Accidentally Family (Chapter 4)

1458562079013.jpg

Accidentally Family

|LEORENE|

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family | Chaptered | PG

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Previous :

Prolog | 1 | 2 | 3

Summary :

“…suamiku dan anakku sedang sakit!”

.

.

.

Chapter 4

Pagi ini Miki dapat pulang karena dokter bilang demamnya sudah turun. Joohyun tahu benar kalau Taekwoon pasti lelah, maka akhirnya dialah yang mengendarai mobil kembali menuju apartemen mereka.

Terhenti karena lampu merah, atensi Joohyun berpaling pada dua sosok di sampingnya. Selama di perjalanan, pria itu tertidur dengan Miki yang masih berada di pelukannya. Keduanya terlelap dengan wajah yang terlihat damai. Tangan Joohyun terangkat menyentuh kening Miki. Joohyun mengucap syukur dalam hati karena kini panas Miki sudah benar-benar turun. Netranya beralih pada Taekwoon, pria itu akhirnya dapat memejamkan matanya setelah hampir semalaman terjaga. Tangan Joohyun membenarkan rambut Taekwoon yang hampir menutupi wajahnya. Lama dia menatap lekat-lekat pada Taekwoon. Hanya melihat wajah Taekwoon saja, Joohyun dapat merasakan bagaimana lelahnya pria itu. Tapi hal itu membuat Joohyun sadar, kalau Taekwoon benar-benar menyayangi Miki layaknya anak kandungnya sendiri.

Gomawo, Taekwoon-ah.”

***

“Taekwoon.”

“Taekwoon.”

“Taekwoon, ireona.” Joohyun menguncang pelan tubuh Taekwoon. Sebenarnya Joohyun tidak tega untuk membangunkan Taekwoon karena pria itu terlihat amat pulas. Tapi akan lebih baik kalau mereka segera sampai di apartemen, lalu Taekwoon dapat mengistirahatkan tubuhnya di kamar.

Perlahan, kedua kelopak mata Taekwoon mulai terbuka. Taekwoon mengerjap. “Ah…eum…Joohyun?”

“Kita sudah sampai,” ujar Joohyun pelan saat dirasa Taekwoon sudah tersadar. Tubuh pria itu menggeliat kecil, kemudian tangannya berusaha melepaskan kaitan seat belt. Tanggap, Joohyun segera membantu Taekwoon.

“Ah, biar aku saja yang gendong Miki!” ujar Joohyun saat Taekwoon baru saja akan membuka pintu mobil. Gadis itu bergegas keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu di samping Taekwoon. Membuka pintunya dan mengambil Miki dari gendongan Taekwoon, “Tanganmu pasti pegal.”

Taekwoon hanya mengerjapkan matanya melihat sikap Joohyun. Entah otaknya yang belum bisa mencerna atau kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya. Taekwoon keluar lalu menutup kembali pintu mobilnya. Sejenak, kepala Taekwoon terasa pening karena berdiri tiba-tiba. Menolehkan kepalanya, Joohyun sudah berjalan menuju pintu masuk gedung apartemen, Taekwoon tak memusingkan lagi dan berusaha menyusul. Joohyun memperlambat langkahnya, saat menoleh ke belakang, dilihatnya Taekwoon tengah berjalan dengan terhuyung. Sontak saja Joohyun menepuk keningnya.

‘Joohyun, paboya! Bagaimana bisa kau meninggalkannya?!’

Sembari menggendong Miki, Joohyun berbalik dan berlari kecil ke arah Taekwoon.

“Taekwoon, gwenchana?” tanyanya saat dilihat Taekwoon tengah menyentuh dahinya. Taekwoon menatap Joohyun sekilas dan tersenyum tipis. “Ah, ne.

Joohyun mengernyit, pasalnya pria itu benar-benar terlihat pucat. Akhirnya dengan sebelah tangannya yang terbebas, Joohyun mengandeng tangan Taekwoon.

Kajja.”

.

.

.

.

.

Sesampainya di apartemen, Joohyun mendudukkan Taekwoon di sofa. Bergegas menuju lantai dua untuk meletakkan Miki di dalam box bayi. Kembali ke lantai satu untuk mengambilkan minum untuk Taekwoon.

Igeo.” Diulurkannya segelas air pada Taekwoon. Pria itu menerimanya dan langsung meneguknya hingga tandas. Joohyun pun turut mendudukkan diri di samping Taekwoon.

Meregangkan kedua tangannya, Johyun berujar, “Arggghhhh…benar-benar malam yang melelahkan.”

Taekwoon tersenyum kecil, wajahnya sudah tak sepucat tadi dan dia turut menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Joohyun menoleh padanya, menatapnya lamat-lamat dan bertanya, “Kau mau tidur? Sebaiknya kau beristirahat di kamar.” Taekwoon menggeleng pelan, “Gwenchana, Joohyun.”

Johyun menganggukkan kepala dan menyimpan pertanyaannya. Kemudian dia teringat sesuatu, “Ah, tadi Miki sudah mulai berkeringat. Apa itu artinya kita bisa memandikannya? Yah, hanya dengan air hangat.”

Taekwoon mengangguk setuju, “Iya, Miki sudah bisa mandi.”

“Baiklah, kalau begitu akan kupanaskan airnya,” sahut Joohyun riang. Bangun dari sofa, Joohyun berjingkat menuju dapur untuk memanaskan air.

Tinggal lah Taekwoon duduk menyandarkan kepala pada sandaran sofa. Senyum yang dipatrinya pada Joohyun kini menyurut. Tangannya terangkat menyentuh keningnya sendiri. Memang kepalanya masih terasa sedikit berdenyut meski tak sepening tadi. Setidaknya dia bisa beristirahat sebentar dan tak menimbulkan kekhawatiran pada Joohyun.

“Aku sudah merebus airnya.” Sejurus dengan kedatangan Joohyun, Taekwoon menarik kembali tangannya. “Tinggal tunggu airnya mendidih.” Joohyun kembali mendaratkan bokongnya pada sofa pun menyandarkan kepalanya. Lama mereka terdiam, sampai akhirnya Joohyun membuka konversasi.

“Eum…Taekwoon.”

Tak menjawab, Taekwoon menolehkan kepalanya sehingga kini wajah mereka berhadapan. Dilemparkannya tatapan tanda tanya, memicu Joohyun agar segera melanjutkan perkataannya.

“Soal baby sit—”

Belum sempurna pertanyaan Joohyun terlontar, sayup-sayup terdengar suara seperti tangisan. Taekwoon yang tampak tak terlalu fokus berbeda halnya dengan Joohyun, sontak tubuh gadis itu menegap dan ekspresinya berubah panik.

“Miki menangis!” serunya sebelum akhirnya berlari menaiki tangga.

Suasana kembali sunyi senyap. Taekwoon yang terlalu lelah tak memiliki niatan untuk menyusul Joohyun. Membiarkan rasa kekhawatirannya disimpannya, Taekwoon kembali memejamkan mata. Membiarkan denyutan di kepalanya semakin menjadi dan sebelah tangannya yang pegal di regangkannya. Menikmati momen-momen relaksasi Taekwoon ditemani suara air yang terdengar seperti peluit. Tunggu, suara air? Astaga, Taekwoon hampir saja lupa kalau gadis itu sedang merebus air tadi.

Tentu suara yang menyambangi kokleanya barusan adalah pertanda kalau air yang direbus Joohyun di dalam teko stainless telah mendidih. Agak panik dan sedikit terpaksa, Taekwoon bangkit dan melangkah perlahan menuju dapur.

Netranya langsung disambut kepulan uap yang keluar dari lubang kecil pada mulut teko stainless—yang juga menyebabkan keluarnya bunyi nyaring seperti peluit. Tangan kiri Taekwoon bergerak mematikan kompor listriknya. Setelah dirasa telah mati, tangan satunya berusaha mengangkat teko yang terisi penuh air—dan terasa lumayan di tangannya yang masih pegal. Saat teko itu sukses terangkat dari permukaan kompor listrik, tangan Taekwoon sudah mulai bergetar, dan sayangnya Taekwoon tidak bisa cukup lama untuk menahannya sehingga—

.

PRANGGG

.

“Argghhhhh…”

Teko stainless itu beradu dengan lantai. Naas seluruh air itu tumpah bahkan kini mengenai kedua tangan Taekwoon. Pria itu tengah tersungkur dan mengaduh kesakitan saat Joohyun kembali ke dapur dengan Miki di gendongannya.

“TAEKWOON!”

.

.

.

.

“Taekwoon, gwenchanha?”

Raut khawatir tercetak jelas di paras Joohyun. Hanya mengoleskan salep dan sesekali meniupi luka Taekwoon yang bisa Joohyun lakukan. Terlebih melihat ekspresi Taekwoon yang tak henti-hentinya meringis, Joohyun benar-benar tak tega melihatnya. Gadis itu merutuk dan mengumpat jutaan kali di pikirannya karena lalai. Bagaimana bisa dia melupakan kalau dia sedang merebus air dan membiarkan Taekwoon yang mengangkatnya? Joohyun benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Dia benar-benar lalai padahal dia tahu kalau Taekwoon sedang lelah.

Joohyun menempelkan plester pada perban yang membalut kedua tangan Taekwoon, mengakhiri kegiatan mengobati luka pria itu. Kendati demikian, Joohyun tetap meniupi tangan Taekwoon meski seluruh permukaan tangan pemuda itu telah terbalut perban. Hal itu malah membuat Taekwoon yang sudah tak lagi meringis, terkekeh kecil dengan ulah Joohyun.

Mian, Taekwoon,” lirih Joohyun. Sekon berikutnya gadis itu mengangkat kepalanya. “Kau mau apa? Katakan saja padaku. Misalnya.” Sejenak gadis itu tampak berpikir dengan dahi yang dikerutkan. “Misalnya kau mau makan apa? Katakan padaku dan aku akan memasakkannya untukmu.” Tapi kemudian dia menepuk dahinya sendiri karena menyadari bahwa tampaknya kemampuan memasaknya jauh di bawah Taekwoon. Namun sedetik kemudian pula wajahnya berubah cerah, “ Atau mau kupijat? Katakan padaku mana yang sakit?” Joohyun mulai meraba lengan Taekwoon. “Eoh? Yang ini? Ataukah yang ini?”

Meski sedari tadi hanya terdiam—atau terbengong tepatnya—kini Taekwoon tak bisa lagi menahan tawanya. Pecahlah tawa Taekwoon, bahkan pria itu terbahak. Membuatnya tampak tak selelah beberapa waktu lalu. Membuat raut wajah Joohyun berubah cemberut. Tak terima bila dirinya ditertawakan.

Eiy, aku serius.”

Taekwoon berusaha menghentikan tawanya. Bahkan kini pria itu mulai memegangi perutnya yang menjadi sakit karena terlalu banyak tertawa. Sejenak pria itu menghirup oksigen dalam-dalam sebelum dengan lembutnya dia menjawab.

Gwenchanha, Joohyun.”

Dan tak lupa dengan sebuah kurva yang menghiasi paras tampannya. Ini aneh, entah kenapa hanya dengan melihat senyum Taekwoon, semua kekhawatiran yang bersarang di benak Joohyun telah menguap entah kemana. Begitu juga dengan Taekwoon yang merasa tak lagi lelah setelah mendapatkan perlakuan sedemikian rupa dari Joohyun. Tangannya terangkat mengelus lembut surai cokelat Joohyun. Menimbulkan senyuman—serta sedikit rona merah pada pipi gadis itu—tapi juga menimbulkan sedikit nyeri pada tangannya.

“Kau duduk saja.” Bangkit dari posisinya yang bertumpu lutut di hadapan Taekwoon, Joohyun menyentuh pelan pundak Taekwoon dan hendak beranjak. Tak lagi Joohyun membiarkan Taekwoon melakukan sesuatu. Biarlah hari ini giliran Joohyun yang mengurus semuanya. Yah, dimulai dari memasak misalnya.

Langkah Joohyun yang terajut menuju dapur harus terinterupsi kala ponselnya yang terletak di atas meja ruang keluarga berdering. Dengan cepat gadis itu berbalik dan mengamit benda persegi panjang itu dari permukaan meja kacanya.

Yeobseyo.”

“Joohyun! Kau ada dimana, hah? Rapatnya akan dimulai setengah jam lagi!” suara nyaring Bae Byunhee langsung menyapa rungu Joohyun sedetik setelah gadis itu mengangkat panggilan.

Sejenak Joohyun bersunggut kecil. “Hari ini aku tidak bisa ke kantor, Aboeji.”

“Mwo??!” Teriakan lainnya terpaksa harus ditelan mentah-mentah indera pendengaran Joohyun.

Kalau bukan karena adanya Taekwoon yang tengah memperhatikannya, Joohyun pasti sudah melayangkan protes pada Aboeji. Tapi tampaknya hari ini dia harus lebih penyabar.

Joseonghamnida, Aboeji. Aku tidak bisa ke kantor hari ini karena suamiku dan anakku sedang sakit!”

Taekwoon yang kebetulan sedang meneguk air dari gelas mugnya, tersedak. Beruntung Joohyun tengah sibuk dengan panggilan dari Aboejinya sehingga tak menyadari reaksi suaminya atas perkataannya barusan.

“Mwo? Taekwoon sa—”

Klik…

Joohyun mengehela napas. Joohyun memang tidak dapat melayangkan protes tapi setidaknya dia bisa menutup telepon dari Aboejinya, meski itu terbilang tidak sopan. Setidaknya apa yang harus dihadapi Joohyun kali ini sudah membuatnya pusing, apalagi ditambah dengan harus menjelaskan panjang lebar pada Aboejinya?

‘Argh, bagaimana bisa aku melupakan meeting hari ini?!’ batinnya sembari meremas rambutnya kesal.

“A-ada apa dengan Aboeji?

Oh, maaf tapi Joohyun melupakan kalau Taekwoon juga ada di sana.

Sontak saja Joohyun mengusir jauh-jauh rasa kesalnya. “Ani, tidak ada apa-apa,” jawabnya diakhiri dengan cengiran.

Untuk menanggapinya, Taekwoon hanya mengangguk lemah. Melihat itu, Joohyun jadi menyadari sesuatu. Gadis itu menarik lengan Taekwoon perlahan. “Taekwoon, kau istirahat di kamar saja, ya,” bujuknya.

Taekwoon tak mengelak, sehingga akhirnya dia pasrah saat Joohyun memapahnya—meski hanya bisa dibilang memeluk pinggang karena postur tubuh Joohyun yang terlalu mungil bagi Taekwoon—menuju kamar tidur utama. Joohyun membaringkan tubuh Taekwoon dan tak lupa pula menyelimuti tubuh pria itu.

“Istirahatlah. Aku ada di dapur jika kau membutuhkanku!” ujarnya sedetik sebelum menghilang di balik pintu.

Taekwoon tersenyum tipis. Selepas Joohyun pergi, Taekwoon bergegas merogoh saku celananya. Mencari benda persegi panjang yang tak lain adalah ponselnya dan menghubungi seseorang sebelum matanya terpejam.

***

Dua puluh menit sudah waktu Joohyun habis dengan kegiatan mondar-mandir di dapur. Tangannya dilipat di depan dada dan keningnya berkerut.

“Sekarang apa yang harus aku lakukan?”

Pertanyaan yang akhirnya terlontar setelah kegiatan merenungnya. Ya, apa yang harus gadis itu lakukan? Setelah Taekwoon beristirahat, Joohyun malah bingung hal mana yang harus lebih dulu dia kerjakan. Memasak? Oh, Joohyun harus merutuk karena dia hanya bisa masak mie instan. Ah, tapi ada satu masakan yang bisa Joohyun buat. Nasi goreng kimchi. Tapi Joohyun sudah lama tak memasaknya dan lagipula dia juga tak mungkin tega membuat Taekwoon sakit perut di saat sakit begitu.

Tidak, Joohyun harus lakukan sesuatu. Bukankah dia sendiri yang bilang akan merawat Taekwoon? Seorang istri harus merawat suaminya saat sakit. Joohyun beranjak menuju kulkas berpintu dua miliknya. Membukanya dan mencoba mencari bahan makanan apa yang bisa diolahnya. Saat tengah menghitung buah apel dan menimbang apa sebaiknya dia membuat kare saja, suara bel terdengar nyaring. Ada yang datang.

Berlari kecil menuju pintu, Joohyun terheran akan siapa yang menyambangi kediamannya siang-siang begini. Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria bertubuh jangkung.

“Taekwoon—

Nuguseyo?

***

Beruntung Hakyeon datang sebelum Joohyun membuat bahan makanan di dalam kulkasnya terbuang percuma. Tak hanya membawakan masakan dari istrinya—yang terdiri dari sup galbi dan bulgogi— Hakyeon juga membantu Joohyun memandikan Miki. Semuanya sudah beres dan kini mereka duduk di ruang utama sambil menyesap teh.

“Ah, maaf merepotkanmu, Hakyeon-ssi.” Joohyun meletakkan cangkirnya dan membungkuk sedikit pada Hakyeon.

Pria berkulit cokelat itu tersenyum lebar dan menyesap tehnya. “Gwenchanha, Joohyun-ssi.”

Aura keakraban pria itu lah yang membuat Joohyun mudah mengobrol meski ini adalah kali pertamanya bertemu. Jujur, Joohyun memang belum pernah bertemu dengan teman-teman Taekwoon. Hakyeon adalah yang pertama baginya. Apalagi belum-belum pria itu telah memberinya banyak bantuan.

“Aku sudah sering membantu Taekwoon mengurus Miki,” ujar Hakyeon lagi. Pria itu mencubit gemas pipi gembul Miki yang tengah bermain di dalam kereta bayinya. Miki tersenyum senang dan menggoyangkan mainan berbentuk singa di tangannya.

Joohyun yang melihatnya, ikut tersenyum. Apalagi melihat Miki sudah kembali ceria seperti biasanya. Tapi membantu merawat Miki? Apakah Hakyeon yang selama ini membantu Taekwoon merawat Miki?

“Oh, Taekwoon sering meminta bantuanmu?” tanya Joohyun.

Hakyeon mengalihkan pandangannya dari Miki dan mengangguk pelan. “Tidak sering juga, hanya sesekali. Waktu itu aku membantunya memandikan Miki.”

“Wah, Taekwoon bisa memandikan Miki?” tanya Joohyun antusias. Dan Hakyeon mengangguk menanggapinya.

“Kupikir Taekwoon kewalahan mengurus Miki sendirian, ternyata kau yang membantunya. Jeongmal kamsahamida, Hakyeon-ssi.

Hakyeon mengibaskan tangannya. “Ah, itu bukan apa-apa. Lagipula aku senang bisa membantu Taekwoon mengurus bayi selucu ini.” Lagi-lagi Hakyeon mencubit pelan pipi gembul Miki. Sekon berikutnya pria itu mengamati jam tangannya dan berseru, “ Sepertinya aku harus pulang sekarang. Istriku pasti kewalahan mengurus uri Hana sendirian.”

Joohyun turut bangkit dan mengantarkan Hakyeon sampai ambang pintu. “Salam untuk istri dan anakmu, Hakyeon-ssi.” Joohyun tersenyum.

Ne, lain kali kita mengobrol lagi, Joohyun-ssi. Semoga Taekwoon cepat sembuh.” Hakyeon kembali menampilkan senyum ramahnya.

‘Aih, dia benar-benar kebapakan’.

Joohyun menutup pintu apartemennya setelah tubuh Hakyeon menghilang dibalik lorong menuju lift. Dia bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk Taekwoon.

“Joohyun.”

Suara familiar itu menguar dari tangga. Sosok Taekwoon yang mengenakan kaos hitam dan celana training abu-abu tengah menuruni tangga.

“Ah, Taekwoon. Kau sudah bangun?” Joohyun menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati Taekwoon.

“Kau masak sup galbi?” tanya pria itu selanjutnya. Apakah dengan sering memasak dapat membuat hidung Taekwoon sepeka ini? Joohyun bahkan belum mengeluarkan sup itu dari termos yang dibawakan oleh Hakyeon.

Aniyo, tadi temanmu yang bernama Hakyeon yang membawakan.” Taekwoon mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. Tentu dia tidak heran karena memang dirinya lah yang memanggil Hakyeon. Dia tidak mungkin membiarkan Joohyun kewalahan mengurusi semuanya sendirian. Seandainya tangan Taekwoon tidak terluka, setidaknya dia bisa memasak atau membantu mengurus Miki. Keadaanya sekarang hanyalah menambah beban bagi Joohyun.

Joohyun berlalu menuju dapur. Menuangkan sup galbi pada mangkuk-mangkuk di atas meja makan. Serta bulgogi yang kembali dipanaskan olehnya.

“Joohyun. ” Taekwoon melangkah mendekati Joohyun. Aroma sup galbi benar-benar memanjakan indera penciumannya saat ini.

“Ayo makan. Kau ‘kan belum makan siang,” tawar Joohyun. Gadis itu kembali menuju dapur, guna mengecek bulgogi di dalam microwave dan mengambil beberapa peralatan makan.

Ani, aku mau mandi dulu.”

“Ah, iya. Kau mandi saja dulu baru setelah itu makan.” Joohyun yang telah kembali, menata dua piring serta alat makan di atas serbet.

Sekon berikutnya pria itu berjalan menaiki tangga. Baru sampai di anak tangga ketiga, Taekwoon kembali membalikkan badannya. “Eum…Joohyun.”

Membuat Joohyun menghentikan aktivitasnya sejenak dan menengadah menatap Taekwoon.

“Aku mau keramas.”

“L-lalu kenapa kau bilang padaku??”

Taekwoon mengangkat kedua tangannya yang terlilit perban. “Tolong aku. “

Sejenak mematung, tapi kemudian mau tidak mau Joohyun turut naik ke lantai atas mengikuti Taekwoon. Jantungnya masih berdetak tidak karuan setelah mendengar perkataan pria itu lima menit yang lalu. Mengeramasinya? Apa maksudnya dengan—

Tanpa Joohyun sadari kini dirinya telah berada di dalam kamar mandi berdua dengan Taekwoon. Belum sempat Joohyun mencerna situasinya, Taekwoon berbalik.

“Maaf, tapi bisa tolong lepaskan bajuku juga?”

Belum sempat detakan jantung Joohyun berubah normal, kalimat barusan benar-benar memacunya lebih cepat. Melepaskan bajunya??? Oh, apa maksudnya itu?!

“A-apa?!”

Tampaknya Joohyun harus lebih rasional karena tentu perlu melepaskan baju kalau ingin berkeramas, bukan? Karena nanti baju Taekwoon akan basah tentunya.

“I-iya, baiklah. “

Kedua lengan Taekwoon telah diangkat ke atas, bersiap untuk Joohyun membantu melepaskan bajunya. Dengan sedikit menahan napasnya dan mata—secara tidak sadar—terpejam, kedua tangan Joohyun meraih tepian baju kaus Taekwoon. Menariknya ke atas disertai kekehan Taekwoon. Kekehan?

“Bagaimana kau akan melepasnya kalau merem begitu,” ujar Taekwoon sontak membuat kedua kelopak mata Joohyun terbuka. Posisinya tepat di hadapan Taekwoon dengan tangan di tepian kaus Taekwoon yang telah setengah terangkat. Oh, Joohyun dapat melihat jelas otot-otot yang berbentuk kotak bersarang di perut Taekwoon—atau biasa disebut abs.

Joohyun tak dapat menyembunyikan rona merah yang menimbulkan rasa panas di pipinya. Yang entah kenapa membuat Taekwoon juga turut canggung. Mereka sama-sama mematung di dalam pose itu. Baru melihat Taekwoon setengah telanjang dada saja sudah membuat Joohyun malu, lali bagaimana dia akan mengeramasi pemuda itu???

Tak mungkin terus-terusan berdiam pada posisi itu, akhirnya dengan cepat Joohyun menarik kaus Taekwoon sampai terlepas—meski sempat tersangkut di kepala pria jangkung itu. Namun Taekwoon turut menundukkan tubuhnya demi membantu Joohyun.

Kini Taekwoon tengah duduk di bangku kayu yang menghadap pada cermin di dalam kamar mandi. Joohyun berdiri di belakangnya bersiap untuk mengeramasi Taekwoon. Setelah rambut pria itu dibasahi—oleh Taekwoon sendiri—kini Joohyun menuangkan shampoo ke atas telapak tangannya lalu mengusapkannya pada rambut Taekwoon. Secara perlahan, Joohyun mengusak pelan rambut Taekwoon sembari memijatnnya. Sesekali Taekwoon mengamati pantulan dirinya di cermin meski dia lebih banyak menunduk. Oh, Joohyun benci cermin itu? Posisi ini sungguh tak menguntungkannya karena dia dapat melihat jelas pantulan Taekwoo yang tengah bertelanjang dada.

Sepuluh menit lamanya Joohyun mengeramasi Taekwoon. Saat gadis itu hendak membilas rambutnya, Taekwoon mencegahnya.

Ani, aku bisa sendiri.”

Joohyun menganggukkan kepalanya kikuk dan bergerak menuju wastafel untuk membilas busa-busa shampoo di tangannya. Setelah itu tubuhnya berbalik dan menatap Taekwoon. Pria jangkung itu mengernyit. Hampir saja tangannya hendak menurunkan celana training yang digunakannya.

“Kau mau memandikanku juga?”

“MWO?!”

“Lalu kenapa kau tidak keluar. “

“Arrasseo, aku keluar. “

Setelah itu tubuh mungil Joohyun menghilang di balik pintu.

‘Astaga, jantungku hampir saja copot!’ batin Joohyun.

***

Makan malam sudah siap. Sembari menunggu Taekwoon selesai mandi, Joohyun duduk di atas sofa kremnya dengan Miki di pangkuan. Bayi mungil itu tengah meminum susunya dengan lahap. Sesekali Joohyun menepuk pelan punggung Miki—berusaha menidurkan Miki. Siaran konser malam yang ditontonnya sebagai nina bobo bagi Miki. Penampilan boyband VIXX yang tengah membawakan lagu ballad membuat Joohyun tak mengalihkan pandangannya barang sejenak.

Suara yang timbul karena susu yang diminum Miki telah menghilang, pertanda susunya telah habis. Joohyun melepaskan botos susu itu, jari telunjukkan diletakkan di depan mulut Miki saat bayi mungil itu kini menguap. Matanya mengerjap, seolah akan terpejam sebentar lagi.

“Anak Eomma sudah ngantuk ya?” ujar Joohyun mengajak Miki bercakap.

Lagi-lagi Miki hanya mengerjapkan matanya. Sepasang lensa jernihnya memantulkan bayangan Eomma­nya yang cantik. Joohyun mencium pelan kening Miki. Bayi itu menguap lagi kemudan perlahan matanya mulai terpejam. Joohyun mengayunkan tubuh Miki di gendongannya secara perlahan sembari tangan satunya mengusap-usap ubun-ubun sang bayi.

“Joohyun, bisa tolong bantu aku memakai baju?” terdengar teriakan Taekwoon dari lantai atas.

“Iya, tunggu sebentar, Taekwoon,” sahut Joohyun. Gadis itu meletakkan Miki yang sudah terlelap ke dalam kereta bayinya.

Ting…tong…

Suara bel menginterupsi langkah Joohyun menuju tangga. Gadis itu mengurungkan niatnya menaiki tangga dan berbalik menghampiri pintu apartemennya.

Manik Joohyun membulat sempurna saat pintu terbuka menampilkan dua sosok paruh baya.

“Siapa yang dat—ang?”

Tak terkecuali dengan Taekwoon turun yang dengan keadaan bertelanjang dada.

.

.

.

.

.

“EOMMA? ABOEJI??!”

.

.

.

TBC

Tyavi‘s little note : *sigh* maap semaap-maapnya untuk keterlambatan update. beribu maap juga karena bahasa yang aneh dan cerita ga seru. maap juga kalo ada typo atau nama Joohyun tertukar dengan Taekwoon (biasanya sering nih apalagi bikinnya tengah malem). harap maklum karena bikinnya ditengah wb akut. semoga masih ada yang setia menunggu kelanjutan ff absurd ini :”v

mind to leave a comment ^^

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s