Mr.Chu [Chapter 8]

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

Previous :

 

1 | 2 | 3 | 4| 5 | 6 | 7

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

.

.

.

I’m captivated by your alluring eyes

But your body movements are slightly awkward,

I like it babe

(iKON – My Type)

.

.

.

 

“Shannon-ah.”

.

“Shannon!”

.

“Shannon-ah, bangun! Sebentar lagi Park ssaem akan datang.”

.

Guncangan tangan Yein di lenganku membawaku keluar dari dunia mimpi. Menghadapi riuhnya keadaan kelas dan aku mulai mengumpulkan kesadaran. Eh, kelas? Bukankah tadi aku sedang berada di taman bersama Chanwoo. Ataukah aku hanya bermimpi mengobrol dengan Chanwoo?

“Kenapa aku ada di kelas?” Aku mengerjapkan mataku dan berujar pelan.

“Tentu saja pacarmu yang tampan itu yang menggendongmu ke sini,” jawab Yein dengan penekanan pada kata ‘pacarmu yang tampan’.

Oh, pacarku.

.

Pacarku?!

.

“Chanwoo menggendongku ke sini??!” tanyaku tak percaya.

Yein berdecak pelan. “Kau itu tidur seperti orang mati.” Perlahan beringsut mendekat padaku. “Jadi kau sengaja membolos untuk pacaran dengannya, eoh?” bisik Yein.

Omo! Benar, tadi aku tertidur. Tapi aku tidak menyangka kalau Chanwoo akan menggendongku ke kelas. Apa tadi semua anak melihatnya? Omo! Sangat memalukan—tapi membuatku senang. Harusnya aku lebih sering ketiduran saja agar Chanwoo menggendongku. Ah, pikiran macam apa itu Shannon? Aku terkikik pelan.

Ternyata Chanwoo lumayan perhatian juga. Woah, berarti dia sangat kuat sampai bisa menggendongku. Aigo.

Tapi sepertinya ada yang aneh. Tunggu dulu bukankah tadi dia bilang tangannya sakit?

Bagaimana bisa?

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 8 ———-

.

.

.

“Hei, lama menunggu?”

Suara Chanwoo yang baru datang langsung menyapaku yang telah menunggunya selama lima belas menit di dalam gedung olahraga. Ya, kami janjian untuk bertemu di sini sepulang sekolah.

“Aku lelah sekali,” ujar Chanwoo tanpa kutanya. Karena aku masih bertahan dalam diam sedari tadi. Hanya bola mataku lah yang bergerak mengikuti pergerakannya.

Chanwoo melemparkan ransel yang tersampir di bahunya lalu meregangkan kedua tangannya. Dan kemudian netranya menangkap sesuatu di tanganku. Aku bisa melihat jelas tatapannya yang berubah berseri-seri.

“Kau membawa orange juice untuk— ”

Sejurus dengan ucapan Chanwoo yang belum selesai, aku membuka orange juice kalengan di tanganku dan meminumnya.

“Hei, kan aku yang lelah!” protesnya.

Aku masih tidak mengacuhkannya dan terus meneguk orange juiceku.

“Aku tadi mengendongmu tahu.”

Aku menjauhkan kaleng orange juiceku, “Dasar pembohong! Bukankah kau bilang tanganmu sakit?”

“Masa bodoh! Berarti orange juice ini milikku.” Chanwoo merebut kaleng orange juice di tanganku. Dia langsung meneguknya hingga tandas. Iya, meneguk orange juice yang sudah kuminum setengahnya. Eh, tunggu, ini artinya…

Ciuman tidak langsung?

“Ciuman tidak langsung?”

“Hah?”

Bukan, barusan itu bukan suaraku. Tapi Jung Chanwoo yang telah menyuarakan pertanyaan dalam benakku. Saat aku menengadah, netraku langsung disambut senyum jahil Chanwoo.

Ya! Apa kau ini cenayang, Jung Chanwoo?!

Bahunya bergerak naik turun menandakan dia sedang tertawa. Iya, tertawa, atau lebih jelasnya adalah menertawakanku. Aku sih tidak masalah kalau Chanwoo hanya tertawa, tapi tidak dengan ucapannya yang—

.

“Ada apa denganmu? Ini bukan yang pertama kalinya ‘kan? Kita bahkan telah melakukan yang langsung beberapa ka— akkkhh…”

.

“Mati saja kau Jung Chanwoo!” sumpahku. Sebuah bola basket baru saja mendarat di bahunya. Dan aku lah yang melemparnya. Huh, Jung Chanwoo, rasakan itu!

Chanwoo mengelus bahunya yang baru saja dicium bola basket. Lalu dia menunduk untuk mengambil bola basket itu. Melihatnya yang sedang mengambil bola basket, suatu pemikiran menyambangi benakku. Pemikiran yang sama sekali belum pernah terbesit di otakku.

“Chan, ajari aku basket.”

Dan tau-tau terlontar saja dari bibirku.

“Hah?” reaksi spontan yang terlontar dari mulut Chanwoo. Tubuhnya masih berlutut dan wajahnya mendongak. Menampilkan ekspresi terkejut.

“Huh, kau jago semuanya sedangkan aku hanya tenis saja.”

Aku berjalan menghampirinya. Memungut bola basket yang belum sempat disentuhnya. Aku mulai memantul-mantulkan—atau biasa mereka sebut mendribble—bola basket itu sambil berlari-lari kecil menuju ring. Saat jarakku tinggal dua meter dari ring, aku mengangkat bola basket itu hendak melakukan shoot.

“Bukan seperti itu.”

Teriakkan Jung Chanwoo mengurungkan niatku. Aku menoleh padanya.

“Seperti ini?” tanyaku padanya. Kini aku memegang bola basket dengan dua tangan dan posisi tubuhku dengan ujung sepatu yang siap berjinjit. Lantas Chanwoo berjalan ke arahku.

“Tegakkan punggungmu.”

Suara Chanwoo dari belakang tubuhku. Lalu kurasakan tangannya menyentuh pinggangku. Posisiku agak goyah saat Chanwoo melakukan itu. Sentuhannya bagai sengatan listrik di tubuhku. Kini Chanwoo bergerak membenarkan posisi tanganku. Ada apa denganmu hari ini, Shannon? Kenapa sentuhan-sentuhan Chanwoo membuatku malu? Pipiku memanas dan perutku terasa geli.

Shoot!

Perintah Chanwoo tiba-tiba. Membuat tubuhku bergerak sendiri dan melontarkan bola basket di tanganku.

.

Brukk

.

Namun sayang, jangankan melewati keranjang ring, bolaku hanya terhempas sampai setengah tiang. Dan aku harus mendengar tawa menyebalkan Chanwoo. Chanwoo berlari untuk mengambil bola basket dari bawah ring.

“Tangkap!”

Chanwoo melambungkan bola basket itu ke arahku. Aku bersiap. Mataku menatap lurus pada arah datangnya bola. Kedua tanganku terbuka, dan—

.

Bugh!

.

“Aww, appo!

—bola itu sukses mendarat di kepalaku.

Ugh, lemparan Chanwoo benar-benar kuat. Bersyukur bola basket itu tidak mencium wajahku. Kalau tidak, mungkin hidungku sudah patah!

“Bodoh! Matamu melihat kemana sih?”

Tak lama berselang, suara menyebalkan Chanwoo yang kudengar.

“Aku melihat bolanya kok!” Aku meringis sambil mengusap kepalaku yang malang.

“Kakimu pendek sih.”

“Ish, menyebalkan!” Aku mengerucutan bibirku kesal.

Jung Chanwoo, bisakah sehari saja kau tidak menyebalkan?

Dapat kulihat Chanwoo berjalan ke arahku. Paling dia hanya ingin mengambil bola basketnya. Tapi, kenapa dia menatapku terus?

Kini dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Kemudian Chanwoo bertanya. Sebuah pertanyaan yang membuatku membelalak seketika.

“Kau gadis yang terkena bolaku, kan?”

“Kau ingat?”

Oh, itu adalah kejadian saat kami pertama kali bertemu!

“Kau bodoh mungkin karena itu, maaf ya. ”

Sial.

Iya, aku bodoh. Bahkan sangat bodoh karena sudah dengan bodohnya menyukai cowok bodoh yang mengataiku bodoh setiap waktu.

Chanwoo berlalu dari hadapanku. Menuju ke belakang tubuhku untuk mengambil bola basket. Saat aku menoleh padanya, dia berujar sambil tersenyum miring.

“Sekarang satu lawan satu.”

“Ya! Kau tega padaku?!”

.

.

.

Hosh…hosh…hosh…

Aku menghirup oksigen banyak-banyak. Lelah sekali rasanya. Sekujur tubuhku memanas dan jantungku berdegup sangat kencang. Tidak kukira setengah jam melawan Jung Chanwoo akan sangat melelahkan. Memang sangat keterlaluan seorang pemula sepertiku harus melawan moster penyuka basket sepertinya. Seorang Jung Chanwoo memang segila ini jika sedang bermain basket.

Dengan kemeja putih yang sudah basah, dia masih melakukan shoot terakhirnya. Oh, ahjumma penjaga kantin juga tahu kalau aku pasti kalah. Kenapa pula dia masih memamerkan kemampuannya seperti itu. Dasar menyebalkan!

Saking lelahnya, aku langsung merebahkan tubuhku ke atas lantai kayu. Huahh, setidaknya aku perlu meluruskan punggungku yang sudah amat pegal ini. Tubuhku masih terasa panas dan aku masih mencoba mengatur napas. Degupan jantungku juga masih cepat layaknya saat Chanwoo menciumku. Aih, perumpamaan bodoh itu. Tapi ini menyenangkan kendati aku belum pernah berlatih basket sekeras ini.

“Rokmu tersingkap tuh.”

“MWOOO??!!”

Aku segera menegapkan tubuhku. Kembali memeriksa rok seragamku yang hanya sebatas setengah paha. Dan aku tertipu lagi. Jung Chanwoo yang telah mendudukkan diri di sebelahku tergelak.

“Yaaakk!”

Aku hendak memukul pundaknya tapi Chanwoo buru-buru merebahkan tubuhnya. Kini dia bahkan memejamkan matanya. Huh, menyebalkan!

Iseng, kutarik tangannya. Meluruskannya sejajar bahu Chanwoo guna dijadikan bantal olehku. Aku kembali merebahkan tubuhku—

.

“Awww!”

— teriakku saat kepalaku justru membentur lantai kayu. Huh, dan sialnya si Jung Chanwoo itu tertawa.

“Appo!”

Aku mengelus kepalaku yang telah dua kali bernasib malang hari ini. Dan si Jung Chanwoo itu malah melipat kedua tangannya di belakang kepala. Tidak mengacuhkan protesku.

“Aish, dasar jahat!”

Aku meringis merasakan kepalaku yang agak berdenyut. “Huh…appo…mungkin kepalaku bengkak…huhu…”

Chanwoo menoleh padaku. “Bengkak? Sini kulihat.”

Aku menelan salivaku saat Chanwoo mendekat. Dia menelungkupkan tubuhnya tepat di atas tubuhku. Tangannya bergerak menyentuh kepalaku yang berdenyut—ralat, sekarang bukan kepalaku lagi yang berdenyut, tapi hatiku.

Keningnya berkerut sembari tangannya meraba puncak kepalaku. Wajahnya sungguh dekat. Aku bisa melihat jelas alisnya yang tebal, bulu matanya yang sedikit lentik, manik cokelatnya, turun ke hidung bangirnya lalu bibirnya yang…aku menelan salivaku lagi. Oh, aku bahkan dapat melihat peluh yang mengalir dari pelipisnya. Dan aroma ini—aroma Chanwoo yang bercampur keringat—entah mengapa aku menyukainya. Tidak, aroma ini memabukkan. Hampir dua kali aku kehilangan kendali karena aroma ini. Oh, Chanwoo bisakah kau hentikan—tidak, biarkan seperti ini sebentar saja. Aku telah mencandu aroma Chanwoo.

Ugh, tapi jantungku yang belum berdetak normal kini seakan ingin melompat keluar dari tubuhku. Sial, Jung Chanwoo, kau telah berkali-kali melakukan percobaan pembunuhan padaku. Oh, mungkin aku bisa menghentikannya sekarang. Atau tidak, bahkan sekarang aku harus menahan napas karena Chanwoo baru saja meniup keningku. Oh My God!

Aku menyesal menatapnya karena kini Chanwoo juga tengah menatapku. Jung Chawoo, tolong ingatkan aku untuk bernapas!

“Bernapaslah, kau tidak mau mati konyol ‘kan?”

Patuh, aku mengehla napas. Tapi…memangnya aku masih bisa bernapas kalau Jung Chanwoo memajukan wajahnya?!

Kalau aku menahan napas saat dia meniup keningku, aku bisa apa kala napas Chanwoo menerpa wajahku karena wajahnnya yang semakin dekat?

Ini sudah terjadi berkali-kali tapi aku selalu begini. Akhirnya aku hanya bisa pasrah jantungku diserang lagi. Aku memejamkan mataku, tidak sanggup melihat Chanwoo lagi. Hanya dapat menunggu sampai—

“Chan!”

“Shan!”

Omo!”

“Wah, m-mereka tidak ada di sini.”

“Iya, kita t-tidak lihat siapa pun, sunbae.

Kajja, Jeong Yein. Kita tidak lihat apapun !”

Suara dua orang yang seketika menjadi riuh itu meredam dengan sendirinya disertai bunyi bedebam pintu gedung olahraga dan mataku terbuka sempurna. Aku dan Chanwoo sama-sama melihat ke arah pintu yang telah kembali ditutup. Tadi itu adalah…Yein dan Jungkook sunbae!

Tunggu, itu artinya mereka melihat posisi kami yang…

.

Oh, apa aku masih hidup?

.

Mataku membelalak saat Chanwoo kembali menoleh ke arahku…dan masih tetap pada posisinya.

“Ayo kita lanjut—

.

Jeduggg

.

“Akkkkk!”

Chanwoo bergerak mundur karena aku baru saja mengadu kepalanya dengan kepalaku.

Posisiku sudah tidak terkunci dan aku manfaatkan itu untuk mengambil langkah seribu.

“Balas dendam, week!”

***

Author POV

Seorang gadis bersurai cokelat yang dikuncir kuda tengah mengamati mesin penjual minuman otomatis. Sejenak dia mengetuk jari telujuknya di dagu lalu membungkam mulutnya dengan tangan kiri. Yang dilakukan gadis itu terlihat seperti…sedang berpikir? Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Perhatian siswa-siswi yang berlalu lalang tertuju pada gadis cantik itu. Ada yang menatapnya heran dan ada pula yang menatapnya takjub. Entah karena kecantikannya atau sikap anehnya. Tapi tak ada seseorang pun yang menghampirinya kendati sepertinya gadis itu butuh bantuan. Hingga akhirnya seorang pemuda bertubuh tegap melipir ke sebelahnya.

“Kau ada kesulitan, nona perebut chocolate milkshake?”

Gadis yang sedang kita bicarakan ini tak lain adalah Jung Hajin. Gadis yang telah merebut—atau mungkin tidak—jatah chocolate milkshake pemuda itu. Hajin terkejut mendapati seorang pemuda berdiri di sampingnya.

“Oh, tuan tidak dapat chocolate milkshake.

Ujarnya menimpali perkataan Junhoe. Benar, pemuda yang menghampirinya tak lain adalah Koo Junhoe. Pasangan berebut-chocolate-milkshake-nya kemarin.

M-mwo?

“Bagaimana mesin ini bekerja?” Sepertinya sifat Hajin sangat mirip dengan Chanwoo, karena dia tak mengacuhkan Junhoe melainkan langsung menanyainya.

Junhoe mengernyit. “Kau tidak pernah menggunakan mesin penjual minuman?”

Gadis itu menggeleng pelan dan menjawab ragu, “Aku pernah.”

Junhoe melongo. ‘Gadis ini dari planet mana sih? Dan kenapa aneh begitu. Dia menggeleng tapi menjawab pernah’ batin Junhoe tak habis pikir.

“Jadi, pernah atau belum?”

“Huh, tidak perlu marah-marah ‘kan?” Hajin mengerucutkan bibirnya.

“Ya! Apa aku terdengar sedang memarahimu?”

Alih-alih menjawab, Hajin malah menunjuk sekotak susu di dalam display. “Aku mau susu cokelat ini.”

“Hah?”

“Tolong ambilkan.”

Junhoe mengehela napas kasar. Tak habis pikir menghadapi gadis ini. Menghadapinya sama saja seperti menghadapi Chanwoo si manusia kulkas bin muka tembok—tapi…eum… versi manja.

“Tidak mau.”

Wae?” Gadis itu memasang wajah kecewa dengan dahi yang berkerut. Sungguh, itu lucu sekali.

Junhoe berdecak dan kembali memutar otaknya. Mencoba menemukan alasan untuk mengerjai gadis ini.

“Panggil aku sunbae.”

Mwo?

Tentu. Sedari awal Junhoe sudah gemas karena gadis itu dengan lancangnya tidak memanggilnya sunbae—melainkan ‘neo’—padahal Junhoe lebih tua dua tahun darinya.

“Katakan dulu ‘sunbae, tolong ambilkan susu cokelat’.” Junhoe mencontohkan dengan gaya yang dibuat-buat seimut mungkin.

Shireo,” jawab Hajin cepat.

Junhoe memutar bola matanya malas. “Yasudah.” Tanpa berkata apa-apa lagi dia berbalik hendak meninggalkan gadis itu. Hajin berubah gelisah. Ragu antara menuruti atau tidak. Tapi dia sangat menginginkan susu cokelat itu.

Sunbae.”

Oh, Hajin terperangkap rupanya.

Junhoe menghentikan langkahnya. Hanya berhenti. Karena dia tidak berbalik. Tetap memunggungi Hajin sambil mengulum senyum. Menunggu gadis itu menyelesaikan ucapannya.

“Tolong…ambilkan susu cokelat.”

Geure.

Jawab Junhoe cepat. Junhoe membalikkan tubuh dan berjalan ke arah mesin penjual otomatis itu. Mata Hajin tidak berkedip memerhatikan Junhoe yang memasukkan koin ke dalam lubang koin lalu menekan tombol di depan kotak susu cokelat yang diinginkan Hajin, lalu ada bunyi sesuatu yang jatuh. Semuanya terjadi begitu cepat.

“Woah.”

“Tidak usah berlebihan begitu.”

Junhoe membungkukkan tubuhnya dan tangannya terjulur ke dalam lubang di bagian bawah mesin itu. Seketika mata Hajin berbinar melihat sekotak kecil susu cokelat di genggaman Junhoe.

Junhoe mengulurkan kotak susu cokelat yang telah dibukannya itu pada Hajin. Dan gadis itu menerimanya dengan senang.

“Memang kau tidak pernah melihat mesin penjual minuman otomatis?”

Hajin menyesap susu cokelat itu dan berkemam senang. “Aku sering melihatnya di kantor agensi Eommaku. Tapi aku tidak pernah menggunakannya karena asisten yang selalu mengambilkannya untukku.”

Junhoe menganggung-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Hajin. “Oh, kau ini seorang mo—

Junhoe tak menyelesaikan ucapannya saat dilihatnya gerombolan siswa-siswi yang berbondong-bondong menuju kantin.

Bukan, kali ini bukan Hajin pusat perhatian mereka.

Dia dan Hajin sama-sama menatap heran pada siswa-siswi yang terus berlalu lalang seakan tak ada habisnya. Namun Junhoe sempat menghentikan salah satu gadis yang hendak menuju kantin.

“Hei, ada apa?”

“Halla dan Shannon bertengkar di kantin!”

Jawab gadis itu singkat lalu kembali berlari menyusul temannya.

Junhoe menoleh pada Hajin yang berdiri di sebelahnya. Hajin tentu mendengar perkataan gadis barusan karena kini wajahnya berubah khawatir. Sejenak mereka saling berpandang sebelum akhirnya ikut berlari menuju kantin.

Suasana kantin ramai, sesak, dan riuh. Semua murid melipir di tepi kantin tengah berkasak-kusuk sambil menonton dua orang gadis cantik yang tengah beradu mulut. Atau lebih tepatnya seorang gadis asia yang tengah meneriaki seorang gadis blasteran.

“Kaupikir, kau hebat. Kau menang dariku, begitu?”

Halla berkacak pinggang dan menyampirkan surai hitam berkilaunya ke belakang.

“Jangan sok!” gadis itu kembali berujar dengan intonasi yang sama sarkastisnya.

“Sudahlah, Halla. Aku hanya memintamu untuk berhenti menyebarkan rumor. Kaupikir seseorang tidak akan sakit mendengarnya?”

Setelah berujar seperti itu, Shannon berbalik hendak meninggalkan gadis itu. Dia tidak mau berurusan lebih jauh lagi dengan gadis itu dan dirinya juga sudah risih menjadi pusat perhatian seisi kantin.

Halla berdecih melihat Shannon yang hendak pergi. Bukannya diam, dia malah semakin menantang.

“Cih, Chanwoo itu hanya mempermainkanmu. Dia itu tidak ada bedanya dengan orangtuanya yang seenaknya ingin bercerai!”

.

Plaakkkk

.

Seisi kantin menjadi hening dan semua mata membelalak menatap Shannon yang baru saja mendaratkan tangannya pada pipi mulus Halla. Membuat gadis bersurai legam itu sontak terbengong dengan warna merah yang membekas di pipi. Napas Shannon tidak beraturan dan mata yang menyalak. Terlihat bahwa gadis itu telah menahan emosinya sedari tadi.

“Kau sudah keterlaluan Halla!”

Teriakan itu lolos begitu saja dari bibir pink Shannoon. Mewakili seluruh amarahnya pada gadis itu selama ini. Dia tidak akan sampai menampar gadis itu kalau hanya menyangkut dia yang dikerjai oleh gadis-gadis suruhan Halla. Tapi kenapa harus membawa-bawa keluarga Chanwoo? Terlebih Eomma Chanwoo sudah sangat baik padanya. Kalau pun rumor itu benar adanya, tidak seharusnya dia menyebarkannya seperti itu.

.

Keheningan sejemang itu berubah. Mulai terdengar kasak-kusuk di antara gadis-gadis. Ada yang mengasihani Halla, mengasihani Shannon, mengutuk Halla ataupun mencibir Shannon.

Halla mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia belum pernah merasa dipermalukan seperti ini. “Sialan kau!”

.

Shannon melihat. Junhoe pun Hajin juga melihat. Seluruh penghuni kantin melihat bagaimana tangan Halla terangkat hendak membalas perlakuan Shannon.

“HENTIKAN LEE HALLA!”

.

PLAKKK

.

Teriakan Junhoe terdengar bersamaan dengan suara yang memekakan telinga. Lagi-lagi, seluruh penghuni kantin terkejut—bahkan menutup mulutnya, tak tahu harus bereaksi apa melihat siapa sosok yang baru saja ditampar Halla.

“Chan?”

Shannon membelalak pun Halla tak terkecuali. Gadis itu langsung menutup mulutnya menyadari dirinya baru saja menampar pemuda yang disukainya, Jung Chanwoo.

Chanwoo mengeratkan rengkuhannya pada tubuh mungil Shannon dan melayangkat tatapan tajam pada Halla.

“Aku tidak masalah jika kau menghina keluargaku. Tapi jangan sentuh gadisku.”

Suara husky terdengar dalam namun menusuk. Lantas Chanwoo segera menarik Shannon keluar dari kantin.

Seluruh murid—terutama para gadis—berdecak kagum melihat sikap gentleman seorang Jung Chanwoo.

Meninggalkan Halla yang mematung, menahan malu dan amarah serta—

.

Byuuurrr

.

—harus dihadiahin mandi susu cokelat oleh Hajin.

“Siapa yang kau bilang bercerai, huh? Shut up b*tch!”

Untungnya Junhoe segera menarik Hajin sebelum perkelahian bagian kedua dimulai.

“Bersyukurlah karena itu susu cokelat!”

.

.

.

“Halla!”

“Lee Halla!”

Gadis cantik itu mengayunkan tungkainya lebih cepat dan tidak mengacuhkan panggilan yang berasal dari belakangnya. Penampilannya sungguh tak karuan. Surai legam berkilaunya kini telah lepek dengan aroma susu cokelat yang menguar. Kemeja putihnya juga telah berubah warna menjadi cokelat. Dan matanya sembab.

Namun pemuda itu jelas lebih tinggi darinya sehingga dapat dengan mudahnya menyusul langkah kaki Halla. Dia meraih pergelangan tangan Halla guna menghentikan langkah gadis itu. secepatnya, Halla menghempaskan genggaman pemuda itu kasar. Lantas menampar pipi sang pemuda.

“Jangan ganggu aku! Kenapa kau selalu saja ikut campur urusanku?!!”

Teriaknya gusar pada pemuda berwajah kebaratan itu. Halla tahu benar bahwa pemuda yang mengejarnya dan memanggil namanya sedari tadi adalah si anak baru, Vernon.

Vernon menyentuh pelan pipinya yang berubah merah. Sejenak dia merenggangkan rahangnya dan tersenyum tipis. Lalu wajahnya berubah mengeras. “Ikut campur urusanmu, huh?”

“Aku tahu kalau aku selalu bertemu denganmu saat kau sedang berkelahi, tapi kali ini aku hanya ingin mengingatkanmu kalau kau memang sudah keterlaluan, nona. Watch your mouth.”

Setelah mengatakan hal itu, Vernon berbalik meninggalkan gadis itu. Tak ada senyum manis yang biasa pemuda itu sunggingkan pada setiap orang yang ditemuinya, tak terkecuali Halla. Wajahnya berubah dingin dan tak bersahabat. Oh, apakah semua orang akan mengutuk dirinya? Perbuatannya?

Dengan gontai Halla kembali berjalan. Pikirannya kosong dan rasanya dia ingin menangis saja. Tapi kemudian dia merasakan sentuhan lembut di tangannya.

Vernon—yang kembali lagi—mengamit tangannya dan meletakkan selembar saputangan berwarna biru. Lantas kembali berbalik meninggalkannya.

“AKU TIDAK BUTUH!!”

Halla menyodorkan kembali saputangan di tangannya. Sedangkan Vernon hanya menoleh dan tersenyum miring.

“Yasudah, buang saja.”

Lalu kembali berjalan meninggalkan Halla, namun kali ini dia tidak berbalik lagi.

.

.

.

Chanwoo menarik Shannon menuju ruang kesehatan. Pikiran gadis itu kosong dan langkahnya menurut saja kemana Chanwoo membawa. Shannon masih menerka dan memutar balik kejadian barusan. Dia tidak salah dengar ‘kan? Telinganya masih normal ‘kan? Tadi itu bukan mimpi ‘kan?

Berjuta pertanyaan menggerayangi otak Shannon.

Kini mereka sudah tiba di ruang kesehatan. Chanwoo segera menutup pintu setelah dia membawa Shannon masuk.

Sejenak pemuda itu menghela napas lega. Shannon menatap Chanwoo tak berkedip. Haruskah ia tanyakan?

“Chan tadi kau bilang—

“Akh…” Pemuda itu meringis sambil memegangi pipinya yang memerah.

“Gila, dia itu gadis atau preman? Bagaimana bisa tamparannya sekuat itu?”

Racau Chanwoo sambil terus meringis dan itu sangat lucu. Lantas Shannon tertawa melihatnya.

“Ya! Kau malah tertawa?!” protesnya.

Dibalik sikap gentlemannya tadi, ternyata Chanwoo tengah menahan rasa sakit. Tentu saja Shannon tak bisa berhenti tertawa mengingatnya. Ternyata tak hanya Shannon yang tidak habis pikir kenapa gadis cantik yang dimaksud Chanwoo—Halla—itu bisa memiliki sikap layaknya preman.

“Sudah…sudah, sini kuobati.”

Shannon menghentikan tawanya dan menarik Chanwoo untuk duduk diatas ranjang ruang kesehatan. Shannon hendak beranjak menuju lemari di sudut ruangan namun tangan Chanwoo telah lebih dulu menariknya. Menyuruhnya untuk turut duduk disamping pemuda itu.

“Tidak perlu diobati.”

“Yang benar? Bukankah tadi kau kesakitan?”

“Memangnya kau punya es?”

Shannon menjawabnya dengan gelengan kepala. Dia memang tida memilki es dan sepertinya di ruang kesehatan juga tidak ada.

“Atau kubeli saja ke kantin?”

“Tidak usah. Yakin kau ingin kembali kesana?”

Pundak Shannon menyurut dan dia ingat kejadian menyebalkan tadi. Memalukan bagaimana dia ditonton seluruh penghuni kantin tadi.

“Lalu aku harus melakukan apa agar lukamu sembuh?”

Chanwoo hanya terdiam, seperti tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Shannon. Tepat pada saat Chanwoo menoleh ke arah jendela, Shannon dapat melihat jelas pipinya yang amat merah.

Shannon meringis melihatnya. Itu pasti sangat menyakitkan.

Tanpa sadar Shannon memajukan wajahnya dan mengecup pelan pipi Chanwoo. Membuat pemuda itu tersentak dan cepat-cepat menoleh. Tangan Shannon terangkat mengusap pelan pipi Chanwoo.

“Apakah kalau begini akan cepat sembuh?”

Alih-alih menjawab, lantas Chanwoo memalingkan wajahnya. Tidak berniat untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Sontak Shannon berdecih karena diacuhkan Chanwoo. Gadis itu juga turut melempar pandangannya dan netranya memperhatikan jam yang terpatri di dinding.

“Ah, aku baru ingat. Setelah ini aku ada ujian!”

“Kau masih bisa belajar setelah kejadian tadi?” tanya Chanwoo heran.

Shannon menoleh padanya dengan kening berkerut. “Wae? Bagaimana pun aku kan seorang pelajar, jadi tugasku adalah belajar.”

“Yasudah sana, aku mau tidur.” Secepatnya Chanwoo merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.

“Ish, kau membolos lagi?”

Tanya Shannon yang hanya dibalas dehaman Chanwoo dari balik selimut.

“Yasudah kalau begitu, annyeong, cepat sembuh ya!”

Lalu Shannon beranjak keluar dari ruang kesehatan.

.

.

.

Kini duduklah Hajin dan Junhoe di bangku taman. Sang pemuda tengah asik meneguk cola sedangkan sang gadis tengah meracau.

“Huh, dia pikir siapa dia, hah?”

“Lee Halla.”

“Oh, jadi itu namanya. Cih, namanya cantik…tapi tetap saja dia menyebalkan.”

“Itu pasti karena Chanwoo?”

Mendengar nama itu, sontak saja Hajin menoleh ke arah Junhoe. “Oppa? Ada apa dengan Oppaku?”

Junhoe meneguk colanya lalu menjawab. “Lee Halla itu menyukai Chanwoo makanya dia bersikap seperti itu.”

“Cih, pantas saja. Aku tahu kok kalau Oppaku yang menyebalkan itu disukai banyak gadis. Itu sudah sering terjadi sejak dia SMP. Huh, tapi aku tidak tahu kalau ada yang semenyebalkan itu. Untung saja Shannon eonnie yang menjadi pacar Oppa.”

Sekali lagi Junhoe meneguk colanya dan mengusap tepian kalengnya. Wajahnya menengadah dan matanya menerawang. “Iya…seandainya begitu…” ujarnya lirih.

“Hm?” Hajin menoleh karena dia merasa pemuda itu bicara sesuatu tapi dia tidak dapat mendengarnya dengan jelas.

Junhoe menggeleng pelan. Jangan sampai dia kelepasan dan memberitahu Hajin kalau mereka hanya berpura-pura. Junhoe kembali meneguk colanya seraya berujar, “Sudahlah Hajin, jangan hiraukan gadis menyeramkan itu.”

Hajin mengepalkan tangannya dan mengangguk setuju. “Iya, kau benar, sunbae. Eh, tunggu dulu…kau tahu namaku?”

Seketika Junhoe terperanjat. Aih, kenapa dia malah kelepasan memanggil nama gadis itu? Junhoe malu untuk mengakui kalau diam-diam dia mencari artikel gadis itu.

Gugup, Junhoe meneguk colanya hingga tandas dan melemparnya ke tempat sampah. “Sudahlah, sana masuk kelasmu,” ujar Junhoe dan mendorong pelan gadis itu menjauh.

“Ini ‘kan jam istirahat,” protes Hajin. Gadis itu kembali menoleh tetapi Junhoe sudah tidak ada. Junhoe telah lebih dulu jalan mendahuluinya.

“Ya! Sunbae, tunggu!”

Author POV end

***

Aku menutup mulutku yang menguap lebar. Ahhh…pagi yang melelahkan. Rasanya aku tidak cukup tidur tadi malam karena harus membuat rangkuman sejarah. Sial karena buku catatanku tertinggal di dalam loker sehingga aku harus mencatat ulang semuanya. Catatanku belum lengkap sepenuhnya karena mataku yang tidak sanggup lagi begadang semalam. Yah, aku hanya perlu menyalin sedikit lagi dari buku catatanku.

Begitu memasuki koridor, aku langsung menyambangi salah satu loker dengan stiker ‘SW’ di pintunya. Dengan malas aku membuka pintu lokerku. Dan pemandangan yang tersaji di hadapanku membuat kantukku hilang seketika.

“KEMANA BARANG-BARANGKU?!”

Mataku sudah biasa kalau melihat pemandangan tumpukkan kertas—yang lebih pantas disebut sampah—memenuhi lokerku, tapi kali ini? Bahkan lokerku tampak bersih tak bersisa. Ingat itu, tak bersisa! Tak ada satu pun barangku yang tergeletak disana. Oh, apakah ini karena insiden kemarin? Apa karena aku menampar Halla jadi mereka mulai mengerjaiku lagi?

“Barang-barangmu di lokerku.”

Seseorang yang berdiri dua loker dariku itu bersuara. Membuatku sontak menoleh dengan kening berkerut.

“Kenapa ada di lokermu?” tanyaku heran.

Pemuda yang tak lain adalah Chanwoo berjalan mendekatiku.

“Sudah kau tidak usah menggunakan loker itu lagi.”

Chanwoo menutup pintu lokerku kasar. “Biarkan saja loker itu menjadi tempat sampah,” dan menarikku menuju lokernya.

Ada yang berbeda dari lokernya, yaitu stiker alphabet bertuliskan ‘CANON’.

“Pakai saja loker ini, barangku tidak terlalu banyak.”

Chanwoo membuka pintu lokernya. Aku terhenyak saat mendapati barang-barangku yang telah tersusun di sana. Tidak kusangka Chanwoo—

“Karena pasti susah ‘kan membersihkan lokermu, ” ujarnya seraya menunjukkan senyum isengnya.

Yah, namanya juga Jung Chanwoo.

“Sudah ya, aku ke kelas duluan.”

Chanwoo kembali menutup lokernya. Sejenak dia membetulkan letak tali ranselnya yang tersampir di bahu lantas berbalik dan berjalan menaiki tangga.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Oh, iya! Aku kan ingin mengambil buku catatan sejarah.

Aku hendak membuka loker Chanwoo saat pemandangan stiker alphabet itu mengundang rasa penasaranku. Tentu aku patut heran, karena stiker ini sangat bukan-Chanwoo-sekali.

CANON? Apa artinya?

Itu terdengar seperti merk kamera.

.

Tunggu.

.

Chanwoo Shannon?

***

“Ada yang bernama Shannon Williams?”

Aku sedang semangat-semangatnya menyalin catatan sejarah tatkala dua orang murid laki-laki yang sepertinya adalah seorang sunbae memasuki kelasku dan meneriakkan namaku. Sontak membuat seluruh pasang mata penghuni kelas tertuju padaku. Hingga akhirnya aku terpaksa menengadah dan menjawab, “Iya, saya Shannon Williams.”

“Bisa ikut kami sekarang?” tanya salah satu sunbae bertubuh jangkung dan berlesung pipi.

“Iya.”

Terpaksa aku harus meninggalkan buku catatanku dan berjalan mengikuti mereka. Dan ternyata mereka membawaku menuju ruang organisasi sekolah. Kudapati ada beberapa murid yang telah duduk di sana. Dari beberapa wajah, kuketahui sepertinya mereka adalah sunbae. Oh, ada Sujeong juga!

“Shannon-ah.”

Ternyata Sujeong juga melihatku sehingga kini dia berjalan menghampiriku. “Kau duduk saja di sana,” ujar Sujeong sambil menunjuk salah satu meja yang telah terisi seorang pemuda. Oh, bodoh aku tidak menyadari Sujeong yang mengedipkan sebelah matanya padaku. Iya, pemuda itu adalah Chanwoo.

“Kau dipanggil ke sini juga?” tanyaku setelah mendudukkan diri di sampingnya. Chanwoo hanya berdeham menanggapi pertanyaanku. Iya, memang pertanyaanku bodoh juga sih. Untuk apa Chanwoo berada di sini kalau bukan karena dipanggil. Kulihat Chanwoo memandang keluar jendela, tak menaruh minat sama sekali dengan pertemuan ini.

“Baiklah teman-teman, sehubungan dengan festival tahunan yang akan diadakan akhir bulan ini, kami meminta partisipasi dari teman-teman sebagai penampil.”

Mwo? Penampil? Jadi itu alasannya aku—atau mungkin juga kami dipanggil ke sini.

Salah seorang sunbae yang tadi turut menjemputku maju ke depan.

“Perkenalkan namaku Kim Mingyu,” ujar sunbae berlesung pipi itu.

Jadi itu yang namanya Kim Mingyu? Wah, pacar Yeeun tampan juga.

“Disini aku yang mengurus penampilan beatbox dan rap. Adakah yang berniat untuk mengisi acara sebagai penampil beatbox dan rap?”

Tanyanya yang disambut acungan tangan dari salah seorang siswa di kelas satu. Selanjutnya pemuda itu langsung melipir untuk berdiskusi lebih lanjut dengan Mingyu sunbae.

Kali ini seorang gadis cantik—yang sepertinya juga seorang sunbae—maju ke depan.

“Perkenalkan namaku Yuju. Disini aku yang mengurus penampilan dance. Adakah yang berniat untuk mengisi acara sebagai penampil dance?” tanya sunbae itu yang langsung ditanggapi dengan acungan tangan dari tujuh orang gadis. Semua gadis yang mengacungkan tangan itu tampak cantik-cantik dan termasuk murid-murid populer.

Ah, aku baru sadar kalau murid-murid yang dikumpulkan disini termasuk murid populer. Bahkan Kim Yeri—salah satu murid populer di kelas satu—ada disini dan turut mengacungkan tangan sebagai penampil dance. Di belakangnya terdapat Jane, yang kudengar adalah murid pindahan dari New York. Dan si sebelahnya—oh! Aku baru menyadari kalau itu adalah Hajin. Hajin juga ada, SinB juga, Dino, Yoojung, Sohyun dan kalau di ingat-ingat…terdapat Chanwoo juga. Ah, ini sih benar-benar anak populer semua. Lalu kenapa aku juga ada di sini?

Seorang pemuda yang lebih pendek dan turut ikut menjemputku tadi, maju ke depan.

“Perkenalkan namaku Yoo Seungwoo. Disini aku yang mengurus acara puncak dari festival tahunan ini, yaitu Immortal Song. Saat pertunjukan Immortal Song berlangsung, akan hadir orangtua murid yang turut menonton sebagai tamu undangan. Apakah di sini ada yang memiliki kualitas vokal bagus dan bersedia untuk mengisi acara puncak?”

Hening.

Tak ada murid-murid yang mengacungkan tangan dengan antusias seperti tadi. Hanya seluruh pasang mata yang menatap lurus pada Seungwoo sunbae yang tengah menirukan dengan mengangkat tangannya.

“Apakah benar tidak ada?”

“Maaf sunbae, tapi aku tidak bisa menyanyi, ” jawab salah satu murid yang kuketahui bernama Kim Minjung. Yah, tidak membantu sih. Tapi setidaknya dia sudah menjawab.

“Kenapa tidak Jung Chanwoo saja?” celetuk SinB tiba-tiba. Membuat seluruh pasang mata sontak menoleh pada Chanwoo yang tengah memandang keluar jendela. Aku menyikut pelan lengan Chanwoo, berusaha menyadarkannya kalau dia sedang diperhatikan.

“Bagimana Chanwoo?” tanya Seungwoo sunbae.

“Iya, Chanwoo. Orang tuamu ‘kan artis. Kau juga pasti pandai menyanyi ‘kan?” terdengar lagi celetukan seorang gadis yang aku tak dapat melihatnya karena sepertinya dia duduk agak jauh di belakangku.

Alasan macam apa itu? Konyol. Apa hubungannya artis dengan bernyanyi?

Kulirik Chanwoo, dia tak bergemin dan hanya menatap lurus-lurus.

Huh, mereka hanya akan mempersulit Chanwoo saja.

.

“AKU!”

.

Sontak semua pasang mata menuju kepadaku.

“Biar aku saja yang menyanyi.”

“Kau serius Shan?” tanya Sujeong eonnie meyakinkan. Terlihat ekspresi terkejut di wajahnya.

“Iya,” jawabku mantap.

.

.

.

“Baiklah, sekarang kita memerlukan empat sisiwi dan empat siswa untuk penari latar. Siapa yang berminat?” Suara Sujeong sunbae memulai diskusi kali ini. Terlihat Yein, Mingyu sunbae, Jungkook sunbae, June, Hajin, dan Yeeun mengacungkan tangan.

“Baiklah, kita sudah punya empat penari latar perempuan termasuk aku dan…eum, tiga penari latar laki-laki?” ujar Sujeong eonnie seraya menghitung kembali orang yang mengacungkan tangan.

“Kurang satu penari latar laki-laki?” tanya Jungkook sunbae tanpa menurunkan acungan tangannya. Dia kembali memperhatikan dan mendapati bahwa semuanya telah mengacungkan tangan, kecuali…

“Chanwoo?”

Semua mata tertuju pada Chanwoo yang tengah menggunakan headset. Menyadari dirinya diperhatikan, Chanwoo melepas salah satu headsetnya dan berujar, “Apa?”

“Mustahil kalau sampai Chanwoo mau ikut,” bisik Junhoe pada Jungkook. Tapi kamu semua masih dapat mendengarnya dengan jelas.

“Iya, kau benar. Lagipula memangnya si manusia es itu bisa menari?” Jungkook turut menimpali dengan kesan berbisik pula. “Paling nanti gaya batu.”

“Gaya batu? BWAHAHAHAHAHAHAHA.” Dua sunbae idiot itu mulai tergelak. Sungguh, Jungkook sunbae yang tamoak keren, berubah drastis jika sudah berkumpul dengan June.

Oh, apakah mereka memang selalu begini?

“Sudah, berhenti bisik-bisik seperti ibu-ibu! Junhoe! Jungkook!” teriak Sujeong eonnie berusaha menertibkan keadaan.

“Ya, Jung Chanwoo! Kami kekurangan satu penari latar untuk Shannon, kau berminat tidak?”

“Tidak,” sahut Chanwoo cepat.

M-mwo?”

Oh, Sujeong eonnie melongo mendengar jawaban spontan dari Chanwoo. Kalau itu Sujeong eonnie, wajar saja kalau dia terkejut.

“Ya! Neo, jinja

Secepatnya aku mencegahnya sebelum Sujeong eonnie mengamuk. Aku menghela napas pelan. Kalau aku sih sudah amat hapal dengan perangai Jung Chanwoo.

“Aku ikut.”

Di tengah keriuhan itu, terdengar suara seorang pemuda. Sontak saja membuat kami menoleh ke arah pintu, dimana suara itu berasa. Dan berdiri lah seorang pemuda berwajah kebaratan. Vernon Choi.

“Aku boleh ikut ‘kan?”

“Tentu saja boleh!” ujar June antusias. Sedang anak lainnya serempak bertepuk tangan.

Tapi aneh. Aku melirik Chanwoo.

.

Entah kenapa aku merasa Chanwoo tidak menyukai keputusan itu.

.

TBC

[Next]

[Prev]

PhotoGrid_1440075679910

.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s