Accidentally Family (Chapter 10)

 1485951989572.jpg

Accidentally Family

|LEORENE|

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family, Life | Chaptered | PG17! (for mature content)

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Previous :

 Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9

Summary :

“Cepat ganti pakaianmu.”

.

.

.

Chapter 10

Merasakan beban di dadanya yang semakin berat, Taekwoon mengulum senyum. Joohyun sudah tertidur di dekapannya. Dengan perlahan, Taekwoon memiringkan tubuhnya dan menyelipkan sebelah lengannya yang tidak menahan punggung Joohyun ke sela-sela kaki gadis itu. Lantas bangkit berdiri seraya mengangkat tubuh mungil istrinya dengan hati-hati. Taekwoon membawa Joohyun yang sudah memejamkan matanya ke kamar mereka.

Dibaringkannya Joohyun ke atas ranjang berseprai krem mereka. Setelah memosisikan kepala Joohyun di bantal dengan senyaman mungkin, Taekwoon hendak bangkit saat lengan Joohyun justru terangkat melingkari lehernya, menahannya untuk bergerak lebih jauh lagi.

“Jangan pergi,” lirih Joohyun. Perlahan-lahan kelopak mata gadis Bae itu mulai terbuka. Buat Taekwoon terkejut karena Joohyun ternyata belum tertidur. “Jangan ke mana-mana,” tambah Joohyun. Taekwoon tersenyum tipis dan sebelah tangannya terangkat ke puncak kepala Joohyun. Mengusapnya dengan lembut dan mengusir helai-helai rambut yang menutupi paras cantik gadisnya.

“Aku tidak akan ke mana-mana, Joohyun.” Suara lembutnya yang khas bergema di telinga Joohyun. Membuat senyum serta-merta tercipta di paras jelitanya.

 “Aku mencintaimu, Taekwoon.” Manik karamel Joohyun menatap Taekwoon intens. Membiarkan detik demi detik yang bergulir dan nafas mereka yang bersahutan mengiringi tatapan mereka yang terkunci.

“Terima kasih telah menjadi suamiku.”

Kelopak mata indah Joohyun kembali menutup. Taekwoon pun tertawa tanpa suara. Um, tadinya ia kira Joohyun akan…ah sudahlah, mungkin gadisnya itu memang kelelahan. Well, Taekwoon tidak tahu kalau Joohyun baru saja bekerja ekstra untuk menyiapkan pesta kejutannya yang gagal hari ini.

Kepala Joohyun bergerak sedikit ke kanan dan pegangannya di leher Taekwoon mengendur, menandakan kalau kali ini gadis itu benar-benar sudah tertidur. Namun Taekwoon enggan bangkit, masih setia memandangi paras terlelap Joohyun. Tatapannya berubah sendu. Jemarinya kembali terselip di antara surai cokelat Joohyun lantas turun ke pipi mulus gadis itu. Perlahan namun pasti, kepala Taekwoon bergerak maju. Taekwoon memejamkan mata seirama bibirnya bersentuhan dengan dahi gadisnya.

“Aku lebih mencintaimu, Joohyun.”

***

Jaehwan mengemudikan mobilnya dengan tergesa, membelah jalanan Seoul yang mulai sepi seiring malam yang semakin larut. Sesekali maniknya melirik pada ponselnya yang tergeletak di dashbor, seakan menunggu pesan dari seseorang. Detak jantungnya berdetak dengan cepat setiap ia mengingat pesan yang dikirimkan orang itu kemarin malam.

“Aku akan sampai di Korea besok malam, pukul 8.45.”

Ialah yang menjadi alasan Jaehwan langsung melajukan mobilnya menuju bandara tepat setelah pesta perayaan ulang tahun Taekwoon dibubarkan. Ia pula yang membuat Jaehwan senang sekaligus resah seharian ini. Tapi bukan Lee Jaehwan namanya kalau ia tidak bisa menyembunyikan kerisauan hatinya dengan sifat happy virus yang dimilikinya. Sehingga, tak ada satupun sahabat Jaehwan yang tahu tentang kedatangan orang itu hari ini.

Langkah Jaehwan langsung berpacu sesaat ia sampai di bandara Incheon. Sejenak langkahnya berhenti di depan papan daftar kedatangan dan keberangkatan pesawat. Dengan terengah, maniknya bergulir meneliti satu persatu tulisan di sana, mencari tahu pada pukul berapa pesawat dari Amerika datang sebelum kemudian kembali mempercepat langkahnya menuju pintu kedatangan dari luar negeri.

Jaehwan menunggu dengan was-was. Entah karena dirinya yang habis berlari atau kecemasan yang menderanya sejak tadi, keringat dingin mulai membasahi tengkuk dan sela-sela jemarinya yang ia remas. Jaehwan masih mengatur napasnya yang terengah saat satu persatu penumpang mulai berdatangan. Tubuhnya seketika tegap. Irisnya mengamati wajah-wajah penumpang yang satu persatu dijemput oleh keluarganya, berharap lensanya akan menangkap paras seorang gadis cantik di antara mereka.

Jantungnya bertalu-talu setiap melihat perempuan muda berwajah asia melewati dirinya. Sejujurnya Jaehwan tak bisa menahan rasa senangnya mengetahui setelah sekian lama, orang itu kembali ke Korea. Tapi di saat yang bersamaan Jaehwan juga merasa resah, memikirkan kalau ternyata gadis itu tidak ada di antara orang-orang yang baru saja sampai di sana.

Hal ini seperti déjà vu, mengingatkan Jaehwan pada 2 tahun yang lalu saat ia berlari di dalam bandara menuju pintu masuk para penumpang, berharap dapat menemukan gadis itu dan mencegahnya pergi. Namun Jaehwan terlambat, gadis itu telah pergi jauh meninggalkannya tanpa sempat berpamitan. Dan Jaehwan tidak mau hal yang sama terulang untuk kedua kalinya.

Tapi sayang, penumpang terakhir baru saja melewatinya dan Jaehwan belum juga menemukan gadis itu. Seketika bahunya melorot. Hatinya mencelos, Jaehwan berbalik dan melangkah dengan gontai.

Lagi-lagi aku kehilangannya.

Lagi-lagi aku kehilangannya.

Kalimat itu terngiang di benak Jaehwan sebelum kemudian terinterupsi dengan tepukan seseorang di pundaknya, disusul dengan seruan—

“Lee Jaehwan?”

Buat pemuda berhidung bangir itu kontan menoleh dan mendapati seorang gadis berpipi tembam berdiri tepat di belakangnya. Ekspresinya yang menyiratkan keraguan tak menutupi parasnya yang cantik dengan hidung bangir dan bibir yang mungil. Karakteristik wajah yang selalu tersimpan rapi di sudut memori Jaehwan.

“Son Seungwan…”

***

Drrttt…drrttt…drrrtttt…

Joohyun mengerutkan dahinya dan kepalanya yang terbenam di dada Taekwoon mulai bergerak gelisah, merasa terganggu dengan bunyi ponselnya yang bergetar keras di atas nakas. Tiga menit berlalu dan benda persegi panjang itu belum juga diam. Buat Joohyun yang semula abai dan mencoba untuk kembali tidur, merasa tidak tahan lagi dan memutuskan untuk menepuk pundak Taekwoon yang masih terlelap di sebelahnya. Dibanding Taekwoon, Joohyun memang lebih sensitif dengan suara di sekitarnya saat tidur. Beberapa kali tepukan dan kelopak mata Taekwoon mulai terbuka lamat-lamat.

“Ada apa, Joohyun?” suaranya—yang baru bangun tidur—terdengar parau.

“Taekwoon, tolong angkat ponselku. Aku mengantuk sekali,” ujar Joohyun dengan mata yang masih terpejam. Mengerti, Taekwoon merengkuh tubuh Joohyun lebih erat, memberikan posisi ternyaman untuk istrinya kembali tidur seraya sebelah tangannya terulur mengamit ponsel Joohyun di atas nakas. Taekwoon langsung meletakkan ponsel Joohyun ke telingannya tanpa melihat lebih dulu siapa si penelepon.

Yeobseyo,” jawab Taekwoon dengan suara pelan, masih mengantuk.

“Ya! Apa kalian ini begadang semalaman?! Sudah jam berapa ini??”

Tapi mata sipitnya yang semula akan kembali terpejam, kontan membulat saat mendengar seruan barusan.

A-aboeji?!”

“Harusnya kalian mengantar Miki ke rumahku pagi ini dan sudah sejak setengah jam yang lalu aku berdiri di depan apartemen kalian, tahu!”

Refleks Taekwoon bangun terduduk, membuat Joohyun yang tadinya bersandar di dadanya ikut terangkat. Joohyun yang kaget, kontan menyerukan protes. “Ada apa, Taekwoon-a? Aku ‘kan sudah bilang kalau aku sangat mengantuk dan aku ingin tidur la—”

“Joohyun, bangun! Ada Aboeji di depan pintu!!” Taekwoon mengguncang-guncangkan pundak Joohyun agar kesadarannya terkumpul.

Joohyun mengusap matanya dengan malas, “Terus kenapa kalau ada Abo—APA?! ABOEJI ADA DI DEPAN PINTU??!”

Sontak saja Joohyun bangkit berdiri. Mendengar panggilan ‘Aboeji’ memang selalu membuatnya membuka mata lebar-lebar. “Sekarang hari apa, Taekwoon?”

“Hari…sabtu?” Taekwoon yang juga mendadak panik menjawab ragu.

Joohyun refleks menepuk dahinya sendiri, “Astaga, kita ‘kan harus mengantar Miki ke rumah Aboeji setiap Sabtu!”

Taekwoon membelalak dan menoleh cepat ke jam yang bertengger di nakas. “Sudah jam 9.”

“Aish!” Joohyun meringis. “Kau mandi duluan, aku akan memandikan Miki. Setelah itu kau yang mendandaninya dan aku yang pergi mandi,” komando Joohyun sebelum kemudian berlari menuju pintu. Taekwoon pun turut bangkit dan menyambar handuk. Gagang pintu kamar mandi nyaris digapainya saat ia teringat sesuatu. “Tunggu, Joohyun—” ia kembali berbalik, namun Joohyun sudah menghilang di balik pintu.

“—siapa yang membukakan pintu untuk Aboeji…”

***

Selesai menyerahkan Miki yang sudah didandani setampan mungkin—dan mendengar omelan Aboeji—Taekwoon dan Joohyun menghela napas lega. Mereka saling berpandangan di depan pintu dan kemudian tertawa. Merasa puas dengan kerja sama yang mereka lakukan saat keadaan mendesak seperti barusan. Taekwoon bergerak merangkul tubuh mungil istrinya dan tersenyum hangat. Sorot matanya seperti berkata “Inilah suami istri, harus saling membantu dan juga melengkapi”.

Joohyun balas tersenyum dan bergerak melingkarkan kedua lengannya di pinggang Taekwoon. Ekspresinya seakan mengatakan “terima kasih, suamiku”. Taekwoon pun mengacak surai Joohyun dan mengecup puncak kepala Joohyun singkat.

“Sekarang Miki sudah dibawa Aboeji, jadi kita tidak perlu ke rumah orangtuamu lagi. Sekarang apa yang akan kita lakukan?”

Joohyun mengerutkan dahinya dan berpikir sejenak. Hari ini adalah akhir pekan dan baik Joohyun maupun Taekwoon tentu libur dari pekerjaan mereka. Lima hari dalam seminggu Joohyun habiskan untuk bekerja. Hampir setengah hari atau bahkan sampai larut malam Joohyun berada di kantor. Saat pulang ke rumah, ia habiskan waktu dengan makan malam bersama Taekwoon dan bermain dengan Miki lalu tidur karena kelelahan. Kalau dipikir-pikir, jarang sekali ia menghabiskan waktu di rumah, dan juga melewatkan waktu berkualitas bersama Taekwoon.

“Um…bagaimana kalau kita di rumah saja hari ini?”

“Di rumah saja?”

Joohyun mengangguk antusias. “Memasak, membersihkan rumah, dan menonton film. Kita bisa melakukan banyak hal di rumah. Lagi pula aku juga jarang berada di rumah,” terang Joohyun sambil bergelayut manja.

“Baiklah kalau itu maumu.”

Hari itupun mereka berdua memutuskan untuk tinggal di rumah dan mengawali hari dengan sarapan. Tak hanya bekerja sama untuk mendandani Miki, mereka juga bekerja sama untuk melakukan pekerjaan rumah. Kebetulan mereka juga sudah lama tidak melakukan pembersihan besar-besaran.

Setelah Taekwoon memasak, giliran Joohyun yang mencuci piring. Kalau Joohyun yang mencuci pakaian Miki dengan tangan, Taekwoon yang mencuci seprai dan selimut dengan kaki. Lalu mereka bersama-sama menjemurnya di balkon. Taekwoon akan mengambil alih tempat menjemur yang lebih tinggi—yang tidak terjangkau oleh Joohyun. Kemudian Taekwoon  membersihkan rumah dengan vacuum cleaner sedangkan Joohyun merapihkan barang-barang di rak dan mengelap meja.

Di setiap kesempatan, Taekwoon selalu mencuri-curi untuk mengganggu Joohyun atau bertingkah manja padanya. Seperti memeluk dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak Joohyun saat gadis itu sedang mencuci piring. Berpura-pura akan jatuh dan memeluk Joohyun saat sedang mencuci seprai di bak. Sengaja memegang tangan Joohyun saat gadis itu akan menyampirkan pakaian di tali jemuran. Dan terakhir, ia tiba-tiba mencium pipi Joohyun saat gadis Bae itu sedang fokus menata buku di rak kayu. Membuat Joohyun tersentak sejenak dan menoleh dengan kesal karena Taekwoon sudah kembali sibuk mem-vacuum karpet, berpolah tidak terjadi apa-apa.

Joohyun merasa kesal bukan karena pekerjaannya terganggu dengan tingkah Taekwoon, tapi karena ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menyembul di pipinya setiap Taekwoon melakukannya. Namun dalam hati, Joohyun merasa senang karena tidak pernah ia lihat Taekwoon semanja ini. Padahal beberapa bulan sebelumnya mereka menjadi canggung dengan satu sama lain saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Hanya dalam beberapa minggu, Taekwoon dapat berubah menjadi orang yang berbeda. Menjadi sosok suami yang hangat, romantis, dan penuh perhatian. Hari ini Joohyun sukses merasa seperti pasangan pengantin baru yang belum memiliki momongan.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Taekwoon dan Joohyun menyelesaikan pekerjaan mereka. Kini Taekwoon menghempaskan tubuhnya ke sofa disusul Joohyun yang kemudian mendaratkan kepalanya di pundak Taekwoon. Gurat-gurat kelelahan tergambar jelas di paras mereka—dengan peluh yang bercucuran dari pelipis hingga dagu.

Tapi rasa lelah itu menguap begitu saja saat manik mereka bergulir, mengobservasi sekeliling ruang keluarga mereka yang tampak rapi dan bersih. Sangat indah dipandang mata. Setelah hari ini mungkin Taekwoon dan Joohyun akan mengagendakan kegiatan bersih-bersih rumah sebulan sekali. Bagaimanapun rumah adalah tempat mereka pulang setelah beraktivitas seharian di luar. Bukankah melihat pemandangan yang rapi juga dapat mengobati rasa lelah mereka saat pulang?

“Kalau kita punya halaman, mungkin yang kita lakukan selanjutnya adalah merawat tanaman dan memotong rumput liar. Aku akan menanam bunga mawar di pot sementara kau menyiram menggunakan selang,” oceh Joohyun. Membayangkan kalau saja mereka tidak tinggal di apartemen melainkan di rumah biasa dengan halaman luas yang ditumbuhi rumput dan berbagai tanaman, sama seperti kediaman Bae. Pasti udaranya sangat sejuk dan menyegarkan mata memandangnya.

“Um, taman ya…” Taekwoon berkemam mendengar ocehan Joohyun. Terasa di pundaknya kepala Joohyun yang mengangguk lemah. “Kemudian aku bisa melakukan yoga di sana pada akhir pekan. Ahhh…sudah lama sekali aku tidak yoga.” Joohyun meregangkan kedua tangannya sampai terdengar bunyi tulangnya yang bergemeletuk.

Mendengar dan melihat tingkah Joohyun barusan membuat sebuah ide melintas di benak Taekwoon. “Joohyun,” panggilnya kemudian.

“Hm?” sahut si empunya nama seraya menurunkan tangannya dan menoleh pada Taekwoon.

“Bagaimana kalau besok pagi kita jogging di taman?”

“Kita?” Joohyun membeo.

“Iya, kau keberatan?”

Berolahraga bersama Taekwoon? Joohyun belum pernah membayangkan akan melakukan hal itu sebelumnya. Well, banyak hal yang belum dan tak pernah ia bayangkan akan melakukannya bersama Taekwoon. Kendati mereka adalah suami istri, Joohyun dan Taekwoon tak ubahnya seperti dua insan yang sedang dalam masa penjajakan. Sedikit demi sedikit mereka mendekatkan jarak yang semula terbentang di antara mereka. Melakukan satu persatu kegiatan yang biasa mereka lakukan sendiri secara bersama-sama. Berusaha menciptakan rasa nyaman untuk satu sama lain.

“Tidak, kenapa aku harus keberatan? Itu pasti menyenangkan sekali. Aku juga sudah lama tidak olahraga. Ayo kita Jogging besok!”

Taekwoon tersenyum kecil mendengar antusiasme Joohyun. Lantas lengannya yang semula bertengger di sandaran sofa bergerak memeluk Joohyun, membawa tubuh mungil istrinya mendekat. Buat Joohyun serta merta menengadah. Taekwoon baru saja akan mendekatkan wajahnya pada Joohyun saat kelima jari kurus gadis itu menahannya. Seketika wajah Taekwoon mengernyit lucu—antara kaget dan bingung. Melihatnya, Joohyun tertawa kecil dan berusaha meloloskan diri dari rengkuhan Taekwoon. Sambil memundurkan badan, Joohyun berseru. “Mandi sana, kau berkeringat!”

“A-apa?” Manik hazel Taekwoon membulat. Buat Joohyun yang sedang memeluk bantal terkikik geli karena wajah Taekwoon jadi semakin lucu. Sadar kalau Joohyun baru saja mengerjainya—balas dendam karena pria Jung itu menganggunya seharian ini—Taekwoon pun bergerak maju, hendak menyerang Joohyun. “Jadi maksudmu aku bau?”

Dengan sengaja Taekwoon mendekatkan tubuhnya pada Joohyun karena tidak terima dikatai bau. Ia menggenggam erat kedua tangan Joohyun, membuatnya terdorong ke belakang. “Coba katakan lagi. Coba bilang kalau aku bau,” ujarnya sambil menggelitiki pinggang Joohyun.

Joohyun tertawa geli sambil memberontak. “Tidak…hahaha…aku tidak bilang…hahaha…kau bau…hahaha…”

Alih-alih berhenti, Taekwoon malah semakin gencar membuat Joohyun geli. Hingga akhirnya gadis Bae itu tidak kuat lagi untuk melawan dan napasnya mulai tersengal, Joohyun memegang kedua tangan Taekwoon—mengisyaratkan pria itu untuk berhenti. Mendengar napas Joohyun yang tersendat dan dadanya yang naik turun, Taekwoon pun tak lagi menggelitiki pinggang Joohyun. Membuat keduanya kini mematung dalam posisi Taekwoon berada di atas tubuh Joohyun yang tertidur di atas sofa.

Setelah napas Joohyun sudah teratur, ia baru menyadari kalau Taekwoon menatapnya intens sejak tadi. Dan semburat merah menyembul di kedua belah pipi Joohyun untuk yang kesekian kali hari ini. Taekwoon memiliki sorot mata yang tajam. Sorot mata yang selalu sukses membuat Joohyun terperangkap di dalamnya. Membuatnya seketika tak berkutik kala dwimanik karamelnya bersirobok dengan milik Taekwoon. Dan sekarang, ketika Taekwoon menatapnya intens dalam diam, Joohyun merasa kalau dunianya hanya berpusat pada satu, yaitu Jung Taekwoon.

“Joohyun…” suara lembut Taekwoon memecah kebisuan. Membuat Joohyun dapat menggapai kembali oksigen setelah tanpa sadar menahan napas saat Taekwoon menatapnya sedemikian rupa.

“…hari ini kita hanya berdua ‘kan?”

Tapi kini giliran detak jantungnya yang berdetak abnormal setelah kalimat barusan tercerna oleh kokleanya. Joohyun masih belum sanggup bersuara saat Taekwoon semakin merendahkan tubuhnya. Memosisikan kedua belah bibirnya tepat di telinga Joohyun. Buat gadis Bae itu merasa seakan disengat listrik saat bibir tebal Taekwoon menyentuh tepian daun telinganya.

“Bagaimana kalau hari ini kita—” Taekwoon menggantung kalimatnya. Meninggalkan Joohyun sibuk mengontrol detak jantungnya yang tidak bisa berkompromi sama sekali. Darahnya berdesir merasakan hembusan napas Taekwoon di tengkuknya. Joohyun tidak tahu apa ia masih sanggup menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya.

Apalagi kalau ternyata Taekwoon benar-benar meminta untuk melakukan itu. Sekarang saja Joohyun sudah setengah mati menahan malu. Jantungnya bertalu-talu seakan hendak meloncat keluar dari dalam rongga dadanya. Aliran darahnya terasa mengalir langsung ke kedua belah pipinya yang mungkin sudah semerah tomat sekarang.

Tapi Joohyun tidak mungkin menolaknya. Bukankah semalam ia meninggalkan Taekwoon dan tertidur pulas karena kelelahan setelah bekerja dan mempersiapkan pesta kejutan ulang tahun Taekwoon yang gagal. Dari hari Senin sampai Kamis ia juga menghabiskan malam dengan tidur karena penat setelah bekerja seharian. Dan hari ini Tuan dan Nyonya Bae sudah memberi Taekwoon dan Joohyun kesempatan untuk menghabiskan waktu tanpa perlu repot mengurusi Miki. Bukankah melakukan itu termasuk waktu berkualitas yang ingin ia habiskan bersama Taekwoon? Besok Miki sudah pulang dan kalau bukan sekarang kapan lagi mereka akan melakukannya?

Joohyun memejamkan mata seraya membatin, ‘siap atau tidak, aku harus siap. Lagi pula ini bukan kali pertama, Joohyun’, berusaha memantapkan hati.

“—menonton film.”

‘iya, aku sudah siap untuk nonton filmeh?!’

Joohyun kontan membuka mata, buat maniknya menangkap seringai kecil yang terpeta di bibir Taekwoon. Sungguh, Joohyun tidak salah dengar ‘kan?

“Aku mau mandi dulu ah~”

Detik berikutnya pria bertubuh jangkung itu bangkit berdiri dan melangkah menuju tangga. Meninggalkan Joohyun—yang masing mematung di tempatnya—dengan penuh tanda tanya. Jadi barusan…Taekwoon hanya mengusilinya? Taekwoon tidak benar-benar berniat untuk…

Astaga, padahal Joohyun sudah setengah mati menahan malu tadi!

***

Kamar utama dalam keadaan kosong saat Joohyun masuk, dan terdengar suara gemericik air dari kamar mandi—menandakan kalau Taekwoon sedang membersihkan dirinya di sana. Joohyun pun berjalan menuju lemari lantas membuka pintu di mana baju-baju Taekwoon berada. Sementara Taekwoon mandi, Joohyun berniat untuk menyiapkan baju ganti untuknya. Sejenak ia memilah-milah kaus santai Taekwoon sebelum kemudian pilihannya jatuh pada piyama satin berwarna peach pemberian Sooyeon. Sejak pertama diberikan, Taekwoon belum pernah mengenakannya jadi Joohyun ingin tahu bagaimana jika baju tidur itu membalut tubuh tegap suaminya. Meski ini bukan saatnya untuk tidur tapi bahannya yang ringan cukup nyaman untuk digunakan saat santai ‘kan?

Sambil tersenyum, Joohyun meletakkan piyama beserta gantungannya itu ke atas ranjang. Seingga Taekwoon akan mudah menemukannya saat ia keluar dari kamar mandi nanti. Alih-alih surut, senyum di paras cantiknya justru semakin terkembang—seiring dengan otaknya yang mulai berfantasi. Jika seseorang melihat Joohyun sekarang, ia pasti akan mengira Joohyun sudah gila. Itu benar kalau Joohyun tersenyum tanpa sebab. Tapi kalian tidak tahu kalau suatu ide baru saja melintas di benak Joohyun. Memetakan seringai kecil di bibir, Joohyun kembali berjalan menuju lemari. Namun kini Joohyun membuka pintu di mana baju-baju miliknya berada.

.

.

.

Taekwoon agak terkejut mendapati Joohyun berdiri di hadapannya saat ia membuka pintu. Perempuan yang tak lain adalah istrinya itu menyambutnya dengan senyum sebelum kemudian buru-buru gantian masuk ke dalam kamar mandi. Ia bahkan tidak sadar kalau Taekwoon hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya saat keluar. Membuat dada bidang dan otot-otot yang menghiasi perutnya menjadi totonan gratis bagi siapapun yang berada di ruangan itu saat ini (dan sejujurnya Taekwoon memang sengaja karena kegiatan-menggoda-Joohyun-nya belum berakhir). Tapi sayang, sang target malah pergi tanpa melirik sama sekali.

Ia baru saja akan berjalan menuju lemari saat manik hazelnya menangkap piyama yang Joohyun persiapkan untuknya tergeletak di atas ranjang. Langkahnya pun berganti haluan menuju ranjang. Taekwoon meraih gantungan baju itu dan seketika sebuah senyuman terukir di paras tampannya. Baru kali ini Joohyun menyiapkan baju untuknya. Padahal sebelumnya Joohyun hanya memerhatikan segala hal tentang Miki. Namun sekarang, sedikit demi sedikit Taekwoon merasa kalau Joohyun mulai mengurusnya. Memperhatikannya selayaknya seorang istri pada suaminya.

Maka dengan tanpa ragu, Taekwoon langsung mengenakan piyama tersebut. Baju apapun itu, entah kemeja atau sekedar kaus oblong, jika Joohyun yang menyiapkannya Taekwoon akan memakainya dengan sepenuh hati.

***

Sambil menunggu Joohyun selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Taekwoon memutuskan untuk turun ke dapur dan mempersiapkan cemilan untuk menonton. Alih-alih menghidangkan snack-snack ringan seperti kripik kentang atau popcorn, Taekwoon malah mengupas buah-buahan seperti apel, mangga, dan kiwi. Alasannya adalah untuk menjaga kesehatan Joohyun. Istrinya itu lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja di luar sampai kadang-kadang ia makan dengan tidak teratur—pun dengan menu makanan yang tidak sehat. Jadi Taekwoon akan selalu menyiapkan makanan yang sehat bagi Joohyun saat ia berada di rumah. Kalau Joohyun tidak bisa menjaga kesehatannya sendiri, maka Taekwoon akan mengambil peran tersebut.

Taekwoon baru saja memindahkan potongan kiwi ke piring saat terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Refleks ia menoleh, hendak menyambut Joohyun namun lidahnya malah mendadak kelu. Manik hazelnya membelalak menatap penampilan Joohyun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tak ada banyak yang berubah dari gadis Bae itu, ia masih cantik sama seperti saat ia belum membersihkan dirinya. Bedanya sekarang tubuh Joohyun yang mungil dibalut sebuah gaun satin warna peach berpotongan pendek dan tanpa lengan. Ya, Joohyun mengenakan gaun yang diberikan Sooyeon sehingga saat ini ia dan Taekwoon mengenakan piyama berpasangan.

“Kau sedang apa, Taekwoon?” suara Joohyun memecah lamunan Taekwoon.

Taekwoon buru-buru berbalik dan kembali menata potongan buah-buahan ke dalam piring—enggan menjawab pertanyaan Joohyun barusan. Gestur yang lantas membuat Joohyun kecewa.

‘Kenapa reaksinya biasa saja?’ ia mem-pout-kan bibirnya dan mendumal dalam hati. Padahal Joohyun sudah memberanikan diri untuk memakai pakaian seminim ini. Ia memang berniat memancing Taekwoon atau—kalau ia beruntung—bisa mengusilinya balik dan membuatnya bersemu malu. Tapi sang target jangankan memujinya cantik, sekedar menunjukkan ketertarikan dari sorot matanya saja tidak. Benar-benar di luar ekspektasi!

Tapi terlalu dini bagi Joohyun untuk menyerah, ia masih punya waktu dua jam menonton film untuk membuat Taekwoon menyadari penampilannya. Maka langkah selanjutnya yang Joohyun lakukan adalah berjalan menghampiri Taekwoon, berniat untuk berdiri di sebelahnya. Namun baru saja ia akan melangkah, Taekwoon sudah berbalik dengan dua piring berisi buah di tangannya dan langsung berjalan melewati Joohyun. Ia berjalan dengan tergesa sampai-sampai salah satu garpu yang diletakkannya di atas piring terjatuh ke lantai.

“Tunggu, garpunya jatuh.”

Taekwoon menghentikan langkahnya dan berbalik saat Joohyun sudah lebih dulu merendahkan tubuh untuk mengambilnya. Gestur yang sangat berbahaya bagi Taekwoon. Karena dengan begitu ia dapat melihat kulit putih dada Joohyun yang terekspos bagian atas gaunnya yang rendah.

“Ini.”

Kepala Taekwoon berputar secepat Joohyun bangkit berdiri. “Taruh saja di tempat cuci dan ambil garpu yang baru,” jawabnya sebelum lantas meneruskan langkah menuju sofa. Lagi-lagi Joohyun menggembungkan pipinya kesal karena ketidak acuhan Taekwoon barusan.

Taekwoon sedang memasukkan CD film yang dipersiapkannya ke DVD player saat Joohyun kembali setelah mengambil garpu yang baru. Dengan gontai gadis Bae itu menjatuhkan diri ke atas sofa lalu menggunakan garpu yang dibawanya untuk menusuk salah satu potongan apel dan menggigitnya. Taekwoon berbalik dan berjalan menuju Joohyun, hendak mendudukkan diri pula di sofa. Kontan saja ekspresi kesal bercampur heran tergambar di paras Joohyun. Bagaimana tidak? Karena sekarang Taekwoon malah duduk di pinggir sofa. Sehingga kini posisi mereka duduk berjauhan dari ujung ke ujung sofa.

Pria Jung itu duduk memeluk bantal sambil mengarahkan remote ke TV. Tak melirik pada Joohyun sama sekali. Pandangannya lurus ke depan dan sesekali ia menusukkan potongan buah dengan garpunya. Film sudah berjalan selama sepuluh menit dan mereka masih membisu.

Jung Taekwoon merasa bosan dengan kiwi. Ia berniat mengambil potongan apel dari piring di hadapan Joohyun namun segera diurungkannya saat melihat posisi gadis Bae itu. Joohyun duduk bersandar dengan asal, sehingga bagian bawah gaunnya sedikit tersingkap dan membuat paha mulusnya terekspos.

Melihat Taekwoon menggeser piring berisi buah kiwi mendekat ke arahnya, Joohyun menggigiti garpunya dengan gemas. Apa pria itu sebegitu sukanya pada buah kiwi? Daritadi ia hanya sibuk makan kiwi serta mengabaikan Joohyun, dan sekarang pemuda itu menggeser piringnya seakan takut Joohyun akan mengambil buah berwarna hijau itu. Ini sudah keterlaluan. Bagaimana bisa buah kiwi jauh lebih menarik dari Bae Joohyun?

Selanjutnya Joohyun menyibakkan surai cokelatnya ke belakang. Tanpa sadar memberi akses bagi sepasang iris Taekwoon untuk meneliti setiap inci kulit lehernya yang putih mulus tanpa noda. Pemandangan yang sungguh membuat Taekwoon harus sekuat tenaga mengontrol diri agar tidak menerjangnya lantas meninggalkan jejak di sana. Memalingkan wajah—entah untuk yang keberapa kalinya—Taekwoon mengibaskan kerah baju satinnya karena tiba-tiba saja ia merasa kepanasan. Kepalanya tertoleh ke atas, memastikan kalau pendingin ruangan yang terpatri di sana masih berfungsi.

Dan dalam sepuluh menit selanjutnya, Taekwoon tidak bisa fokus menonton film yang terputar di layar kaca di hadapannya. Berbanding terbalik dengan Joohyun yang sudah mulai menghayati adegan seorang pemuda yang sedang berkelahi dengan seorang gadis—mengingat Joohyun tidak menyukai film bergenre horor, Taekwoon malah menyetel film bergenre action alih-alih film bergenre romantis. Sudah malas melancarkan aksi membuat-Taekwoon-tersipu-malu karena dicueki habis-habisan sejak tadi.

“Joohyun,” Taekwoon tiba-tiba bersuara.

“Hm?”

“Cepat ganti bajumu.”

Seketika Joohyun mengurungkan niatnya untuk mengambil potongan apel baru dan membuat garpunya menggantung di udara. Apa kata pria Jung itu barusan? Setelah 30 menit berlalu, ia baru menyadari penampilan Joohyun?

“Kenapa? Apa aku jelek memakai baju ini?” Mengingat pria itu diam saja sejak tadi, ini adalah kesempatan bagus untuk Joohyun balas bertanya padanya.

“Kalau aku bilang cantik—” Taekwoon menoleh dan menatap Joohyun tajam, “—apa kau akan memakainya keluar agar semua pria terpesona denganmu?”

Ada apa ini? Kenapa tatapannya menyeramkan sekali? Tenggorokan Joohyun mendadak terasa kering ditatap seperti itu. Ini bukanlah reaksi yang Joohyun harapkan.

“Ap-apa maksudmu?”

“Cepat ganti bajumu atau…” Taekwoon menggantung kalimatnya dan kembali memalingkan wajah. Membuat Joohyun dapat meraih oksigen yang mulai menipis di paru-parunya.

“…seseorang akan menyerangmu.”

“H-hah?”

Taekwoon menyugar surai kelamnya asal—dan syukurlah baju yang ia kenakan tidak menggunakan kancing sehingga ia tidak perlu repot-repot melonggarkan kerahnya. Ekspresi kaget yang terlihat polos itu membuatnya muak.

“Aku sudah tidak tahan lagi.”

Taekwoon tak memberi Joohyun kesempatan untuk bersiap, ia langsung bergerak maju menerjang gadisnya. Mendesak Joohyun hingga tubuhnya terdorong ke belakang dan kini punggungnya bersandar pada sisi sofa.  Bibir tipis nan ranum milik Joohyun menjadi sasaran Taekwoon. Tak hanya membuat Joohyun merasakan kelembutan bibir tebal Taekwoon di bibirnya, pria Jung itu juga memagutnya dengan mesra. Membuat bibir Joohyun bersarang di dalam bibirnya seakan milik Joohyun sesegar kiwi yang dimakannya sejak tadi. Dari sela-sela mulutnya, Joohyun dapat merasakan rasa asam buah kiwi dari mulut Taekwoon.

Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Joohyun memukul-mukul dada Taekwoon karena pasokan oksigen di paru-parunya mulai menipis. Taekwoon membiarkan Joohyun membuka mulutnya dan menghela napas sebelum kemudian kembali menginvasi bibir Joohyun. Kini giliran ia yang mengobservasi bagian dalam mulut Joohyun, menyesap rasa manis buah apel dari sana.

Joohyun tidak bisa tenang kendati kedua mata indahnya tertutup sejak tadi. Ia berusaha menetralisir detak jantungnya yang mulai berdetak abnormal, serta aliran darahnya yang terasa mengalir langsung ke kedua belah pipinya yang sudah semerah paprika. Tak tahu harus berbuat apa, tangan Joohyun terangkat hendak melingkari leher Taekwoon namun ia terkejut saat bersentuhan dengan kulit pipi pria itu yang terasa panas.

Kontan saja Joohyun membuka mata dan mendapati wajah Taekwoon yang sudah memerah hingga ke telinga. Setelah mengamatinya selama ini, Joohyun baru tahu kalau wajah Taekwoon mudah menjadi merah saat ia malu. Dan tak hanya itu, ia juga merasa kepanasan sehingga ia akan mengibas-kibaskan bajunya. Bodoh sekali Joohyun tidak menyadari gestur pria Jung itu saat ia menarik-narik piyama satinnya tadi. Padahal bahan seperti itu kan sangat ringan saat digunakan.

Maka yang selanjutnya Joohyun lakukan adalah menarik ujung piyama Taekwoon ke atas, berusaha membebaskan prianya dari balutan baju tidur itu. Saat Joohyun kesulitan karena piyamanya tersangkut di kedua lengan Taekwoon, pria itu segera melepas pagutannya pada Joohyun. Taekwoon menjauhkan tubuhnya dan melepas piyamanya sendiri hingga kini ia hanya bertelanjang dada. Joohyun menggigit bibir bawahnya melihat pemandangan itu. Ini bukan kali pertamanya melihat dada bidang dan juga otot-otot di perut Taekwoon tapi tetap saja ia merasa malu.

Taekwoon kembali bergerak maju dengan ekspresi yang baru kali ini Joohyun lihat—tatapan sendu namun tajam. Namun sekarang bukan bibir Joohyun yang menjadi sasarannya, melainkan leher jenjang Joohyun yang tak tertutup sehelai rambutpun. Dengan hati-hati, Taekwoon melabuhkan kecupan di sana. Membuat Joohyun seakan disengat listrik saat bibir pria Jung itu menyentuh kulit lehernya. Taekwoon adalah penjelajah yang baru saja menjejakkan kaki di daratan leher Joohyun. Ia tidak mau melewatkan seincipun bagian dari tengkuk Joohyun hingga akhirnya ia menemukan tempat yang tepat untuk meninggalkan jejak. Menunjukkan bahwa ialah orang yang pernah mejejakkan kakinya di sana. Taekwoon menghisap tengkuk Joohyun kuat-kuat hingga desahan pelan terdengar dari bibir Joohyun.

Tak puas hanya di satu tempat, ia bergerak turun ke pundak Joohyun. Menyingkap tali spaghetti yang semula bertengger di bahu gadis Bae itu—menyingkirkan setiap rintangan yang menghalanginya melangkah lebih jauh. Seirama dengan tangannya yang sibuk menurunkan tali piyama, sebelah tangan Taekwoon bergerak mengangkat bagian bawah gaun Joohyun. Sehingga ia bisa menelusuri paha mulus Joohyun dengan leluasa. Joohyun bergerak-gerak gelisah seperti cacing kepanasan. Darahnya berdesir merasakan setiap sentuhan Taekwoon di kulitnya. Ia meremas bahu polos Taekwoon pelan saat pria Jung itu meninggalkan tanda kepemilikan untuk yang kedua kalinya. Dan jantung Joohyun seolah akan keluar dari rongga dadanya saat ia rasakan tangan Taekwoon menyentuh perut datarnya dari balik gaun tidur.

“T-tunggu, Taekwoon…”

“Aku sudah menunggu selama 5 hari, Joohyun. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” desah Taekwoon tepat di telinganya. Lantas pria itu kembali membenamkan wajahnya di tengkuk Joohyun.

“Bukan itu maksudku…makanya dengarkan aku dulu!” Dengan sekuat tenaga Joohyun mendorong dada Taekwoon menjauh. Buat pria Jung itu kemudian menatapnya dengan bingung.

“Apa kau yakin akan melakukannya di sini? Di sini terlalu sempit dan punggungku sakit, Taekwoon. Kau tidak berniat menggendongku ke atas seperti waktu itu?” ujar Joohyun dengan ekspresi yang lucu—ia seperti sedang protes namun wajahnya memerah karena malu.

Sejenak Taekwoon hanya balas memandang Joohyun tanpa ekspresi. Namun dua detik kemudian, sebuah senyuman hangat terpeta di bibirnya.

.

As you wish, Dear.

.

TBC

tyavi‘s little note : Sorry for the long wait, dear T^T

Ini tuh semacam #Leorene versi pengantin baru/ga

Iklan

2 thoughts on “Accidentally Family (Chapter 10)

  1. Ahhh 17+ lagii. Hahaha untung sudah 18thn. Makin lama makin so sweetnyaa, kasihan taekwoon nunggu sampai 5 Hri gitu. Wkwkwkwk.
    semangat kak tyaviiii!!!! Semoga nanti adik miki dibuat lagi yaahhh. Fighting kak❤❤

    Suka

  2. Akhirnya setelah menunggu sekian lamaaaaaaaaaaaaaa *untung ga nyampe jamuran juga* FF ini update juga 🎉🎉🎉🎉🎉🎉

    duuh Leorene hot banget yah ini haahaha.. Tiap liat Leo tuh ga pernah bner ni otak. Apalagi kalo pake kostum Chain up -_- #pletak eeh kostum Hot Enough sama Love Me Do juga deng.. Kan Leo seksi banget *sadarkan dirimu nak*

    Oke, ini diriku kangen banget sama abang N , Hyuki, Bini, Ravi. Eh skr waktunya nyeritain Keni. Dikirain bakal dipairing sama siapa, ternyata sama Wendy toh..

    Ditunggu banget updatenya… Soalnya ga ada lagi FF Leorene selain di sini ㅠ.ㅠ

    🙆🙆

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s