[Warm Up Fict] Hi Hello

PicsArt_07-20-04.05.45

[Warm Up Fict] Hi Hello

by tyavi

|CANON|

[iKON] Chanwoo and [Soloist] Shannon Williams

Romance, Fluff, School life | Oneshot | G

Based on song :

Day6 – Hi Hello

Summary :

Hidup itu lucu.

Bagaimana bisa orang yang biasanya kita abaikan,

kini kehadirannya selalu kita harapkan.

.

.

.

IMG_20170419_031206

You’re ‘you’

I am ‘me’

We lived

Without knowing one another

::

Jung Chanwoo.

Sebelumnya Shannon Williams hanya tahu nama itu. Ia tidak tahu kalau si empunya nama adalah seorang lelaki bertinggi badan 183 cm, berhidung bangir, berpipi tembam, memakai kacamata, dan hobinya adalah bermain game. Kendati Shannon menempati kelas yang sama dengannya, ia tidak pernah menyadari kehadiran pemuda yang menempati kursi barisan paling belakang di dekat jendela itu. Ia hanya tahu kalau namanya adalah Jung Chanwoo.

Dan Shannon tidak sengaja menyebut namanya ketika salah seorang senior tingkat 3 di sekolah mendatanginya dan menyatakan perasaannya. Satu hal yang harus kalian ketahui bahwa Shannon tidak sedang suka dengan siapa-siapa. Tidak pula tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapa-siapa. Jadi—seperti biasa—Shannon akan mengatakan kalau ia sudah suka orang lain sebagai alibi. Biasanya pemuda-pemuda yang menembaknya akan menyerah begitu saja saat ia mengatakannya. Tapi Shannon tidak menyangka kalau lelaki yang kali ini agak keras kepala. Karena selanjutnya pemuda bermarga Jeon itu malah menodongnya dengan pertanyaan…

“Siapa? Kau sedang suka siapa?”

…yang lantas refleks dibalas Shannon, “Jung Chanwoo.”

Entah kenapa yang terbesit di pikiran Shannon adalah nama siswa yang lebih sering diam dibanding ribut-ribut bermain bola kaki bersama para siswa kelas lainnya. Pemuda yang seingat Shannon belum pernah ia ajak bicara. Karena ia pikir dengan begitu tidak akan ada masalah yang timbul saat ia menggunakan namanya sebagai alasan.

Tapi Shannon salah.

“Hei, ada berita besar! Ternyata Shannon menyukai Jung Chanwoo!!”

Omo, jadi Shannon dengan Chanwoo nih?”

“Shannon, sapa Chanwoo dong!”

“Jung Chanwoo, kata Shannon ‘fighting’!”

Situasi yang harus dihadapinya tidak sesederhana itu di dalam kelasnya. Yeah, meski teman-teman Shannon tahu benar kalau Shannon tidak serius mengatakan bahwa ia suka Jung Chanwoo. Hello! Melihat mereka berdua saling bertegur sapa saja tidak pernah. Mana mungkin ‘kan Cupid menembakkan panah cinta begitu saja?

“Siapa yang piket hari ini?”

“Shannon dan Chanwoo yang piket, Bu!”

“Setelah pelajaran tolong kembalikan peralatan praktikumnya ke gudang.”

Tapi tampaknya teman-teman Shannon menemukan kesenangan tersendiri saat mereka tak henti-hentinya menggoda Shannon dengan Chanwoo. Mengingat pemuda bermarga Jung itu lebih sering membisu sebelumnya, bukankah ini kesempatan bagus untuk mencairkan suasana?

“Um, sepertinya kita harus ke gudang.”

Dan Shannon, yang merasa bahwa ialah yang memulai semuanya, memilih pasrah untuk pergi ke gudang setelah pelajaran selesai bersama Jung Chanwoo—perlu digarisbawahi—berdua saja.

“Tentu.”

Sepanjang perjalanan hanya kebisuan yang meliputi keduanya. Shannon tidak tahu harus berkata apa dan Jung Chanwoo dengan berbaik hati telah membawa semua boks berisi peralatan yang harus mereka bawa ke gudang. Menyisakan Shannon yang hanya berjalan di sisinya dengan tangan kosong.

Chanwoo berdeham, “Kamu bisa kembali ke kelas, omong-omong. Aku bisa membawa semuanya,” ujarnya lebih dulu memecah keheningan. Shannon cepat-cepat menggeleng. “Tidak, ini juga tugasku. Sini biar aku bawa—”

“—tidak perlu.” Niat Shannon mengambil satu boks di tangan Chanwoo ditepis begitu saja. “Aku baik-baik saja.”

“Benar begitu? Kamu yakin tidak berat?” Shannon masih merasa tidak enak hati.

“Tidak, tidak sama sekali.”

Tak terasa langkah kaki mereka berhenti di depan pintu gudang. Shannon dengan tanggap membukakan pintu gudang untuk Chanwoo yang membawa barang di kedua tangannya. Tinggal meletakkan boks-boks ini kembali ke rak besi, tugas mereka selesai.

“Sudah semua?”

“Sudah,” sahut Chanwoo. Sejenak pemuda Jung itu menggosokkan kedua telapak tanggannya, menghilangkan debu yang menempel dari boks yang dibawanya. “Ayo kembali ke kelas.”

Tungkai panjangnya merajut langkah menuju pintu namun sepersekian sekon kemudian ia berbalik karena Shannon masih bergeming di tempatnya.

“Shannon Williams?”

Chanwoo terkejut saat gadis blasteran itu tiba-tiba membungkuk. “Jung Chanwoo, maafkan aku!”

“Hah?”

“Maaf kalau perkataanku mengganggumu. Aku tidak tahu semuanya akan jadi begini. Selama ini kita tidak dekat, ini juga pertama kalinya kita bicara. Jadi aku minta maaf kalau gara-gara aku, kamu jadi dibuat tidak nyaman begini,” ujar Shannon dalam satu tarikan napas—masih setia dengan posisinya yang berbungkuk 90 derajat. Selain suatu bentuk kesopanan, Shannon juga tidak tahu lagi harus bereskpresi apa di depan Jung Chanwoo.

“Tidak apa.”

Kontan saja Shannon mengangkat kepalanya. Memastikan kalau ia tidak salah bicara. Memastikan kalau Jung Chanwoo mengatakannya bukan dengan ekspresi bercanda.

“Aku sama sekali tidak merasa dibuat tidak nyaman.”

::

But with a ‘hello’

Now it’s You and I

We’ve become a ‘we’

::

“Selamat pagi, Shan!”

“Selamat paaaggiii!” Shannon membalas sapaan Jang Yeeun, teman sekelasnya, tak kalah bersemangat. Seperti biasanya, setelah ber-selamat-pagi-dengan-cengiran-lebar ke seluruh penghuni kelas, Shannon mengistirahatkan bokongnya di kursi barisan paling depan di sebelah jendela. Ralat, Shannon belum menyapa semuanya. Biasanya ia tak melayangkan sapaan selamat pagi pada penghuni kursi 4 meja di belakangnya. Tapi tidak lagi mulai hari ini. Setelah menghela napas beberapa saat, Shannon membalikkan badan seraya memetakan cengiran kuda. Mempertemukan manik karamelnya dengan presensi seorang pemuda bertubuh jangkung yang lantas balik menatapnya dari balik kacamata berlensa bulatnya.

Hi,” ujar Shannon pelan dengan sebelah tangan yang mengintip di balik sandaran kursi kayunya. Chanwoo tersenyum tipis. Sangaaaatt tipis—yang kalau Shannon tidak memperhatikan baik-baik, ia tidak akan sadar kalau pemuda itu baru saja tersenyum padanya.

Hi,” balas Chanwoo. Kendati tak sampai ke gendang telinga Shannon, namun dapat gadis itu sadari dari gerak bibirnya. Beruntung penghuni 3 kursi di antara mereka belum sampai di kelas.

Berselang 10 menit kelas pun dimulai. Mata pelajaran pertama adalah matematika yang dibawakan oleh Ibu guru Kim. Wanita berperawakan mungil itu langsung menuliskan beberapa soal logaritma di papan tulis. Buat para siswa kontan mematung di tempatnya, takut kalau-kalau nama mereka yang akan dipanggil untuk menyelesaikan soal-soal yang terlihat seperti cakar ayam itu.

Shannon refleks menutup matanya saat pandangan guru Kim mengarah kepadanya. Oh, sial! Logaritma adalah materi pelajaran yang ia benci dari apapun. Beruntung sebuah seruan disertai acungan tangan berhasil mengalihkan perhatian guru Kim.

“Biar aku saja yang menjawab, Bu!”

“Baiklah, Jung Chanwoo silahkan maju.”

Mendengar siapa nama yang secara tidak langsung menjadi penolongnya barusan membuat Shannon serta-merta menolehkan kepala. Mendapati Jung Chanwoo berjalan ke depan kelas. Tubuhnya yang jangkung tampak keren saat tungkainya merajut langkah menuju papan tulis. Sepersekian sekon berikutnya Shannon mendapatkan sikutan dari Yeeun yang menempati kursi di belakangnya.

“Kudengar Jung Chanwoo sangat jago logaritma, Shan. Kau memang tidak salah pilih,” bisiknya di telinga Shannon seraya mengerling jahil.

Dan Yeeun tidak berbohong. Karena tidak sampai tiga menit, pemuda Jung itu sudah kembali berjalan menuju kursinya disertai seruan, “Bagus, Jung Chanwoo!” dari guru Kim.

Di lain kesempatan, Kyulkyung yang berbisik padanya. “Chanwoo itu orangnya sangat ringan tangan, Shan. Ia bahkan membantuku membuang sampah tanpa kuminta. Saat persiapan pekan olahraga, ia terus kesana-kemari mengangkat meja dan kursi, serta menyusun rintangan-rintangan. Ia tidak bisa diam sama sekali. Tidak seperti siswa lainnya yang ribut membicarakan klub bola kesukaan mereka tanpa membantu sama sekali.”

Seungkwang yang suka menggosip bersama para gadis juga ikut menjejali Shannon dengan fakta bahwa lelaki bertubuh jangkung itu mahir hampir di segala cabang olahraga. Dan berbagai gelar juara yang membawa kelas mereka meraih peringkat satu di pekan olahraga tahun ini menjadi bukti nyata kalau Jung Chanwoo memiliki kemampuan setara atlet nasional.

Hobi baru teman-temannya yang suka memberikan informasi tentang Chanwoo membuat Shannon mau tak mau jadi semakin mengenal Jung Chanwoo hari demi hari.

::

With a low voice

With a little bit of nervousness

And butterflies in my stomach

I go before you

And with an effort

I carefully say one thing

::

Jam menunjukkan pukul 8 malam saat Shannon beserta teman sekelasnya keluar dari sebuah tempat karaoke di kawasan Myeongdong. Kelasnya baru saja mengadakan acara kumpul-kumpul setelah pekan olahraga selesai. Dan dengan pertemuan ini pula Chanwoo dinobatkan menjadi ketua pentas seni yang akan di adakan di akhir semester. Tanpa sadar dua bulan sudah berlalu sejak Shannon tak sengaja menyebut Chanwoo orang yang disukainya dan membuat hubungan keduanya berubah. Sedikit demi sedikit Shannon merasa kalau kini ia dan Chanwoo sudah berteman baik.

“Shannon pulang dengan Chanwoo saja.”

“Iya, benar. Bisa kau antar Shannon, Chan?”

Tapi tetap saja teman-temannya tak henti-hentinya berusaha menjodohkan keduanya. Mereka seakan haus dengan pasangan yang belum juga muncul di kelas mereka. Atau mungkin melihat sikap salah tingkah Shannon dan—

“Tentu.”

—Chanwoo yang menyanggupi begitu saja setiap permintaan mereka sudah seperti hiburan bagi penghuni kelas 2-6?

“Nah, kalau begitu kau pulang dengan Chanwoo ya, Shan. Chanwoo, aku titip Shannon!” seru Kyulkyung bersemangat seraya mendorong tubuh Shannon mendekat pada Chanwoo.

“Baik.”

Dengan kompak semuanya pun bubar pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan Shannon berdiri canggung di sebelah motor Chanwoo.

“Um, maaf merepotkan.”

“Tidak apa,” balas Chanwoo ringan seraya memberikan helm putihnya pada Shannon. Gadis blasteran itu telah memosisikan bokongnya di jok penumpang dan motor si pemuda Jung bergerak membelah jalanan Myeongdong saat Chanwoo kemudian bersuara, “Kamu tinggal di mana?”

Shannon menyebutkan alamat rumahnya dan Chanwoo mengangguk-angguk sejenak. “Aku tahu daerah itu. Aku biasa bermain futsal di dekat sana.”

“Um, Jung Chanwoo.”

“Panggil ‘Chan’ saja agar lebih akrab.”

“Baiklah, Chan…woo—ugh, aku bolehkah aku memanggilmu begitu saja? Aku belum terbiasa…”

Okay.”

“Chanwoo, kamu suka logaritma, ya?”

“Iya, cita-citaku ingin membuat game. Makanya aku belajar logaritma untuk program komputer.”

Shannon meng-oh-kan jawaban Chanwoo. Antara takjub dan terkejut mendengarnya. Ia takjub lelaki pendiam itu sudah serius memikirkan cita-citanya dan apa yang akan ia buat nanti, sekaligus terkejut karena Jung Chanwoo menjawab pertanyaannya secara rinci. Padahal ia kira pemuda itu hanya akan menjawab dengan jawaban iya atau tidak. Karena biasanya ia ‘kan irit bicara.

“Kalau kamu? Kamu suka apa pelajaran apa, Shan?”

“Entahlah, sepertinya aku tidak pandai—tapi tidak juga payah—di pelajaran apapun. Biasa-biasa saja. Um, tapi aku suka bahasa inggris.” Chanwoo berdeham. “Dan musik! Aku suka menyanyi dan aku bisa bermain piano.”

“Oh, ya?”

“Iya, aku sudah belajar piano dan menyanyi sejak umur 4 tahun. Papa yang mengajarkanku.”

“Jadi Papamu pianis?”

“Tidak juga sih. Papaku pengusaha tapi ia sangat suka musik.” Chanwoo mengangguk-angguk mengerti. “Chanwoo sendiri? Apa pekerjaan Papamu?”

“Pengacara.”

“Woah, pengacara! Hebat! Kamu tidak ingin jadi pengacara juga?”

“Tidak, terima kasih. Aku tidak pandai berdebat.”

“Benar juga. Ah, tapi Chanwoo juga tidak terlihat seperti anak yang suka main game. Kamu terlalu rajin untuk dibilang seorang gamer.”

Chanwoo tergelak. “Kenapa? Apa karena aku pakai kacamata dan pintar matematika?” ujarnya yang lantas disetujui oleh Shannon. Ia pun tertawa lagi. “Justru aku pakai kacamata karena sering bermain game, nona Williams.”

Lama kelamaan mereka semakin larut dalam konversasi. Tak ada lagi kecanggungan maupun keheningan yang menyelimuti. Baik Chanwoo dan Shannon, keduanya saling bertukar informasi mulai dari di mana mereka bersekolah saat Sekolah Dasar dulu hingga kebiasaan mereka saat makan. Shannon tidak tahu sejak kapan ia bisa bicara senyaman ini dengan Chanwoo. Meski termasuk talkative, Shannon bukan tipe orang yang mudah menceritakan hal pribadinya ke orang lain. Begitu pula Jung Chanwoo. Atau mungkin tanpa Shannon sadari…

“Um, Chan.” Ia berujar saat Chanwoo hendak memacu kembali motor hitamnya.

“Ya?” Chanwoo membuka kaca helmnya—entah kenapa Shannon suka sekali gestur ini. Terkesan sopan saat Shannon akan bicara padanya.

“Semangat ya, jadi Ketua Pentas Seni!”

Lelaki Jung itu tersenyum. “Iya, terima kasih, Shan.”

…Chanwoo sudah bukan orang lain lagi baginya.

::

IMG_20170419_031230

Hi (hello)

When I say this to you

It makes my heart beat

After exchanging these words

We start the story of you and me

::

Shannon tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia tidak tahu kenapa jantungnya berdetak abnormal seperti saat akan mengantri membeli roti mentega di kafetaria. Tapi kali ini bukan rasa takut tidak kebagian roti lembut dan gurih margarine kesukaannya itu yang akan ia hadapi. Melainkan respon dari seorang pemuda Jung bertubuh jangkung yang tengah berjalan ke arahnya saat ini. Dalam hitungan sepuluh detik pasti mereka akan berhadapan dan memulai kebiasaan baru mereka.

Yaitu bertegur sapa.

Hi, Shan.” Pemuda Jung itu tersenyum. Sangat manis dengan sebelah lesung pipi yang terjungkit.

Hi, Chan.”

Shannon tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi entah kenapa ia rasa hubungannya dan Chanwoo terasa berbeda setelah lelaki itu mengantarnya pulang kemarin. Ia merasa seperti baru saja naik satu level lebih dekat dengan Chanwoo.

Hi Hello |Fin

To be continue…The Story of Us

Slice of Story :

“Sebenarnya aku sudah lama suka pada Chanwoo, Shan.”

“Perasaanmu hanya candaan ‘kan?”

“Kita tidak pernah bicara lagi.”

“Aku pikir dinding di antara kita sudah tidak ada, tapi nyatanya dinding itu malah semakin tinggi…”

“Ini bukan perasaan suka, kamu hanya penasaran dengannya.”

“Bukannya kalau kamu tidak bicara apapun situasinya akan semakin canggung?”

Cerita mereka baru akan dimulai…atau malah sudah berakhir?

tyavi’s little note :

jadi di part ini baru menceritakan gimana Shannon yang tadinya gatau siapa itu chanwoo jadi mulai deket sama dia. Trus ya tyavi kasih pesen emang ga baik itu main main sama perasaan karena bisa-bisa jadi suka beneran T^T /curcol/

tapi emang emejing banget deh rasanya bisa deket sama orang yang tadinya ga dinotis di kelas. Trus bisa ngobrol panjang lebar apalagi sampe tahu segala hal tentangnya. Ditambah itu cowok yang biasanya diem aja eh malah lebih cerewet dari kita pas ngobrol berdua /pengalaman pribadi soalnya/

nah gimana nih kelanjutannya cerita canon? Mau dibawa kemanakah perasaan ini? Apakah hanya sebatas teman atau bisa berujung jadian? Nantikan saja part selanjutnya /eak/

 

Iklan

One thought on “[Warm Up Fict] Hi Hello

  1. Biasa deh emejing ya fluff nya… anak kolahan banget nuansa nya :***
    bener.. jangan main-main ama perasaan, haha
    aku sukaaaaa… udah lama banget gak baca canon, udah lama banget gak baca tulisan taty :*******************
    nextnya aku tunggu,, itu aku mencium bau-bau perasaan orang lain bhahaaha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s