Mr.Chu [Chapter 7]

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

Previous :

1 | 2 | 3 | 4| 5 | 6

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

.

.

.

Normally, you act like you’re not there, that you don’t care

But whenever I’m going through hard times

You’re there for me

(Shannon Williams – Why Why)

.

.

.

Author POV

Pemuda bertubuh jangkung itu terus berjalan tanpa menoleh sekali pun. Tinggallah seorang gadis yang mengayunkan tungkai mengikutinya dari belakang. Sesampainya di area parkiran siswa, pemuda itu semakin mempercepat langkahnya menuju sebuah motor besar berwarna hitam. Mengambil helm yang bertengger di stang motor besarnya lalu menoleh ke belakang. Mendapati seorang gadis yang masih merajut langkah ke arahnya sambil menunduk. Menyadari bahwa dia baru saja meninggalkan gadis itu, Jungkook menggaruk tengkuknya canggung.

“Dimana rumahmu, Yein-ssi?” ujarnya berusaha memulai konversasi begitu Yein telah sampai di hadapannya. Membuat gadis itu mengangkat wajahnya dan menyahut tak kalah canggung. “Eoh? Eum…r-rumahku di Insandong.

Entah karena Jungkook adalah sunbaenya ataukah dadanya yang telah berdentum hebat karena berada begitu dekat. Dibalik raut canggung Yein tersimpan beribu rutukan. Biasanya gadis itu sangat pandai menyembunyikan perasaannya di hadapan pemuda itu, tapi kenapa hari ini dia bahkan tidak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri. Entah dia harus berterima kasih atau mengutuk Shannon karena telah membuatnya terjebak di situasi ini.

Pikiran yang berkecamuk di benak Yein harus terganggu dengan pergerakan Jungkook yang menyodorkan sebuah helm kepadanya. Membuatnya mau tak mau menerima dan balas menatap pemuda yang mulai menaiki motornya. Segera setelah Jungkook menyalakan motornya, kepalanya memberi isyarat agar Yein turut naik ke atas motornya. Yein mengangguk sekilas dan mengikuti perintah Jungkook. Tanpa diperintah, Jungkook segera memalingkan pandangannya menyadari gadis itu memakai rok seragam yang hanya sebatas setengah paha. Yein menyamankan posisinya dan mengangguk saat Jungkook menanyakan apakah dia sudah naik dengan pas.

Jungkook menurunkan kaca helmnya lalu melajukan motornya cepat melewati gerbang sekolah. Saat memasuki jalan raya kecepatan motornya berubah kostan. Netra pemuda itu menatap jalanan namun pikirannya melayang entah kemana. Memikirkan sesuatu yang telah berkecamuk sedari ia berjalan ke parkiran bersama gadis itu. Tiba-tiba sebuah restoran mungil yang berada di bahu jalan menarik perhatiannya. Otaknya menimbang sebelum akhirnya melemparkan tanya pada gadis yang sedari tadi terdiam di belakangnya.

“Eum…Yein-ssi, aku berubah pikiran. Bagaimana kalau kita tidak langsung pulang?”

Seorang Jeong Yein perlu mendekatkan kepalanya untuk mendengar serentetan kata dari pemuda itu karena helm yang menutup akses indera pendengarannya. Namun, belum sempat mencerna perkataan Jungkook lebih jelas, pemuda itu telah memutar balikkan motornya dan berbelok ke sebuah restoran pinggir jalan. Jungkook memarkirkan motornya lalu membuka helm hitamnya. Menyugar rambutnya sekilas sebelum akhirnya menoleh ke arah gadis yang menatapnya heran dari belakang.

“Aku lapar…dan aku juga tidak mau makan sendirian di hari ulang tahunku,” ujar Jungkook yang kini dapat di dengarnya dengan jelas. Mata Yein membelalak. Ulang tahun? Kenapa dia tidak tahu kalau pemuda itu berulang tahun hari ini? Yein turut melepaskan helmnya, hendak menuntut penjelasan. Namun, pemuda itu telah lebih dulu kembali bersuara.

“Kau keberatan, jika aku minta kautemani?” Kalimat yang bagai delusi menyapa gendang telinga Jeong Yein, apalagi disertai senyum menawan di parasnya.

Yein menggeleng kuat sampai kuncir kudanya berayun cepat.

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 7 ———-

.

.

.

“Jungkook sunbae!”

Pemuda yang baru saja akan mengenakan helm-nya menoleh ke arah Shannon. Dan beruntung gadis itu tidak salah mengenali karena pemuda itu memang Jungkook, sunbaenya.

“Nugu—ah, Chanwoo yeojachingu?” tanya Jungkook sunbae yang Shannon jawab dengan anggukkan. “Ada apa?” tanyanya lagi.

“Sunbae kudengar kau suka bermain tenis?” tanya Shannon tanpa basa-basi.

Sejenak Jungkook sunbae mengernyit. “Iya, kenapa Shannon-ssi?”

“Begini, sunbae…

.

…apa sunbae keberatan kalau masuk ke klub tenis dan menggantikan Chanwoo?”

Sejurus pertanyaan yang Shannon layangkan, kening pemuda itu berkerut. “Klub tenis? Menggantikan Chanwoo? Memangnya Chanwoo kenapa?”

Aniya, Chanwoo tidak apa-apa Sunbae. Yang kumaksud adalah,” Shannon menghentikan ucapannya. Sedikit menimbang apakah dia harus mengatakannya atau tidak.

Jungkook menunggunya dengan tidak sabar, penasaran akan kelanjutan ucapan gadis itu.

“Ada apa Shan—”

“Menggantikan Chanwoo berpasangan dengan Yein,” ujar Shannon cepat memotong perkataan Jungkook. Membuat netra Jungkook sontak membelalak. Belum sempat pemuda itu mengeluarkan suara, Shannon kembali bicara.

“Maaf, Sunbae. Aku tahu ini tidak sopan…tapi…eum…maaf Sunbae…aku tahu kalau sunbae…

.

…sunbae menyukai Yein ‘kan?”

Bagai disambar petir di siang bolong, seorang Jeon Jungkook harus kehilangan image ‘Sunbae Keren’ di depan hoobaenya yang tak lain adalah sahabat dekat gadis yang disukainya.

“B-bagaimana kau b-bisa tahu?”tanya Jungkook tak percaya.

Merasa bersalah, Shannon turut menundukkan kepalanya. “Maaf Sunbae, aku mengetahuinya dari Chanwoo.”

‘Dasar bocah sialan! Awas kau Jung Chanwoo!!’ rutuk Jungkook.

Merasa tak ada tanggapan, Shannon kembali mengangkat wajahnya dan melayangkan pertanyaan yang tak dapat lagi Jungkook elak. “Jadi bagaimana Sunbae? Kau mau ‘kan? Aku janji tidak akan mengatakannya pada Yein kalau kalau Sunbae mau menggantikan Chanwoo.”

 

***

 

Jungkook meneguk tandas air mineralnya. Udara panas yang berhembus membuat suhu tubuhnya turut memanas. Tapi tak ada lagi yang membuatnya lebih panas daripada kalah telak dengan Jung Chanwoo di pertandingan musim panas. Tampaknya kali ini dia benar-benar akan mengutuk pemuda yang lebih muda satu tahun darinya itu. Tidak hanya membocorkan perihal rasa sukanya pada Yein, Chanwoo juga telah membuatnya terlihat tidak keren dengan kalah telak di hadapan gadis yang dia sukai.

“Jung!”

Panjang umur rupanya!

‘Huh, untuk apa pula bocah tengik itu panjang umur’ rutuk Jungkook lagi.

Dan benar saja, tanpa berdosanya Jung Chanwoo menghampiri Jungkook dan merebut air mineral ditangan Jungkook yang ternyata belum sepenuhnya tandas. Setelah meneguk sisa-sisa air mineral itu, Chanwoo mengembalikannya—lagi-lagi tanpa dosa—pada si empunya. Jungkook hanya menatap tak percaya melihat tingkahnya.

“Oi, Jung Chanwoo,” Jungkook akhirnya bersuara yang hanya ditanggapi dehaman oleh si empunya nama. Kali ini pemuda itu merebut handuk yang belum sempat Jungkook gunakan. Mencemarinya dengan keringat yang menetes di tengkuknya.

Oh, Jungkook bingung kenapa mau berteman dengan bocah tengik sepertinya.

“YA JUNG CHANWOO!” pekik Jungkook akhirnya. Ingin rasanya dia mengadu raket tenisnya dengan wajah Chanwoo kala pemuda itu hanya menoleh padanya dan berujar, “wae?”

“YA! KAU MASIH BISA BILANG ‘WAE’? SETELAH KA—” Jungkook tak melanjutkan ucapannya dan beralih merangkul Chanwoo yang lebih tinggi darinya.

“—ya bocah tengik. Bisa-bisanya kau membocorkan kalau aku menyukai Yein pada pacarmu,” Jungkook berujar dengan suara sepelan mungkin dan jarak bibir yang sedekat mungkin dengan daun telinga Chanwoo. Dia berbisik layaknya sedang membicarakan rahasia besar. Tidak aneh, toh yang Jungkook katakan memang rahasia besar baginya.

Ekspresi Chanwoo tak berubah kendati emosi Jungkook sudah di ubun-ubun. Tapi bersyukurlah Chanwoo masih nalar untuk tidak mengatakan kalau gadis yang dibicarakan Jungkook juga turut menyukainya. Justru sebuah ide baru saja melintas di otaknya.

“Tenanglah, Shannon tidak akan membocorkannya,” ujarnya berbeda dengan kenyataan yang dia katakan pada Shannon.

Mwo? Mana mungkin! Shannon itu teman dekatnya, Chan!! TEMAN DEKAT!!!” Jungkook masih menyangkal.

“Tenang saja, aku percaya pada Shannon,” jawab Chanwoo tenang. Ekspresi yakin terpancar jelas dari wajahnya.

Ini konyol, tapi entah kenapa melihat ekspresi Chanwoo, Jungkook sedikit percaya. Ingat itu, sedikit! Dalam hati dia malah bertanya-tanya. Sikap Chanwoo sudah banyak berubah semenjak berpacaran dengan Shannon. Apakah orang akan seperti itu bila memiliki pacar? Entahlah.

Kembali ke realita, Chanwoo mengatakan sesuatu yang membuat Jungkook berpikir dua kali atas usahanya mendekati Yein selama ini.

“Lagipula, bukankah itu bagus? Kau jadi bisa lebih dekat dengannya. Sekali-kali ajaklah dia keluar, apalagi ini hari ulang tahunmu. Jangan hanya diam dan berpura-pura membaca setiap hari di perpustakaan.”

“MAKSUDMU?! MANA BISA AKU MELAKUKANNYA?!!”

“Yasudah kalau begitu mengantar pulang saja.”

“A-aku juga tidak bisa!!”

“Lalu, mau sampai kapan? Cukup terakhir kali aku harus pulang naik bis demi meminjamkan motorku pada Tae hyung untuk mengantar Yein.”

“Tapi kau juga senang ‘kan dapat pulang bersama pacarmu.”

“SUDAH LAKUKAN SAJA!”

“KENAPA JADI KAU YANG GALAK?!”

.

.

.

“Yein-ah!”

Shannon berlari kecil menuju Yein yang baru saja keluar dari ruang ganti. Tak jauh dari mereka berdua, berdirilah dua orang pemuda yang tak lain adalah Jungkook dan Chanwoo.

Sejenak Yein memperhatikan kedua pemuda di belakang Shannon saat gadis itu menghampirinya. “Kau sudah mau pulang?” tanya Yein yang dijawab anggukan oleh Shannon. Entah karena lelah atau dia masih gugup, Yein tidak menyadari adanya senyum penuh arti di wajah Shannon. Yein mengangguk lemah dan kembali berujar, “Yasudah kalau begitu. Annyeong!”

“Kau mau kemana?” tanya Shannon menghentikan langkah Yein yang hendak berbalik pergi.

“Tentu saja pulang.”

Sejurus dengan jawaban yang baru saja terlontar dari mulut Jeong Yein, Shannon memutar tubuhnya dan menatap Jungkook. Seakan tengah memberi isyarat pada pemuda itu.

Jungkook yang sepertinya kurang persiapan, hanya membalas tatapan Shannon tak mengerti. Barulah saat Chanwoo menyikut pelan perut Jungkook dan—dengan ekspresi datarnya—melemparkan tatapan—mengisyaratkan pula—pada pemuda itu, Jungkook mengangguk mengerti.

“Jeong Yein.”

Yein yang sedari tadi menatap Shannon heran, terkejut akan panggilan tiba-tiba Jungkook. Dengan berusaha sebiasa mungkin, Jungkook kembali berujar.

“Ini sudah sore. Kalau kau tak keberatan, aku akan mengantarmu pulang.”

Oh, seorang Yein sepenuhnya terbengong sekarang. Sedangkan Shannon cekikikan dalam diam. Jadilah Shannon yang menyahuti perkataan sunbaenya barusan.

“Woah, tentu saja tidak keberatan. Justru bagus kalau begitu. Aku juga khawatir karena Yein selalu pulang sendirian padahal ini sudah sangat sore. Tidak apa ‘kan, Yein-ah?”

Shannon menyenggol lengan Yein pelan, menyadarkan gadis itu dari keterkejutannya. “N-ne, kalau tidak merepotkan sunbae.

Jungkook menggaruk tengkuknya pelan lalu tersenyum kaku. “Tentu saja tidak. Kalau begitu, k-kajja!” Setelah berkata seperti itu, Jungkook berjalan mendahului Yein setelah sebelumnya mengisyaratkan agar gadis itu mengikutinya. Yein mengangguk pelan dan mulai mengikutinya.

“Yein-ah annyeong!” teriak Shannon dari belakang.

N-ne, annyeong.

Shannon dan Chanwoo masih terdiam memperhatikan punggung mereka sampai akhirnya kedua orang itu menghilang masuk ke area parkiran. Shannon tidak tahu harus tersenyum seberapa lebar lagi. Dia sangat senang hari ini. Semua rencananya berhasil. Dia dapat berpasangan dengan Chanwoo dan Yein sukses berpasangan dengan Jungkook. Ditambah dia juga berhasil membuat Yein pulang bersama Jungkook.

Sepertinya seorang Jeong Yein harus mentraktirnya setelah ini!

Shannon melirik pemuda di sampingnya dari ekor matanya. Lagipula, tak ada yang membuatnya lebih senang lagi dibanding saat Chanwoo juga turut membantunya membujuk Jungkook untuk mengantar Yein pulang. Ah, dia jadi ingat kejadian tadi. Yeah, itu benar-benar memalukan sekaligus membuatnya senang. Semua anggota tenis pasti melihatnya. Beruntung tidak ada kumpulan penggosip di dalam klub tenis sehingga dia tidak perlu mendapatkan tatapan mencibir seperti kemarin.

Tapi dia juga tak habis pikir. Entah karena pelukan darinya atau seorang Jung Chanwoo memang jago. Karena setelah itu Chanwoo berhasil mengalahkan Jungkook dengan skor 5-15. Benar-benar kalah telak.

‘Gomawo Jung Chanwoo. Berkat kau kita bisa menang’ Shannon memuji dalam hati.

Oh, haruskah Shannon memberinya hadiah?

Ehm, mungkin sebuah kecupan di pipi cukup.

Maka secara perlahan namun pasti dia mendekatkan wajahnya pada Chanwoo yang berdiri di sampingnya. Beruntung, Chanwoo sedang melihat ke arah lain. Dengan begini dia akan lebih mudah menciumnya. Shannon semakin mendekatkan wajahnya dan kini tinggal sedikit lagi maka bibirnya akan mendarat manis di pipi tembam pemuda itu.

Iya, seharusnya sih begitu. Tapi sepertinya Shannon harus menyesali tindakannya. Karena apa?

Shannon tidak tahu kalau Chanwoo akan memutar kepalanya saat bibir Shannon mendarat ‘kan?

Menciptakan rutukan di dalam hati Shannon. Disusul detakan-detakan yang berasal dari jantungnya. Detakan yang sebegitu seringnya terjadi saat momen ini datang, tapi Shannon tak kunjung menghapal detakannya juga karena saking rumitnya. Saat ini, detik ini, bukannya pipi mulus Chanwoo yang dirasakan bibir Shannon. Melainkan sesuatu yang basah dan hangat yang sudah hampir Shannon hapal bagaimana rasanya saat bersatu dengan bibirnya.

Shannon terkejut pun matanya membelalak. Netranya tepat bersirobok dengan kepunyaan Chanwoo. Ini adalah pertama kalinya Shannon memandang jauh memasuki manik cokelat Chanwoo karena dia lebih sering memejamkan mata saat Chanwoo menciumnya. Sehingga dia tidak tahu, kalau iris Chanwoo dapat membiusnya seperti ini. Alih-alih saling melepas, mereka malah saling mendekat. Apalagi saat tangan Chanwoo terangkat memegang tengkuk Shannon, membawa kepala gadis itu semakin mendekat. Mengikis semua jarak yang ada. Angin musim panas yang telah bertransformasi menjadi dingin, berhembus menemani momen mereka. Membuat keduanya memejamkan mata perlahan. Menghilangkan latar langit yang telah menjingga dari pandangan.

Tak ada pagutan. Tak ada ciuman yang menuntut seperti tempo hari di dalam kamar Chanwoo. Hanya dua belah bibir yang menyatu sempurna. Keduanya hanya terdiam. Membiarkan waktu yang sebenarnya singkat, berjalan lebih lambat. Mengecewakan bagi kalian, tapi nyatanya kedua insan itu kini melepaskan diri. Chanwoo memundurkan wajahnya perlahan, benar-benar perlahan, sampai Shannon masih dapat merasakan hembusan napas Chanwoo yang sedari tadi tertahan. Benci untuk mengakui, tapi ya begitulah manusia. Mereka memiliki ego, seperti yang saat ini menghampiri Chanwoo. Pemuda itu langsung melepaskan pegangannya di tengkuk Shannon dan melangkah mundur begitu tersadar.

Sejenak mereka berdiri canggung dan saling memalingkan muka. Sibuk dengan pikiran, mencerna apa yang baru saja terjadi barusan. Perasaan hangat melingkupi mereka tadi sehingga tak sadar betapa dinginnya angin yang berhembus. Dan kini Shannon mulai memeluk dirinya sendiri. Benar yang dikatakan Jungkook, Chanwoo sudah banyak berubah. Naluri seorang ‘namjachingu’ membuatnya refleks melepas jaket biru dongker yang pas membalut tubuhnya. Lalu menyampirkannya di kedua pundak gadis yang jauh lebih mungil darinya, kemudian berujar.

Kajja, kita pulang.”

***

Seorang gadis cantik berjalan sendirian di koridor, kantin adalah destinasinya. Seragam musim panas melekat pas dengan postur tubuhnya yang ramping. Bandana berwarna biru langit mempermanis surai cokelatnya yang sedikit bergelombang. Membuat siapa pun pemuda yang berada di dekatnya tak mampu memalingkan pandangan barang sejengkal. Berusaha menikmati pemandangan bidadari yang baru saja hadir di sekolah mereka.

Tak berbeda dengan keadaan di koridor, di kantin pun sama. Semua pasang mata langsung tertuju pada gadis berumur 16 tahun itu begitu dia memasuki kantin. Sudah terbiasa dengan situasi itu membuat Hajin tak acuh dan kembali melangkah menuju counter minuman.

Chocolate milkshake satu, Ahjumma,” ujarnya begitu sampai di depan counter. Ahjumma itu tersenyum ramah lalu menyahuti, “ne agashi.” Lalu bergegas ke pantry untuk membuatkan pesanan Hajin. Sambil menunggu, Hajin membaca daftar menu dari papan besar yang tergantung di atasnya.

Neo.

Tiba-tiba suara seorang pemuda menginterupsinya. Membuat Hajin sontak menoleh ke sumber suara yang yang tak lain berasal dari belakangnya. “Bisakah kau minggir sedikit?” ujar pemuda itu begitu Hajin menoleh.

N-ne, maaf.” Hajin menggesar tubuhnya ke samping. Pemuda yang baru datang itu langsung mengisi spasi yang ditinggalkan Hajin, terdiam menunggu Ahjumma yang sedang membuatkan pesanan Hajin untuk memesan. Tak lama Ahjumma tadi kembali dan memberitahu Hajin untuk menunggu sebentar yang dia tanggapi gadis itu dengan senyuman. Kemudian Ahjumma itu beralih pada pemuda yang berdiri di sampingnya. Tadinya Hajin tak menaruh minat sama sekali sampai pemuda itu menyebutkan pesanannya.

Chocolate milkshake satu.”

Oh, jadi pesanan mereka sama. Diam-diam Hajin mencuri pandang pada pemuda itu. Postur tubuh tinggi—tapi tak setinggi Oppanya—dan garis wajah yang tegas. Kenapa tiba-tiba wajah pemuda itu terasa familiar baginya? Dan suara pemuda itu, sepertinya Hajin pernah mendengar sebelumnya. Hajin berusaha menggali ingatannya dan akhirnya dia ingat.

Chogiyo.” Pemuda yang sedang mengamati layar ponselnya—namun diam-diam menyadari kalau diperhatikan gadis itu—menoleh. Wajahnya menunjukkan ekspresi heran, kemudian Hajin kembali berujar. “Kau tidak mengenalku?”

Kening pemuda itu malah semakin berkerut sekarang. Tapi tak perlu memutar otak lebih lama dia langsung menyadarinya. Gadis itu adalah gadis tempo hari yang menjadi penyebab Shannon murung. Dan sesuatu mengganjal di pikiran Junhoe. Kalau diperhatikan dari seragamnya, gadis itu adalah murid di sekolahnya. Kenapa bisa gadis itu kini bersekolah disini?

“Kau pemuda yang waktu itu ‘kan? Yang mencurigaiku pengganggu hubungan Shannon eonnie dan Chanwoo oppa?”

Oppa?!’. Junhoe tak mengerti, apa yang sebenarnya gadis ini bicarakan? Apa jangan-jangan gadis ini adalah adiknya Chanwoo? Mwo?! Kalau benar begitu…berarti dia telah salah mengira?

“Kau benar-benar tak mengenalku?!” Melihat pemuda itu hanya diam saja, Hajin semakin maju mendesak. Tentu saja gadis itu heran. Dia telah memaksa Eommanya untuk mengeluarkan artikel tentang keluarga mereka agar semua orang tahu kalau dia adalah adiknya Jung Chanwoo. Artikel itu langsung booming hanya dalam satu jam setelah dirilis. Kalau pemuda ini tidak tahu, memangnya dia tinggal di hutan mana sampai tak membaca artikelnya?

Junhoe memundurkan tubuhnya dan berujar asal. “Ten…tu saja. I-iya tentu saja aku tahu. Neo…adiknya Jung Chanwoo ‘kan?”

“Benar sekali. Geunde, kenapa kau selalu bicara tidak sopan padaku?” jawab Hajin kini dengan mata memincing. Dari awal bertemu sampai saat ini, pemuda itu selalu saja memanggilnya ‘Neo’. Dan Hajin tidak suka dengan panggilan itu. Dia punya nama. JUNG HAJIN! Nama itu sudah begitu cantiknya diberikan oleh Appanya, tapi pemuda itu malah terus memanggilnya ‘Neo’.

Alih-alih menjawab Junhoe malah memperhatikan gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Gadis ini terlalu tinggi untuk ukuran gadis seumurannya. Tapi kalau dia adalah adiknya Jung Chanwoo berarti dia lebih muda dua tahun dari pemuda itu. Akhirnya, dengan cuek Junhoe menjawab.

“Aku tidak tahu namamu. Lagipula, kau lebih muda dariku.”

M-mwo?”

Beruntung Ahjumma kantin datang menginterupsi percakapan—yang hampir berubah menjadi pertikaian—mereka. Ahjumma itu membawa segelas chocolate milkshake yang sontak mecuri atensi kedua orang itu.

“Maaf menunggu lama, tapi chocolate milkshakenya tinggal satu.”

Saat Ahjumma itu menyodorkan chocolate milkshake di hadapan mereka, Junhoe mengulurkan tangannya tapi Hajin sudah lebih dulu menyambar.

“Ini milikku.” Gadis itu langsung menyerahkan uang pada Ahjumma kantin. Junhoe balas menatapnya dengan pandangan seakan ingin melahap gadis ramping itu saat ini juga. Apalagi kala gadis itu berujar,

Neo, beli saja di tempat lain. Weekkk.”

***

“Shannon-ah.”

Gadis blasteran itu baru saja kembali dari toilet saat Yein menghampirinya dengan wajah khawatir. Membuat kening Shannon sontak berkerut, apa yang terjadi? Di koridor yang dilewatinya tadi juga amat ramai dan sepertinya semua itu berasal dari kantin. Shannon yang sedang tidak bernafsu untuk makan, tidak menjejakan kakinya di kantin hari ini.

Yein menarik Shannon untuk duduk di bangku mereka. Kemudia mulai berbisik.

“Shannon-ah, kau dengar isu tentang orangtua pacarmu? Mereka bercerai.”

Belum sempat Shannon mencerna perkataan Yein, sahabatnya itu sudah menjelaskan semuanya. Mengobati rasa penasaran yang bersarang di benaknya tadi. Tunggu. Bercerai? Orangtua Chanwoo? Tapi Eomma Chanwoo terlihat baik-baik saja saat Shannon terakhir kali bertemu.

“Itu hanya rumor ‘kan?”

Berharap mendapat kalimat persetujuan dari Yein, tapi ternyata ekspresi gadis itu tak berubah. “Entahlah Shan, bisa saja itu benar.”

“Maksudmu?”

“Karena ayah Halla, Lee Sooman, pengacara terkenal.”

Oh, Shannon tidak habis pikir mendengar nama gadis itu lah yang menyebarkan rumor ini. Kenapa Halla tak henti-hentinya melakukan hal ini? Kalau semua hanya karena hubungannya dengan Chanwoo, Halla tak perlu menyangkut pautkannya dengan keluarga Chanwoo. Tapi kalau yang dikatakan Yein benar…berarti orangtua Chanwoo…

“Kalau Appa-mu?”

“Appa jarang di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di Jepang. Terlebih dia sedang merintis popularitas di sana.”

“Berarti Eomma-mu sendirian?”

Shannon ingat percakapannya dengan Chanwoo tempo hari.

“Teman-teman, cepat ganti pakaian kalian dengan seragam olahraga. Kang ssaem sudah menunggu di gedung olahraga.” Suara SinB—ketua kelas Shannon—menginterupsi obrolannya dengan Yein. Seluruh teman kelasnya riuh mengambil seragam dan bergegas menuju ruang ganti. Tak terkecuali Yein yang sudah membuka resleting tasnya dan mengeluarkan setelan seragam olahraga berwarna abu-abu.

“Kau tidak ikut olahraga?” tanya Yein heran karena Shannon masih tak bergeming dari tempatnya.

Shannon menggeleng pelan. “Aku sedang tidak enak badan, Yein-ah,” jawab Shannon tak berbohong. Tubuhnya tidak panas tapi dia merasa badannya tidak enak. Mendengar jawaban dan ekspresi Shannon, Yein hanya mengangguk mengerti dan berjalan meninggalkan Shannon.

Shannon tahu kalau dia tetap tinggal di kelas, dia akan merasa bosan. Maka dia memutuskan untuk pergi ke taman. Menghirup udara segar sekaligus menjernihkan pikiran. Shannon heran, tidak biasanya dia mudah sakit seperti ini. Ah, sepertinya karena dia terkena angin malam kemarin. Kemarin? Yah, kemarin saat Chanwoo memberikan jaketnya. Juga saat Chanwoo men—

Tiba-tiba seorang pemuda jangkung lewat di depan Shannon. Membuat Shannon sontak bersedekap. Apakah dia memiliki telepati? Atau semua delusinya akan terwujud begitu saja? Kalau tidak, kenapa sekarang pemuda itu tiba-tiba muncul di hadapannya? Benar-benar panjang umur!

“Jung Chanwoo.”

Pemuda yang tak lain adalah Jung Chanwoo menoleh. Shannon pikir Chanwoo akan berlalu begitu saja tak mengacuhkannya tapi ternyata pemuda itu berbalik.

“Kau membolos?!” tanya Shannon sambil menunjuk Chanwoo yang tengah merajut langkah ke arahnya yang tengah duduk di bangku taman.

“Harusnya aku yang berkata seperti itu ‘kan?” Masih setia dengan ekspresi datarnya, Chanwoo berujar sambil menenggak orange juice kalengan.

Shannon berdecih, “aku malas ikut olahraga. Kau sendiri kenapa ada disini?”

“Tanganku masih sakit setelah pertandingan kemarin” jawab Chanwoo sambil mendudukkan diri di samping Shannon.

Seorang Jung Chanwoo tak semahir itu rupanya. Setelah mengalahkan Jungkook, ternyata kini tangannya nyeri. Siapa suruh pemuda itu selalu melemparkan smash-smash tajam yang membuat Jungkook kewalahan.

Namun, sedetik kemudian Shannon mengerucutkan bibirnya. Hanya nyeri tangan? Oh, tetap saja itu membolos namanya!

“Tidak, aku membolos.”

Huh, benar kan? Dasar Jung Chanwoo.

“Aku malas ke kelas. Aku sedang ingin sendirian.”

Sejurus dengan pernyataan Chanwoo yang baru saja terlontar, Shannon menoleh padanya. Menatap Chanwoo yang tengah menunduk memperhatikan kaleng orange juice di tangannya. “Kau ada masalah?” tanya Shannon dengan nada sepelan mungkin. Bisa dibilang, nada yang menenangkan.

“Bisa dibilang begitu.” Chanwoo mengangkat wajahnya dan beralih menerawang. Memandang langit biru yang tampak lebih cerah hari ini. Berbanding terbalik dengan suhu udara yang mulai mendingin. Tampaknya musim gugur akan datang sebentar lagi.

Shannon tercenung di tempatnya. Ah, dia ingat kata-kata Yein.

“Shannon-ah, kau dengar isu tentang orangtua pacarmu? Mereka bercerai.”

Tanpa dia sadari tangannya bergerak memeluk lengan Chanwoo yang tertutupi jaket biru dongker yang juga membalut tubuh Shannon kemarin.

“Kau kenapa?” tanya Chanwoo heran.

Bukannya melepas, gadis itu malah semakin mengeratkan rengkuhannya. Seakan ingin menyalurkan seluruh dukungannya pada Chanwoo.

“Daripada sendirian, begini lebih hangat ‘kan?” Kini Shannon menyandarkan pundaknya pada bahu pemuda itu.

Tangan Chanwoo terangkat. Hendak melepaskan pelukan Shannon di lengannya. Namun dia merasakan ada yang aneh. Apalagi kala dirasakannya suhu tubuh Shannon memanas. Gadis itu demam sepertinya.

Shannon tahu Chanwoo hendak melepas rengkuhannya maka dia mengeratkan pelukannya. “Huh, kalau kau kesal jatah cium hari ini ditiadakan.”

“Terserah kau saja.”

Menyebalkan. Apa sebegitu terpaksanya Chanwoo mencium Shannon? Huh, berbeda sekali dengan kemarin.

Lama mereka saling terdiam dalam posisi itu. Shannon mendongak saat sesuatu menghalangi sinar matahari menerpa wajahnya, menyadari wajah Chanwoo bergerak mendekat. Membuat hidung mereka bersentuhan.

Shannon membelalakan matanya dan jantungnya mulai berdetak abnormal. Membuat wajah Shannon sontak memerah. Mereka saling berpandangan sampai akhirnya Chanwoo mengalihkan wajahnya.

“S-sudah kubilang hari ini tidak ada jatah cium!” protes Shannon. Oh, kenapa pemuda itu sangat tidak terduga sih?

“Chanwoo-ya.”

Chanwoo berdeham sebagai jawaban.

“Masih banyak hal yang bisa kau lakukan. Kau bisa minum orange juice sepuasmu atau main basket sampai kaki dan tanganmu patah. Jangan di pikirkan, masalah orangtua biar saja menjadi masalah mereka.”

Chanwoo terdiam. Yah, dalam hati pemuda itu membenarkan perkataan Shannon. Agaknya Chanwoo harus membuang jauh-jauh gengsinya saat ini dan menjawab pelan “Iya, terima kasih.”

Namun tidak ada balasan dari gadis itu. Tapi kemudian Chanwoo merasakan lengannya bertambah berat. Dia menoleh ke arah gadis itu dan benar saja, Shannon tertidur. Tangan Chanwoo terangkat menyentuh pipi Shannon. Dia menghembuskan napas lega merasakan suhu tubuh gadis itu sudah tidak sepanas tadi.

TBC

[Next]

[Prev]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s