Mr.Chu [Chapter 6]

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

Previous :

1 | 2 | 3 | 4| 5

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

.

.

.

I’ll do anything, I’ll follow you anywhere

Cuz baby you got me

(Shannon Williams – Why Why)
.

.

.

.

.

Author POV

Sepertinya sudah lama waktu berlalu. Tatapan sendu itu semakin membuat Shannon terpaku. Tapi gadis itu menyadarkan diri dan berusaha menghentikan Chanwoo bertindak lebih jauh.

“Ya! Kau sudah gila, eoh? Kau mau menciumku dirumahmu??!!” Shannon melayangkan protes. Degup jatungnya kembali berdetak abnormal bagai pertanda akan terjadi hal-hal yang sama seperti sebelumnya. Alih-alih menjauhkan wajah, Chanwoo malah menunjukkan smirk nya. Membuat iris cokelat gadis itu membelalak. Apalagi tatkala Chanwoo berujar, “Wae? Kita juga sudah berciuman di kali pertama kau datang ke rumahku. Dan juga, di kamarku lagi…”

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 6 ———-

.

.

.

Shannon nyaris menjerit, rasanya ingin menguburkan diri saja. Pikirannya melayang pada kejadian tempo hari saat Chanwoo mencium bibirnya hanya karena ingin merebut ponselnya. Mengingat momen itu membuat rona kemerahan menyembul di kedua pipi tembamnya.

Shannon benci kalau sudah seperti ini. Akan sangat berbahaya bagi jantungnya kalau sifat Chanwoo yang satu ini keluar. Tapi Shannon tak dapat lagi mengelak saat Chanwoo kembali mendekatkan wajahnya. Tanpa sadar gadis itu menutup mata dan menahan napas. Pasrah dengan apa pun yang akan terjadi selanjutnya.

Berbeda halnya dengan Chanwoo. Pemuda itu malah menghentikan gerakannya dan memperhatikan wajah Shannon yang berjarak beberapa centi dari wajahnya. Dalam hati dia tertawa kecil melihat reaksi gadis itu.

.

Dukk.

.

Sesuatu menghantam kening Shannon. Membuat kedua kelopak matanya sontak terbuka. Mendapati wajah Chanwoo tepat di hadapannya sedang mengulum senyum. Tangan gadis itu refleks terangkat menyentuh dahinya sendiri. ‘Barusan itu apa?’ tanyanya dalam hati.

Masih tidak mengerti kalau Chanwoo baru saja membenturkan dahinya dengan dahi pemuda itu. Chanwoo menarik diri dan terkekeh geli. Bukan kali pertama dia mengerjai Shannon seperti ini. Setelah kesadarannya terkumpul, Shannon mulai merutuk dalam hati.

“Ya! Kau mengerjaiku lagi?!” Shannon merenggut dan mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Chanwoo sudah mulai terpingkal-pingkal di atas sofa. Kesal, Shannon menekan cotton bud yang dipegangnya ke atas luka Chanwoo.

“Aww.” Chanwoo berhenti tertawa dan meringis. ‘Rasakan itu Jung Chanwoo!’ kutuk Shannon dalam hati. Ia tekan luka Chanwoo semakin kuat.

“Aw…aw…Ya! Appo!!”

Melihat Chanwoo benar-benar kesakitan, Shannon menjadi luluh. Dilepasnya cotton bud itu dan beralih menyentuh pipi Chanwoo. Perasaan bersalah kembali muncul mengingat luka itu karenanya. Tatapannya seakan bertanya ‘apakah sangat sakit?’. Namun dia kembali merutuk karena dilihatnya Chanwoo malah tersenyum. Shannon membuang muka kesal.

“Hei, kau marah?”

Shannon berdecih. Pertanyaan macam apa itu, Jung Chanwoo? Tanpa kau tanya pun sudah jelas ‘kan. Shannon ingin marah, namun apa daya. Chanwoo tersenyum seakan tanpa dosa. Sial, senyum menyebalkan itu—tapi tampan.

Sekuat tenaga Shannon berusaha untuk tidak menolehkan wajahnya. Namun sepertinya seorang Shannon tidak akan bisa marah pada Jung Chanwoo. Terlebih tangan pemuda itu terangkat mencubit pipinya. Pupilnya melebar dan hatinya bertanya-tanya. ‘Ya, Jung Chanwoo! Kau ini kerasukan apa?’

Penasaran dengan tindakan Chanwoo, Shannon memilih mengalahkan egonya dan menoleh. Irisnya bersirobok dengan iris Chanwoo yang sudah lebih dulu menatapnya. Ekspresi Chanwoo berubah lagi. Senyum menyebalkan itu telah lenyap dari wajahnya. Oh, sekarang apalagi?

Shannon semakin tak berkutik karena Chanwoo menatapnya semakin intens. Seakan mengunci tatapan gadis itu pada kedua manik kecokelatan miliknya. Tangan kanan Chanwoo di pipinya terangkat mengelus puncak kepalanya. Kemudian turun ke tengkuknya. Perlahan tapi pasti, Chanwoo memajukan wajahnya. Kelima jarinya yang bertengger di leher gadis itu menuntun wajah Shannon mendekat.

Hanya dalam hitungan detik saja, kedua belah bibir itu akan menyatu. Iya, dalam hitungan detik saja,

seandainya Shannon tidak menunduk dan menahan wajah Chanwoo dengan kelima jarinya.

Chanwoo sedikit terkejut. Netranya menatap lurus pada ubun-ubun Shannon.

“Hentikan…kau mengerjaiku terus,” ujar Shannon lirih. Telinga gadis itu memerah. Tak lama berselang, Shannon menarik diri dan bangkit berdiri. Kepalanya masih tertunduk, tidak berani menatap Chanwoo.

“Aku haus,” ujarnya sebelum berbalik kemudian berjalan menuju dapur.

Shannon langsung meraih gagang pintu lemari es begitu dia sampai di dapur. Menyambar sebotol air mineral dan meneguknya hingga tandas. Tiba-tiba saja udara menjadi panas, ataukah hanya tubuhnya? Shannon mulai mengutuki pendingin udara di sudut dapur yang seakan tidak berfungsi.

Ada apa dengan Chanwoo?

Pertanyaan itu kembali melintas di pikirannya. Shannon tak habis pikir. Bagaimana bisa pemuda itu menjadi jahil, lembut dan manis sekaligus? Menyukai dan mengikuti Chanwoo selama enam bulan ternyata tak membuatnya mengenal pemuda itu dengan baik. Chanwoo yang dalam kesehariannya cuek, tak disangka memiliki sisi seperti ini. Banyak hal-hal baru yang Shannon ketahui setelah menjadi pacar Chan—ralat, pacar pura-pura Chanwoo.

Shannon terperanjat saat Chanwoo memasuki dapur. Pemuda jangkung itu bersikap tak acuh dan merajut langkah mendekati lemari es. Netra Shannon yang mengikuti pergerakan Chanwoo membulat saat Chanwoo membuka pintu lemari es. Ia baru menyadari adanya berbotol-botol orange juice yang tersusun rapi di raknya.

‘Astaga, apa Eomma-nya yang menyiapkan semua itu?’

Tak bisa dipungkiri lagi kalau seorang Jung Chanwoo benar-benar menyukai orange juice. Tidak, mungkin kata ‘pecinta’ lebih tepat.

Chanwoo menutup kembali pintu lemari es dan mulai menenggak orange juice yang baru saja diambilnya. Shannon yang masih memperhatikan Chanwoo, mengalihkan pandangan saat ekor mata pemuda itu menangkapnya. Suasana menjadi canggung. Mereka saling terdiam di tempat. Hanya suara orange juice yang menuruni kerongkongan Chanwoo yang terdengar.

“Kemana Hajin?” tanya Shannon berusaha mencairkan suasana.

Chanwoo berhenti meneguk orange juicenya lalu menjawab, “Sepertinya dia ada pemotretan hari ini.”

“Ah, benar juga. Sebentar lagi ‘kan Hajin debut sebagai model. Wah, aku tidak sabar.”

Mereka kembali terdiam. Dan Shannon sibuk memutar otak. Berusaha mengabsen apalagi yang harus dia tanyakan.

Shannon berkemam. “Kalau Appa-mu?”

Appa jarang di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di Jepang. Terlebih dia sedang merintis popularitas di sana.”

“Berarti Eomma-mu sendirian?”

“Iya, walau begitu Eomma tidak mau memperkerjakan terlalu banya asisten rumah tangga. Dia lebih suka mengerjakan semuanya sendiri. Terkadang dia juga pergi ke kantor agensi-nya, sekedar menengok para model pendatang baru,” terang Chanwoo. Shannon mengangguk-anggukan kepala pertanda mengerti. Tapi kemudian keningnya berkerut.

“Aku penasaran semirip apa kau dengan Appa-mu.”

Sekilas Chanwoo melirik Shannon heran. “Memangnya kau belum pernah melihatnya? Kau punya internet ‘kan?”

Shannon berdecih mendengar cibiran Chanwoo. “Ish, maksudku sifatmu. Aku ingin tahu semirip apa sifatmu dengan Appa-mu, karena kurasa sifatmu berbeda sekali dengan Eomma-mu.”

Chanwoo kembali meneguk orange juicenya. Tanpa sadar netranya menangkap jam dinding yang tertempel di sudut dapur.

“Hei, sudah jam 5. Ayo kuantar kau pulang.”

***

Motor besar berwarna merah berhenti di depan sebuah rumah besar bernuansa serba putih. Sejenak gadis blasteran yang berada di boncengan mengintip ke balik pagar, lalu menghela napas lega setelah melihat halamannya masih kosong. Berarti Dad-nya belum pulang. Shannon turun dari motor Chanwoo. Merapikan roknya yang sedikit terangkat. Setelah itu dia tersenyum, “gomawo, Chan.”

Chanwoo yang masih mengenakan helm-nya tersenyum. Namun sayang, karena tentu saja Shannon tidak dapat melihatnya. Merasa tidak mendapat tanggapan, akhirnya Shannon berjalan melewati motor Chanwoo menuju pagar rumahnya. Chanwoo melepas helmnya.

“Shan?” Tangannya terulur menahan pergerakan Shannon. Shannon tersentak, netranya langsung tertuju pada tangannya yang berada di genggaman Chanwoo. Lalu bergerak naik menatap Chanwoo. “N-ne?”

Sejenak dada Shannon kembali bertalu-talu tak menentu saat Chanwoo menarik tangannya. Membuatnya mendekat pada pemuda itu. Lalu secara perlahan, pemuda itu memajukan wajahnya. Shannon mematung. Awalnya dia terkejut dengan tindakan tiba-tiba pemuda itu. Tapi sesuatu di belakang Chanwoo membuat detak jantungnya lebih berpacu lagi. Melihat Shannon menegang, kening Chanwoo berkerut. Kepalanya memutar mengikuti arah perhatian gadis itu.

D-dad...”

.

.

.

Seorang wanita yang mengenakan setelan blouse berwarna kuning langsat keluar dari dapur membawa nampan berisi 4 cangkir teh. Disajikannya masing-masing cangkir teh itu ke hadapan seorang pria dan dua orang anak SMA. Setelah itu mendudukan diri di atas sofa kulit berwarna krem. Sejak pemuda itu dibawa masuk oleh suaminya, pandangannya tak bisa lepas dari paras pemuda itu.

Aigoo, tampannya. Siapa namamu?” tanyanya lalu menyunggingkan senyum. Menambah kecantikan di parasnya, yang membuat siapa pun tak mungkin percaya bahwa dia sudah berkepala tiga.

Pemuda di hadapannya tersenyum kikuk, kemudian menjawab. “Jung Chanwoo.”

“Jung Chanwoo? Ah, pantas saja aku merasa familiar melihat wajahmu. Kau anaknya Bae Joohyun ‘kan?” Lagi-lagi Chanwoo mengangguk kikuk. Sedangkan wanita itu bertepuk tangan senang.

“Aku baru saja membaca profil keluargamu tadi pagi. Aigo, ternyata kau lebih tampan aslinya.”

“Ahreum,” ujar pria dengan garis wajah kebaratan yang sedari tadi berada di antara mereka. Membuat atensi wanita itu beralih memandang suaminya.

“Ne, Yeobo?”

“Bisakah kau tinggalkan kami bertiga?” ujar pria itu lagi dengan nada tertahan. Alih-alih menurut, istrinya malah tertawa senang.

Aigoo, jangan terlalu keras padanya, Yeobo. Mereka ‘kan masih SMA.”

Namun wajah pria itu justru mengeras. “Aku tidak akan keras kalau putriku-memberitahuku-dia-punya-pacar,” ia berujar seraya netranya melayangkan pandangan mengintimidasi pada putri semata wayangnya.

Shannon yang sedari tadi terdiam, semakin ciut mendengarnya. Kepalanya menunduk dan jemarinya sibuk meremas ujung baju seragamnya gugup.

“Maaf—

Jeongmal joesonghamnida Ahjussi.”

Belum selesai Shannon bicara, suara lantang Chanwoo sudah lebih dulu menggema. Shannon langsung mengangkat wajahnya dan mendapati Chanwoo tengah membungkukkan badannya. Arthur—nama pria itu—yang tak lain adalah ayah Shannon membelalakan mata saat pemuda itu justru membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Tak jauh berbeda seperti suaminya, Ahreum juga terkejut.

“Ini kesalahan saya. Harusnya saya meminta ijin Ahjussi untuk memacari Shannon. Sekali lagi saya minta maaf.”

Tak tahu harus berbuat apa. Namun kemudian, sebuah senyum puas terlukis di paras pria berkewarganegaraan Amerika itu.

“Baguslah kalau kau mengerti. Lain kali jangan diulangi lagi.”

Author POV end

***

Aku masih tidak percaya. Dan aku juga tidak pernah menyangka bahwa seorang Jung Chanwoo akan berbuat demikian. Oh, bolehkah aku menangis, Ya Tuhan?

Mungkin ini berlebihan…tapi tentu saja aku terharu. Seorang Jung Chanwoo yang notabenenya adalah pemuda yang kusukai, membungkukkan badannya dan meminta restu dari ayahku untuk memacariku. Apa ada hal yang lebih membahagiakan dari ini?

Kalau pun ada, tolong kuatkan aku Ya Tuhan. Karena sekarang untuk menapak saja rasanya aku tak sanggup. Oke, cukup. Ini sudah amat sangat berlebihan. Aku bertingkah layaknya Chanwoo baru saja melamarku.

Tapi, tetap saja aku senang.

Oh, bolehkah aku berharap?

Tidak. Tidak. Tidak. Jangan terlalu senang dulu, Shan. Bisa saja Chanwoo melakukan semua itu hanya karena di hadapan Dad.

Ya, sebaiknya aku jangan terlalu percaya diri sebelum mendengarnya dari mulut Jung Chanwoo sendiri.

Aku jadi berpikir,

mungkin akan datang suatu saat dimana kami benar-benar berpacaran

***

“Jeong Yein!”

Seruku lantang begitu memasuki kelas. Benar-benar menandakan suasana hatiku yang sangat baik hari ini. Oh, aku tidak perlu menceritakannya lagi kalian pasti sudah tahu ‘kan?

Yein yang sedang sibuk berkutat dengan buku ‘Kimia Reduksi dan Oksidasi’ nya hanya melirikku sekilas. Barulah setelah aku mendudukkan diri, Yein bersuara—

“Kau sudah berlatih dengan Taehyung sunbae? Ingat, Shan. Pertandingannya besok.”

—dan membuat mood ku sontak memburuk.

“Ya! Kau ini mau pamer kalau kau berpasangan dengan Chanwoo?!”

Dengan santainya Yein menutup buku cetak-nya dan mengibaskan tangan. “Aku tidak pamer…karena nyatanya aku memang berpasangan dengan Jung Chanwoo.”

Huh, dasar Yein menyebalkan!

Tapi, omong-omong tentang Jungkook sunbae, tiba-tiba aku jadi penasaran.

“Yein-ah, kenapa kau menyukai Jungkook sunbae?” tanyaku dengan suara yang sepelan mungkin. Berusaha agar tidak ada siapa pun yang mendengarnya selain aku dan Yein.

Yein yang baru akan kembali membuka buku tulisnya sontak menoleh dan menatapku heran. Mungkin karena aku tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” Keningnya berkerut.

“Aniya, aku hanya penasaran. Karena pasti bukan karena dia tampan ‘kan?”

Yein mengangguk sekilas lalu membuka buku tulisnya. “Iya, kau tahu aku.”

“Lalu karena apa?” tanyaku masih dengan tingkat kuriositas yang tinggi. Yein berdeham pelan sebelum akhirnya menjawab.

“Alasannya sederhana. Ini berawal saat aku selalu melihatnya di perpustakaan, dan itu saat aku baru menjadi pengurus perpustakaan.” Aku memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama.

“Aku tahu dia tampan tapi entah kenapa aku suka melihat wajahnya saat membaca. Bahkan aku baru menyadari dia tampan saat dia sedang membaca. Melihat wajahnya, aku merasa kalau dia orang yang baik. Awalnya aku tidak suka melihatnya sedang berkumpul dengan teman-temannya, apalagi wajahnya saat—err…tebar pesona. Tapi setelah kejadian itu aku malah menyukai apapun tentang dia. Dia juga sudah berubah.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Lalu kembali memutar otak. Kalau diperhatikan, Jungkook sunbae sudah sering ke perpustakaan bahkan saat Yein baru saja menjadi pengurus. Apakah itu berarti Jungkook sunbae sudah lebih dulu menyukai Yein?

Astaga, beruntungnya kau Jeong Yein.

Huh, aku jadi gemas sendiri. Bagaimana caranya memberitahukan Yein kalau Jungkook sunbae juga menyukainya?

.

Tunggu.

.

Tiba-tiba sebuah ide melintas di benakku.

***

Bel tanda waktunya makan siang baru saja berbunyi dan aku langsung melesat keluar kelas. Pertama-tama aku menaiki tangga menuju lantai tiga. Niatnya sih ingin mencari Jungkook sunbae. Namun, baru dua anak tangga yang kunaiki, sosok pemuda jangkung yang sedang berdiri di depan mesin penjual minuman otomatis menarik perhatianku. Yah, kapan sih seorang Jung Chanwoo tidak menarik perhatianku?

Maka kuputuskan untuk turun lagi dan menghampiri Chanwoo. Pemuda itu membungkukkan tubuhnya dan mengulurkan tangannya ke dalam lubang di bagian bawah mesin penjual minuman.

“Chanwoo.”

Dia melirik sekilas padaku. Kuperhatikan kaleng minuman yang baru saja diambilnya. As always, orange juice.

Alih-alih menanggapi panggilanku, dia malah membuka penutup kaleng dan mulai meneguk orange juicenya. Aku menatapnya jengkel. Huh, harusnya tadi aku mencari Jungkook sunbae saja daripada menghadapi manusia es.

Jungkook sunbae?

Refleks aku menepuk keningku sendiri. Aduh, Shannon bodoh! Kenapa tidak kautanyakan pada Chanwoo saja? Mereka kan teman dekat.

“Chan,” Chanwoo melirikku. “Kau tahu—

“CHANWOO OPPA!!!”

Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang menginterupsi. Membuat kami berdua sontak menoleh dan mendapati seorang gadis cantik yang berlari ke arah kami. Dan kami berdua amat kenal siapa gadis itu.

“Hajin?!!” pekikku dan Chanwoo bersamaan.

Gadis itu tersenyum lebar ke arahku dan Chanwoo yang— ehm, menatapnya heran.

“Sedang apa kau di sini? Dan lagipula…” tanya Chanwoo. Sejenak aku dan Chanwoo memperhatikan penampilan Hajin. “Kenapa kau menggunakan seragam—oh, jangan bilang kau…”

“Taraaa…aku akan bersekolah di sini,” ujar Hajin lalu tersenyum sumringah seakan tanpa dosa.

“MWO?!” ujarku dan Chanwoo—lagi-lagi—bersamaan.

“Ya! Kenapa histeris begitu? Kalian tidak suka aku sekolah di sini, eoh?” Hajin mengerucutkan bibirnya. Aduh, membuatnya semakin imut saja.

“Ani, bukan begitu Hajin-ah. Aku hanya terkejut. Wahh pasti menyenangkan kau juga bersekolah di sini.” Aku tersenyum, bertolak belakang sekali dengan Chanwoo yang memasang wajah masam.

Sontak Hajin memeluk lenganku. “Eonnie memang yang terbaik. Tidak seperti Oppa jelek ini, weeekk,” ujarnya diakhiri memeletkan lidah.

“Ya, ish! Dasar bocah!!” Chanwoo mengeram kesal. Kakak beradik ini mulai lagi.

Meski begitu, Chanwoo kembali bertanya. “Kau sendirian ke sini?”

“Ani, aku bersama Eomma .”

“Mwo?”

Kemudian dari arah belakang Hajin, muncul seorang wanita cantik yang langsung melambaikan tangannya pada kami.

“Chanwoo-yaa…oh, ada Shannon juga!”

***

Sekarang kami berempat—aku, Chanwoo, Hajin dan Eomma Chanwoo—sedang duduk di kantin. Kami menikmati makan siang ditemani tatapan-tatapan dari para penghuni kantin. Bagaimana tidak? Bayangkan saja saat ini ada seorang model terkenal dan seorang gadis yang akan debut sebagai model sedang makan di kantin sekolahmu. Bahkan mulut siswa-siswa tidak hentinya menggumamkan ke-terpesonaan mereka pada sosok dua perempuan itu. Dan para siswi-siswi tak lelahnya berdecak kagum dan mengambil foto. Tak hanya itu, ahjumma-ahjumma kantin juga sempat meminta foto bersama. Keadaan benar-benar menjadi riuh.

“Bagaimana Shannon-ah, apa harimu menyenangkan?” tanya Eomma Chanwoo di sela-sela menyantap pudding cokelat-nya. Aku yang baru saja memasukkan satu potongan gimbap hanya dapat mengangguk menanggapinya.

Melihatnya, Eomma Chanwoo malah tertawa. Dan aku mengernyit tak mengerti. Keningku semakin berkerut saat Hajin terkikik melihatku. Sebenarnya ada apa?

Aku menoleh pada Chanwoo yang duduk di sebelahku. Dan melemparkan tatapan tanda tanya padanya. Dia yang sedang menengguk orange juice botolan, balas melirikku. Menurunkan botol orange juicenya. Lalu tanpa aba-aba, tangannya terangkat mengusap sudut bibirku. Sejenak aku tersentak dengan tindakan Chanwoo tapi kemudian aku diam tak berkutik seakan terbius dengan tatapannya. Setelah mengusap sudut bibirku, dia tak mengatakan apa-apa, dan aku hanya bisa mengerjap. Masih terkejut atas tindakannya barusan.

“Uuuhhh, so sweetnya,” ujar hajin dan Eomma Chanwoo serempak. Membuat aku dan Chanwoo seakan terlempar kembali ke realita. Sontak kami saling memalingkan muka. Membuatku bersitatap dengan pandangan-pandangan mencibir dari gadis-gadis yang berkumpul di meja sebelah.

Astaga, aku baru ingat kalau kami sedang di kantin. Ugh, terang saja gadis-gadis itu melemparkan pandangan tak suka padaku.

Tiba-tiba aku merasa kenyang. Aku membereskan makananku dan hendak mohon diri.

Eomonim, sepertinya Shannon harus pergi sekarang. Kelas akan segera dimulai,” pamitku pada Eomma Chanwoo.

“Yah, sayang sekali.” Eomma Chanwoo memasang wajah kecewa. Lalu dia berkemam, “Yasudah kalau begitu, aku titip Hajin, Shannon-ah. Bisa tolong antarkan Hajin ke kelasnya?”

Aku melirik Hajin yang sedang menyengir padaku. “Ne, Eomonim.”

***

“Kau masuk kelas mana Hajin-ah?”

Hajin berkemam, “Yoon ssaem bilang aku masuk kelas 1-1.”

“Yoon ssaem?”

“Iya, dia wali kelasku.”

Aku meng-oh-kan jawaban Hajin. “Berarti kelasmu di lantai satu, kajja Hajin-ah.”

Baru saja aku menuntun Hajin untuk berbelok ke koridor saat—

“Shannon Williams!”

—sebuah teriakan menginterupsi langkah kami.

Sontak saja aku dan Hajin berhenti dan menoleh ke belakang. Mendapati seorang pemuda sedang berlari ke arah kami. Setelah sampai di hadapan kami, baru aku dapat mengenalinya sebagai—

“Vernon?”

Sejenak pemuda itu mengatur napasnya yang masih terengah-engah sehabis berlari, kemudian menjawab, “Hey, daritadi aku mencarimu, tahu.”

Aku mengernyit. “Kenapa?”

“Sekarang pelajaran biologi, Yoon ssaem bilang kita sekelompok. Kita harus ke lab sekarang.”

Astaga, aku hampir lupa kalau pelajaran biologi hari ini kelasku akan praktikum di lab. Dan apa? Kenapa aku harus sekelompok dengannya sih? Ah, sudahlah. Tapi sebelumnya aku harus mengantar Hajin lebih dulu.

“Kau duluan saja, Vernon. Aku mau mengantar temanku dulu.” Sejenak, kulihat Vernon menatap Hajin yang berdiri di sampingku. Baru kemudian dia menjawab, “Oh, baiklah kalau begitu. Don’t be late!”

“Neee,” balasku sebelum akhirnya pemuda itu berlari menaiki tangga. Lalu kami kembali melangkah menuju kelas yang berada di ujung.

“Eonnie, pemuda tadi siapa?” Hajin yang sedari tadi diam saja, bersuara.

“Oh, dia teman sekelasku, Hajin-ah.” Aku melirik hajin yang meng-oh-kan jawabanku.

“Wae, kau menyukainya?” ujarku menggodanya.

“Mwo? Eonnie ini bicara apa??”

Aku terkekeh. Sepertinya aku ketularan sifat jahil Chanwoo.

***

“Hari ini kita akan praktek mengidentifikasi bentuk jaringan. Sudah dipersiapkan satu mikroskop di setiap meja. Kita mulai dengan mengamati jaringan pada bawang merah.”

Yoon ssaem yang sedang berdiri di depan kelas membenarkan letak kacamata tebalnya. Sejenak dia menggambarkan tabel dan menuliskan indikasi-indikasi untuk praktikum hari ini.

Seluruh murid kelasku telah mengenakan jas lab dan duduk manis bersama kelompoknya masing-masing. Termasuk aku yang sekarang harus semeja dengan pemuda bule ini. Ekor mataku meliriknya. Vernon tengah serius memperhatikan papan tulis dan pengarahan Yoon ssaem. Huh, sudah seperti anak pintar saja.

Oh iya, aku hampir saja lupa kalau dia memang pintar.

“Mana bawang merahnya?” Aku terperanjat saat tiba-tiba dia menoleh dan bertanya. Segera aku memalingkan wajah dan mencari bawang merah. Setelah menemukannya, langsung kusodorkan bawang itu padanya.

Igeo.”

Kemudian terdengar lagi instruksi dari Yoon ssaem. “Pertama-tama iris bagian kulit bawang merah yang telah dikupas.”

“Pisaunya?” tanya Vernon lagi. Refleks aku langsung mengambil pisau dan memberikan padanya.

“Jangan lupa untuk mencatat hasil pengamatan kalian.”

Lagi-lagi Vernon menoleh padaku. “Shannon-ah, cepat catat!”

Ne,” jawabku cepat seraya mencari keberadaan buku tulis. Tapi kemudian aku menyadari sesuatu.

“Ya! Kenapa kau menyuruhku terus?!”

Vernon menatapku heran. “Lho, kita kan sekelompok. Aku mengamati lalu kau mencatat.”

Aku juga tahu kalau kita sekelompok! Ish, dasar bule menyebalkan.

Shireo, aku mau mengamati mikroskop juga,” ujarku lalu menyambar mikroskop yang sedang Vernon gunakan. Tapi pemuda itu malah tersenyum.

Sure.

***

Pulang sekolah aku langsung menyambangi gedung olahraga. Menuntaskan rencanaku untuk mencari Jungkook sunbae yang tertunda. Namun, bukannya Jungkook sunbae yang kutemui, melainkan sosok pemuda jangkung dengan seragam putih yang sudah basah dengan keringat. Tengah bermain basket sendirian. Aku mendekat ke arah pemuda yang beberapa jam lalu bertemu denganku. Dan beberapa jam lalu pula membuatku malu.

“Chan, kau tahu dimana Jungkook sunbae,” tanyaku setelah lebih dekat dengannya. Chanwoo menuntaskan lay up nya, lalu menoleh padaku. Dapat kulihat dengan jelas keringat yang mengalir di pelipisnya, menuruni pipinya kemudian menetes dari dagunya. Tanpa sadar aku menelan salivaku. Kenapa tiba-tiba Chanwoo terlihat se-menggoda ini?

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Ani. Ani. Ya! Ada apa denganmu, Shannon Williams!

Aku menghentikan aktivitas menggelengkan-kepala-kuat-kuat saat Chanwoo melangkah mendekatiku. Dia berdeham, lalu melemparkan tatapan tanda tanya padaku.

“Ehm…itu…a-aku mau bertanya…kau tahu d-dimana Jungkook sunbae?”

Sial! Kenapa aku menjadi gugup seperti ini. Kubuang jauh-jauh pikiran aneh yang melintas di benakku. Namun, alih-alih menjawab, Chanwoo malah melangkah semakin dekat.

Ugh, berapa ribu kali aku harus merutuk? Kalau aku benci saat momen ini datang. Momen dimana jantungku kembali berdetak diluar sewajarnya. Damn, Jung Chanwoo!
Chanwoo sudah sangat dekat sekarang, sehingga aku dapat melihat jelas kemeja putihnya yang basah. Membuat kaos dalam Chanwoo terjiplak jelas disana. Oh, aku ingin menutup mata tapi instingku mengatakan kalau hal itu akan lebih berbahaya. Aku turut bergerak mundur mengimbangi pergerakan Jung Chanwoo.

Ugh, bolehkah aku merutuk lagi? Karena sesuatu entah-apa-itu yang berada di belakangku, menghalangiku untuk mundur lebih jauh lagi. Aku terpojok. Apalagi tatkala Chanwoo mengangkat kedua tangannya yang menggenggam bola basket melewati tubuhku. Kalian bisa bayangkan ‘kan?

Jadi saat ini posisiku terkunci oleh kedua lengan Chanwoo, karena kedua telapak tangannya memegang bola basket di belakang tubuhku. Membuat posisi kami menjadi sangat amat dekat.

“C-Chan?”

Aku tak dapat lagi berkutik kala irisku bersirobok dengan maniknya. Tak hanya kedua lengannya, tapi tatapannya juga turut mengunciku. Bahkan kini aku dapat mencium aroma Chanwoo yang bercampur keringat—dan entah mengapa, aku menyukainya.

Ah, hilangkan pikiran itu, Shannon!

Refleks aku menahan napasku. Bodoh memang, tapi aku tidak mau berpikiran semakin aneh!

.

Brakk

.

Tapi aku merasa lebih bodoh lagi saat tangan Chanwoo menjauh dari sisiku. Bola basket telah terlepas dari tangannya. Dengan sisa-sisa kesadaranku, aku menoleh kebelakang. Dan mendapati adanya keranjang bola basket tepat di belakangku. Jadi keranjang ini yang telah membuatku tak berkutik??!!

Tunggu. Itu artinya, tadi Chanwoo hanya…

“Tadi kau menanyakan Jungkook? Sepertinya dia di parkiran, kenapa?”

Leherku mendadak kaku, dan aku tidak sanggup menoleh pada Chanwoo. Perlahan aku bergerak ke samping. “A-ani, kalau begitu sampai bertemu besok.” Kemudian mengambil langkah seribu.

***

Apa Chanwoo mau membunuhku secara perlahan, eoh?? Kenapa dia melakukan ini terus dari kemarin. Kenapa Jung Chanwoo mengerjaiku terus? Kenapa Ya Tuhan???

Aku menepuk pipiku yang masih terasa panas.

Sadarlah, Shannon Williams! Sadar!!

Tiba-tiba aku teringat tujuan awalku.

Oh, aku harus cepat. Kalau tidak, nanti Jungkook sunbae keburu pulang.

Aku sudah sampai di parkiran dan melihat masih banyak siswa yang berkeliaran. Baguslah, semoga Jungkook sunbae juga ada disana. Aku menghela napas lega saat menemukan sosok pemuda dengan postur mirip sekali dengan Jungkook sunbae. Maka untuk memastikan, aku mencoba memanggilnya.

“Jungkook sunbae!”

Pemuda yang baru saja akan mengenakan helm-nya itu menoleh ke arahku. Dan beruntunglah, pemuda itu memang Jungkook sunbae.

“Nugu—ah, Chanwoo yeojachingu?” tanya Jungkook sunbae yang kujawab dengan anggukkan. “Ada apa?” tanyanya lagi.

“Sunbae kudengar kau suka bermain tenis?” tanyaku tanpa basa-basi.

Sejenak Jungkook sunbae mengernyit. “Iya, kenapa Shannon-ssi?”

“Begini, sunbae…

***

Keesokan harinya, saat pertandingan musim panas.

Para anggota klub tenis sudah berkumpul di lapangan. Kebanyakan dari mereka tengah pemanasan dengan pasangannya masing-masing. Benar-benar bersiap untuk pertandingan hari ini. Tak terkecuali dengan Yein yang tengah melatih gerakan servisnya. Aku melirik Chanwoo yang sedang duduk di bangku tak jauh dari Yein. Aku terkekeh. Sebentar lagi aku akan meluncurkan rencanaku. Aku berjalan mendekati Yein.

“Kuambil kembali Chanwoo ya,” bisikku setelah berada dekat denganYein. Berusaha agar Chanwoo yang berada tak jauh dari kami tak dapat mendengarnya.

Sontak saja Yein menghentikan kegiatan pemanasannya. “Mwo? Ya! Shannon Williams, aku sedang tidak ingin bercanda. Pertandingannya akan segera dimulai.”

Dengan santai aku menepuk bahu Yein pelan. “Tenang saja Yein-ah, sebentar lagi pasanganmu datang kok.” Lalu mengedipkan sebelah mataku padanya.

“Mwo? Ya! Apa maksudmu??” ujar yein dengan mata memincing.

Tampaknya Yein masih belum mengerti. Itu sudah pasti. Kau hanya perlu menunggu. Kita lihat saja Jeong Yein, karena sebentar lagi…

“Maaf aku terlambat.”

Suara seorang pemuda menginterupsi perdebatan kecilku dengan Yein. Tak hanya kami, atensi seluruh anggota klub tenis juga tertuju pada pemuda yang mengenakan seragam tenis berwarna putih yang amat pas dengan postur tubuhnya. Aku melirik Yein dan mendapati ekspresi terkejut di wajahnya. Yes, rencanamu berhasil, Shan!

Pemuda yang tak lain adalah Jungkook sunbae berjalan ke arah kami.

“Jeong Yein, sekarang aku berpasangan denganmu. Mohon kerjasamanya,” ujarnya pada Yein. Tangan satunya yang tidak menggenggam raket, diulurkannya pada Yein.

“N-ne,” jawab Yein gugup seraya menyambut uluran tangan Jungkook sunbae.

Aku telah mengabulkan permintaanmu, Jeong Yein!

.

.

.

Lengkingan nyaring yang berasal dari peluit Taehyung sunbae menandai dimulainya pertanding. Babak pertama, aku dan Chanwoo melawan pasangan Jungkook-Yein. Aku terkekeh. Aih, bagai double date saja.

Aku sudah memasang kuda-kuda. Raket tenisku telah kuangkat sejajar dada. Aku berhadapan dengan Yein dan Chanwoo berhadapan dengan Jungkook sunbae. Tiba-tiba Chanwoo mendekat ke arahku.

“Kau jaga bagian kanan saja,” ujar Chanwoo memberi instruksi. Dan aku mengangguk mengiyakan. Siang—menjelang sore—ini matahari cukup terik. Mengingat memang sudah memasuki pertengahan musim panas. Namun, alih-alih merasa panas, angin yang berhembus malah menerbangkah aroma Chanwoo sampai ke indera penciumanku. Sial! Aku jadi ingat kejadian kemarin.

5 menit pertama aku berhasil menjaga bagian kanan agar tidak terjamah Yein. Aku tidak tahu kalau Jungkook sunbae sejago itu. Karena jujur saja, sedari tadi kerjaanku dan Yein hanya menjaga dan melakukan servis beberapa kali. Sisanya kami hanya menonton Jungkook sunbae melawan Chanwoo.

Chanwoo melayangkan servis-servis tajam pada Jungkook sunbae. Lengan kokohnya mengenggam raket dengan satu tangan, namun mampu membalikkan servis dari Jungkook sunbae.

Iya, lengan kokoh itu.

Dada bidang itu.

Pundak yang lebar.

Ah, aku benar-benar ingin memeluknya.

Terakhir kami berpelukan saat…

Mwo??! Aish, apa sih yang kau pikirkan, Shan????

Aku memalingkan wajahku dan berusaha untuk fokus. Tapi sialnya, lagi-lagi aroma Chanwoo menyapa hidungku. Bahkan seolah membiusku.

Aku ingin menghirup wangi musknya.

Masa bodoh kalau aku disebut mesum. I’m addicted to touch him. Ah, ini menyeramkan. Aku tidak menyangka kalau memeluknya akan membuatku secandu ini. Kenapa dari awal aku tidak meminta peluk saja ya? Tapi dicium juga…Ah, molla! Pikiranmu itu Shannon…ckckck.

Aku terlalu sibuk berkutat dengan pikiranku sampai kudengar Yein berteriak—

“Shannon-ah awas!”

.

.

.

.

.

Ah, aroma apa ini. Kubenamkan wajahku lebih dalam. Dan menghirup aroma itu dalam-dalam.

Ahhh~

.

.

.

.

.

“Shan?”

.

Aku membuka mataku.

.

“Shan, bolanya kan ke arah sana. Kenapa kau kabur sejauh itu?”

Aku mengangkat wajahku yang ternyata…terbenam di dalam pelukan Chanwoo??!!!

Mwo?! Apa ini?? Apa tubuhku bergerak sendiri???

Posisiku sekarang adalah kedua tanganku melingkar di leher Jung Chanwoo. Aku memeluknya!

Ditambah sekarang aku bersitatap dengan wajah terkejut Chanwoo yang hanya berjarak beberapa centi. Ugh, rasanya seluruh darahku langsung mengalir ke kepala. Bahkan menyebar di pipiku yang sekarang entah sudah semerah apa. Belum sempat aku melepaskan diri, kudengar Yein berujar lagi.

“Shan…kau mencari kesempatan ya?”

Jeong Yein!!!

Sekali-kali aku harus menyumpal mulutnya agar tidak terlalu berterus terang.

“Ya, kalian berdua! Membuat iri saja!!” teriak Taehyung hyung.

“Huh, andai Sujeong ikut latihan.”

.

.

.

Aku tidak tahu harus tersenyum seberapa lebar lagi. Aku sangat senaaaaaaaaang hari ini. Semua rencanaku berhasil. Aku dapat berpasangan dengan Chanwoo. Dan Yein sukses berpasangan dengan Jungkook sunbae. Ditambah aku berhasil membuat Yein pulang bersama Jungkook sunbae.

Kau harus mentraktirku setelah ini, Jeong yein!

Dan aku lebih senang lagi saat Chanwoo juga turut membantuku membujuk Jungkook sunbae untuk mengantar Yein pulang. Ah, aku jadi ingat kejadian tadi. Aaaahhhh, itu benar-benar memalukan—tapi membuatku senang. Semua anggota tenis pasti melihatnya. Beruntung tidak ada kumpulan penggosip di dalam klub tenis. Sehingga aku tidak perlu mendapatkan tatapan mencibir seperti kemarin.

Oh iya, aku tak habis pikir. Entah karena pelukan—ehm, dariku atau Jung Chanwoo memang jago. Karena setelah itu Chanwoo berhasil mengalahkan Jungkook sunbae dengan skor 5-15. Benar-benar kalah telak.

Gomawo Jung Chanwoo. Berkat kau kita bisa menang.

Haruskah aku memberinya hadiah?

Ehm, mungkin sebuah kecupan di pipi cukup.

Maka secara perlahan aku mendekatkan wajahku pada Chanwoo yang berdiri di sampingku. Beruntungnya Chanwoo sedang melihat ke arah lain. Yeah, dengan begini aku akan lebih mudah menciumnya.

Aku semakin mendekatkan wajahku dan kini tinggal sedikit lagi maka bibirku akan mendarat manis di pipi tembamnya. Iya, seharusnya sih begitu. Tapi sepertinya aku harus merutuk lagi.

.

.

Aku membelalakkan mataku saat Chanwoo menolehkan kepalanya. Membuat bibirku malah bertemu dengan bibirnya.

.

.

Mwo??!!

TBC

[Next]

[Prev]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s