Let’s Breakfast

PicsArt_12-28-12.31.53

Let’s Breakfast

by Tyavi

VIXX member and OC’s

Marriage life, Romance, Fluff, Family | Oneshot | G

.

“Kau gila, ya?”

Kalimat itu menyapa rungu Ken alih-alih ucapan selamat pagi. Dan bukannya seulas lengkungan manis yang terpeta di wajah cantik gadisnya, bibir mengerucut dan mata setengah mereduplah yang menyapa netranya. Ken gila!, rasanya Tory ingin meneriakkan kalimat itu berjuta kali. Memberitahukan pada dunia betapa menderitanya ia saat ini—ditarik dari dalam kungkungan selimut tebal nan hangatnya hanya untuk menyapa salju (kata Ken). Oh God!

Mungkin Tory tidak akan mempermasalahkannya kalau Ken melakukan aktivitas itu pada waktunya, bukannya saat jarum jam baru menunjukkan angka enam, pagi pula. Oh, satu lagi, mungkin Tory akan lebih bersyukur kalau Ken mau melakukan kegiatan itu sendiri, tanpa menarik-narik lengannya seperti ini.

“Tory-ya, lihat!”

Mendengar suara Ken itu rasanya seperti disiram air es. Karena kelopak mata Tory yang sebelumnya tinggal seinci lagi terpejam, sontak terbuka lebar, refleks melempar pandangan ke arah yang pemuda itu tunjukkan. Dan di sana, um, bagaimana menjelaskannya, ya? Di sana terdapat hal yang menurut Ken sangat menakjubkan. Tahu jawabannya? Ding dong! Tumpukkan salju setebal satu meter.

Tory tidak tahu harus senang atau sedih atau memilih keduanya saat melihat sesuatu berwarna putih dan memiliki suhu rendah itu—karena itu artinya sebentar lagi Ken akan mengajaknya…

“Ayo kita buat boneka salju!”

Ya, hancur sudah pagi hari Tory. Seperti biasa, tanpa aba-aba, Ken kembali menarik—atau lebih tepatnya menyeret—tangannya ke pekarangan. Sepersekian sekon kemudian pemuda jangkung itu sudah berjongkok dan mengumpulkan salju dengan tangannya—yang terbungkus sarung tangan.

“Tory-ya, ayo,” bujuk, ralat, paksa Ken pada Tory. Menarik-narik tangan gadisnya turut berjongkok di sebelahnya. Entah karena kesadarannya telah pulih sepenuhnya atau Tory memang sudah jengah dengan tingkah Ken, kali ini ia memilih menolak.

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?” Ken bertanya dengan polosnya.

“Di sini dingin, Ken!”

“Oh, kamu kedinginan, Tory-ya?” tanya Ken balik yang lantas dibalas pelototan mata Tory. “Masih tanya?” ujarnya sarkastis.

“Kalau begitu—” bangkit dari posisinya, Ken berjalan ke belakang gadisnya, “—aku akan menghangatkanmu, Tory-ya.” Membuka coatnya lebar-lebar(yang menurut Tory sangat gila, memangnya dia tidak kedinginan?) dan memeluk Tory dari belakang, membungkus gadis Jung itu dengan coat besar miliknya.

Senyum lebar yang tergambar di paras Ken tercipta sejurus rona merah yang menyembul di kedua pipi mulus Tory. Dan meski Ken tidak dapat melihat wajahnya, pemuda yang berstatus suaminya itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Tory. Seakan hendak menenggelamkan gadis itu dalam kehangatan rengkuhannya serta detak jantung yang sudah mereka bagi.

“Bagaimana, Tory­-ya? Hangat ‘kan?” Gadis bernama lengkap Jung Victory itu memiringkan sedikit kepalanya karena terpaan napas Ken di tengkuknya—geli. Menyikut pelan perut Ken, Tory menjawab. “Sudah, teruskan buat boneka saljunya.” Dan Tory harus kembali mengumpat dalam hati karena tawa Ken yang bergema jelas di telinganya.

YEAY! AYO BUAT BONEKA SALJU!!”

“Hei, berisik!”

Kepala dua insan itu serta merta menengadah, menoleh pada sumber suara yang tak lain berasal dari lantai dua bangunan di hadapannya. Seorang pemuda berkulit cokelat, berdiri di balik pagar balkon. Dan kendati sebuah coat telah membungkus tubuhnya di luar piyama tidurnya, Hakyeon masih memeluk dirinya sendiri karena perbedaan suhu yang kontras antara atmosfir luar dan kamarnya.

“Kami sedang buat boneka salju, Hyung!”

“Membuat boneka salju?” Hakyeon kembali berujar dengan manik membulat sempurna. “Ya! Memangnya berapa umur kalian, hah?! Lagipula siapa yang membuat boneka salju pagi-pagi begini???!”

“AKU DAN TORY YANG MEMBUATNYA, HYUNG!”

Sontak Hakyeon mengusap wajahnya frustasi mendengar jawaban polos plus cengiran lebar si pemuda berhidung pinokio.

“TAPI KALIAN MENGGANGGU TIDURKU DAN YUMI—YA! JANGAN BERMESRAAN DI LUAR RUMAH!!

“OH, KAMI MENGANGGU? MAAF, YA, HYUNG. TERUSKAN SAJA TIDURMU!”

***

Sebelah kaki ditarik memasuki selimut. Merubah posisi berulang kali, menggeliat, terlungkup, telentang—ugh, pemuda itu tidak bisa kembali tidur dengan tenang. Suara-suara yang berasal dari balik jendela kamarnyalah penyebabnya.

Menyibakkan selimut yang menutupi wajahnya, sang pemuda menarik kesimpulan singkat. “Pasti Ken.” Sedang seseorang yang turut merebahkan diri di sebelahnya berdeham singkat mengiyakan.

“Apa sih yang dilakukannya pagi-pagi?” Leo berujar lagi seraya berbalik posisi menghadap gadisnya, hendak mengajak kembali terlelap. Namun gadis Kim itu malah bangkit—mendudukkan dirinya sambil menguncir rambut.

“Kau mau kemana, Ann?” si lelaki bertanya dengan kelopak mata yang ia paksa terbuka.

“Ah, aku juga harus buat sarapan.”

Surai Anna telah sempurna terkuncir saat tanpa aba-aba Leo menarik tangannya. Membuatnya serta-merta kembali rebah dengan kedua lengan Leo memagari. Tubuhnya direngkuh erat oleh sang suami.

“Leo?”

Hembusan napas Leo menyapu kening Anna sebelum akhirnya suara—yang meski sudah Anna dengar jutaan kali namun tetap membuat candu—kembali terdengar tepat di rungunya.

“Nanti aku yang buatkan. Sekarang tetaplah seperti ini.”

 

***

Ugh, berisik…”

Sudah ketiga kalinya kalimat itu lolos dari bibir mungil si gadis yang bersedekap di balik selimut. Kendati netranya masih setia terpejam, benaknya tidak bisa kembali melanglang ke dunia mimpi. Tubuhnya menggeliat dengan kedua tangan terbuka lebar, hendak meregangkan otot-ototnya yang kaku karena berjibaku dengan ranjang semalaman. Gerakan yang dilakukannya dengan setengah tertidur itu membuatnya tanpa sadar—

.

Bugh!

 .

—memukul seseorang yang berada tepat di sampingnya. Nalarnya belum terkumpul sepenuhnya untuk menyadari ia baru saja memukul seseorang saat sebuah ringisan mengudara.

“Aw!”

Membuat kedua kelopak matanya serta-merta terbuka sempurna. Menolehkan kepala, mendapati si korban memegangi pipinya yang terkena hantam. “Eh? Bin?!”

Navi setengah bangkit dan refleks menyentuh pundak Hongbin dengan panik, sadar kalau ia baru saja memukul suaminya. “Maafkan aku, sakit, ya?”

“Iya,” Hongbin berujar dengan nada, err…manja.

Rasanya Navi ingin menampar pipinya berulang kali, merasa malu karena ini bukan kali pertama ia memukul—ralat, tidak sengaja memukul Hongbin. Ternyata kebiasaan Navi tidak sengaja memukul seseorang yang tidur di sebelahnya masih juga belum hilang (mungkin ini sebabnya Anna tidak pernah mau tidur bersamanya).

“Hei,” sebelah tangan Hongbin yang bebas beralih menangkupkan pipi tembam istrinya yang memasang wajah bersalah. Sejenak, sebuah seringai tercipta sejurus ide yang melintas di benaknya. “Mungkin tidak akan sakit kalau dicium.”

“A-apa?” Berbanding terbalik dengan dua bola mata Navi yang membelalak. Dan alih-alih tersenyum lebar pun memamerkan lesung pipinya seraya berkata “aku bercanda” seperti yang Navi harapkan, Hongbin malah memajukan pipinya ke depan wajah Navi. Mengisyaratkan gadisnya untuk sekedar mendaratkan satu kecupan di sana sebagai penyembuh.

Morning kiss.”

Navi menelan ludah susah payah. Tak punya pilihan lain selain melakukannya karena memang ialah penyebabnya. Lagipula apa yang aneh dari seorang suami meminta cium dari sang istri? Satu-satunya yang aneh adalah jantung Navi yang masih berdetak tak terkendali kendati ini bukan yang pertama kali. Sekarang Hongbin memang telah berstatus suaminya, namun debaran jantung Navi masih sama seperti kala ia menampik perasaan yang tercipta di sudut hatinya saat mereka berdua masih belia.

Maka akhirnya, seraya memejamkan kedua matanya, Navi memajukan wajah perlahan. Menyatukan kedua belah bibir peachnya dengan lembutnya bibir Hongbin. Iya, bibir. Karena pemuda Lee itu lebih cekatan dengan memutar wajahnya. Lantas tersenyum lebar pun menunjukkan lesung pipinya kentara, terlampau senang telah mencuri ciuman Navi.

“Pagi, Nav,” sapanya menambah kadar rona memalukan di paras Navi.

 

***

 

Tanda-tanda kehidupan baru terlihat di rumah berlantai dua itu saat jam sudah menunjukkan pukul 07.30. Lima belas menit setelah Ravi dan Yoanne kembali ke rumah dengan dua kantung besar belanjaan setelah meninggalkan rumah pada pukul enam tepat. Hari ini memang giliran pasangan suami istri itu yang berbelanja kebutuhan menggantikan Anna dan Leo yang pergi ke pasar basah dua hari yang lalu.

“Aku tidak tahu kalau pasar basah akan seramai itu pada pagi hari,” keluh Ravi seraya menata sayuran dan buah-buahan ke dalam kulkas. Sang istri yang sedang mencuci ikan segar—didapat dari Park ahjussi dengan potongan harga—hanya tersenyum mendengarnya. Meninggalkan sejenak tuna yang tengah digarapnya, berjingkat menghampiri Ravi dan memeluk erat lengan lelakinya. “Sudah jangan cemberut terus. Bukankah ada bagusnya kita ke pasar pagi-pagi? Udaranya masih segar.” Yoanne menyuguhkan senyum termanisnya yang selalu ampuh untuk membuat Ravi luluh.

“Iya, iya. Kita juga jadi bisa pergi berdua, tapi—” menurunkan pandangannya dari wajah Yoanne, “—lepaskan tanganmu, dong, Sayang. Kamu ‘kan abis pegang ikan.” Cengiran Ravi tampilkan agar gadisnya tak tersinggung.

“Oh, iya. Aku lupa! Maaf, ya, Sayang.”

Selang dua detik seorang pemuda jangkung memasuki dapur, mengusik atmosfir keakraban yang semula tercipta di sana. Tanpa mengeluarkan suara pun sekedar menyapa, netranya mengobservasi ruangan dan pandangannya jatuh pada empat potong besar ikan tuna yang tergeletak di atas pantry.

“Kau beli bumbu apa saja?” tanyanya seraya menoleh pada Ravi. Namun yang bersangkutan malah melongo bersama sang istri. Antara terkejut dan takjub dengan kedatangan si pemuda Jung.

Hyung, setidaknya ucapkan ‘selamat pagi’, kek,” ujar ravi kemudian.

“Selamat pagi, kau beli bumbu apa?”

Berdecak singkat, ravi menjawab. “Bawang putih, bawang merah, minyak wijen, paprika dan daun bawang.”

Leo mengangguk singkat. Tak mau ikut campur, Yoanne yang telah selesai membersihkan ikan tunanya, mohon diri. Sejurus kepergian Yoanne, Hongbin menyembul dari balik pintu pantry.

Annyeong,” sapanya dengan senyum khas. “Kita akan masak apa, Hyung?”

Spaghetti saus tuna, Kong,” sahut Leo ringkas.

“Siap!”

Sepersekian sekon kemudian dua menantu keluarga Kim itu sibuk mengolah bahan makanan yang baru dibeli sang kakak ipar. Hongbin memotong bumbu-bumbu sedang Leo mulai merebus spaghetti. Tak mengerti urusan dapur, Ravi pun turut undur diri, berniat mencari keberadaan istrinya seraya menunggu sarapan terhidang.

Beralih ke lantai dua, seorang gadis berkuncir kuda menenteng keranjang pakaian besar dan mengetuk pintu kamar yang berada di ujung—dekat tangga.

.

Tok…tokk…tokkk…

.

“Navi eon!” Tak cukup hanya mengetuk, bahkan ia menyerukan nama si empunya kamar. Selang beberapa detik, pintu terbuka menampilkan seorang gadis dengan rambut kusutnya—tampak baru bangun tidur.

“Kau baru bangun?!”

“Iya.”

Eiy, istri macam apa jam segini baru bangun. Suamimu saja sudah memasak di dapur.”

“Lalu kau sedang apa di sini? Kenapa tidak di dapur?” Navi malah balik tanya.

“Leo yang memasak di dapur.”

“Berarti kita sama.” Tangan Navi terangkat menoyor pelan kening adik perempuannya.

“Tapi aku sudah mandi! Bahkan sekarang aku akan mengumpulkan selimut. Mana selimutmu, Eon?”

Menunjuk ke arah ranjang tanpa bersalah, Navi menjawab santai. “Itu selimutnya, kau ambil saja.”

Eiy, dasar kau ini!”

Anna benar-benar tidak percaya kalau kakak perempuannya itu sudah menikah.

“Sudah sana mandi!” Sebuah tepukan mendarat di bokong Navi.

Sementara itu di ruang tamu terdengar suara gerungan mesin vacuum cleaner yang digunakan Hakyeon untuk membersihkan karpet. Benda penyedot debu itu bergerak tidak teratur karena si pemakai mengunakannya dengan ogah-ogahan.

“Aish, Oppa, bersihkan yang benar,” tegur Yumi tidak suka melihat tingkah Hakyeon.

“Tidurku hancur dan sekarang aku harus berurusan dengan penyedot debu!” keluh Hakyeon seraya mendorong vacuum cleanernya ke arah kaki Yumi yang sedang berdiri menata bunga di vas.

“Kau mau menyedotku?” Yumi berujar dengan alis terjungkit. “Tidak, aku lebih memilih memelukmu.”

Yumi tak menanggapi rayuan Hakyeon karena rona merah mulai menyembul di pipi mulusnya.

“Omong-omong, kau dapat bunga darimana, Chagi?” Hakyeon kembali bertanya dengan sembari melirik pada bunga matahari di dalam vas bunga Yumi.

“Oh, ini. Ken dan Tory yang membelinya,” ujar Yumi seraya tersenyum manis. Sejenak Hakyeon tertegun dengan senyuman Yumi yang menurutnya lebih cantik dibanding bunga di dalam vas, namun selanjutnya ia tersadar.

“Apa? Ken?!”

“Iya, kenapa, Oppa?”

“Aish, di mana Pinokio itu?!” seru Hakyeon lantas menghempaskan gagang penyedot debunya.

OPPA!

Omong-omong soal Ken, yang bersangkutan masih betah berada di halaman berjibaku dengan sekop, asik membersihkan salju tebal yang menutupi jalan setapak. Sedang Tory, duduk meringkuk di teras sembari menatap heran Ken yang semangat mengayunkan sekopnya.

“Hei.”

“Hm?”

“Lee Jaehwan.”

“Apa, Tory-ya?”

“Kau sangat menyukai salju, ya?”

“Tidak juga.”

“Eh?” Tory mengusap kedua tangannya dengan kening berkerut—bingung.

Menoleh pada gadisnya, Ken kembali memeta cengiran lebar. “Aku lebih menyukaimu, Tory-ya!” ujarnya kemudian menghempaskan sekopnya dan mengangkat kedua tangannya membentuk hati. Membuat Tory tersenyum tipis dan berseru, “Bodoh!”

Memintal langkah ke arah suaminya dan mencubit pelan hidung bangir si lelaki. “Tapi aku tidak menyukaimu, tuan Pinokio.” Lantas tangannya turun memeluk erat lengan Ken. “Ayo masuk. Hidungmu sudah merah, tuh!”

Beberapa jenak Ken menatap paras Tory lekat-lekat, takjub dengan perlakuan si gadis bermarga Jung itu, sebelum akhirnya ia turut merengkuh Tory erat. “Aigo, Victory-ku!”

“Hentikan itu, Ken!”

Mereka berjalan berdampingan, merajut langkah beriringan memasuki rumah. Tinggal beberapa langkah menuju pintu saat daun pintu terbuka, menampilkan Yoanne dan Ravi.

“Kemana saja kau, Hyung?” ujar Ravi gusar. “Sarapannya sudah jadi,” Yoanne menambahkan.

“Iya, kami baru saja akan masuk. Kajja, Tory-ya!” Ken menarik Tory masuk, melewati Yoanne dan Ravi yang geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

“Aku sudah dengar kalau pagi tadi Ken hyung ribut-ribut dan bermesraan di luar rumah. Dasar, bikin iri saja,” Ravi berbisik pada Yoanne. Alih-alih menyahuti, gadis bermarga Song itu malah melingkarkan lengannya pada pinggang Ravi.

“Kenapa kau iri, Ravi-ya?”

“Kenapa? Tentu saja karena pagi ini aku malah—”

Sebuah kecupan di bibir memutus perkataan Ravi.

“Kau malah apa?” Yoanne membeo dengan manik mengerling.

“T-tidak. Ayo, kita masuk! Di sini dingin.” Lantas Ravi merangkul istrinya masuk ke dalam. Menyusul Ken dan Tory ke ruang makan, berbaur dengan enam orang yang telah mengisi meja makan. Harum saus tomat telah menguar ke segala penjuru ruang makan. Setelah menyajikan menu utama sarapan pagi ini, spaghetti saus tuna, Leo dan Hongbin menempati kursi mereka. Acara sarapan pagi itu hampir saja dimulai saat mereka merasa ada sesuatu yang ganjil.

Terdapat dua kursi yang kosong.

“Oh iya, mana Gyuwoon dan Hyuk?” tanya Hongbin menyadari siapa gerangan yang belum menempati kursinya.

“Jangan-jangan mereka masih tidur,” celetuk Ken.

“Aish, dasar bocah-bocah itu. Yasudah, biar aku saja yang memanggil mereka.” Hakyeon bangun dari kursinya dan naik ke lantai dua. Langkah kakinya berhenti di depan pintu kamar paling ujung, tepat di sebelah kamarnya.

 .

Tok…tok…tok…

 .

Diketuknya pintu tiga kali namun belum ada sahutan.

“Cha Gyuwoon, Han Sanghyuk, bangun!”

Seruan barusan tampaknya lumayan berefek pada dua manusia yang kini menggeliat dibalik selimut tebalnya. Sekedar informasi, posisi mereka saat ini tidak beraturan; posisi Hyuk horisontal dengan setengah kaki melayang, sedangkan posisi Gyuwoon vertikal dengan kaki menumpu pada betis Hyuk. Tampaknya mereka habis begadang main kartu Uno, terlihat dari beberapa kartu mainan itu berserakan di sekelilingnya. Yang pertama terbangun adalah Hyuk.

Mendudukkan diri dengan mata setengah terpejam, Hyuk menggoyangkan kaki Gyuwoon di atas kakinya. “Gyuwoon-a, bangun.” Gadis itu merentangkan tangannya.

“KALAU DALAM LIMA MENIT KALIAN TIDAK BANGUN JUGA, KALIAN TIDAK DAPAT SARAPAN!”

Teriakan Hakyeon membuat Hyuk serta-merta membuka mata lebar-lebar. Dan gerakannya di kaki Gyuwoon semakin dipercepat.

“Gyuwoon-a, ayo kita sarapan!”

“Hm…iya, iya.” Gyuwoon mengangkat kepalanya setengah sadar. Hyuk pun tanggap dan menarik tangan Gyuwoon, membantu istrinya bangun.

“Gyuwoon-ah, cepat!”

“Hm…” Gyuwoon mengusap matanya perlahan, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya saat Hyuk sudah berdiri dan mengunakan sandal rumahannya. Pemuda jangkung itu baru saja memegang kenop pintu saat Gyuwoon berujar. “Hyukie, gendong aku.” Dengan kedua tangan terjulur ke depan. Membuatnya terpaksa harus kembali memintal langkah ke arah ranjang dan berjongkok di tepiannya. Menunggu sang gadis menjatuhkan diri di punggungnya kemudian melangkah keluar menuju ruang makan.

.

Pagi itu mereka akan sarapan tanpa mandi terlebih dulu.

.

fin

Disclaimer =

p i n k s u m m e r  OC : Gyuwoon

Noranitas OC : Song Yoanne

Sakura Yumi OC : Kim Yumi

tyavi’s little note : Pardon my idea, becoz tbtb pengen bikin nih enam kapel ajaib versi marriage life dan anehnya mereka serumah wkwkwk XD

Iklan

2 respons untuk ‘Let’s Breakfast

  1. Macam series reply nya tvn ya. Akhirnya ketahuan semua pada berakhir bahagia wkwkkwkw
    (Masih cant get over ravi) okay ravi mo cinta-cintaan? Mo romantis romantisan? Ntar mak nya yoanne bikinin wkwkkwkw
    Ih tp unyu bgt tauk ini mereka ngumpul jadi satu semua tapi teteup, Ken sama Navi emang yg paling gokil satu rumah. Ravi pensiun ya jadi pea gegara udah ada pawangnya (re: yoanne) lol.
    Bingung mo ngomen apa lagi pokoknya aku tersenyum lebar bgt pagi ini wkwkkw. Thankchu tyachu dah ngabarin ff ini via line wk. Aku masih setia menunggu another ravixyoanne fic darimu wk.

    Dadah. Ayang ravi mo baca ff mu yg lain dulu

    Suka

  2. mereka lagi ada acara apaan sih??? itu ngumpul di rumah siapa tat???? kasian yg punya rumah 😂😂😂 abis ini rumahnya pasti berantakan kaga jelas. mana ada si Ken lagi, ya Allah dia itu ngapain sihhh???? maen salju? bikin boneka salju? udah sana maen bekel aja wkwkwkwkkk.
    si hongbin tiap pagi emang kena tonjok gitu yaa???? kasian amat dia ehh tp kan brarti tiap pagi dpt morning kiss buat nyembuhin bekas tonjokan eeeeaaakksss. ehhh si leo maa wkwkwkwkkk “sekarang tetaplah seperti ini”yaudah gitu aja terus gausah sarapan banggggg!!!! wakakka ehh btw, perasaan baru kmrn si Yumi di tembak ama Hakyeon kok ini udah nikah ajaa sih????
    perasaan si yumi kaga protes ama ken yg ganggu tidur mereka dehh trus ngapain itu si hakyeon soksok an keganggu???? mana ninggalin yumi ama vacum cleaner lagi 😂😂😂
    ciee abang ravi eakkss abis dari pasar pagi2 kekeke suami yg baik hati mau nganterin istrinya ke pasar. udah ya bang ravi kaga usah iri sama ken-tory nahh itu dpt kecup dr yoanne eaaks.
    ehh si gyuwoon ama hyuk jd begadang??? subhanallah anak kecil gaboleh begadang yaw!!!! (ehh salah. udah nikah kan ya T_T )
    si gyuwoon gak pas pacaran gak pas nikah endingnya di gendong juga wkwkwkwkwkkk!!!!!!
    aku pengen spagetti buatan Leo ama hongbin tat 😭😭😭 mas hakyeon kpn buatin spagetti buat yumi /eeaaks/
    love u lahh tatttt
    suka semuaaaaaa
    apalagi part LeAnna wakakaakakakaa

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s