Free Spirit (Chapter 5)

fs-juna

free spirit

Halla and Seventeen Vernon

Astro Eunwoo and Twice Chaeyoung

Seventeen Wonwoo and Lovelyz J.I.N aka Myungeun

Other cast find it by yourself

Romance, School life, AU! | Chaptered | PG

1 | 2 | 3 | 4

Summary :

“Sudahlah, cepat mana barangnya?”

.

.

.

tyavi : sekedar informasi, Vernon dan Halla itu pacaran resmi, bukan pura-pura.

Happy reading ^^

.

.

.

Myungeun tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat Wonwoo dilantik sebagai Ketua Student Council yang baru. Bohong kalau ia tidak bangga menjadi kekasih si ‘Nomor Satu’ di angkatannya. Jeon Wonwoo, pemuda yang sudah dikencaninya sejak kelas satu. Pemuda yang membuat Myungeun hampir tersedak saat tiba-tiba menyatakan perasaannya pada awal semester kedua. Pemuda yang sepengamatan Myungeun selama enam bulan mereka berada di kelas yang sama, adalah sosok yang tidak terlalu bersahabat. Cuek, jarang tersenyum, dan juga jarang bicara. Kendati demikian, mampu membuat Myungeun kagum dengan kata-kata bijak yang selalu keluar dari bibirnya. Jeon Wonwoo kelewat sempurna hingga membuat Myung mau-tak mau jatuh hati padanya. Enam bulan mereka lalui dengan hubungan yang harmonis. Jeon Wonwoo, sosok pemuda yang cuek di luar, namun bersikap lembut dan perhatian hanya kepada Myungeun. Dan Park Myungeun, gadis itu bagai tinta berwarna yang menghiasi kanvas hitam putih Jeon Wonwoo. Keharmonisan pasangan inilah yang membuat mereka layak untuk dinobatkan sebagai pasangan terbaik di angkatan mereka. Tak sedikit orang yang berharap hubungan mereka akan terus langgeng.

Namun sayang, harapan tinggal harapan.

Menginjak bulan ke-5 Wonwoo menjabat sebagai Ketua Student Council, tak keselarasan warna mengotori kanvas mereka. Warna pastel—sikap maklum dan pengertian—yang Myungeun goreskan mulai luntur. Tergantikan warna merah menyala—rasa cemburu, kesal, dan marah atas kesibukan Jeon Wonwoo. Tak bisa makan siang bersama karena rapat dadakan. Pulang sendirian karena mengurus dokumen-proposal-tetek-bengek urusan sekolah. Batal kencan di akhir pekan karena kebut menulis laporan. Park Myungeun merasa dirinya telah dinomor duakan. Sejujurnya Myungeun bukanlah tipe orang seperti itu. Selama ini ia sudah bersabar dan memaklumi setiap penolakan atau pembatalan yang dilakukan oleh Wonwoo. Namun kesabaran Myungeun seperti bom waktu. Dapat meledak kapan saja lantaran tidak cukup lagi menahan segala rasa ketidak puasan. Dan waktunya bom itu meledak adalah saat perayaan ulang tahunnya yang ke-18.

Perayaan yang dilakukan di rumahnya—dan diadakan oleh teman-teman serta orangtuanya—pada hari itu sangat meriah dan nyaris sempurna. Iya, nyaris kalau saja sosok Wonwoo hadir di sana. Tapi apa? Hingga Myungeun mengucapkan doanya, meniup lilin kue ulang tahun dan memberikan potongan pertama pada Mamanya, memasang senyum palsu saat mengantar satu-persatu temannya ke luar rumah, Jeon Wonwoo tak juga menampakkan batang hidungnya. Setelah berdiri kurang lebih dua jam di depan pagar dengan bermodalkan cardigan putih yang menutupi sleeveless broken white-nya, barulah pemuda Jeon itu datang dengan tergopoh-gopoh. Peluh mengalir di pelipisnya dan keringat hampir membasahi kemeja jeans-nya.

“Myungeun, maaf aku terlam—”

“Sudah berakhir.” Myungeun menegakkan tubuh dari posisinya yang bersandar pada pintu pagar. Ucapannya barusan serta-merta membuat Wonwoo semakin merasa bersalah. Tanpa Myungeun beritahu pun Wonwoo sudah tahu kalau pesta ulang tahun gadis itu telah berakhir dua jam yang lalu. Wonwoo menangkup separuh wajahnya frustasi. Ia telah mengecewakan Myungeun untuk kesekian kali.

“Aku benar-benar minta maaf, tadi di jalan—”

“Antara kau dan aku, kita sudah berakhir.”

.

———- free spirit chapter 5 ———-

.

Kim Mingyu berjalan mengendap-endap menuju lorong buntu, di mana toilet laki-laki dan perempuan berada. Sebelah tangannya yang menggenggam sesuatu masih tersimpan di saku. Berulang kali kepalanya menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang—memerhatikan sekelilingnya. Sepi. Maka ia berjingkat lagi mendekati pintu toilet. Manik matanya memindai kondisi sekitar sekali lagi sebelum lantas mulai mengetuk pintu dua kali.

“Mingyu, apa itu kau?” sahut seseorang yang berada tepat di balik pintu. Didengar dari suaranya, pasti itu seorang gadis. Tentu saja, karena posisi Mingyu saat ini tak lain adalah di depan pintu toilet perempuan.

“Aish, kenapa kau memanggilku ke sini?!” Mingyu menyuarakan kekesalan yang ia pendam sejak melangkahkan kaki dari kelas ke toilet perempuan, setelah menerima pesan singkat dari gadis bernama Ryu Sujeong. Si empunya nama menyembul dari pintu yang kini terbuka sebagian.

“Sudahlah, cepat mana barangnya?” todong Sujeong tak sabar, masa bodoh dengan rasa was-was Mingyu yang takut ketahuan berada di depan toilet perempuan.

Mingyu berdecak singkat. Lantas mengeluarkan sebuah benda persegi yang dibungkus kain dari kantung, dan mengulurkannya pada Sujeong.

“Cepat ambil ini sebelum aku ketahuan!”

Segera Sujeong menyambar barang tersebut. “Trims, Kim Mingyu. Aku mencintaimu!”

“Aish!”

“Ingat, kau jangan ke mana-mana! Jaga pintu toiletnya,” Sujeong mengingatkan lagi sebelum kemudian menutup pintu toilet rapat-rapat.

“Iya, iya, jangan lama-lama! Bagaimana kalau nanti ada yang lihat?!”

Lima menit kemudian Sujeong keluar dari toilet. Mingyu yang menyandarkan punggung di dinding segera menegakkan tubuh dan bertanya, “Sudah?”

Gadis Ryu itu menjawabnya dengan senyum lebar. Berterima kasih sekaligus merasa lucu karena Mingyu benar-benar menungguinya.

“Tentu saja, ayo kita kembali ke kelas,” Sujeong berujar riang seraya berjalan mendahului Mingyu. Buat pemuda bermarga Kim itu mau tak mau ikut tersenyum. Eh, tapi tetap saja senyum Sujeong tak bisa menghilangkan rasa jengkelnya barusan.

“Kenapa harus aku yang membawa barang ‘itu’ sih…”

“Karena kau selalu bisa diandalkan di segala kondisi!”

Ya, termasuk pada kondisi mendadak datang bulan.

(re : benda yang diberikan Mingyu adalah softek—diambil dari tas Sujeong—yang dibungkus sapu tangan)

***

Langkah kaki beralaskan stiletto berwarna putih terdengar di antara keriuhan kelas olahraga siang itu. Merajut langkah menuju deretan kursi penonton alih-alih berjejal di antara siswi-siswi yang sedang asyik memerhatikan jalannya pertandingan. Wanita bersetelan rok span warna beige dan kemeja katun berwarna salem itu mendudukkan diri di sebelah seorang pria bersetelan celana training dan kaos polo. Tak lupa topi menutupi sebagian wajahnya dan sebuah pluit terkalung di lehernya. Sekali lihat pun orang-orang dapat menebak kalau pria itu adalah seorang guru olahraga.

“Kau pasti tidak percaya ini,” Perempuan bersurai cokelat itu membuka konversasi.

“Iya, aku tidak percaya.”

“Aku belum mengatakannya, Jung Taekwoon.”

“Baiklah, katakan.”

“Lee Halla mengerjakan tugas yang kuberikan! Untuk pertama kalinya seorang Lee Halla mengerjakan tugas! Bagaimana? Kau tidak percaya ‘kan?”

“Aku percaya,” sahut Taekwoon menimbulkan kerutan tipis di kening guru matematika itu. Maka cepat-cepat ia meneruskan, “Kemarin dia juga ikut kelas olahraga.”

“Benarkah?!”

“Kenapa kau antusias sekali?”

“Tentu saja, karena ini adalah Lee Halla. Sejak tadi aku berpikir untuk memberi tugas apalagi ya, besok? Ah, aku ingin memancingnya menjawab soal logaritma. Haruskah aku menunjuknya maju ke depan kelas?” cerocos Joohyun tanpa jeda. Dan alih-alih berboros energi untuk menjawab satu-persatu pertanyaan absurd Joohyun barusan, Taekwoon memilih menenggak air mineralnya hingga tandas baru kemudian membalas tatap menuntut jawaban Joohyun dengan eskpresi datar.

“Bae Joohyun, kau itu lucu sekali.” Taekwoon sempat-sempatnya melepas topi dan menyugar surai kelamnya yang agak basah oleh keringat—yang kalau dilakukan di depan siswi-siswi akan menimbulkan teriakan-teriakan tertahan karena Taekwoon begitu tampan. Tapi perlu diperhatikan kalau saat ini ia melakukannya di depan Joohyun, seorang guru matematika yang lebih tertarik pada muridnya yang baru kali ini mengerjakan tugas dibanding gestur tebar-pesona-tanpa-sengaja yang ia lakukan.

“Di saat guru-guru lain takut menghadapinya, kau malah mau memancingnya berhadapan denganmu?” Taekwoon berujar lagi, tidak mengerti dengan jalan pikir Joohyun. Ia kira, reaksi Joohyun selanjutnya akan sama antusiasnya dengan percakapan mereka sebelumnya, namun alih-alih perempuan berwajah rupawan itu malah melempar pandang ke arah murid-murid di lapangan dengan tatap sendu.

“Dibanding merasa takut, aku justru merasa kasihan padanya,” lirih Joohyun membuat Taekwoon tertegun sesaat.

“Pak guru Jung, Jungkook terluka!”

Namun kebersamaan mereka harus terusik dengan teriakan salah satu murid Taekwoon. Refleks ia menoleh ke arah lapangan dan mendapati pertandingan mendadak berhenti karena murid bernama Jeon Jungkook terluka. Lekas Taekwoon melompat dari bangku penonton dan berlari menuju kerumunan para pemain sepak bola. Dilihatnya sejenak luka yang memanjang di lengan sebelah kanan Jungkook akibat jatuh tersandung kaki pemain lainnya saat tengah menggiring bola.

“Apa lenganmu terkilir? Ini sakit?” Taekwoon bertanya seraya menggerakkan tangan Jungkook ke atas dan ke bawah.

“Tidak, Pak. Hanya berdarah saja,” jawab Jungkook. Beruntung ia tidak menopang tubuhnya dengan sebelah tangan saat terjatuh atau tangannya akan digips dan ia terpaksa tidak bisa ikut pertandingan tahunan yang sebentar lagi diadakan di Hagnon High School.

“Yasudah, sekarang kau ke ruang kesehatan. Yang lainnya lanjutkan pertandingan.”

“Baik, Pak.”

Selepas Jungkook pergi meninggalkan lapangan, pertandingan kembali dimulai. Taekwoon berbalik, hendak kembali duduk di kursi penonton saat dilihatnya Joohyun masih duduk manis di sana.

“Kau masih di sini?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Taekwoon, Joohyun malah mengacungkan kedua ibu jarinya. “Kau tanggap sekali, Pak Jung! Harusnya aku rekam saat kau melompat dan berlari tadi. Keren sekali!”

“Kau tidak ada kelas?”

“Tidak, dan aku belum selesai bercerita. Lagi pula sebentar lagi makan siang ‘kan?”

Sementara itu, di sudut lainnya lapangan. Tempat di mana para siswi yang tak menaruh minat dengan pertandingan sepak bola di jam olahraga, tengah berteduh di bawah pohon besar yang berada di pinggir-pinggir lapangan. Dan di mana berkumpulnya para kaum hawa, disanalah pasti ada gosip yang dibicarakan.

“Kenapa Pak guru Jung dan Bu guru Bae tidak jadian saja, ya?” Yujulah yang membuka topik pembicaraan. Buat pemilik dua pasang mata yang duduk di sana turut melihat ke arah kursi penonton di mana kedua guru mereka mengobrol. Ini memang bukan sekali dua kali mereka melihat guru olahraga dan matematika mereka itu bercengkerama, mungkin hampir seluruh sekolah tahu kalau pria dan perempuan yang terpaut satu tahun itu akrab.

“Iya, mereka serasi sekali,” Jiho menimpali.

“Sampai tidak ada yang berani mengganggu mereka mengobrol,” Yuju berujar lagi. Lantas mengulurkan tangan ke dalam kantung kripik kentang yang Chaeyeon pegang. Merasa heran karena biasanya gadis Jung itu akan marah-marah jika Yuju mengambil makanannya tanpa ijin, Yuju menoleh dan mendapati Chaeyeon tengah melamun dengan kripik kentang masih terjepit di antara bibir mungilnya. Tanpa bersuara, Yuju menyenggol lengan Jiho agar temannya itu juga melihat tingkah Chaeyeon. “Jung Chaeyeon, tumben kau pendiam sekali hari ini.”

 “Aku bingung dari tadi.”

“Bingung kenapa?” sahut Jiho.

“Sujeong ke mana, ya?” Kontan, Yuju dan Jiho memutar kepala, memerhatikan sekeliling lapangan.

“Iya, ya. Mingyu juga tidak ada di lapangan tuh,” imbuh Jiho setelah meneliti satu-persatu siswa yang sedang asyik berebut bola.

“Ya iyalah, di mana ada Sujeong ‘kan pasti ada Mingyu,” timpal Yuju.

“Heran, deh. Tuh anak dua juga kenapa tidak jadian saja sih?” heran Jiho.

“Tidak bisalah, ‘kan Sujeong sudah pacaran dengan Senior Kim Taehyung.”

“Kasian Mingyu kena friendzone.”

***

“Aku minta tolong pada Ketua kelas dan Wakilnya untuk mendata jarak  lompat jauh hari ini, lalu berikan ke ruang guru saat jam makan siang.” Jung Taekwoon mengakhiri jam olahraga kelas dua siang ini. Seperti biasa, data hasil olahraga lompat jauh yang dilakukan sebelum pertandingan sepak bola akan dikumpulkan setelah jam olahraga selesai. Dan Eunwoo selaku ketua kelaslah yang harus melakukannya.

“Baik, Pak.”

Sejujurnya Eunwoo tidak pernah merasa keberatan atas segala tanggung jawabnya sebagai Ketua Student Council ataupun Ketua kelas. Namun entah kenapa sebagai Ketua kelas, ia lebih suka mengerjakan segalanya sendiri. Mendata jarak lompat jauh seluruh teman sekelasnya bukan perkara sulit untuk ia lakukan sendirian. Namun jika ia bersikap seperti itu, bukankah orang-orang akan menganggapnya egois dan tidak menghargai partner-nya sama sekali? Sungguh, Eunwoo juga ingin membangun kerja sama yang baik dengan wakil ketua kelasnya, namun apa yang harus ia lakukan jika—

“Jung Eunha, tolong kau kumpulkan data murid perempuan, biar aku yang mengumpulkan data murid la—”

“Oke.”

—Wakilnya bersikap seapatis ini dengannya? Membuat Eunwoo, di dalam hati, tidak merasa nyaman bekerja sama dengannya. Semuanya karena nilai. Kalau bukan karena siswi bernama Jung Eunha itu adalah peringkat kedua di angkatan sekaligus kelasnya, ia tidak mungkin dipasangkan dengan Eunha. Sekali lagi Eunwoo bersyukur karena Ketua dan Wakil Student Council tidak ditentukan berdasarkan nilai paralel. Omong-omong tentang Wakil Ketua Student Council, sudah hampir seharian ini Eunwoo lihat gadis mungil itu melamun terus. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Apakah tentang perkataan Eunwoo kemarin—Chaeyoung yang memotong pendek rambutnya karena patah hati? Padahal kalau gadis berambut bob itu tidak bengong terus seperti ayam mau mati, Eunwoo ingin meminta tolong padanya alih-alih meminta bantuan Eunha. Karena jujur saja, tak jarang ia juga curi-curi meminta wakilnya itu membantu kendati terkadang ia tak tega karena Chaeyoung sudah banyak kerjaan di Student Council.

“Ihh, kecoa lapangan kaya gitu, ya?”

Lamunan Eunwoo barusan terinterupsi suara Seokmin yang sedang berjongkok di antara semak-semak bersama Minghao. Sontak Eunwoo berjalan menghampiri mereka. Mendapati kedua cowok itu tengah mengamati rerumputan dengan noraknya.

“Ada apa?”

“Itu, Ketua. Di semak-semak ada kecoa.” Seokmin menunjuk rumput, di mana terdapat serangga yang dianggap monster bagi murid perempuan itu berjalan di dekat kaki Minghao. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benak Eunwoo.

***

Pemuda berpostur jangkung itu berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang Student Council. Enggan masuk, tapi juga bukannya ingin pergi. Ia seperti tengah menunggu sesuatu. Kemeja putih dan blazer biru dongker telah menggantikan kaos olahraga yang sebelumnya membungkus tubuh tegapnya. Begitu juga dengan celana training berwarna biru dongker yang sudah diganti dengan celana bahan berwarna senada. Sesekali ia menempelkan daun telinganya pada permukaan pintu, berusaha mengetahui apa yang terjadi di dalam. Masih belum ada suara. Maka selanjutnya ia mulai berhitung.

“Satu…dua…ti—”

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”

Dan lekas memutar kenop pintu begitu terdengar suara teriakan yang tak lain berasal dari satu-satunya penghuni ruang Student Council, Son Chaeyoung,.

“Ada apa?” tanya Eunwoo tanpa dosa ketika mendapati Chaeyoung sedang berdiri di sudut ruangan dengan gemetaran.

“Kecoa! Kecoanya besar sekali!!”

Sontak saja Eunwoo mengambil sapu yang diletakkan di sudut lain ruangan sebagai senjata. Pemuda Cha itu pun berdiri di depan tubuh Chaeyoung dengan gagang sapu di tangan. Ia berhasil membunuh sang kecoa sebelum serangga itu merangkak ke bawah meja. Lantas menghela napas lega seakan ia barus saja berperang melawan musuh-musuh superhero. Cha Eunwoo membalikkan tubuh ke arah Chaeyoung dengan senyum puas tersungging di bibir. Ia berpikir dengan begini Chaeyoung akan tersenyum berterima kasih padanya sehingga ia berhasil mencairkan suasana. Namun alih-alih sebuah kurva terpeta di wajah cantik Chaeyoung, Eunwoo malah melihat setitik likuid bening di pelupuk mata Chaeyoung. Astaga, gadis itu benar-benar ketakutan rupanya.

Kok matamu berkaca-kaca begitu, sih?” Eunwoo tertawa seraya mengusap puncak kepala Chaeyoung. Merasa diperlakukan seperti anak kecil, Chaeyoung menepis tangan Eunwoo dan berjalan keluar ruangan. Meninggalkan Eunwoo yang masih mematung di tempat karena rencananya baru saja gagal total. Bukannya mencairkan suasana, Eunwoo malah merasa baru saja mengerjai Wakilnya.

“A-Apa aku salah bicara lagi?”

“Kenapa perempuan itu begitu rumit?”

Eunwoo hampir terlonjak saat terdengar suara dari belakang tubuhnya. Saat ia berbalik,  Wonwoo sudah berdiri di ambang pintu.

“Kau mengagetkanku, Senior!”

Ini bukan pertama kalinya mantan Ketua Student Council itu muncul tiba-tiba di ruangannya. Sudah berkali-kali malah Wonwoo muncul tak mengenal waktu. Entah itu pagi hari, saat jam makan siang, atau sepulang sekolah. Eunwoo juga pernah melihat pemuda Jeon itu berada di ruang organisasi terbesar di sekolah pada hari Sabtu. Tapi entah kenapa Eunwoo tidak juga terbiasa.

Eunwoo hendak menanyakan maksud kehadiran Wonwoo di sana tapi urung karena ia justru tertarik pada raut wajah Wonwoo yang tak seperti biasanya (walau ekspresi wajah Wonwoo sehari-hari begitu-begitu saja sih).

“Senior sedang ada masalah?” Wonwoo menatapnya sejenak lalu mengangguk.

“Senior Park Myungeun?” Eunwoo berujar lagi seakan ia sudah hapal benar apa yang ada di dalam kepala Wonwoo. Dan benar saja, pemuda yang satu tahun lebih tua darinya itu lagi-lagi mengangguk.

Bagaimana tidak hapal. Setahun setengah mengenal Jeon Wonwoo, Eunwoo tahu benar kalau pemuda itu bukan tipe orang yang akan memusingkan masalah sekolah apalagi nilai. Jadi apalagi kalau bukan tentang gadis bernama Park Myungeun? Entah sampai kapan urusan hati dua manusia itu selesai.

“Um, Senior mau mengobrol di ruang Student Council?” tawar Eunwoo akhirnya. Siapa tahu dapat membantu Wonwoo yang wajahnya kusut begitu.

“Tidak, aku mau ke kelas saja.”

Tumben, tidak mau ke ruang Student Councilbatin Eunwoo heran. Karena biasanya pemuda itu suka sekali ke ruang Student Council dalam keadaan apapun—sampai-sampai ia dan Chaeyoung suka risih saat sedang sibuk menggarap setumpuk laporan ditemani tatap Wonwoo. Tapi kalau dipikir-pikir…

“Terus, untuk apa ke sini?”

***

“Belajar sudah. Mengerjakan tugas sudah. Mengumpulkannya juga sudah. Sekarang giliran mengisi perut yang keroncongan! Ayo ke kafetaria!”

“Tidak.”

“Let’s go!”

Sepertinya kata ‘tidak’ yang berasal dari Halla berarti ‘iya’ pada kamus Vernon. Karena detik selanjutnya pemuda berwajah kaukasian itu malah menggandeng—atau lebih tepat disebut menyeret—Halla ke kafetaria dengan ekspresi suka cita. Hansol Vernon Chwe terus mengulas senyum manis sepanjang perjalanan, bahkan tak jarang membalas sapaan teman-teman yang ditemuinya. Siapa yang tak mengenal Vernon? Pemuda blasteran itu penyandang peringkat satu seangkatan—yang mana adalah posisi impian seluruh murid di Hagnon High School (terkecuali untuk Halla). Dan pemandangan Vernon semakin menarik karena kehadiran Halla yang berjalan di sebelahnya, pun ditambah kedua tangan mereka yang saling bertaut. Memperjelas status keduanya yang beberapa hari ini menjadi pembicaraan satu sekolah. Oh, siapa sih yang tidak mengenal Halla? Baik Vernon dan Halla, keduanya sama-sama terkenal. Tentu mereka akan menjadi salah satu pasangan paling populer di Hagnon High School. Tapi sayangnya, Halla dikenal dengan citra yang berbanding 180 derajat dari Vernon. Gadis cantik bersurai legam itu dikenal sebagai gadis pembuat onar sekaligus putri satu-satunya pemilik Hagnon. Pasangan yang unik, bukan?

Tapi bukan Vernon namanya kalau tidak bermuka tembok. Diusir hingga diumpat berjuta kali oleh Halla saja dia masih menempel layaknya ikan remora pada perut ikan hiu. Bedanya, ikan remora memberi keuntungan pada ikan hiu. Tapi bagi Halla, Vernon justru membawa kesengsaraan. Tak hanya mengikutinya ke mana saja, pemuda itu mulai mengusik hidupnya. Menyuruh Halla ini itu. Mengubah hidup Halla seperti siswi normal lainnya; mengikuti kelas olahraga, mengerjakan tugas, dan makan di kafetaria. Memang sih Vernon pada awalnya menawarkan keuntungan padanya—menjadi pelampiasan di kala ia merasa kesal. Tapi sekarang Halla malah merasa tolol karena menerima tawaran Vernon begitu saja.

“Kau mau kimbap?” tanya Vernon setelah mereka menempati salah satu meja di kafetaria.

“Tidak,” Halla membalas singkat, tanpa minat. Kalau boleh jujur ini adalah kali pertama Halla menjejakkan kaki di kafetaria setelah putus dengan Chanwoo. Ia ingat sekali dulu sering makan bersama Chanwoo di kafetaria. Saat hubungan mereka masih seperti sepasang kekasih pada umumnya. Tapi setelah putus? Jangankan ke kafetaria, rute Halla di sekolah hanya seputar koridor-kelas-atap sekolah-toilet. Kalau perlu Halla ingin meng-skip koridor juga karena ia malas mendengar suara bisik-bisik para murid membicarakannya ketika ia lewat.

“Kalau begitu mau bibimbap?”

“Tidak.”

“Kau mau sandwich?”

“Tidak.”

“Kau mau susu?”

“Tidak.”

“Kau mau aku pergi?”

“Tidak.”

Okay!

“Eh?”

“Kalau begitu ayo kita makan ramyeon!”

Tuh ‘kan. Lagi-lagi Vernon menyetir hidupnya.

***

“Di sana masih kosong.”

Myungeun berujar setelah memindai keadaan kafetaria siang ini, dan mendapati salah satu meja di tengah ruangan belum berpenghuni. Maklum, pada jam makan siang pasti kafetaria Hagnon penuh. Tak hanya karena ini adalah jam para murid mengisi perut yang sudah kosong setelah belajar, siswa-siswi Hagon cenderung tidak suka membawa bekal.  Berasal dari golongan menengah hingga atas, sebagian besar orangtua murid pasti bekerja. Sehingga kecil kemungkinan mereka akan repot-repot menyediakan bekal untuk anak mereka. Terlebih Hagnon High School telah menyediakan kafetaria dengan pilihan menu yang bervariasi. Sepadan dengan tarif yang harus dikeluarkan para murid yang tak bisa dibilang sedikit.

“Kalian mau makan apa? Nanti biar aku yang pesan.” Hayi berujar seraya mengambil notes kecil yang disediakan di atas meja untuk mencatat pesanan. Myungeun membolak-balikkan buku menu sebelum kemudian menyebutkan pesanannya. Nasi kari ayam dan milkshake cokelat.

“Kau pesan apa, Sana?”

“Aku sushi dan greentea saja.”

“Oke.”

Pada saat itulah, kala Hayi bangkit dari kursinya dan meninggalkan meja mereka, Sana melihat Jun berjalan memasuki kafetaria sambil menggandeng tangan Momo.

“Jadi dia sudah baikan dengan pacarnya.”

“Kau bilang apa barusan?” Myungeun mengalihkan perhatian dari ponsel pintarnya saat Sana tiba-tiba bicara. Astaga, mimpi apa gadis berdarah Jepang itu semalam? Kenapa dia malah menyuarakan isi hatinya, sih.

“Eh? Ah, tidak…tadi aku bilang kalau rambut pendek itu cocok untukmu.”

Myungeun meng-oh-kan jawaban Sana lantas kembali fokus pada benda persegi panjang di tangannya. Hingga ia tidak melihat Sana yang kini mengelus dada lega. Hampir saja ia keceplosan. Untung saja ia bisa menemukan topik yang tepat, yaitu rambut baru Myungeun. Tapi, omong-omong tentang rambut. Kemarin ia, Hoshi, Jun, dan Wonwoo juga membicarakan rambut baru gadis Park itu. Dan ia juga masih penasaran atas dasar apa Myungeun memangkas pendek rambutnya. Mumpung topiknya sudah dibuka, lebih baik ia tanyakan saja.

“Tapi Myungeun, kenapa kau tiba-tiba potong rambut?” tanya Sana membuat Myungeun lagi-lagi mengalihkan fokus dari ponsel pintarnya. Namun kali ini gadis itu tak segera menyahut, ia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas berat.

“Sudah kubilang ‘kan kalau aku sedang patah hati.” Kini Myungeun meletakkan ponselnya di atas meja, kehilangan minat.

“Kau patah hati dengan siapa, sih? Kan sudah lama putus dengan Wonwoo,” ujar Sana heran.

“Aku patah hati karena Jeon Wonwoo, cowok gila nilai itu bertambah tampan! Ugh, aku benci,” jawaban Myungeun barusan serta merta membuat Sana meletakkan punggung tangannya di dahi Myungeun.

“Kau sehat ‘kan? Kenapa tiba-tiba jadi tidak waras begini.” Tak mengindahkan cibiran Sana, manik mata Myungeun menangkap sosok gadis yang sedikit gemuk tengah mengantri di salah satu counter.

“Ah, tunggu sebentar.” Myungeun menurunkan tangan Sana dan segera bangkit dari kursinya.

“Eh? Kau mau ke mana?” seru Sana namun Myungeun sudah lebih dulu berjalan menghampiri gadis tersebut. Lantas Myungeun menepuk pundak gadis bersurai cokelat muda itu dan tersenyum kala ia menoleh.

“Apa kau yang bernama Jihyo?”

***

Hagnon High School dipermanis dengan gerbang besi setinggi 7 meter dengan ornamen berbentuk bunga dan panah. Sangat indah apalagi jika diperhatikan saat kedua sisi pintunya bertaut, tertutup rapat. Dan hal itu hanya bisa dinikmati seorang siswa bernama Moon Bin yang kini berdiri di depan gerbang Hagnon sambil menggaruk belakang kepalanya.

“Sial, gerbangnya sudah ditutup. Besar banget lagi.”

Moon Bin berusaha untuk mengintip ke dalam tapi tidak ada satupun petugas yang menjaga gerbang utama. Dengan kondisi seperti ini Moon Bin bisa saja memanjat gerbang. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Tak hanya besar, bagian ujung gerbang berbentuk panah dan kelihatannya itu cukup tajam. Jadi Moon Bin tidak mau mempertaruhkan nyawanya hanya untuk masuk ke kelas tepat waktu.

Tak menyerah, Moon Bin berjalan ke sekeliling dinding pembatas Hagnon High School yang dilapisi tanaman merambat. Benar-benar tampak rapat hingga orang luar tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana. Kendati demikian, Moon Bin masih berjalan untuk mencari sedikit saja cela untuk masuk.

Dan ketemu!

Ia melihat sebuah kubus dari beton yang berada di salah satu dinding pembatas. Sepertinya itu adalah tempat pembuangan sampah dan tingginya hampir menyamai tinggi Moon Bin. Jika ia memanjat kubus itu, ia bisa memanjat dinding dan melompat ke dalamnya. Benar-benar ide brilian, Moon Bin!

Di saat yang bersamaan, seorang gadis tengah berada di taman yang bersisian dengan dinding pembatas. Gadis bernama Kim Dahyun itu ingin melakukan rutinitasnya setiap pagi sebelum masuk kelas, yaitu menyirami tanaman obat milik klub pecinta tumbuhan. Setelah mengulur selang, ia mengangkat kedua tangan, memerhatikan sedikit tanah yang menempel di sana saat sebuah ransel justru mendarat di tangannya. Kontan saja Dahyun menengadah, mendapati Moon Bin tersenyum manis kepadanya.

Nice catch!” ujar pemuda itu sebelum kemudian mendarat dengan mulus di depan Dahyun. Buat gadis berkulit seputih salju itu membelalakkan matanya. Siapa yang tidak kaget kalau tiba-tiba ada tas ransel dan seorang cowok tampan jatuh dari langit di hadapanmu? Namun belum sempat Moon Bin bernapas lega, seorang guru piket yang sedang berpatroli melihat kejadian barusan dan segera berteriak.

“HEI, KAU YANG DI SANA!”

“Sial! Padahal lompatanku sudah keren tadi,” Moon Bin menggerutu.

“AWAS KAU YA, JANGAN KABUR!”

“Ah, itu ide yang bagus!” Moon Bin baru saja akan mengambil langkah seribu kala Dahyun mengulurkan ransel di tangannya.

“Tunggu, tasmu!”

“Nanti saja!”

“Tunggu…”

BRUKKK…

 

“…awas tersandung selang…”

Terlambat Kim Dahyun, pemuda Moon itu sudah terjerembab dan wajah tampannya sudah berubah menjadi warna cokelat. Kesempatan itu segera dimanfaatkan oleh guru piket tadi untuk menarik Moon Bin bangkit dan menjewer kupingnya.

“Kau, sudah terlambat, berani-beraninya memanjat dinding pembatas. Sekarang juga kau ikut Bapak ke ruang detensi!”

Moon Bin pun tak bisa melawan saat pria 40-an itu menyeretnya lantaran jeweran di telinganya benar-benar sakit. Moon Bin tak punya pilihan lain selain ikut ke ruang detensi ketimbang harus kehilangan sebelah daun telinganya (dan nanti dia jadi tidak tampan lagi). Namun saat mereka melewati Dahyun yang masih mematung di tempat, guru piket itu menoleh dan kembali berseru. “Dan kau juga! Kau sudah membantunya untuk menerobos sekolah.”

“H-hah?!”

TBC

tyavi‘s little note : Satu tokoh baru muncul lagiii, yaitu mas Munbin! Lalu hubungan Mingyu dan Sujeong adalah sahabat dekat! Saking dekat sampe…ya gitulah si Sujeong…gausah dijelasin ya wkwk. Oh iya, aku kan pernah mention Junhoe di chapter-chapter berikutnya. Nah tyavi mau kasih tau aja kalo Junhoe itu diganti sama Mingyu. Jadi anggap saja kalian tidak pernah melihat Junhoe di series ini /ga/

Untuk kelanjutan Free Spirit dimohon kepada para pembaca mau meluangkan waktunya memberi saran ke About Free Spirit

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s