Mr.Chu [Chapter 9]

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

Previous :

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

.

.

.

We have a good connection

My heart is overwhelmed

Everytime you call my name

I can’t stop smiling

(iKon – My Type)

.

.

.

Author POV

Ruang kelas 2-A mendadak berubah menjadi ruang rapat. Dengan sepuluh meja yang dirapatkan, kedelapan murid—yang terdiri dari empat siswa dan empat siswi—saling duduk mengelilingi. Berdiri seorang gadis berkuncir kuda yang bermaksud memimpin makan siang sekaligus rapat dadakan ini. Gadis yang tak lain adalah Sujeong, melipat tangan di depan dada dan memincing ke arah salah seorang pemuda yang turut duduk dan tengah melahap makan siangnya.

“Hei, Jung Chanwoo.” Akhirnya Sujeong berujar. Memanggil nama si pemuda yang tetap tak acuh dan masih asik mengunyah sandwich tunanya.

Berdeham sekilas, Sujeong kembali berujar dengan nada tertahan.

“Apa yang kau lakukan disini?”

“Makan siang,” jawab Chanwoo cepat. Masih tak mengalihkan fokus dari makan siangnya.

Sujeong memutar bola matanya dan meniup poninya kesal. “Ya! Kalau itu aku juga tahu. Tapi kau kan bukan anggota—

Eonnieeeee, berhentilah, menindas pacarku,” rengek Shannon sebelum Sujeong sempat menyemburkan omelannya. Shannon yang sudah kenyang dengan semua sikap Chanwoo pasti tak memusingkannya, tapi Sujeong? Tentu gadis itu kesal dengan tingkah Chanwoo. Pemuda itu tidak mau membantu tapi malah tanpa berdosanya ikut duduk di sana bersama mereka.

M-mwo? Ya! Kau membela dia? Huh, dia bahkan tidak mau membantumu.”

“Sudahlah, Eonnie. Mungkin Chanwoo memang tidak bisa menari,” balas Shannon.

Chanwoo hampir saja tersedak. Junhoe dan Jungkook terbahak.

Arraseo! Terserah kau saja. Huh, apa sih yang kulakukan disini?” racau Sujeong kesal. Lantas gadis itu beranjak meninggalkan ruangan dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan. Di ambang pintu,

“Hei, Sujeong—

“Minggir, Ahjussi!” seru Sujeong saat Taehyung menyembul dan menghalangi aksesnya untuk keluar kelas.

Terheran sambil memandangi punggung Sujeong yang menghilang di belokan koridor, Taehyung melayangkan tatapan tanda tanya pada penghuni kelas yang sedari tadi hanya memperhatikan. “Ada apa dengan Sujeong?”

Semua anak yang berada di sana hanya mengangkat bahu.

Taehyung berdecak kemudian melangkah masuk. “Ada apa ini? Pantas saja lapangan sepi, kalian disini semua rupanya.”

“Kami sedang rapat, Sunbae,” jawab Yein.

“Rapat apa?” tanya Taehyung sambil membenarkan letak snapbacknya.

“Rapat untuk memutuskan akan menari apa dan Shannon akan menyanyikan lagu apa,” lagi-lagi Yein yang menjawab.

“Menari? Kalian akan menari?”

Ne, Sunbae.” Gantian suara Yeeun yang bergema kali ini.

“Sujeong eonnie juga akan menari,” tambah Shannon. Tentu gadis itu memancing Taehyung. Dia tahu benar kalau pelatih tenisnya itu menaruh perhatian pada Sujeong.

Mwo? Benarkah? Wah, aku tidak sabar.”

Tepat sasaran! Cengiran lebar tercetak pada paras Taehyung. Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sembari imajinasinya mulai membayangkan bagaimana jika Sujeong menari nanti. Dengan wajah yang imut, Taehyung rasa Sujeong cocok menari ala girlband. Tapi kalau tarian seksi? Sepertinya tidak buruk juga.

“Tapi aku masih belum tahu harus menyanyi apa,” ujar Shannon frustasi sekaligus membuyarkan imajinasi liar Taehyung.

“Lagu Beyonce saja, Shan. Aku yakin kamu bisa, kok,” ujar Yeeun memberi ide.

Alih-alih setuju, Shannon malah menggelengkan kepala kuat-kuat. “Andwae, Yeeun-ah! Kau tahu semua siswa ‘kan? Mereka menganggap aku fasih bahasa Inggris karena aku blasteran. Kalau aku menyanyikan lagi western, mereka pasti tidak akan terkesan dan malah menganggapku pamer! Tidak, tidak, tidak.”

Yeeun mengangguk pelan dan berujar, “ Iya, juga.” Lantas gadis itu beralih pada Mingyu yang sedari tadi duduk kalem di sebelahnya. “Oppa, menurutmu Shannon harus menyanyikan lagu apa?”

Mingyu yang sedari tadi hanya memperhatikan, terkejut ditodong pertanyaan seperti itu oleh pacarnya. Lantas dia memiringkan kepalanya, seperti tengah berpikir.

“Eum…SNSD?”

Sejenak keheningan merayapi sebelum akhirnya tawa Jungkook dan Junhoe mengudara. Mereka terbahak bahkan sampai memegangi perut mereka yang baru saja terisi sandwich tuna.

“Aish, diam kalian! Jangan tertawa saja, cepat berikan ide,” gusar Mingyu.

Shannon dan Yein menoleh pada mereka. Yeeun memincing dan Hajin mencibir. Mereka itu sunbae tapi benar-benar tak berguna.

“Terserah mau menyanyi apa saja, toh tugas kami hanya menari,” akhirnya Junhoe yang menjawab. Dan hal itu malah membuat mereka berdua dihadiahi tatapan membunuh dari yang lainnya. Lalu Hajin menyumpalkan potongan besar sandwich tunanya pada Junhoe. Ya, memang sebaiknya mereka diam saja.

“Bagaimana dengan lagu jaman dulu?” usul Taehyung tiba-tiba. Sontak saja semua mata tertuju padanya. Penasaran dengan ide yang tidak biasa itu.

“Dulu di angkatanku yang bernyanyi adalah teman sekelasku, Sungjae dan dia menyanyikan lagu Tell Her.”

“Ah, matta. Aku sudah tahu akan bernyanyi apa. Taehyung sunbae, gomawo atas idenya!” ujar Shannon tiba-tiba. Kemudian gadis itu keluar lebih dulu meninggalkan ketujuh orang lainnya yang masih terbengong.

“Tentu saja, nona Williams…apa? Jangan melihatku seperti itu, Jung Chanwoo!”

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 9 ———-

.

.

.

“Aih, perasaan bukan seperti ini.”

Eoh, ini dari contoh soal yang ini ‘kan?”

“Aish, kenapa susah sekali.”

“Apa aku salah rumus?”

“Tapi di buku cetak tertulis seperti ini.”

Kalimat pertanyaan sekaligus pernyataan bertubi-tubi meluncur dari mulut Sujeong. Kini gadis itu tengah duduk di salah satu bangku penonton, sibuk bercumbu dengan buku cetak berjudul Fisika. Aneh memang, belajar fisika di tempat seperti ini. Tapi entah kenapa Sujeong suka tempat ini. Hanya memandang lapangan tenis saja sudah cukup mengobati kerinduannya untuk berlatih tenis.

Tapi hembusan angin sejuk yang sedari tadi menemani Sujeong, tak juga menyurutkan rasa pening yang mendera kepala Sujeong. Sedari tadi gadis itu tak henti-hentinya meremas rambutnya kesal karena tak juga menemukan jawaban dari salah satu soal fluida yang dikerjakannya.

“Luas penampangnya yang ini,” seru seseorang kemudian menunjuk salah satu gambar ilustrasi pada buku cetak Sujeong.

Eoh, benarkah? Bukannya yang ini, berarti aku salah—eh?” Menyadari sesuatu, Sujeong mengangkat kepalanya dan—

“Kenapa Ahjussi ada di sini?!”

—mendapati cengiran bodoh Taehyung terpampang di hadapannya. Pemuda bersurai oranye itu malah mendudukkan diri di sebelah Sujeong.

“Kenapa? Eiy, di sini adalah wilayahku, nona Ryu.”

“Aish, yasudah sana. Aku tidak perlu bantuan Ahjussi.

“Gaya normalnya juga salah tuh!”

“Hah? Masa sih?”

Taehyung tergelak.

“Aish!”

Kendati Sujeong mulai mengerucutkan bibirnya kesal, Taehyung malah mengusak gemas surai cokelat gadis delapan belas tahun itu.

“Jangan lupa nanti latihan di rumah Chanwoo setelah pulang sekolah.”

 

***

 

Siang ini, rumah Chanwoo berubah menjadi tempat latihan. Segera setelah bel tanda pulang sekolah berdering, kesepuluh orang—yang terdiri dari Jungkook, Junhoe, Mingyu, Yeeun, Sujeong, Yein, Shannon, Chanwoo, Vernon dan Hajin—meluncur ke kediaman Jung. Meski sempat menuai protes Chanwoo yang nyinyir karena dimarahi oleh Sujeong, mereka tetap latihan di sana karena ada Hajin.

Tentu Bae Joohyun amat senang mendapati teman-teman Chanwoo menyambangi kediaman mereka. Bahkan Eomma Chanwoo itu menyiapkan berbagai cemilan untuk mereka. Lantas ruang semacam aula kecil yang terdapat di bagian belakang rumah Chanwoo lah yang menjadi tempat mereka melatih koreografi.

Tempat ini sungguh nyaman dengan angin sejuk yang berhembus dan pemandangan taman belakang yang memanjakan netra mereka. Di pinggir aula terdapat bangku-bangku kecil serta meja di tengah-tengah yang telah penuh dengan berbagai cemilan. Sujeong, Yein dan Hajin tengah membicarakan tentang kostum, Jungkook dan Junhoe tengah asik memakan sekantung besar keripik kentang sembari menelisik taman belakang, dan Vernon sedang ke toilet.

Semuanya—sepertinya—terlihat sibuk, meninggalkan Chanwoo dan Shannon terduduk kikuk. Bagaimana tidak? Di hadapan mereka terdapat Mingyu dan Yeeun yang tengah menonton video dance di youtube demi menentukan koreografi apa yang akan mereka gunakan. Masalahnya, kalau hanya menonton saja sih tidak akan mengusik mereka, tapi nyatanya kegiatan menonton itu ditambah dengan adegan saling menyuapi cemilan oleh Yeeun dan Mingyu. Dimulai dengan keripik yang Yeeun suapkan pada Mingyu sampai stik-stik cokelat yang Mingyu suapkan pada Yeeun. Memangnya mereka tidak bisa makan sendiri? Sontak saja atmosfir canggung menyelimuti Shannon dan Chanwoo.

Kendati Chanwoo sudah berusaha acuh dengan memainkan ponselnya dan Shannon tengah menikmati jus stroberi yang dibuatkan Eomma Chanwoo untuknya. Akhirnya Chanwoo menyingkir juga dengan alasan ingin ke toilet.

Sejurus dengan kepergian Chanwoo, Vernon yang telah kembali berjalan menghampiri Shannon.

“Shan, sepertinya aku tidak bisa sampai sore,” ujar Vernon sambil tersenyum, seperti biasa.

Eoh, benarkah? Baiklah, akan kuberitahu apa saja tugasmu.” Setelah itu Shannon menghampiri Mingyu dan Yeeun.

“Ya! Sudah belum? Venon tidak bisa lama-lama.”

Yeeun menarik Shannon untuk turut melihat pada layar ponselnya.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya setelah menunjukkan Shannon video dance berdurasi tiga menit. Shannon mengangguk setuju kemudian menghampiri Vernon. Setelah itu mereka melipir untuk membicarakannya lebih lanjut. Tak lupa Shannon juga mengajarkan beberapa gerakan dasar pada Vernon.

Chanwoo yang baru saja kembali dari toilet, terlihat tak suka melihat pemandangan itu.

.

.

.

.

.

“Sudah mau pulang?” ujar Bae Joohyun melihat mereka sudah bersiap dengan ransel masing-masing.

“Iya, Eomma Chanwoo. Ini sudah sangat sore,” jawab Yein sopan.

“Yasudah kalau begitu. Lain kali kesini lagi, ya.” Joohyun tersenyum ramah kemudian mengantar mereka sampai ambang pintu. Yein pulang dengan Jungkook, Mingyu dengan Yeeun, sedangkan Sujeong pulang diantar Junhoe. Tinggal lah Joohyun, Shannon dan Chanwoo yang sudah berganti pakaian dengan celana selutut dan kaus hitam.

“Shannon sayang, kamu pulang dengan—

Eomma, bisa antar Shannon? Chanwoo mengantuk.” Lantas Chanwoon kembali masuk ke dalam rumah.

***

Akhirnya Shannon pulang diantar Eomma Chanwoo. Di dalam sedan putihnya, Joohyun mulai menanyakan apa saja pada Shannon.

“Shannon-ah, bagaimana ceritanya bisa pacaran dengan Chanwoo?” ujar Joohyun membuka konversasi.

“Siapa yang menyatakan?”

Shannon mendadak kikuk karena disinggung perihal menyatakan perasaan. “Eum…itu…a-aku…Eomonim…” namun akhirnya dia menjawab meski tergagap.

“Asiknya masa SMA! Rasanya ingin kembali lagi ke masa-masa itu,” seru Joohyun antusias. Dan Shannon hanya tersenyum menanggapinya. Meski diam-diam ada perasaan tidak enak yang merayapi. Shannon memang tidak berbohong perihal menyatakan perasaan, tapi bukankah dia hanya pura-pura berpacaran dengan Chanwoo? Lama-lama Shannon tak enak hati juga karena harus membohongi Eomma Chanwoo.

“Dulu juga aku seperti itu…”

“Cuma menghabiskan waktu bersama saja rasanya senang sekali…”

“Kalau diberi perhatian, rasanya seperti terbang ke langit…”

“Lalu berusaha keras mengejar dia…”

“Sekarang…aku sudah lelah mengejarnya…”

Joohyun mulai meracau. Sontak saja Shannon terkejut, pasalnya sekarang fluida bening juga turut luruh di kedua pipi mulus Joohyun.

“Eh…Eomonim?”

Alih-alih berhenti, suara Eomma Chanwoo berubah menjadi isakkan. Panik, Shannon segera meraih tisu yang berada di dashboard mobil dan menyodorkannya pada Joohyun.

“Ma…maaf ya…aku sampai menangis begini…”

Melihat keadaan ini, Shannon menyadari sesuatu. Jadi kabar perceraian itu benar?

***

Hari perayaan festival pun datang. Setelah selama seminggu giat berlatih, Shannon telah siap untuk membawakan sebuah lagu di acara puncak yang bertajuk ‘Immortal Song’.

Pagi-pagi sekali semuanya sudah berada di sekolah, guna melakukan gladi bersih pun menyiapkan diri untuk penampilan nanti. Hajin memperkenalkan salah seorang temannya yang bernama Kim Minjung sebagai penata rias sekaligus penata busana mereka. Pukul tujuh, setengah jam sebelum festival dibuka, Shannon dan yang lainnya sudah menyelesaikan gladi bersih mereka. Mereka memang mendapat giliran terakhir karena nantinya akan mengisi acara puncak.

Segera setelah itu, mereka semua mempersiapkan diri dibantu Minjung. Sederhana saja, Shannon tampil dengan celana kulit berwarna hitam sebatas setengah paha, dipadu dengan jaket kulit berwarna hitam pula dan dipermanis dengan sepatu boot berwarna senada. Tak jauh berbeda dengan Shannon; Yein, Sujeong, Hajin dan Yeeun selaku penari wanita memakai pakaian serupa. Dan para penari laki-laki—Junhoe, Jungkook, Mingyu, dan Vernon—memakai celana kulit berwarna hitam dan dipadu jaket kulit berwarna hitam pula. Untuk make up, Minjung hanya mengulas lipstick berwarna nude, memoles blush on berwarna peach dan diakhiri dengan mascara yang melapisi bulu mata lentik Shannon. Gadis blasteran itu sudah tampak seperti vokalis band Rock saja.

Dandanan mereka tentu saja menuai banyak perhatian dari para staff dan penampil lainnya. Menambah rasa penasaran akan penampilan mereka nanti.

Shannon yang telah bersiap, mengintip penampilan dance sebagai pembuka. Melihat antusisme penonton, mendadak rasa grogi menghampiri Shannon. Meski ini bukan pertama kalinya Shannon bernyanyi di depan umum, tetap saja rasa grogi itu pasti akan menghampiri. Apalagi sudah lama juga Shannon tidak tampil seperti ini. Seingatnya, terakhir kali dirinya bernyanyi di depan umum adalah dua tahun lalu, saat upacara kelulusan.

Shannon kembali mencuri lihat dan mendapati Kim Yerim—siswi kelas satu yang lumayan populer—tengah meliuk-liukkan tubuhnya, mengakhirinya dengan gerakan split dan sontak saja terdengar suara riuh tepuk tangan. Semakin dilihat, semakin membuat grogi saja. Shannon hanya bisa berdoa semoga dia tidak melakukan kesalah saat di panggung nanti. Tanpa sadar Shannon menghela napas panjang.

“Kenapa menghela napas begitu?”

Shannon hampir saja terlonjak saat sebuah suara—yang berasal tepat dari belakangnya—menyapa kokleanya. Sejenak Shannon mengelus pelan dadanya yang mulai berdetak abnormal. Tanpa menoleh pun Shannon tahu kalau orang—atau tepatnya seorang pemuda—yang berdiri di belakangnya adalah Jung Chanwoo.

“Kau benar-benar ingin menyanyi?” Chanwoo bertanya lagi.

Shannon menolehkan kepalanya dan mendelik.

‘Pertanyaan apa itu, Jung Chanwoo? Apa pantas kau menanyakannya di hari penampilan?’

“Iya—

“Padahal aku tidak bilang kalau aku tidak bisa menyanyi,” lanjut Chanwoo.

Oh, mungkin bisa kita bilang kalau sekarang Shannon menganga. Ya, tentu saja gadis itu terkejut meski seharusnya dia sudah kebal dengan situasi ini. Bagaimana bisa pemuda itu mengatakan hal itu setelah dia berlatih sekeras itu. Aish, benar-benar membuat pusing kepala.

Shannon mendengus. Dalam sekejap rasa groginya berubah menjadi rasa jengkel, tentu saja karena Jung Chanwoo. Pemuda itu memang sangat ahli dalam hal membuat orang kesal, selain menjahili Shannon tentunya. Padahal ‘kan seharusnya dia memberi semangat. Ah, Shannon hanya bisa geleng-geleng kepala.

Namun kegiatan itu terhenti kala tangan Chanwoo tiba-tiba saja hinggap di puncak kepala Shannon dan mengusaknya singkat. Menimbulkan jeritan kecil Shannon yang menyebut—

“JUNG CHANWOO!”

Chanwoo hanya berdeham singkat. Tidak hanya sampai disitu, Chanwoo juga mendaratkan sebuah topi koboi di kepala Shannon.

“Ya! Kau merusak tatanan rambutku!!” gusar Shannon. Melepas cepat topi koboinya lantas tangannya kembali merapikan tatanan rambutnya yang dikuncir kuda.

“Ya! Apanya yang rusak? Rambutmu ‘kan hanya dikuncir,” balas Chanwoo tak mau kalah.

Okay, ralat, kau merusak poniku!” bela Shannon. Baiklah, mungkin kali ini Shannon menang karena poninya memang ditata. Minjung menggulungnya sehingga poni Shannon mengembang di atas alisnya. Dan itu membuatnya terlihat lebih imut.

Chanwoo menantap Shannon dengan raut datarnya. Tidak berniat untuk membalas ucapan Shannon. Dan tau-tau saja wajahnya mendekat dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi mulus Shannon.

Lagi-lagi Shannon hampir terlonjak—tidak, jantungnya pasti sudah melompat keluarnya dari tubuhnya sendiri sekarang. Chanwoo menciumnya?! Dan lagi…ini di sekolah??!

Jadi seorang Jung Chanwoo telah menciumnya di sekolah!

Meski mereka hanya di backstage, tapi tetap saja ini di sekolah. Dan mereka tidak sedang berdua saja di sini. Sontak kepala Shannon berputar, menelisik apa ada orang selain mereka di sekitar. Shannon menghela napas lega karena tak mendapati satu orang pun di sana—selain mereka. Memang letaknya dekat dengan bagian belakang panggung sehingga jarang ada orang di sana, tapi tetap saja, pasti akan ada beberapa orang yang berlalu lalang, entah itu staff yang sedang mengatur jalannya acara atau para penampil selanjutnya.

“Jung Chanwoo!” tegur Shannon.

Wae?”

“Aish, jangan melakukannya lagi!”

“Melakukan apa?”

Menunjukkan smirk miliknya, Chanwoo kembali memajukkan wajahnya. Membuat pupil Shannon melebar. Oh, Shannon tidak salah lihat. Kali ini Chanwoo bukan ingin mencium pipinya, melainkan bibirnya!!!

Eum…Shannon tidak keberatan sih.

Pada situasi seperti ini, biasanya Shannon akan memejamkan matanya. Tapi, alih-alih memejamkan matanya, kedua manic cokelatnya malah membelalak. Dari kejauhan Shannon melihat seseorang tengah berjalan ke arah sini.

Itu Junhoe dan Hajin!

Sontak saja Shannon membungkam mulut Chanwoo dengan telapak tangannya. Chanwoo terkejut, tidak menyangka kalau Shannon akan bereaksi seperti ini.

Semakin dua sosok itu mendekat, Shannon semakin resah. Dan tau-tau saja dia menarik tangan Chanwoo menuju salah satu sudut backstage. Bersembunyi diantara dua kotak kayu—yang sepertinya adalah sound system—yang tidak digunakan. Kotak itu lumayan besar dan diselimuti kain hitam yang membuat kedua sosok itu tak terlihat sama sekali.

Shannon menghela napas lega saat Hajin dan Junhoe melewati mereka. Tapi—eh, apa yang dilakukannya? Bersembunyi?

Sebenarnya…buat apa dia bersembunyi???

Tinggal bertingkah seperti tak terjadi apa pun juga bisa ‘kan? Tapi spontan saja dia menarik Chanwoo ke sini. Dan lagi…Shannon baru menyadari bahwa posisinya saat ini adalah berhadapan dengan Chanwoo, dengan sebelah tangannya yang masih membungkam mulut Chanwoo.

Astaga, Shannon lupa!

Lantas Shannon melepaskan tangannya dan Chanwoo menarik napas panjang. Pemuda itu masih menghirup oksigen banyak-banyak setelah kesulitan bernapas tadi. Shannon jadi merasa bersalah.

Lama mereka terdiam, hingga akhirnya Chanwoo mengehentikan aktivitasnya menghirup-oksigen-banyak-banyak.

“Kenapa bersembunyi?” ujar Chanwoo mengawali konversasi. Shannon yang semula menunduk mengangkat wajahnya.

“Eum…itu…tadi…ah, sudahlah. Lupakan,” jawab Shannon terbata dan tidak jelas.

Chanwoo mengernyit. Lantas bibirnya meloloskan kalimat yang …

“Kau tidak suka dicium di depan orang banyak, ya?”

M-mwo?”

Memang sih, Shannon tidak terlalu suka dicium di depan orang banyak. Tapi…apa maksud Chanwoo bertanya seperti itu?

“B-bukan begitu…aku hanya…kita ‘kan—

Jawaban terbata Shannon terhenti kala suara yang berasal dari panggung mengumumkan kalau penampilan selanjutnya ada ‘Immortal Song’.

“Ah, waktunya aku tampil! Eotokhae? Aish, aku jadi degdegan lagi,” Shannon mulai meracau resah. Sedetik kemudian Shannon menyadari kalau dia harus segera kesana, apalagi ditambah suara—

“Dimana Shannon?”

“Sekarang giliran kita.”

“Dia menghilang sedari tadi.”

—Yeeun, Yein dan Sujeong yang tengah mencarinya di luar.

Lantas Shannon hendak keluar dari persembunyian namun tangan Chanwoo menahannya. Baru saja Shannon akan melayangkan protes, bibir Chanwoo telah lebih dulu membungkamnya. Melumat bibirnya singkat. Tak lama berselang, Chanwoo menjauhkan wajahnya—tapi tidak sejauh itu. Masih dengan posisi wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah Shannon, Chanwoo membisikkan sesuatu.

Good luck.

Sial, Jung Chanwoo!

.

.

.

.

.

“ Selanjutnya Shannon Williams dari kelas 2-A akan membawakan lagu ‘My loved who love more than I loved myself’. Mari kita sambut dengan tepuk tangan!”

Segera setelah sang MC mengatakan hal itu, suara riuh tepuk tangan menggema memenuhi ruangan, menyambut kedatangan Shannon yang lainnya.

Berdiri di atas panggung membuat rasa grogi Shannon meluap seakan menghantam dadanya saat ini juga. Apalagi dari atas sini dia dapat melihat jelas ratusan pasang mata tengah menatapnya saat ini. Oh, bahkan dia dapat melihat Bae Joohyun—Eomma Chanwoo—yang duduk di salah satu bangku tamu undangan.

Seketika Shannon ingat, dia memilih lagu ini karena Eomma Chanwoo. Maka dari itu dia akan menampilkan penampilan sebagus mungkin di hadapan Eomma Chanwoo.

Shannon menghela napas perlahan.

‘Ini untuk Eomonim.’

Setelah itu Shannon memberikan isyarat pada pemain piano.

Sekon berikutnya dentingan piano mulai mengalun.

Penampilan dibuka dengan mengalunnya suara lembut Shannon menyanyikan bait-bait awalan lagu menggunakan stand mic. Alih-alih terdengar suara tepukan, malah hening yang menyelimuti. Semua penonton menatap Shannon seakan menantikan apa yang akan Shannon tampilkan. Sejenak, hal itu membuat Shannon ciut, apalagi mendapati beberapa siswi yang tampak tak berminat dengan penampilanya.

I’m standing here in loneliness

Here I am with my heart all empty

The waves in my heart gets bigger and bigger

Your love is still mine

Shannon mengakhiri bagian awal lagunya. Terdengar suara drum yang menyelingi. Hingga akhirnya lengkingan suara Shannon bagai penghidup suasana. Tepukan dan sorakan riuh mulai mengimbangi. Baiklah, sudah muncul antusiasme yang Shannon harapkan sedari tadi.

Satu-persatu para penari latarnya berdatangan. Yein dan Sujeong memposisikan diri di belakang Shannon sedangkan Yeeun dan Hajin di depan Shannon. Para penari latar laki-laki berbari di depan Shannon sesuai formasi koreografi mereka, lalu satu-persatu menundukkan tubuhnya. Gerakan ini sebagai transformasi untuk bagian lagu selanjutnya.

Ohhhh

Ohhhh

Ho

Ha

Ha

Come on

Hingga akhirnya masuk pada bagian reff, Shannon bernyanyi dan ikut serta menari dengan yang lainnya.

My loved who love more than I loved myself

My love

My love

My love

Shannon melantunkan high note pertamanya. Yang lain menggerakkan tubuhnya sesuai dengan koreografi yang mereka latih seminggu kemarin.

I love you

I love you

Those are the only words I leave you with

Para penari semakin meliukkan badannya seirama

And now I’m going back to

The world of lotus sanctuary

Shannon berhenti dan ikut menari.

Baby

Baby!

Jungkook, Junhoe, Vernon dan Mingyu menari mengelilingi Shannon.

I’m standing here in loneliness

Here I am with my heart all empty

Shannon melepas mic dari stand mic-nya dan berjalan ke depan sambil melambaikan tangan.

The waves in my heart gets bigger and bigger

Your love is still mine

Lagi-lagi Shannon melantunkan high note. Membuat para penonton berdecak kagum karena kemampuan vokalnya yang luar biasa.

My loved who love more than I loved myself

My love

My love

My love

More than I loved myself

 

She rock it!” terdengar seruan salah seorang siswa. Ya, Shannon benar-benar tampil bagai Rock star.

Who loved me more than I loved myself

My love

My love

My love

Sejenak terdapat jeda setelah Shannon melantunkan high note panjangnya, dan diisi dengan riuh tepuk tangan para penonton

I love you

I love you

Those are the only words I leave you with

And now I’m going back to

The world of lotus sanctuary

Penampilan Shannon berakhir dengan dia ikut serta menari dengan yang lainnya. Dan hanya ada satu kata yang dapat melukiskannya…

“WOW!”

Penampilan Shannon benar-benar menganggumkan dan membuat siapa saja terbengong tak percaya karena kemampuan vokalnya yang di atas rata-rata. Itu tentu saja, Shannon sudah menyanyi bahkan saat dirinya masih di bangku taman kanak-kanak.

“Woahhh, tadi itu benar-benar keren!”

“Aku tidak menyangka gadis kutu buku—maksudku Shannon bisa sekeren itu.”

“Siapa namanya?”

“Kau tidak tahu? Namanya Shannon Williams.”

“Ternyata dia tidak norak. Dia keren!”

“She rock it!”

Itulah tanggapan baik siswa maupun siswi yang menonton penampilan Shannon.

***

Jalhaesseo!!” seru Shannon riang dan disambut tepuk tangan dari yang lainnya. Senyum tak henti-hentinya merekah di paras Shannon sedari mereka turun dari panggung. Penampilan mereka berakhir dengan sangat sempurna dan menuai banyak riuh tepuk tangan.

Dengan begini maka festival hari ini telah berakhir. Setelah acara ini, semuanya telah memiliki acara masing-masing, seperti Jungkook dan Yein misalnya;

Kini Jungkook tengah menunggu Yein di luar ruang ganti. Rencananya setelah ini mereka berdua akan pergi jalan-jalan sebagai perayaan akan suksenya penampilan mereka.

Senyum Jungkook merekah saat gadis yang ditunggunya keluar dari ruang ganti. Lantas Jungkook melangkah mendekati Yein, gadis itu juga balas tersenyum padanya.

Kajja, Jeong Yein.”

Yein tengah mengulum senyum. Hatinya sudah bertalu-talu semenjak tadi, membayangkan dirinya akan pergi berdua bersama Jungkook. Baru saja bibirnya akan mengiyakan, tak disangka seorang gadis memeluk Jungkook dari belakang secara tiba-tiba. Sontak saja manic Yein membelalak, apalagi Jungkook. Kendati pemuda itu tak dapat melihat siapa sosok yang memeluknya, apalagi di hadapan gadis yang disukainya.

“Jungkook-ah!”

Buru-buru Jungkook memutar tubuhnya dan mendapati…

“Eunha?”

.

.

.

.

.

Shannon dan Chanwoo tengah berdiri di depan sekolah. Sedari tadi Chanwoo tak henti-hentinya melirik Shannon. Ekspresinya terlihat tak suka, hingga akhirnya bibir pemuda itu meloloskan sebuah protes.

“Ya! Kenapa kau pakai baju seperti itu, sih?” Lagi-lagi Chanwoo memperhatikan Shannon dari ujung kepala sampai ujung kaki. Shannon belum mengganti pakaiannya; celana kulit berpotongan pendek, jaket kulit dan sepatu boot yang semuanya berwarna hitam masih melekat di tubuh gadis blasteran itu.

Shannon yang sedari tadi mengedarkan pandangannya menjawab santai, “Ini ‘kan baju saat aku tampil tadi.”

“Lalu kenapa kau tidak ganti baju?!”

Kali ini Shannon beralih menatap Chanwoo—ralat, mendelik tepatnya.

“Ruang gantinya penuh, Jung Chanwoo! Lagipula kenapa kau membawaku ke sini, sih? Kenapa kita tidak pulang saja?” Shannon balas mengomel sekarang.

Chanwoo mendengus dan merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah benda persegi panjang yang tak lain adalah ponselnya. Sejenak pemuda jangkung itu mengamati ponselnya sebelum berujar, “Tunggu sebentar.” Lantas dia menempelkan ponselnya dan terlihat sedang menghubungi seseorang. Tinggal lah Shannon menyandaran tubuhnya pada tembok sambil menggembungkan kedua pipinya.

Tiba-tiba sebuah sedan putih berhenti di depan mereka. Tadinya baik Shannon dan Chanwoo tak acuh hingga akhirnya salah satu jendela mobil itu terbuka dan menampilkan sesosok wanita cantik. Dan Shannon amat mengenal wanita berkepala empat itu.

“Shannon-ah!”

Eomonim!”

Belum tuntas keterkejutan Shannon, Chanwoo membuka pintu mobil dan mendorong tubuhnya untuk masuk ke dalam.

“Shannon-ah, perkenalkan ini suamiku,” ujar Joohyun riang begitu Shannon dan Chanwoo telah masuk ke dalam mobil. Seorang pria yang duduk dibalik kemudi menoleh dan tersenyum pada Shannon.

“Halo, perkenalkan aku Appanya Chanwoo, Jung Taekwoon.”

Oh, itu adalah Jung Taekwoon! Seorang penyanyi dan pencipta lagu. Ini adalah kali pertama Shannon bertemu langsung dengannya. Dan dia benar-benar tampan, tidak heran kalau Chanwoo bisa setampan itu. Baik Appanya dan Eommanya sama-sama rupawan.

“Ah, ne aku sudah tahu…eum…Shannon Williamsimnida.”

“Iya, senang bertemu denganmu nona Williams.”

“Shannon-ah, kau tidak keberatan ‘kan kalau kita makan dulu? Ini pertama kalinya Appa Chanwoo bertemu denganmu, sepertinya dia ingin berkenalan lebih dekat denganmu,” ujar Joohyun mengutarakan tujuannya. Joohyun melirik pada suaminya yang balas tertawa kecil mendengar ucapannya barusan.

Ne, Eomonim. Tentu saja aku tidak keberatan, lagipula aku tidak ada acara.”

“Kita akan makan malam keluarga malam ini!” antusias Joohyun. Shannon ikut tersenyum melihatnya. Padahal terakhir kali dia bertemu dengan Eomma Chanwoo, saat itu Joohyun menangis. Tapi melihatnya sebahagia ini dan juga Appa Chanwoo yang tak henti-hentinya melempar senyum, sepertinya semua sudah baik-baik saja. Syukurlah!

“Tapi, omong-omong, kemana Hajin?” Chanwoo yang sedari tadi hanya menonton melempar tanya.

.

.

.

.

.

Di lain tempat, gadis enam belas tahun itu tengah berjalan bersisian dengan pemuda bermarga Koo.

“Kau mau makan apa?”

“Aku mau makan tteokbokki!

“Lalu?”

“Aku mau makan odeng!”

“Lalu?”

“Eum…hotteok?

“Ya! Kenapa makanan semua?”

“Habis…baru kali ini aku bisa jalan-jalan, aku ingin makan di pinggir jalan.” Gadis cantik itu mengerucutkan bibirnya. Kendati begitu Junhoe tetap mengiakan. Memang, setelah festival Junhoe sudah berjanji akan mengajak Hajin jalan-jalan—meski niat sebenarnya adalah untuk meninggalkan Shannon berduaan dengan Chanwoo. Dan sekarang mereka tengah berjalan keluar dari sekolah. Junhoe sengaja meninggalkan motornya di sekolah karena dia rasa berjalan kaki pasti lebih leluasa.

Geunde, Sunbae…bagaimana kalau ada yang mengenaliku? Aku belum pernah pergi keluar sendirian.”

Perkataan Hajin ada benarnya, artikel mengenai keluarganya telah tersebar luas sekarang, ditambah sebentar lagi dia akan segera debut sebagai model.

Sejenak Junhoe tampak tengah berpikir sebelum akhirnya berujar, “Malhaebwa.

“Hm?”

Menarik gadis itu mendekat, Junhoe memakaikan topi dan jaketnya pada Hajin.

“Nah, sekarang sudah aman. Lagipula ada aku sebagai bodyguardmu.”

.

.

.

.

.

Mwoya? Kemana yang lainnya?!”

Pekik Ryu Sujeong yang baru saja keluar dari ruang ganti dan mendapati sekitarnya telah sepi. Hanya ada seorang pemuda berambut oranye yang tengah duduk sambil memainkan ponselnya.

“Tentu saja pergi dengan pasangan mereka,” pemuda yang tak lain ada Taehyung itu menjawab.

“Aish, dasar mereka itu!”

Sujeong menghela napas kasar. Selalu saja begitu, dia ditinggal teman-temannya pergi dengan pacar masing-masing. Kadang Sujeong menyesal Shannon, Yeeun serta Yein—yang hampir—memiliki pacar mengingat waktu mereka bersama juga jadi berkurang.

Kemudian Sujeong melirik pada Taehyung yang masih asik memainkan ponselnya. Merasa heran dengan keberadaan pemuda. Taehyung ada disana kendati dirinya tidak ikut tampil dan juga bukan staff acara.

“Lalu kenapa Ahjussi di sini?”

“Aku menunggumu.”

M-mwo?

“Aku mau mengajakmu pergi ke—

“Aku tidak bisa. Aku mau langsung pulang dan belajar,” tolak Sujeong. Gadis itu mengeratkan selempangan tas ranselnya dan hendak beranjak, tetapi tubuh Taehyung sudah lebih dulu menghalangi aksesnya.

“Ya, Ryu Sujeong! Hanbeomman.

“Aish, arasseo Ahjussi.

YES!

TBC

[Next]

[Prev]

Iklan

6 thoughts on “Mr.Chu [Chapter 9]

  1. Melting kak eee;-;
    “Ada aku sebagai bodyguardmu” hasekkk melting banget bacanya wkwkkww.. pipi memanas xD
    Itu eunha siapanya Jungkook ㅠㅠ
    Chanwoo resmiin cepat….. Mama sama papa chan sudah baikkan? Baguslah tapi kenapa nangis><
    Kutunggu 9B kak….♥♥♥♥♥♥

    Suka

    1. haduhh abang junhoe mah gitu orangnya wkwk
      btw tumben hajin-junhoe gak berantem yak wkwk
      siapa yaaaa? liat bagian selanjutnya aja deh hahaha
      makasihh udah mampir dan komen fanny ^^

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s