Mr.Chu [Chapter 10]

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

Previous :

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9A

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

.

.

.

I will put that beautiful smile in my eyes

My dear, love me, kiss me, close your eyes

Tell me as you look at me, kiss me

(Zion.T – Kiss Me)

.

.

.

Rasanya Shannon ingin mengutuk Jung Chanwoo detik itu juga. Bagaimana bisa pemuda itu tidak memberitahunya kalau mereka akan makan malam di salah satu restoran mewah di kawasan Gangnam?

Oh, Shannon hanya mengenakan pakaian seperti itu; celana kulit berpotongan pendek, jaket kulit dan sepatu boot yang semuanya berwarna hitam.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kita akan makan malam sih, Chan?” protes Shannon dengan nada berbisik pada Chanwoo. Kini mereka berdua tengah berjalan di belakang orang tua Chanwoo seraya memasuki restoran. Pemuda itu tampak cuek dan hanya menjawab, “Ini juga mendadak. Eomma yang tiba-tiba memintanya.”

Shannon mendengus kesal.

“Lagipula.” Chanwoo melirik padanya, kembali memperhatikan gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Bukankah aku sudah bilang, kenapa kau tidak ganti baju?”

Sontak saja Shannon mendelik pada Chanwoo. ‘Kalau tahu begini, aku pasti akan mengganti pakaianku, Chan!’

Shannon memilih menyerah, dia tidak ingin berdebat dengan Chanwoo lebih lanjut. Gadis itu lebih memilih untuk memperhatikan kedua orang tua Chanwoo yang kini tengah berbicara dengan salah satu pelayan lantas pelayan itu mengantarkan mereka ke salah satu meja, yang telah dipesan Appa Chanwoo, sepertinya.

“Maaf mengejutkanmu dengan berita perceraian itu,” ujar Taekwoon—Appa Chanwoo—mengawali konversasi sesaat setelah pelayan tadi pergi dengan pesanan mereka.

Shannon berubah kikuk, kembali teringat dengan kejadian tempo hari saat Joohyun—Eomma Chanwoo—menangis di hadapannya. Sepersekian sekon berikutnya Shannon beralih menatap Joohyun yang membalasnya dengan tatapan lembut. Sepertinya wanita cantik itu telah menceritakan semuanya pada Taekwoon. Shannon tak bisa memungkiri kalau dirinya memang terkejut saat mendengar kabar tersebut, tapi nampaknya saat ini mereka baik-baik, dan Shannon bersyukur melihatnya.

‘Tapi sebenarnya, apa yang terjadi pada orangtua Chanwoo?’

“Karena Appa tahu Eomma hanya cari perhatian, jadi sementara dibiarkan dulu.”

Yang barusan terdengar adalah suara Jung Chanwoo yang seakan bisa membaca pikiran Shannon. Ya, perkataannya itu sudah menjawab rasa penasaran Shannon. Apalagi disusul suara tawa Taekwoon dan Joohyun yang mulai merajuk karena malu.

‘Ini menyeramkan, Chanwoo dan Appanya benar-benar mirip’.

Shannon mengerti sekarang darimana sifat iseng Jung Chanwoo berasal. Siapa lagi kalau bukan Appanya, mengingat Eomma Chanwoo adalah pribadi yang sangat baik dan ramah.

“Saat pertama kali menerimanya, aku bahkan tidak membukanya. Aku lebih memilih membaca koran pagi, saat itu,” Taekwoon melanjutkan. “Dia bahkan tidak mengirimiku pesan seperti biasa, dan kupikir itu karena dia berharap aku duluan yang mengabarinya. Jadi kuputuskan untuk mengerjainya sedikit, dengan tidak menelepon maupun mengiriminya pesan.”

Saat pertama bertemu, Shannon pikir Taekwoon adalah sosok Appa yang dingin dan berwibawa, tapi semua persepsi itu terpatahkan saat kalimat panjang—dan diakhiri tawa terbahak—keluar dari mulut pria berumur empat puluh dua itu.

‘Oh, ternyata Eomonim juga bernasib sama denganku’.

Appa tidak tahu bagaimana reaksi Eomma saat Chanwoo mengatakan,” ujar Chanwoo berusaha menimpali Taekwoon. “Eomma sudah siap kalau melihat Appa bersama wanita lain?” lanjutnya sambil mempraktekkan mimik wajahnya saat mengatakan pada Eommanya.

“Aish, kalian berdua, sudah hentikan!” protes Joohyun.

Shannon hanya bisa ternganga mendengar percakapan—atau mungkin perdebatan—keluarga Jung itu. Makan malam itu diisi dengan obrolan hangat serta Taekwoon yang sesekali mengerjai istrinya. Keluarga Jung benar-benar hangat dan membuatnya nyaman.

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 10 ———-

.

.

.

Bunyi gemerisik air berhenti saat Shannon memutar keran airnya. Sejenak gadis blasteran itu membenarkan poni serta kuncir kuda surai cokelatnya. Saat ini Shannon tengah berada di dalam toilet. Makan malam mereka telah berakhir sepuluh menit yang lalu. Setelah dirasa penampilannya telah rapi, Shannon melangkah keluar dari toilet.

“Sudah selesai?”

Suara Jung Chanwoo langsung menyambutnya. Pemuda itu memang sengaja menunggunya di luar toilet.

“Kita pulang sekarang?” tanya Chanwoo seraya menyerahkan tas tangan Shannon yang sedari tadi dibawanya. Shannon hanya menerimanya dan menganggukkan kepala.

Mereka mulai berjalan beriringan menuju pelataran restoran, tempat dimana orangtua Chanwoo telah menunggu mereka. Shannon hanya diam dan Chanwoo tengah berkutat dengan ponselnya. Pemuda itu tak sepenuhnya mengabaikan Shannon, justru dia tampak sedang berpikir.

Mereka baru saja keluar dari restoran saat Chanwoo menarik lengan Shannon. Membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik.

“Eum … bagaimana kalau kita pulang menggunakan bis?”

“Hah?”

“Sekarang masih jam tujuh, belum terlalu larut. Lagipula sudah lama rasanya aku tidak naik bis.”

Sejenak Shannon merasa heran. Ada apa gerangan dengan Jung Chanwoo. Memang, belakangan ini Chanwoo selalu mengantarnya pulang menggunakan motor. Kegiatan mengantar sampai halte sudah jarang mereka lakukan, apalagi pulang bersama menggunakan bis. Aneh karena tiba-tiba pemuda itu ingin pulang menggunakan bis, dan ini sudah malam, bersamanya pula!

“Eum … yasudah, aku juga tidak masalah.” Tapi akhirnya gadis itu mengiakan juga. Toh Shannon memang tidak pernah menolak bila pemuda itu mengajaknya pulang bersama, senang malah.

Eomma, sepertinya kami tidak jadi pulang bersama,” seru Chanwoo pada dua sosok yang tengah berdiri di samping mobil sedan putih mereka.

“Lho kenapa? Appa bisa mengantarkan Shannon.”

Ani, biar aku saja yang mengantarnya,” jawab Chanwoo.

“Oh, yasudah. Kalau begitu hati-hati, nak!”

“Iya, kami duluan, Appa, Eomma.

Eomonim, Chanwoo Appa, Shannon pamit duluan.”

“Iya, lain kali kita bertemu lagi ya, Shannon,” ujar Taekwoon lalu memamerkan senyum ramahnya. Dia melangkah maju dan merangkul tubuh mungil istrinya.

“Sering-sering main ke rumah, Shannon-ah,” ujar Joohyun menimpali.

Shannon tersenyum. “Ne, Eomonim.”

Kemudian mereka berjalan, hendak mencari halte bis terdekat. Tinggal lah Joohyun dan Taekwoon yang masih tak bergeming dari tempat mereka. Masih memandangi punggung dua sosok remaja itu yang kian lama kian menjauh.

“Dia mirip denganmu.” Tiba-tiba terdengar suara Taekwoon memecah keheningan.

“Hah?” Joohyun menengadah dan menatap heran pada suaminya.

Taekwoon menundukkan kepalanya dan menatap Joohyun lamat-lamat. “Aku seperti melihat dirimu sewaktu SMA.”

Oh, mendengarnya sungguh membuat Joohyun tersipu. Dia tak menyangkah kalau Taekwoon masih mengingat sosok dirinya saat SMA, saat mereka masih berpacaran tepatnya.

“Kau ini bicara apa? Tentu saja Shannon lebih cantik dariku,” balasnya sambil menyikut pelan perut Taekwoon.

Alih-alih membalas perkataan Joohyun, Taekwoon malah memajukan wajahnya. Mengamati lekat-lekat rupa istrinya. Joohyun tercekat saat paras tampan itu hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Dan bagai seorang gadis remaja yang tengah jatuh cinta, jantungnya berdetak abnormal. Pipinya memanas dan darahnya berdesir, sama seperti saat Taekwoon pertama kali melakukannya, dua puluh lima tahun yang lalu ketika dirinya masih berusia enam belas tahun.

“Kau benar, dia jauh lebih cantik darimu.”

Pria itu berbisik tepat di telinganya. Sepersekian sekon berikutnya Taekwoon menjauhkan wajahnya sambil tertawa kecil.

Oh, sial! Joohyun tertipu lagi rupanya.

Setelah hampir membuat jantungnya melompat keluar dari tubuhnya, pria itu malah terus terbahak di hadapannya. Membuat wajahnya semakin berwarna merah, namun kali ini karena malu. Kesal, Joohyun pun menyikut perut Taekwoon—tapi lebih keras dibanding yang tadi.

“Menyebalkan!”

Akhirnya Taekwoon menghentikan tawanya. “Marah lagi, eoh?”

“Iya, aku marah!” Joohyun melipat tangan di depan dada seraya membuang muka.

Melihat itu, Taekwoon justru mengeratkan rangkulannya. “Lalu kau mau melakukan apa? Mau mengirim Surat Cerai lagi agar aku terbang dari Jepang untuk menemuimu?”

“Huh, baiklah aku ak—

“Untuk apa? Toh, aku sudah ada di hadapanmu.”

Sejurus kalimat yang baru saja lolos dari bibir pria itu, Joohyun menoleh padanya. Menatapnya kesal karena telah kalah pelak.

“Ck.”

Sejak dua puluh lima tahun yang lalu Joohyun sudah membenci Jung Taekwoon.

***

“Sebenarnya kau mau mengajakku kemana sih, Ahjussi?”

Kalimat protes lolos begitu saja dari bibir gadis manis itu, meski sebelumya dia hanya mendumal dalam hati. Bagaimana gadis itu tidak kesal setelah selama setengah jam Taehyung hanya mengajaknya berkeliling tanpa tujuan. Dan kini, pemuda bersurai oranye itu hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya—yang tidak gatal—karena sejujurnya dia pun bingung hendak membawa Sujeong kemana. Karena yang dia inginkan hanyalah agar dapat pergi berdua dengan gadis yang disukainya.

“Kalau tidak jelas begini lebih baik aku pulang.” Sujeong yang sedari tadi melipat tangannya di depan dada berujar tegas.

Eoh, ada gulali biru!”

“Di mana??!”

.

.

.

“Eumm …” Sujeong berkemam senang. Merasakan permen kapas berwarna biru itu lumer di dalam mulutnya.

Melihat senyum yang terus merekah di paras gadis itu turut membuat Taehyung menyunggingkan senyum lebarnya. Taehyung amat mengenal Sujeong, serta salah satu makanan kesukaan gadis itu, yaitu permen gulali berwarna biru.

“Tapi ingat ya! Pokoknya setelah makan gulali ini aku akan pulang”.

.

Sepuluh menit kemudian…

.

“Wuahh … dingin-dingin begini memang paling enak makan bungeoppang(kue ikan)!”

“Iya ‘kan? Wahh bungeoppang ini benar-benar enak!” ujar Taehyung menimpali. Keduanya tengah duduk di salah satu bangku taman, dan menikmati jajanan yang baru saja dibelinya beberapa menit yang lalu.

Sujeong baru saja memasukkan potongan terakhir bungeoppang ke dalam mulutnya saat gadis itu tersadar.

“Ah, tidak. Aku harus pulang setelah ini. Masih ada soal fisika yang harus aku kerjakan.”

.

Lima belas menit…

.

“Dasar Ahjussi payah! Makannya dengan hati-hati, patah ‘kan jadinya.”

Seru Sujeong saat Taehyung baru saja gagal menjaga bentuk hati di tengah bbopki miliknya, yaitu sebuah permen gula yang berbentuk bulat tipis. Mereka sedang memainkan permainan ‘siapa yang bisa menyisakan bentuk bbopki bagian tengah dengan utuh, tanpa patah, ataupun cuil’. Dan bagi yang kalah, hukumannya adalah mentraktir si pemenang.

“Kalau begitu berarti aku yang menang,” ujar Sujeong senang.

Taehyung menghela napas. “Baiklah, baiklah … sekarang kau mau makan apa?”

“Eum …” Gadis itu terlihat tengah berpikir. “Ah! Aku mau hotteok!”

Segera setelah gadis berkuncir kuda itu menyebutkan keinginannya, Taehyung berjalan menghampiri pedagang pancake khas korea itu yang berada di pinggir jalan. Tak lama kemudian Taehyung kembali menghampiri Sujeong dengan dua bungkus hotteok panas di tangannya. Taehyung mengulurkan salah satunya pada Sujeong, lantas mereka kembali berjalan sambil menikmatinya.

Saat melewati salah satu mini market, sebuah permainan koin menarik perhatian Taehyung. Permainan itu semacam permainan memukul sebuah papan berbusa—seperti samsak tinju—yang kemudian akan muncul skor dari seberapa kuat meninjunya.

“Sujeong, mau main itu?”

Celetuk Taehyung yang sontak membuat Sujeong menghentikan langkahnya dan mengikuti arah yang ditunjuk Taehyung. Sejenak kening gadis itu berkerut.

“Siapa yang menang, boleh meminta satu permintaan. Bagaimana?” tawar Taehyung. Sujeong mengangguk setuju kendati benaknya merasa aneh dengan permintaan sunbaenya itu. Tapi Sujeong tak ambil pusing, toh Taehyung memang aneh.

“Okay.”

Sejurus dengan jawaban Sujeong, sebuah pemikiran melintas di benak pemuda bersurai oranye itu.

‘Iya, ini adalah waktu yang tepat. Kalau aku memenangkannya, aku akan menyatakan perasaanku pada Sujeong’ Ikrarnya dalam hati. Kemudian Taehyung mengepalkan tangannya ke udara yang disambut tatapan aneh dari Sujeong.

Yah, sedari awal harusnya dia tidak menerima ajakan pemuda aneh itu.

Setelah melakukan gunting-batu-kertas, Sujeong lah yang mendapat giliran pertama. Diserahkannya hotteok miliknya yang baru setengah disantap kepada Taehyung. Sujeong bersiap memasang kuda-kudanya serta mengeraskan kepalan tangannya, sedangkan Taehyung memperhatikannya dari samping mesin. Gadis itu memasukkan koinnya lantas kembali mempersiapkan dirinya. Taehyung hanya mengulum senyum memandangi tingkah gadis itu. Sujeong terlihat imut namun Taehyung yakin kepalan tangan sekecil itu tidak mungkin mengalahkannya. Dia itu lelaki, sedangkan Sujeong seorang gadis. Tentu tenaga mereka berbeda. Tapi bukan Sujeong namanya kalau menyerah begitu saja.

Setelah menghitung mundur akhirnya gadis itu mendaratkan pukulan pada papan sasaran.

.

BRAAKKKK

.

Taehyung tak berkedip sedetik pun. Bunyi ‘biip’ yang berasal dari mesin menunjukkan jumlah angka yang akan menjadi perolehan skor Sujeong. Dan angka tersebut berhenti pada angka…

“350”

“WUAHHHH! DAEBAK!” Sujeong berteriak serta melompat riang, dan hal itu tentu saja menarik perhatian orang-orang yang tengah berlalu lalang.

“Kau lihat itu Ahjussi?! Bukankah aku hebat?? OMO! Daebak!” ujar Sujeong antusias.

“I-ya…daebak,” sahut Taehyung masih tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Gadis imut di hadapannya berubah bengis saat melancarkan pukulannya. Padahal setidaknya, menurut Taehyung Sujeong hanya akan memperoleh skor 250, tapi kenyataannya? Gadis itu memperoleh skor 350 yang mana dinilai besar mengingat skor sempurnanya adalah 400. Jinja…jinja daebak.

“Eum…kau sudah siap mengabulkan permintaanku ‘kan, Ahjussi?” Sujeong mulai menggoda Taehyung sekaligus menyadarkan pemuda itu dari ‘syok’nya.

“Jangan terlalu percaya diri dulu, Nona.”

Benar, tentu pemuda itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya. Mungkin Taehyung salah jika menganggap pukulan Sujeong lemah, tapi setidaknya dia adalah seorang lelaki. Tenaganya pasti lebih kuat dari Sujeong. ‘Tenang saja, kau pasti akan menang, Kim taehyung. Fighting!’ yakinnya dalam hati.

Maka dengan langkah pasti, Taehyung melangkah maju. Direnggangkannya otot-otot lengannya. Memasang kuda-kuda dan mulai mengeraskan kepalan tangannya. Diambilnya satu koin dan dimasukkannya ke dalam mesin. Sambil menghitung mundur, Taehyung mulai merapalkan doa. Dia benar-benar berharap dewi Fortuna akan berpihak padanya. Di hitungan ke satu, Taehyung melancarkan pukulannya…

“Bukankah itu Junhoe?”

.

BRAKK

.

Taehyung hampir saja terjatuh kalau ia tak menjaga keseimbangannya. Lengannya terasa nyeri dan wajahnya memerah, tunggu, bukan merah merona, melainkan merah menahan amarah. Bagaimana tidak? Suara Sujeong barusan membuyarkan fokusnya sehingga pukulannya TIDAK TEPAT SASARAN!

“Aish, dimana Koo Junhoe??!” geram Taehyung.

“Wah, skormu hanya 347, Ahjussi!” Alih-alih menjawab, Sujeong malah menunjuk pada mesin di hadapannya yang menunjukkan angka 347, skor miliknya. “Berarti aku yang menang!!” lanjut Sujeong antusias.

Seketika Taehyung mematung. Otaknya mencoba mencerna dan sekon berikutnya netra pemuda itu menatap intens pada gadis manis di hadapannya. “Kau…membohongiku ya?”

Mwo? Aku tidak bohong, kok!”

“Lalu mana Koo Junhoe?”

“Itu, pemuda dengan seorang gadis mengenakan topi hitam di sebelahnya, bukankah itu Junhoe?” ujar Sujeong sambil menunjuk dua sosok yang tengah bersisian di depan pedagang hotteok yang tadi dihampiri Taehyung.

Eoh? Iya, sepertinya itu Junhoe.”

“Dengan siapa dia? Tunggu…bukankah itu Hajin?”

“Hajin? Siapa?”

“Jung Hajin, adiknya Jung Chanwoo. Aish, dasar pedofil itu.” Mengepalkan kedua tangannya, gadis berkuncir kuda itu hendak melangkah pergi.

“Sujeong-ah, kau mau kemana?”

“Tentu saja menghampiri mereka.”

Ya! Untuk apa kau mengganggu pasangan lain.”

***

“Jadi namamu Jeong Yein?”

Gadis dengan surai legam terurai itu melontarkan tanya, membuat gadis di hadapannya mendadak kikuk, tidak tahu harus menjawab apa.

N-ne, Eonnie,” jawabnya, Yein harap dia tidak salah memanggil.

“Yein-ah, perkenalkan namaku Jung Eunha.” Gadis yang dipanggil itu menghela napas lega kala sapaan akrab itu keluar dari bibir Eunha. Apalagi disertai merekahnya senyum ramah di paras cantik gadis itu.

“Ah, ne, Eunha eonnie.

Tapi masih ada yang mengganjal di benak Yein, apalagi mengingat kejadian tadi, Eunha tiba-tiba saja memeluk Jungkook. Dan kini gadis itu juga turut ikut pada acara jalan-jalan mereka yang sudah Yein tunggu sejak seminggu yang lalu. Sebenarnya siapa gadis cantik ini?

Seakan dapat membaca pikiran Yein—yang terlihat tengah melamun—Jungkook pun berujar.

“Eunha adalah sepupuku.”

Lagi-lagi Yein menghela napas lega, bersyukur dirinya belum menduga yang tidak-tidak. Sedetik kemudian senyum kembali merekah di paras Yein. Jungkook pun ikut tersenyum melihatnya, bersyukur telah menghilangkan rasa khawatir Yein. Jujur, pemuda itu juga terkejut saat Eunha tiba-tiba datang dan memeluknya, dia takut kalau Yein salah paham.

Ya, Jungkook! Berhenti melamunnya. Sana belikan kami eskrim!”

Eunha mendorong pelan tubuh Jungkook agar menjauh. Tanpa melayangkan protes, pemuda itu melangkah menuju mini market di seberang jalan.

“Aku rasa stoberi ya!” seru Eunha yang dibalas acungan tangan oleh Jungkook. Puas menatap lamat pada punggung yang menjauh lantas Eunha beralih pada Yein yang berdiri di sebelahnya.

“Yein-ah, kau pacarnya Jungkook?”

Sontak saja Yein tergugu, terkejut ditodong dengan pertanyaan seperti itu. Gesturnya berubah kikuk dan secara perlahan wajahnya berubah merah.

“B-bu…bukan, Eonnie.”

“Lalu siapa?”

Yein menelan salivanya susah payah sebelum akhirnya menjawab, “A-aku hobaenya.”

“Oh! Pantas saja daritadi kau memanggilku Eonnie.”

N-ne, Eonnie.”

Melihat tingkah canggung Yein, Eunha tertawa kecil. “Santai saja, Yein-ah. Kau boleh memanggilku dengan nama—

Aniyo, Eonnie,” jawab Yein cepat. Dirinya tidak mau kalau memanggil orang yang lebih tua dengan nama, meski orang terdekat sekali pun.

Arrasseo…arrasseo…tapi kita jadi teman ya?”

Yein mengernyit, tidak mengerti maksud perkataan Eunha.

“Kau tidak tahu? Aku akan masuk di sekolahmu dan Jungkook.”

‘Oh’ panjang keluar dari bibir Yein, pertanda paham akan perkataan Eunha barusan. “Karena aku tidak mengenal siapa pun di sana selain Jungkook, aku ingin berteman denganmu. Kau mau ‘kan, Yein-ah?” tanya Eunha, lantas gadis itu memamerkan senyum termanisnya.

“Tentu saja, Eonnie.” Yein balas tersenyum pada Eunha. Ia merasa senang karena dapat berteman dengan sepupu Jungkook. Barangkali ia juga bisa menanyakan apa saja tentang Jungkook pada Euha.

“Ini eskrimnya!”

Suara pemuda itu membuyarkan momen keakraban mereka. Baik Eunha maupun Yein, menoleh pada sosok Jungkook yang terengah-engah.

Ya! Kenapa kalian mendadak diam?”

***

“Aish, Jung Chanwoo…”

“Hm…”

Dehaman panjang tertangkap jelas oleh koklea Shannon. Gadis itu mendelik ke arah pemuda jangkung yang berdiri di sampingnya, tengah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket tebalnya.

“Kau bilang kita akan naik bis?!”

“Kita sudah naik bis.”

Okay, tapi kau bilang kita akan pulang.”

“Iya, kita akan pulang.”

“Tapi ini tidak terlihat seperti jalan menuju ke rumahku. Lagipula kita harusnya turun beberapa halte lagi.”

“Iya, kita akan pulang, tapi nanti.”

Mwo?”

“Belum larut, apa salahnya untuk berjalan-jalan?”

Tak ada protes lagi yang terlontar dari bibir Shannon, terang saja, gadis itu tengah merutuk dalam hati. Bisa-bisanya Jung Chanwoo mengatakan kalau dia akan mengajak Shannon jalan-jalan setelah menarik paksa dirinya turun dari bis nyaman yang hendak mengantarnya ke rumah. Atau lebih tepatnya merutuk karena jawaban Chanwoo barusan cukup untuk membuat Shannon bungkam. Memangnya dia akan menolak kalau diajak jalan-jalan oleh Jung Chanwoo? Tentu saja tidak kalau saja cuacanya tidak sedingin sekarang. Oh, Shannon mulai membenci pakaiannya saat ini serta Jung Chanwoo yang tidak cukup peka untuk meminjamkannya jaket tebal yang membalut tubuh semampai pemuda itu.

Sedari tadi ekor mata Shannon memperhatikan pergerakan tangan Chanwoo yang dimasukkan ke dalam saku, dikeluarkan untuk kemudian dihangatkan dengan hembusan napas Chanwoo sendiri lalu dimasukkan ke dalam saku kembali. Sedangkan Shannon? Jaketnya adalah jaket kulit tanpa kantung dan celananya hanya sebatas setengah paha. Dia harus menahan dingin yang semakin menusuk serta Jung Chanwoo yang tak kunjung prihatin dengan keadaannya.

Shannon menghela napas kesal. Tuh ‘kan, napasnya saja sampai berasap.

Shannon sibuk berkutat dengan pikirannya sampai tidak memperhatikan langkahnya. Ketika seorang pria berbadan besar—yang tengah sibuk dengan ponselnya—berjalan ke arahnya, Chanwoo menarik Shannon ke dalam pelukkannya. Tubuh Shannon menegang di dalam pelukan Chanwoo, belum siap menerima perlakuan seperti itu. Tak lama setelah pria itu berlalu, Chanwoo melepaskan pelukannya.

Ya! Matamu kemana, sih? Hati-hati kalau jalan.”

Shannon yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, menjawab pelan. “M-maaf.”

Chanwoo berdecih lantas tangannya mengamit tangan Shannon dan menggenggamnya. Terkejut, Shannon melayangkan tatapan tanda tanya pada Chanwoo. “Karena malam ini kau banyak melamun, terpaksa aku harus menggandengmu.”

Selanjutnya yang terjadi adalah Chanwoo yang terus mengoceh, menawari Shannon ini itu tapi hanya dibalas gelengan kepala oleh Shannon. Gadis itu tidak bernapsu untuk wisata kuliner malam itu. Akhirnya Chanwoo meninggalkan Shannon—dengan sedikit paksaan—di ayunan taman lalu berlari menuju mini market untuk membeli dua eskrim.

Shannon tengah mengayunkan pelan ayunan yang didudukinya saat pemuda jangkung itu kembali dengan dua eskrim cone di tangannya. Chanwoo tersenyum dan menyerahkan salah satu eksrim dengan rasa stoberi pada Shannon. Gadis itu menerimanya dan mulai menjilati eskrimnya dengan tidak semangat. Sedangkan Chanwoo ikut mendudukkan diri pada ayunan di sebelah Shannon. Lama mereka terdiam, sibuk menyantap eskrim mereka. Sampai akhirnya Chanwoo membuka konversasi dengan kalimat…

.

“Shan, pacaran pura-pura ini kapan batas waktunya?”

.

Padahal baru saja eskrim stoberi itu lumer di dalam mulut Shannon lalu turun ke kerongkongannya, tapi, kenapa tiba-tiba kerongkongannya terasa kering? Serentetan kata yang terlontar dari bibir Chanwoo barusan, seakan menghentikan detak jantung Shannon. Untuk menjawab saja lidahnya terasa kelu. Benak Shannon sibuk menerka-nerka barangkali yang didengarnya barusan salah.

Kendati belum mendengar sepatah kata pun dari Shannon, Chanwoo kembali berujar.

“Bagaimana kalau batas waktunya adalah malam ini, pukul delapan?”

Dan sejurus dengan perkataan Chanwoo barusan, hati Shannon menjawab…

‘Akhirnya saat ini datang juga’

.

‘Saat dimana hubungan kepura-puraan ini akan berakhir’

.

Shannon merutuk dalam hati karena selama ini sudah lalai. Terlalu larut sampai lupa kalau hubungan ini bisa berakhir kapan saja.

“Lima menit lagi.”

Kepala Shannon semakin tertunduk. Sepatunya mulai beradu dengan tanah, tak peduli sepatunya akan berubah warna menjadi cokelat, Shannon hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Susah payah menahan air matanya, Shannon harap waktu berhenti saja.

“Eskrimku sudah habis!”

Chanwoo membuang bungkus eskrim conenya yang telah kosong. Jari telunjuknya menghapus jejak eskrim vanilla di sudut bibirnya lantas netranya berlabuh pada Shannon. Pada tangan Shannon. Pada eksrim stroberi Shannon di tangan Shannon, yang telah meleleh diabaikan oleh si empunya.

“Shannon Williams…

Chanwoo bangkit kemudian berdiri tepat di hadapan Shannon. Kepala gadis itu semakin menunduk, bahkan kini sepasang sepatu Chanwoo juga turut menjadi objek perhatiannya.

“Shannon Williams…

.

Pluk…

.

Eskrim tak berdosa itu mendarat di tanah. Lantas Jung Chanwoo berjongkok di hadapan Shannon yang masih setia menunduk. Membuatnya dapat melihat jelas likuid bening yang menganak di kedua pipi Shannon.

“Kau menangis?”

Tersentak, Shannon mengangkat wajahnya sekaligus menutupnya dengan cepat.

“B-bukan…ini…aku…”

Namun gerakan Chanwoo lebih cepat, tangannya menarik tanga kiri Shannon yang menutupi sebagian wajahnya.

“Tanganmu ini lengket, nanti wajahmu juga ikut lengket.” Diambilnya sapu tangan miliknya dari saku lalu dibersihkannya tangan Shannon dengan telaten. Shannon hanya dapat memperhatikan Chanwoo di hadapannya.

“Jung Chanwoo maaf…”

Serta merta gerakan tangan Chanwoo berhenti, lantas wajahnya terangkat. Netranya berlabuh tepat pada netra berair Shannon.

“…ani, gomawo.” Shannon menampilkan senyumnya. Chanwoo bergeming di tempatnya—masih dengan netra menatap manik Shannon.

“Meski semuanya hanya pura-pura. Meski nantinya semua ini tidak ada artinya, aku ucapkan terima kasih. Terima kasih atas perlakuanmu selama ini.” Gadis itu menghela napas berat sebelum melanjutkan,

“Karena bagiku, itu semua bukan pura-pura.” Shannon meraih tangan Chanwoo yang tengah memegang tangannya sendiri lantas menangkupkan kedua pasang tangan mereka.

“Terima kasih atas segalanya, Jung Chanwoo.”

Sekon berikutnya Shannon melayangkan kecupan pada punggung tangan Chanwoo. Kecupan yang amat lembut, bahkan hembusan napas Shannon dapat menghangatkan tangannya.

Pemuda itu terdiam sejemang. Menunggu gadis blasteran itu menyudahi kecupannya. Segera setelah Shannon menjauhkan wajahnya, Chanwoo berujar.

“Sudah?”

E-eoh? Iya.”

“Sekarang giliranku.”

Chanwoo melepaskan genggaman tangan Shannon lalu bangkit berdiri. Pemuda itu menghela napas perlahan—terlihat dari kepulan asap yang menguar dari mulutnya—kemudian melepas jaket tebalnya. Tubuhnya membungkuk dan kedua tangannya menyampirkan jaket hitam itu pada pundak Shannon. Shannon tentu terkejut dengan tindakan Chanwoo. Belum sempat Shannon bertanya, Chanwoo sudah kembali berlutut di hadapannya.

Sekon berikutnya sebelah tangan Chanwoo menelusup di balik surai cokelat Shannon dan mendorong pelan tengkuk Shannon mendekat. Shannon masih belum dapat mencerna situasinya saat wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah Chanwoo yang juga mendekat. Tak perlu beberapa detik saat kedua belah bibir itu menyatu dan kelopak Shannon terpejam. Sesuatu yang lembut bergerak perlahan—tanpa menuntut—di permukaan bibir Shannon disertai hembusan napas Chanwoo yang menerpa wajah mulusnya dan seketika perasaan hangat menjalar sampai ke dadanya.

Mengapa rasanya seperti ini adalah kali pertama Shannon merasakannya?

Meski efeknya tetap sama; memicu detak abnormal serta rasa panas menjalari pipinya dan menciptakan rona kemerahan. Ciuman ini rasanya tidak sama. Ciuman ini lebih lembut dari biasanya. Ciuman ini lebih hangat dari sebelumnya. Meski Shannon tidak tahu apa artinya.

Lama mereka berpagutan, saling mengalirkan perasaan hangat sampai ke sekujur tubuh, dengan kasih yang diam-diam menelusup.

Lantas Chanwoo menjauhkan wajahnya sedikit. Memiringkan wajahnya, dia mulai berbisik.

“Jadi pacarku, ya?”

Itulah gelombang suara yang dengan jelas dicerna koklea Shannon. Menimbulkan rona merah dan rasa panas pada manik cokelatnya. Lantas tangis Shannon tidak dapat dibendung lagi. Likuid bening itu lagi-lagi menganak di kedua pipi Shannon. Menghapus jejak-jejak air mata yang mengering dimakan waktu saat keduanya bercumbu.

“Diam, berarti iya.”

Tangis Shannon berubah menjadi isakkan. Namun bukan karena sedih, mungkin karena bahagia, atau mungkin juga karena merasa marah pada pemuda yang sudah seenaknya membolak-balikkan perasaannya. Lantas sebuah kurva tercipta di paras tampan Chanwoo. Tangannya terangkat hendak menghapus air mata Shannon. Saat ditelungkupkannya wajah Shannon, Chanwoo terkejut dengan rasa hangat yang menjalari permukaan tangannya.

“Kau demam ya?!”

Sekon berikutnya ekspresi panik yang tergambar di parasnya, serta Shannon yang beberapa kali menghembuskan napasnya. Pantas saja badannya terasa tidak enak, gadis itu pikir tubuhnya terasa panas karena perlakuan Chanwoo, tapi ternyata dia demam.

“Kenapa tidak bilang daritadi? Pantas saja eskrimnya tidak dimakan.”

.

.

.

.

.

“Yein-ah, tanggal berapa sekarang?”

“Aish, Shannon Williams, kau pikir jam berapa ini???”

“Ya! Aku menanyakan tanggal bukannya jam!”

“Ya Tuhan! Tanggal sembilan Shan! Tang-gal-sem-bil-an!!!”

“Ah, tepat! Berarti ini bukan mimpi ‘kan, Yein-ah?”

“KAU YANG BARU SAJA MENGGANGGU MIMPIKU, SHAN!”

.

.

.

TBC

[Next]

[Prev]

Iklan

4 thoughts on “Mr.Chu [Chapter 10]

  1. Kasihan yang gagal nembak wkwkw /lirik taehyung/
    Kakkkkkkk aku ikut meleleh dengan eskrimnya pas jadianㅠㅠ hueee pas chanwoo ngajak pacaran, aku otomatis langsung bilang iya :v /memangnya aku apa/..
    Chapter 10 last part ya kak? Uhuuuuu ㅠㅠ bakalan say goodbye sama ff ini ㅠㅠ

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iyaa kasian tae tae wkwk /kemudian dibacok tae/
      Dududuhh aku juga ikut meleleh. Pengen juga digituin /Ga
      Astagahhh wkwk malah jadi kamu yang jawab
      enggak kok fan masih ada 2chap lagih.
      Makasih udah baca dan komen yaah ^^

      Suka

  2. Ah ini manis banget. Adegan trakhir itu berasa kayak ice cream in love jadinya. Suka…
    Pas baca ff ini gak berasa udah baca smpe chap 10. Cerita nya ngalun dan buat ketagihan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s