KisSin (Chapter 2)

wp-1468430165537.jpeg

 

KisSin

|JeongIn|

starring:

BTS Jungkook, Lovelyz Yein,

and other mr.chu squad

Romance, Fluff, School life, Hurt/Comfort | Chaptered | PG-17 (for kissing)

previous :

1

Soundtrack :

Lovelyz – Hug Me

Disclaimer : Terinspirasi dari manga berjudul “Sinful Love” karya Yoshinaga Yuu, lirik lagu Love – Keyshia Cole dan Lee Hi – Fool For Love. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Summary :

“If you want me to stay quiet, then have an affair with me too.”

.

.

.

Chapter 2

Ducati Jungkook melaju cepat membelah jalanan bersama kendaraan lainnya. Pemuda Jeon itu masih terus menaikkan speedometer-nya kendati seorang gadis yang duduk manis di jok belakang telah memeluk erat pinggangnya—lantaran tak mau mati konyol karena terjatuh dari motor besar si pemuda. Barulah saat Jungkook menghentikan kendaraannya di depan sebuah rumah bertipe minimalis, Yein dapat menggapai oksigen dengan lega. Lekas ia melepas tangannya yang melingkari pinggang Jungkook sebelum pemuda itu mendengar detak jantungnya lebih jelas. Ugh, jantung Yein memang bergerak abnormal, tapi bukan karena ini pertama kalinya ia memeluk Jeon Jungkook, melainkan cara berkendara pemuda itu yang rasa-rasanya ingin mengantar Yein ke surga dibanding ke rumahnya. Ah, kenapa pula Yein menyinggung perihal surga. Padahal sudah jelas pendosa sepertinya pasti masuk neraka.

“Jung Yein?”

Suara berat Jungkook tiba-tiba saja terkontaminasi ke dalam perdebatan antara surga dan neraka di benak Yein. Mengembalikan nalar gadis itu. Buat ia membelalakkan mata lantaran paras Jungkook—yang menoleh ke belakang—berjarak sepuluh senti dari wajahnya.

“I-iya?”

“Kau tidak mau turun?” tanya Jungkook lagi dengan raut datar. Helm hitam yang melindungi kepalanya belum juga ia lepaskan, sama halnya seperti Yein. Sebelum mengangkat bokongnya dari boncengan Jungkook, dwimanik Yein terlebih dulu mengobservasi lingkungan sekelilingnya seakan ia adalah pendatang baru. Dan pemandangan di hadapannya benar-benar lingkungan komplek rumahnya, pun dengan rumah bercat krem di mana Jungkook menghentikan Ducatinya saat ini adalah rumah Yein. Yah, memang sih Yein memberitahu Jungkook alamat lengkapnya saat pemuda itu menanyai di mana rumah Yein. Tapi ia tidak memberitahu sampai ke warna rumahnya, omong-omong.

Menjejakkan kakinya, Yein bergerak melepas helm putih yang Jungkook pinjamkan padanya. Menyerahkannya pada si empunya seraya menelisik wajah Jungkook dengan seksama. Setelah menerima operan helm dari tangan Yein, Jungkook pun melakukan hal yang sama; melepaskan helmnya, lantas menyugar surai hitamnya sebentar. Belum melabuhkan pandangan pada Yein yang menatapnya penasaran.

‘Bagaimana Jungkook Sunbae bisa tahu persis rumahku?’

“Kau saudara kembar Chanwoo ‘kan?” Jungkook menjawab seakan dapat membaca isi pikiran Yein. Menelengkan kepala seraya memeta kurva di paras tampannya. Yein meneguk ludah sebentar dan mengedipkan matanya beberapa kali. Siapa tahu kepalanya masih pusing sehabis diajak ngebut hingga Jungkook bisa terlihat setampan ini.

“Bagaimana Sunb—”

“—sepertinya aku harus pulang sekarang.” Jungkook menelisik sekilas jam yang melingkari pergelangan tangannya. Kemudian menangkup kepala Yein dan mendaratkan satu kecupan di dahinya. “Sebentar lagi Chanwoo pulang ‘kan?” Yein hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Masih terkejut atas perlakuan Jungkook barusan.

“Nah, kutinggal, ya.” Ia tersenyum lagi, selepas itu kembali mengenakan helmnya. Yein masih setia mengamati pergerakan Jungkook dalam diam sampai pemuda itu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Yein.

“Mulai sekarang akan kuantar kau setiap pulang sekolah.”

 

***

Berkutat dengan soal fisika di meja belajar selama dua jam, cukup untuk membuat punggung Yein terasa pegal. Pun kini kerongkongannya terasa kering lantaran tak menyanding minum sedari tadi. Sampai sekarang Yein tidak mengerti kenapa ia selalu lupa waktu jika sedang belajar. Pantas saja banyak hal-hal yang telah Yein lewatkan dalam hidupnya.

Maka akhirnya, Yein melangkah keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju dapur. Mendapati Joohyun yang sedang mondar-mandir sibuk mengemas aneka makanan yang telah dibuatnya ke dalam kotak makan susun empat. Yein yang telah menuntaskan dahaganya, memintal langkah menghampiri Chanwoo yang sedang menonton televisi, memilih untuk tidak mengganggu Joohyun.

“Kenapa Eomma buru-buru?” tanyanya setelah memposisikan diri di atas sofa. Lantas mengamit sejumput kripik kentang Chanwoo, membuat pemuda itu menoleh padanya dengan tatapan memincing. “Appa akan datang.”

“Thea?” Yein mencomot kripik kentang Chanwoo lagi.

“Tentu saja bersama Eomma di sana,” jawab si pemuda tembam seraya menjauhkan kantung kripik kentangnya. Yein menghela napas.

Beginilah keluarga di mana Jung Yein tumbuh. Terpecah belah. Orangtuanya bercerai saat Yein masih berumur dua belas tahun. Meski Chanwoo masih kelas enam Sekolah Dasar, namun ia memilih ikut Joohyun karena tidak terdapat sosok lelaki di dalam keluarga—yang terdiri dari Chanwoo, Yein, dan Joohyun. Sedangkan Jung Althea, adik perempuannya, tinggal bersama Taekwoon. Kendati demikian, Yein masih memiliki hubungan baik dengan kedua belah pihak. Sebulan sekali Taekwoon akan menginap di rumah selama beberapa hari, bergantian dengan Joohyun yang sebaliknya bertandang ke kediaman Jung. Yein tahu kalau kedua orangtuanya tidak akan pernah rujuk kembali. Terlihat dari bagaimana Bae Joohyun—Eommanya—selalu pergi satu jam sebelum Jung Taekwoon—Appanya—datang. Polah mereka seakan tidak ingin bertatap muka satu sama lain.

“Aku kangen Thea,” Yein berujar lirih. Benaknya melayang pada sosok gadis manis yang satu tahun lebih muda darinya itu.

“Kau pikir aku tidak?” Chanwoo mengulurkan sebelah lengannya ke belakang tubuh Yein dan merangkulnya lembut. “ Mengertilah, Yein-a. Sudah dua hari Eomma menangis di kamar karena merindukan Althea.”

 

***

 

Pagi hari Yein berjalan seperti biasa; ia berangkat bersama Chanwoo menggunakan motor dan sampai pada pukul tujuh pagi. Kecuali jika kalian bertanya menu sarapan apa yang dimakannya pagi ini. Tidak ada kimbap atau roti bakar isi telur di meja makan, melainkan sepiring pasta saus tomat yang dibuat Appanya pagi-pagi. Ya, Jung Taekwoon sudah sampai pukul enam sore kemarin. Yein sangat merindukan Appanya, pun hidangan andalannya—pasta. Namun, tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan betapa lezatnya masakan Joohyun. Yein jadi sedih. Thea pasti sangat merindukan masakan Eommanya itu. Makanya tidak heran jika Joohyun selalu memasak banyak sebelum berangkat ke rumah Taekwoon.

‘Akan sangat menyenangkan kalau keluarga kita utuh lagi…’

Seraya merajut langkah gontai menuju kelas, benak Yein melayang pada momen-momen kebersamaan mereka dulu. Saat ia dan Chanwoo bermain dengan Thea kecil di taman belakang rumahnya. Ah, Yein juga rindu dengan rumah yang sekarang hanya dihuni Taekwoon dan Thea. Hampir separuh hidupnya Yein habiskan di rumah bernuansa putih itu. Yein bahkan masih ingat warna gorden di lantai dua dan jenis bunga apa yang ditanam Joohyun di taman belakang.

Padahal hal ini sudah sering terjadi—bertukar posisinya Joohyun dan Taekwoon sebulan sekali—namun entah kenapa Yein jadi melankolis sekali hari ini. Untungnya suasana gaduh mengambil alih perhatian gadis Jung itu saat ia memasuki kelas.

Ah, rupanya Lee Halla sumber kericuhan di pagi hari. Si gadis populer itu mendapat giliran mengambil data di ruang BP hari ini. Dan alih-alih melaksanakan tugasnya, Halla malah menyuruh Dongyeol yang dengan senang hati akan menggantikannya. Tentu saja, kapan lagi seorang Lee Halla berbicara dengannya.

“Lee Halla, kerjakan tugasmu sendiri. Jangan selalu menyuruh orang lain.” Tiba-tiba terdengar seruan dari seorang lelaki kaukasian yang berdiri di depan kelas. Melempar tatap tajam pada Halla yang berdiri di hadapan pemuda jangkung yang sedang dibujuknya.

“Semuanya, kerjakan tugas kalian. Jangan ada yang membantu Halla.” Lelaki bernama lengkap Hansol Vernon Chwe itu memintal langkah menuju mejanya seakan tidak terjadi apa-apa. Meninggalkan Halla berdiri sendirian karena Dongyeol telah kembali duduk di bangkunya. Vernon memang selalu sukses menertibkan suasana kelas.

Ugh, dasar lelaki tidak berperasaan!”

Gadis bersurai legam itu melenggang keluar kelas dengan langkah dihentak-hentakkan keras—terlampau kesal.

“Aku heran, Vernon dan Halla selalu tidak akur.” Yeeun yang semula menghadap ke belakang—memerhatikan insiden barusan—kembali memutar tubuh dan memulai percakapan. Buat Shannon dan Yein yang baru saja duduk, mengangguk mengiyakan.

“Vernon itu tidak seperti siswa lainnya yang tergila-gila pada Halla—sehingga dengan bodohnya mau saja disuruh ini itu. Mungkin itu sebabnya Vernon menjadi ketua kelas, karena hanya dia yang bisa mengatur seorang Lee Halla,” jelas Shannon.

“Atau jangan-jangan dia tidak tertarik pada wanita?”

“Hush! Kau tidak boleh bicara seperti itu, Jang Yeeun.” Yeeun malah tertawa. Kini fokusnya beralih pada Yein yang terdiam. Tidak ikut menimpali konversasi seputar Halla dan Vernon. “Yein-a, nanti siang makan ramyun, yuk!” ajaknya yang langsung ditanggapi seulas senyum oleh Yein.

“Maaf, aku tidak bisa.”

“Kau mau ke mana, Yein-a?” Kali ini Shannon yang bertanya. Namun alih-alih, Yein malah mendekatkan bibirnya ke telinga Shannon. Hendak membisikkan sesuatu.

“Makan siang bersama Chanwoo.”

“Huh, dasar tukang pamer. Pergi sana!” Sukses memancing emosi Shannon yang kini memberenggut sebal. Membuat Yeeun lagi-lagi tertawa, tapi kali ini karena tingkah dua sahabatnya.

Ya, Shannon Williams! Masa’ kau cemburu dengan kembarannya Chanwoo?”

 

***

 

Tidak seperti jam makan siang sebelum-sebelumnya—setelah resmi menyandang status selingkuhan Jungkook—kali ini Yein habiskan bersama Chanwoo. Entah, mungkin Yein sedang merindukan keluarganya sehingga ia memutuskan untuk makan siang bersama saudara kembarnya itu. Sebelumnya ia juga sudah mengirimkan pesan singkat pada Jungkook yang mengatakan kalau pemuda itu tidak perlu menunggunya di atap sekolah.

“Oi, Nona Jung. Kenapa cemberut begitu? Kau semakin jelek, tahu!” Chanwoo berujar dengan mulut penuh terisi bibimbap. Yein mendengus. “Memangnya kau pernah memuji cantik, eoh?”

“Nah, itu kau tahu.”

“Pergi saja kau sana!”

“Nanti kau merengek karena tidak mau pulang sendirian.”

“Jangan main basket terus. Pantas saja kau tidak punya-punya pacar.”

“Iya, iya, cerewet.” Chanwoo menelan seluruh makanan yang berada di mulutnya. “Kalau begitu aku juga tidak pulang denganmu,” ia menambahkan.

Kontan membuat Yein menghentikkan pergerakan sendok—yang digenggam—nya menuju mulut. “Eh? Kok begitu?”

“Iyalah, aku pulang dengan Shannon.”

“Ish, menyebalkan. Yasudah sana!”

“Wah, wah, sepertinya saudari kembarku ini lebih suka pulang menggunakan bis daripada bersamaku.”

Yein hanya mendengus menanggapi perkataan Chanwoo. Oh, dia bisa berbangga hati sekarang. Tak lagi deh Yein memberenggut kesal karena harus pulang sendiri lantaran Chanwoo sibuk ikut klub basket. Karena kini Yein sudah memiliki Jungkook yang akan mengantarkannya pulang setiap hari. Meski harus menunggu selama sepuluh menit, Yein tidak masalah asalkan ia tidak perlu pulang sendirian. Bagai menyelam sambil minum air, Yein juga bisa membantu Shannon dan Chanwoo menjadi lebih dekat. Ia tahu selama ini saudara kembarnya itu tidak bisa leluasa mendekati Shannon lantaran harus menjaga Yein. Well, Yein sudah bisa menjaga dirinya sendiri sekarang.

Maka disinilah Yein sekarang, terduduk di kelas yang sepi sembari menatap layar ponselnya yang belum memunculkan satu pesan pun dari si lelaki Jung. Aneh, padahal waktu sudah bergulir sebelas menit. Lewat satu menit dari awal perjanjian. Yah, Yein baru sekali janjian dengan Jungkook sih. Kemarin waktunya juga terlewat lima menit dan Yein bertemu dengan Jungkook di halte bis. Tapi ia kira pemuda itu akan lebih dulu mengirim pesan sebelum menjemput.

Tapi, tunggu.

Tadi Lee Halla kira-kira pulang dengan siapa? Seharian ini Yein tidak bertemu dengan Jungkook, pun pemuda itu tak membalas pesan singkatnya. Dan gadis Lee itu menghilang setelah perdebatannya dengan Vernon pagi tadi. Jangan-jangan mereka pergi berdua. Sepasang kekasih wajar saja ‘kan kalau pergi berkencan sepulang sekolah?

Ah, apa sih yang Yein lakukan di sini? Bodoh sekali ia percaya dengan kata-kata Jungkook. Padahal sudah jelas kalau ia hanya selingkuhan. Status yang mengindikasikan kalau Yein hanyalah kedua, atau ketiga, ah mungkin juga kesekian setelah Halla di hati Jeon Jungkook.

Maka akhirnya Yein putuskan untuk melangkah keluar dari kelas. Berjalan gontai menyusuri lorong kelas dua menuju tangga. Ini aneh. Rasanya lorong lebih sepi dari hari-hari sebelumnya. Buat Yein menjadi was-was kalau tiba-tiba—

“Sssttt…sssstttt…”

—terdengar suara aneh.

Yein berjengit. Ia merotasikan kedua bola matanya kembali, siapa tahu menemukan sosok, ralat, manusia dibalik suara barusan. Tapi nihil. Di sini benar-benar sepi. Alhasil kini Yein memacu langkahnya menuruni tangga saat suara serupa justru terdengar semakin kentara.

“Sssttt…sssstttt…”

‘Acuhkan saja, Jung Yein! Acuhkan…acuhkan…’

Dan tiba-tiba saja sesosok kepala terjulur dari atas tangga.

Aigo, kapjagiya![1]” Dwimanik Yein sempurna membulat. Namun tak bertahan lama kala ia mengenali siapa si empunya kepala. “Sunbae sedang apa di sana?!”

Masih menjulurkan kepalanya dari tangga di lantai tiga, Jungkook tersenyum seraya menjawab, “Menunggumu.”

“Hah? Tapi kukira Sunbae sudah pulang…” Konversasi antar lantai itu masih berlanjut.

“Ponselku lowbatt, Yein-a. Tidak mungkin ‘kan aku pinjam ponsel Junhoe untuk mengirimimu pesan?”

Koo Junhoe? Koo Junhoe teman dekat Shannon? Ugh, kalau pemuda itu sampai tahu, itu sama saja dengan bunuh diri!’.

“Tidak, tidak, jangan!” Yein menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Nah, makanya kutunggu kau di sini,” Jungkook berujar seraya nyengir—memamerkan sepasang gigi kelincinya. Buat Yein menyadari betapa lucunya pemuda itu jika sedang tersenyum lebar. Bukan senyum tipis apalagi senyum miring yang sering Yein lihat.

“Kenapa Sunbae menungguku?” Yein bertanya seraya menaiki tangga menuju lantai tiga, mengikuti intruksi yang Jungkook berikan padanya. Lantas menyambut uluran tangan Jungkook di anak tangga teratas.

“Apa sih? Tentu saja karena aku akan mengantarmu pulang. Sudah kubilang kemarin ‘kan?”

Jungkook menuntun Yein menuju salah satu kelas kosong di wilayah kelas tiga itu. Beruntung tak terdapat cctv, pun ditambah lantai teratas lebih sepi penghuni dibanding lantai dua apalagi lantai satu.

“Lagipula aku merindukanmu, Yein-a.” Jungkook meregkuh tubuh mungil Yein selepas menutup pintu. Menenggelamkan kepalanya pada pundak Yein, memanjakan sebentar indera penciumannya dengan aroma shampoo yang menguar dari surai berkuncir Yein. Sedangkan Yein hanya dapat mematung karena kedua tangannya terkunci di depan dada Jungkook—yang memeluknya semakin erat.

Ugh, rasanya aku akan mati karena tidak melihat wajahmu seharian.”

Pipi Yein memanas mendengar kalimat cheesy barusan. Pasti sudah berwarna merah dan terlihat memalukan sekarang. Hei, apa yang terjadi pada Jungkook? Sejak tersenyum lebar di atas tangga sampai memeluknya erat, Jungkook manis sekali hari ini.

Melepas dan mendorong pelan pundak Yein menjauhinya, sampai-sampai Jungkook dapat melihat jelas rupa Yein yang sudah seperti kepiting rebus, ia berujar. “Yein-a, boleh aku menciummu?”

Dwimanik Yein membelalak. “K-kenapa… Sunbae…ber-bertanya?”

Pemuda Jeon itu membasahi sedikit bibirnya. “Um, baiklah. Kalau begitu aku tidak akan bertanya lagi.”

“Ap—”

Yein benar-benar tak berkutik kala sesuatu yang lembap itu mendarat di bibirnya. Sempurna menyatu dan mengalirkan kehangatan hingga ke kedua pipinya yang sudah seperti terbakar. Jungkook memang tidak pernah gagal mencuri seluruh pasokan udara Yein, namun kali ini pemuda itu memberikan sedikit jeda pada ciumannya sebelum kembali memonopoli kedua belah bibir peach Yein. Jungkook benar-benar ingat kalau Yein selalu kesulitan bernapas jika ia menciumnya seperti ini.

 

***

 

“Maafkan aku, Yein-a. Besok kita tidak akan bertemu dan aku ingin memonopolimu hari ini.”

Masih terngiang di telinga Yein kalimat yang Jungkook bisikkan di penghujung kecupannya. Pantas saja pemuda Jeon itu mendadak berpolah manis. Rupa-rupanya mereka tidak akan bertemu seharian ini karena pemuda itu akan mengikuti pertemuan klub pada jam makan siang dan sepulang sekolah (benar-benar tidak ada bedanya dengan Jung Chanwoo). Berlebihan sih. Tapi jujur saja, kini Yein juga merasa aneh jika tidak bertemu pemuda itu sehari saja. Hanya aneh. Ya, hanya sebatas itu. Mungkin Jungkook telah menjadi salah satu bagian penting dari keseharian Yein. Mungkin.

“Acara kumpul-kumpul?”

Yein mengerutkan keningnya saat Sujeong yang notabenenya adalah Sunbae menyambangi kelasnya pada jam makan siang. Tak hanya itu, ternyata gadis Ryu itu juga memiliki maksud lain yaitu mengajak Yein ke acara kumpul-kumpul. Acara yang hanya dihabiskan dengan berkaraoke ria sambil makan dan mengobrol-ngobrol bersama. Alasan Sujeong karena Yein belum pernah sekali pun menyanggupi undangannya.

“Ayolah, Yein-a. Jangan belajar terus,” Yeeun menimpali.

“Nikmatilah masa mudamu, Nona Jung!” Sujeong menepuk pundak Yein. “Akan ada pemuda-pemuda tampan yang menemanimu bersenang-senang,” ia menambahkan.

“Pemuda tampan? Maksudmu Junhoe dan Mingyu, Eonni?” Shannon membulatkan kedua manik belonya. “Kalau mereka sih tidak tampan, Shannon-a,” bisik Sujeong. “Kali ini ada undangan spesial!”

Sebelah alis Shannon terjungkit—ragu.

“Bukan Jung Chanwoo, kok.”

Eonni!”

 

***

Yein tidak tahu apa ia akan menyesali keputusannya untuk ikut acara yang sebenarnya hanya buang-buang waktu ini. Tapi, bukankah Yein sudah bilang kalau ia bosan dengan hidupnya yang begitu-begitu saja? Sesekali ia ingin berkumpul bersama teman dan berkaraoke sampai malam.

“Tenang saja gadis-gadis. Kali ini acara kumpul-kumpul kita tidak akan membosankan.” Mengambil alih mic, Junhoe berlagak seperti seorang MC yang sedang membuka acara. “Apalagi sekarang ada Jung Yein yang bergabung bersama kita!” Kontan Yeeun dan Shannon berteriak heboh menyambut kehadiran Yein. Gadis Jung itu hanya bisa tersenyum.

“Sudah, Shannon-a. Bikin malu saja.”

“Koo Junhoe!”

“Tidak hanya itu, kita juga kedatangan undangan spesial hari ini!” Sujeong tersenyum lebar, seakan mengiyakan perkataan Junhoe barusan. Berselang lima detik kemudian, pintu ruang karaoke yang mereka sewa terbuka. Menampilkan dua sosok pemuda jangkung yang memasuki ruangan dengan senyum yang tak juga luntur. Terlebih saat mereka disambut dengan meriah, kecuali oleh Yein.

“Ini dia, si pemuda populer, Jeon Jungkook!” Junhoe merangkul si pemuda Jeon dengan bangga. Tak ada yang menyadari wajah Yein yang sudah pucat pasi.

Bagaimana ini? Kenapa Sunbae bisa ada di sini?!’.

“Wah, kau juga datang, Jungkook-a!”

Seorang pemuda bersurai dark brown turut memasuki ruang karaoke mereka. Pemuda yang mengenakan seragam pelayan tempat karaoke itu serta-merta mengambil alih atensi seluruh penghuni ruang karaoke.

“Taehyung hyung!” Jungkook refleks memeluk pemuda bernama Taehyung itu.

Mengabaikan Junhoe dan Mingyu yang memerhatikan dengan heran. “Kalian saling mengenal?”

“Tentu saja, Jungkook ini juniorku di klub atletik saat SMP.” Taehyung merangkul Jungkook. Ekspresinya tak jauh berbeda saat Junhoe mengenalkan Jungkook beberapa waktu lalu. Semembanggakan itukah memiliki teman seperti Jungkook?

“Tuh, kan! Apa kubilang, Jungkook itu cocok bergabung dengan kita,” celetuk Mingyu. Semua bersorak senang, menyetujui perkataan Mingyu barusan saat Sujeong justru bersedekap dengan gurat-gurat kemarahan di wajahnya.

“Kenapa kalian tidak bilang kalau Kim Taehyung bekerja di sini?!” seru gadis itu seraya mengangkat bokong dengan kesal. Namun alih-alih, Taehyung malah menyengir pada Sujeong.

Annyeong, Sujeongie!”

Ugh, aku pulang saja.”

Gadis Ryu itu merajut langkah menuju pintu keluar. Hilang sudah moodnya untuk bersenang-senang lantaran kehadiran si pemuda bodoh bermarga Kim.

Tinggal tiga langkah lagi sebelum pintu keluar terjamah saat Taehyung berbisik pada Junhoe, Jungkook, dan Mingyu.

“Kalau Sujeong tetap tinggal, aku akan memberi kalian diskon tiga puluh persen.”

“RYU SUJEONG!” sontak ketiganya berseru serempak. Berdiri menghalangi akses Sujeong untuk keluar.

“Ayolah, makanan di sini enak, kok,” bujuk Jungkook.

“Kau mau nyanyi apa, Sujeong-a?” tanya Junhoe.

“Atau kau mau minum soju? Okelah, tidak ada pengecualian untuk hari ini,” Mingyu menyarankan.

“Ah, benar juga! Kalau begitu akan kuhidangkan makanan terenak dan soju untuk kalian!”

YEAYYYY!!!” Ruang satu petak itu berubah riuh seiring kepergian Taehyung. Membuat Sujeong hanya bisa menghela napas karena sudah kembali ditarik Junhoe untuk duduk. Makanan memang senjata ampuh untuk menarik perhatian.

Seperempat menit kemudian Taehyung datang. Ia tidak bohong soal membawa hidangan terenak dan soju. Karena kini meja di ruang bernomor 22 itu telah penuh terisi berbagai makanan seperti nasi kepal, pizza, ayam, kimbap, dan juga berbotol-botol soju (tolong jangan ditiru). Selanjutnya mereka larut dalam konversasi ringan sembari menyantap hidangan. Yein yang baru pertama kali ikut acara seperti ini hanya bisa mendengarkan percakapan mereka sembari menikmati nasi kepal.

“Shannon-a.

Shannon yang duduk di sebelah Yein, menoleh pada Jungkook karena Junhoe yang memanggilnya barusan duduk di sebelahnya. “Kau lihat jaketku?” pemuda Koo itu melanjutkan.

“Hah? Bukannya di stang motor—ah, June bodoh!” Shannon memincingkan mata pada Junhoe yang melupakan jaketnya yang masih berada di stang motor. Padahal ada kunci dan dompet di kantungnya. Benar-benar tipikal laki-laki—ceroboh.

Junhoe meringis kecil. “Temani aku ambil.”

“Iya, iya.” Shannon dan Junhoe pun melipir ke pinggir untuk keluar dari sofa panjang itu. Dapat Yein lihat Shannon memukul pundak Junhoe sekilas sebelum keduanya menghilang di balik pintu. Gadis itu kembali menikmati makanannya yang tinggal separuh tanpa sadar kalau tinggal ia…dan Jungkook di sofa panjang itu.

“Sujeong, ambilkan nasi kepal itu, dong!” Yein menelan makanan di mulutnya susah payah saat terdengar suara Jungkook dari sebelahnya. Dari ekor mata Yein, terlihat pemuda itu sedang menuding pada Sujeong yang duduk di depan piring berisi nasi kepal.

Ya! Kau pikir aku ini pacarmu, apa? Ambil saja sendiri!”

“Oke, akan kuambil sendiri.”

Sayangnya posisi Sujeong berseberangan dengan Yein. Jika Jungkook memajukan tubuhnya untuk mengambil nasi kepal, otomatis spasi yang terbentang di antara ia dan Yein terhapus. Dan benar saja, Yein sukses terpaku kala Jungkook memajukan tubuhnya, membuat dirinya kini berada tepat di depan wajah Yein. Kendati tangannya terulur dan kepalanya memandang lurus, jarak Jungkook terlalu dekat berdampak bahaya pada detak jantungnya. Yein masih berusaha terlihat biasa saja saat Jungkook justru berbisik padanya.

Bogoshipo[2].”

Ugh, runtuh sudah pertahanan Yein.

Beruntung Jungkook telah mendapatkan nasi kepalnya dan beralih mendudukkan diri di sebelah Yein. Meski kali ini benak Yein dipenuhi tanda tanya, ia tidak senekat itu untuk menoleh pada Jungkook. Karena Sujeong, Mingyu, dan Yeeun duduk tepat di hadapan mereka. Yein juga masih tidak berani berkutik (apalagi menjerit) saat Jungkook malah menjamah tangannya yang terbebas di bawah meja. Menyatukan kelima jemarinya dan menggenggamnya erat. Pemuda itu berdeham singkat di sela-sela kegiatannya mengunyah makanan. Tak lagi terdengar konversasi di antara Mingyu, Sujeong, dan Yeeun karena degup jantungnya sendiri telah menginvasi neuron Yein. Rasanya seperti sedang mencontek saat ulangan. Yein pernah mencobanya sekali dan ia kapok. Baru membuka sedikit kertas contekannya saja Yein sudah tidak tenang karena takut ketahuan. Seperti itulah perasaan yang Yein rasakan sekarang.

Apa yang Jungkook sunbae lakukan? Bagaimana kalau mereka melihat?!’

“Omong-omong, kau sendirian saja, Kook?” Jungkok lekas-lekas menoleh saat Mingyu melempar tanya padanya. Mungkin ketiga orang itu sadar mereka berdua hanya diam saja sehingga turut ditanya-tanya sekarang.

“Iya, juga. Mana pacarmu si gadis populer, Lee Halla?” Sujeong menambahkan. Dapat Jungkook rasakan kepalan tangan Yein menegang di genggamannya. Jungkook berdeham sekilas lalu memeta kurva di paras.

“Ayolah, untuk apa kalian menanyakan orang yang tidak ada?”

Hening sejenak, dan Jungkook harap ia tidak salah bicara.

Sepersekian sekon kemudian Yeeun berseru menyetujui perkataan Jungkook. “Benar juga! Lebih baik nikmati saja dengan yang ada!” Buat pemuda Jeon itu dapat sedikit menghela napas lega.

“Benar, Bung. Terkadang kaum lelaki butuh waktu tersendiri tanpa kekasihnya.” Mingyu mengulurkan tangan hendak ber-highfive dengan Jungkook. Namun Yeeun malah melayangkan tatapan tajam padanya.

“Oh, begitu, ya, Oppa?”

“Bukan begitu maksudku, Yeeun-a…”

Sujeong yang berada di sebelah Yeeun mengangguk-angguk sekilas. “Lagipula aku juga tidak yakin sih tipikal gadis seperti Halla mau bergabung bersama kita,” cibirnya. Dan Jungkook hanya bisa mengusap tengkuk menanggapinya. Yein bisa sedikit tersenyum sekarang. Merasa lega karena tidak ada yang curiga.

“Ah, tapi kau tidak selingkuh ‘kan, Kook?”

Sontak keduanya tersedak.

“Kau ini bicara apa, sih?!”

“Jung Yein, kenapa kau juga tersedak?” Tak abai pada protes Jungkook, Sujeong lebih tertarik pada Yein yang kini menepuk-nepuk dadanya. Kontan Jungkook melepas tautan tangan mereka dan beralibi. “Ini gara-gara kalian. Aish! Maaf aku membuatmu terkejut, Yein-ssi.”

“Ah, iya. Yein ‘kan diam saja sejak tadi,” celetuk Yeeun.

“Tegang sekali.” Mingyu berdeham karena kini semuanya terdiam. “Bagaimana kalau kita berkaraoke? Siapa yang mau bernya—”

“—aku!” Jungkook mengacungkan sebelah tangannya tinggi-tinggi. Lantas bergegas bangkit dari sofa.

“Jungkook itu suaranya bagus, Bung!” seru Mingyu berusaha meramaikan suasana.

“Jungkook sunbae mau nyanyi apa?” tanya Yeeun saat pemuda Jeon itu tengah sibuk menekan tombol di papan remote. Jungkook menoleh dan tersenyum. Ekor matanya melirik sekilas pada Yein yang juga sedang memerhatikannya sebelum berujar, “I Choose to Love You[3].”

Aigo, Jeon Jungkook. Kau pikir ini upacara pernikahan?” Sujeong mencibir lagu pilihan Jungkook. Berbanding terbalik dengan Yeeun yang justru bertepuk tangan.

“Aku suka lagu itu!”

Tak lama kemudian terdengar instrumen yang mengalun dari speaker. Seirama dengan nada dimulainya lagu, suara Jungkook mengalun dengan merdu. Buat semuanya termangu menikmati lantunan suara lembutnya.

My hot lips want to touch your soft lips

So that my love will be delivered to your heart

If you still haven’t know how I felt

I will love you more than anyone else in this world

I will love you until always, I will love you

Like this moment right now, more than anyone in this world

I will love you

Sesekali Jungkook mencuri pandang dan tersenyum sekilas pada Yein. Ekspresi gadis Jung itu sungguh tak terdefinisi. Ia tak membalas senyum Jungkook kendati yang lainnya tidak akan melihat jika ia melakukannya. Ia selalu memalingkan wajah jika bertemu tatap dengan Jungkook. Yein hanya termenung, sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri.

‘Apa maksud perkataan Jungkook sunbae tadi? Ia merindukanku?’

‘Kenapa aku berdebar-debar seperti ini?’

Ada apa denganku?’

‘Kenapa aku merasa ia sedang menyanyikan lagu itu untukku?

‘Apa aku menyukainya?’

‘Tidak, Jung Yein. Ini hanyalah cinta palsu. Jangan terkecoh!’

Merasakan atmosfir di sekitarnya berubah panas, Yein segera mengambil segelas minuman di sebelahnya dan menenggaknya hingga tandas. Bersamaan dengan berakhirnya nyanyian Jungkook, Shannon dan Junhoe memasuki ruang karaoke. Shannon kembali duduk di sebelah Yein dan terlihat mencari-cari sesuatu.

“Yein-a, kau lihat minuman di sini?” tanyanya sambil menunjuk pada spasi di mejanya yang semula terdapat segelas minuman.

“Eh? Sudah kuminum.”

“Hah? Tapi itu bukan jus jeruk. Itu soju.”

Ugh, pantas saja kepalaku sakit…’

“Yein-a! Jung Yein!!”

TBC

[1] : “Kau mengejutkanku!”

[2] : “Aku merindukanmu.”

[3] : Lagu yang biasa dinyanyikan di pernikahan.

Iklan

14 thoughts on “KisSin (Chapter 2)

  1. Halla gak terlalu mencolok disini. Ayo kak bikin keributan Halla sama Yein :3 Aku sempat baca komiknya dari internet.. bikin mereka ribut xD
    Jungkook dekat ya sama Chanwoo? Dekati ajalah biar mudah hubung Kookin :3
    Sujeong (lagi dan lagi) gak doyan sama Taehyung disini wkwkw..
    Yo kak, next ditunggu :3 mrchu squad fighting~ kakak fighting>3<

    Disukai oleh 1 orang

    1. Adegan sangar halla yang seperti di Mr.Chu akan terulang kok dek wkwkw nantikan saja.
      weh, sampe baca? wah kamu udah tau endingnya dong? /.\
      Iyahh, sejatinya keempat cowok itu dekat semua..eh lima deng sama taehyung.
      wkwkwk Sujongie dan Taehyungie akan selalu begitu di FFku XD
      sabar yak wkwkw
      yeayyy MrChu squad fighting!
      makasihh syudah mamvir fann >3<

      Suka

  2. Hai, aku sebelumnya baca di blog sebelah.
    aku jujur juga belum baca ffmu yang mr chu, maaf yaa 😀
    Well, karakter Halla cocok untuk disebelin ya disini. jelaslah kalo aku jadi vernon ya pasti kayak gitu.
    oh di ffmu selalu ya sujeong nggak suka sama taehyung? tapi emang sih mereka berdua cocok dibuat hubungan cat and dog, cocok aja sama sikap taehyung yg playful.
    si jungkook sempet aja sih kayak gitu pas ada di karaoke. apalagi yg tersedak bareng itu. Nah selanjutnya yg bikin penasaran itu, apa yg terjadi sama yein sekarang? well, aku juga pengen tahu chanwoo dan jungkook lebih banyak, bisakah?
    ditunggu kelajutannya, keep writing~

    Suka

  3. haaii kaak!! maaf baru comment skrg. aku udh baca mulai chap 1 dan itu udah sukses bikin aku penasaran sama kelanjutannya. terus baca yang chap 2 makin love sama fanfict ini.
    prtanyaan cuma satu,,,,,, kapan ini diupdate??? kepo nih sama kelanjutannya.
    keep writing yaaa?

    Suka

  4. kyaaaaaaaa benar kan sibule ganteng munculllll yeayyyy *tebar kiss*

    ya walau saeutik, tapi ya ini jungkook-yein ih makin lama ih, menanti kelanjutannya, apalagi halla yang entah kenapa kaya ada sesuau dibalik halla sama jungkook..

    taejeong!!!!!

    melepaskan helmnya, lantas menyugar surai hitamnya sebentar.

    kamu tau tat? bagian ini favorit abis, apalgi abis itu kecup dahi.. aduhhh sakit perut banyak baca yang manis-manis

    next.~~~

    keep writing :***************

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s