Let’s Play

Lets Play

Let’s Play

by Tyavi

All member VIXX and OC’s

Childhood, slight!Romance, Family, Fluff, a little bit Comedy | Oneshot | G

Summary :

Kau mau naik sepeda, main basket atau beli eskrim?

.

.

.

Sebuah pedang plastik diacungkan semangat oleh seorang bocah lelaki. Kedua kakinya terbuka memasang kuda-kuda. Tangan kanannya maju mundur membuat gerakan menghunuskan pedang horisontal, mencoba mengancam lawannya yang hanya berdiri tegak dan menggerakkan pedang sekadarnya.

“Aku akan mengalahkanmu, Hyung.”

Menunjukkan senyum tipis namun terkesan mencibir, bocah lelaki yang jauh lebih tinggi—dan lebih tua pula—mulai mengangkat pedangnya seraya melemparkan tatapan tajam.

“Coba saja.”

Lantas pertandingan sengit tidak dapat dihindarkan. Keduanya saling menggerakkan pedangnya dinamis. Sekonyong-konyong cahaya menyilaukan terpancar dari pedang satu sama lain. Dua selongsong panjang itu saling beradu di udara. Tidak ada yang mau mengalah seakan mereka adalah anggota superhero yang tengah bertarung di dalam video games, khas imajinasi anak-anak.

Kegiatan yang dianggap Ravi keren itu harus terganggu saat seorang gadis kecil datang sembari menenteng buku gambar besar. Lantas menebar keduapuluh empat pensil warna miliknya ke atas karpet yang juga dipijaki Ravi dan Leo.

“Anna, mainnya di kamar saja.”

Kuncir dua gadis itu bergoyang seraya kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menolak perintah dari sang kakak lelaki.

“Tidak mau, Anna mau menggambar di sini.” Kini ia mulai menggoreskan pensil berwarna biru ke atas buku gambarnya yang terbuka lebar.

“Aish, nanti kau kena pukul.”

Tak mengindahkan kata-kata Ravi, Anna meraih pensil berwarna merah dan menggambar bentuk segitiga.

“Kim Anna.”

“Anna takut sendirian di kamar, Oppa!”

“Navi ke mana??”

Menolehkan kepalanya, Anna menunjukkan mimik lucu dengan kening berkerut. “Memangnya Oppa tidak lihat kalau Navi eonnie keluar membawa bola basket?”

“Apa??!”

Panik, Ravi membuang pedang kesayangannya ke sembarang arah. “Bagaimana kalau dia tidak bisa pulang, eoh?! Aish, aku bisa dimarahin Eomma!!” Dan tungkai itu melesat keluar pintu gerbang. Leo yang sedari tadi hanya memerhatikan, berdecih melihat kebodohan Ravi. Ya, bocah lelaki itu bodoh karena tak menggunakan sepeda yang tergeletak di halaman.

Mengalihkan pandangannya, Leo menemui Anna telah kembali berkutat dengan buku gambarnya. Jemari mungilnya menggenggam pensil berwarna jingga dan bergerak memutar. Gadis kecil itu tampak sangat serius sampai Leo penasaran apa yang sedang digambarnya. Leo menjulurkan sedikit kepalanya karena buku gambar itu hampir setengahnya tertutup tubuh Anna yang terlungkup. Tapi tenyata kegiatan itu tak cukup untuk mengetahuinya, Leo hanya dapat melihat sebuah garis yang dibuat dengan pensil berwarna merah. Sejenak ragu, namun akhirnya secara perlahan Leo beringsut mendekati Anna.

“An—

ANNYEONG!!!

Leo bisa melihat kalau tubuh mungil itu sempat tersentak. Anna terkejut dengan suara serupa terompet itu, tidak terkecuali dirinya. Leo menoleh gusar ke arah pintu kendati tanpa menoleh pun ia sudah tahu suara siapa itu.

“Oh! Leo!!!”

Ken si bocah lelaki yang tinggal dua rumah dari kediaman Kim, memamerkan deretan gigi rapinya(hasil rajin ke dokter gigi tiga bulan sekali) pada Leo. Tampak senang mendapati teman lelakinya berada di sana. Alih-alih menyambut Ken, Leo memasang ekspresi masam karena ia tahu, Ken identik dengan keributan. Urung sudah niat Leo menghampiri Anna, dirinya lebih memilih mencari aman dengan pergi ke arah halaman belakang. Meski kepalanya bolak-balik menoleh, takut jika Ken mengikutinya sampai—

“Kau sedang apa, Anna-ya?”

—Leo salah. Ken justru mendekati Anna dan turut duduk di sampingnya. Entah kenapa Leo kembali mengurungkan niatnya.

“Aku mau menggambar beruang,” suara cempreng Anna terdengar.

“Mau Oppa ajarkan?”

Gadis kecil itu mengangguk semangat. Selanjutnya Ken mengamit pensil berwarna cokelat dan mulai mengambil alih buku gambar ditemani manik Anna yang menyorot serius setiap pergerakan tangannya. Tak berpindah dari posisi, Leo turut memerhatikan Ken meski dalam hati ia sangsi kalau bocah berisik itu bisa menggambar.

“Waaahhh! Gambar Oppa bagus.”

Namun, decakan kagum dari Anna membuat Leo ciut seketika. Lekas bocah lelaki itu mendekati mereka demi melihat jelas hasil karya Ken. Cengiran menyebalkan kembali menghiasi wajah bocah bersurai cokelat itu seraya tangannya dengan bangga menunjuk gambar beruang yang tertera. Beruang itu tampak imut dengan bentuk tubuh yang gemuk. Anna sampai gemas melihatnya. Tak mau kalah, Leo mengambil pensil warna hitam yang menyentuh ujung kaus kakinya dan berujar.

“Aku juga bisa menggambar.”

“Benarkah?” Dengan manik berbinar, Anna mengeser sedikit tubuhnya, mengisyaratkan Leo untuk turut menggambar di sampingnya. Gadis kelas dua SD itu benar-benar tertarik dengan gambar dan ia tak sabar melihat hasil karya Leo. Maniknya tak bergeser se-inci pun dari buku gambar, senyumnya tidak juga pudar, hingga sebuah kerutan kecil tercipta di keningnya dan tawa Ken mengudara.

“Hahahahaha gambar apa itu, Leo? Hahaha bentuknya seperti kotoran Ko—aw, sakit, Leo!”

Kepala Ken baru saja dicium pedang plastik milik Leo. Masih tidak terima dengan ejekan Ken, pukulan kedua nyaris saja di layangkan kalau saja Anna tidak berujar.

“Waahh jadi panda!”

Sontak mencuri atensi kedua bocah lelaki. Di buku gambarnya, Anna baru saja menambahkan mata dan telinga pada gambar bulat (dan juga absurd) yang barusan Leo buat. Hasilnya, wajah panda yang imut telah tercipta. Anna benar-benar tidak ingin menyakiti perasaan Leo atas gambarnya yang memang kalah bila dibandingkan dengan gambar Ken. Gadis kecil itu tersenyum manis dengan mata serupa bulan sabit.

“Pandanya lucu sekali!”

Menggaruk kepalanya kikuk, semu merah telah tercipta di pipi tembam Leo.

“T-terima kasih.”

Anna terkikik kecil melihat pemandangan itu. Senyum manis kembali diulasnya.

“Sama-sama.”

Sedang Ken memasang mimik aneh dengan dahi berkerut. Bocah itu masih tidak mengerti di mana letak lucunya gambar panda yang mirip dengan gulungan benang kusut bertelinga.

“Panda apan—

Belum sempat sebuah protes lolos dari bibirnya, seseorang menarik hoodie jaket biru Ken. Membuatnya bangkit dan tertarik ke arah halaman. Saat pegangan itu terlepas, Ken berbalik dan melihat siapa seseorang yang telah menyeretnya.

“Hei, jangan ganggu Leo oppa. Memangnya kamu mau mati, eoh?”

Telinga Ken langsung disapa omelan dari seorang gadis kecil bersurai cokelat serupa dirinya. Sejenak, Ken memasang ekspresi terkejut sebelum akhirnya sebuah cengiran kembali terpeta di wajah tampannya.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?” Gadis cantik itu mengerutkan keningnya.

“Kamu khawatir sama aku ‘kan?”

“A-apa? Kamu itu terlalu percaya diri!”

Alih-alih tersinggung, Ken malah terkikik melihat ekspresi panik gadis kecil di hadapannya. Pasalnya sebuah rona merah menyembul di permukaan pipi gadis itu. Sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat.

“Kamu gila, ya?”

Ken mengentikan tawanya dan menyahut, “Gila?”

“Iya, kata Eommaku orang yang suka tertawa sendiri adalah orang gila.”

“Ohh, um, tapi aku bukan orang gila. Namaku Lee Jaehwan—” Ken memasang senyum termanisnya seraya mengulurkan tangan, “—dan kamu bisa memanggilku Ken.”

Alih-alih menyambut uluran tangan Ken, gadis kecil itu mendudukkan diri pada sofa teras dan mengamit boneka barbie yang tergeletak di sana. Bukan Ken namanya kalau tidak menyebalkan. Tentu saja bocah lelaki itu tak serta-merta menyerah, justru ia turut mendudukkan diri di samping gadis mungil itu.

“Siapa namamu?”

“Siapa namamu?”

“Siapa namamu?”

“Siapa namamu?”

Rasanya Ken bisa melafalkan pertanyaan itu ribuan kali sampai gadis mungil di sebelahnya menoleh dan memberikannya jawaban.

“Siapa namam—

“Hentikan!” Mengangkat tangannya ke depan muka, gadis itu mendesah pelan sebelum menjawab, “Jung Victory.”

“Tory.”

Gadis bermarga Jung itu menoleh cepat dengan mata membulat. Alis tebal yang sebelumnya tersembunyi di balik poni, dapat terlihat jelas kala keningnya berkerut.

“Bagaimana kamu tahu panggilanku?”

“Oh, aku hanya memanggilmu asal. Lagipula kamu secantik barbie Tory.”

Tory memutar bola matanya malas. “Huh, tapi kamu tidak setampan boneka Ken.”

Bocah lelaki yang anehnya memiliki paras (agak) kebaratan itu kembali tertawa lebar karena rona merah kembali muncul di pipi Tory kala ia memujinya cantik.

“Tuh, kamu tertawa lagi. Kamu seperti orang gila!”

“Kamu lucu.”

***

“Gyuwoon-a.”

Gadis kecil yang dipanggil Gyuwoon itu menghentak-hentakkan kaki seraya berjalan mendahului. Kendati demikian, si bocah lelaki masih bisa kembali mensejajari.

“Gyuwoon-a.”

Gyuwoon mengepalkan tangannya rapat-rapat.

“Gyuwoon-a, tidak bisakah—

Tubuh Gyuwoon berbalik cepat, dengan raut kesal ia berujar.

“Sudah kubilang, aku tidak mau pacaran denganmu. Kita masih kelas dua SD!”

Namun sedetik kemudian Gyuwoon menyesali perkataannya kala bocah lelaki itu tampak kecewa dan menundukkan wajahnya.

“Maaf, Hyukkie.” Ditepuknya pundak bocah dengan tinggi hampir sama dengan dirinya. Dan pemuda itu menundukkan wajahnya semakin dalam.

“Han Sanghyuk.”

Bocah bermarga Han itu malah masih melipat wajahnya.

“Hyukkie.”

“Apa?”

“Itu Hakyeon oppa!” Sejurus dengan Hyuk yang mengangkat wajahnya, Gyuwoon menunjuk pada sepeda yang perlahan berjalan ke arah mereka. “Ayo kita minta uang dan beli eskrim!”

Seketika wajah Hyuk berubah ceria dan bocah itu menarik tangan Gyuwoon semangat.

“Ayo!”

Sepeda itu telah berada beberapa meter di antara mereka, lantas Gyuwoon dan Hyuk serempak berteriak.

Oppa!”

Hyung!”

Oppa!”

Hyung!”

Hakyeon menghentikan sepedanya dan tersenyum pada dua bocah yang menghampirinya.

“Ada apa adik-adik manis?”

“Kami minta uang, Oppa!”

“A-ap—YA!

Baik Gyuwoon, Hyuk, dan Hongbin—yang berada di boncengan—menutup telinga atas teriakan Hakyeon. Namun dua detik kemudian Gyuwoon kembali memasang puppy eyes andalannya.

Oppa…”

“Tidak! Memangnya uang jajanmu dari Eomma habis, eoh?”

“Um, itu…kemarin aku makan dua porsi pancake di warung tenda depan sekolah,” ujar Gyuwoon dengan senyum tanpa dosa.

YA! UNTUK APA ANAK SD JAJAN KE SANA, HAH??” omel Hakyeon tak terima. Dirinya yang sudah kelas satu SMP saja belum pernah jajan ke sana.

“Tadi aku melihat Yumi eon.”

“Yumi?? Di mana?!”

Yep, seorang Cha Gyuwoon tidak pernah kehabisan akal untuk membujuk kakak laki-lakinya.

“Kalau Oppa memberiku uang, aku akan beri tahu di mana Yumi eonnie.

“Aish, dasar bocah mata duitan .” Merogoh saku celana pendeknya, Hakyeon menemukan dua lembar uang bernilai seribu won dan langsung menyerahkannya pada Gyuwoon. Gadis kecil itu langsung melompat senang karena sebentar lagi dirinya dapat membeli eskrim stroberi kesukaannya.

“Sekarang katakan di mana Kim Yumi?”

“Di dekat taman bermain. Kulihat Yumi eonnie sedang bermain sepeda di sana. Hyuk, ayo pergi beli eskrim!” Setelah berkata demikian, Gyuwoon menarik tangan Hyuk pergi. Sedang Hakyeon tengah tersenyum senang.

“Kong.”

Hongbin yang sedari tadi diam dan memerhatikan dari boncengan, terkejut kala tubuh Hakyeon berbalik menoleh padanya.

“Cepat turun.”

Mengerutkan keningnya, Hongbin menyahut. “Kenapa, Hyung?”

“Aku mau mengajak Yumi main sepeda.”

“Apa?! Lalu aku bagaimana?”

Mengedaran pandangan sejenak, netra Hakyeon menangkap sebuah benda yang tergeletak di lapangan basket—tepat di sebelahnya.

“Itu, kau lihat di situ ada bola basket. Sana kau main basket saja, nanti kujemput.”

“Aish! Baiklah, Hyung.”

Pasrah, Hongbin turun dari boncengan sepeda Hakyeon. Dan sepersekian sekon berikutnya bocah kelas satu SMP itu telah mengayuh sepedanya cepat meninggalkan Hongbin sendirian. Jahat memang. Hongbin berbalik dan berjalan pelan memasuki lapangan. Lapangan basket komplek terlihat sepi dan terdapat sebuah bola basket tak berpemilik tepat di bawah ring. Hongbin suka basket, sangat suka malah. Maka tidak ada salahnya menuruti perkataan Hakyeon dengan bermain sampai bocah lelaki itu kembali menjemputnya.

Bola basket itu tampak baru kendati ada sedikit noda lumpur yang membekas di sana. Menimang bola basket di tangannya, Hongbin menoleh ke kanan dan ke kiri. Menerka siapa tahu pemiliknya berada di sekitar sini. Namun yang menemani hanya sunyi dan helaian daun maple kering pertanda musim gugur. Lantas Hongbin mulai mendribble bola basket itu. Tungkainya berlari pelan dan tangannya terangkat nyaris melontarkan shot saat—

“Hei, itu bolaku!”

—sebuah teriakkan yang berasal dari belakangnya menginterupsi. Jelas sekali kalau suara cempreng barusan adalah suara perempuan. Hongbin menoleh dan mendapati seorang gadis kecil dengar surai hitam dikuncir kuda, berdiri tepat di belakangnya. Gadis itu melemparkan tatapan tak suka ke arahnya. Dengan gusar, Navi mendekati Hongbin yang memasang wajah bingung.

“Kau ini pencuri, ya?!” tuduhnya.

“Ti-tidak, aku bukan pencuri.” Hongbin mengibaskan tangan di depan dada dan menyanggah.

“Lalu, kenapa bolaku ada padamu?”

“Bola ini milikmu?”

“Iya, memangnya siapa lagi?!”

Lekas Hongbin menyodorkan bola basket itu—yang langsung disambar oleh Navi.

“Maaf, aku memainkannya karena kupikir tidak ada yang punya.” Sejurus permintaan maaf itu, Hongbin mengembangkan senyum termanisnya pada Navi. Senyum yang membuat pegangan Navi pada bola basketnya mengendur, lantas bola itu kembali terjatuh ke tanah.

“Bolamu!”

Refleks bocah laki-laki itu menunduk untuk mengamitnya kembali dan tepat pada saat itu Hongbin mendapati sebuah ukiran nama di kulit bola basket Navi.

“Um, Kim Navi—” menatap lamat dan kembali menyunggingkan senyum (dengan lesung pipi yang semakin tercetak jelas), “—namaku Lee Hongbin. Apa kamu keberatan kalau aku menemanimu bermain basket?”

***

Berteduh di bawah pohon maple, Gyuwoon dan Hyuk tengah asik menyantap eskrim yang baru saja mereka beli sepuluh menit yang lalu. Berulang kali Hyuk melirik pada Gyuwoon. Dilema bertanya-atau-tidak tengah melandanya saat ini, ralat, sejak duapuluh menit yang lalu tepatnya. Kuriositasnya telah mencapai puncak hingga akhirnya ia membuka percakapan dengan—

“Gyuwoon-a, aku bingung.”

Gadis berambut sebahu itu menoleh pada Hyuk. “Bingung kenapa, Hyukkie?” tanyanya di sela-sela kegiatan menjilat eskrimnya.

“Memangnya tadi kita bertemu Yumi nuna?”

“Tidak.”

“Lalu, kenapa kau bilang…

“Itu namanya trik, Hyukkie. Aku telah mengerjai Hakyeon oppa. ”

“Tapi itu ‘kan namanya bo—

“Sudah nikmati saja eskrimmu sebelum cair.”

Hyuk tidak mengajukan protes lagi, justru kini kedua manik jernihnya tengah menatap Gyuwoon lekat. Dan sepersekian sekon berikutnya tangan Hyuk terangkat mengusap sisa eskrim yang menempel di pipi Gyuwoon. Gadis itu memang selalu berantakan jika sedang memakan eskrim stroberi kesukaannya.

“Gyuwoon-a.”

Gyuwoon menoleh dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Hal itu sungguh membuat Hyuk gemas. Namun, alih-alih mencubit pipi tembam gadis kecil itu, ia lebih memilih untuk menggenggam tangan mungil Gyuwoon.

“Yasudah kalau kau tidak mau pacaran denganku sekarang. Tapi kalau kita sudah dewasa nanti, kau tidak boleh menolakku.”

“Um, itu—

“Hei, bocah-bocah!”

Kepala keduanya serempak berputar ke arah sumber suara, seorang bocah lelaki dengan rambut cepak tengah berdiri dengan napas terengah.

“Kalian lihat Navi tidak?” bocah yang tak lai adalah Ravi itu bertanya.

Hyuk dan Gyuwoon menggeleng kompak.

“Aish!”

Tanpa pamit, Ravi kembali berlari ke arah sebaliknya. Meninggalkan Gyuwoon dan Hyuk saling bertatapan lantas mengendikkan bahu tak mengerti. Mereka kembali sibuk menghabiskan eskrim yang sempat terabaikan tadi.

Saat berbelok menuju lapangan komplek, Ravi berpapasan dengan Hakyeon yang tengah mengendarai sepeda. Lekas ia menghentikan Hakyeon dan menanyakan hal yang sama.

Hyung, kau lihat Navi tidak?”

“Tidak—tunggu! Kau lihat Gyuwoon dan Hyuk, tidak?”

Mengeryitkan kening sejenak karena Hakyeon malah bertanya balik, Ravi menjawab.

Eoh? Mereka sedang duduk di bawah pohon maple dekat air mancur, Hyung.”

“Terima kasih, Ravi-ya! Awas kau bocah-bocah mata duitan!!!”

Dan bocah lelaki berkulit hitam itu kembali mengayuh sepedanya dengan semangat membara. Membuat Ravi heran melihatnya, sehingga bocah berambut cepak itu tidak sadar pada langkahnya sendiri.

.

Krakkk…

.

Tamagochi-ku!”

Ravi terkejut merasakan sesuatu di kakinya, ditambah lagi seorang gadis kecil memekik histeris di depannya. Dengan perlahan, Ravi mengangkat kakinya dan mendapati sebuah benda berbentuk kotak sudah agak remuk di bagian layarnya. Menundukkan badan, Ravi mengamit tamagochi tersebut dan menyodorkannya pada gadis kecil di hadapannya seraya berujar.

“M-maaf.”

Ravi panik. Navi belum juga ditemukan dan kini dia harus berhadapan dengan seorang gadis kecil. Ugh, Ravi tidak bisa membayangkan kalau gadis ini akan menangis dan mengadu pada orangtuanya. Bisa-bisa Ravi akan—

“Huh!”

Gadis itu hanya mendengus kesal dengan bibir mengerucut.

“ ‘Bipbip’nya rusak. Lalu aku harus main apa dong?”

Aneh, entah kenapa Ravi justru ingin mencubit pipi gadis mungil di hadapannya. Dia sungguh menggemaskan dan juga tidak cengeng. Ravi menerka berapa umurnya? Um, mungkin sepantaran dengan Anna.

Tepat pada saat itu, manik Ravi menangkap sosok yang dicarinya sedari tadi tengah bermain basket di lapangan bersama seorang bocah lelaki. Bocah lelaki yang dapat ia kenali sebagai Hongbin, teman sekelasnya.

Ravi beralih pada gadis kecil di hadapan yang tengah memainkan ujung kaus berwarna pinknya. Lantas ekor mata Ravi memperhatikan label yang tertera di atas tamagochi milik si gadis mungil.

“Song Yoanne.”

Gadis itu menengadah, membuat Ravi dapat melihat jelas wajah imutnya.

“Sebagai gantinya kau mau naik sepeda, main basket atau beli eskrim?”

“Hah?”

.

“Ayo main bersama!”

.

fin

-Disclaimer-

Tyavi OC : Anna, Navi, Tory

Noranitas OC : Yoanne

Sakurayumi OC : Yumi

p i n k s u m m e r OC : Gyuwoon

tyavi’s little note: Ini dalam rangka tatyana yang lagi kesambet pengen bikin versi mereka semua masih bocah bau kencur /ga. Bukannya sequel atau prequel, pokoknya ga ada hubungannya samsek. Kecuali KenTory mungkin :’v

Soal judul, maaf kalo ga nyambung :v itu ampe semedi mikirin judulnya doang.

Oh iya, dengan ini aku kembali mendebutkan OC baru untuk bang Ken yaitu Tory alias Jung Victory, adeknya Jung Leo. Jangan bosen2 yaa dengan VIXX family ini huehehehe

.

.

.

Kemudian tatyana sadar kalo ini ff childhood full romance, bukannya slight lagi XD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s