Accidentally Family (Chapter 9)

picsart_11-09-07-40-13

Accidentally Family

|LEORENE|

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family, Life | Chaptered | PG13

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7| 8

Summary :

“Thank you for being born.”

.

.

.

Chapter 9

Taekwoon tengah membersihkan selada kala Joohyun masuk ke apartemen. Tidak ada suara cemprengnya memanggil nama Miki atau Taekwoon seperti biasanya. Gadis mungil itu berjalan gontai menuju dapur dengan kepala menunduk. Lantas ia berhenti beberapa langkah di belakang Taekwoon, menengadah dan menatap punggung tegap suaminya dengan tatapan sendu. Taekwoon masih belum menyadari kehadiran Joohyun sampai akhirnya ia rasakan sepasang lengan melingkari pinggangnya. Tanpa menoleh pun Taekwoon dapat mengenali siapa pemilik sepasang tangan mungil yang tersimpul di perutnya. Sejenak Taekwoon mengulum senyum, tidak menyangka Joohyun akan mengendap-endap masuk dan memeluknya dari belakang seperti ini.

“Miki eomma, aku tahu kau sangat lapar. Tapi suamimu ini tidak bisa dimakan,” goda Taekwoon.

Namun senyumnya kontan luntur saat Joohyun bersuara. “Tadi aku bertemu Sooyeon eonnie.” Tergantikan ekspresi kaget dan bingung.

“Kau bertemu Noona?”

Abaikan pertanyaan Taekwoon barusan, Joohyun kembali bicara. “Jung Taekwoon. Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?”

Sontak saja Taekwoon membelalak. Apa maksud Joohyun? Apa Noona-nya baru saja mengatakan sesuatu? Apa itu artinya Joohyun sudah mengetahui kalau…

Refleks Taekwoon melepas tautan tangan Joohyun dan berbalik. Diraihnya kedua pundak Joohyun dan gadis itu menengadah dengan ekspresi sendu.

“T-tunggu, Joohyun. Aku bisa jelaskan…”

“Kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku kalau orangtuamu sudah meninggal?”

“Hah?”

“Jadi itu sebabnya orangtuamu tidak hadir di pernikahan kita? Kenapa? Kenapa kau tidak memberitahukanku?” Kini air mata mulai menggenang di pelupuk mata Joohyun.

“Joohyun…”

Taekwoon tidak tahu harus berbuat apa karena sekarang Joohyun mulai menangis. Gadis Bae itu menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah dan menunduk. Bahunya naik turun seirama napasnya yang mulai tersendat. Dan naluri seorang suami membuat Taekwoon meraih Joohyun ke dalam pelukannya.

“Sudahlah Joohyun, kau tidak perlu menangis,” ujar Taekwoon lembut di sela-sela kegiatanya mengusap surai cokelat Joohyun. Direngkuhnya Joohyun semakin erat, seakan hal itu dapat membuat gadisnya berhenti terisak. Sejak mereka menikah, ini adalah kali pertama Taekwoon melihat Joohyun menangis. Dan ternyata ia tidak suka. Taekwoon tidak suka melihat istrinya menangis.

“Pasti berat.” Joohyun menghirup oksigen banyak-banyak demi menghilangkan sesak. Lantas ia mengangkat wajah, mempertemukan manik sembabnya dengan milik Taekwoon. “Tanpa orangtua dan terpisah jauh dari saudara. Selama ini…apa selama ini kau kesepian?” Jari kurus Joohyun bergerak mengusap air matanya sendiri. Sekarang ia mengerti alasan Taekwoon menikah dengannya. Pria itu butuh pendamping hidup agar ia tak lagi sendirian.

“Berdiri sendirian di upacara pernikahanmu, kau pasti kesepian, Taekwoon-a.”

Sebelah tangan Taekwoon terangkat mengusap pelan pipi Joohyun. Sebuah kurva tercipta di parasnya sebelum lantas Taekwoon memajukan wajah dan mengecup kening Joohyun lembut.

“Tidak, Joohyun. Karena sekarang aku punya kau dan Miki. Kalian adalah keluarga baruku.”

Manik karamel Joohyun menelisik iris kelam Taekwoon lebih dalam, mendapati ketulusan terpancar dari sana. Joohyun tersenyum dan bergerak memeluk Taekwoon balik. Ia lega karena kini mereka bisa saling memeluk di saat terpuruk seperti ini. Serta saling memberi perhatian di saat yang lain membutuhkan kekuatan.

“Maaf karena aku tidak membuka hatiku lebih cepat,” lirih Joohyun di dalam dekapan Taekwoon.

“Tidak masalah buatku, Joohyun. Karena aku pasti akan menunggumu sampai kapanpun.” Taekwoon melonggarkan pelukan mereka dan merendahkan tubuhnya sejajar dengan Joohyun. “Sekarang berhenti menangis atau Miki akan cemburu karena kau menyainginya,” canda Taekwoon yang lantas dibalas tinju pelan di bahu oleh Joohyun.

“Omong-omong, apa itu yang kaubawa?” Taekwoon menunjuk dua paper bag besar yang diberikan Sooyeon tadi. “Ah, itu dari Sooyeon eonnie. Hadiah ulang tahun untukmu dan hadiah pernikahan untukku,” terang Joohyun sambil menyodorkan paper bag berwarna hitam pada Taekwoon. Tanpa basa-basi, Taekwoon langsung mengeluarkan isinya, yaitu sebuah kotak besar berwarna hitam. Ketika dibuka, didapatinya sebuah kemeja satin berwarna peach di dalamnya. Joohyun yang turut memerhatikan, mencoba menyentuh kado Taekwoon tersebut. “Wah, indah sekali. Bahannya juga sangat lembut.” Mendengar pujian dari istrinya, Taekwoon pun penasaran dan menarik kemeja itu keluar dari kotaknya. Ia menyejajarkannya ke tubuh seraya bertanya, “Apa cocok?” Yang lantas dibalas anggukkan kepala oleh Joohyun.

“Cocok! Ukurannya pas sekali, Taekwoon-a.” Taekwoon tersenyum simpul dan kembali meletakkan kemeja itu ke kotaknya.

“Lalu bagaimana dengan kadomu?” tanyanya seraya mengedikkan kepala pada paper bag yang Joohyun pegang. Tanpa bicara, Joohyun langsung mengeluarkan isinya—yang tidak berbeda seperti milik Taekwoon sebelumnya—yaitu sebuah kotak besar berwarna pink lembut. Dengan antusias, Joohyun membuka kotak itu dan mendapati sebuah kain perpaduan satin dan beludru berwarna peach semi-pink. Diam-diam Taekwoon melirik pada Joohyun yang menatap kadonya dengan mata berbinar. Sempat terpikir oleh Taekwoon kalau inilah sebab Soyeon menanyakan warna kesukaan Joohyun tempo hari. Dan Taekwoon bersyukur karena jawabannya tidak salah.

“Apakah itu gaun?”

“Sepertinya begitu,” jawab Joohyun tanpa mengalihkan pandangannya.

“Coba sejajarkan di tubuhmu, apakah itu pas atau tidak,” saran Taekwoon agar Joohyun melakukan seperti yang ia lakukan sebelumnya. Joohyun pun mengangguk dan mengamit gaun itu dari kotak dan menyejajarkannya di depan dada. Sejenak manik Taekwoon bergerak dari atas ke bawah, memindai penampilan Joohyun. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah. Joohyun yang menyadari reaksi Taekwoon pun sontak bertanya. “Kenapa? Apa tidak cocok?”

Taekwoon menangkup sebagian wajahnya yang memerah. Ia memejamkan mata dan menggeleng pelan. “Tidak, tidak. Gaunnya sangat cocok untukmu, Joohyun-a. Tapi…”

“Tapi?” Joohyun membeo.

“Tapi, tolong jangan gunakan gaun itu ke luar.”

“Kenapa?”

“Karena itu gaun malam.”

***

Hari ini adalah hari yang Joohyun nanti-nantikan di bulan November. Apalagi kalau bukan hari ulang tahun suaminya, Jung Taekwoon. Tanpa sepengetahuan Taekwoon, Joohyun telah menyusun rencana untuk merayakan hari lahir suaminya itu hari ini. Dimulai dari mengosongkan jadwal sejak siang agar ia bisa berbelanja keperluan di supermarket. Lantas Joohyun akan pulang ke rumah, berganti ‘shift’ menjaga Miki dengan Taekwoon. Lalu ia akan memasak untuk makan malam. Sejak kemarin Joohyun sibuk mencari resep-resep masakan yang mudah dibuat di internet. Setelah rampung memasak, Joohyun akan menata meja di balkon dan menciptakan atmosfir dinner romantis bertabur bintang. Joohyun akan berusaha menyiapkan segalanya sebaik mungkin mengingat ini adalah perayaan ulang tahun pertama Taekwoon setelah mereka menikah.

Pada pukul 5.15 Joohyun berangkat menuju Café di mana Taekwoon bekerja bersama Miki. Rencananya ia juga akan menjemput Taekwoon karena suaminya biasa pulang pada jam segini. Sepanjang jalan, Joohyun menyanyi riang bersama Miki yang tak juga berhenti menggoyangkan kakinya di belakang. Bayi laki-laki itu sangat riang, seakan ia mengerti kejutan apa yang akan dilakukan Eomma­-nya nanti.

“Miki-ya, sebentar lagi kita akan sampai,” ujarnya sambil melirik Miki dari spion. “Ahh!” sahut Miki dengan senyum terkembang.

Taekwoon sudah menyambut mereka di depan Café saat sedan putih Joohyun memasuki halaman. Joohyun keluar dan melambaikan tangannya pada Taekwoon. Lantas beralih membuka pintu belakang dan mengambil Miki dari baby seat-nya. Hari ini Joohyun tampak cantik dengan atasan off-shoulder berwarna ungu muda dipadu celana katun berwarna putih. Sebuah kalung choker hitam berbentuk pita melingkar di leher jenjangnya. Sedang rambutnya tampak manis kendati hanya diselipkan ke belakang telinga. Miki yang berada di gendongan Joohyun mengenakan setelan berwarna navy blue. Rambutnya yang sudah mulai lebat ditutup dengan topi wol berwarna putih. Tampak tampan dan imut.

Senyum Taekwoon semakin terkembang seiring langkah Joohyun yang semakin mendekat. Ia segera meraih Miki dari pelukan Joohyun kala gadis itu berdiri di hadapannya, menciumnya gemas dan mengusap-usap puncak kepala bayinya.

“Miki-nya Appa, kenapa tampan sekali.” Lagi-lagi Taekwoon menciumi pipi gembul Miki dengan gemas. Joohyun ikut tersenyum melihatnya. Tak berlama-lama mengabaikan istrinya, sebelah tangan Taekwoon menggandeng Joohyun dan mengajaknya masuk ke dalam.

Kajja.”

Ketika masuk, Joohyun bingung kenapa Café-nya sangat sepi dan terdapat meja-meja yang disusun di tengah ruangan. Dinding Café dengan aksen kayu itu pun dihias dengan pita-pita berwarna putih. Beberapa teman-teman Taekwoon seperti Hakyeon, Hyuk dan yang lainnya juga sudah menempati bangku-bangku yang mengelilingi meja di tengah ruangan. Tidak salah lagi, ini pasti pesta perayaan ulang tahun! Ternyata teman-teman Taekwoon mengadakan pesta ulang tahun untuk Taekwoon di Café. Refleks Johyun pun menarik Taekwoon dan berbisik.

“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau akan ada perayaan ulang tahun di sini?”

“Um, aku baru saja akan memberitahumu tapi kau sudah menelepon lebih dulu dan bilang akan ke sini.”

Sial, bagaimana dengan pesta kejutan yang sudah kusiapkan? Aku tidak mungkin membawa Taekwoon pulang di saat teman-temannya telah menyiapkan pesta untuknya’ rutuk Joohyun dalam hati. Kalau begini caranya, semua yang sudah Joohyun siapkan akan sia-sia.

“Ayo, Joohyun. Aku ingin mengenalkanmu dengan teman-temanku.” Taekwoon menarik tautan jemari mereka dan tersenyum manis.

“Ah, i-iya.”

***

Seulgi berjalan bersisian dengan Hongbin. Mereka baru saja selesai membicarakan kelanjutan proposal yang telah disetujui oleh Joohyun di salah satu restoran. Ini merupakan pertemuan mereka kesekian kali setelah mulai bekerja sama.

“Bukankah makanan di sini sangat enak?” Hongbin memulai konversasi karena sedari tadi gadis Kang itu hanya mengunci mulut dan berjalan di sebelahnya. Seulgi menengadah dan tersenyum—memamerkan eyesmile-nya yang mampu membuat jantung Hongbin berhenti berdetak sesaat.

“Iya, tapi sayang sekali mereka tidak punya hazelnut latte,” jawab Seulgi kemudian. Ini adalah sebuah kemajuan, ia sudah bisa bicara hal di luar pekerjaan dengan nyaman. Tak lagi canggung ataupun kikuk seperti sebelumnya. Berbanding terbalik dengan Hongbin yang kini justru tergugu.

“Hongbin-ssi?”

“Ah, jadi kau ingin minum hazelnut latte?” Buru-buru Hongbin menguasai diri. Ia tidak mau membuat Seulgi merasa tidak nyaman lagi. Bukankah mood mereka sedang bagus sekarang?

Gadis penggemar Teddy bear itu mengangguk. “Hm, rasanya sudah lama sekali aku tidak minum hazelnut latte.”

Sejurus jawaban Seulgi barusan, sebuah ide melintas di benak Hongbin. “Um, bagaimana kalau kau ikut denganku? Kebetulan aku ingin ke kafe milik temanku dan setelah itu aku bisa mengantarmu pulang.” Hongbin pikir ini momen yang tepat mengingat sudah berulang kali ia gagal mengantar gadis itu pulang.

“Kalau kau tidak keberatan, Hongbin-ssi.

“Tentu saja tidak. Kajja.”

***

Berbanding terbalik dengan eskpresi senang yang tergambar di wajah Hakyeon, Jaehwan dan Wonshik justru memasang ekspresi tanda tanya kala Taekwoon mendudukkan Joohyun di hadapan mereka. Manik keduanya sibuk memindai sosok Joohyun dan benaknya bertanya-tanya siapakah gerangan gadis cantik ini? Sadar kalau istrinya mulai merasa risih dengan tatapan-tatapan sahabatnya, Taekwoon pun angkat suara.

“Joohyun kenalkan ini adalah Dr. Lee,” ucapnya sambil menunjuk si pemuda berhidung bangir. Jaehwan menyambut tatapan Joohyun dengan senyum sumringah. “Lee Jaehwan,” katanya seraya mengulurkan tangan. Joohyun menyambutnya dan balas tersenyum canggung. “Dan ini Pengacara Kim,” lanjut Taekwoon beralih pada pemuda yang berambut cepak. Tak berbeda dengan Jaehwan, Wonshik juga memamerkan senyumnya seraya mengulurkan tangan.

“Namaku Kim Wonshik. Senang berkenalan denganmu, Nona.”

“Mereka adalah temanku sejak Sekolah Menengah,” jelas Taekwoon mengakhiri sesi perkenalan kali ini. Well, kedua temannya—yaitu Hakyeon dan Sanghyuk—sudah mengenal Joohyun sehingga ia tidak perlu memperkenalkannya lagi pada mereka.

“Aku Bae Joohyun, istri Jung Taekwoon.” Kali ini giliran Joohyun mengenalkan diri. Buat Jaehwan dan Wonshik kontan meng-oh-kan jawaban Joohyun dengan bersamaan.

“Kami sudah mendengar cerita tentangmu, Joohyun-ssi. Tapi aku tidak tahu kalau kau secantik ini,” Wonshik merespon sok akrab. “Pantas saja Taekwoon hyung pelit untuk mengenalkanmu pada kami,” celetuk Jaehwan yang lantas dibalas tilikan tajam oleh Taekwoon. Tak mau mati di tangan Taekwoon, Jaehwan pun mengalihkan perhatiannya pada sosok mungil di pangkuan si pria Jung.

Aigo, siapa bayi tampan ini?” tanyanya sambil menggoyang kepalan tangan mungil Miki. “Apa Taekwoon hyung juga akan pelit mengenalkanmu pada kami? Aigo.”

Lagi-lagi Taekwoon melayangkan tatapan membunuh pada Jaehwan. Sontak membuat penghuni Café pada sore hari itu tertawa, tak terkecuali Joohyun. Dalam hati gadis itu berterima kasih pada Jaehwan karena dapat mencairkan suasana.

Kini Miki digendong bergantian oleh Jaehwan dan Wonshik. Sesekali Sanghyuk yang sudah menyelesaikan tugasnya meracik kopi, mengajak Miki bermain. Teman-teman Taekwoon tampak senang dan antusias berkenalan dengan bayi mungil itu. Mereka juga larut dalam konversasi hangat hingga Joohyun lupa pada rasa kecewanya atas pesta kejutan Taekwoon yang gagal dia adakan. Joohyun juga menjadi selangkah lebih dekat dengan teman-teman Taekwoon. Kendati awalnya mereka bersikap konyol, teman-teman Taekwoon lumayan hebat dalam bidangnya. Sejenak Joohyun sempat merasa heran kenapa Taekwoon bisa memiliki teman seorang dokter kanker anak, pengacara, dan juga eksekutif seperti Hakyeon. Kalau diingat-ingat, kakak Taekwoon, Jung Sooyeon juga tampak elegan seperti dia adalah gadis dari kalangan at—

“Akhirnya kau datang juga, Kong!” Percakapan yang semula terjalin di antara semuanya, terinterupsi dengan suara teriakan Hakyeon. Kontan saja seluruh kepala tertuju ke arah pintu masuk, di mana seorang pemuda datang dan tersenyum kepada semuanya.

“Maaf, aku terlambat.” Hongbin masih setia menjungkitkan senyum seraya maniknya mengobservasi ke seluruh ruangan. Namun senyumnya seketika sirna saat netranya menangkap sosok Joohyun berada di antara mereka.

Seorang gadis cantik berjalan di belakang Hongbin dan sontak membuat semua mata beralih padanya. Suasana riuh berubah menjadi senyap. Hakyeon, Jaehwan, Wonshik, dan Sanghyuk bertanya-tanya siapa gerangan gadis berhidung bangir itu. Sedangkan Taekwoon mengerutkan dahi, berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah melihat wajah gadis yang tidak asing ini. Dan Joohyun justru membelalakkan matanya kaget.

“Seulgi-ya?” lirih Joohyun tanpa sadar. Mengenali gadis jelita itu sebagai Kang Seulgi, asisten sekaligus sahabatnya. Taekwoon yang duduk berdekatan dengan Joohyun dapat mendengar suara gadis itu. Ia melirik pada Joohyun dan Seulgi secara bergantian. ‘Jadi dia nona Kang Seulgi?’

Yang lain masih tampak kaget karena Hongbin tidak biasanya membawa wanita hingga akhirnya Hakyeonlah yang berani buka suara. “Siapa dia, Kong?” Menyuarakan hal yang menjadi pertanyaan setiap penghuni meja dan juga pertanyaan yang sama sekali tidak ingin Hongbin dengar. Ekspresi Hongbin sama persis seperti Joohyun. Pemuda Lee itu terkejut dan juga bingung. Ia tidak bisa mengatakan kalau gadis yang saat ini bersamanya hanyalah rekan kerja sama antara Bae Corporation dan Jesly Kr.

“Kenalkan ini Kang Seulgi…” ucap Hongbin sambil menunjuk pada Seulgi. Buat gadis Kang itu refleks membungkukkan tubuh hormat sambil tersenyum hangat. Namun lekukan itu menyurut kala Hongbin meneruskan.

“…calon istriku.”

***

Pesta kecil yang diadakan teman-teman Taekwoon di Café berakhir pada pukul 8 malam. Sebagian besar dari mereka bukanlah pria lajang lagi sehingga tidak dapat mengadakan pesta sampai larut malam. Karena bisa berkumpul bersama merayakan ulang tahun saja sudah cukup bagi mereka. Pekerjaan dan keluarga telah menyita hampir tiga perempat dari waktu mereka hingga tidak bisa berkumpul seperti biasa. Namun mereka juga tidak bisa menghilangkan kebiasaan merayakan ulang tahun bersama begitu saja.

Sedan putih Joohyun sampai di basement pada pukul 8.18. Taekwoon mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman. Saat ia menoleh pada Joohyun, dilihatnya gadis Bae itu sudah menutup mata bersama Miki yang berada di pangkuannya. Bayi Jung itu memang sudah terlelap sejak mereka meninggalkan Café—yang menjadi salah satu penyebab pestanya dibubarkan. Sejenak Taekwoon tersenyum melihat Joohyun tidur begitu tenang. Ia memang berusaha menyetir sefokus mungkin agar sampai apartemen lebih cepat sehingga tidak mengajak Joohyun bicara. Taekwoon juga tidak tahu sejak kapan Joohyun tertidur.

Beberapa detik Taekwoon ambil untuk memerhatikan wajah Joohyun lekat-lekat. Istrinya memang cantik. Riasan yang Joohyun gunakan sore ini memang tidak seperti biasanya. Tidak ada lipstik matte berwarna nude yang biasa mewarnai bibir tipis Joohyun, melainkan lip gloss berwarna pink yang membuat wajahnya semakin manis. Namun kendati riasan Joohyun tampak menawan malam ini, hal itu sama sekali tak menyembunyikan raut lelah yang tergambar di parasnya. Bagaimana tidak? Selain menghabiskan setengah hari di kantor, Joohyun juga pergi belanja dan menyiapkan pesta kejutan untuk Taekwoon yang kini sia-sia. Meski ia bisa tersenyum dan tertawa di pesta barusan, Joohyun tak bisa menyembunyikan rasa lelah yang dirasakannya. Sadar ia tak mungkin membiarkan Joohyun tidur semalaman di mobil, Taekwoon pun dengan terpaksa menepuk pipi Joohyun. Menyadarkan gadis itu kalau mereka sudah sampai dan sebaiknya ia beristirahat di kamar.

Joohyun terkesiap dan mengerjap. “Oh, kita sudah sampai?”

Taekwoon mengangguk. “Apa hari ini kau begitu sibuk?” tanyanya seraya melepaskan sabuk pengaman Joohyun. Lantas keluar dari pintu kemudi, berputar ke samping mobil dan membuka pintu Joohyun.

“Tidak, kenapa kau bertanya begitu?” Joohyun membalas sambil memindahkan Miki dengan hati-hati ke tangan Taekwoon. Dengan sigap Taekwoon memeluk Miki, membiarkan kepala mungilnya bersandar di bahu lebarnya. Itu adalah posisi paling aman dan nyaman saat menggendong bayi yang tertidur. “Kau terlihat lelah, Joohyun.” Kali ini Taekwoon mengulurkan tangan untuk membantu Joohyun keluar.

“Oh, itu karena aku men—” sontak mata Joohyun yang semula tinggal 5 watt membelalak.

Astaga, aku ‘kan menyiapkan kejutan untuk Taekwoon! teriaknya dalam hati. Hampir saja ia keceplosan! Tapi jam berapa sekarang? Lekas Joohyun mengecek jam tangannya. Sudah hampir jam setengah sembilan. Joohyun sudah tidak tahu lagi bagaimana rupa masakannya saat ini.

“Ada apa Joohyun? Kau men-apa?” Joohyun sibuk dengan pikirannya hingga lupa dengan presensi Taekwoon di sana.

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Ah Taekwoon, bisa kau bawakan tas bayi di jok belakang, aku akan ke atas duluan untuk menyiapkan kamar Miki.” Joohyun harus sampai ke apartemen lebih dulu dan merapikan balkon agar Taekwoon tidak melihat pesta kejutan gagalnya.

“Tapi kita…bisa ke atas bersama…” seru Taekwoon sia-sia karena Joohyun kini sudah berlari dan masuk ke dalam lift.

Sesampainya di apartemen, Joohyun bergegas naik ke lantai dua. Merapikan meja lipat yang ia pasang di balkon, memindahkan piring-piring dan gelas-gelas ke dapur, dan dengan terpaksa membuang masakannya yang sudah dingin. Lantas ia kembali lagi ke atas untuk menarik tirai, menutup rapat pintu kaca balkon. Joohyun tengah menuruni tangga saat Taekwoon sampai di apartemen mereka. Joohyun lekas menghampiri Taekwoon dan mengamit Miki dari pelukan pemuda itu. “Biar aku yang membawa Miki ke kamarnya, kau istirahat saja di sofa.” Usai itu Joohyun mengambil pula tas Miki dan dengan perlahan menaiki tangga. Taekwoon hanya mengeryitkan dahi melihatnya. Ia menuruti Joohyun untuk duduk di sofa, tapi benaknya masih bertanya-tanya akan sikap Joohyun yang tiba-tiba aneh. Padahal gadis itu terlihat sangat lelah di mobil tadi, lalu dari mana datangnya energi barusan? Joohyun sudah berlari dua kali malam ini—dan jangan lupa sudah berapa kali ia naik dan menuruni tangga tadi.

Beberapa menit kemudian Joohyun sudah kembali menuruni tangga. Dari anak tangga ke lima ia dapat melihat punggung Taekwoon yang sedang duduk di sofa. Namun bukannya menghampiri sang suami, Joohyun malah berjingkat menuju pantry dan mengambil gelas. Taekwoon baru menyadari kehadirannya saat terdengar suara air yang dituang dari teko.

“Joohyun.”

Si empunya nama hampir terlonjak saat terdengar suara barusan.

“I-iya,” jawab Joohyun pelan. Batal sudah niatnya untuk sekedar melepas dahaga.

“Dari tadi aku bingung.”

Dan Joohyun hampir menjerit. Apa Taekwoon menyadarinya? Semua rencananya? Pesta kejutan yang disiapkannya? Aish, kenapa ia harus bertingkah mencurigakan begitu sih, tadi.

Tak mendapatkan jawaban, Taekwoon pun bangkit dan memintal langkah ke arah Joohyun. Menyampirkan lengannya di pinggang Joohyun dan menumpukan dagu di pundak gadis itu. Hal yang sama yang ia lakukan kala gadis itu memasak beberapa hari lalu. Entah sejak kapan, Taekwoon selalu ingin melakukan hal itu jika Joohyun dalam posisi demikian.

“Di mana hadiahku?”

“Hah?”

Taekwoon mengangkat kepalanya dan menatap Joohyun tak percaya. “Kau tidak mau memberiku hadiah, eoh?”

Detik itu juga Joohyun meletakkan gelas di tangannya dan menepuk kening. ‘Astaga, kenapa aku lupa dengan kadonya?!’

Taekwoon memang sudah mendapatkan beberapa hadiah dari teman-temannya dan juga Sooyeon yang menitipkannya pada Joohyun beberapa hari lalu. Namun sampai detik ini ia belum mendapatkan apa-apa dari istrinya. Jadi wajarnya saja kalau Taekwoon merengek seperti anak kecil saat ini. Joohyun membalikkan tubuhnya dan tersenyum canggung, sedang Taekwoon menatapnya dengan kening berkerut.

“Tentu saja aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu, Taekwoon­-a,” jawabnya seraya menyentuh pundak Taekwoon lembut. “Dengarkan aku.”

Taekwoon terdiam dan menatap Joohyun lekat-lekat, menunggu apa yang akan keluar dari bibir gadis itu.

“Maaf, aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku selama ini. Aku rasa aku terlalu malu untuk mengatakan aku mencintaimu. Jadi, bisa kau tutup matamu sekarang?”

Menurut, Taekwoon lantas memejamkan kedua matanya. Membiarkan Joohyun mengambil alih penglihatannya karena kini gadis itu menggandeng tangan Taekwoon, menuntun langkahnya menaiki tangga. Joohyun juga membawa Taekwoon dengan hati-hati saat mereka melewati pintu menuju balkon dan berhenti kala mereka berdiri di depan benda besar yang ditutupi kain putih. Kemudian Joohyun melepaskan genggaman tangan mereka dan menarik ujung kain putih tersebut.

“Apa kita sudah sampai?” tanya Taekwoon yang bingung karena Joohyun tak lagi menggandengnya.

“Sekarang kau bisa buka matamu.”

Seiring terbukanya kelopak mata Taekwoon, Joohyun menarik kain putih di tangannya dengan kuat. Buat benda yang semula tertutupi mulai terlihat.

“Taraaa!”

“Joohyun, ini…”

“Iya, ini hadiah ulang tahunmu dariku, sebuah grand piano.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Taekwoon tak percaya, manik matanya masih tak berpindah seinci pun dari piano besar berwarna putih di hadapannya.

“Aku bertanya pada Sooyeon eonnie apa kesukaanmu dan dia bilang kau sangat suka bermain piano dan bernyanyi.”

Joohyun tersenyum sumringah dan memposisikan diri di kursi piano.

“Kau bisa memainkannya?” Taekwoon bertanya karena ia tidak menyangka Joohyun juga akan memainkan pianonya. Padahal ia pikir piano itu kadonya. Taekwoon tidak tahu kalau sebentar lagi Joohyun akan memberikan hadiah yang sebenarnya.

“Aku pernah belajar dulu tapi aku tidak yakin akan sebagus permainanmu,” Joohyun membalas dan mulai menekan tuts secara asal. Gerakannya pelan dan ia hanya menggunakan nada dasar. Tapi sedetik kemudian, nada yang familiar mulai terdengar di telinga Taekwoon.

“Chukhahae happy birthday to my love

(Congratulations, happy birthday to my love)

Sip nyeoni jinado haruga jinan geotcheoreom,

(Even after ten years, it’ll be like only one day has passed)

Byeonhajireul ankireul maeil seollegireul

(I won’t change, I’ll make your heart race every day)

Naneun yaksokhae

(I promise you)

Gomawo neomu thank you for my love

(Thank you so much, thank you for my love)

Neo taeeonajwoseo oneul ireoke naege wajwoseo

(For being born today, for coming to me)

Neol mannan geon naege keun haenguniya

(Meeting you was a great fortune in my life)

Ja ije chotbureul kkeojullae my love

(Now blow out the candles, my love).”

Taekwoon berjalan mendekati Joohyun dan melabuhkan satu kecupan di puncak gadisnya. Sontak saja Joohyun menengadah dengan wajah kaget.

“Kenapa? Kau menyuruhku meniup lilin, tapi tidak ada lilin di sini.”

Kontan saja Joohyun memberenggut kesal. Namun semburat merah yang menyembul di kedua belah pipinya tak bisa menyembunyikan betapa senangnya ia sekarang. Taekwoon mengulum senyum melihat pemandangan tersebut. Dan langkah berikutnya ia menarik tangan Joohyun agar gadis itu bangkit dari kursi. Taekwoon tak memberi Joohyun kesempatan untuk bicara karena ia langsung mendekap gadis itu erat.

“Bagaimana aku harus berterima kasih, Joohyun? Aku terlalu bahagia. Kau membuat ulang tahunku yang ke-26 menjadi ulang tahun terindah.” Senyum Joohyun merekah di balik bahu Taekwoon, tangannya bergerak memeluk balik suaminya erat. “Tidak ada yang terindah, Taekwoon-a. Karena kau akan menghabiskan setiap ulang tahunmu seperti ini bersamaku, selamanya.” Dapat Joohyun rasakan bibir Taekwoon bergesekan dengan surai cokelatnya.

“Ya, tentu saja kita harus bersama selamanya.”

Joohyun melepaskan pelukan mereka dan tersenyum manis. “Nah, sekarang aku ingin mendengar kau memainkannya. Anggap saja sebagai tanda terima kasih.” Joohyun tuntun Taekwoon duduk di kursi piano, kemudian mendudukan diri di sebelahnya. Taekwoon mengangkat tangan layaknya pemain piano profesional, menekan tuts dengan kesepuluh jemarinya seraya ia mulai bernyanyi. Melanjutkan lagu yang Joohyun nyanyikan tadi.

Naega haejul su inneun geon hanappuniya

(The only thing I can do is)

Neol deo saranghaneun il

(To love you even more)

Gakkeum neol apeuge hal ttaedo itgetjiman

(There might be times when I hurt you)

Igeo hanamaneun kkok arajullae

(But please know this one thing)

Neul jigeumcheoreom neoreul

(Just like always, just like now)

Saranghae you’re my everything to me

 (I love you, you’re my everything to me)

Sip nyeoni jinado haruga jinan geotcheoreom

(Even after ten years, it’ll be like only one day has passed)

Byeonhaji ankireul maeil seollegireul

(I won’t change, I’ll make your heart race every day)

Naneun yaksokhae my love

(I promise you, my love)

Ajikdo kkumman gateun geol

(It still feels like a dream)

Cheonsa gateun sarami  nal bomyeo useo

(An angel is looking at me and smiling)

Ireoke

(Like this).”

Taekwoon menoleh pada Joohyun yang balik tersenyum padanya. Gadis itu mulai menyandarkan kepala pada bahu Taekwoon, terbua dengan suara lembutnya. Maka Taekwoon pindahkan sebelah lengannya ke belakang punggung Joohyun. Gadis itu bersandar nyaman di dadanya sambil ia meneruskan permainan pianonya.

Saranghae sel su eobsi oechyeodo

(Even if I yell I love you endlessly)

Neul bujokhan geu mal

(It’s not enough)

Honjaseo oeropgo himdeun naldeul uri hamkkeramyeon duryeoul ge eobseul geoya

(Lonely and hard days won’t be scary if we’re together)

Neomchigo neomchyeoseo gamdang andoel ilman jeonbu jul geoya

(I’ll give you things that always overflow)

Gomawo neomu thank you for my love

(Thank you so much, thank you for my love)

Neo taeeonajwoseo geurigo nae gyeote isseojwoseo

 (For being born, for being by my side)

Neol mannaseo dasi nan taeeonan geoya

(I am born again because I met you).”

Joohyun menengadah kala Taekwoon menundukkan wajah. Bertemunya bibir keduanya menjadi penutup permainan piano Taekwoon yang indah.

TBC

Piyama couple yang diberikan Sooyeon.

picsart_11-12-11.06.45.jpg

img_20161106_020638
HAPPY (LATE) BIRTHDAY JUNG TAEKWOON!
Iklan

5 thoughts on “Accidentally Family (Chapter 9)

  1. Iiih unyu banget deh leorene ❤ hehehe…
    Itu aku penasaran.. Emangnya seulgi ga curiga gt knp irene ada di situ? Hihi.. Aku kira bakal ketauan.. Laah itu hongbin pake ngaku2 segala wkwkwkw… Untung ganteng..

    Ditunggu next chapternya 😊

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s