Free Spirit (Chapter 3)

FS-Woneun

Free Spirit

The Ark Halla and Seventeen Vernon

Astro Eunwoo and Twice Chaeyoung

Seventeen Wonwoo and Lovelyz J.I.N aka Myungeun

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life, AU! | Chaptered | PG-17 (for smoking, kissing, cursing and strange addiction content)

Previous :

1 | 2

Summary :

“Bagaimana kalau aku yang menjadi gantinya?”

.

.

.

Halla mendengus.

Benaknya sudah tidak peduli lagi dengan kelasnya yang tidak juga terjangkau dan panjang lorong yang sejauh mata memandang tak juga ada ujungnya. Ugh, kadang ia benci kenyataan sekolahnya terlalu besar.

Keadaan lorong yang sepi dikarenakan jam pelajaran sudah dimulai sejak—entah, Halla tidak pernah memerhatikan pada pukul berapa jam pelajaran dimulai dan pukul berapa jam pelajaran berakhir. Halla biasa masuk ke kelas sesuka hatinya, tanpa perlu repot-repot menaruh acuh pada tatapan tajam sang guru yang tengah mengajar. Toh, mereka juga sudah lelah memeringati Halla, pun ditambah tidak mau kehilangan pekerjaan mereka. Satu-satunya yang Halla acuhkan—saat ini—adalah langkah kaki seseorang yang berjalan di belakangnya. Yeah, Halla tidak sendirian. Dan tanpa Halla harus berboros energi dengan memutar kepala, ia sudah tahu siapa gerangan sosok di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan si pemuda blasteran yang suka ikut campur urusannya.

“Hei, apa kau bodoh?”

Ups, tapi Halla melakukannya juga. Sudah terlampau jengah, sih.

Alih-alih merasa tersinggung, Vernon malah menghentikan langkah dan menatap Halla antusias. Feeling-nya mengatakan kalau gadis yang akhirnya menoleh ke belakang itu akan melanjutkan ucapannya.

“Katanya kau peraih peringkat satu di angkatanku. Tapi kenapa otakmu tidak bisa mencerna ucapanku?”

Well, benar ‘kan?

“Haruskah aku berbicara dengan bahasa Inggris?” imbuh Halla tak kalah sarkastis.

Vernon tersenyum tipis. “Tidak, tidak perlu repot-repot. Aku sudah fasih bahasa Korea sejak kecil. Jadi kau bisa berbicara dengan bahasamu.”

Halla membuang muka dan berdecih.

“Lalu kenapa kau tidak mengerti saat kubilang untuk berhenti mengikutiku?”

Sejurus perkataan Halla yang penuh penekanan, kening Vernon berkerut tipis, lantas ia tertawa sekilas. “Tunggu sebentar.” Sontak kedua manik Halla memincing tajam, agak tersinggung rupanya.

“Apa kau pikir aku mengikutimu?”

Halla memutar bola matanya malas.

“Aku, tidak sedang, mengikutimu, Nona.” Vernon menghentikan tawanya, membuat Halla serta-merta melempar tatap heran padanya. Mengangkat tangan dan mengacungkan telunjuk ke depan, Vernon melanjutkan. “Ke sana, aku sedang berjalan menuju kelasku yang berada di ujung sana.”

God! Halla lupa kalau mereka teman—ah, tidak, hanya sekelas. Yeah¸hanya berada di kelas yang sama, bukan teman.

Memutar kepala—setelah mengikuti arah telujuk Vernon—Halla mendapati Vernon tersenyum miring padanya. Lagi-lagi Halla mendengus sebelum akhirnya memacu tungkainya mendahului Vernon.

Vernon kembali melanjutkan langkahnya dengan santai. Toh, mau berlari pun Halla tetap akan terkejar. Tungkai Vernon lebih panjang, omong-omong.

***

Oh my God! Y-yang di koridor itu benar-benar Vernon ‘kan? Ya-yang berciuman itu benar-benar Hansol ‘kan? K-kenapa Hansol berciuman dengan Hal—”

Serentetan kata yang dilontarkan setengah syok dan setengah tak percaya itu memang seharusnya dihentikan dengan bekapan tangan di mulut. Well, SinB dan Dahyun—yang sesungguhnya berniat balas dendam—baru saja melakukannya.

“Jaga volume bicaramu, Seungkwan!”

Lekas-lekas Seungkwan menepis tangan dua gadis itu di bibirnya.

“Hei! Mau diam pun, seluruh sekolah sudah tahu! Bahkan turut melihatnya dengan kedua mata kepala mereka!!”

“Aish, bagaimana ini bisa terjadi?” Menyerah, SinB pun menelungkupkan kepalanya pasrah. Namun dua sekon kemudian dia kembali mengangkat wajah.

“Tunggu. Di sekolah ini tidak ada yang mirip Vernon, ‘kan? Tingginya? Wajahnya? Potongan rambutnya?”

“Tidak ada, tidak ada, tidak ada, tidak ada, Hwang SinB! Orang itu benar-benar Vernon dan dia bersama Halla!”

“Lee Halla?!” Dahyun—yang sedari tadi hanya menyimak pembicaran kedua temannya—memekik terkejut.

“IYA!” sahut Seungkwan dan SinB bersamaan.

“Jadi gadis itu Lee Halla?”

“AISH, KIM DAHYUN!!!”

Dahyun, Seungkwan dan SinB bukan satu-satunya yang heboh membicarakan insiden ciuman Halla dan Vernon, karena obrolan serupa hampir dilakukan seluruh penghuni kelas.

“Jadi Halla dan Vernon berpacaran?”

“Itu sulit dipercaya.”

.

SREKKKK

.

“Paling Halla yang merayu Vernon.”

“Kenapa kau tidak ma—”

Bagai mendapati pak Park—si guru killer yang datang ke kelas untuk menarik anak-anak berandal ke ruang detensi—berdiri di ambang pintu, suasana kelas 1-1 mendadak hening. Namun setidaknya mereka bisa meneguk sedikit ludah (benar-benar hanya sedikit) karena yang berada di depan pintu dengan wajah datar ada Lee Halla. Yep, si tokoh pembicaraan mereka beberapa saat sebelumnya.

“Ck!”

Halla berdecak mencemooh. Tidak habis pikir kenapa ia harus sekelas dengan sekumpulan siswa yang suka sekali heboh.

Habis sudah mood Halla untuk masuk kelas. Kalau sudah begini ia lebih memilih pergi ke atap sekolah dan menghabiskan sebungkus rokok hingga tandas.

“Lee Halla.”

Tak cukup dibicarakan satu sekolah, kini harus ditambah kehadiran Vernon yang memanggil namanya dengan ramah. Ck, lengkap sudah!

Intensitas tatapan mata yang ditujukan puluhan siswa kelas pada sosoknya dan juga Vernon—yang kini berdiri tepat di belakang tubuhnya—membuat Halla semakin tidak tahan. Namun, baru saja Halla akan berbalik dan pergi, tangan Vernon mendarat di pundaknya dan mendorongnya masuk perlahan.

“Ayo masuk.”

Halla tidak bisa memberontak lantaran cengkraman tangan Vernon di pundaknya begitu kuat. Mengantarnya hingga mendudukkan Halla di bangkunya ditemani dengan seluruh kelas yang menatap mereka lekat.

Halla segera menepis tangan Vernon kasar dan melempar tatapan tajam pada pemuda blasteran itu. Namun alih-alih, Vernon malah membalasnya dengan senyuman dan berujar pelan pada Halla. “Kalau kau tidak mau berteman denganku, aku bisa membuatmu jadi temanku.”

***

Myungeun terpaksa membatalkan niatnya untuk pergi ke toilet karena melihat seorang lelaki berdiri di depan kamar kakak lelaki satu-satunya—seseorang yang menjadi tersangka dibalik kehadiran lelaki itu di rumahnya, saat ini.

“Park Myungeun.”

Namun tampaknya, pergerakan Myungeun terlambat sedikit sehingga lelaki itu sudah lebih dulu menyadari presensinya. Memanggilnya dengan nama lengkap supaya gadis bersurai pendek itu menghentikan langkahnya. Dan lelaki itu sukses, karena Myungeun menghentikan langkah dan berbalik sepersekian sekon berikutnya.

“Haruskah kau memanggil nama lengkapku?” sahut Myungeun, lagi-lagi tak suka saat lelaki itu memanggil namanya dengan lengkap.

“Hanya memastikan,” balas Wonwoo enteng.

Ck! Alasan apa itu?, rutuk Myungeun dalam hati.

“Aku belum terbiasa dengan rambut pendekmu itu.” Wonwoo mengeratkan selempang tasnya seraya menambahkan. Yeah, pemuda itu baru saja pulang sekolah dan langsung menyambangi rumah Myungeun dalam rangka menyanggupi undangan Jimin.

“Park Myu—maksudku, Myungeun.” Wonwoo cepat-cepat meralat perkataannya karena Myungeun telah lebih dulu melemparkan tatapan membunuh padanya yang diperkirakan akan kembali memanggil nama lengkap Myungeun. “Kenapa kau memotong rambutmu?” tambahnya. Buat Myungeun kontan terdiam dihadapi pertanyaan demikian.

“Karena aku sedang patah hati,” jawabnya kemudian.

“Jadi…dengan pemuda kuliahan itu tidak berhasil?”

Tertawa renyah adalah reaksi pertama Myungeun. Merasa lucu karena Wonwoo mengungkit perihal pecundang yang ditemuinya dari acara kencan buta—acara yang tidak akan Myungeun hadiri kalau bukan karena paksaan teman-temannya.

“Iya, dia membosankan.” Myungeun tertawa hambar, lantas kembali mengayunkan tungkai, memutuskan untuk meneruskan langkahnya menuju toilet.

“Sama saja sepertimu.”

Myungeun berujar seraya melewati Wonwoo. Membuat pemuda itu tercenung sejenak sebelum akhirnya terkesiap karena pintu di hadapannya terbuka.

“Wah, kau sudah datang, Jeon Wonwoo!” Jimin yang baru saja membuka pintu, lekas merangkulnya akrab.

“Nah, begitu dong. Meski kau bukan pacarnya Myungeun lagi, kau harus tetap menjaga pertemananmu denganku, Bung!”

***

Seorang gadis menghirup oksigen dalam-dalam tepat di depan pintu kelasnya. Seakan ruangan yang akan ia masuki adalah sebuah ruang ujian. Tidak, tidak, bagi Chaeyoung dibanding ruang ujian, masuk ke kelasnya sendiri jauh lebih menegangkan. Setidaknya untuk saat ini. Dan juga penampilannya detik ini. Chaeyoung bisa saja melenggang masuk, meletakkan tasnya dan duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi ia tidak yakin jika nantinya bertatap mata dengan tersangka dibalik perubahan penampilan Chaeyoung hari ini. Oleh karena itu, saat ini dia sedang mempersiapkan diri agar nantinya ia bisa bersikap biasa dan menebar senyum seperti hari-hari sebelumnya.

Menghela napas sekali lagi, Chaeyoung telah meneguhkan hati. Diraihnya gagang pintu, menggesernya dan lantas menyerukan sapaan sehari-hari.

“Selamat pagi!”

“PAG…i.” Semangat siswa-siswi yang bergerombol di meja Sujeong—teman sebangkunya—menjawab sapaan Chaeyoung mendadak redup karena pemandangan yang tertangkap netra mereka. Baik Sujeong, Junhoe, Yuju, Seokmin dan Minghao, semuanya terdiam. Tak ada lagi obrolan tentang diskon sepatu yang Yuju bicarakan dan juga majalah dewasa terbaru yang jadi rebutan Minghao dan Seokmin. Heningnya lima siswa berisik itu serta-merta tertular pada seisi kelas. Sehingga kini semua pasang mata ikut tertuju pada Chaeyoung yang masih berdiri di ambang pintu, tak terkecuali Cha Eunwoo.

Menjadi pusat perhatian seluruh kelas kontan membuat rasa percaya diri yang sudah Chaeyoung pupuk di depan pintu menguap entah ke mana, tergantikan rasa gugup dan juga canggung. Sepersekian sekon berikutnya yang dilakukan Chaeyoung adalah buru-buru meletakkan ransel pinknya di atas meja, lantas mengambil langkah seribu keluar kelas.

Sepeninggal Chaeyoung, kelas masih dalam keadaan hening, belum ada yang berani bersuara pun sekedar mengambil napas.

“Tunggu, yang barusan itu Nona Wakil?”

Lee Seokminlah yang pertama buka suara.

“Eh? Itu Chaeyoung?”

Disusul Yuju.

“Chaeyoung potong rambut?”

Dan juga Junhoe.

***

Tak berbeda jauh dengan kelas satu dan kelas dua, di kelas 3-1 pun keributan sudah terdengar di pagi hari. Sayangnya bukan topik kelakuan Halla maupun potongan rambut baru Chaeyoung yang mereka bahas, melainkan masalah pelajaran ataupun universitas-universitas yang akan mereka pilih nanti. Mengingat mereka ada di tahun terakhir Sekolah Menengah. Seperti pagi hari ini, Sunyoung telah menyambangi meja Sana untuk menanyakan sebuah soal fisika. Kegiatan yang sama sekali tidak membuat Sana keberatan karena ia sudah terbiasa dimintai tolong oleh teman-teman sekelasnya. Gadis bernama lengkap Minatozaki Sana itu peringkat kedua setelah Wonwoo, omong-omong.

“Oh, aku mengerti sekarang. Terima kasih, Sana.” Pemuda yang memiliki nama panggilan Hoshi itu memberikan senyum termanisnya sehingga membuat matanya berbentuk jarum jam pada pukul 10.10.

“Pagi.”

Seiring dengan suara yang menginterupsi mereka, Myungeun datang dengan wajah ditekuk. Seakan pagi harinya dimulai dengan sesuatu yang buruk. Yeah, tentu saja buruk karena Jimin melupakan tangki bensin motornya yang sudah kehabisan bensin sehingga mengharuskan Myungeun berangkat menggunakan bis. Padahal ia sangat benci hal itu. Naik bis pada pagi hari bagai berada di dalam kaleng sarden, berdesakkan dengan puluhan manusia yang hendak sekolah ataupun kerja.

Setelah meletakkan ransel cokelatnya di atas meja—yang mana berada di sebelah meja Sana—Myungeun kembali keluar kelas dengan langkah gontai. Mengabaikan presensi Sana dan Hoshi yang memerhatikannya tanpa beralih barang seinci.

“Ada apa dengannya?” Hoshi buka suara sementara netranya masih mengarah pada pintu yang baru saja dilalui Myungeun. Melakukan hal yang sama, Sana pun membalas. “Tidak tahu. Dia aneh semenjak potong rambut.”

“Tapi menurutku potongan itu cocok untuknya.”

Kali ini Hoshi memutar kepalanya kembali menghadap Sana—yang lagi-lagi melakukan hal yang sama. Mereka saling berpandangan karena merasa tidak mengatakan hal barusan. Yeah, suara barusan bukanlah suara Sana maupun Hoshi. Lalu suara siapa?

Serempak mereka beralih ke sumber suara, mendapati Junhui dan Wonwoo berdiri di belakang bangku Sana.

“Kau juga berpendapat demikian ‘kan, Wonwoo?” ujar Junhui lagi yang tenyata menimpali pembicaraan mereka barusan. Raut wajah Sana berubah saat Junhui menanyakan hal itu pada Wonwoo, sedangkan Hoshi malah menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir pemuda Jeon itu.

“Entahlah, dia terlihat berbeda.”

Sepersekian sekon berikutnya Wonwoo menutup buku teks Kimianya dan memintal langkah menuju pintu kelas.

“Kau mau ke mana, Bung?”

“Ruang Student Council.”

“Dasar. Apa dia sebegitu cintanya pada ruangan itu?” ucap Junhui kala sosok Wonwoo sudah tak terlihat lagi. Tidak hanya Junhui, Sana dan Hoshi juga heran kenapa pemuda mantan Ketua Student Council itu hobi sekali pergi ke ruang organisasi siswa paling tinggi di sekolah itu. Seakan menjabat selama setahun penuh masih belum cukup baginya.

“Mungkin karena tidak punya pacar,” imbuh Hoshi.

“Dia itu bukannya tidak punya pacar, tapi meny—”

“Wen Junhui!”

Seorang gadis bersurai blonde berdiri di ambang pintu kelas 3-1 dengan raut kesal. Seruannya—yang tidak bisa dikatakan pelan—barusan sontak mencuri perhatian seluruh penghuni kelas. Junhui menghela napas.

“Aku pergi dulu, ya,” pamitnya seraya menepuk pundak Hoshi dan menatap Sana sekilas. Lantas berjalan menghampiri gadis yang kini berada di luar kelas.

Hoshi mendengus sambil memeluk buku catatan fiska hasil bertanya pada Sana. “Pasti pacarnya marah lagi.”

***

Eunwoo terkesiap saat mendapati seseorang menghuni ruang yang sering di sambanginya setelah ruang kelasnya sendiri, yaitu ruang Student Council. Ia pikir seseorang itu adalah Kepala Sekolah yang ingin menanyai kinerja Eunwoo selama dua bulan ini atau guru pembimbing yang hendak mengoreksi proposal yang Eunwoo berikan bulan lalu. Namun ternyata seseorang itu menggunakan seragam yang sama dengannya—menandakan kalau ia juga salah satu murid Hagnon, bukannya guru pembimbing apalagi Kepala Sekolah. Yep, orang itu adalah Wonwoo yang sedang membaca jurnal sekolah (entah, pemuda itu hobi sekali membaca jurnal sekolah). Seseorang yang bukan, ralat, mantan pengurus Student Council namun telah menempati ruangan satu petak itu sepagi ini.

“Ada apa, Senior Jeon?” tanya Eunwoo setelah menempati meja kerjanya sendiri. Berpikir kalau-kalau Wonwoo datang karena suatu keperluan.

“Harusnya kau ucapkan selamat pagi dulu, Ketua Cha,” sahut pemuda itu tanpa mengalihkan fokus seinci pun dari buku yang sedang dibacanya.

“Selamat pagi, Senior Jeon. Ada apa?” Eunwoo mengulangi ucapannya dengan embel-embel sapaan. Buat Wonwoo kemudian menoleh padanya.

“Tidak ada apa-apa.”

Tanggapan yang lantas membuat Eunwoo mengerutkan sedikit dahinya namun tak berniat bertanya lebih karena pemuda yang setahun lebih tua darinya itu telah kembali menanamkan atensinya pada buku di hadapan. Ia putuskan untuk mengerjakan tugasnya sendiri, mengoreksi laporan-laporan yang diberikan Chaeyoung kemarin. Sepuluh menit berikutnya Eunwoo gunakan untuk fokus pada lembaran-lembaran kertas di tangannya, membaliknya berulang kali namun sayang, tidak ada satu kata pun yang tersangkut di neuronnya, terhalang sesuatu yang mengganjal di pikiran Eunwoo sejak tadi. Sehingga pada akhirnya ia menyerah dan menghempaskan kertasnya ke atas meja.

“Um, Senior.”

“Hm?”

“Menurutmu kenapa seorang gadis memotong pendek rambutnya?”

“Hah?”

“Um, seseorang punya alasan khusus ‘kan dibalik merubah penampilannya?”

Wonwoo mengernyit. Ia ingin sekali menjawab kalau hal tersebut terserah pada individu itu sendiri, karena toh itu penampilan mereka. Bisa saja karena mereka merasa gerah, bosan dengan rambut pendek, ingin ganti suasana, atau sekedar mengikuti trend . Namun baru saja kemarin ia menanyakan hal yang sama pada Myungeun. Menandakan kalau Wonwoo juga penasaran dengan alasan dibalik berubahnya penampilan gadis itu, seperti Eunwoo saat ini. Dan bukan alasan sepele seperti ia merasa gerah atau terganggu dengan rambut panjangnya yang Wonwoo dapatkan. Sama juga seperti perkataan Eunwoo barusan, Myungeun punya alasan khusus untuk memotong pendek rambutnya.

“Itu artinya dia sedang patah hati,” jawab Wonwoo mengulang apa yang Myungeun katakan.

Kontan membuat Eunwoo tercenung karena ia bahkan tidak tahu kalau Chaeyoung punya pemuda yang disuka.

***

Sudah hampir lima belas menit Chaeyoung berdiam di dalam toilet perempuan. Tak juga beranjak dari depan cermin, mematut diri seraya mengamati setiap jengkal penampilannya saat ini. Mencari-cari siapa tahu potongan rambut barunya pendek sebelah, tidak rata, atau poninya kusut. Dan hasilnya tidak. Tidak ada yang ganjil dari penampilan barunya. Ujung surai pendeknya tergulung sempurna hasil menggunakan alat catok pagi-pagi sebelum berangkat tadi. Panjang, ralat, pendek surainya juga seimbang serta poninya jatuh. Lalu di mana letak keanehannya sampai membuat satu kelas bungkam dengan penampilan barunya?

Jangan-jangan Chaeyoung sendiri?

Ugh, seharusnya Chaeyoung tidak bodoh dengan memotong pendek rambutnya lantaran Eunwoo suka gadis berambut pendek. Iya, sesepele itulah alasan Chaeyoung memangkas drastis rambut sebahunya yang belum tersentuh salon sejak kelas satu Sekolah Menengah.

“Son Chaeyoung bodoh!” Chaeyoung meremas surainya kesal. Namun detik berikutnya ia buru-buru merapikannya lagi. Enak saja. Ia sudah bersusah pergi ke salon kemarin malam dan menatanya pagi-pagi sekali, tahu!

“Aish, ada apa denganku?!” Kali ini ia hanya mampu meremas tangannya sendiri. Beruntung toilet perempuan hanya dihuni dirinya sehingga Chaeyoung bisa sepuasnya berteriak, mengumpati diri sendiri. Tidak habis pikir bagaimana bisa ia melakukan semua ini hanya karena Cha Eunwoo. Ha. Apa Chaeyoung sudah hilang kewarasan?

Sudahlah, kalau begini terus Chaeyoung bisa menghabiskan waktu seharian di depan kaca dan bisa-bisa pemuda Cha itu akan marah-marah karena Chaeyoung menelantarkan tugas darinya. Omong-omong ini sudah pukul berapa? Harusnya Chaeyoung sudah berada di dalam ruang Student Council sekarang.

Chaeyoung mematut dirinya sekali lagi sebelum akhirnya melangkah keluar dengan terburu. Mengakibatkan ia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang gadis di pintu masuk toilet.

“M-maaf, Senior.” Chaeyoung membungkukkan badannya berkali-kali pada gadis yang tak lain adalah Myungeun.

“Iya, tidak apa-apa.”

***

Vernon harus diberi penghargaan karena terus-menerus merecoki hidup Halla. Tak hanya menyeretnya masuk serta mendudukkan Halla di bangkunya sendiri, Vernon juga menyeret gadis Lee itu untuk mengikuti kelas olahraga saat ia baru saja akan naik ke atap sekolah. Awalnya Halla—yang telah menyerah—berkelakar bahwa ia tidak membawa seragam olahraga, karena toh ia memang tidak pernah menggunakannya. Namun Halla tidak bisa lagi berkutik saat Vernon meminjamkan salah satu seragam olahraganya. Oh, sebegitu rajinnya ia membawa dua seragam olahraga.

Vernon—lagi-lagi—harus diberi penghargaan karena mampu membuat Halla menghadiri kelas olahraga perdananya selama bersekolah di Hagnon. Karena biasanya gadis itu akan kabur dari kelas, menghabiskan waktu di atap sekolah dibanding harus berkeringat dan bergerombol bersama siswi lain berebut bola. Ugh, mereka pasti akan berisik sekali.

Namun kenyatannya, bukan pujian apalagi penghargaan yang Vernon dapatkan saat ia dan Halla—yang menggunakan baju olahraga kebesaran—masuk ke gedung olahraga, melainkan puluhan tatap mata yang geming memandang mereka. Bahkan pak Jung, guru olahraganya, juga terdiam. Setengah terperangah dan setengah tidak percaya seorang Lee Halla akan mengikuti kelasnya.

“Pak, kenapa bengong? Ayo mulai pertandingannya!” seru Vernon antusias sambil tersenyum lebar. Mengambil tidakan pertama dengan mengamit sebuah bola voli di lantai dan kemudian mulai melatih teknik servisnya. Hari ini mereka akan melakukan pertandingan voli antar kelas, yang mana kelas Vernon akan melawan kelas 2-2. Kebetulan yang sukses membuat Halla mengumpat dalam hati dan menyesali keputusannya mengikuti, ralat, terpaksa mengikuti kelas olahraga kali ini. Kelas 2-2 adalah kelas Jung Chanwoo, omong-omong.

Wajah Halla mengeras saat mendapati pemuda jangkung itu berdiri di seberang lapangan voli. Masih dengan raut dingin dan tatapan datar setiap kali bertatap muka dengan Halla. Oh, dan jangan lupakan sosok gadis yang juga berdiri di sebelah Chanwoo, Shannon Williams.

Pertandingan dimulai dengan satu servis dari Vernon yang lantas dibalas oleh Chanwoo. Pertandingan sudah berjalan lima menit dan yang Halla lakukan hanyalah berdiri pasif atau menghindar saat bola maupun siswi lain menuju ke arahnya. Hal itu tentu saja membuat teman sekelasnya merasa kesal dengan tingkah Halla. Seungkwan saja sudah mendelikkan mata dan memajukan bibir kesal sedangkan SinB memutar bola mata jengah melihat gadis bersurai legam itu. Untungnya kemenangan masih bisa mereka harapkan karena kehadiran Vernon yang bagai sosok ace di kelas mereka. Pemuda blasteran itu sangat bersemangat membalas servis-servis Chanwoo bahkan dengan sebuah smash tajam. Vernon tampak sangat menikmati waktu-waktunya saat ini seolah ia sangat menyukai olahraga voli. Berbanding terbalik dengan suasana hati Halla yang sudah terlajur keruh karena kehadiran si lelaki Jung di sana.

“Halla, kau seharusnya membalas bukannya menghindar.”

Satu suara dari Dahyun berdampak dengan teralihnya semua atensi kepadanya. Pasalnya gadis bermarga Kim itu baru saja bicara pada Halla. Menyuarakan protes, lagi!

Dwimanik bulat Seungkwan saja rasanya ingin keluar dari dua kelopak matanya lantas memaki tingkah bodoh Dahyun. Dan SinB sedang menahan diri untuk tidak meneriaki Dahyun. Ah, seharusnya ia menjaga Dahyun agar tetap berada di sebelahnya.

Halla yang diprotes demikian mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Memastikan kalau gadis dengan surai hitam dan sedikit pink di bagian dalam benar-benar sedang berbicara ke arahnya. Halla bahkan menunjuk dirinya sendiri seolah bertanya, “aku?”, yang lantas dibalas anggukkan kepala Dahyun.

Oke, menurut Halla. Kalau hanya membalas saja sepertinya ia bisa. Yeah, kendati ia sudah lama sekali tidak berolahraga. Maka detik selanjutnya, saat bola voli itu bergerak ke arahnya, Halla segera mempersiapkan posisi dan menangkis bola itu dengan sadis.

Fatal.

Bola berwarna putih itu bergerak cepat ke arah seorang gadis sehingga ia tidak siap untuk membalasnya. Mengakibatkan bola voli itu menghantamnya di wajah, membuatnya kehilangan keseimbangan, dan jatuh terjerembab.

Kontan seluruh siswa menghampiri gadis itu dengan panik. Meninggalkan Halla yang membelalakkan matanya karena gadis yang terkena serangannya barusan adalah Shannon Williams. Ugh, padahal ia tidak bermaksud.

“Shannon, kau tidak apa-apa?” Chanwoo yang khawatir lekas mengangkat kepala Shannon yang hampir kehilangan kesadarannya. Alih-alih menjawab, Shannon bangkit dan segera memeluk Chanwoo. Buat pihak yang dipeluk serta-merta terkejut.

“S-shan?” Chanwoo semakin panik saat Shannon tak menjawabnya serta pegangan gadis itu semakin mengendur di leher Chanwoo. Segera pemuda itu bangkit seraya memapah Shannon yang sepertinya sudah pingsan.

Seluruh murid yang mengerubungi refleks melipir untuk memberikan Chanwoo jalan. Namun bukannya pergi ke ruang kesehatan, Jung Chanwoo merajut langkahnya ke arah Halla yang masih mematung di tempatnya.

Halla yang masih terekejut, tidak menyadari Chanwoo yang tengah berjalan ke arahnya sampai…

“Lee Halla, bukankah ini sudah keterlaluan?”

…sebuah kalimat penuh penekanan keluar dari bibir Chanwoo. Bersamaan dengan tatapan tajam yang menusuk Halla hingga ke ulu hati. Tatapan mengintimidasi yang mengindikasikan kebencian karena gadis Lee itu telah mencelakai Shannon. Sungguh, Halla tidak pernah melihat ekspresi Chanwoo yang seperti ini.

“Ta-tapi aku—”

“Jangan pernah ganggu Shannon.”

***

Chaeyoung baru saja membuka pintu saat didapatinya Eunwoo sudah berada di meja kerjanya, sendirian. Entah karena Chaeyoung yang membuka pintunya terlalu perlahan atau Eunwoo yang terlalu fokus sehingga pemuda itu tidak menoleh sama sekali atas kehadiran Chaeyoung. Ditutupnya pintu kali ini dengan agak keras—supaya menimbulkan suara yang dapat mengalihkan atensi Eunwoo dari kegiatannya. Namun nihil, pemuda Cha itu masih menunduk, berfokus pada kertas di meja kerjanya. Chaeyoung pun mulai memutar otak, mencari cara lain untuk mengambil alih perhatian Eunwoo. Setidaknnya sampai pemuda itu menoleh padanya, sedikiiiit saja!

Chaeyoung mulai berdeham.

Tidak ada tanggapan.

“Ketua, aku sudah datang,” ujarnya kemudian.

“Aku sudah tahu itu kau.” Eunwoo pun membalas namun tanpa melemparkan tatapan. Ah, sial!

Menyerah, akhirnya Chaeyoung putuskan untuk memintal langkah ke mejanya sendiri. Mendudukkan diri kendati kedua irisnya masih berporos pada sosok Eunwoo yang sangat-amat-serius. Chaeyoung jadi bertanya-tanya, apa yang sedang pemuda itu kerjakan. Memang sih Cha Eunwoo adalah pribadi yang serius dan tegas, tapi bukan berarti mengacuhkannya sesadis itu. Sekilas pun Eunwoo akan menoleh jika seseorang membuka pintu ataupun sedang berbicara dengannya. Itu ‘kan termasuk sopan santun dalam bersikap.

Masih tidak kehabisan akal, kini Chaeyoung hendak menarik perhatian Eunwoo dengan cara menanyakan bagian dari proposal yang tidak ia mengerti. Eunwoo sudah berjanji akan membancu Chaeyoung jika gadis itu kesulitan. Iya, Cha Eunwoo tidak sejahat itu, kok.

“Ketua, kolom yang ini harus di isi alamat yang mana?”

“Nanti saja, aku sedang sibuk.”

Seharusnya sih begitu. Ah, mungkin benar dia sedang sibuk. Dan biasanya Eunwoo memang tidak bisa diganggu, apalagi kalau sudah dikejar deadline. Chaeyoung pun mulai menelusuri meja kerjanya, mencari sesuatu yang kiranya bisa menarik atensi Cha Eunwoo. Retinanya pun menangkap sebuah laporan yang sudah selesai dikerjakannya kemarin sore. Yep, kali ini Eunwoo pasti akan menoleh. Di saat-saat genting—dikejar deadline—seperti ini, mendengar Chaeyoung sudah menyelesaikan tugasnya pasti membuat Eunwoo senang.

“Ketua, laporan klub tenis sudah selesai.”

“Taruh saja di mejaku.”

“Baik.”

Ugh, mungkin sebaiknya Chaeyoung lempar saja laporan ini ke wajah Eunwoo agar pemuda itu menoleh padanya.

“Ketua—”

“—hm?”

“Tidak jadi.”

Sia-sia sudah. Chaeyoung menyesal. Bodohnya ia merubah penampilan agar sama seperti tipe Eunwoo sedangkan menoleh sedikit saja, pemuda itu tidak mau.

Cha Eunwoo bodoh!!!

Tak terdengarnya suara Chaeyoung lagi kontan membuat Eunwoo mengangkat wajahnya. Mendapati wajah Chaeyoung memberenggut karena gagal melihat reaksi Eunwoo atas penampilan barunya.

“Wakil ketua.” Setelah sekian lama akhirnya Eunwoo yang mulai bersuara. Membuat Chaeyoung terkesiap.

“I-iya?”

“Kalau sedang patah hati lebih baik tidak usah ke sini.”

“A-apa maksudmu?!”

“Aku hanya tidak suka melihat orang yang berkerja sambil lesu dan menahan tangis.”

A-apa?! Cha Eunwoo sialan! Siapa juga yang sedang patah hati?!

***

Bagi Vernon, setidaknya Halla harus diberi penghargaan atas kemampuannya melarikan diri. Begitu cepat, tak terkejar, dan juga tertemukan. Beruntung Vernon mengingat di mana lokasi dengan kemungkinan bertemu Halla lebih tinggi, hasil merecoki hidup gadis itu beberapa hari ini. Sehingga detik berikutnya lelaki kaukasian itu memutuskan untuk menaiki tangga menuju atap sekolah, dan bingo! Vernon temukan Halla berada di sana tepat setelah mencari-cari gadis itu selama lima menit, setelah insiden pingsannya Shannon di gedung olahraga. Lagi-lagi dalam keadaan lintingan tembakau berada di antara bibir peach gadis itu. Tak banyak basa-basi, Vernon lekas merebut rokok di mulut Halla dan menginjaknya tanpa ampun. Sama seperti apa yang dilakukannya kemarin.

“Bukankah sudah kubilang? Batang beracun itu tidak pantas berada di sela-sela bibirmu!”

Alih-alih membentak Vernon atas sikap lancangnya seperti tempo hari, Halla malah terdiam menatap batang rokok terakhirnya yang sudah rata dengan tanah. Menunduk hingga tercipta sebuah pola air di dekat kakinya. Halla menangis. Tangis yang untuk pertama kalinya Vernon dengar dari bibir Halla. Tangis yang dua sekon berikutnya berubah menjadi isakkan. Lee Halla terisak keras seakan hal itu akan mampu mengangkat beban pilu yang mengendap di hatinya. Membuat ia sesak. Membuat ia pengap.

“Bagaimana kalau aku yang menjadi gantinya?”

Halla menengadahkan wajahnya yang telah basah dengan air matanya sendiri. Mengernyitkan kening karena perkataan Vernon barusan tak membantunya sama sekali. Namun Halla harus berpikir kembali saat kedua tangan pemuda itu terangkat, membawa tubuh mungil Halla ke dalam dekap erat.

.

“Lee Halla, ayo kita berkencan. Setiap kau merasa kesal ataupun sendirian, jadikan aku ‘rokok’mu. Jadikan aku pelampiasanmu.”

“Bodoh,” tanggap Halla seraya melayangkan pukulan pada punggung Vernon.

“Tapi kali ini tawaranmu kuterima.”

.

TBC

1452702687804

(Eunwoo yang sedang mengabaikan Chaeyoung wkwk >.<)

Iklan

2 thoughts on “Free Spirit (Chapter 3)

    1. kasian si dedeq canu jadi disebelin di sini :”)
      wkwk karena tekad menjadi anak teladan sudh mainstream bagi hansol
      eunu odong karena kadar kepekaannya kurang /ga
      makasih sudah membaca dan meninggalkan jejak ^^

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s