? Tidak, tidak. Hei, anak baru! Kau tidak tahu ya kalau aku tidak suka berbagi kamar?!”

“Tolonglah sekali ini saja…” Chaeyoung memelas.

Chanwoo pun langsung melompat dari kasurnya. “Tidak, sana kau keluar!” Hendak menyeret Chaeyoung keluar sebelum kemudian gadis itu kembali bersuara.

“Ugh, Oppaaaa!

“Eh, suara ini…” Buat Chanwoo serta-merta menghentikan gerakannya mendorong Chaeyoung. Tapi beberapa sekon kemudian Chanwoo menggelengkan kepalanya, merasa mustahil ada sosok adik perempuannya itu di sini.

Ya, kenapa kau menjerit seperti anak gadis begitu?! Pakai memanggilku Oppa lagi…ihh, kau membuatku merinding!”

“Ish, ini aku, Chaeyoung!” si gadis Jung masih bersikeras. Sudah masa bodo dengan identitasnya yang sebentar lagi akan terungkap.

“Hah? Ohhh, sekarang kau mau menipuku dengan berpura-pura menjadi Chaeyoung?! Tidak mempan! Lagipula darimana kau belajar trik menjijikan seperti ini, hah? Meski kau imut, tetap saja kau itu bukan Chaeyoung adik—tunggu, sebentar. Darimana kau tahu nama adikku Chaeyoung?”

Kontan saja Chaeyoung mendekatkan wajahnya dan menunjuk tahi lalat khas di bawah bibirnya. “Ya, karena ini memang aku, Jung Chaeyoung!”

M-MWO?!!”

::

“Chanyoung tidak ada di sini, bukannya dia sekamar denganmu?”

Setelah mendapat jawaban dari Minhyun, Eunwoo bergegas menuju kamar nomor 4013, milik Chanwoo. Setelah meletakkan barang pemberian Chaeyoung, pemuda Cha itu memutuskan untuk menyusul Chaeyoung. Ia merasa harus berterima kasih dan meminta maaf atas perkataanya barusan pada gadis itu. Eunwoo takut kalau ucapannya sudah menyinggung hati Chaeyoung.

Sesampainya di depan pintu kamar Chanwoo, Eunwoo mengetuk beberapa kali namun tidak ada jawaban. Maka ia langsung memutar pintu kamar hotel dan tidak dikunci. Tanpa curiga Eunwoo pun langsung masuk ke kamar Chanwoo. Tapi baru saja melewati pintu masuk, tubuh Eunwoo mendadak kaku mendapati pemandangan Chanwoo yang sedang berpelukan erat dengan Chaeyoung. Tanpa keduanya sempat menyadari presensi Eunwoo, lelaki Cha itu kembali menutup pintu dan pergi meninggalkan kamar Chanwoo.

TBC

Iklan

One thought on “LORENE : My Beautiful Model (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s