Mr.Chu [Chapter 3]

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

Previous :

1 | 2

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

.

.

.

I can’t forget the soft touch,

my face blushes

It’s so lovely,

I like you more and more

(Apink – Mr.Chu)
.

.

.

Aku bergerak gelisah di tempat dudukku. Keringat dingin membanjiri keningku meskipun pendingin udara di dalam bis yang sepi ini terasa menusuk. Perasaanku tidak karuan dan hatiku ingin meledak. Euforia ini…Ya Tuhan, aku terlalu bahagia. Bagaimana tidak? Sekarang aku sedang di dalam bis, perjalanan pulang, dan di sebelahku duduk seorang pemuda tampan yang selalu membolak-balikkan hatiku. Kenapa tiba-tiba Jung Chanwoo ingin mengantarku? Oh, bahkan sekalipun aku tidak pernah membayangkannya. Pulang bersama setiap hari—meskipun hanya sebatas halte—sudah amat sangat menyenangkan bagiku. Apakah karena Chanwoo mengkhawatirkanku? Dia peduli padaku? Omo! Kalau begini terus, aku tidak yakin kalau kami hanya berpura-pura. Dan kuharap kami memang tidak pura-pura! Kabulkan doaku ya Tuhan.

Oh, iya. Satu lagi ya Tuhan, buat jarak rumahku menjadi sangat jauh. Sehingga aku bisa berlama-lama bersama Chanwoo.

Sedari tadi Chanwoo diam saja.Dan aku juga tidak berani menoleh. Duduk berdampingan begini saja aku sudah deg-degan apalagi menoleh dan menatap wajahnya dari dekat. Oh, aku bersyukur kalau aku tidak pingsan. Jadi yang bisa kulakukan hanyalah memperhatikan pemandangan dari jendela bis ini—kebetulan aku duduk di dekat jendela. Langit sudah gelap. Jam berapa sekarang? Aku mengangkat tanganku dan memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Pukul 06.45 . Kenapa sudah jam segini saja? Seingatku kami keluar sekolah saat petang. Oh, apakah Tuhan benar-benar mengabulkan doaku dengan membuat jarak rumahku menjadi jauh? Kalau seperti ini, bisa-bisa aku sampai dirumah pukul setengah delapan. Andwae! Dad pasti akan marah kalau aku pulang larut, dan bodohnya aku juga belum memberitahu Eomma kalau aku pulang terlambat. Ah, dasar Shannon bodoh.

Tunggu. Kalau aku sampai di rumah selarut itu, bagaimana dengan Chanwoo? Kasihan dia, pulang larut karena mengantarku. Padahal kan aku juga bisa pulang sendiri. Tapi diantar aku juga tidak menolak sih…

Ngomong-ngomong aku tidak tahu dimana rumah Chanwoo. Jangan-jangan dia harusnya turun di halte yang sudah kami lewati. Eottokhae? Berarti dia harus memutar balik dong. Tapi bisa saja rumahnya lebih jauh dariku. Sehingga setelah mengantarku dia akan naik bis lagi. Yah, semoga saja seperti itu. Tapi… bukankah semakin larut, bis jadi semakin jarang. Ugh, eottokhae? Ah, lebih baik kutanyakan saja.

“Chan?” ujarku tanpa menoleh ke arahnya. Lama aku menunggu, tapi tidak ada jawaban. Kutolehkan wajahku ke arah Chanwoo. Astaga, Chanwoo tertidur. Pantas saja dia tidak menjawab. Sejak kapan dia tertidur?

Hmmm…kutolehkan wajahku ke samping kanan dan kiri. Sepi. Ku lambaikan tanganku di depan wajah Chanwoo. Tidak ada reaksi. Dia benar-benar pulas. Ini kesempatan bagus. Aku bisa memperhatikan wajah Chanwoo tanpa ketahuan olehnya. Kuamati wajah Chanwoo lekat-lekat. Alisnya yang tebal. Matanya yang sipit namun tajam kalau menatap, dilengkapi dengan bulu mata panjang, sedang terpejam. Hidungnya mancung dengan cuping yang tidak lebar. Mataku turun ke bibirnya. Bibirnya… tanpa sadar aku menelan ludah. Bibir itu… bibir yang biasa menciumku dan juga yang… pernah… ku-ku-kuc-kucium… wajahku memanas mengingat hal itu. Kukibaskan tanganku, berharap dapat mengurangi rasa panas yang menjalari pipiku. Ya, Shannon Williams, hentikan imajinasi liarmu itu.

Kalau diperhatikan lagi. Wajah tertidur Chanwoo imut sekali. Dia terlihat innocent kalau seperti ini. Tidak ada lagi senyum menyebalkannya—tapi tampan—itu lagi. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ah, matta!

Aku belum punya foto Chanwoo.

Segera kuambil ponselku yang ada di kantung rok-ku. Setelah menemukan aplikasi kamera, aku memiringkan tubuhku. Mencari angle yang tepat untuk mengambil foto ‘imut’ Chanwoo. Sekali…dua kali… tiga kali…Aha! Kukepalkan tanganku ke udara. Aku sudah memiliki foto Chanwoo!

Aku sedang asyik melihat hasil jepretanku saat aku mendengar suara, “Sudah sampai dimana ini?”

Hampir saja aku menjatuhkan ponselku. Chanwoo terbangun. Dia menoleh bingung ke kanan dan ke kiri. Aku mengikuti arah pandangannya. “Eoh?” dan kemudian kulihat sebuah halte yang kukenal telah kami lewati.

“Ah, itu halteku! AAHJUSSII BERHENTI!! AHJUSSIIII!!!”

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 3 ———-

.

.

.

“Hampir saja…” ujarku sambil mengatur nafasku yang masih terengah-engah. Sekarang kami sudah sampai di halte—dimana aku biasa turun.

“Ya! Memang apa yang kau lakukan sampai tidak sadar haltemu sudah lewat?” omel Chanwoo. Aku mendecakkan lidah. Masa aku menjawab itu karena aku mengambil fotomu.

“Yasudah, terima kasih telah mengantarku. Sampai jumpa besok,” ujarku mengalihkan. Kemudian aku berbalik hendak pergi.

“Hei, kau mau kemana?” suara Chanwoo membuatku kembali menoleh. Aku mengernyit. “Tentu saja pulang.”

“Kenapa kau meninggalkanku?”

“Bukannya aku meninggalkanmu, tapi kau kan harus naik bis lagi untuk pulang.”

“Siapa bilang aku mau pulang. Kan aku mau mengantarmu.”

“Kau kan sudah mengantarku.”

“Belum, dimana rumahmu?”

“Mwo?! Chamkaman, kau mau mengantarku sampai rumah?”

“Tentu saja. Kau pikir aku akan meninggalkanmu jalan sendirian malam-malam begini?”

Mwo? Mengantar sampai rumah? Tapi kukira dia hanya—

“Ayo cepat, kalau kau tidak mau pulang lebih larut lagi,” belum sempat aku menjawab Chanwoo memutar tubuhku dan menarik ranselku. Membuatku berjalan mengikutinya ke arah yang tadi akan kutuju. “Tidak kusangka rumahmu sejauh ini.”

Sebenarnya aku juga tidak yakin kalau rumahku jauh. Karena sepertinya tidak sejauh ini. Entah karena Tuhan mengabulkan doaku tadi atau karena aku pulang bersama Jung Chanwoo.

“Disini sepi,” kata Chanwoo membuyarkan lamunanku. “Eoh?”

Chanwoo menatapku datar, dia berdecak. “ Kau yakin ingin pulang sendirian tadi?”

Aku memperhatikan sekeliling. Yah, jalan menuju rumahku ini memang sepi kalau malam. Dan aku juga sudah lama tidak pulang malam. Jadi aku tidak masalah kalau pulang sendirian setiap harinya, karena aku akan melewati jalan ini pada sore hari.

“Masih jauh?”

“Eoh? Ani, sudah dekat kok.”

“Baguslah kalau begitu.”

Aku terdiam sejenak. Agak ragu untuk menanyakan. “Jung Chanwoo.”

Chanwoo berdeham sebagai jawaban. Kepalanya mendongak dan perhatiannya tertuju ke atas. Aku mengikuti arah perhatiannya. Ternyata dia sedang memandangi bintang. Malam ini langit cerah sehingga terlihat begitu banyak bintang. Sungguh indah. Lama aku terhanyut dalam keindahan langit malam ini. Hingga kemudian tanpa sadar aku menoleh ke arah samping. Dan mendapati Chanwoo telah lebih dulu menatapku. Wajahnya yang diterangi redup lampu jalan dan temaram cahaya bintang. Aku masih dapat melihat tatapan matanya. Agak lama kami saling berpandangan hingga akhirnya Chanwoo mengalihkan pandangannya dan berdeham.

“Tadi kau memanggilku. Ada apa?”

Ah, iya aku sampai lupa. “Kenapa—

Chanwoo kembali menatapku. Oh, lidahku mendadak kelu. Aku tidak bisa menanyakannya kalu ditatap seperti ini. Chanwoo berdeham. Seakan menuntutku untuk melanjutkan perkataanku.

“Kenapa…kau pulang dengan apa nanti?” ujarku asal bicara. Chanwoo mengernyit. Ya, aku tahu pertanyaanku barusan benar-benar aneh. Kenapa sulit sekali sih mengatakan ‘kenapa kau mengantarku?’…?

“Tidak perlu memikirkanku,” jawab Chanwoo tiba-tiba.

“S-siapa yang memikirkanmu?!” Aish, bodoh. Justru reaksiku itu sangat kentara kan.

“Aku bisa pulang menggunakan taksi, ” kata Chanwoo melanjutkan.

M-mwo? Jadi itu maksudnya. Ah, iya benar kenapa aku tidak kepikiran. Dia bisa saja pulang menggunakan taksi. Memang apa yang kupikirkan, hah?

“Ini rumahmu?” ujar Chanwoo sambil menunjuk salah satu rumah bernuansa serba putih itu. Di papan nama tertulis ‘Williams’, tidak salah lagi itu adalah rumahku. Aku gelagapan saat menyadari sebuah mobil putih terparkir manis di halamannya, itu mobil Dad. Dengan cepat aku menarik Chanwoo menjauh dari rumahku. Kami berdiri di dua rumah dari rumahku. Chanwoo menatapku bingung.

“Sebaiknya jangan sampai di depan rumahku,” ujarku berusaha menghilangkan rasa keheranan Chanwoo meskipun dia tidak bertanya. Dan syukurlah Chanwoo tidak bertanya lebih lanjut.

“Yasudah, kalau begitu aku pulang dulu,” pamit Chanwoo. Kemudian dia berbalik, baru saja dia akan melangkah, aku memanggilnya. Dia menoleh.

“Kenapa kau mengantarku?” tanyaku sambil menatapnya. Akhirnya aku dapat mengucapkannya. Kulihat dia terdiam. Matanya juga tidak menatapku balik. Sedang berpikir kah?

“Bukannya sudah kukatakan tadi?” jawab Chanwoo balik bertanya. Aku mengernyit. Tidak mengerti akan maksudnya. “Mana mungkin aku meninggalkanmu pulang sendirian malam-malam begini,” lanjutnya kemudian.

Mataku melebar menatap pemuda yang berdiri di hadapanku ini. Aku…senang. Tahu kenapa? Karena yang Chanwoo katakan bukan ‘meninggalkan seorang gadis pulang sendirian malam-malam’ tapi ‘meninggalkanmu pulang sendirian malam-malam’ berarti itu karena aku ‘kan? Bukan karena aku seorang gadis. Tapi karena gadis itu aku.

Aku tersenyum puas. Lega rasanya mendengar hal yang ingin kuketahui. Tak henti-hentinya aku menatapi Chanwoo. Tanpa sadar aku melangkah maju, mendekat ke arahnya. Kini jarak kami sangat dekat. Kemudian aku berjinjit. Kedua tanganku meraih pundak Chanwoo. Membuat tubuhnya agak menunduk. Kemudian kulayangkan satu kecupan di pipi kirinya. Setelah itu aku tersenyum menatap Chanwoo yang sepertinya terkejut dengan tindakanku barusan.

“Gomawo Jung Chanwoo, karena telah mengantarku pulang. Sampai jumpa besok.” Kemudian aku berlari sebelum Chanwoo dapat melihat pipiku yang sudah seperti tomat. Aku bergegas membuka pintu pagar dan masuk ke dalam rumahku.

***

Senyum masih terus mengembang di wajahku. Pulang bersama Chanwoo, Chanwoo tertidur, mencuri foto Chanwoo, Chanwoo mengantarku sampai rumah, mengobrol bersama Chanwoo, menatap bintang bersama Chanwoo, Chanwoo menatapku, alasan Chanwoo mengantarku, serta tindakan ‘bodoh’ku tadi. Semua masih tersimpan rapi di dalam memoriku seperti buku diari, dan tidak akan pernah kulupakan. Hari ini begitu indah. Semua terjadi diluar dugaanku. Oh, apakah kami jadi semakin dekat? Semoga saja.

Ponselku yang tergeletak di tepi ranjangku menarik perhatianku. Aku meraihnya. Kemudian kubuka aplikasi galeri. Sontak saja aku tersenyum. Foto Chanwoo tertidur. Kuperhatikan foto itu lekat-lekat. Untuk pertama kalinya aku memiliki foto Chanwoo. Memang selama aku mendekatinya—lebih tepatnya mengikutinya—aku tidak pernah berani mengambil fotonya, dari jarak jauh sekalipun. Toh selama ini aku memang selalu mengamatinya dari jarak jauh. Mana berani aku seperti gadis-gadis lainnya yang mendekati Chanwoo secara terang-terangan. Mungkin kalau bukan karena Yein, YeeEun dan Sujeong eonni yang memaksaku untukku mengungkapkan perasaan pada Chanwoo, sampai saat ini pasti aku masih diam-diam mengamatinya. Aku tidak bisa sedekat ini dengan Chanwoo, aku tidak bisa mengobrol dengannya, pulang bersamanya,

dan selamanya Chanwoo tidak akan menyadari keberadaanku.

Thanks God, I do it! Now everything is change…I hope so…forever…always…

Yeah, I hope so.

Telunjukku mengelus pipi Chanwoo yang tampak di layar ponselku. Sudahlah, Shannon untuk apa mengkhawatirkan hal-hal yang tidak jelas. Dengan cepat aku mengatur foto itu sebagai wallpaper ponselku. Dengan begini aku akan selalu melihat wajah Chanwoo. Ah, aku jadi merindukannya. Aku terkekeh kecil. Ya, Shannon Williams kau baru saja bertemu dengannya tadi!

Ah, iya aku jadi kepikiran. Kenapa aku tidak tahu kalau Chanwoo adalah anggota klub tenis, ya? Padahal aku telah lama mengikutinya. Aku tahu dimana tempat yang sering dikunjunginya dan aku juga hafal teman-temannya. Tapi kenapa yang satu itu aku tidak tahu. Aku mengerutkan kening. Mencoba mengingat-ingat kejadian apa saja yang terjadi saat aku masih mengikuti Chanwoo kemana saja. Tunggu, aku ingat. Bukankah waktu itu—

.

.

.

.

.

Saat ini bulan April.

Aku terduduk di bangku cokelat di pinggir lapangan Tenis. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Tentu saja waktunya bagi klub tenis bubar. Bukan. Aku disini bukan karena beristirahat setelah kegiatan klub tenis. Lagipula aku sudah keluar dari klub ini semester lalu. Aku disini karena menunggu seseorang. Siapa lagi? Tentu saja Jeong Yein. Dia memintaku untuk menunggunya karena ingin pulang bersama. Terpaksa aku duduk disini menunggunya selesai berganti pakaian. Sebenarnya bangku ini terletak di dalam yang mana adalah wilayah klub tenis. Orang diluar klub tenis biasanya hanya diperbolehkan menonton dari bangku penonton. Tapi karena aku adalah mantan anggota klub tenis dan aku mengenal pelatihnya, jadi itu merupakan pengecualian bagiku.

Yein lama sekali sih. Awas, lain kali aku tidak mau menungguinya lagi.

Tidak terasa sudah setengah jam aku duduk di sini. Tidak sih, memang terasa. Makanya sedari tadi aku memainkan ponsel untuk mengusir bosan. Aku tidak terlalu memperhatikan sekelilingku, fokusku hanya tertuju pada ponselku. Lagipula tidak ada yang menarik untuk dilihat. Aku sudah bosan melihat pertandingan tenis. Yah, walaupun ada sedikit rasa rindu untuk latihan tenis. Tapi aku sudah berkomitmen untuk keluar dari kegiatan olahraga favoritku itu. Sepele sih, itu karena sekarang aku pulang sendirian. Jadi aku tidak bisa pulang larut lagi. Karena klub tenis pasti pulang petang. Apalagi kalau akan ada pertandingan, bisa-bisa aku pulang jam 9 malam. Kalau kemarin-kemarin ada Christian atau Johan yang akan menjemputku sepulang latihan tenis. Tapi sekarang mereka sudah kuliah di New York sehingga tidak bisa kuminta menjemput lagi. Ah, aku jadi merindukan dua kakak kembarku itu.

Tiba-tiba aku merasakan bangku yang kududuki bertambah berat. Sudut mataku menangkap bayangan seseorang duduk di sampingku. Siapa? Aku menoleh sekilas ke arah orang itu dan aku melihat Chanwoo.

Tunggu.

Siapa? Chanwoo?? Sedang apa dia di klub tenis? Dan juga kenapa dia mengggunakan seragam tenis? Ah, itu tidak penting. Yang terpenting adalah sekarang Jung Chanwoo duduk di sebelahku! Oh My God! Mimpi apa aku semalam? Bahkan jarak kami tak terpaut satu meter. Benar-benar sebuah keberuntungan bagiku. Aku menghembuskan nafas perlahan. Mencoba menetralisir detak jantungku yang mulai berdetak abnormal. Meskipun tanganku masih mengacungkan ponsel di depan wajahku, namun sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Chanwoo menyedot orange juice di dalam cup-nya menggunakan sedotan. Peluh mengalir dari pelipisnya. Woah, benar-benar tampan. Seperti orang bodoh, aku berteriak senang dalam hati. Cinta memang konyol.

Aku mengangumi skill aktingku yang lumayan. Meskipun aku tidak tuntas masuk klub drama tapi setidaknya ilmu itu berguna di saat-saat seperti ini. Bersikap biasa di depan orang yang disukai sementara dalam hati aku menahan gejolak perasaan ini setengah mati. Aku mencuri pandang lagi dan kini Chanwoo sedang mengusak peluh di wajahnya dengan handuk, membuat seluruh wajahnya tertutup. Aku membelalakan mataku. Ugh, aku tidak bisa berakting terus. Tiba-tiba mataku menangkap cup orange juice miliknya yang diletakkan di antara kami. Sedotan itu. Sedotan yang barusan menyentuh bibirnya itu…

Masa bodoh kalau aku dibilang gila. Seorang Jung Chanwoo memang sudah membuatku gila.

Aku bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Jung Chanwoo yang masih sibuk mengusapi peluhnya. Senyum dan perasaan membuncah masih tampak pada diriku, dan tak lupa sedotan merah jambu itu telah bersarang di kantungku.

.

.

.

.

.

Wajahku merah padam. Woah, aku ingat tidakan bodohku itu. Kuraih bantal pink-ku dan kutenggelamkan wajahku disana. Yah, tak dapat kau pungkiri, Shannon. Kau memang freak saat masih menguntitti Chanwoo kemana saja. Aku meraih ponselku. Kupandangi wajah tertidur Chanwoo yang tampak di layarnya. Yah, kuharap kau tidak menyadarinya Chan. Karena itu sangat memalukan. Mencuri sedotanmu, bungkus saus sachet bekasmu—oh! Aku membenamkan wajahku semakin dalam. Aku jadi ingat kejadian di kantin kemarin.

Ah, memalukan!

***

Aku bergidik ngeri melihat lokerku sendiri. “Ugh, sampai kapan seperti ini?” keluhku.

Tumpukan kertas— yang lebih pantas disebut sampah— semakin menumpuk di dalam lokerku.Oh, aku bahkan tidak dapat melihat barang-barangku lagi. Aku menarik kertas-kertas itu keluar dari lokerku. Masa bodoh kalau aku diomeli karena membuat kotor. Ini juga bukan salahku. Salahkan saja mereka, kenapa tidak membuang sampah pada tempatnya. Bukannya di loker Shannon Williams! Aku masih mengeruk kertas-kertas itu sampai kemudian kertas itu berubah menjadi pink. Tiba-tiba muncul potongan-potongan kertas berwarna pink yang tidak seperti biasanya. Kukeruk lebih dalam lagi dan kutemukan sebuah buku bersampul senada sudah tak berbentuk. Sekilas aku dapat melihat tulisan Shannon.W di ujung sampulnya. Aku menggenggam buku itu geram.

“IGE MWOYA?! NOTESKU!!!!”

Sudah hampir 3 minggu aku berhadapan dengan perlakuan-perlakuan ‘spesial’ dari fans Chanwoo. Dan aku mencoba bersabar. Tapi kali ini mereka sudah keterlaluan. Kalau hanya memasukkan sampah sih tidak apa, tapi kali ini mereka merusak barangku. Dan yang mereka rusak itu NOTES BERHARGAKU yang berisi hal-hal yang kukumpulkan selama masih mengikuti Chanwoo. Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan.

Tiba-tiba seseorang menubruku.

.

Brakkk

.

Aku jatuh terduduk. Akh, bokongku sakit. Kudengar suara tawa dari seorang gadis yang melewatiku.

“Kenapa dia berisik sekali sih?”

“Entahlah, dasar norak!”

Aku mencoba untuk berdiri namun kurasakan saku rokku mengempis. Dimana ponselku?

Mataku menangkap seseorang berjongkok dan mengambil ponselku yang berada di dekat kakinya. Dia menatapku sinis. Aku berlari sekuat tenaga dan merampas ponselku sebelum dia menyalakannya.

“Apa-apaan sih?!” teriaknya tak suka. Aku tak mengacuhkannya dan berjalan menuju lokerku. Namun kemudian suara seorang gadis menghentikanku.

“Ada apa ini?”

Aku menoleh. Dan tak jauh berbeda dari mereka, orang itu adalah Halla. Aku tidak memedulikannya dan kembali melangkah.

“Kurasa ada sesuatu di ponsel bule norak itu, Halla,” kudengar suara gadis tadi memprovokasi. Kemudian disusul dengan teriakan Halla. “ Hei kau!”

Aku masih melanjutkan langkahku. “ Hei, Shannon Williams. Jangan pura-pura tidak mendengar kecuali itu bukan namamu,” Halla bersuara lagi. Bahkan dia menyebut nama lengkapku.

Aku menghela nafas pelan, sebelum kemudian berbalik. Aku sedang tidak ingin bertengkar saat ini.

“Hal—

“Kemarikan ponselmu,” kata Halla.

Aku mengernyit. Untuk apa? Lagipula apa haknya?

“Kau tidak mengerti bahasaku? Haruskah aku menggunakan bahasa inggris, nona Williams?” ujarnya dengan nada sinis. Aku menatapnya tajam. Aku paling tidak suka kalau sudah disindir masalah bahasa.

“Kemarikan ponselmu!” teriak Halla lagi.

Aku tidak bisa memberikannya, aku tidak bisa mempercayainya. Dan lagipula wallpaperku kan foto Chanwoo.

“Ya! Kau tuli? Kubilang kemarikan ponselmu!” Halla bergerak maju, sebelah tangannya terangkat hendak mengambil ponselku… saat kemudian tiba-tiba seseorang menahan tangan Halla. Semua terjadi begitu cepat.

“Hey… hey…what’s happen in here?”

Wajah seorang pemuda dengan garis wajah kebaratan itu menyembul diantara kami. Disusul teriakan heboh gadis-gadis di sekeliling kami. Tangannya masih mencengkeram tangan Halla. Menyadari itu, Halla segera menghentakan tangan pemuda itu.

“Get outta here! It’s none of your business!” hardik Halla pada pemuda itu. Mataku membulat sempurna. Tak kusangka Halla fasih berbahas inggris.

“Okay…okay…but I have business with this girl,” ujar pemuda itu lagi sambil menunjukku.

“What?” ujarku dan Halla secara bersamaan.

“Can you show me where’s your class?”

Dengan santainya pemuda itu menarik tanganku dan membawaku menjauh dari Halla yang masih terkejut. Tak jauh berbeda dengannya, aku juga terkejut.

***

Aku menghempaskan bokongku pada salah satu kursi di meja perpustakaan. Kujatuhkan kepalaku ke atas meja. Benar-benar hari yang berat.

“Tenanglah, penderitaanmu akan berakhir sebentar lagi,” ujar Yein yang tiba-tiba saja sudah duduk di hadapanku. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Yein. Keningku berkerut binggung. Menyadari itu Yein melanjutkan, “dengan kedatangan anak baru itu, fans Chanwoo akan berkurang. Dan wusshh! Tidak akan ada lagi yang mengganggumu.”

Aku mengangguk-anggukan kepala mencoba mengerti. Memang sih saat perkenalan tadi…

.

.

.

“Annyeonghaseyo, jeoneun Hansol Vernon Chwe-imnida.” Meskipun garis wajahnya tegas akan kesan kebarat-baratan namun ternyata dia fasih berbahasa korea, “ bangabseumnida.” Setelah mengatakan itu dia tersenyum manis.

Sontak saja seluruh gadis di kelasku berteriak heboh. Kim ssaem bahkan ikut tertawa melihat reaksi murid-murid perempuannya. Yah, pemandangan ini tidak asing. Hampir sama seperti saat mereka melihat Chanwoo. Bedanya, idola mereka kali ini lebih murah senyum dibanding Chanwoo.

Mungkin dia menyadari kalau aku memperhatikannya, karena kemudian dia menoleh padaku dan tersenyum. Aku mengernyit. Pemuda aneh. Apa dia mengenalku?

.

.

.

“Jangan melamun siang-siang bolong, Shan!” Suara Yein membuyarkan ingatanku akan kejadian tadi. Aku mendesah pelan. “Yah, semoga saja, Yein-ah.”

“Permisi,” suara seorang pemuda mengusik konversasiku dan Yein. Sepertinya ada seorang pemuda berdiri di belakangku. Aku masih tak acuh saat pemuda itu berujar lagi, “aku ingin meminjam buku ini.” Namun melihat reaksi Yein, mengundang rasa penasaranku. Maka kutolehkan kepalaku ke arah orang itu. Dan voila!

Seseorang yang amat dikenal Yein—ralat, orang yang amat sangat dikenal Yein berdiri di sana. Jeon Jungkook. Aku kembali menoleh pada Yein. Dan gadis itu sudah menghilang dari hadapanku. Gadis itu bergerak cepat, mengambil buku dari tangan Jungkook sunbae dan pergi ke balik meja pengurus perpustakaan untuk mengurus peminjaman buku. Aku mengamati Yein dari jauh. Kenapa dia bisa bersikap se‘biasa’ itu di depan Jungkook sunbae? Orang yang disukainya. Sedangkan aku? Oh, sepertinya aku harus lebih sering belajar dari Yein.

Mataku beralih pada Jungkook sunbae yang dengan sabar menunggu Yein mengurus peminjamannya itu. Sebenarnya agak aneh melihat pemuda seperti Jungkook sunbae di perpustakaan. Apalagi dia sendirian. Eh, apa dia benar-benar sendiri? Oh iya, aku baru ingat. Jungkook sunbae kan dekat dengan Chanwoo. Apa Chanwoo ada disini juga?

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling perpustakaan. Mencari sosok jangkung yang—ekhem…kurindukan itu. Ah!

Aku bangkit dan melangkah ke arah pintu perpustakaan. Disana berdiri seorang bertubuh jangkung yang amat kukenal. “Jung Chanwoo,” seruku. Dia menoleh dan menatapku yang semakin mendekat ke arahnya. Setelah agak dekat dia malah berjalan. ‘Ya! Aish, dasar Jung Chanwoo!’ rutukku dalam hati. Aku berjalan lebih cepat dan mensejajarkan langkah dengannya. Kami berjalan berdampingan menyusuri koridor yang menuju kantin.

“Jungkook sunbae itu pintar ya?” ujarku membuka konversasi, “dia rajin sekali ke perpustakaan.”

“Itu karena gadis bernama Jeong Yein.”

Mataku membelalak mendengar jawaban Chanwoo. Refleks aku menoleh padanya. “Jeong Yein? Jeong Yein kelas 2-1?”

“Iya, kalau tidak salah itu yang kudengar dari Jungkook,” jawab Chanwoo masih menatap ke arah depan.

Aku menghentikan langkahku. “Jungkook sunbae menyukainya?” tanyaku langsung. Apa aku terlalu frontal?

Chanwoo ikut berhenti dan mengernyit. “Iya, ada apa sebenarnya?”

“Ani, tapi bukannya Jungkook sunbae populer? Kenapa dia menyukai Jeong Yein?”

Ya Tuhan, Jeong Yein. Ini kabar baik untukmu!

“Mana kutahu, tanyakan saja padanya,” jawab Chanwoo sambil mengangkat bahunya. Otakku masih berputar, mencoba mencerna semua perkataan Chanwoo barusan. Tunggu…

“Apakah ini rahasia?”

“Iya.”

“Lalu kenapa kau beritahukan padaku?!”

“Ah, aku lupa.”

Ish, jinja! Sahabat yang payah.

***

Bel tanda pulang baru saja berdering. Para murid sudah sibuk membereskan barang-barang mereka. Tidak sabar untuk segera pulang atau kegiatan klub sepulang sekolah. Namun ada juga beberapa murid perempuan yang masih asyik mengobrol. Tak jauh berbeda, aku dan Yein juga sedang membereskan barang-barang kami. Sesekali Yein telihat mengecek ponselnya. Iseng, kusenggol pelan lengannya.

“Siapa, eoh? Eiyy, kau punya pacar, Jeong Yein?” ujarku curiga padanya. Yein tertawa kecil, “pacar darimana, eoh?”

Tentu saja Jungkook sunbae. Jungkook sunbae menyukaimu!

Ah, rasanya aku ingin sekali berteriak seperti itu. Tapi mana mungkin kulakukan di tempat seramai ini? Mau diamuk dengan fans Jungkook sunbae, eoh?

Tapi Yein memang harus tahu. Apalagi Chanwoo tidak melarangku saat kubilang akan mengatakannya pada Yein.

“Katakan saja. Justru bagus kalau mereka tahu, mereka saling suka.”

Itu yang dikatakan Chanwoo. Aku mendesah pelan. Kenapa kisahku sendiri tidak seperti itu? Hei, Jung Chanwoo menyebalkan. Kusumpahi kau akan menyukaiku. Kabulkanlah doaku ya Tuhan!

“Ah, itu dia,” ujar Yein tiba-tiba. Apa? Itu apa? Apa ada Jungkook sunbae?

“YA! SHANNON WILLIAMS!” Aku baru saja akan menoleh saat kudengar suara menggelegar Sujeong eonnie. Aku heran, kadang Sujeong eonni bersikap manis dan kalem, namun tak jarang juga bersikap liar seperti ini. Aku mengelus pelan dadaku.

“Ya! Kenapa kau mengelus dada begitu?” ujar Sujeong eonni.

“Eoh? YEEEUN!” Segera aku berhambur memeluk sahabatku yang satu itu, mengacuhkan pertanyaan dari Sujeong eonnie. Rasanya aku sudah lama tidak bertemu dengannya. “Kau kemana saja, eoh? Aku tidak pernah melihatmu.”

“Kau terlalu sibuk pacaran dengan Chanwoo, nona Williams.”

“Yaaa, eonniee!”

“Yang benar kalian berdua itu yang sibuk pacaran!” ujar Yein meralat.

“Pacaran? Eoh? Siapa? Kau YeeEun-ah? Yaaa kau tidak memberitahuku!” ujarku bertubi-tubi melayangkan pertanyaan.

“Kim Mingyu, kelas 3-1. Selengkapnya diceritakan di kafe saja!” Sujeong eonnie menjawab pertanyaanku lalu melenggang keluar kelas. Menyusul Yein yang sudah lebih dulu keluar.

“Sudah…sudah, kajja kita pergi ke kafe langganan kita,” ujar YeeEun lalu menggandeng lenganku.

“Kajja! Aku juga sudah lama tidak makan chessecakenya.”

***

“Yaaa tidak kusangka kau berpacaran dengan sunbae,” ujarku kemudian memasukkan sepotong chessecake ke dalam mulutku.

“Kim Mingyu maksudmu?” tanya Sujeong eonnie yang kujawab anggukan. “Ya, dia itu bodoh.”

“Yaaa eonnie!” ujar YeeEun tak terima. Sujeong eonnie malah tertawa kencang. “Aigo, uri YeeEun tidak terima pacarnya kukatai bodoh.” YeeEun semakin menggembungkan pipinya mendengar perkataan Sujeong eonni. Aku hanya memperhatikan mereka sambil menyantap sepotong strawberry chessecake kesukaanku. Karena jujur saja, aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku belum pernah bertemu si Kim Mingyu—pacarnya YeeEun.

Omong-omong sudah lama aku tidak ke kafe ini. Kafe ini memang nyaman dan indah. Interior serba kayu-nya membuat perasaan sejuk tersendiri bagiku. Dan kafe ini juga tidak terlalu besar. Namun lumayan terkenal. Kami biasa kesini semenjak awal masuk SMA. Posisiku yang duduk menghadap jendela besar kafe ini dapat membuatku leluasa melihat pemandangan di luar. Kawasan pusat perbelanjaan yang ramai seperti Cheondamdong. Yah, banyak orang berlalu lalang.

Dan juga banyak pasangan.

Pasangan yang sedang bergandengan tak jauh dari pandanganku mencuri perhatianku. Pemudanya jangkung dengan gadis yang lumayan semampai berdiri di sampingnya. Benar-benar pas. Oh, dan jangan lupakan postur tubuh ideal gadis itu. Mereka benar-benar pasangan serasi dan membuat iri.

Kalau aku dan Chanwoo seperti pangeran dan kerdil…

Tepat pada saat itu. Saat pemuda yang sedang tersenyum lebar itu berbalik. Tepat pada saat aku dapat melihat jelas wajah gadis itu, mataku membulat sempurna. Dan membelalak tak percaya.

Jung Chanwoo?

TBC

[Next]

[Prev]

Iklan

2 thoughts on “Mr.Chu [Chapter 3]

  1. Itu udh 3 minggu..udh 15 kali ciuman berarti ya #ngitung #salahFokus

    Parah si aku syok ternyata Kuki jg suka Yein uhue :”) #melenggangPergiKeChapBerikutnya

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s