Accidentally Family (Chapter 7)

AF7

 

Accidentally Family

|LEORENE|

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family, Life | Chaptered | PG-15

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

 Prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6

Summary :

“Terima kasih, Suamiku.”

.

.

.

Chapter 7

Joohyun melangkah pelan memasukki lift. Setelah menekan tombol angka tujuh, sebelah tangannya terangkat memijat pundaknya yang terasa sedikit pegal. Sedangkan sebelah tangannya lagi, menenteng tas hermes dan blazer hitam yang semula dikenakannya. Sekarang sudah pukul tujuh malam dan Joohyun baru saja sampai di gedung apartemennya. Proyek yang sedang dikembangkan perusahaan Bae Byunhee—Aboejinya—membuat Joohyun terpaksa lembur hari ini. Padahal ia sudah memiliki perjanjian dengan Taekwoon untuk membagi waktu mengurus Miki. Beruntunglah Taekwoon sedang libur hari ini sehingga dapat menjaga Miki sendirian. Dan semalam pria itu juga bilang ia akan berbelanja kebutuhan Miki hari ini.

Ting!

Bunyi berdenting menandakan kalau Joohyun telah sampai di lantai tujuh, lantai di mana apartemennya berada. Beruntung jarak apartemennya dengan lift tidak terlalu jauh karena kini kaki jenjang Joohyun yang dialasi stiletto putih sudah mulai terasa pegal. Tanpa basa-basi ia langsung menekan angka password di papan tombol, membuat pintu apartemennya lekas terbuka. Melepas dan meletakkan asal stilettonya, Joohyun melangkah gontai menuju ruang keluarga dan menjatuhkan diri di atas sofa. Ugh, dia benar-benar lelah dan—

Krucuuukkk…

 

—lapar. Seingat Joohyun, hanya sepotong croissant yang mampir di lambungnya siang tadi. Dan ia belum menyantap apapun sebagai makan malam. Maka akhirnya ia putuskan untuk pergi ke dapur. Siapa tahu ada pasta di panci atau kimbap di kulkas. Namun saat merelakan empuknya sofa demi mengangkat tubuh, manik Joohyun terkunci pada meja makannya. Lenyap sudah rasa lelahnya, ekspresinya berseri dan sekonyong-konyong ia berjingkat menuju meja makan. Mendapati seloyang kue red velvet  tersaji cantik dengan topping stroberi segar.

Rasa-rasanya sudah lama sekali kudapan manis favorit Joohyun itu tidak mampir di lidahnya. Serta-merta membuat Joohyun tanpa basa-basi mengamit pisau yang tersaji di samping loyang dan mulai mengiris seperdua belas bagian kue berbentuk bulat itu.

Joohyun baru saja menikmati gigitan pertama saat Taekwoon menuruni tangga sembari menggendong Miki. Iris pria itu membelalak. “Jangan dimakan!”

Sontak Joohyun menoleh dengan tatap bingung. Selai stoberi telah menjejak di sudut bibirnya saat ia bertanya, “Kenapa?” Taekwoon yang sudah menuruni anak tangga terakhir, memijat pelipisnya. “Padahal aku sudah menunggumu pulang,” ujarnya dengan nada kecewa.

Tentu membuat Joohyun semakin melayangkan pandangan tak mengerti. Taekwoon menghembuskan napas sebelum lantas berujar, “Itu kue perayaan 100 hari kita menikah. “

“Apa?! “

“Aku mau mengajak Miki meniup lilin tapi yasudahlah, makan saja kalau kau lapar. “

Bagaimana bisa? Bodoh sekali aku sampai lupa’ rutuk Joohyun dalam hati. Bahkan tanpa sadar ia mulai memukul pelan kepalanya sendiri. Berikan cengiran, Joohyun berucap. “Maaf, kau benar aku sangat lapar. Jadi begitu aku melihat kue red velvet…aku langsung memakannya. “

Taekwoon tersenyum maklum, mengulurkan sebelah tangannya yang tidak menumpu tubuh Miki dan menyomot potongan kue yang telah Joohyun gigit. “Tidak apa-apa, aku mengerti kau lapar. Lagi pula kau sangat suka kue red velvet ‘kan?”

Ucapan Taekwoon langsung dibalas anggukkan kepala semangat. Senyuman lebar terpeta di paras cantik Joohyun saat memotong kembali kue red velvet di hadapannya, tak lupa mengiriskan pula seperdua belas bagian kue lagi untuk suaminya. Raut lelah telah sirna sepenuhnya dari wajah Joohyun. Joohyun bagaikan seorang bocah lima tahun yang bahagia dibelikan es krim di musim panas. Sama-sama asik menikmati kudapan manis sebagai makan malam mereka, Joohyun tiba-tiba teringat.

“Omong-omong Taekwoon, bagaimana kau tahu aku suka red velvet?” Beruntung Taekwoon telah menelan makanannya saat pertanyaan itu terlontar. Kalau tidak, bisa-bisa ia tersedak mendengarnya.

“Umm… itu—

.

.

.

Yeobseyo, Aboeji.

Yeobseyo. Oh, Taekwoon! Ada apa tiba-tiba menelepon?”

Aboeji, aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Tanya apa, Taekwoon-a?”

Aboeji… Joohyun suka kue apa?”

“Astaga, Aboeji kira ada sesuatu yang penting. Joohyun sangat suka kue red velvet, Taekwoon-a. Kau belikan saja kue itu, dia pasti sangat senang.”

Aboeji serius? Baiklah, kalau begitu aku akan membelikannya kue red velvet. Terima kasih, Aboeji.”

.

.

.

—itu, karena aku tadi pergi berbelanja bersama Miki. Lalu aku melihat red velvet dan kelihatannya enak.” Taekwoon menggaruk belakang kepalanya. “Lalu aku teringat kalau hari ini adalah hari ke-100 kita menikah.”

Ekspresi Joohyun kontan menjadi murung. “Kau ingat? Maaf, aku tidak ingat…” Taekwoon berdeham kecil. “Um, itu karena aku tidak sengaja memperhatikan tanggal.”

Joohyun mengangguk-anggukan kepalanya lemah. Merasa bersalah, Joohyun berpikir bagaimana cara ia membalas perlakuan Taekwoon. Rasanya ucapan terima kasih belum cukup menutupi kebodohannya hari ini. Tiba-tiba terpikir sebuah ide di benak Joohyun, tapi ia agak ragu. Haruskah ia melakukan itu? Bukankah ini terlalu cep—ah, tidak. Ingat, pernikahannya sudah berjalan seratus hari. Justru ini terlalu lambat untuk mereka berdua. Maka akhirnya Joohyun meletakkan potongan kuenya yang tinggal setengah.

Ditatapnya Taekwoon yang baru saja menelan potongan terakhir dan mengusap krim di tepian bibir. “Taekwoon,” panggil Joohyun membuat Taekwoon menoleh dengan pandangan bertanya-tanya.

Sekarang waktunya’.

Joohyun meraih pundak Taekwoon seraya berjinjit. Matanya terpejam secara paksa dan wajahnya condong ke depan. Namun sayang, usaha Joohyun sia-sia lantaran tingginya hanya mencapai dagu Taekwoon. Joohyun mengutuk stiletto-nya yang teronggok di depan pintu.

Hening sejenak. Tidak ada yang bergerak antara Joohyun yang mematung di posisinya—terlampau malu untuk mundur—dan Taekwoon yang baru menyadari apa yang akan Joohyun lakukan. Sepersekian sekon berikutnya, Taekwoon pun melangkah mundur seraya menangkup wajahnya yang memerah. Joohyun kembali bertumpu di kakinya dan mengerjap salah tingkah. Tangan Joohyun yang mengambang di udara, secara perlahan bergerak menutup wajahnya sendiri.

“Jo-joohyun…k-kau ma-mauu…ap-apa?” Kondisi Taekwoon benar-benar parah. Pria itu tergagap dengan wajah yang (meski tertangkup tangan) memerah dari leher sampai daun telinga.

“Maaf, Taekwoon. Aku hanya ingin berterima kasih dengan…” Joohyun menggantung ucapannya. “Dengan…dengan ci-cium…” lanjutnya dengan suara nyaris tak terdengar.

“Dengan apa?” Tanpa sadar Taekwoon mendekatkan wajahnya demi mendengar jelas suara Joohyun. Joohyun pun refleks menurunkan tangannya dan bersitatap dengan Taekwoon.

“Aku ingin berterima kasih dengan menciummu!” ujar Joohyun berterus terang dengan mata terpejam rapat. Wajahnya merona lucu dan bibirnya digigit kuat-kuat. Melihatnya Taekwoon malah tertawa. Rasa gugupnya karena aksi Joohyun yang tiba-tiba lenyap sudah. Buat Joohyun serta-merta membuka mata.

“Kok, malah tertawa?” protesnya dengan bibir mengerucut. Padahal Joohyun merasa malu setengah mati tadi, tapi Taekwoon malah menertawakannya.

Menyudahi tawa, Taekwoon mengusap puncak kepala Joohyun. “Kau tidak perlu memaksakan diri, Joohyun,” katanya sambil memandang Joohyun lembut. ‘Aku tidak mau mengatakan ini tapi…menunggu sedikit lagi sepertinya tidak apa’.

“Aku tidak memaksakan diri, Taekwoon!” tegas Joohyun. Buat Taekwoon sedikit membelalak. Lantas Joohyun kembali berujar sambil memilin ujung surai cokelatnya. “Kita sudah menikah lebih dari tiga bulan, tapi aku merasa…aku merasa tidak ada kemajuan yang berarti dalam pernikahan kita—aku tahu ini semua karena aku—tapi…”

“Kalau begitu biarkan aku yang memulai,” sela Taekwoon.

“Eh?”

“Kau tidak perlu datang padaku. Biar aku yang mendekat satu langkah padamu.”

Belum sempat Joohyun mencerna perkataan Taekwoon baik-baik, pria itu telah merendahkan tubuhnya seakan Joohyun setinggi kurcaci. Dalam hitungan beberapa mili-sekon, bibirnya telah menyatu dengan milik Joohyun. Buat dwimanik karamel Joohyun membelalak, merasakan sentuhan lembut bibir Taekwoon di bibirnya. Sentuhan yang untuk pertama kali dirasakannya (Joohyun menyebutnya demikian karena—meski ia dan Taekwoon pernah berciuman, tapi bibir mereka tidak menempel, sedangkan yang kali ini menempel). Sedetik kemudian Joohyun memejamkan mata, membalas lumatan suaminya.

‘Terima kasih, Suamiku’.

***

“Memangnya mereka pergi ke mana?!”

Ini adalah hari Sabtu, dan suara Tuan Bae telah memenuhi penjuru rumah. Pria paruh baya itu tampak kesal dan mengurut pelipisnya. Bahkan buku tebal bertema politik kesukaanya sudah tidak lagi menarik minatnya. Karena kegiatan akhir pekannya untuk membaca buku telah terinterupsi sepasang suami istri yang datang membawa bayinya, dan pergi tanpa membawanya kembali setelahnya.

Aigo, jangan berteriak seperti itu! Ingat di sini ada Miki!” protes Nyonya Bae dengan Miki di pangkuan. Tuan Bae mendengus.

“Tapi apa yang dilakukan bocah-bocah itu? Pergi dan meninggalkan bayinya di sini. Memangnya ini tempat penitipan bayi? “

“Sudahlah, mereka itu pasti lelah karena sibuk bekerja. Mereka butuh satu hari untuk beristirahat. Lagipula aku juga sudah rindu pada Miki.” Nyonya Bae menyejajarkan pipi tembam Miki dengan wajah awet mudanya. Membuat Tuan Bae mendengus lagi.

“Huh, dia bahkan bukan cu—”

“—Aboeji.” Sela Nyonya Bae mengingatkan suaminya. “Jangan bicara seperti itu lagi. Joohyun pasti akan sedih. Ingat, Mikilah yang membuat Joohyun kembali seperti dulu.”

“Iya, maafkan aku.” Memang tidak ada yang bisa membuat Bae Byunhee diam kalau bukan Nyonya Bae. Bae Byunhee pun berhenti mengungkit-ungkit perihal Miki dan mengambil buku tebalnya.

“Tapi kurasa tidak juga. Pemuda itu. Pemuda itu yang membuatnya berubah.”

“Iya, dia pemuda yang baik,” sahut Nyonya Bae sambil tersenyum mengingat bagaimana pemuda Jung itu memohon padanya.

“Sejak kemarin kulihat Joohyun tidak bersemangat. Rencananya aku ingin mengajaknya jalan-jalan. Tapi aku sadar, kalau membawa Miki fokusku pasti akan terus pada Miki. Jadi kalau Eomonim tidak keberatan, aku ingin menitipkan Miki di sini. Sampai jam lima saja. “

Lamunannya buyar saat tangan mungil Miki menarik-narik kancing bajunya. “Omo, Miki-ya, apa kau lapar?”

“Ooh!” Miki mengangguk riang seakan ia mengerti perkataan neneknya.
“Kalau begitu Halmeoni buatkan makanan dulu. Kau di sini bersama Haraboeji, ya?” Diletakkannya Miki pada baby high chair di sebelah Tuan Bae. Setelah Nyonya Bae pergi, Tuan Bae dan Miki pun diliput keheningan. Tuan Bae sibuk pada bacaannya dan Miki sibuk menggoyang mainan di meja high chair-nya. Bosan, Tuan Bae mengganti channel televise ke siaran sepak bola. Sebentar lagi piala dunia, dan pertadingan bola itu riuh dihiasi dengan suara terompet.

Hehehegheheheg

Tuan Bae mengalihkan perhatiannya pada Miki di sebelahnya. Ia mulai mengamati Miki. Setiap terompet berbunyi, Miki akan tertawa riang. Saking riangnya, kakinya juga ikut menendang-nendang. Lama-kelamaan muncul rasa senang mendengar tawa Miki yang lucu itu.

“Kau suka bola, eoh? “

***

Taekwoon memarkirkan mobilnya di salah satu lahan parkir, sebuah Mall di kawasan Gangnam. Joohyung yang duduk di sebelahnya melepas sabuk pengaman dengan ragu, dan berakhir menoleh pada Taekwoon yang masih terdiam di balik kemudi.

“Kau yakin ini tidak apa-apa?” ucapnya khawatir. Berikan senyum, Taekwoon membalas. “Tenang saja. Kau dengar sendiri ‘kan apa perkataan Eommamu. “

“Tapi, Aboeji ‘kan—”

“Sudah, tidak usah dipikirkan. Yang penting kita mendapatkan setengah hari tanpa Miki. Kau harus menikmatinya selagi bisa. Ayo, filmnya akan dimulai!” Taekwoon bergegas keluar dan berjalan memutari mobil guna membukakan pintu, tepat saat Joohyun selesai melepas sabuk pengamannya. Ulurkan tangan, Joohyun menatap Taekwoon canggung. Ayolah, ini semua karena mereka tidak biasa seperti ini. Bukan karena tidak bisa, tapi karena mereka tidak pernah mencoba. Dan sekarang Joohyun berniat untuk membiasakannya. Membiarkan tangan mungilnya tenggelam di dalam kepalan tangan Taekwoon, biar Taekwoon ambil alih perannya sebagai suami yang menuntun Joohyun di acara kencan hari ini.

Well, perayaan 100 hari pernikahan mereka tidak berakhir hanya dengan seloyang kue red velvet, tapi juga sebuah acara kencan pada hari Sabtu. Taekwoon memanfaatkan momen ini sebagai pelepas rasa lelah setelah lima hari dalam seminggu dihabiskan dengan bekerja. Bahkan ia sampai menitipkan Miki ke kediaman Bae.

Karena ini hari akhir pekan, Bioskop sangat ramai dan mereka kehabisan tiket film yang ingin mereka tonton. Dan mereka juga harus kembali tepat pukul lima sore—seperti yang Taekwoon janjikan pada Nyonya Bae—sehingga mereka tidak mungkin mengambil di jam lain. Terpaksa mereka memilih satu-satunya film yang masih tersedia dua slot di jam tersebut. Sayangnya Joohyun terlihat tidak senang karena yang disebut ‘satu-satunya film’ itu bergenre horor. Sejujurnya Joohyun lebih memilih menonton film genre melodrama dibanding horor, karena ia itu; 1) penakut, 2) mudah terkejut. Dan genre horor menyajikan kombinasi manis dari dua hal barusan. Joohyun bisa saja menolak tapi ia tidak mau mengecewakan Taekwoon. Bagaimanapun ini adalah kencan pertama mereka.

Joohyun tidak tahu sampai kapan ia harus menahan rasa takutnya. Bahkan kakinya sudah bergetar hanya dengan melihat cuplikan-cuplikan film selanjutnya yang rata-rata bergenre horor. Dan benar saja, saat film baru lima menit diputar, Joohyun tidak bisa menutupi rasa takutnya dan refleks menutup wajahnya di pundak Taekwoon. Salahkan si sosok wanita bergaun putih yang menunjukkan batang hidungnya di detik-detik pertama. Sukses membuat Joohyun tidak bisa lagi menikmati filmnya. Tanpa sadar Joohyun mencengkeram lengan kemeja Taekwoon erat seiring background music yang mengiringi semakin keras. Taekwoon tersenyum dan membiarkan istrinya itu bersandar padanya. Malah kini lengan Taekwoon beralih ke belakang tubuh Joohyun dan merengkuhnya.

Joohyun tahu kalau hantunya sudah tidak ada, tetapi posisi ini terlalu nyaman untuknya.

***

Aboeji maaf kami ter—”

“Kalian sudah pulang? Ayo kita makan malam bersama!”

Joohyun maupun Taekwoon tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Baru saja mereka disambut dengan Tuan Bae yang sedang menggendong Miki! Oh, mimpi apa mereka semalam? Lagi pula, Tuan Bae juga menyambut mereka dengan senyum sumringah. Padahal mereka sampai di depan kediaman Bae pukul setengah enam, terlambat tiga puluh menit dari waktu perjanjian—sampai-sampai mereka lebih dulu membeli sup iga kesukaan Tuan Bae sebelum pulang. Akhirnya baik Taekwoon maupun Joohyun, tidak ada yang berani berkomentar mumpung Tuan Bae dalam suasana hati yang baik.

Sampai mereka menikmati masakan Nyonya Bae—yang sangat Joohyun rindukan—di meja makan, belum ada yang bersuara atau sekedar menanyai kencan mereka hari ini. Hingga akhirnya Tuan Bae menghabiskan sup iganya dan bersuara.

“Joohyun, Taekwoon. “

“Iya, Aboeji,” sahut keduanya besamaan, mendadak tegang.

“Mulai sekarang, kalian harus membawa Miki ke sini setiap Sabtu.”

Yeh?” sahut keduanya lagi-lagi bersamaan.

Kontan membuat Nyonya Bae tertawa. “Kalian tidak tahu, sepanjang hari ini Aboeji bermain dengan Miki. Lihat! Dia bahkan terus menggendong Miki sejak tadi,” ujarnya di sela-selanya menyuapi bubur kaldu pada Miki yang duduk manis di pangkuan Tuan Bae

“Oh iya, mereka juga menonton pertandingan bola bersama. Tak disangka Miki menuruni kesukaan Haraboejinya.” Tuan Bae tersenyum bangga atas perkataan istrinya.

“Tentu saja. Iya ‘kan, Miki? Jagoan Haraboeji.”

Joohyun hampir saja menumpahkan sup di mulutnya kalau ia tidak tahu yang namanya sopan santun dalam makan. Tak jauh berbeda, tangan Taekwoon yang menyumpit tofu masih mengambang di udara, tidak sanggup meneruskan perjalanan ke rongga mulutnya. Alih-alih, Tuan Bae malah melirik jenaka pada keduanya.

“Bagaimana? Dengan begitu kalian jadi punya waktu senggang dan bisa secepatnya memberi Miki adik ‘kan?”

Sontak saja Joohyun tersedak.

Aboeji!” Kali ini Joohyun tidak bisa menahan percikan sup iga dari mulutnya.

“Kenapa? Kalian sudah tiga bulan menikah.”

“Miki masih kecil, Aboeji,” jawab Taekwoon sambil tersenyum kecil.

***

Joohyun dan Taekwoon pulang ke apartemen mereka hanya berdua karena gagal membawa pulang Miki. Tampaknya Tuan Bae masih belum puas menghabiskan waktu setengah hari bersama Miki sehingga menyuruh mereka menjemput bayinya keesokan hari. Awalnya mereka hanya naik ke kamar, mandi, dan mengganti baju seperti biasa. Namun saat Joohyun selesai memotong buah-buahan dan membawanya ke sofa, sebagai camilan sambil menonton televisi, ia baru menyadari—

“Joohyun, di mana handuk kecil yang berwarna biru?”

—kalau ia hanya berdua dengan Taekwoon malam ini. Serta-merta atmosfir canggung mulai mendera keduanya. Joohyun meletakkan mangkuk buahnya ke atas meja dan berjalan menuju mesin pengering di sudut dapur. Lantas kembali lagi untuk memberikannya pada Taekwoon. Sepertinya Taekwoon belum mengeringkan rambutnya karena dapat Joohyun lihat tetesan air yang turun sampai ke dagu pria itu.

“Kau keramas malam-malam?”

Taekwoon mengangguk kecil sambil mengusak surai legamnya. “Iya, aku merasa gerah.”

“Rambutnya harus dikeringkan, kalau tidak nanti kau masuk angin.” Joohyun baru saja akan berjalan menuju tangga, saat Taekwoon mencegahnya. “Tidak apa, Joohyun. Aku juga kurang suka memakai pengering rambut.” Joohyun mengangguk dan kembali duduk di sofa. Tanpa sadar, tangannya turun mengelusi betisnya yang sakit karena terlalu lama saat mengantri di Bioskop, siang tadi.

“Ada apa dengan kakimu?”

“Ah, tidak. Hanya sedikit pegal.”

Tanpa bicara lagi, Taekwoon segera berjalan ke dapur dan kembali dengan spray penghilang rasa pegal yang diambilnya dari kotak P3K. Mendudukkan diri di sebelah Joohyun, Taekwoon menyemprotkan spray itu pada kaki Joohyun. Lantas Taekwoon menawarkan diri untuk memijat kaki Joohyun. Awalnya Joohyun menolak tapi Taekwoon sudah lebih dulu mengangkat kaki Joohyun ke pangkuannya. Rasanya aneh memang, karena mereka—lagi-lagi—tidak pernah seperti ini sebelumnya. Mereka menonton TV dengan tenang dan kemudian Joohyun menawarkan potongan buah pada Taekwoon. Karena tangan Taekwoon sedang sibuk memijatnya, Joohyun berinsiatif menyuapkannya. Saat setitik biji semangka menempel di tepian bibir Taekwoon, Joohyun tanpa sadar bergerak maju dan mengambilnya. Kontan membuat Taekwoon terdiam, dan Joohyun baru menyadari betapa minimnya jarak di antara mereka sekarang. Kalau seperti ini, Joohyun jadi teringat kejadian tempo hari. Saat akhirnya ia dan Taekwoon berciuman untuk pertama kali. Setelah itu tidak ada yang terjadi, hanya ada wajah mereka yang memerah saat pagutan telepas. Dan keduanya tertidur dengan lelap karena kelelahan.

“Kau tidak perlu datang padaku. Biar aku yang mendekat satu langkah padamu”, kata-kata Taekwoon semalam kembali terngiang di telinga Joohyun.  

Satu langkah telah Taekwoon ambil semalam. Menaiki anak-anak tangga yang semula terbentang di antara keduanya. Taekwoon bilang Joohyun tidak perlu datang. Apa itu artinya Taekwoon…

“Taekwoon, bisakah kau katakan padaku kalau kau mencintaiku?” tahu-tahu kalimat itu meluncur dari bibir Joohyun. Disertai manik matanya yang terkunci, terperangkap dalam tatap Taekwoon entah sejak kapan. Butuh beberapa menit Joohyun menunggu dengan debaran-debaran aneh di jantungnya, hingga akhirnya Taekwoon bersuara.

“Bisa.” Taekwoon menangkup sebagian wajahnya yang memerah. “Tapi aku tidak janji akan mengatakannya setiap hari.”

Joohyun terdiam dengan sepasang manik karamelnya yang menatap lurus pada iris Taekwoon—menunggu. Mungkin sebuah ikrar baru saja tercipta hari ini.

“Aku mencintaimu.”

Sekonyong-konyong sebuah kurva merekah di wajah cantik Joohyun mendengar suara lirih Taekwoon barusan. Ikrar bahwa di dalam hati keduanya, sebuah rasa telah tercipta. Tumbuh menjadi raksasa dari masa ke masa. Hingga akhirnya rasa memiliki mulai menguasai.

“Aku juga mencintaimu.” Mereka, dua insan yang saling jatuh cinta di dalam ikatan.

Taekwoon tidak kuasa. Ia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Joohyun. Buat Joohyun terkesiap. Namun kemudian Taekwoon tersadar dan melepas ciumannya.

“Ma-maafkan aku Joohyun. Tadi aku—“

Ucapan Taekwoon tak selesai karena Joohyun telah lebih dulu mengalungkan kedua lengannya di tengkuk Taekwoon dan mengecup bibir Taekwoon singkat.

“Tidak apa, Taekwoon-a. Kalau sekarang aku sudah siap.” Senyum manisnya ia bagi.

Taekwoon balas tersenyum lalu memajukan wajahnya lagi—kali ini tanpa ragu atau sesal yang mengiringi, memagut mesra bibir mungil Joohyun. Menyalurkan kehangatan serta sengatan-sengatan kecil yang menggelitik neuron-neuronnya. Taekwoon baru saja melepas pagutan mereka saat Joohyun mengangkat kedua tangannya ke depan wajah Taekwoon.

“Apa?”

Joohyun memutar bola matanya dan berujar pelan. “Aku pernah melihatnya di film-film romansa, kau tahu, saat si pria menggendong wanitanya…um…dan sudah lama aku ingin mencobanya…”

Paham, Taekwoon segera bangkit dan merendahkan tubuh demi mengangkat tubuh kecil Joohyun. Istrinya tersenyum sumringah kala Taekwoon menegakkan tubuh dengan ia yang berada di gendongan. Taekwoon mengangkatnya dengan mudah seakan Joohyun hanya seringan bulu.

“Tenang saja, aku sudah diet untukmu, Taekwoon-a.”

“Aku baru tahu kalau setengah loyang red velvet, sepotong steak tenderloin, dan semangkuk sup iga adalah makanan orang diet.”

Ya!” Taekwoon terbahak. “Aku memang kelewatan saat menghabiskan setengah loyang kuenya, tapi…um, aku tidak berat ‘kan? Aduh, jangan-jangan aku naik berat badan,” celoteh Joohyun.

“Berterima kasihlah karena kau punya suami yang kuat.” Joohyun hendak membuka mulut lagi saat Taekwoon sudah lebih dulu membungkamnya. Menciumnya seraya Taekwoon menggendong Joohyun menuju kamar mereka.

Sepertinya mereka akan mengikuti saran Tuan Bae malam ini.

TBC

1459320993358

tyavi‘s little note: Uwaaahhh akhirnya full skinship Leorene >.<

Sebenernya kalo diitung2 mereka udah nikah selama setahun karena aku baru sadar series Accidentally Family udah lebih dari setahun saudara-saudara lol XD

Berilah tyavi gelar author series termolor /ga/

AF ini series pertamaku, tapi Mr.Chu (yang notabene muncul setelahnya) malah udah kelar dari lama T^T

Yah, doakan saja tyavi selalu diberi kesehatan dan perncerahan yang berlimpah untuk meneruskan series ini sampai tuntas.

Untuk yang sudah membaca dan (semoga berkenan) meninggalkan jejak, Thankchu~~~~

Iklan

4 thoughts on “Accidentally Family (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s