Mr.Chu [Chapter 5]

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

Previous :

1 | 2 | 3 | 4

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

.

.

.

Will I make a mistake?

It’s on my mind, since I’m a foreigner

(Shannon Williams – Why Why)
.

.

.

“YA! AKU TIDAK PAKAI LIPSTIK TAPI LIP BALM, BODOH! CK, LAGIPULA FOTOMU SUDAH KUCOPY KE LAPTOP!”

Tangan kananku yang menggenggam ponsel terangkat. Bersiap melayangkan pukulan pada Chanwoo. “Mwo?!” Chanwoo yang semula terduduk di atas kasurnya, terjengkang ke belakang demi menghindari pukulanku. Tangan kirinya berhasil menahan tanganku. Kaki kiriku terangkat ke atas kasur demi menopang tubuhku yang kini berposisi di atasnya. Baru akan kulayangkan tangan kiriku namun Chanwoo juga sudah menangkapnya. Mencengkeram kedua tanganku di atas tubuhnya.

.

Ceklek.

.

“Saatnya sna—ada apa dengan kalian?”

Kami berdua membeku. Tidak berpindah sejengkal pun dari posisi ini. Hajin baru saja menyembul dibalik pintu dengan senampan snack di tangannya. Sejenak dia hanya terdiam di ambang pintu, tapi kemudian irisnya menatap kami penuh selidik.

“Kalian…kekerasan dalah hubungan ya?” ujar Hajin dengan mata memincing.

Refleks aku bangkit dari atas tubuh Chanwoo. “A-ani, Hajin-ah…aku—

“Ya! Kenapa tidak ketuk pintu dulu?!!” Belum sempat aku menjelaskan, Chanwoo berteriak pada adik perempuannya itu. Bukannya menanggapi, dengan masih membawa nampan, Hajin berjalan keluar kamar dan melongok dari tangga ke lantai satu. Lalu berseru,

“EOMMA! PERKIRAAN EOMMA SALAH, MEREKA BUKANNYA BERMESRAAN TAPI MALAH BERTENGKAR!”

“BERTENGKAR??!!” sahut Eomma Chanwoo histeris.

“YA!” seru Chanwoo lalu bangkit berdiri. Kami berdua dapat mendengar jelas percakapan anak dan ibu antar lantai itu.

“APA MEREKA BENAR-BENAR BERTENGKAR???” terdengar lagi suara Eomma Chanwoo bertanya.

“NE EOMMA, TAPI TENANG SAJA. OPPA KALAH DENGAN SHANNON EONNIE KOK!”

“YA! DASAR BOCAH TENGIK!!” Chanwoo melangkah gusar ke arah Hajin.

Aku bingung, tempo hari mereka berjalan bergandengan layaknya sepasang kekasih. Tapi sekarang? Kata akrab bahkan tak pantas untuk melukiskannya.

Sepertinya Chanwoo belum sempat meraih Hajin karena gadis itu kini sudah menuruni tangga. Kini dia beralih pada pintu kamarnya.

“Aneh, bagaimana bisa bocah itu membukanya. Padahal jelas-jelas tadi pintunya sudah kukunci.”

“DASAR OPPA PABO! KUNCI PINTU DI SETIAP KAMAR KAN SATU ARAH HAHAHA.”

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 5 ———-

.

.

.

“Eomma Chanwoo, sepertinya Shannon harus pulang sekarang.” Jam sudah menunjukkan pukul 6, dan aku tidak mau mengambil resiko dengan pulang lebih larut lagi. Terlebih lagi aku belum mengabari Eomma, maka aku harus pulang sebelum Dad pulang. Walau sebenarnya aku merasa tidak enak pada Eomma Chanwoo yang sedang menata piring di meja makan, bersiap untuk makan malam. Aku menghampiri Eomma Chanwoo yang sedang menuang cream soup kedalam mangkuk-mangkuk kecil.

“Tidak sekalian makan malam saja?” ujar Eomma Chanwoo dengan raut wajah kecewa.

Aku tersenyum kikuk. “Mungkin lain kali—

“Panggil aku ‘Eomonim’ saja Shannon-ah,” sela Eomma Chanwoo.

“N-ne, Eomonim. Mungkin lain kali saja, ini sudah terlalu sore.”

Maafkan Shannon, Eomonim.

“Yasudah kalau begitu. Chan!” jawab Eomma Chanwoo lalu memanggil putranya.

“Ne, Eomma?” Chanwoo yang tengah asyik memainkan ponsel di ruang keluarga menyahut.

“Kau akan mengantar Shannon pulang ‘kan?” Chanwoo agak terkejut dan kemudian dia melirikku.

Seakan menyadari reaksi Chanwoo, aku mengibaskan tanganku dan menolak. “Ani, tidak perlu Eomonim. Shannon panggil taksi saja.” Aku meraih ponsel di saku celanaku.

“Ya. Chanwoo itu pacarmu, tentu saja dia harus mengantarmu. Mana mungkin seorang pemuda meninggalkan gadisnya pulang sendirian,” ujar Eomma Chanwoo sambil melirik ke arah putra sulungnya.

Merasa tersindir, Chanwoo bangkit dan berjalan ke arah tangga. “Neee…Chanwoo juga ingin mengantarnya kok.”

“Gomawo, Chan-ah,” balas Eomma Chanwoo dengan senyum merekah di wajahnya. Sedangkan Chanwoo sudah menaiki tangga ke arah kamarnya. Tak lama kemudian Chanwoo menuruni tangga dengan membawa dua jaket di tangannya.

“Eomma, Chanwoo pergi,” ujarnya seraya berlalu ke arah pintu depan.

“Kami pergi dulu ya, Eomonim.”

“Ne, hati-hati. Sering-sering main kesini ya Sayang, ” jawab Eomma Chanwoo lalu memelukku sekilas. Wangi parfum Chanel’s Chanel No.5 menguar dari tubuh Eomma Chanwoo saat aku memeluknya balik. Benar-benar wanita berkelas. Jangan heran kalau aku mengetahui wangi parfum kaum sosialita itu karena Eomma-ku pernah menggunakannya.

“Ne, Eomonim.” Aku melepas pelukan kami dan tersenyum pada Eomma Chanwoo. Hajin yang baru saja dari dapur menghampiriku.

“Annyeong, Eonnie. Hati-hati dengan Oppa ya!” ujarnya sambil tersenyum penuh arti. Ya! Ada apa dengan anak ini??

“N-ne, Hajin-ah. Annyeong.” Kemudian aku berjalan keluar menyusul Chanwoo. Setelah berada di luar, aku sempat menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan pemuda jangkung itu. Dan kemudian kutemukan dia berada di sisi kiri rumah, atau lebih tepatnya adalah ruang garasi. Chanwoo menghentikan motor besar berwarna merah yang dikendarainya di hadapanku. Aku mengeryit. Chanwoo membawa motor?

Chanwoo membuka helm-nya dan melemparkan sebuah jaket hitam ke arahku. Aku menatap heran ke arahnya. Seolah mengerti, kemudian Chanwoo menjawab. “Pakai itu, kalau kau tidak ingin masuk angin nantinya.” Aku mengangguk mengerti dan segera mengenakan jaket yang nampak kebesaran di tubuhku itu. Wangi khas Chanwoo langsung menyapa indera penciumanku begitu aku memakainya. Chanwoo memang benar, aku baru sadar kalau aku menggunakan sweater yang terlalu pendek. Ehm…apa artinya Chanwoo mengkhawatirkanku?

“Ya. Kau mau pulang atau tidak? Cepat naik.” Suara Chanwoo menginterupsi lamunanku. Aku sempat mendelik kesal ke arahnya tapi kuturuti juga perkataannya. Aku mencengkeram pundaknya karena agak kesusahan saat akan naik. Saat sudah memposisikan bokongku, aku menjawab singkat. “Sudah.”

“Baiklah, berpegangan,” ujar Chanwoo kemudian memakai kembali helm-nya.

“Mwo?” Apa maksudnya dengan berpegangan? Dia kan mengemudi, sedangkan aku…

Chanwoo—yang sudah mengenakan helm—menoleh ke belakang. “Berpegangan. Kau tidak mau hanya aku yang pulang ke rumahmu ‘kan?” Ah, itu maksudnya. Duh, dasar bodoh. Tapi,

Itu artinya aku harus memeluk pinggangnya???

“T-tapi…tapi aku…”

Chanwoo mendesah pelan. Kemudian kedua tanganku tiba-tiba ditariknya dan dilingkarkan di pinggangnya. Membuat tubuhku sontak terdorong ke depan, mengikis jarak diatara tubuhku dengan punggungnya. Dan momen-momen yang kubenci datang. Momen dimana seluruh jaringan dan sel di dalam tubuhku merespon dengan cara jantungku berdegup kencang, darah berlomba-lomba mengaliri pembuluh darahku, bahkan menyebar ke kedua pipiku yang kini telah bersemu. Sial, apa Chanwoo akan mendengar detak jantungku?

“Ini hanya untuk keamanan,” ujar Chanwoo sebelum dia melajukan motornya. Baru saja kami akan melewati gerbang rumah Chanwoo, saat kami mendengar seseorang berteriak,

“YA, JUNG CHANWOO! HARUSNYA KAU MENGANTARNYA DENGAN MOBIL!!!”

***

Pagi ini terbilang sejuk mengingat sekarang sudah pertengahan musim panas. Tapi berbeda lagi kalau sudah tengah hari nanti. Udara panasnya pasti menyengat kulit. Maka pagi tadi sebelum ke sekolah, kusempatkan untuk mengolesi sunblock ke seluruh permukaan kulitku dan tak lupa kubawa pula. Mengingat petang nanti aku ada kegiatan klub tenis.

Hari masih pagi namun kabar burung sudah terdengar sampai telinga ibu kantin. Bukan kabar burung juga sih, lebih tepatnya adalah artikel tentang keluarga Chanwoo. Perkataan Eomma Chanwoo langsung terealisasi hari ini. Sebuah artikel yang mengupas tuntas tentang keluarganya telah terbit pukul 5 pagi tadi. Sontak membuat murid-murid di sekolah ribut membicarakan perihal keluarga Jung itu. Terlebih mereka baru tahu kalau Chanwoo memiliki adik perempuan yang akan segera debut sebagai model.

Aku menyambangi lokerku dan meletakkan seragam serta sepatu tenis yang kubawa hari ini. menukarnya dengan dua buku tebal bertuliskan Sejarah Dunia dan Matematika Trigonometri yang akan kupelajari hari ini. Aku baru saja akan menutup lokerku saat kudengar teriakan-teriakan histeris murid-murid perempuan. Tapi kali ini bukan tentang Chanwoo.

“Vernon!!!”

“Annyeong, Vernon-ah.”

“Selamat pagi, Vernon!”

Dibalik keributan-keributan itu, berdiri seorang pemuda berkulit putih dengan wajah yang tegas akan kesan kebarat-baratan. Pemuda berambut cokelat dengan surai sedikit pajang itu tersenyum manis pada setiap gadis yang menyapanya. Kemarin aku terlalu sibuk memikirkan masalah Chanwoo-menggandeng-seorang-gadis sampai melupakan tentang anak baru itu. Ya, Vernon, pemuda yang tiba-tiba muncul saat Halla nyaris saja mengambil ponselku. Pemuda yang kemudian menarikku dengan alasan minta ditunjukkan dimana kelasku. Pemuda yang ternyata anak baru dan dia masuk ke kelasku.

Biar kujelaskan bagaimana kehadirannya selama seminggu ini membawa pengaruh besar di sekolah ini.

.

.

.

#1 Setiap pagi.

Yah, tidak beda jauh dengan yang terjadi barusan. Dan itu sudah terjadi selama seminggu dia bersekolah disini.

.

.

.

#2 Saat belajar.

“Coba kau, Vernon, maju ke depan dan selesaikan soal ini,” ujar Jang ssaem—guru fisika-ku—sambil menunjuk pemuda bersurai cokelat itu. Menyuruhnya menyelesaikan sebaris soal tentang momentum. Tanpa protes, Vernon maju ke depan kelas. Serta-merta kami semua melongo dibuatnya, karena tak sampai 5 menit dia berjalan santai kembali ke tempat duduknya. Diiringi senyum puas dari Jang ssaem.

Okay, he’s smart.

Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?

Sekonyong-konyong semua gadis mengerubungi mejanya bagai semut mengerubungi gula. Ribut minta diajarkan fisika.

“Vernon-ah tolong ajarkan aku soal nomor 5.”

“Vernon, momentum itu apa?”

“Yang ini pakai rumus apa ya?”

“Vernon, kenapa kau pintar?”

“Vernon, kau memang tampan.”

“Vernon, ajarkan aku!”

“Aku dulu, soalku lebih susah.”

“Minggirlah, kalian menghalangi pemandangan.”

“Ya! Kau yang minggir.”

Lalu mereka bertengkar…

Dan sekarang itu terjadi di setiap pelajaran fisika.

.

.

.

#3 Saat jam makan siang

“Vernon, mau makan siang ya?” ujar dua gadis berkuncir ekor kuda, tersenyum sumringah melihat kehadiran pemuda itu di stand makan siang. Seperti biasa, Vernon tersenyum ramah menanggapinya. “Iya,” jawabnya singkat. Lalu dia mengambil nampan untuk meletakkan makan siangnya.

“Vernon, yang ini enak lho,” ujar gadis satunya lalu meletakkan sandwich tuna diatas nampan Vernon. Lagi-lagi Vernon tersenyum ramah menanggapinya. “Yang ini juga enak.” Tak mau kalah, gadis yang satunya meletakkan pudding susu diatas nampan Vernon.

“Yang ini lebih enak.” Kali ini sebuah pizza mini.

“Ini yang paling enak.” Dan sekarang satu gulungan gimbap.

“Kubilang kan ini.”

“Enakkan ini!”

“Ini!”

“Ini!”

“Ini!”

“Ini!”

“Ini!”

“Ini!”

Lalu kemudian, Vernon kembali ke mejanya dengan nampan penuh makanan…

.

.

.

#4 Saat pelajaran olahraga

“KYAAAA VERNON KEREN!!”

Teriak sekumpulan gadis yang tak lain berasal dari kelasku kala pemuda berwajah kebaratan itu berhasil melakukan lemparan three point. Mata mereka berbinar disertai rumbai-rumbai penyemangat yang digoyangkan ditangan, memandang pemuda itu seakan permata yang bersinar di tengah lapangan. Tak sedikitpun melirik siswa-siswa lainnya, apalagi Yoon ssaem yang mencak-mencak karena kerjaan mereka hanya menonton saja. Dan kurasa sekarang aku butuh penyumbat telinga, karena lengkingan suara mereka yang terdengar dimanapun Vernon berada.

Beruntunglah si Vernon itu. Lelah bermain basket tak perlu lagi binggung mencari minum. Karena gadis-gadis itu langsung menghampirinya dengan berbotol-botol air mineral dan handuk untuk menyambutnya.

.

.

.

#5 Saat pulang sekolah

Aku menatap miris namaku yang terpampang di papan tulis. Karena itu artinya aku bertugas piket hari ini. Itu juga berarti aku tidak bisa pulang bersama Chanwoo. Mataku memincing membaca sebaris nama lain di bawah namaku. Dan sial lah, aku harus piket bersama anak baru, Vernon Chwe.

Kulirik sekilas ke arah bangkunya. Yah, pemandangan tidak asing. Gadis-gadis sudah mengerubunginya bagai lalat. Menanyakan dia akan kemana sepulang sekolah, atau mengajaknya pergi karaoke, yang dibalasnya dengan—lagi-lagi—senyum ramah.

Aku berdecih tapi juga kasihan. Harusnya dia jangan terlalu ramah seperti itu. Karena sejauh kulihat, gadis-gadis itu mulai ngelunjak. Lagipula memangnya tidak risih dikerubungi seperti itu?

Aku jadi ingat saat dia memperkenalkan diri di depan. Dia tersenyum padaku saat aku tertangkap basah memperhatikannya. Yah, sepertinya aku tidak perlu terlalu memusingkan arti senyum itu. Dia hanya terlalu ramah.

Aku terkesiap saat dia menoleh padaku. God, I just stare at him now! Aku merutuk dalam hati. Tapi seperti saat itu, dia malah tersenyum.

Hey, sudah ya. Aku mau piket dulu. Kalian tidak pulang?” ujarnya pada sekelompok gadis itu. Serempak mereka berhenti meracau.

“Kalau begitu biar kami bantu kau piket, Vernon-ah,” ujar salah satu gadis berambut sebahu yang disambut anggukan gadis-gadis lainnya.

Senyum penuh keramahan Vernon tidak luntur, dan dia menjawab. “Mian, tapi sudah ada jadwalnya.” Telunjuknya mengarah pada papan tulis. Serempak—lagi—mereka menoleh ke arah papan tulis dan membaca dua nama yang tertulis disana. Setelah itu, mereka—lagi-lagi—serempak memincing ke arahku.

“Sudah ya, kalian pulang saja. Untuk apa capek-capek piket, padahal bukan jadwal kalian.” Aku harus bersyukur karena Vernon langsung berkata seperti itu sebelum mereka sempat bersuara. “Lagipula, kalian tidak mau dimarahi Kim ssaem ‘kan?”

Lanjut Vernon yang membuat gadis-gadis itu sontak bergidik. Aku memandangnya takjub. Kim ssaem yang merupakan wali kelas kami sangat disiplin kalau menyangkut piket kelas. Bagaimana bisa dia menyindir dengan bahasa sehalus itu. Sepertinya dia tidak seramah yang kubayangkan.

Bagai domba-domba yang digiring, satu persatu gadis-gadis itu menuruti Vernon dan keluar kelas. Hingga tinggal lah kami berdua yang masih berdiri di depan meja masing-masing. Setelah memastikan semuanya telah keluar, Vernon berbalik dan tersenyum kepadaku. Dia menghela nafas perlahan lalu menghempaskan bokongnya di bangkunya sendiri. “Akhirnya tinggal kita berdua ya, Shannon.”

Senyum itu lagi. Kemarin baru saja aku memutuskan untuk tidak mempermasalahkan soal arti senyum itu. Tapi nampaknya, sekarang tidak lagi. Aku mulai sedikit curiga. Ada apa dengannya?

Berusaha acuh, aku berjalan ke depan kelas dan membuka lemari perkakas kelas. Mengambil sebuah sapu dan mulai menyapu pojok kelas.

Hey, kenapa tidak menyahut? Namamu Shannon Williams ‘kan?”

Aku masih berpura-pura menyapu dan tak acuh padanya. Ayolah, jangan membuatku semakin menumbuhkan asumsi-asumsi aneh atas senyumnya itu. Tidak, kau harus tetap bersikap wajar, Shannon. Jangan terlalu akrab dengannya. Kalian juga belum resmi berkenalan. Iya, harusnya aku bisa tetap tenang, tapi kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekat.

Hey, what’s wrong with you?” Vernon mendudukkan diri dibangku dihadapanku. Netranya menatapku sambil bertopang dagu.

Nope, ” jawabku singkat.

So, why did you ignore me?

Aku menghentikan aktivitasku menyapu dan menghela nafas kasar. “Kenapa tidak kau kerjakan saja piketnya?”

Answer me first,” jawabnya keukeuh.

Aku mengernyit. Kenapa sikapnya berubah sekali?

Okay, what do you want?”

“Talk with you.”

Sekonyong-konyong aku merasa krisis udara dan aliran darahku langsung mengalir ke kepala.

“Mwo?! Ya! Kau tidak waras? Kau gila, eoh? Kau baru saja bicara denganku, pabo!” cerocosku akhirnya. Huh, aku sudah menahannya sedari tadi.

Tapi apa? Reaksi yang kudapatkan adalah Vernon terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Keningku semakin berkerut memperhatikan tingkahnya. Sebenarnya dia kenapa sih?

Setelah selesai tertawa, dia menunjukkan smirk nya lalu berujar,

“ Ini baru kau, Shannon.”

***

Aku berjingkat kecil memasuki lapangan tenis. Sekali lagi aku mengecek jam strap putih yang melingkar di pergelangan tanganku, sekarang sudah pukul 4 dan itu artinya aku sudah terlambat 30 menit. Yah, ini karena piket tadi. Syukurnya aku sudah mengganti setelan seragam musim panasku dengan seragam tenis berwarna putih dan sepasang sepatu tenis berwarna merah kesukaanku. Tak lupa aku juga sudah membawa raket tenisku yang sudah bertengger selama 2 hari di loker klub tenis.

Dari jauh aku dapat melihat Taehyung sunbae sedang memberikan pengarahan pada anggota tenis lainnya. Disana berdiri 12 anggota klub tenis termasuk Chanwoo dan Yein.

Aku baru saja berhasil masuk ke dalam barisan saat kudengar Taehyung sunbae berujar, “ Yein dengan Chanwoo.”

Mwo? Dengan Chanwoo? Apa yang dimaksud dengan Yein-dengan-Chanwoo??

Aku masih melongo tak mengerti saat Taehyung sunbae menunjukku. “Ya! Shannon Williams, kau terlambat.”

Aku hanya tersenyum tak berdosa dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Sempat kulihat Chanwoo melirikku. “Mian, sunbae. Tadi aku piket.”

Taehyung sunbae berdecak, “yasudahlah. Oh, iya karena anggotanya ganjil jadi kau berpasangan denganku.”

“Mwo?! Berpasangan apa?” tanyaku pada Yein yang berdiri tak jauh dariku.

“Kita akan ada pertandingan musim panas. Hanya antar anggota klub tenis saja,” terang Yein. Aku mengangguk-angguk mencoba mencerna perkataan Yein. “Tapi apa maksudnya berpasangan tadi?”

“Pertandingannya ganda.”

“Oh, ganda. Ganda putra putri, begitu?” tanyaku yang dijawab anggukan oleh Yein.

Tapi kemudian aku menyadari perkataan Taehyung sunbae tadi.

“Mwo?! Ganda putra putrid?? Itu artinya kau berpasangan dengan Chanwoo???”

“Neeee.”

“Yaaa! Kenapa begitu?!”

Tanpa berdosa, Yein mengedikkan bahu. “Mana kutahu, kau dengar sendiri ‘kan perkataan Taehyung sunbae.”

“TAEHYUNG SUNBAEEEEE…” teriakku memelas pada pelatih tenisku itu.

“Tidak ada protes. Sudah cepat persiapkan dengan pasangan masing-masing! Pertandingannya lusa.” Sahutnya tegas lalu berjalan ke pinggir lapangan.

Aku memandang pasrah ke arah Yein. “Kalau begitu ayo tukaran. Kau saja yang dengan Taehyung sunbae.”

“Shireo,” jawabnya cepat.

“M-mwo?!”

“Shannon-ah kau kan sudah sering bersama Chanwoo, sedangkan aku mengobrol saja belum pernah.”

Aku mendelik ke arah Yein. “Ya! Jeong Yein, kau mau mati, eoh?”

“Terserah. Aku hanya mau bertukar kalau dengan Jungkook sunbae.”

“Ya!”

***

Aku memandang miris pada kedua betisku. Aku meremasnya pelan, merasakan otot-otot kakiku yang menegang. Taehyung sunbae memang kejam. Sebagai partnernya aku disuruh pemanasan dengan lari lima belas putaran serta sit up dua ratus kali. Memangnya aku mau ikut kejuaraan internasional, hah?

Dengan susah payah aku berdiri. Meraih lokerku untuk mengambil baju ganti.

“Kenapa jalanmu seperti itu?” Sebuah suara menginterupsi langkahku. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu suara siapa itu. Aku sudah teramat hafal suaranya. Siapa lagi kalau bukan Jung Chanwoo.

Aku mengerucutkan bibirku kesal. “Itu karena pelatih gila-mu, tahu.” Aku melirik padanya yang sedang mendudukkan diri di bangku yang beberapa saat lalu kutempati.

“Dia juga pelatihmu, pabo.”

Aku berdecih. Tidak Taehyung sunbae atau Chanwoo, dua-duanya sama menyebalkannya.

“Kau tidak ganti baju?”

Aku mengambil sebuah kaos putih dan rok seragam. Kuulurkan kedua benda di tanganku itu di hadapan Chanwoo. “Baru saja aku mau ganti.” Chanwoo yang sedang melepas tali sepatunya hanya memandang sekilas. Aku baru sadar kalau dia sudah mengganti seragam tenisnya dengan sebuah kaos polo biru dongker dan celana seragam.

Aku memperhatikan sekitar dan mendapati hanya kami berdua di ruang ini. apa yang lainnya sudah pulang? Kuputuskan untuk secepatnya ke ruang ganti. Aku berjalan terseok-seok melewati Chanwoo. Baru saja aku akan meraih gagang pintu, kudengar Chanwoo bertanya.

“Hei, kau masih bisa jalan ke halte ‘kan?”

Sontak aku dibuatnya melongo. Belum sempat aku melayangkan protes, dia berdiri dan menyelempangkan ransel birunya.

“Kutunggu di depan gerbang,” ujarnya sebelum menghilang dibalik pintu.

Jung Chanwoo kejam~~~

***

Langit sudah berwarna jingga, menandakan hari sudah petang saat aku keluar dari gedung sekolah. Terlihat halaman sekolah yang sudah sepi. Apakah aku yang terakhir keluar? Yein dan Taehyung sunbae bahkan sudah tak terlihat. Padahal biasanya Taehyung sunbae yang selalu pulang belakangan. Netraku menyisir seluruh sudut sekolah, mencari keberadaan pemuda jangkung yang katanya akan menungguku itu. Tapi nihil. Benar-benar tidak ada siapa-siapa disini. Sepi.

Apa Chanwoo meninggalkanku?

Angin musim panas di siang terik tadi telah berganti menjadi dingin seiring bergantinya waktu. Berhembus pelan, tidak hanya mengusik surai panjangku tapi juga membuat bulu kudukku meremang. Belum pernah kurasakan suasana seperti ini. Sepi, dan…sedikit mencekam.

“Jung Chanwoo.” Kucoba untuk memanggil namanya, berharap siapa tahu Chanwoo masih ada di sini tapi aku tidak menyadarinya.

Tapi, hanya hening yang menyapa.

“Jung Chanwoo!” Aku mencoba berteriak lebih lantang tapi secepat kemudian aku menyesalinya. Apalagi kala seruan burung yang entah-aku-tidak-tahu-namanya berkicau di atas pohon besar di halaman sekolah.

Oh, aku takut sekarang!

“Jung Chanwoo…” lirihku. Suaraku semakin melemah saat kudengar suara gemerisik diantara semak-semak. Oh, jangan lupakan koridor di belakangku yang telah sepi. Jika terdengar suara langkah kaki sedikit saja itu pasti akan membuat suasana—

Tap…

Tap…

Tap…

—menjadi semakin mencekam…

Damn.

Seketika tenggorokanku terasa kelu. Aku baru saja mendengar langkah kaki barusan. Tubuhku mematung saat tak terdengar lagi suara langkah kaki. Entah aku harus bersyukur atau malah waspada. Karena bisa saja langkah itu berhenti karena orang, atau sesuatu, atau apalah itu—aku tidak peduli—telah berdiri tepat di belakangku.

God, this is too much…

Bulu kudukku kembali meremang saat aku merasakan sesuatu itu mendekati tengkukku.

.

.

.

“Shannon~”

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!” Tanpa membuka mata, tanganku terangkat menjauhkan sesuatu-apalah-itu yang berbisik di telingaku.

“Argh.”

Refleks aku membuka mata saat kudengar erangan seorang pemuda atau lebih tepatnya…

“Jung Chanwoo?”

***

“Selamat da—

“EOMONIM…HIKS…MAAFKAN SHANNON…AKU MEMBUAT CHANWOO BERDARAH…HUWEEEEEEEEE…”

.

.

.

“Eomonim, maafkan Shannon…”

Sekarang kami berada di ruang keluarga keluarga Jung. Aku benar-benar merasa bersalah sekali. Biar kuceritakan kejadiannya pada kalian.

Jadi di Jung jelek itu—sepertinya—berniat untuk menakut-nakutinya. Bersyukur aku tidak meninjunya tadi—tidak, huweee…tidak bersyukur, karena yang terjadi adalah; aku sangat panik saat melihat darah mengalir dari pipi Chanwoo. Hiks…aku telah mencakarnya…hiks…

Eomma Chanwoo menghampiri kami dengan kotak P3K di tangannya. “Gwenchana, Shannon-ah. Terkadang Chanwoo memang perlu diberi pelajaran,” ujar Eomma Chanwoo lalu mengedipkan sebelah matanya. “Lagipula lukanya tidak terlalu parah kok. Hanya lecet saja.”

Eomma Chanwoo memang benar. Ini semua tidak akan terjadi kalau Chanwoo tidak menakut-nakutiku tadi. Jujur saja, aku ini paling benci dengan hal berbau horror. Tapi tetap saja, aku tidak enak pada Eomma Chanwoo karena telah melukai—apalagi bagian wajah, putra tampannya.

Kulihat Eomma Chanwoo sedang mengoleskan salep di atas setangkai cotton bud. “Biar aku saja Eomonim!” ujarku sebelum Eomma Chanwoo sempat mengoleskannya pada luka Chanwoo. Eomma Chanwoo agak terkejut sepertinya, tapi kemudian dia tersenyum. “Ah, Eomma mengerti, kau kan pacarnya Chanwoo.”

“A-ani, bukan begitu maksudku eomonim…”

“Kalau begitu Eomma ke atas, ne? Santai saja. Eomma tidak akan ganggu~” Lalu Eomma Chanwoo menaiki tangga menuju lantai dua tanpa sempat aku menjelaskan.

“Hei, cepat obati lukaku. Kau mau membuat wajah tampanku memiliki bekas luka?”

Suara Chanwoo merebut perhatianku. Membuatku sontak menoleh dan disambut dengan wajah masamnya. Aku hampir lupa kalau ada Chanwoo di sini. Itu artinya dia mendengar saat Eomma-nya bilang ‘dia butuh diberi pelajaran’. Aku terkekeh, Eomma Chanwoo memang mengerti anaknya. Dia pasti paham kalau Chanwoo memiliki sifat iseng. Maka dia tidak heran kalau aku mencakarnya. Lagipula, apa itu tadi? Tampan? Huh, dasar Jung Chanwoo terlalu percaya diri!

Tapi memang tampan sih.

Aku mendekatkan cotton bud yang sudah diolesi salep itu ke wajah Chanwoo, atau lebih tepatnya adalah luka cakaranku di pipinya. Chanwoo sedikit meringis, dan itu sangat lucu. “Sakit?”

“Tidak,” jawab Chanwoo cepat. Aku berdecih. Sudah jelas dia meringis tadi, mau berbohong padaku?

Tanganku satunya memegangi dagu Chanwoo agar tidak bergerak. Dengan hati-hati aku mengoleskan salep itu sedikit demi sedikit. Saking telatennya aku sampai tidak menyadari jarak wajah kami yang semakin dekat. Aku juga tidak tahu kemana Chanwoo memandang. Yang jelas…

Kenapa aku merasakan Chanwoo semakin mendekatkan wajahnya?

Aku masih berusaha serileks mungkin. Memfokuskan diri pada luka di pipi kiri Chanwoo. Tak acuh dengan tingkahnya. Tapi, hidung kami sudah bersentuhan?!!

Aku melirik matanya sekilas, dan—oh, kenapa dia menatapku seperti itu?!

“Ya! Kau sudah gila, eoh? Kau mau menciumku dirumahmu??!!” ujarku karena sudah merasa terancam. Detak jantungku bahkan sudah kembali bergerak abnormal.

Bukannya menjauhkan wajahnya, Chanwoo malah menunjukkan smirk nya.

“Wae? Kita juga sudah berciuman di kali pertama kau datang ke rumahku. Dan juga di kamarku, lagi…”

Oh, berbahaya bagi jantungku kalau Chanwoo sudah seperti ini.

TBC

[Next]

[Prev]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s