HALLOWEEN PARTY

halloweenparty

Mr.Chu Special : HALLOWEEN PARTY

Cast : Six couples in series Mr.Chu

Romance, Fluff, School life, (maybe)Horror, a little bit Comedy | Oneshot | G

sorry for the amburadul poster :v

Summary :

Penasaran dengan kisah Halloween mereka?

.

.

.

Tidak seperti malam-malam biasanya, malam ini sekolah tampak ramai. Lampu-lampu, tirai hitam serta hiasan berbentuk labu menghiasi interior ruangan. Ditambah kehadiran hampir seluruh siswa yang memadati ruangan dengan kostum unik mereka. Tidak salah lagi, malam ini adalah perayaan Halloween. Di salah satu sudut keriuhan pesta, berdirilah seorang gadis blasteran yang menggunakan kostum penyihir. Netra gadis itu menyapu seluruh ruangan, tampak tengah mencari seseorang.

“Shan!”

Refleks, gadis yang dipanggil ‘Shan’ itu menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati seorang gadis berkostum polisi tengah berjalan ke arahnya.

Annyeong, Yein-ah,” sapanya. Iya, gadis yang tampak cantik dengan sebuah topi polisi bertengger di kepalanya adalah Jeong Yein, teman sebangkunya. Tapi bukan Yein yang Shannon cari, melainkan sesosok pemuda jangkung bermarga Jung yang tidak bisa dihubunginnya sedari siang tadi. Lelah mencari, Shannon tak memusingkannya lagi dan memilih untuk menikmati pesta bersama Yein.

“Kemana yang lainnya?” tanya Shannon disela-sela kegiatan mereka menikmati hidangan ringan. Yein memasukkan potongan kecil cream cake sebelum menggeleng ragu. “Entahlah, aku belum bertemu yang lainnya. Aku langsung mencarimu begitu sampai di sini.”

Selesai menikmati hidangan, sosok Jung Chanwoo tak juga menampakkan batang hidungnya. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan. Tertarik pada rumah hantu yang dibuat oleh murid tingkat dua, Yein menarik Shannon mendekat. Mereka sampai di muka rumah yang tak lain adalah sebuah tenda yang disulap menjadi rumah hantu, dan disambut dengan dua penjaga rumah hantu.

“Selamat malam nona-nona,” ujar seorang pemuda jangkung yang mengenakan kostum Vampir. Awalnya mereka sempat tak mengenalinya sampai sosok di sebelah pemuda itu juga turut menyapanya.

Annyeong, Yein-ah, Shannon-ah!”

“Yeeun!” seru Shannon dan Yein bersamaan. Yeeun hanya mengenakan mini dress berwarna hitam sehingga mereka masih dapat mengenalinya.

“Lho, berarti ini…Mingyu sunbae?”

Pemuda jangkung itu tersenyum manis dengan make up merah—bagai darah—di sudut bibirnya. Sontak saja Shannon dan Yeeun berdecak kagum karena penampilan Mingyu. Ternyata Yeeun dan Mingyu memang bertugas untuk menjadi penyambut di depan rumah hantu. Pantas saja kostum dan make up Mingyu tampak sempurna, ditemani Yeeun yang tampak cantik dengan balutan mini dress hitam.

Mereka berdua tampak serasi.

“Bagaimana? Apa kalian mau berkunjung ke rumah hantu kami?” tawar Mingyu.

Sejenak Shannon dan Yein saling berpandangan hingga akhirnya Yein mengangguk setuju. Sebenarnya terselip rasa kecewa di hati Shannon. Gadis itu berharap bisa masuk rumah hantu bersama Chanwoo. Tapi bagaimana mau pergi bersama kalau sosoknya saja belum terlihat sedari tadi.

Sepersekian sekon berikutnya Mingyu dan Yein menyibakkan tirai tenda dan mempersilahkan kedua gadis itu masuk.

Awalnya Shannon dan Yein berjalan dengan tenang. Belum ada hal-hal menakutkan atau pun mengejutkan di bagian depan rumah hantu. Hanya hiasan berupa tengkorak, tangan palsu yang menyembul dari langit-lagit dan bercak darah yang menghiasi tanah.

.

.

“Bagaimana?”

“Tunggu aba-abaku.”

“Baiklah.”

“Itu mereka!”

.

.

Kedua sosok gadis cantik baru saja memasuki bagian tengah rumah hantu. Salah satu pemuda yang berdiskusi di balik tumpukkan kotak-kotak kayu pada sudut tergelap segera menjulurkan tangannya dan menarik tangan Shannon cepat sampai tubuh gadis itu menghilang dari sisi Yein. Lantas membekap mulut Shannon sebelum gadis itu sempat berteriak karena terkejut. Ya, semua terjadi begitu cepat.

“Ssstttt!” desisnya dengan jari telunjuk di depan bibir, mengisyaratkan gadis itu untuk tetap diam.

Mengangguk mengerti, Shannon mengikuti arah perhatian sang pemuda, yaitu lubang di sela-sela kayu, memperhatikan sosok Jungkook yang telah menggantikan tempat Shannon dan berjalan di belakang Yein. Setelah dirasa mereka sudah jauh barulah pemuda itu melepaskan tangannya yang menutupi mulut Shannon.

“Ya, Jung Chanwoo!” seru Shannon namun dalam nada berbisik. “Kukira kau tidak datang. Kemana saja kau, eoh?”

Ya, pemuda yang hampir saja membuat Shannon terkena serangan jantung itu adalah Jung Chanwoo, pemuda yang dicari-carinya sedari tadi.

“Ck, apalagi kalau bukan mendandani pemuda pujaan sahabatmu itu.”

“Eoh? Jungkook sunbae?”

“Iya.”

Kini kening gadis itu berkerut. Mencoba mengingat-ingat penampilan Jungkook yang dilihatnya barusan.

“Tapi sepertinya penampilan Jungkook sunbae tadi—”

Shannon tak melanjutkan perkataannya kala netranya mendapati perubahan ekspresi Chanwoo. Pemuda itu bersedekap.

“Chan, ada apa?” tanya gadis itu sambil menyentuh pelan lengan Chanwoo. Alih-alih menjawab, Chanwoo hanya bergeming dan menatap lurus-lurus ke arah belakang Shannon.

“C-chan…ada apa? J-jangan membuatku t-takut begitu.”

Shannon mulai gelisah. Oh, tidak! Jangan katakan ada hantu. Shannon belum siap—ralat, dirinya tidak akan pernah siap untuk menghadapi hal seperti itu. Tapi syukurlah kali ini Chanwoo menatapnya—eum…mungkin juga tidak. Kendati kemudian pemuda itu berujar dengan bibir bergetar.

“…di belakangmu.”

Dua kata dengan akhiran ‘mu’ dan berdampak meremangnya bulu kuduk Shannon.

“A-ada…ap…a-apa di belakangku, Chan?” Shannon menjawab terbata. Lehernya kaku dan dia tidak bisa—ralat lagi, dia tidak mau menoleh se-inci pun ke belakang.

Suasana yang berubah menjadi sangat-amat-hening membuat telinga Shannon mampu menangkap suara Chanwoo yang menelan salivanya sebelum melanjutkan,

“…di belakangmu ad—”

.

Brukkk

.

Shannon tidak sanggup lagi lantas gadis itu melangkah maju dan merengkuh Chanwoo erat-erat. Kedua lengannya melingkari leher Chanwoo, kepalanya dibenamkan pada tengkuk pemuda itu dan tubuhnya bergetar. Chanwoo membeku. Belum siap menghadapi reaksi Shannon yang tiba-tiba itu. Chanwoo bahkan belum bereaksi apapun saat gadis itu berujar di sela-sela dekapannya.

“Apapun itu usir dia, Chan! Aku tidak mau melihatnya. Huweee … aku takut.”

Mendengar rengekan manja Shannon, Chanwoo tersenyum senang. Kini kedua lengannya balas memeluk Shannon sembari mulutnya melontarkan seruan—

.

“Hush…hush! Ya! Cicak pergi sana. ”

.

—mengusir sesosok hewan yang terbiasa merayap di dinding dengan kaki-kaki berperekatnya. Iya, cicak.

Mungkin, Shannon memeluk Chanwoo terlalu erat sampai tak menyadari ulah pemuda jangkung itu, hingga Chanwoo mendekatkan wajahnya pada surai kecokelatan Shannon—yang harumnya seperti buah citrus—lalu berbisik,

“Cicaknya sudah pergi, Shan.”

“Cicak?”

“Iya, tadi kau ‘kan menyuruhku mengusirnya.”

“J-jadi yang ada di belangkangku adalah cicak?”

“Iya.”

.

Baik keduanya masih terdiam dan bergeming di posisinya. Sesaat hening mendominasi sampai akhirnya…

.

APPO!”

.

Terdengar teriakan Chanwoo disusul memundurkan tubuhnya dan meringis sembari memegangi pundaknya. Sedangkan Shannon hanya menyeringai, “Itu akibatnya kalau kau mengerjaiku, Chan!” serunya diakhiri dengan menjulurkan lidah.

Seorang Jung Chanwoo memang tidak pernah belajar dari pengalaman. Setelah sebelumnya dia pernah dihadiahi cakaran di pipinya karena menakuti-nakuti gadis itu, kini Shannon baru saja memberinya pelajaran dengan menggigit pundaknya.

YA! KAU INI JADI PENYIHIR ATAU JADI VAMPIR SIH??”

.

.

“Shan, menurutmu kira-kira ada hantu Sadako, tidak?”

.

“Ah, kuharap mereka tidak menggunakannya.”

.

“Kalau pun ada, kuharap setidaknya tidak ada hantu terbang.”

.

“Oh, kau tahu ‘kan aku takut sekali dengan yang seperti itu.”

.

“Shan?”

.

“Kenapa kau diam saja, sih?”

.

“Shan, jangan membuatku tambah takut.”

.

Sosok pemuda yang sedari tadi berjalan di belakang Yein, mengulum senyum mendengar Yein bermonolog. Sepertinya gadis itu belum sadar kalau Shannon sudah menghilang dan tergantikan dengan Jungkook. Sebenarnya Jungkook sudah gatal ingin menyahuti Yein, tapi sepertinya dia ingin menikmati situasi ini lebih lama lagi. Namun anehnya Yein tak bersuara lagi. Gadis itu terdiam kendati kakinya masih terus melangkah. Sejenak mereka diselimuti keheningan sampai sesuatu-entah-apa-itu bergerak di atas kepala mereka.

Oh, baru saja Yein katakan. Kalau dia tidak suka pada…HANTU TERBANG!!!

Sontak saja gadis itu berbalik.

.

“AAAAAKHH—

.

Teriakkan itu terputus dan pergerakan Yein terhenti. Seluruh rasa takutnya lenyap dan diurungkannya niat untuk memeluk sosok di hadapannya. Bukan, bukan karena Yein menyadari kalau sosok itu ada Jungkook—Sunbae yang disukainya—tapi melainkan penampilannya.

.

“BWAHAHAHAHAHAHA!”

.

Sontak saja tawa Yein meledak. Bahkan kini gadis itu jatuh berlutut karena tidak dapat menahan lagi tawanya, meninggalkan Jungkook dalam kebingungan. Padahal baru saja gadis itu terlihat ketakutan dan hendak memeluknya, tapi kenapa sekarang dia malah tertawa terbahak-bahak?

Jungkook turut berjongkok di hadapan Yein—masih dengan ekpresi bingung yang menghiasi parasnya.

“Jeong Yein, ada apa?” tanyanya.

Sejenak Jungkook melemparkan pandangan ke kiri, ke kanan, ke depan dan juga ke belakang. Mencoba mencari tahu apa kiranya yang membuat Yein bisa tertawa segeli ini. Dan hasilnya nihil, Jungkook tidak menemukan apapun yang terlihat lucu di sekelilingnya. Tentu saja, ini ‘kan rumah hantu. Kendati kemudian secara tiba-tiba bulu kuduk Jungkook meremang dan perasaannya mulai tak enak.

Apalagi tatkala sebuah kalimat yang dikhawatirkannya lolos dari bibir Yein.

.

SUNBAE IMUT SEKALI!”

.

Jungkook bersumpah akan membunuh Chanwoo karena memilihkannya kostum ini.

Harusnya dia tidak percaya pada bocah tengik itu. Kenapa dia dengan bodohnya menurut untuk mengenakan kostum Conan? Ah, itu karena Jung Chanwoo bilang tokoh detektif dalam komik terkenal itu keren dan Jungkook tak berkomentar lagi karena dia memang berniat untuk tampil keren di hadapan Yein, gadis yang disukainya. Tapi bukannya mendapati Yein yang merona karena penampilannya yang keren, dia malah ditertawakan. Dan apa itu barusan? Yein mengatakan kalau dia imut?

Kau tidak akan selamat, Jung Chanwoo!

Tapi melihat Yein yang tertawa sampai lengkung matanya hanya tinggal segaris malah membuat rasa kesal Jungkook menguap entah kemana. Dibanding dapat melindungi Yein yang ketakutan, Jungkook lebih suka dapat membuat Yein tertawa selepas ini. Wajah Yein tampak seratus kali lebih cantik jika sedang tertawa. Ditambah lagi saat ini gadis itu menggunakan kostum polisi dan dipermanis pula dengan topi polisi yang menutupi surai cokelatnya yang digerai bebas. Entah kenapa kostum itu justru membuatnya kelihatan imut. Ah, rasanya Jungkook ingin minta dipenjarakan saja di hati Yein. Aih.

.

.

Sementara itu di luar tenda…

“Jun, aku masuk bersamamu ya?” ujar seorang gadis yang tampak imut dengan seragam kafe membalut tubuh jenjangnya. Alih-alih menjawab, si pemuda bersurai blonde malah melemparkan tatapan memincing. “Tumben sekali,” cibirnya.

“Aish, kau begitu sekali, sih, Koo Junhoe! Kita ‘kan teman sekelas,” sahut gadis itu kesal.

“Iya, aku tahu. Aku hanya heran saja, tumben kau minta ditemani olehku.”

“Eum…itu karena—”

SUNBAE!”

Teriakan yang ditujukan untuk Junhoe itu disusul dengan kemunculan seorang gadis cantik berkepang dua.

Sunbae, temani aku masuk rumah hantu, ya?” ujarnya begitu sampai di hadapan Junhoe. Tak lupa gadis itu memamerkan senyum manisnya. Sujeong terkejut, sedangkan Junhoe dilanda kebingungan.

“Tidak bisa Hajin-ah.” Sujeong mengamit lengan Junhoe dan berujar pada gadis di hadapannya yang tak lain adalah Jung Hajin. “Aku sudah memesan Junhoe lebih dulu.”

Hajin mengernyit. “Memesan?”

“Ya!” Sedang Junhoe menjerit.

Sujeong memamerkan cengirannya, merasa menang.

“Yasudah….kalau begitu aku dengan Oppa saja.”

“Jangan!” Junhoe segera menarik tangan Hajin sebelum gadis itu pergi. “Kau denganku saja.”

Seperti biasanya, dia akan menemani Hajin agar gadis itu tidak kesepian dan mengganggu Oppanya yang mungkin saja sedang bersama Shannon. Junhoe beralih pada Sujeong dan melepaskan tangan Sujeong di lengannya. “Maaf, Sujeong. Aku tidak bisa menemanimu.”

“Ya, Koo Junhoe! Aish, aku tidak mau dengan Ahjussi itu.”

Iya, sebenarnya Sujeong juga tidak mau mengganggu Junhoe dan Hajin. Pasalnya, gadis itu tidak akan seperti ini kalau—

“Sujeong-ah!”

—pemuda bersurai oranye itu tidak terus-terusan me‘neror’nya. Sujeong sudah terbiasa didekati dengan Taehyung yang memang aneh, tapi tidak dengan seorang Taehyung yang berkostum Vampir!

Taehyung yang seperti alien saja Sujeong sudah pusing, apalagi Taehyung sebagai vampir.

Dengan jubah hitam panjang dan make up seperti itu, Sujeong lebih memilih untuk mengakui Mingyu sepuluh kali lebih tampan dari Taehyung—meski biasanya dia tampak bodoh, menurut Sujeong—.

Tapi apa daya? Sujeong sangat ingin masuk ke rumah hantu itu, meski dia tidak mau masuk sendirian.

“Kim Mingyu, temani aku, ya?” Kini gadis itu beralih pada Mingyu yang tengah berdiri di depan tenda. Hanya menonton sedari tadi, ditodong pertanyaan seperti itu Mingyu malah terbengong, tidak tahu harus menjawab.

Tidak mau menghadapi Mingyu dengan tampah bodohnya, Sujeong beralih pada Yeeun. “Yeeun-ah, aku pinjam pacarmu, ya?”

“T-tapi Eonnie, Mingyu ‘kan harus berjaga bersamaku.”

“Benar juga.” Sujeong bergerak melipat tangan di depan dadanya. “Lalu, aku dengan siapa?”

“TAEHYUNG SUNBAE!” jawab pasangan itu serempak.

“Aish, kalian sama saja!” gusar Sujeong.

“Sujeong-ah.”

Terdengar lagi suara yang membuat Sujeong bergidik ngeri.

“Huh, sudahlah! Aku pergi sendiri saja.”

“K-kau yakin, Eonnie?” tanya Yeeun begitu Sujeong telah bersiap di depan tirai.

“Iya, sudah bukakan saja!”

“Sujeong, biar aku mene—

“Tidak, terima kasih Ahjussi.” Sujeong tidak akan mau sampai Taehyung mengganti penampilannya.

Akhirnya tirai dibuka dan Sujeong melangkah masuk sendirian. Gadis itu berjalan masuk dengan tak acuh. Tirai ditutup lagi dan sontak saja sekeliling Sujeong berubah remang. Sujeong merutuk.

Sial, kenapa aku sok berani, sih?

Sujeong mulai melangkah perlahan sembari mengehela dan menghembuskan napas beberapa kali. “Tenang, Ryu Sujeong. Semua itu hanya bohongan,” ujarnya mencoba menenangkan diri.

Sujeong semakin mendekati bagian tengah ruangan dan sejauh ini dia masih bisa bersikap tenang, sampai tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu seperti kepala.

Tunggu. Seperti apa?

.

KEPALA??!!!

.

“AAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKHHHHH!”

.

.

“AAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKHHHHH!” teriakkan Sujeong bergema sampai keluar tenda. Tentu saja membuat Taehyung yang sedari tadi berdiri khawatir di depan tenda terlonjak.

.

“SUJEONGKU!!”

.

Karena sepersekian sekon berikutnya pemuda itu telah berlari masuk ke dalam rumah hantu. Taehyung berlari sekencang tenaga menerobos apapun yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian Taehyung hampir saja sampai di tempat dimana Sujeong jatuh terduduk karena ketakutan.

“Sujeong, aku dat—

.

BRUUUKKKKKKK

.

Naas, jubah panjangnya terinjak kakinya sendiri dan dia pun terjatuh.

Sujeong terkejut mendapati Taehyung tersungkur di hadapannya, tapi gadis manis itu masih dapat mengenali pemuda berjubah hitam itu adalah Taehyung dengan kostum vampirnya. Segera ia menghampiri Taehyung—yang sedang terlungkup di tanah—dengan khawatir. Pasalnya pemuda itu tak bersuara sama sekali.

Ya, Ahjussi…gwenchana?” Sujeong menyentuh pundak Taehyung namun pemuda itu masih bergeming.

Ya, Ahjussi! Jangan membuatku takut!”

Sejurus dengan perkataan Sujeong barusan, tubuh Taehyung bergerak sedikit. Sujeong pun mengehela napas lega karena setidaknya pemuda itu tidak pingsan.

Sepersekian sekon berikutnya Taehyung mengangkat wajahnya dan—

.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKHHHHH!”

.

—ditinggalkan begitu saja dengan Sujeong yang telah lari tunggang langgang. Darah segar mengalir dari kedua lubang hidung Taehyung…dan hal itu membuatnya sepuluh kali lebih menyeramkan.

.

.

“Yeeun-ah, sebenarnya kau jadi siapa?”

Wae, Oppa? Apa aku kelihatan jelek?”

Ani, justru kau cantik sekali sampai aku bingung kau sebenarnya pakai kostum apa.”

“Eum…” Yeeun bergumam sambil melingkarkan tangannya di lengan Mingyu. Lalu wajahnya menengadah dan mengulum senyum ke arah Mingyu yang menatapnya bingung.

“Aku jadi si gadis cantik kekasih vampir tampan,” lanjutnya yang berakibat merekahnya sebuah kurva di paras Mingyu.

Sejenak pemuda berlesung pipi itu melemparkan pandangan pada sekeliling mereka. Kini mereka telah berganti peran dengan murid lainnya karena sekarang posisi mereka adalah menjaga pintu keluar rumah hantu. Tempat dimana para pengunjung menyelesaikan petualangan mereka. Dan tampaknya, disini jauh lebih sepi dibanding di pintu depan.

“Yeeun-ah.”

“Hm?”

Poppo,” ujar Mingyu sembari memajukan bibirnya. Yeeun mengulum senyum melihat tingkah pacarnya.

Mwoya, Oppa?! Bagaimana kalau ada yang lihat?”

“Tidak, akan. Di sini sepi, Yeeun-ah.”

“Bagaimana kalau yang melihat hantu?” ujar Yeeun mencoba menggoda Mingyu.

“Aish, hantu apanya? Kalau pun ada hantu, masih ada aku yang akan melindungimu, Yeeun-ah,” gombal Mingyu diakhiri dengan tersenyum manis. Senyum yang akhirnya membuat Yeeun luluh juga.

Perlahan namun pasti, pemuda itu mulai memajukan wajahnya sedangkan Yeeun mulai memejamkan matanya. Dalam hitungan detik saja kedua belah bibir itu akan menyatu…

.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKHHHHH!”

.

…seandainya tidak terinterupsi dengan suara teriakan Sujeong yang bergerak mendekat lalu dalam sekejap melewati mereka begitu saja—sambil berlari tentunya. Mingyu dan Yeeun saling berpandangan, merasa heran dengan tingkah Sujeong barusan. Serta turut penasaran apa sebabnya. Namun tak berselang—

“Tunggu aku, Sujeong-ah…”

—terdengar suara lirih disertai munculnya sesosok hitam dan tangan berlumuran darah tengah merangkak keluar dari tenda.

Tak perlu menunggu beberapa detik sampai teriakan itu mengudara.

.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKHHHHH!”

.

Dan lagi-lagi Taehyung ditinggalkan.

.

.

“Aish, kenapa mereka berisik sekali, sih?”

Pemuda dengan paras kebaratan itu hanya mengedikkan bahu sembari tertawa kecil. Merasa lucu dengan reaksi-reaksi pengunjung rumah hantu yang dijaganya.

“Lagipula…si Jung Chanwoo itu kemana, sih?”

Lagi-lagi gadis bernama SinB itu mengomel. Tidak salah juga kalau dia bertingkah seperti itu. Karena bukannya menikmati pesta, dirinya malah disuruh menjaga rumah hantu, menggantikan Jung Chanwoo yang seharusnya bertugas bersama si pemuda kebaratan bernama Vernon.

“Sudahlah, SinB. Biar aku saja yang jaga,” ujar Vernon mencoba memberi solusi.

“Sungguh?” Seketika SinB berubah ceria. “Ah, tidak, tidak. Lalu bagaimana denganmu? Kau akan jaga sendirian, begitu?” ujarnya melempar serentetan pertanyaan yang hanya dijawab senyuman oleh Vernon. Oh, senyuman yang membuat gadis manapun luluh melihatnya.

“Eum…tidak deh. Aku menemanimu saja.”

“Silahkan saja, nona.” Vernon lagi-lagi menebar senyum.

Toh dirinya sudah menawarkan.

Excuse me!”

Suara seorang gadis menginterupsi konversasi mereka. Vernon menoleh dan mendapati seorang gadis cantik yang mengenakan terusan berwarna hitam dipadu atasan berwarna biru dan dipermanis dengan topi Fedora lebar berwarna hitam. Sederhana dan tidak aneh-aneh, tapi justru membuatnya terlihat semakin cantik.

“Boleh ‘kan kalau aku ingin masuk sendirian?” tanyanya sopan, namun masih terdengar angkuh.

SinB yang berdiri di sebelah Vernon, menatap gadis itu tak suka.

“Tentu saja, nona Lee,” sahutnya pada gadis yang tak lain adalah Lee Halla.

Tanpa banyak berkata lagi, Halla segera masuk setelah SinB—dibantu Vernon—menyibakkan tirainya.

Meski Halla sudah tak terlihat, Vernon masih terdiam. Entah masih terkejut dengan penampilan gadis itu atau heran karena gadis itu masuk sendirian. Namun pikiran Vernon yang tengah berkecamuk harus terinterupsi dengan teriakan SinB.

“Apa?! Tidak ada yang menjaga pintu keluar?!!”

Setelah diberi kabar oleh Dino bahwa tidak ada yang menjaga pintu keluar rumah hantu.

“Aish, tadi Jung Chanwoo, sekarang Mingyu dan Yeeun. Mereka semua ingin membuatku kesal, hah?”

“Biar aku saja.” Vernon menawarkan diri.

Eoh?”

“Biar aku saja yang jaga pintu belakang.”

Meski harus merutukki kesempatannya yang hilang untuk berduaan dengan Vernon, akhirnya SinB mengangguk juga.

Cukup lama Vernon menjaga di belakang sendirian. Mengingat sedari tadi rumah hantu mereka lumayan sepi, kira-kira hanya Halla lah yang akan keluar dari pintu ini. tapi rasanya Vernon sudah berdiri selama kurang lebih empat puluh menit di sini, dan gadis itu belum keluar juga.

“Sebenarnya apa yang dia lakukan?”

Prasangka-prasangka buruk mulai menggerayangi otak Vernon. Bagaimana kalau gadis itu tersesat? Atau mungkin dia terlalu takut untuk melaluinya sendirian sehingga saat ini dia sedang meringkuk dan menangis?

Ah, apapun yang terjadi, Vernon harus mencarinya sekarang juga. Gadis itu sudah terlalu lama berada di dalam.

Vernon pun menerobos masuk melalui pintu belakang. Sejenak pemuda itu tidak menemukan Halla dimanapun hingga di pertengahan ruangan, netranya menangkap sosok bertopi itu tengah berlutut di tanah. Lantas Vernon menghampirinya.

Hey, what are you doing?”

Sejenak Halla tersentak sebelum menyadari kalau itu adalah suara Vernon.

“Aku sedang mencari antingku.”

“Antingmu hilang?” tanya Vernon lagi sembari turut berjongkok di sebelah Halla. Tapi kemudian dia menyadari sesuatu. Berada sedekat itu membuatnya dapat mendengar isakkan kecil Halla.

“Hei, kau menangis?”

“Tidak, aku tidak menangis!” jawab gadis itu cepat. Sangat bertolak belakang dengan suara yang berasal dari hidungnya—yang tengah menahan likuid bening meluncur keluar. Vernon cukup peka untuk menyadari kalau prasangkanya yang kedua adalah benar.

“Aish, kenapa tempat ini gelap sekali sih?” protes Halla sembari tangannya mengais-ngais tanah di sekelilingnya.

Lantas Vernon mengambil ponsel miliknya dari saku untuk digunakan sebagai senter. Baru saja dia akan menyinari tanah yang dikais Halla saat sesuatu yang berkilauan tertangkap oleh netranya.

Wait a minute.”

Wajah Halla terangkat dan pemuda itu mengulurkan tangannya.

“K-kau mau apa?”

Lama-kelamaan jarak mereka menjadi semakin dekat, tentu saja membuat Halla berpikir kalau Vernon akan melakukan sesuatu pada dirinya. Tidak bisa mengelak, Halla memejamkan matanya. Jarak pemuda itu semakin dekat…semakin dekat…semakin dekat…dan tangannya mendarat pada surai legam di dekat tengkuk Halla. Vernon meraih sesuatu yang tersangkut disana dengan sangat hati-hati agar gadis itu tidak merasa kesakitan karena surainya tertarik.

“Syukurlah antingnya tersangkut di rambutmu.”

Gelombang suara barusan tentu saja membuat Halla sontak membuka mata. Mendapati sebuah anting Kristal di tangan pemuda itu yang tengah terjulur padanya. Alih-alih mengambil antingnya kembali, Halla malah bergeming. Lalu secara perlahan rona wajahnya berubah merah.

Oh, Halla malu!

Dan berubah semakin merah saat pemuda tampan itu merekahkan senyumnya. Sontak Halla mengambil anting dari tangan pemuda itu dan berdiri. Lalu tangannya bergerak memasang kembali anting Kristal itu. Vernon turut berdiri dan memperhatikan Halla. Segera setelah Halla menyelesaikan aktivitas memasang antingnya, Vernon menarik pergelangan tangan Halla. Membuat Halla hampir terlonjak.

“Ayo kuantar kau keluar.” Paham kalau gadis itu penakut, tentu Vernon tidak akan meninggalkannya sendirian.

Namun gadis itu menepis tangan Vernon seperti sebelum-sebelumnya.

“Tidak usah, aku bisa sendiri.”

Halla berubah angkuh lagi. Lantas gadis itu beranjak hendak meninggalkan Vernon.

“Awas di kakimu.”

“AAAAKKKHHHH!”

“BWAHAHAHAHA!”

YA!”

.

.

Hajin menghentak-hentakkan kakinya kelewat semangat memasuki rumah hantu. Junhoe yang ikut masuk bersamanya hanya bisa geleng-geleng kepala. Apalagi mengingat alasan gadis itu untuk masuk ke dalam rumah hantu;

“Sedari tadi aku mendengar teriakkan-teriakkan histeris. Aku jadi ingin membuktikan sendiri seberapa seram rumah hantu itu—meski aku sendiri tidak suka dengan hantu.”

“Tidak usah masuk kalau takut.”

“Aku tidak takut! Aku hanya tidak suka.”

“Lalu kenapa tidak suka?”

“Karena rupa mereka itu jelek.”

“Ya! Jangan mentang-mentang kau can—

‘kau cantik, sampai mengatai hantu jelek’ lanjut Junhoe dalam hati.

“Apa? Apa Sunbae? Mentang-mentang aku apa??”

“Aish, lupakan saja!”

“Jangan-jangan Sunbae yang penakut.”

“AKU TIDAK TAKUT!!!”

Kapjagiya!”

“Apa?! Ada apa??! Mana hantunya???!”

“Aish, kau lah hantunya, Sunbae. Aku terkejut karenamu!”

“Oh.” Junhoe menurunkan tangannya yang telah mengepal lantas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu. Dia membayangkan kejadian tadi sampai kelepasan berteriak. Habis dirinya tidak terima kalau dibilang penakut.

Sunbae.”

“Hm?”

“Daritadi aku bertanya-tanya…” Hajin tak melanjutkan ucapannya lantas mengamati Junhoe dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Sebenarnya Sunbae jadi siapa?”

Bagaimana Hajin tidak heran? Pemuda itu hanya menggunakan celana jeans dan sweater berwarna biru dan tentu saja itu terlihat biasa. Yang tampak tak biasa hanyalah surainya yang dicat blonde.

“Kau sendiri jadi apa?” Alih-alih menjawab, Junhoe malah balik bertanya.

“Aish, ‘kan aku duluan yang bertanya!”

“Yasudah kau jawab saja duluan nanti baru kujawab pertanyaanmu.”

“Ck, dasar menyebalkan. Aku jadi Princess Anna.”

“Anna? Frozen?”

“Iya, memangnya apalagi,” sahut Hajin kesal. Tak habis pikir kalau sampai pemuda itu tidak tahu salah satu tokoh animasi keluaran Disney tersebut. “Lalu Sunbae jadi apa?”

“Aku….aku jadi…Jack Frost”

Hajin menatap Junhoe lekat-lekat. Lagi-lagi memperhatikan pemuda itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Lantas meng-oh-kan jawaban Junhoe.

“Eum…harusnya kau jadi Queen Elsa.”

Mwoya, Sunbae?” tanya gadis itu heran lantas mulai tertawa atas usul Junhoe.

“Lho, kenapa? Queen Elsa itu cantik.”

Mendengar jawaban Junhoe, Hajin menghentikan tawanya dan melemparkan tatapan tajam.

“Lalu maksudmu Princess Anna tidak cantik?”

“Bukan begitu…”

“Maksudmu aku tidak cantik, begitu?”

Ani, Hajin. Maksudku—

Pemuda bersurai blonde itu tak melanjutkan ucapannya. Junhoe tercekat. Netranya menatap lurus-lurus ke atas kepala Hajin.

“Apa? Apa maksudmu, Sunbae??”

Tubuhnya semakin mati rasa tatkala sesuatu-entah-apa-itu-Juhoe-tidak-mau-menyebutkan mendekat secara perlahan.

“H-hajin…i-itu…” tangan Junhoe yang bergetar hebat menunjuk ke arah belakang Hajin.

.

Syunggg…

.

Sesuatu terbang tepat saat Hajin menoleh dan fatalnya menabrak wajah cantiknya.

“Aish, siapa yang melemparkannya, eoh?! Tidak tahu orang sedang marah, apa?!!”

.

.

.

“Hajin, itu ‘kan…”

.

.

.

fin

.

Tyavi’s little note : soal tae tae…ganteng kok ganteng! Ini kan cuma untuk kepentingan FF jadi kudeskripsikannya ky begitu /nanges/ /menistai tehyong/

untuk Hajin, anggap aja dia pake kostum Anna pas dibalut mantel wkwkw.

uri Jack frost waks

JunFrost

sang penjaga rumah hanti wkwk ^^

mingyeeun

Iklan

4 thoughts on “HALLOWEEN PARTY

  1. Au ah Jungkook…… mau banget di tahan di hatinya Yein? Wkwkwkw..
    Halla mah baru aja kalem sudah jutek lagi sama vernon-_- sinio naksir vernon? Andwaeeee ntar rebutan sama halla.. perang lagi halla sama orang wkwkw.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s