Mr.Chu [Chapter 2]

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

Previous :

1

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

 

.

.

.

Once I look at you, I want to see you two more times
When I look at you two and three times, I want to walk with you
I like you more and more eventhough I see you everyday

.

.

.

 

Kringg…kringg…kringg

 

15 Januari 2015, hari ini aku terlambat datang ke sekolah setelah 1 bulan lamanya aku tidak lagi terlambat ke sekolah. Alhasil kini aku harus mengepel koridor sampai bel pelajaran ketiga, barulah aku dapat masuk ke kelas. Hukuman ini termasuk tingkat agak mudah setelah sebelumnya aku pernah disuruh mengepel gedung olahraga yang tidak perlu kau tanyakan lagi sebesar apa. Dan tak hanya itu aku juga harus merapikan bola-bola basket yang berhamburan ke mana-mana selepas kelas 3 berolahraga. Sungguh melelahkan bukan? Maka jangan salahkan kalau aku kembali datang terlambat keesokan harinya dan mendapatkan hukuman untuk menyiram bunga-bunga yang ditanam Miss Hana di taman belakang sekolah yang jangan kau pikir adalah sebuah taman mini. Tapi pekerjaan itu masih lumayan menyenangkan karena aku bisa memanjakan mataku dengan bermacam-macam bunga yang berwarna-warni meskipun aku harus kembali ke kelas dengan sepatu penuh lumpur.

Sepertinya aku sudah terlalu lama memikirkan hukuman-hukumanku terdahulu sampai tidak menyadari kalau bel pelajaran ketiga sudah berbunyi sedari tadi. Aku baru ingat kalau jam pelajaran ketiga hari ini adalah pelajaran Kang ssaem, guru fisika ter-killer di kelas 2. Maka aku harus bergegas ke ruang peralatan kebersihan, meletakkan pel dan ember yang sudah membuatku terlihat seperti petugas pembersih sekolah sedari tadi. Ruang peralatan berada di sebelah gedung olahraga, dan aku sudah berada di koridor dekat taman belakang. Maka setelah melewati gedung olahraga. aku akan sampai.

.

Dukkk…

.

Suara apa itu? Ah, pasti suara anak yang sedang bermain basket saat jam pelajaran olahraga.

.

Dukkk…

.

Tunggu. Tapi ini kan hari Rabu jam pelajaran ketiga. Setahuku jam pelajaran olahraga hanya ada pada jam pelajaran keempat dan kelima saat hari rabu. Jadi…siapa yang pada jam pelajaran ketiga bermain basket?

Harusnya aku langsung jalan saja melewati gedung olahraga tetapi kaki nakalku dan…sedikit rasa penasaranku membuatku masuk ke gedung olahraga. Aku hanya bisa berharap agar seseorang yang bermain basket, bukan yang lainnya. Kulangkahkan kakiku dengan sangat perlahan agar seseorang itu tidak menyadari kehadiranku. Dan…aku harus bersyukur karena itu adalah seorang pemuda yang sedang bermain basket sendirian dan masih mengenakan kemeja putih seragamnya. Dia tidak menggunakan seragam olahraga, jelas sekali kalau dia tidak sedang jam pelajaran olahraga.

Sebenarnya apasih yang dia pikirkan?

Kalau memang tidak ada pelajarannya, untuk apa bermain basket sendirian. Tidak tahukah dia betapa melelahkannya membersihkan gedung olahraga itu, tapi syukurlah dia hanya menggunakan satu bola basket. Tapi lebih bersyukur lagi aku tidak harus membersihkan gedung olahraga hari ini.

Mungkin dia salah satu anggota klub basket.

Kudengar klub basket akan ada pertandingan sebentar lagi, makanya dia berlatih sekeras itu. Sedari tadi dia bergerak sangat lincah, berlari kesana kemari memonopoli bola. Tanpa sadar pandanganku jadi tidak bisa lepas darinya, entah sudah berapa lama aku memperhatikannya. Kali ini dia mendribble bola sambil berlari ke arah ring , berhenti beberapa langkah dari ring dan melakukan lemparan three point dan… sukses! Itu sangat mengagumkan. Dia melompat kegirangan dan…tersenyum.Wah, bahkan dia memiliki satu lesung pipi di sebelah kiri, dan itu semakin mempermanis senyumnya.

Tanpa sadar otot-otot pipiku melengkungkan sudut-sudut bibirku, menciptakan senyuman lebar. Aku tidak mengerti mengapa aku ikut tersenyum melihatnya tersenyum. Aku masih memperhatikannya yang sedang tersenyum lebar sampai…mata kami bertemu.

Barusan aku melihat matanya memandang ke arahku. Seketika senyum yang menghiasi wajahku hilang.

Ada apa ini?

Jantungku tiba-tiba berdebar kencang dan pipiku terasa panas. Rasanya seperti ada seribu kelopak bunga sakura menghujaniku saat ini. Refleks aku menunduk, aku tidak mampu mengangkat wajahku saat ini. Apakah aku

“Awas!”

—sesuatu menghantam kepalaku dan semua gelap.

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 2 ———-

.

.

.

KRINGG…KRINGGG…KRINGG

.

.

.

DUKK….BRAKKK…BUGH

“AAKKHHH APPOOOO!!!”

Aku mengelus kepalaku yang baru saja mencium lantai. Ah, bermimpi apa aku tadi.

“Mwo?! Ige eodiya?” Aku mengusap mataku berkali-kali untuk memastikan apa yang kulihat.

“Ah, pabo! Ini kan kamarmu.” Tanpa sadar aku memukul kepalaku. Aku sedikit meringis karena kepalaku kan tadi baru saja mencium lantai. Aneh sekali, kenapa tiba-tiba aku bermimpi saat aku pertama kali bertemu Chanwoo?

Tunggu, jam berapa ini?!

Aku meraih jam beker yang menganggu mimpiku tadi. Oh, jam sudah menunjukkan pukul 07.15 . Sial, aku tidak mau terlambat seperti di mimpiku tadi.

***

“Kau hampir saja terlambat, nona Williams.”

Aku melemparkan ransel merah-ku ke atas meja. Disusul dengan bokongku yang terhempas ke kursi dan wajahku yang kubenamkan di atas ransel. Pagi-pagi aku sudah membakar lemak dengan berlari dari halte ke sekolah yang berjarak 100 meter.

“Shannon-ah kau sudah meng—” Yein tak menyelesaikan ucapannya saat aku mengangkat wajah dan menatapnya. “Wae?” tanyaku melihat wajahnya yang menatapku tak berkedip.

“Kau memprihatinkan, Shannon Williams.”

“Mwo? Apa maksudmu?”

“Ada apa denganmu? Rambut berantakan, kusut, mata sembab dan sayu—oh, jangan lupakan lingkaran hitam itu!”

Aku kembali menghempaskan kepalaku frustasi. “Aku tidak bisa tidur semalam.”

“Tidak bisa tidur? Ada apa?”

Aku kembali menegakkan tubuhku. Memasang wajah serius dengan tangan yang mengepal. Aku mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. “Itu karena Chanwoo men—asdfghjkl@#$%^&”

“Ya! Kau bicara apa? Chanwoo men-apa?!”

“Pe-lan-kan su-a-ra-mu Jeong-Ye-in!”

“Iya, iya. Tapi kau bicara yang jelas dong.”

“Chanwoo men—asdfghjkl@#$%^&*. AKU TIDAK BISA MENGATAKANNYA!”

“Pe-lan-kan su-a-ra-mu Shan-non-Wil-li-ams!”

“Iya, iya. Maafkan aku—chamkaman, biarkan aku berdoa.” Aku menangkupkann kedua tanganku dan merapalkan doa.

“Berdoa??”

Ya Tuhan, semoga Park ssaem cepat datang. Semoga istirahatnya tidak terlalu lama. Semoga cepat pulang ya Tuhan. Dan yang terpenting….AKU TIDAK MAU BERTEMU CHANWOO HARI INI YA TUHAN!

“Selesai.”

Aku merasakan sesuatu menyentuh keningku. “Kau tidak panas. Kau tidak sakit kan?” tanya Yein dengan telapak tangan kanan menyentuh keningku. “Kau perhatian sekali Yein-ah,” jawabku yang sontak saja membuat Yein menarik tangannya dari keningku. Aku terkekeh melihat reaksinya.

“Ah, aku lupa kalau kau memang sinting!”

“Ya!” Refleks kupukul lengan Yein.

“Akh! Appo! Kubalas kau!”

Yein baru saja ingin maju membalasku, namun penampakan kepala pelontos Park ssaem telah lebih dulu muncul. Membuat Yein mengurungkan niatnya memukulku. Yein melemparkan tatapan tajam ke arahku, yang kubalas dengan kikikan.

Terima kasih Tuhan! Kau telah mengabulkan permintaanku.

***

Bel istirahat baru saja berbunyi. Dengan segera aku menarik Yein menuju kantin. Sebenarnya aku sedang ingin menghindari tempat keramaian karena bisa saja aku bertemu Chanwoo nantinya. Namun berdiam di dalam kelas memiliki potensi besar untuk bertemu Chanwoo karena Chanwoo pasti akan melewati kelasku saat akan ke kantin atau ke manapun karena letak kelasnya yang berjarak satu kelas dari kelasku. Yang perlu kulakukan adalah membeli roti dan segera menyeret Yein lagi menuju taman atau manapun. Yang jelas aku TIDAK MAU BERTEMU CHANWOO. Dia pasti sedang marah padaku saat ini.

Yein sedang mengantri membeli roti, tugasku adalah membeli minuman kalengan untuk kami. Maka sekarang aku berdiri di depan mesin minuman. Kumasukkan koin ke dalam lubang koin. Yein bilang dia mau cola. Aku memencet tombol cola. Hmm…aku ingin minum apa ya? Ice tea, susu, strawberry—

Byuuurrrr…

Aku merasakan lenganku basah. Seseorang baru saja menyiram lengan seragamku dengan orange juice. Dan seseorang itu adalah—

.

“Mianhae Shannon Williams, tanganku licin.”

.

—Halla. Gadis yang tempo hari bertengkar denganku. Setelah mengatakan ‘maaf’ dengan nada meremehkan begitu, dia tersenyum sinis ke arahku. Oh, apa yang diinginkan preman ini?

Tanpa sempat aku menjawab dia sudah melenggang pergi meninggalkanku. Dasar kurang kerjaan. Aku mengambil tisu yang ada di kantung seragamku. Kuseka lenganku yang terkena jus. Sial, ini akan lengket. Aku tidak akan ambil pusing. Paling ini masalah Chanwoo. Lebih baik aku membeli minu—

“Jung Chan—AAAKKKHHHHHH!!!!” Aku menoleh saat mendengar suara yang kalau tidak salah adalah suara jeritan Halla. Semua penghuni kantin juga memperhatikannya. Pemandangan Halla yang menjerit karena seragam putihnya berubah warna menjadi oranye dan Chanwoo yang memegang sebotol orange juice.

“Ah, orange juiceku.” Setelah berucap begitu, Chanwoo berbalik hendak pergi.

“Ya, Jung Chanwoo!” Tapi Halla menghadangnya.

“Siapa suruh kau mengagetkanku. Setidaknya aku tidak memintamu ganti rugi.” Aku hampir tertawa mendengar jawaban polos Chanwoo.

“Mwo?!” Kurasa Halla syok menyadari sifat orang yang disukainya. Aku masih memandang mereka dan berusaha menahan tawaku. Namun aku tak berkutik saat mata Chanwoo beralih menatapku.

.

Ah, mati aku.

.

***

Sekali lagi aku mematut diri di cermin toilet. Nodanya tidak terlalu membekas. Bagaimana tidak, aku telah membersihkannya berulang kali. Setidaknya aku tidak akan dikerubungi semut. Aku bersyukur ternyata aku memiliki kemampuan lari yang lumayan. Jadi setelah Chanwoo menatapku tadi, aku langsung ambil langkah seribu ke toilet perempuan. Dan Chanwoo tidak mungkin mencariku kesini ‘kan?

Sebentar lagi pasti bel masuk. Kalau aku langsung ke kelas, aku tidak akan bertemu dengan Chanwoo. Aku melangkah keluar toilet. Namun seseorang menghadangku.

“Kau mau kemana?”

“J-jung?!”

.

.

.

Aku tidak sanggup mengangkat wajahku. Tanganku berkeringat, jantungku berdegup kencang dan pipiku memanas. Sial, aku malu sekali. Apa yang akan Chanwoo lakukan? Entahlah, aku bahkan tak bisa melawan saat Chanwoo menarikku ke sini—gedung olahraga.

“Kemarin seseorang baru saja mengataiku ‘mesum’,” ujar Chanwoo membuka pembicaraan.

Mati kau. Mati kau. Mati kau Shannon.

Aku mengepalkan tanganku erat. Kepalaku terasa berat. Aku tidak mungkin bisa menatap Chanwoo.

“Mianhae, jeongmal mianhae Jung Chanwoo,” sesalku.

“Apakah cukup dengan kata-kata ‘mianhae’?”

Oh, Chanwoo benar-benar marah.

“Aku dipelototi orang-orang kemarin, bahkan ahjumma-ahjumma yang lewat juga menceramahiku.”

Iya aku tahu Jung Chanwoo. Aku tahu Shannon itu bodoh. Tanpa sadar aku menepuk bibirku sendiri. Kepalaku tertunduk semakin dalam.

Tangan kanan Chanwoo maju mengangkat daguku. “Aku juga penasaran, benarkah aku mesum, Shannon?” Membuat netra kami bertemu, dan aku dapat menatap jelas wajah Chanwoo yang berada tepat di hadapanku.

“Anio, kau tidak mesum Jung Chanwoo.”

Bukannya menjawab, Chanwoo semakin mendekatkan wajahnya.

“C-chan…”

Apa yang akan Chanwoo lakukan?

Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah memejamkan mata. Menunggu segala kemungkinan yang akan terjadi. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa.

.

Aku diam. Aku menunggu. Tapi tidak ada yang terjadi. Akhirnya dengan takut-takut kubuka mataku.

.

Chanwoo tertawa.

Heh?

“Pabo,” ujarnya lalu menjauhkan wajahnya dan melepaskan daguku.

Mwo? Apa artinya itu?

Dia barusan hanya mengerjaiku?

Sial, Jung Chanwoo! Aku hampir saja mati malu.

Sepertinya aku baru saja menyadari satu lagi sifat Chanwoo, yaitu iseng.

Setelah puas tertawa Chanwoo berujar, “baiklah, aku tidak akan menciummu lagi.”

“Mwo?!” Aish, mulut sialan. Kenapa aku berkata seperti itu.

“Wae?” ujar Chanwoo sambil menaikkan sebelah alisnya. “Kau mengataiku mesum karena aku menciummu.”

“Itu karena kau men—asdfghjkl@#$%”

AHHHH AKU TIDAK DAPAT MENGATAKANNYA!

“Kau mengatakan apa tadi?”

“P-perjanjian tetap perjanjian!”

Aku tidak menyangka, aku berani berkata seperti itu. Habis mau bagaimana lagi?

Kulihat Chanwoo terdiam agak lama. “Baiklah, tapi ada syaratnya.”

“Syarat apa?”

“Cium aku.”

“MWO?!”

“Kalau kau berani menciumku, kita impas. Dan aku akan memaafkanmu karena telah mengataiku ‘mesum’, ” ujar Chanwoo dengan penekanan pada kata ‘mesum’.

.

Ya Tuhan, barusan aku tidak salah dengar kan?

.

Jung Chanwoo sudah gila ya Tuhan.

.

Chanwoo masih terdiam menunggu jawabanku.

.

Ampuni dosa Jung Chanwoo ya Tuhan.

.

Irisnya menatapku tak berkedip.

.

Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan. Aku…Aku…AAAHHHH AKU TIDAK BISA MELAKUKANNYA!

.

“Ting…Teng…kepada seluruh siswa yang masih berada di luar kelas, dimohon untuk kembali ke dalam kelas. Pelajaran akan segera dimulai…”

.

TERIMA KASIH YA TUHAN!

.

“Jung Chanwoo, sudah bel—”

Chanwoo masih menatapku intens. Sial, tatapanmu saja sudah membuatku tak berkutik, Jung Chanwoo!

.

“Kepada seluruh siswa, kalian masih boleh berada di luar. Pelajaran akan diundur 10 menit karena ada rapat guru.”

.

Damn!

.

Lebih baik aku jujur saja.

“A-aku tidak bisa. Lagipula…aku lebih pen—” Aku belum menyelesaikan kalimatku, seakan mengerti Chanwoo sudah lebih dulu merendahkan tubuhnya.

Sial!

Sial!

Sial!

Baiklah, memang aku bisa apalagi ya Tuhan.

“Tutup matamu!”

Kuatkan aku ya Tuhan.

“Ya…ya…baik. Seperti ini?” Chanwoo memejamkan matanya dengan wajah yang dicondongkan ke arahku.

Bahkan Chanwoo terlihat sangat tampan sedekat ini!

Aku menarik nafas.

Dengan perlahan sembari mengatur detak jantungku, aku memajukan wajahku. Jarak diantara kami semakin menipis, hingga aku dapat merasakan hembusan nafas Chanwoo menerpa wajahku. Kupejamkan mataku perlahan. Seperti dikenai mantra, tubuhku bergerak sendiri. Dan kini bibirku telah menyentuh bibirnya. Aku berdiam di posisi ini agak lama. Darahku berdesir. Aku merasakan seluruh tubuhku memanas. Tidak ada gerakan dariku maupun Chanwoo. Kami sama-sama terdiam.

Tak lama, aku yang lebih dulu menarik diri. Aku membuka mataku, disusul Chanwoo. Dia menatapku, dan aku kembali menunduk. Kepalaku semakin tertunduk saat Chanwoo mengacak rambutku.

“Ayo kembali ke kelas,” ujarnya lalu berjalan mendahuluiku.

Aaaahhhh aku tidak percaya ini. Aku menciumnya!

***

“Ya! Shannon, kau kemana saja.”

“Yein-ah.”

“Hm?”

“Sepertinya aku tidak bisa tidur lagi malam ini.”

***

16 Januari 2014, setelah kemarin aku terbangun di ruang UKSdan beruntungnya tidak mendapat hukuman dari Kang ssaem karena bolos pelajarannyamaka hari ini aku akan mencari pemuda misterius yang bermain basket sendirian kemarin. Kudengar dari Junhoe kalau hari ini pukul 3 klub basket akan berlatih, maka setelah mendengar bel pulang berdering aku bergegas merapikan barang-barangku dan berlari menuju gedung olahraga.

Aku masih mencoba mengatur nafasku karena berlari dari kelas sampai gedung olahraga saat kutemukan ruang olahraga masih kosong melompong. Apa biasanya mereka selalu datang terlambat? Padahal jam sudah menunjukkan pukul 3.15 . Akhirnya kuputuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang sambil menunggu klub basket berkumpul.

Drrrtt…drrtttt…

Saat sedang asyik menikmati pemandangan hamparan bunga matahari, ponselku bergetar. Aku meraih ponselku yang kuletakkan di kantung seragamku. Ternyata sebuah pesan dari Yein.

‘Shannon-ah, kau kemana? Pulang sekolah langsung menghilang. Kalau kau belum pulang, aku mau pinjam buku catatanmu yang kemarin. Aku masih di kelas.’

Sepertinya klub basket juga akan terlambat, sambil menunggu lebih baik aku mengambilkan buku catatan untuk Yein. Seingatku aku meletakkan buku catatan kemarin di loker. Maka setelah membalas pesan singkat Yein, aku berjalan ke arah koridor tempat dimana deretan loker-loker murid berada.

Koridor masih ramai karena bel pulang belum lama terdengar. Aku menyambangi salah satu loker merah yang terdapat stiker alfabet ‘SW’ di pintunya.

Aku sedang mengaduk-aduk isi lokerku, mencari buku catatan bersampul kuning milikku. Kemudian terdengar suara pintu loker dibuka tidak jauh dariku. Tidak ada orang lain lagi di jarak antara aku dan orang tersebut. Tidak sengaja aku menoleh, mencari tahu siapa itu.

Dan kau pasti tidak akan percaya, karena aku pun juga. Netraku membelalak menyadari siapa orang itu.

Itu dia!

Pemuda misterius yang kutemui kemarin. Seseorang yang kutunggu sedari tadi. Sepertinya dewi Fortuna sedang berpihak padaku, karena ternyata loker pemuda itu hanya berjarak dua loker dari milikku. Kemana saja aku selama ini?

Aku menyembunyikan wajahku dibalik loker. Hatiku berjerit saat ini. Aku mengepalkan tanganku ke udara. ‘Yeah, aku akan lebih sering melihatnya mulai sekarang’.

Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya yang sedang sibuk meletakkan buku ke dalam loker. Sepertinya aku perlu melubangi pintu lokerku. Kekeke…kau terdengar gila, Shannon. Aku dapat melihat wajahnya lebih jelas dibanding kemarin. Tapi tetap, senyumnya yang kemarin tidak dapat kulupakan. Ah, tapi aku belum mengetahui namanya. Kuputuskan untuk menunggunya sampai selesai. Tak lama berselang dia menutup pintu lokernya dan berjalan pergi. Aku tetap berada di posisiku. Setelah memastikan dia sudah tidak terlihat, aku menutup lokerku. Kebetulan koridor sudah mulai sepi. Aku berjalan perlahan ke arah lokernya. Berpura-pura hanya lewat, aku mengamati label di pintu lokernya.

Jung Chanwoo.

Akhirnya aku mengetahui namanya.

***

Aku sampai lebih pagi hari ini. Ini karena—yah, aku tidak perlu menceritakannya lagi ‘kan?

Seperti biasa, sebelum masuk ke kelas aku akan mampir ke lokerku dulu. Sekedar mengambil buku pelajaran hari ini. Aku membelalakan mataku saat membuka pintu lokerku. Tumpukkan kertas—yang lebih pantas disebut sampah—memenuhi isi lokerku. Bahkan beberapa jatuh ke lantai saat aku membukanya. Sepertinya perlakuan ‘spesial’ lainnya harus kuterima pagi ini.

“Kau tidak pernah membersihkan lokermu?” Aku tersentak.

Seseorang menyembulkan kepalanya dari samping wajahku.

Jung Chanwoo?!

“Ini apa? Surat penggemar? ” ujarnya sambil menunjuk tumpukkan kertas di dalam lokerku.

.

Brakk

.

Dengan panik, segera kututup pintu lokerku.

Iya, surat penggemarmu yang benci padaku Jung. “Itu hanya…kertas coret-coretan,” jawabku sekenanya.

Chanwoo menatapku datar. Tapi pergerakan dirinya selanjutnya benar-benar tak aku perkirakan. Dia berjongkok. Oh, dia memungut kertas yang jatuh ke lantai. Dengan cepat aku merebut kertas itu dari tangannya. Aku juga memungut kertas lainnya yang masih di lantai dan memasukkannya ke dalam ranselku. Aku langsung bangkit.

“Aku duluan ya, Jung.”

Dan segera mengambil langkah seribu ke kelas.

***

“Wah surat yang menarik ” Aku menghempaskan kertas-kertas itu ke atas meja.

“Shannon jelek, Shannon norak, Chanwoo tampan dengan Shannon itik buruk rupa… yah pujian yang menarik. ” Hanya itulah isi dari surat-surat ‘penggemar’ ini. aku menelungkupkan kepalaku di atas meja.

Tapi tetap saja, aku tidak mau Chanwoo tahu surat-surat ini. Ini memalukan. Huh, memang apa salahku?

Apa aku benar-benar tidak pantas untuk Chanwoo?

Sudahlah, tahu apa mereka?

Yang terpenting Chanwoo dan aku berpacaran. Yah, meskipun hanya berpura-pura. Tapi setidaknya aku juga sudah berciuman dengan Chanwoo kekeke…

Aku mengepalkan tanganku ke udara. Shannon Williams fighting!

“Shan, kau kambuh lagi?”

***

Siang ini kantin lumayan ramai. Aku membawa nampan berisi makan siangku bergegas menuju meja favoritku, yaitu di dekat stand dessert. Aku sangat senang karena menu makan siang hari ini adalah sandwich tuna kesukaanku ditambah salad kentang, dan juga tidak lupa ada buah pisang , jeruk dan jus stoberi. Aku sangat suka buah-buahan. Aku baru saja akan mengupas kulit pisang saat kudengar suara gadis yang berbisik-bisik di belakangku.

“Hei , bukankah itu gadis yang mengaku pacarnya Chanwoo?”

Pacarnya Chanwoo? Mereka membicarakanku? Tunggu. Mengaku? Hei, aku ini memang pacarnya!

“Kenapa dia makan sendirian?”

Aku mengurungkan niatku untuk mengupas kulit pisang dan memilih untuk diam-diam mendengarkan ocehan gadis—ralat dua gadis itu.

“Mungkin dia tidak punya teman.”

Hei, kalau bukan karena Yein sedang bertugas di perpustakaan, aku tidak mungkin makan sendirian.

“Hei, itu Chanwoo! Dia berjalan ke arah sini.”

Apa kata mereka barusan? Ada Chanwoo?

Aku mengikuti arah perhatian dua gadis itu dan menemukan sosok lelaki jangkung yang membawa nampan itu tengah berjalan ke arahku. Tunggu. Sedang apa Chanwoo menuju ke sini?

“Jangan-jangan dia mau menghampiri gadis itu?” terdengar ocehan salah satu gadis di belakangku lagi.

Oh iya, ini bagus! Kalau Chanwoo makan bersamaku maka gadis-gadis itu tidak akan me—

Lho?

Apa yang baru saja terjadi?

Apa Chanwoo baru saja melewatiku?

Hah? Apa-apaan itu? Dia bahkan tidak melirik sedikitpun padaku. Kuperjelas lagi, Chanwoo baru saja lewat di hadapanku tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Tidak mungkin dia tidak melihatku, kan? Jelas-jelas dia lewat tepat di hadapanku. Apa aku sekecil itu? Bukan berarti maksudku aku gendut—hanya saja aku tidak kecil.

Bodoh sekali aku mengira kalau laki-laki dingin itu akan menghampiriku.

“Chanwoo tidak menghampirinya.” Lagi-lagi terdengar ocehan gadis-gadis sialan itu. Aku sampai lupa kalau tadi ada dua gadis yang sedang membicarakanku.

“Tuh kan, dari awal aku tidak yakin kalau mereka berpacaran.”

“Paling gadis itu hanya mengaku-ngaku.”

Dasar Chanwoo menyebalkan! Karena dia aku jadi malu.

“Iya, mana mungkin Chanwoo berpacaran dengan gadis biasa seperti itu.”

Ya ampun telingaku sakit! Tidak bisakah gadis-gadis penggosip itu berhenti? Sebaiknya kutegur saja mereka.

Aku menoleh ke belakang. Belum sempat aku bersuara, aku mendengar suara decitan kursi di hadapanku ditarik oleh seseorang. Saat aku berbalik, seorang pemuda duduk di bangku tersebut. Tepat di hadapanku. Pemuda itu adalah Chanwoo.

Apa yang dia lakukan?

Belum sempat aku bertanya, dia meletakkan sesuatu di nampanku. Apa ini? Satu cup puding susu?

“Apa ini?”

“Puding susu.”

“Aku juga tahu! Tapi kenapa kau memberiku ini?”

“Tadi aku diberitahu bibi kantin kalau dessert hari ini adalah puding susu kesukaanmu.”

Darimana dia tahu aku suka puding susu?

“Dan kulihat kau belum mengambilnya, jadi kuambilkan untukmu.” Chanwoo agak membesarkan volume suaranya. Aku tidak tahu kenapa tapi sepertinya agar dua gadis di belakangku dapat mendengarnya.

“Kenapa kau ke sini?”

“Karena kulihat kau sendirian.”

“Aku kira kau tidak mau makan denganku.”

“Dimana teman-temanmu?”

“Entahlah.”

“Apa kau selalu makan sendirian?”

“Aku suka makan sendirian.”

“Benarkah?” Chanwoo melirik sekilas ke arah dua gadis di belakangku. “Tapi kurasa kau tidak benar-benar sendirian.”

Cih, dasar menyebalkan. Jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku sedang dibicarakan. Tapi tadi dia lewat saja. Dia pasti mengerjaiku lagi. Aku benci wajah menyebalkannya—tapi tampan.

Aku mengamati nampan berisi makan siang Chanwoo. Tidak jauh berbeda denganku. Sandwich tuna, salad kentang dan 3 bungkus sachet saus tomat—ah aku jadi ingat saat mengambil bungkus saus tomat bekas Chanwoo dulu. Dan minumannya, tersedia satu large cup orange juice di nampannya—sepengamatanku dia sangat menyukai orange juice.

Mengingatnya membuatku tanpa sadar tertawa kecil dan itu mencuri perhatian Chanwoo. Chanwoo mengikuti arah perhatianku, yaitu nampan makan siangnya, Chanwoo kemudian mengambil satu bungkus saus tomat dan membukanya. Menuangkannya di atas sandwich tuna miliknya. Setelah isi saus itu hampir habis, Chanwoo menyodorkan bungkus saus itu padaku. “Kau mau?”

“Hah?” Chanwoo mengamit tanganku dan meletakkan bungkus saus itu di atas telapak tanganku. Aku memandangnya bingung. “Untuk apa? Ini kan sudah mau habis.” dia tidak menjawab dan hanya menggigit sandwich tunanya. Apa maksudnya? Aku memperhatikan bungkus saus itu sejenak lalu mengangkat wajahku menatap lelaki di hadapanku itu, Chanwoo tersenyum penuh arti. Ada apa dengannya? Dia aneh—hei, tunggu! Jangan-jangan dia tahu soal…

Refleks aku bangun dari kursiku. “Kau kenapa?” tanya Chanwoo bingung akan tingkahku yang tiba-tiba itu. Aku tidak berani menatap wajahnya. “A-aku lupa sepertinya ada tugas yang belum kuselesaikan. Aku ke kelas duluan ya.” ucapku terbata lalu mengangkat nampanku dan melangkah pergi meninggalkannya. Aku sudah tidak sanggup berlama-lama lagi, aku sudah terlalu malu. Baru beberapa langkah kudengar suaranya menertawaiku. Ya ampun ini sangat memalukan!

***

Aku membuka pintu lokerku frustasi. Apa yang harus kulakukan pada tumpukan ‘surat penggemar’ ini? Sebuah tong sampah menarik perhatianku. Ah, iya kubuang saja. Memang sudah seharusnya sampah dibuang di tempat sampah. Aku mengambil semua kertas itu dan menjejalkannya di tong sampah. Setelah itu aku menepuk-nepukan tanganku. Lain kali mereka harus lebih disiplin. Iya, benar!

Iya, sekarang lokerku terlihat lebih baik. Walau aku yakin ini tidak akan bertahan lama. Gadis-gadis itu pasti akan melakukan hal yang lainnya esok pagi. Tapi setidaknya jangan sampai Chanwoo melihat semua sampah itu.

Brakkk

.

Aku menutup pintu lokerku.

.

Brakkk

.

Namun terdengar suara yang sama dari samping kananku. Dan disusul—

.

“Tugasnya sudah selesai?”

.

J-JUNG CHANWOO?!

Jung Chanwoo berjalan menghampiriku. “S-sudah,” jawabku terbata. Aku jadi salah tingkah sendiri. Aku lupa kalau kami akan pulang bersama seperti biasanya. Aku menutup wajahku. Aku bahkan masih malu saat di kantin tadi. Lagipula,

sejak kapan dia ada disana?

“Hari ini aku tidak bisa pulang bersama,” ujar Chanwoo. Membuatku menurunkan tangan dan langsung memandangnya yang sedang melihat ke arah lain. “Wae?”

Chanwoo beralih menatapku. “Aku ada kegiatan klub.”

Klub? Klub apa?

Apa mungkin klub basket? Tidak, setahuku kegiatan klub basket setiap hari selasa. Tapi ini kan hari rabu. Sebenarnya aku juga tidak yakin kalau Chanwoo adalah anggota klub basket. Malah kukira dia tidak masuk klub apapun. Dia terlalu bebas.

“Kalau begitu, aku duluan.” Chanwoo melambaikan tangan sekilas dan berbalik.

“A-ah, ne.” Aku membalas lambaian tangannya. Aku pun masih memandangi punggung tegapnya sampai akhirnya hilang dibalik pintu.

Kira-kira Chanwoo masuk di klub mana? Satu-satunya yang terpikirkan olehku adalah klub basket. Tapi sepertinya bukan itu. Entahlah, aku tidak tahu. Kenapa dia tidak pernah memberitahuku?

Eiyy…kau bicara seakan-akan kau pacar yang selalu dikabari olehnya, Shannon.

.

Drrrttt…drrttt…

.

Aku merasakan ponsel di kantung seragamku bergetar. Siapa yang meneleponku? Apa mungkin Chanwoo tidak jadi pergi ke klub dan mengajakku pulang? Maka tanpa melihat siapa si penelepon, aku langsung menempelkan ponselku di telinga.

“SHANNON WILLIAMS, AKU TIDAK MAU TAHU! TIDAK ADA PENOLAKAN HARI INI!!”

Aku menutup telingaku yang pengang karena lengkingan suara Yein. Aku bahkan belum sempat bersuara.

“Aish, Jeong Yein!”

“TIDAK ADA PEN—

“ARRASEO! ARRASEO!!”

Sepertinya aku tidak bisa kabur lagi hari ini.

“Kutunggu kau di lapangan, ppali!”

***

“Jeong Yein.”

“Hm?”

“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau Chanwoo anggota klub tenis?!” Aku mengeram frustasi.

Kalian harus mengerti bagaiman syok-nya aku melihat sosok itu di lapangan tenis. Iya, sosok pacarku. Aku baru saja masuk, saat pemandangan sosok Chanwoo yang dibalut seragam tenis berwarna putih menyambutku. Mungkin benar yang dikatakan pepatah, kalu jodoh memang tidak kemana. Aku baru saja berpisah tadi dengannya, namun kami bertemu lagi disini. Dan begitu seterusnya selama kegiatan klub tenis. Tapi, kenapa si Jeong Yein ini tidak pernah memberitahukannya padaku???

Surprise!” ujar Yein sambil meletakkan kedua telapak tangannya disamping wajah.

“Mwo?”

“Ne, aku sengaja melakukannya.”

Aish, gadis ini sudah gila.

“Agar kau menyesal tidak bergabung sedari dulu, ” ujar Yein seolah menang dariku.

Sial. Tidak pernah terpikir olehku kalau Chanwoo merupakan anggota klub tenis. Kalau begini caranya, aku menyesal telah keluar dari klub ini semester kemarin.

“Ish, jinja! Awas kau—

“Ya, ya, ya! Cepat mulai latihannya. Lari tiga putaran sebagai pemanasan.”

Aku baru saja akan menyerang Yein, namun teriakkan Taehyung sunbae— pelatih kami— menyelamatkannya. Awas kau Jeong Yein!

.

.

.

Author POV

Seorang gadis berbalut seragam itu sedang memperhatikan klub tenis dari bangku penonton. Melihat mereka yang sedang asyik bercanda membuatnya iri. Disana juga ada kedua teman baiknya. Dia rindu latihan tenis.

“Ya, ya, ya! Cepat mulai latihannya. Lari tiga putaran sebagai pemanasan.” Teriak seorang pemuda berambut oranye yang tak lain adalah pelatih mereka. Mereka berhenti bercanda dan mulai berlari mengikuti instruksi sang pelatih. Setelah memastikan para anggotanya sudah mulai pemanasan, pemuda bertopi putih itu berjalan menghampiri bangku penonton.

“Ryu Sujeong, kau tidak ikut latihan?” tanyanya setelah menempatkan diri di samping gadis itu.

“Sebentar lagi aku ujian akhir, ahjussi,” jawab Sujeong, perhatiannya masih tertuju ke arah lapangan.

“Ya! Jangan panggil aku ahjussi! Aku tidak setua itu.”

“Taehyung hyung kami sudah selesai lari!” ujar salah satu anggota tenis memecah konversasinya dengan Sujeong.

“APA? KENAPA KALIAN CEPAT SEKALI LARINYA?? YASUDAH, TUNGGU SEBENTAR! Su—” Taehyung beralih pada Sujeong, namun gadis itu sudah raib dari sampingnya. “Ya, Ryu Sujeong! Kau mau kemana?” Dilihatnya Sujeong tengah berjalan masuk ke gedung sekolah.

“Bye, ahjussi.” Gadis itu hanya melambaikan tangan tanpa berbalik.

“Mwo? Ya, ish! KALIAN LARI 5 PUTARAN LAGI!!”

“MWO?!!”

Author POV end

.

.

.

“Kenapa Taehyung sunbae kejam sekali? Ini kan hari pertamaku kembali ke klub tenis.”

“Baguslah kau masuk klub tenis.”

Lho?

Kenapa yang menyahut suara laki-laki? Aku yakin sekali kalau tadi aku lari bersama Yein. Dan juga kenapa suara itu terdengar seperti suara—hmm…Chanwoo?

Aku menoleh, dan dugaanku benar. Tubuh jangkung Jung Chanwoo berada tepat di sampingku. Dia menyamakan tempo berlarinya denganku. Aku menatapnya heran. Apa maksud perkataannya barusan?

“Jadi aku tidak perlu ke kelasmu,” ujar Chanwoo lagi.

What? Ternyata itu. jadi dia benar-benar tidak senang harus menjemputku di kelas. Dan juga…dia ini kenapa tidak bisa berkata manis? Bilang saja itu karena dia jadi bisa melihatku setiap hari.

Eiyy, aku menipu diri sekali.

“Pacaran lagi, eoh?”

Lho?

Kok sekarang suaranya jadi perempuan? Dan terdengar seperti Yein. Aku menoleh dan itu benar-benar sosok Yein. Aneh, apa aku bermimpi di siang bolong. Tadi itu Yein, lalu jadi Chanwoo, lalu sekarang Yein. Ini Yein yang sebenarnya Chanwoo atau Chanwoo yang sebenarnya Yein. Tapi kemudian aku melihat tubuh jangkung Chanwoo yang berlari jauh di depanku. Syukurlah, ternyata Chanwoo bukan Yein.

“Ah, aku menyesal kau masuk klub tenis,” ujar Yein.

“Yaaa!”

***

Author POV

“Kau pulang dengan Chanwoo, Shan?” tanya Yein. Mereka sudah selesai latihan dan juga mengganti seragam tenis mereka dengan seragam sekolah.

“Aku tidak tahu.” Shannon berpikir sebentar. Tidak ada tanda-tanda Chanwoo mengajaknya pulang bersama. Mungkin lebih baik dia pulang dengan Yein. Dia juga sudah lama tidak pulang dengan sahabatnya itu. “Yein-ah, sepertinya aku akan pulang dengan—

“Shannon Williams, ayo cepat.” Tiba-tiba saja sosok Chanwoo melewati mereka. Shannon mengernyit tak mengerti. Dia hanya memandangi Chanwoo, hingga akhirnya pemuda bertubuh tegap itu berhenti di depan gerbang dan berbalik. Shannon masih tidak mengerti sampai Yein menyenggol lengannya. “Chanwoo mengajakmu pulang bersama, pabo.”

“Mwo? Pulang bersama?”

“Iya, memangnya apalagi? Sudah sana!” usir Yein.

“E-eoh, kalau begitu aku duluan, Yein-ah.” Shannon melambaikan tangan pada Yein lalu berlari menyusul Chanwoo.

“Ne, hati-hati!” Balas gadis itu juga melambaikan tangan.Yein masih memandangi Shannon dan Chanwoo yang kemudian berjalan beriringan dan menghilang dibalik gerbang sekolah.

‘Enaknya memiliki pacar. Huh, aku pulang sendirian deh’ batin Yein.

“Jeong Yein, kau pulang sendiri?” Sebuah suara mengusik Yein.

“Ne, sunbae.” Ternyata pemuda itu adalah Taehyung.

“Kalau begitu pulang denganku saja,” ujar Taehyung yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya.

“Yeh?” ujar Yein bingung. Tumben sekali sunbaenya ini baik kepadanya.

“Ini sudah sore, kebetulan aku membawa motor. Ayo, kuantar kau pulang.” Taehyung mengayunkan kunci motor di tangannya.

“N-ne, gomawo sunbae.”

“Kajja!” Taehyung mengisyaratkan Yein untuk ikut berjalan dengannya ke arah parkiran sekolah. Maka Yein pun mengikutinya.

“Kau sudah dengar, kalau akan ada murid baru?” ujar Taehyung membuka konversasi. Dia baru saja mendengar informasi ini di ruang guru tadi.

“Murid baru?”

“Iya, katanya dari New York.”

Author POV end

.

.

.

Hari ini senang rasanya. Aku tidak menyangka, kami satu klub. Mulai sekarang, setiap hari rabu dan jumat aku dapat menghabiskan waktu lebih lama bersama Chanwoo. Bahkan dia juga masih mengajakku pulang bersama. Yah, walaupun hanya mengantarku sampai halte sih. Dan kami juga tidak banyak bicara. Tapi tetap saja aku senang. Memang aku bisa berharap apa lagi?

Tak lama kami sampai di halte, sebuah bus datang. “Ah, bis-nya sudah datang.” Sebenarnya aku tidak rela momen ini berlalu begitu cepat. Tapi aku juga tidak mau mengambil resiko dengan pulang lebih sore lagi. “Aku duluan ya, Chan,” pamitku padanya. Sebenarnya aku agak kecewa, dia diam saja daritadi. Sekarang pun juga tidak menyahuti perkataanku. Aku melangkah mendekati pintu bis.

.

Grepp…

.

Lagi-lagi…Jung Chanwoo menarik pergelangan tanganku. membuat tubuhku juga ikut berbalik menghadapnya. Ini seperti tempo hari. Oh, apakah Chanwoo akan—

“Aku ikut.”

“Mwo?”

“Ini sudah sangat sore, akan kuantar kau.”

TBC

[Next]

[Prev]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s