Accidentally Family (Chapter 5)

1458562584593.jpg

Accidentally Family

|LEORENE|

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family, Life | Chaptered | G

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Summary :

 “Selamat malam”

.

.

.

Chapter 5

Jam sudah menunjukkan pukul enam saat Taekwoon, Joohyun dan Tuan serta Nyonya Bae duduk melingkari meja makan. Sup galbi yang tersaji di hadapan mereka, masih mengepul dan menciptakan atmosfir hangat di ruang keluarga Jung. Lama mereka sibuk mengunyah bulgogi dan menyesap kuah kaldu, hingga Byunhee membuka konversasi.

“Kami kira kau sakit, ternyata kau sangat sehat.”

Menimbulkan senyum di paras Nyonya Bae sekaligus semburat merah di kedua pipi Joohyun. Gadis itu mengerti kemana arah pembicaraan Aboejinya. Tak heran bila Aboejinya berpikir macam-macam mengingat saat mereka datang Taekwoon tengah bertelanjang dada. Kendati demikian, rupanya Taekwoon tak menangkap maksud dibalik perkataan Byunhee. Karena sepersekian sekon berikutnya pemuda itu berujar—

N-ne?”

—dengan raut wajah tak mengerti. Anehnya hal tersebut justru membuat kedua orangtua Joohyun semakin mengembangkan senyum penuh arti. Lantas Byunhee berdeham sejenak dan berujar.

“Maaf kami datang di saat yang tidak tepat.”

E-eoh? Aniyo, Aboeji,” dan langsung dibantah oleh Taekwoon—yang masih salah paham sepertinya.

“Kenapa malu begitu, Nak? Harusnya kau bilang saja kalau kalian sedang—

“Kenapa Aboeji dan Eomma tiba-tiba datang?” ujar Joohyun memotong ucapan Byunhee sekaligus mengalihkan atensi seluruh penghuni meja makan. Tuan dan Nyonya Bae menghentikan aktivitas mereka menyantap hidangan sedangkan Joohyun tersenyum canggung. Lantas sebuah kerutan tercipta di kening Nyonya Bae—meski tak menyurutkan paras awet mudanya.

“Tentu saja karena kami khawatir pada Taekwoon, Joohyun-ah,” ujar Nyonya Bae yang langsung disetujui oleh Tuan Bae.

“Iya, tadi pagi kau bilang Taekwoon sakit.”

Lagi-lagi sebuah senyuman—terpaksa—mengembang di paras Joohyun disusul kegiatan tangannya menepuk dahi mulusnya sendiri. “Astaga! Aku lupa.”

Byunhee mencibir cengiran yang tergambar di wajah Joohyun. “Jadi sebenarnya Taekwoon sakit apa? Atau jangan-jangan kau berbohong agar tidak ikut meeting?”

Aniyo, Aboeji! Mana mungkin aku melewatkan meeting penting itu?!” ujar Joohyun tak terima. “Lagipula…” Mengamit tangan Taekwoon yang duduk di sebelahnya, Joohyun mengacungkan telapak tangan pemuda itu yang terlilit perban. “Apakah Aboeji tidak lihat tangannya yang terlilit perban ini???”

Raut wajah Tuan dan Nyonya Bae sontak berubah khawatir, disusul dengan suara Taekwoon yang meringis. Sadar apa yang telah dilakukannya, Joohyun kembali menurunkan tangan Taekwoon dengan hati-hati.

“Ma-maaf, Taekwoon,” ujar Joohyun. Bahkan gadis itu ikut meringis karena melihat ekspresi Taekwoon. Tangannya mulai mengusap pelan tangan Taekwoon demi meredakan rasa sakit pemuda itu. Kendati kemudian, Taekwoon menyentuh tangan Joohyun agar menghentikan aktivitasnya dan menyahut pelan.

Gwenchana.”

Sayang, gestur ‘akrab’ itu harus terinterupsi dengan protes dari Bae Byunhee.

Ya, Bae Joohyun! Kau memanggil suamimu dengan nama?!”

Sontak kepala dua insan itu menoleh pada Byunhee, disusul dengan jawaban polos yang keluar dari bibir Joohyun.

“Iya, memangnya kenapa Aboeji?”

“Aish, bocah ini. Kau seharusnya memanggil Taekwoon dengan sebutan ­‘Yeobo’ atau panggilan sayang lainnya! Kau bahkan tidak memanggil namanya dengan akrab (maksudnya tidak menggunakan akhirnya –ah).”

Mendengarnya, Joohyun dan Taekwoon bersedekap. Memang sedari awal mereka sudah sepakat untuk memanggil satu sama lain dengan nama. Tapi memanggil nama dengan akrab? Rasanya mereka belum terbiasa melakukannya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa Joohyun dan Taekwoon masih belum dekat kendati mereka sudah berbagi atap—atau bahkan kamar yang sama.

“Eum…itu k-karena…”

“Aku yang menyuruhnya, Aboeji,” sela Taekwoon menutupi kegagapan Joohyun.

“Aku yang menyuruhnya memanggilku dengan nama. Toh perbedaan umur kami hanya setahun.”

“Tapi tetap saja, Nak. Kau lebih tua setahun dari Joohyun, setidaknya Joohyun harus memanggilmu dengan sebutan ‘Oppa’.”

“Tapi aku…tidak merasa masalah, Aboeji.”

“Jung Taekwoon—

“Sudahlah, Aboeji. Mereka itu ‘kan pengantin baru, lama-lama juga akan terbiasa.” Kali ini Nyonya Bae yang memotong ucapan Byunhee. Joohyun mengucap syukur dalam hati karena gestur Eomma-tolong-hentikan-Aboeji yang dilakukannya dapat dicerna oleh Eommanya. Setidaknya, disamping Aboejinya yang keras kepala, Joohyun masih memiliki Eomma yang pengertian. Nyonya Bae pun sudah paham betul kalau putri semata wayangnya itu sering berselisih paham dengan Byunhee.

Aboeji tidak menanyakan tangan Taekwoon?” ujar Joohyun mengalihkan pembicaraan.

“Ah, iya. Tanganmu kenapa, Nak?”

“Ini hanya kecelakaan kecil, Aboeji. Tanganku tersiram air panas.”

Ya! Begitu saja kau manja sampai tak memperbolehkan Joohyun ke kantor.”

Aboeji! Itu karena aku yang membuatnya seperti itu.”

“Jadi kau penyebabnya? Pantas saja.”

“Aish, Aboeji

“Oekk! Oeekkk!!!”

Suara tangis yang tak lain berasal dari Miki menyelingi perdebatan ayah dan anak itu. Dan beruntungnya, juga turut menghentikan cekcok mulut yang sedari tadi jadi tontonan Nyonya Bae dan Taekwoon.

“Tuh ‘kan karena suara Aboeji, Miki jadi terbangun.”

“Kenapa jadi Aboeji yang disalahkan?”

Joohyun tak menanggapi karena gadis itu sudah lebih dulu berlari menaiki tangga menuju lantai dua.

Ya! Jangan lari-lari begitu, kau ini ‘kan sudah—

“Aish, Tuan Bae, sudah hentikan,” kali ini suara Nyonya Bae yang menimpali. Membuat Byunhee seketika bungkam. Sepersekian sekon berikutnya wanita paruh baya itu bangkit dan menyusul Joohyun. “Miki-ya, halmeonie datang.”

Tinggallah Byunhee berdua bersama Taekwoon. Tidak bisa mengelak, sebentar lagi menantunya itulah yang akan diberondonginya dengan pertanyaan. Misalnya, dimulai dengan pertanyaan :

“Apakah bayi itu merepotkanmu, Nak?”

“Tentu saja tidak Aboeji, aku sangat menyukai Miki.” Yang langsung dibantah Taekwoon mentah-mentah.

Lantas sebuah senyuman—lagi-lagi penuh arti—tergambar di wajah Byunhee.

“Kalau anakku?”

Taekwoon hanya tersenyum menanggapi.

***

Mengayunkan tubuh Miki di dalam rengkuhan, Joohyun tak henti-hentinya menatap wajah mungil yang tengah terlelap. Setelah menghabiskan satu botol susu, bibir kecil Miki menguap beberapa kali, lantas kelopak matanya mulai tertutup secara perlahan. Tipikal bayi, setelah minum susu lalu tidur. Padahal Joohyun ingin bermain lebih lama lagi dengan putra mungilnya itu, mengingat seharian ini dia ‘sibuk’ mengurus rumah. Tapi Joohyun tak sepenuhnya kecewa. Karena menatap paras dengan kelopak terpejam, tampak damai dengan benak yang telah melanglang di alam mimpi, sudah cukup menghasilkan energi tersendiri bagi Joohyun. Ya, Miki adalah energi Joohyun. Sepersekian sekon setelah netra Joohyun menangkap presensi bayi mungil itu, hatinya telah berikrar kalau Mikilah alasannya untuk hidup sekarang.

Tungkai Joohyun terajut menuju tepian ranjang, tempat dimana Taekwoon terduduk dan memerhatikannya sedari tadi. Malam ini mereka akan kembali berbagi kamar. Karena, oh, Joohyun lupa untuk menjemur kasur Miki yang kotor. Lagipula, tidak mungkin ‘kan dia membiarkan Taekwoon tidur di sofa? Apalagi pemuda itu tengah ‘sakit’ sekarang. Dan itu karenanya.

Joohyun menyerahkan bayi mungil itu dan langsung disambut oleh Taekwoon. Meski wajah pria itu tertunduk sekarang, retina Joohyun masih dapat menangkap senyum simpul di paras Taekwoon. Bagaimana Taekwoon tak tahan untuk tidak tersenyum kala maniknya dimanjakan pemandangan Joohyun yang tengah menimang Joohyun. Karena, oh, sungguh pemandangan itu menentramkan hatinya. Rasanya seperti menghabiskan waktu bersama lantunan musik yang tercipta dari tarian jemarinya di atas tuts. Rasanya seperti aroma kopi menyapa indera penciumannya kala Ia meracik latte kesukaannya. Seperti itulah efek pemandangan di hadapannya terhadap seorang Jung Taekwoon. Kendati begitu, ada yang membuatnya lebih candu lagi. Yaitu kala Taekwoon menundukkan kepalanya dan mengecup pelan ubun-ubun Miki. Lantas aroma khas seorang bayi yang menguar dari tubuh Miki, menjadi narkoba bagi seorang Jung Taekwoon.

Ternyata Joohyun memberikan Miki pada Taekwoon bukan tanpa alasan. Setelah tersenyum kecil melihat tingkah Taekwoon, Joohyun menghampiri meja riasnya dan mengambil sebuah botol kecil. Kemudian tungkainya kembali merajut langkah kea rah Taekwoon. Mendudukkan diri di samping Taekwoon, Joohyun mengamit sebelah tangan Taekwoon yang terlilit perban. Taekwoon tak merasa terganggu karena dia bisa menggendong Miki dengan sebelah tangannya. Lantas Joohyun kembali membuka perban Taekwoon. Sejenak gadis itu meringis melihat luka Taekwoon. Lukanya terlihat lebih jelas dari sebelumnya, dan tampak agak mengerikan. Joohyun dapat membayangkan bagaimana sakitnya. Tak berlama, Joohyun membuka botol kecil—yang tak lain adalah salep—yang diambilnya barusan. Lantas dengan telaten, Joohyun mulai mengoleskannya di atas luka Taekwoon.

Joohyun tidak memungkiri kalau tangan seorang Jung Taekwoon lumayan indah dan Joohyun akan merasa berdosa jika menyebabkan sebuah bekas luka bersarang di sana. Setelah selesai mengoleskan salep, Joohyun meniupinya sejenak, lalu kembali membalutnya dengan perban baru. Lalu hal serupa juga Joohyun lakukan pada tangan Taekwoon yang satunya. Semua itu dilakukannya dengan teliti serta hati-hati.

Lantas Joohyun kembali mengamit Miki dari rengkuhan Taekwoon, hendak memindahkan Miki ke tengah ranjang. Aksi yang tentu saja menuai tatapan tak suka dari Taekwoon. Namun pria itu tidak melayangkan protes apa-apa.

Menarik selimut sebagian, Joohyun berujar pada Taekwoon. “Besok aku ada meeting, jadi aku akan pergi pagi-pagi.”

Taekwoon mengangguk tanda mengerti. Kendati demikian, Joohyun kembali berujar dengan ragu.

“Eum…tidak apa-apa kalau aku meninggalkan kalian berdua?”

Lagi-lagi Taekwoon mengangguk. Meski begitu, raut kekhawatiran tak juga menyurut dari paras Joohyun. Gadis itu patut khawatir mengingat dirinya akan meninggalkan Miki bersama Taekwoon—yang notabenenya tidak bisa menggunakan tangannya yang sedang terluka. Mengurus Miki sendirian saja sudah merepotkan, apalagi kalau sedang terluka?

“Aku berjanji akan pulang lebih cepat!”

Gwenchana, Joohyun.”

Joohyun merutuk dalam hati. Kesal pada Byunhee yang tetap memaksa dirinya untuk ikut meeting kendati sudah mengetahui keadaan Taekwoon.

Menarik selimut sebatas dagu, Joohyun menoleh ke arah Taekwoon. Meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja ada rasa canggung kala Joohyun hendak mengucapkannya. Ditambah mala mini mereka kembali berbagi kamar—bahkan ranjang yang sama. Meski terpisahkan oleh Miki, Joohyun belum terbiasa dengan situasi ini. Akhirnya dengan lirih—dan sedikit gugup—Joohyun mengatakan, “S-selamat…malam.”

“Selamat malam.”

Sahutan—tak kalah pelan—dari Taekwoon mengakhiri konversasi malam itu. Sepersekian sekon berikutnya hening yang mengambil alih. Lantas napas yang berubah teratur, menjadi pertanda bahwa salah satu di antara mereka telah tertidur. Memasok oksigen banyak-banyak ke dalam paru-paru, Taekwoon dimanjakan aroma peach yang seakan memenuhi ruangan. Tak lama kemudian kelopak mata sipitnya terbuka. Iya, Joohyunlah yang telah tertidur. Kelelahan, gadis itu tertidur dalam hitungan kurang dari sepuluh menit. Lalu Taekwoon? Bukannya tidak bisa tidur, namun pria itu memang berniat menunggu Joohyun tidur terlebih dulu. Karena kegiatan Taekwoon selanjutnya adalah :

Bangkit dari posisi tidurnya dan memindahkan tubuh mungil Miki ke sisi kanannya. Tangannya yang terluka membuat Taekwoon perlu usaha lebih kendati berat tubuh Miki tidak lebih dari 3,6 kilogram. Tak lupa Taekwoon sekeliling tubuh Miki dengan guling. Lantas tubuh pria itu beringsut ke tengah ranjang. Taekwoon hampir saja terlonjak saat tubuh Joohyun menggeliat kecil. Kemudian tubuh Joohyun bergerak ke tengah. Timing yang tepat karena Taekwoon sudah memindahkan Miki. Namun Taekwoon tak mempertimbangkan saat kembali merebahkan diri, kalau jaraknya dan Joohyun lebih dekat dibanding tadi. Bahkan kini aroma peach tercium jelas dari surai cokelat Joohyun yang terurai.

Alih-alih menjauhkan diri, Taekwoon menolehkan kepalanya ke arah Joohyun. Tentu saja hal itu membuat maniknya dapat menelusuri wajah mulus Joohyun dengan leluasa. Gadis itu tampak damai sekaligus cantik saat terlelap. Anehnya, hal itu membuat Taekwoon tak mau berpaling seinci pun. Seakan kesempatan ini sayang untuk disia-siakan. Karena pada kesehariannya, Taekwoon tak mungkin dapat berada sedekat ini dengan Joohyun. Tiba-tiba manik Taekwoon menangkap bulu mata yang jatuh di bawah mata Joohyun. Awalnya enggan, akhirnya dengan hati-hati Taekwoon mengulurkan tangannya dan mengambil bulu mata itu. Dapat Taekwoon rasakan jelas tekstur lembut yang menyentuh ujung jari telunjuknya. Lantas pria itu kembali bersedekap. Menjauhkan tubuhnya sedikit, Taekwoon memeluk Miki di sisinya lebih erat. Ia hanya dapat berharap dirinya bisa tidur malam ini.

***

Matahari telah memposisikan dirinya di ufuk timur. Menerpa sebuah bangunan apartemen dengan cahaya kekuningannya. Merangsek masuk ke celah-celah jendela kamar utama dari salah satu apartemen pada lantai tujuh. Membuat suhu kamar menjadi hangat, lantas seorang gadis menggeliat di balik selimut tebalnya. Joohyun—nama gadis itu—mengeratkan pelukannya pada sosok di sebelahnya, mencoba mencari posisi ternyaman untuk terlelap lebih lama lagi kendati sebuah benda berbentuk persegi panjang telah bergetar di atas nakas. Kepalanya bergerak-gerak di atas dada bidang seseorang yang menjadi bantalnya selama semalaman. Lantas Joohyun dapat merasakan jelas dagu seseorang yang menyentuh ujung hidungnya. Ada pula telapak tangan besar yang bersarang di ubun-ubun gadis itu. Menghirup aroma maskulin dalam-dalam, Joohyun membuka kelopak matanya lamat, hendak menyudahi kegiatan tidurnya pagi ini. Kembali menyambut hari baru dengan kegiatan baru, atau lebih jelasnya memulai hari dengan meeting menyebalkan yang menurut Aboejinya penting.

Apa? Meeting?

Sontak kelopak mata Joohyun terbuka sempurna. Astaga, bagaimana bisa gadis itu lupa kalau dirinya akan menghadiri meeting pagi ini. Namun, belum tuntas rasa terkejut Joohyun, gadis itu perlu beberapa keping kesadaran untuk menyadari pada dada siapa kepalanya tersandar saat ini. Menelan saliva, Joohyun mengangkat wajahnya perlahan—diiringi detak jantungnya yang berubah abnormal. Semoga saja apa yang terpikirkan otaknya…

Ya Tuhan!

Joohyun menelan salivanya—lagi, kala netranya menangkap wajah Taekwoon yang tengah terlelap, tepat di atas kepalanya. Jarak mereka terlampau dekat sampai Joohyun dapat merasakan deru napas Taekwoon yang kini menerpa wajahnya. Oh, Joohyun tidak tahu apa warna wajahnya saat ini. Karena sungguh, perasaan malu kini mendominasi dibanding perasaan panik karena dirinya akan terlambat meeting.

Dengan amat sangat perlahan—berharap pemuda itu tak membuka matanya lantas menangkap basah dirinya—Joohyun menjauhkan tubuhnya. Joohyun segera menyingkirkan selimut tebal yang membalut tubuhnya saat atmosfir berubah panas. Untungnya bibir Joohyun lebih berkompromi dengan tidak menjerit. Karena, oh, sungguh dirinya tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Maka sebelum Taekwoon benar-benar membuka matanya, Joohyun bangkit dari ranjang, mengambil ponselnya di nakas, lantas masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah memastikan Joohyun benar-benar sudah masuk ke dalam kamar mandi, pria yang tak lain adalah Taekwoon membuka matanya. Sejenak Taekwoon meringis merasakan dadanya yang terasa kebas karena harus menopang kepala Joohyun semalaman. Iya, Taekwoon sadar betul saat gadis itu perlahan beringsut mendekatinya, lantas berujung memeluk pinggangnya serta bersandar pada dadanya. Bahkan Taekwoon tidak lupa dengan hembusan napas Joohyun di tengkuknya.

***

Seperti biasa, setelah menyantap sarapan—dengan sedikit kikuk tentunya—Joohyun berangkat menuju kantor. Kendati Joohyun sempat merasa berat kala Miki berceloteh “ah” saat Ia berpamitan pada bayi mungil itu. Ibu mana yang tahan untuk meninggalkan bayi lucunya? Perkembangan Miki belakangan membuat Joohyun menyesali keputusannya untuk bekerja. Rasanya Ia ingin berlama-lama di rumah dan menonton pertumbuhan Miki. Dia saja baru tahu Miki bisa mengoceh hari ini. Tapi mungkin juga itu adalah salah satu kabar baik untuknya, kini Ia bisa menelepon Taekwoon guna mendengar Miki berceloteh jika sedang penat di kantor.

Taekwoon tengah duduk santai menonton tayangan berita pagi bersama Miki yang berada di dalam kereta bayi. Meski harus mengorbankan waktunya—serta rungunya untuk menerima omelan Byunhee jika terlambat, Joohyun menyempatkan diri untuk memandikan Miki. Jadi Taekwoon hanya perlu menjaga Miki di dalam kereta bayi. Kendati sebenarnya Ia sangat ingin merengkuh bayi mungilnya itu. Lihat saja, manik jernih Miki tampak berbinar saat turut menonton seperti Appanya. Ditambah gerakan memainkan kedua tangan mungilnya. Oh, sungguh menggemaskan.

Lantas Taekwoon merendahkan kepalanya dan berujar, “Miki-ya.”

Sejenak, manik jernih itu berkedip. Kemudian bibirnya terbuka sedikit dan terdengar, “ah”. Seolah menyahuti panggilan Appanya.

Lekas sebuah kurva terukir di paras tampan Taekwoon. Satu lagi perkembangan Miki, dia sudah bisa menanggapi.

Sayang, momen berharga itu harus terinterupsi kala suara bel juga turut menyahuti. Alih-alih bangkit, Taekwoon berujar lagi pada Miki.

“Miki-ya, ada yang datang. Kira-kira siapa, ya? Apakah itu Eomma?”

“Oh.”

Taekwoon tersenyum lagi mendengar suara yang berasal dari mulut Miki. Tangannya mengusap pelan kening bayi itu sebelum beranjak. “Anak pintar.”

Baru saja Taekwoon membuka pintu kala terdengar seruan…

Hyung!”

Taekwoon menatap datar seorang pemuda di hadapannya. Alih-alih merasa diabaikan, pemuda itu kembali berseru, “Hyung, kafe sepi tanpa—

Namun terhenti kala netranya menangkap tangan Taekwoon yang terlilit perban.

“Ada apa dengan tanganmu, Hyung?”

***

Joohyun menghempaskan tubuhnya pada sebuah sofa krem di ruang kerjanya. Meeting selama satu jam cukup untuk menguras tenaga serta pikirannya. Iya, pikiran. Bagaimana Joohyun bisa fokus kalau benaknya selalu melayang ke rumah.

Bagaimana kabar Miki? Bagaimana kabar Taekwoon? Apa Taekwoon bisa mengurus Miki sendirian? Apakah terjadi sesuatu pada Miki? Apakah terjadi sesuatu pada Taekwoon?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah sedetik pun meninggalkan benaknya. Rasanya Joohyun belum tenang kalau belum melihatnya sendiri alias pulang ke rumah. Sepersekian sekon berikutnya pikiran Joohyun yang berkecamuk harus terinterupsi dengan presensi seorang gadis cantik. Sejenak gadis itu membungkuk hormat, lalu berjalan mendekatinya.

“Seulgi-ya, aku tidak ada pertemuan lagi sampai sore ‘kan?” tanya Joohyun begitu gadis yang tak lain adalah sekertarisnya itu mendekat.

Gadis bernama Seulgi itu mengecek ponselnya singkat kemudian mengangguk. “Ne, Sajangnim.”

“Baiklah, kalau Aboeji datang mencariku, bilang padanya aku pulang.”

***

Gerakan langkah seribu yang Joohyun lakukan sejak dari lift, terhenti di depan pintu yang tak lain adalah apartemen miliknya. Sejenak gadis cantik itu memasok oksigen banyak-banyak guna menghentikan napasnya yang terengah. Lantas Joohyun menekan tombol sandi dengan tidak sabar. Pintu terbuka dan seruan—

“Jung Taekwoon!”

—langsung mengudara.

Aneh memang, mengingat gadis itu biasanya memanggil nama Miki setiap pulang.

“Jung Taekwoon!”

Joohyun melepas heels hitamnya buru-buru, lantas melemparnya asal. Tujuannya saat ini hanyalah ruang keluarga.

“Jung Tae—

Namun seruan itu terhenti. Ekspresi khawatir Joohyun bertransformasi menjadi ekspresi terkejut kala maniknya mendapati seorang pemuda tengah bermain bersama Miki, di ruang keluarga.

Duguseyo?”

Hanya pertanyaan itulah yang dapat meluncur dari bibir Joohyun. Baik Joohyun maupun pemuda itu, sama-sama melempar tatapan tanda tanya satu sama lain. Sampai akhirnya sosok Taekwoon muncul dari balik pantry.

“Oh, Joohyun, kau sudah pulang.”

Sejurus dengan pertanyaan Taekwoon, pemuda itu bangkit dan membungkuk hormat.

Anyeonghaseyo, Noona.”

Joohyun masih tak mengerti. Kendati kemudian Taekwoon mendekati Joohyun dan berujar lagi.

“Kenalkan ini Han Sanghyuk, teman kerjaku di kafe.”

Akhirnya Joohyun mengerti. Kendati sempat merasa heran karena pemuda bernama Sanghyuk itu tampak jauh lebih muda dibanding Taekwoon. Namun Joohyun tetap membungkuk sopan. “Ah, ne, anyeonghaseyo, Sanghyuk-ssi.”

Pemuda itu membungkuk lagi dan tersenyum. Bahkan Miki yang berada di gendongannya pun turut tersenyum.

“Ah, Joohyun. Karena kau sudah pulang, kau bisa menjaga Miki ‘kan? Sepertinya di kafe ada sedikit masalah, jadi aku dan Sanghyuk akan ke sana sekarang juga,” ujar Taekwoon seraya mengisyaratkan Sanghyuk untuk memberikan Miki pada Joohyun.

“Tapi, kau ‘kan masih…”

“Ini tidak akan lama. Aku titip Miki, ya.”

“I-iya.”

Taekwoon beralih pada Miki yang berada di dalam gendongan Joohyun. “Miki-ya, Appa pergi dulu, ya?”

Lagi-lagi terdengar ocehan, “ah” sebagai tanggapan dari bibir Miki. Lantas Taekwoon melangkah lebih dulu menuju pintu depan.

Annyeong, Miki-ya,” ujar Sanghyuk pada Miki, kemudian Ia beralih membungkuk pada Joohyun.

TBC

tumblr_n2bm0buuOx1swvb9go4_250

Sanghyuk and Miki (maybe) ><

Tyavi’s little note: sorry buat posternya yang gak nyambung karena aku lagi kesengsem sama rambut barunya mas Tekwun ><

Oh iyaa maaf yaa kalo apdetnya lama, abis ngumpulin moodnya kadang susah padahal udah mikirin plotnya T^T

tumblr_nupm2o8bto1t7rvrjo3_400

Aigu Miki Appa abis kambek wkwkwk /fangirl yang masih larut dalam euforia/

Nih kukasih beberapa pictnya ;D

tumblr_nxpzyucg5s1rxvwdzo1_1280tumblr_nxqs6iuzJ81rxvwdzo3_1280tumblr_nxq01owZYL1rxvwdzo1_1280

Mind to leave a comment ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s