KisSin (Chapter 1)

wp-1468430165537.jpeg

 

KisSin

|JeongIn|

staring :

BTS Jungkook, Lovelyz Yein,

and other mr.chu squad

Romance, Fluff, School life, Hurt/Comfort | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Soundtrack :

Lee Hi – Love (Keyshia Cole cover)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga berjudul “Sinful Love” karya Yoshinaga Yuu, lirik lagu Love – Keyshia Cole dan Lee Hi – Fool For Love. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Summary :

Jeon Jungkook dan Lee Halla, sepasang kekasih yang sangat dikagumi satu sekolah. Sama-sama rupawan, sama-sama populer, terlihat serasi serta saling mencintai. Tapi baru saja kemarin Yein melihat Jungkook bermesraan dengan gadis lain. Bukankah itu yang disebut…

…selingkuh?

Jung Yein, peraih peringkat satu di sekolah. Pintar dan murid teladan. Panutan semua siswa dan juga kesayangan para guru. Yein memiliki semua hal yang ‘baik-baik’ dan dia…

…bosan.

.

.

.

Chapter 1

Mungkin, ia telah melihat hal terburuk.

Jung Yein, gadis remaja berusia tujuh belas tahun, baru saja menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya ia tahu. Karena yang tertangkap retinanya saat ini adalah sosok pemuda yang tengah menggandeng mesra seorang gadis. Mungkin ia tidak akan terlalu peduli jika pemuda itu hanya orang biasa, bukan orang yang ia kenal. Ah, Yein juga tidak mengenal pemuda itu. Yein hanya tahu sekelumit hal tentangnya. Misalnya, seperti nama lengkapnya Jeon Jungkook, kelas 3-1, dan ia memiliki pacar. Namun yang terbekas di dalam otak cerdas Yein, pacar Jeon Jungkook adalah Lee Halla. Dan Yein tidak buta untuk bisa mengenali gadis yang pemuda itu gandeng barusan bukanlah Halla.

Dengan kata lain, bukankah Jungkook baru saja berselingkuh?

***

“Hari ini absen 27 yang bertugas mengambil data.”

Suara Jung songsaengnim menggema di ruang kelas 2-1, memberitahukan siapa yang hari ini mengemban amanat mengambil data siswa dari ruang BP. Kontan membuat Jang Yeeun, gadis yang duduk di depan bangku Yein, menyenggol singkat lengan gadis berkuncir dua itu. Menyadarkannya yang selama sepuluh menit belakangan ini malah melamunkan hal yang tidak-tahu-apa-itu sampai-sampai mengabaikan Yeeun dan Shannon yang sedang membicarakan perihal ulangan fisika kemarin. Yeah, baik Yeeun maupun Shannon—teman sebangku Yein—tidak ada yang bisa menebak isi pikiran gadis berperingkat satu itu.

“Ada absen 27?” Tak kunjung mendapat jawaban, Jung ssaem kembali bertanya.

“Di sini absen 27, Ssaem!” Tanggap, Shannon segera mengacungkan sebelah tangan Yein. Buat manik kelam Jung ssaem bergulir ke arah mereka sebelum lantas berujar. “Cepat ambil datanya di ruang BP.”

“Baik, Ssaem.”

Gadis Jung itu bangkit berdiri. Ekspresinya telah kembali seperti semula kendati sebelumnya kerisauan tergambar di wajahnya. Shannon dan Yeeun pun hanya bisa mengangkat bahu, tak ambil pusing dengan keadaan Yein beberapa waktu lalu.

‘Kali ini aku piket dengan Sunbae siapa, ya?‘ pikir Yein seraya merajut langkah menuju ruang BP di lantai tiga.

Peraturan di sekolahnya memang menugaskan satu siswa dari masing-masing angkatan—berdasarkan absen—mengambil data siswa harian di ruang BP. Secara tidak langsung, Yein seperti melakukan piket bersama sunbae serta hobaenya.

Jarak Yein tinggal beberapa langkah lagi saat didapatinya pintu ruang BP sedikit terbuka. Salah satu dari sunbae atau hobaenya mungkin sudah berada di dalam sana. Lekas tangan Yein meraih kenop sesaat setelah kakinya menjejak di depan pintu, dan dwimaniknya membelalak kala mendapati seorang lelaki berdiri membelakanginya. Lelaki yang tak lain harus ia panggil sunbae, Jeon Jungkook.

Sial! Bagaimana bisa Yein tidak berpikir kalau urutan absen Jungkook dekat dengannya. Terlebih mereka menempati kelas paralel yang sama.

“Oh, kau sudah datang.”

Menyadari presensi Yein, Jungkook menoleh dan tersenyum ramah. Yein tidak salah. Paras tampan itu, senyum ramah itu, dia benar-benar Jeon Jungkook. Pemuda yang ditemuinya kemarin.

“Di mana kelas satu?” Yein bertanya karena tak mendapati seseorang pun selain Jungkook di sana.

“Kudengar ia tidak masuk.”

Yein mendadak panik, karena itu artinya dia hanya akan berdua bersama Jungkook di ruangan ini.

“Kalau begitu, seharusnya ada anak sekelas yang menggantikannya.”

“Kenapa tidak kau lakukan saja tugasmu?”

Tilikan ekor mata Jungkook membuat Yein bungkam. Pemuda itu kembali meneruskan aktivitasnya memilah dokumen dari rak dengan kening berkerut, heran karena Yein memusingkan hal yang sama sekali bukan urusan gadis itu.

Lima menit kemudian hanya keheningan yang menyelubungi keduanya. Mereka benar-benar seperti dua orang asing yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

“Boleh ambil rak di sini?”

Yein hampir terlonjak saat Jungkook menoleh secara mendadak. Memang sih pemuda itu terlihat kebingungan sedari tadi, tetapi Yein tidak berani untuk bicara padanya. Mengangguk sekilas, Yein menjawab. “Iya, Sunbae.”

Jungkook bergumam singkat seraya kembali menelisik rak di hadapannya. Dan sekonyong-konyong itu pula kejadian kemarin malam kembali berputar di otak Yein. Entah dari mana, tapi tiba-tiba saja gadis Jung itu memiliki keberanian untuk membuka suara.

“Pacarnya Jungkook sunbae...”

Kontan pemuda Jeon itu menoleh dengan pandangan tanda tanya sekaligus menunggu gadis itu meneruskan ucapannya.

“…anak kelas 2-1 ‘kan?”

“Ah, Halla? Iya.”

“Kalau begitu—” Yein mengambil sebuah map tebal dari salah satu rak, “—yang kemarin bersamamu itu selingkuhan Sunbae, ya?”

“Hah?”

Tersadar, Yein refleks membungkam mulutnya sendiri. ‘Ah, sial! Kenapa aku langsung menanyakannya?!’ rutuknya dalam hati.

“Kamu lihat, ya?”

“I-iya, sewaktu pulang dari tempat les.”

“Oh.”

Setelah merespon demikian Jungkook kembali memeta puluhan map di dalam rak. Membuat Yein serta-merta mengerutkan keningnya dalam-dalam.

‘Apa orang ini tidak punya rasa bersalah? Kenapa tenang-tenang saja?’

“Kalau kukasih tahu pacar Sunbae, bagaimana?”

‘Aku ini bicara apa, sih? Kedengarannya seperti aku mengancamnya‘.

“Gimana, ya?” tanggap Jungkook. Namun kali ini dia tak menoleh, pandangannya masih tertuju pada dokumen-dokumen di hadapannya.

“Kalau Sunbae ingin aku tutup mulut—”

‘Ugh, kenapa aku tidak bisa berhenti bicara?!’

“—berselingkuhlah denganku juga.”

Tidak hanya Yein yang terkejut dengan ucapannya sendiri, Jungkook pun lekas memutar kepalanya begitu kalimat barusan terlontar. Ekspresi terkejut kentara terlihat di paras tampannya. “Hah? Apa katamu?”

“Tidak masalah ‘kan, kalau tambah satu orang lagi!?”

“Hei, tenanglah. Kamu itu ‘kan—” Jungkook menyentuh tengkuknya sesaat, “—murid teladan.”

“Ja-jangan salah paham, ini cuma sebagai pengisi waktu senggang saja! Sunbae ‘kan ganteng, supel, dan populer.” Bertolak belakang dengan wajahnya yang sudah semerah tomat, bibir Yein terus saja bicara. Mengutarakan semua hal yang ada di pikirannya secara gamblang. Sungguh, ini bukan-Yein-sekali.

“Oh, ya?” Jungkook melangkah mendekat. “Jadi kamu juga merasa begitu, ya?” Senyum misterius terpeta di wajahnya, dan sepersekian sekon berikutnya kedua lengan Jungkook telah memagari tubuh gadis itu, membuat Yein terpojok.

Yein berusaha mengatur detak jantungnya yang bergerak abnormal, namun gagal lantaran sepasang iris Jungkook bergerak mengobservasi setiap inci wajahnya yang sudah memerah dengan kurva terkembang. Yein ingin mengumpat berjuta kali, sekaligus membenarkan rumor yang beredar di kelasnya. Iya, Jeon Jungkook memang tampan, apalagi kalau dipandang sedekat ini.

“Baiklah, kurasa tidak masalah kalau tambah satu.”

Setelah berkata demikian, Jungkook memangkas jarak dan mendaratkan bibirnya pada kepunyaan Yein. Jung Yein memang tidak waras saat bibirnya terus-menerus berbicara, namun gerakan lembut bibir Jungkook di bibirnya membuat neuron otaknya mendadak tidak lagi berfungsi. Sekedar memerintahkan tangannya untuk mendorong pemuda itu menjauh saja ia tidak bisa. Yein benar-benar tak berkutik dibuatnya.

Barulah saat Jungkook menjauhkan wajahnya, dwimanik Yein membelalak.

“Ke-kenapa Sunbae menciumku?!”

Jungkook tertawa renyah. “Kamu itu terlalu polos, ya?” Jemari lelaki Jeon itu menyentuh salah satu kuncir Yein lembut sebelum akhirnya tersenyum manis. “Ini yang dilakukan dua orang yang berselingkuh.”

Yein masih mengumpulkan keping-keping kesadarannya, tidak mampu untuk mencerna perkataan Jungkook barusan.

“Baiklah, mulai sekarang mohon kerjasamanya.” Netra pemuda itu turun ke nametag yang Yein kenakan. “Jung Yein,” tambahnya.

***

‘AAAAAAKKKKHHHHHHHHH!’ . Yein meremas surainya frustasi.

‘Ba…bagaimana ini?! Itu ‘kan ciuman pertamaku!’

‘Aku tidak berpikir kalau akan seperti ini jadinya.’

‘Apa aku mundur saja? Tapi…AKKHHHH DAMN, JEON JUNGKOOK!!’

“Murid teladan.”

“A-apa?!” Refleks Yein mengangkat kepalanya.

“Kenapa kau terkejut begitu?” tanya Shannon yang ternyata memanggilnya tadi. Diulurkannya sebuah lipatan kertas pada teman sebangkunya itu. “Ini, ada yang menitipkan kertas ini untukmu.”

Sedikit menghela napas lega, Yein merapikan sejenak kuncir duanya sebelum lantas meraih kertas berwarna biru muda itu dari tangan Shannon.

“Terima kasih, Shan.”

Sesaat gadis blasteran itu memandang aneh penampilan Yein; rambut kusut dan mata sayu. Namun ia memilih untuk tidak menganggu Yein yang kini membuka kertas yang didapatkan Shannon dari SinB, teman sekelasnya tadi.

Jam makan siang, di tempat kemarin.

– Jeon Jungkook –

Maksud Yein memang bukan seperti ini. Tetapi…

…ia sudah bosan dengan hari-hari tanpa tantangan.

***

Langkah Yein terhenti di ambang pintu. Mengambil jeda beberapa detik untuk sekedar memerhatikan Jungkook yang sedang berdiri memunggunginya, sama seperti saat ia bertemu dengannya kemarin.

‘Apa tidak masalah?’

‘Selama ini menjadi murid baik-baik…aku mau melakukan sedikit hal buruk!’

“Oh! Kau sudah datang.”

Saraf-saraf Yein menegang saat Jungkook menoleh dan tersenyum padanya. Ia tidak bisa menggerakkan tungkainya dan maniknya terkunci pada tatapan Jungkook.

“Seseorang akan menemukan keberadaan kita kalau kau membiarkan pintunya terbuka, Nona.”

Beruntungnya neuron Yein masih dapat mencerna sindiran halus Jungkook, karena sekon selanjutnya gadis itu lekas bergerak menutup pintunya rapat. Namun saat berbalik, yang Yein lakukan hanya menatap Jungkook lamat. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus diperbuat.

“Kemarilah,” titah Jungkook.

Bagai seorang bocah yang diperintah ibunya, Yein berjingkat ke arah Jungkook. Sama sekali tak menaruh curiga sampai pemuda itu menarik tangannya untuk lebih mendekat.

“Bagaimana harimu?” tanyanya lembut seraya menyentuh pipi tembam Yein. Menyapu rona merah yang kini terlukis samar di sana.

“B-bai—”

Yein tak meneruskan ucapannya karena Jungkook sudah lebih dulu membungkamnya dengan ciuman. Menarik tengkuknya untuk meretas jarak yang ada. Dua belah bibir pemuda itu melumatnya lembut tanpa menuntut, kendati demikian mampu merenggut seluruh pasokan udaranya.

Menyudahi ‘aktivitas’nya, Jungkook berujar pelan. “Kamu menahan napas, ya?”

“Eh? Masa?” sahut Yein dengan napas terengah.

‘Napasku berhenti!’

Jungkook tertawa kecil, menunjukkan gigi-gigi kelincinya yang berderet rapi. “Iya, napasmu kacau.”

“M-maaf, aku tidak berpengalaman…ini pertama kalinya bagiku.”

Wajah Yein sungguh merah, dan ia malu untuk menunjukkannya pada Jungkook. Semua hal ini, semua perlakuan yang ia dapatkan dari Jungkook adalah yang pertama baginya. Yein semakin merasa telah menyia-nyiakan hidupnya selama tujuh belas tahun hanya berkutat dengan buku pelajaran. Ia bahkan tidak tahu harus membalas perlakuan Jungkook, pun melakukan apa saat pemuda itu menciumnya.

Jungkook mengusap puncak kepala Yein yang tertunduk dan tersenyum lembut.

“Baguslah. Biar aku yang memiliki semua pengalaman pertamamu.” Tangannya diletakkan di dagu Yein, mengangkat wajah gadis itu perlahan. Membiarkan parasnya terbias pada sepasang iris karamel Yein. Jungkook tersenyum. Senyuman yang mampu membuat Yein terhanyut. Lantas ia kembali mendekatkan wajahnya, mengecup singkat kedua belah bibir peach Yein.

Ciumannya Jungkook semakin lembut…

…Yein tahu itu.

***

“Yein-a, akhir-akhir ini makanmu lambat,” tegur Shannon.

Yeeun yang duduk di seberang mejanya mengangguk setuju. “Setelah makan kau juga selalu pergi entah ke mana,” imbuhnya.

Sekarang mereka sedang menikmati bekal makan siang di meja Shannon—dan juga Yein—lalu kedua sahabatnya itu tiba-tiba menyinggung perihal tingkahnya beberapa hari ini. Memang benar yang dikatakan Yeeun, sejak menjadi selingkuhan Jungkook, Yein intens bertemu dengan pemuda itu setiap jam makan siang.

‘Bukan melakukan hal yang menyenangkan, kok’.

“Ada apa memanggilku?” Yein sontak menoleh saat mendengar suara Jungkook, mendapati pemuda jangkung itu berdiri di ambang pintu kelasnya bersama kekasihnya, Halla.

Oh, apa Yein belum bercerita? Ia dan Lee Halla satu kelas, kelas 2-1. Jadi Yein sangat mengenal perangai kekasih resmi Jungkook itu. Halla masuk pada golongan gadis yang harus kaucemburui. Wajah cantik mulus dan surai legam indahnya benar-benar membuat iri. Tak hanya itu, ia juga kaya dan supel. Semua lelaki mengaguminya, dan mungkin Jungkook juga salah satunya. Namun sayang bagi siswi biasa seperti Yein, Halla terlihat sombong di matanya. Yah, memang gadis Lee itu hanya akan bergaul dengan sesama golongan atas ataupun siswa populer, seperti Jungkook salah satunya.

“Makan siang bareng, yuk!”

Terdengar Halla berseru sambil bergelayut manja. Pemandangan yang sebenarnya sudah biasa dilihat penghuni kelas 2-1. Halla dan Jungkook adalah pasangan populer dan paling serasi di sekolah.

“Tidak bisakah mereka berpacaran di tempat lain? Benar-benar membuat iri,” protes Shannon pelan. Netranya yang sedari tadi memerhatikan Jungkook dan Halla, kini kembali memandang lurus pada Yeeun yang sedang menekuni kotak bekal di hadapannya.

Jangan heran. Kalian juga pasti akan berpendapat demikian, tentunya kalau tidak tahu salah satu dari mereka ternyata berkhianat. Dan kini status Yein juga selingkuhan Jungkook, omong-omong. Jadi melihat kemanisan yang terlukis di hadapannya, Yein hanya menganggap itu semua omong kosong.

‘Begitu rupanya…hari ini bersama pacarnya. Yah, mustahil kami bersama setiap hari’

“Maaf.”

‘Eh?’

“Aku ada pertemuan klub.” Jungkook menepis pelan tangan Halla yang melingkari lengannya. Membuat gadis itu memasang wajah cemberut yang justru membuatnya semakin imut. Ah, dia benar-benar tak tertandingi. Melihat Jungkook menolak permintaan Halla begitu saja, mungkin saat ini seluruh siswa kelas Yein sedang gigit jari.

“Huh, yasudah.”

Namun Jungkook tidak peduli pada kekasihnya yang sedang merajuk, ia malah berniat untuk pergi. Dan saat tubuhnya hendak berbalik, pandangan Jungkook bersirobok dengan sepasang manik karamel Yein yang memerhatikannya sedari tadi. Sekilas, namun Yein yakin kalau pemuda itu tersenyum tipis ke arahnya.

***

Beberapa hari lalu Yein bukan siapa-siapa bagi Jungkook, ia hanya seorang siswi biasa yang melihatnya dari jauh. Siswi biasa yang hanya mengetahui namanya. Siswi biasa yang hanya mendengar kabarnya dari rumor yang beredar. Siswi biasa yang mengetahui statusnya sebagai kekasih Lee Halla. Dan beberapa hari lalu pula, Jungkook dan Yein tidak saling mengenal. Namun detik ini pemuda itu tengah menyandarkan kepalanya pada bahu Yein. Duduk berdua di sudut atap sekolah. Menghabiskan tiga puluh menit jam makan siang mereka bersama.

“Pacar Sunbae tidak apa-apa?” Yein memecah keheningan yang semula menyelimuti mereka.

“Aku bisa bertemu Halla di luar sekolah. Bersamamu lebih penting, Yein-a,” Jungkook menjawab seraya menautkan kelima jemarinya dengan milik Yein.

Sunbae memanggilku…”

“Tidak boleh?”

“B-boleh, kok.”

Sesaat keduanya kembali membisu. Memperdengarkan helaan napas keduanya yang saling memburu. Terlihat Jungkook memejamkan matanya sedangkan manik Yein tertuju pada tautan tangan mereka. Saat Yein menggerakkan sedikit tangannya yang berada di dalam telapak tangan besar Jungkook, lelaki itu semakin mengeratkan genggamannya.

Jadi seperti ini rasanya digenggam?’

Minimnya jarak yang terbentang di antara mereka, membuat indera penciuman Yein bahkan dapat mencium aroma parfum yang Jungkook gunakan.

Jadi seperti ini, ya, harum laki-laki?’, Yein bergumam lagi dalam hati.

Namun, meski spasi mereka sedekat ini, Yein masih merasa ia belum sedekat itu dengan Jungkook. Ia tidak tahu pada tanggal berapa Jungkook berulang tahun, apa golongan darahnya, makanan kesukaanya, pelajaran kesukaanya, klub apa yang…ah! Bukankah pemuda itu beralibi akan ke pertemuan klub pada Halla tadi? Yein jadi penasaran sebenarnya klub apa yang Jungkook maksud.

“Um, tadi Sunbae bilang ada pertemuan klub. Memangnya Sunbae masuk klub—”

“Yein-a,” Jungkook berdesis.

“I-iya?”

Menghirup oksigen dalam-dalam, Jungkook membenarkan letak kepalanya. Berupaya mencari posisi ternyaman untuk mengistirahatkan diri sementara. “Aku mengantuk, biarkan aku tidur.”

“Baiklah.”

Tak berselang lama, dapat Yein dengar napas Jungkook yang berubah teratur. Menandakan kalau pemuda Jeon itu sudah tertidur. Akhirnya Yein memberanikan diri untuk menoleh sedikit, membuat retinanya dapat menangkap wajah Jungkook yang sedang tertidur di bahunya. Dan kegiatan Yein selanjutnya adalah mengamati setiap lekuk paras Jungkook. Mulai dari kelopak matanya yang sempurna terpejam, bulu matanya yang lumayan panjang, hidungnya yang bangir, dan bibirnya yang terbelah. Tanpa sadar kini Yein mengangkat tangannya, menyibakkan surai yang menutup sebagian kening pemuda itu. Kendati demikian Jungkook masih setia bergeming. Seakan sentuhan Yein tidak mengusiknya barang sejenak.

Aneh bagaimana bisa ia tertidur sepulas itu? Yein jadi bertanya-tanya.

Apa ini yang dilakukan orang yang berselingkuh?

***

Bel tanda berakhirnya pelajaran baru saja berbunyi lima menit yang lalu. Seluruh anggota kelas sibuk membereskan perlengkapan mereka, tak terkecuali Yein dan Shannon. Sedangkan Yeeun sudah dijemput Mingyu, kekasihnya, beberapa menit yang lalu. Satu-persatu siswa sudah mulai meninggalkan kelas saat seorang pemuda jangkung menyambangi kelas Yein. Dari ambang pintu, si lelaki kemudian berseru.

“Ada Shannon Williams?”

Yeogi!” Sahutan itu mengudara bersamaan dengan mengacungnya sebelah tangan Shannon. Segera manik si pemuda bermuara padanya.

Ppali,” ujarnya lagi seraya mengeratkan selempang ranselnya.

Ne.”

Lekas Shannon memasukkan barang-barangnya yang masih berserakan di atas meja dengan tempo dua kali lipat. Berbanding terbalik dengan Yein yang justru menghentikan pergerakannya dan memandang Shannon dengan lamat.

“Pulang dengan Junhoe lagi?” tanya Yein yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Shannon. “Kau tahu Chanwoo tidak suka melihatnya ‘kan?” tambah gadis berkuncir dua itu.

M-mwoya, Jung Yein?! Memangnya Chanwoo siapaku?” Gadis bersurai brunette itu protes tetapi pipi tembamnya bersemu. Seakan bertolak belakang dengan pernyataan sekaligus pertanyaan yang terlontar dari mulut gadis itu.

Aigo, Chanwoo akan sedih mendengarnya.” Yein menggeleng-gelengkan kepalanya . Mendramatisir ekspresi prihatin yang sedang ditunjukkannya.

“Aish, kau tidak pulang, eoh?”

“Aku menunggu Chanwoo.”

“Tuh, kau saja masih pulang bersama Chanwoo.” Gadis blasteran itu mengerucutkan bibirnya. “Kalau begitu aku dan Junhoe duluan. Annyeong!

Annyeong.”

Sepersekian sekon berikutnya Shannon memakai ransel merahnya dan berlari menghampiri Junhoe di luar kelas. Dan seiring sosok Shannon dan Junhoe menghilang dari pandangan, ponsel Yein bergetar keras. Menandakan sebuah pesan telah masuk di inboxnya.

From : Chanwoo

Yein, aku ada kegiatan klub.

Kau pulang sendiri saja, ya.

Selalu saja seperti ini. Yein harus pulang sendirian karena saudara kembarnya itu ada kegiatan klub sampai sore hari. Huh, akan sangat menyenangkan kalau Yein memiliki teman lelaki seperti Shannon yang memiliki Junhoe, dan kekasih seperti Yeeun yang memiliki Mingyu. Kekasih dalam artian sebenarnya, bukan hanya status tersembunyi seperti yang dimilikinya saat ini. Sepertinya status ‘selingkuhan’ pun hanya membuat Yein dapat menghabiskan jam istirahat berduaan dengan Jungkook. Tidak mungkin ia muluk-muluk dengan berharap Jungkook mengantarkannya pulang juga. Toh, komunikasi mereka hanya sebatas di lingkungan sekolah saja.

Drrttt…drrttt…

Lamunan Yein seketika buyar, terinterupsi dengan suara getar yang berasal dari ponsel pintarnya. Dengan semangat ia mengecek benda persegi panjang di hadapannya. Berharap kalau-kalau pesan itu berasal dari Chanwoo yang batal ikut aktivitas klub dan memilih untuk pulang bersamanya. Yeah, meski itu terdengar mustahil.

From : Jungkook sunbae

Tinggallah di kelas.

Keluar setelah sepuluh menit.

Ah, Yein lupa kalau ia dan Jungkook sudah bertukar nomor telepon. Sekali lagi dibacanya pesan dari Sunbae—sekaligus pacar diam-diam—nya itu sampai tuntas karena sebelumnya Yein sudah keburu terperangah dengan nama Jungkook yang tertera di kolom pengirim. Namun apa maksud Jungkook dengan menyuruhnya tinggal di kelas? Kenapa, sih, pemuda itu tidak langsung berkata lugas.

Apa mungkin pemuda itu akan menghampirinya? Ah, tapi itu rasanya tidak mungkin. Nekat sekali kalau mereka mau berduaan di dalam kelas.

Daripada menduga-duga, akhirnya Yein putuskan untuk menuruti perkataan Jungkook. Tetap tinggal di dalam kelas selama sepuluh menit.

Waktu berlalu dan tinggallah Yein sebagai penghuni terakhir kelas 2-1.

Gadis Jung itu memeriksa ponselnya lagi, memastikan kalau waktu sudah bergulir sepuluh menit semenjak pesan Jungkook ia terima. Mengangkat bokong dari bangkunya, Yein menyelempangkan ransel ungunya seirama tungkainya bergerak memintal langkah ke arah pintu kelas. Ditolehkannya kepala ke kiri dan ke kanan, mendapati lorong dalam keadaan sepi. Kelas Yein berada di lantai dua, berbeda dengan lantai satu yang mungkin masih dihuni beberapa siswa yang sedang menyimpan barang di loker. Yein menuruni tangga dan melangkah hingga ke luar sekolah. Tak jua ditemuinya presensi pemuda itu barang secercah.

Ia benar-benar tidak mengerti dengan maksud Jungkook sebenarnya.

Tanpa memusingkannya lebih lanjut, Yein memilih berjalan kaki menuju halte yang berjarak sepuluh meter dari sekolah seperti biasa. Ia memang selalu pulang menggunakan bis jika tidak bersama Chanwoo. Sesampainya di halte, Yein hanya teduduk dan memerhatikan ponsel yang masih digenggamnya. Ia belum membalas pesan Jungkook, pun tidak berniat menanyakan maksud pemuda itu. Ini sudah lewat dari waktu yang pemuda itu janjikan dan tak ada lagi pesan yang menyambangi kotak pesannya. Finalnya, Yein putuskan untuk tidak menganggap serius pesan lelaki itu beberapa menit yang lalu.

Hah, rasanya tubuh Yein sudah lelah dan ia ingin segera berbaring di kasur empuknya. Gara-gara Jungkook, waktu pulangnya jadi molor sepuluh, ralat, sekarang sudah lima belas menit.

Saat Yein masih menundukkan wajahnya, tiba-tiba terdengar deruman sebuah motor besar yang berhenti di depannya. Yein tak berniat untuk menaruh peduli karena yang ia harapkan adalah sebuah bis yang akan mengantarkannya ke rumah, bukannya motor besar berpengemudi—

Sunbae?

Yein refleks mengangkat wajahnya saat mengenali sepatu Reebok serta celana seragam yang dikenakan pemuda itu serupa dengan seragamnya. Lelaki berjaket hitam itu membuka kaca helmnya.

Dan Yein dapat mengenali mata itu.

“Naiklah. Ayo kuantar kau pulang.”

TBC

tyavi’s little note : Berhubung dek Fanny alias Woolimstan minta Mr.Chu versi Lovelyz dan juga aku udah lama gak update di sini, terbentuklah FF ini. Sama seperti Mr.Chu, KisSin juga terinspirasi dari manga, jadi jangan salah kalau menemukan komik yang ceritanya sama karena tyavi terinspirasi dari komik itu. Ketahuan deh kalo tyavi ottaku :v. Ohiya di sini dikisahkan(ceilah) Yein ini cewek alim tapi naif /?/. Sungkem dulu sebelumnya sama para JeongIn shipper. Maaf menistai pasangan unyu ini T^T

p.s: please, setelah bikin mr.chu, tyavi dikira sering ciuman T^T… jangan-jangan sekarang dikira tyavi pernah jadi selingkuhan …/nangis darah/ /abaikan/

Terima kasih sudah berkenan untuk membaca, ditunggu saja kelanjutannya ya ^^

Mind to drop some review?

Iklan

3 thoughts on “KisSin (Chapter 1)

  1. wahhh….. hola…. mbak/?/ …. ff nya seru yah…. aku udah pernah baca komiknya…. tapi ceritanya di sini keren abisss….. lebih joss…. lebih seru and dapet emosi/?/ nya… si golden maknae keliatan cool…semangat nulis yah…. waiting for chapter 3 … eh… sama free spirit chap 4.. go go eunwoooooo

    Suka

  2. ngedenger judulnya, aku kaya pernah baca, tapi lupa pas baca ceritanya…

    wkwk tak apa ya tat, baca dari awal lagi, ^^

    taty bukan pengalaman pribadi kan? hahahahha peace :v

    tapi jungkook mantep ya, baru pacaran selingkuh sehari udah poppo nya banyak, anak siapa sih dia ? si yein juga mulut nya uncontroll gitu, eh pas tau dia saudara kembar chanwoo, oh okey,, itu bukan hal aneh kalo sikap dia begitu wkwkw..

    seru tat seru, aku penasaran, go ke chap berikutnyaaa *berharap ada kemunculan bule ganteng aa enon*

    keep writing :**********

    Suka

  3. mbak tyavi kok kyknya terobsesi bgt dgn ciuman ya? jgn2 mbak pengen dicium? wekeke. maaf lho mbak. tau gak sih kalau mami bisa ngehukum aku kalau baca yang beginian? tolong dong dikurangi scene 17+ nya. alamat nih mbak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s