Mr.Chu (Chapter 1)

1459525133534.jpg

Mr. Chu

by tyavi

|CANON|

[Soloist] Shannon Williams and [iKON] Jung Chanwoo

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life | Chaptered | PG-17 (for kissing)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga, MV Shannon – Why Why, dan lirik lagu Mr. Chu – Apink. Selebihnya berasal dari imajinasi tyavi sendiri. Maaf bila ada kesamaan cerita yang tidak disengaja.

Warning : Disini tokoh sangat OOC atau Out Of Character, disesuaikan dengan pemikiran tyavi, terutama karakter Jung Chanwoo.

It’s not about the cast, it’s about the story.

::

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu…tetapi dengan satu syarat

…cium aku sehari satu kali.”

::

.

.

.

Chu~ everyday with you
When I see you, I close my eyes
Come to me secretly and kiss me
You are my Mr. Chu

.

.

.

 

“Boleh saja.”

“Hah?”

“Boleh saja kalau kita pacaran.”

“K-kau serius?”

Pemuda jangkung di hadapanku mengangguk pelan.

.

.

.

24 Juli 2015, aku seorang gadis biasa bernama Shannon Arrum Williams resmi menjadi pacar cowok terpopuler di sekolahku bernama Jung Chanwoo. Apakah aku bermimpi?

.

.

.

———- Mr.Chu chapter 1 ———-

.

.

.

“Iya, tentu saja kau bermimpi.”

“Kau pasti bermimpi, Shan.”

“Mana mungkin kau berpacaran dengan Jung Chanwoo. Akan kuantar kau ke psikiater besok.”

Ya! Kalian harusnya senang melihat sahabat kalian ini senang.”

“Iya, kami mengerti perjuanganmu, Shan,” Yeeun, temanku sedari kecil, membalas di sela-sela kegiatannya melahap karage.

“Lebih tepatnya kegiatan mengikuti-Chanwoo-ke-mana-saja.”

Kalau itu suara Sujeong eonni, sunbaeku yang juga merupakan sahabatku. Dia satu tahun lebih tua dariku karena sekarang ia berada di tingkat akhir sedangkan aku di kelas dua.

“Tapi bukannya aneh?”

“Apanya yang aneh, Yein-a” protesku. Jeong Yein, teman sekelasku dan tentunya juga sahabatku. Sudah hampir 2 tahun aku sekelas dengannya.

Yein menurunkan buku cetak kimianya dan menatapku dengan mimik serius.

“Chanwoo yang selama ini selalu dingin dan menolak semua gadis yang menyatakan perasaan padanya, menerimamu dengan mudahnya. Bukankah itu aneh?”

Ucapan Yein ada benarnya. Biar kuceritakan sedikit. Jung Chanwoo adalah cowok populer di sekolahku, lebih spesifiknya dia paling digilai oleh angkatanku. Karena, yeah, di setiap angkatan kita memiliki cowok populer tersendiri. Misalnya angkatan atasku—angkatan Sujeong eonni—cowok populernya adalah Jeon Jungkook. Bagaimana tidak? Dia tampan dan sangat pandai di bidang olahraga. Lalu di angkatanku—kelas dua—ada Jung Chanwoo. Tidak hanya, um, tampan, tapi orangtuanya juga adalah artis terkenal. Tidak heran kalau dia jadi rebutan gadis-gadis di angkatanku.

Ya, aku akui aku hanya gadis biasa kecuali mereka anggap pintar matematika dan fasih berbahasa inggris itu adalah hal keren. Sayangnya tidak banyak yang berpendapat seperti itu. Lagipula mereka berpikir aku fasih bahasa inggris karena aku blasteran Korea dan Welsh. Jangan kau pikir menjadi gadis blasteran itu menyenangkan. Gadis-gadis bilang tatanan rambutku norak dan pemuda-pemuda di kelasku menjulukiku kutu buku. Aku juga tidak disukai karena Kim songsaengnim—guru bahasa inggris—menjadikanku murid kesayangannya. Jadi bisa dibilang aku sudah biasa menghadapi keadaan seperti itu. Tapi aku tidak masalah, toh sedari awal aku tidak perduli dengan apapun yang mereka katakan.

“Huh, aku tidak peduli. Lihat saja, akan kubuktikan kalau Chanwoo serius menerima pernyataan cintaku.”

Aku masih berpegang teguh dengan perkataanku. Tentu saja, memang apa keuntungannya kalau Chanwoo tidak serius padaku.

Ya, itulah yang kupikirkan sampai saat aku melewati koridor menuju gedung olahraga dan mendengar—

“Kau serius berpacaran dengan gadis bernama Shannon itu?”

—suara seorang pemuda yang…sedang berbicara dengan Chanwoo?

Refleks aku menyembunyikan diri di balik lorong menuju gudang. Hei, apa yang kulakukan? Aku menguping? Baiklah kuakui bahwa aku menguping, habis bagaimana, mereka membicarakanku. Dan gara-gara perkataan Yein, sebenarnya aku juga penasaran kenapa Chanwoo mau menerimaku semudah itu.

“Kupikir kau tidak menyukai siapa-siapa.”

“Aku tidak bilang kalau aku menyukainya ‘kan?”

Apa? Apa katanya barusan? Aku tidak salah dengar. Aku yakin sekali kalau barusan itu suara Chanwoo.

Apa maksudnya berkata seperti itu?

“Bukankah itu pacarmu?”

Apa?!!

Pemuda yang barusan bicara melihatku. Aduh, dasar bodoh! Rutukku sambil memukul kepalaku sendiri. Tunggu. Chanwoo…juga menoleh!! Aku tidak mungkin kabur. Kau tertangkap basah, Shannon. Huh, yasudah mau bagaimana lagi, sekalian marah saja.

“JUNG CHANWOO!” teriakku lantang sambil menunjuk ke arah mereka (ke Chanwoo sih tepatnya). Masa bodoh. Aku keluar dari persembunyianku dan menghampiri mereka.

“Wah, sepertinya dia mendengar pembicaraan kita. Aku tidak ikut campur, ya.”

“Sialan kau, Jung.”

Pemuda yang dipanggil Jung oleh Chanwoo melewatiku. Barulah aku dapat mengenalinya sebagai Jeon Jungkook, sunbae yang di sukai oleh Yein. Huh, tidak Yein, tidak Jungkook sunbae, dua-duanya menyebalkan dan—tunggu, aku ‘kan masih ada urusan dengan Chanwoo.

Lho, Chanwoo tidak ada? Aku membalikkan tubuhku dan melihat Chanwoo berjalan ke arah gedung olahraga.

“Jung Chanwoo, berhenti!” titahku padanya. Dan—beruntungnya—Chanwoo menghentikan langkahnya.

“Apa maksud perkataanmu barusan?”

Perlahan tubuh jangkung itu berbalik, lalu melangkah ke arahku. Hanya dua langkah.

“Aku memang tidak pernah bilang kalau aku menyukaimu ‘kan?” Pertanyaan sekaligus pernyataan itu lolos dari bibirnya dengan wajah tanpa ekspresi. Benar-benar berbeda dengan reaksinya saat menerima pernyataanku kemarin. Yeah, walaupun kemarin dia tidak tersenyum manis tapi setidaknya wajah seorang Jung Chanwoo tidak semenyebalkan ini.

Aku maju dua langkah, balik menantangnya.

“Kamu tidak menyukaiku tapi setuju berpacaran denganku. Sebenarnya apa maksudmu?”

Tanpa sadar air mata telah mengembun di sudut mataku. Tidak Shannon, sekarang bukan saatnya untuk menangis. Akan terlihat patetis jika kau menangis di hadapan laki-laki tidak berperasaan sepertinya.

“Gadis-gadis itu, mereka selalu saja ribut. Kalau aku berpura-pura memiliki kekasih, mereka pasti akan berhenti menggangguku.”

Berpura-pura memiliki kekasih?!

“Jadi kau hanya memanfaatkanku?”

“Memangnya kenapa?”

Jawaban apa itu? Oh God! Aku tidak percaya kalau aku menyukainya.

“Kau pikir aku mau menjadi pacar pura-puramu?” tanyaku sarkastis. Ia terdiam sejenak sebelum menjawab,“Tentu. Karena kau suka padaku.”

Damn! Sebenarnya dari mana kepercayaan dirimu itu terbentuk, Jung Chanwoo? Benar, aku memang menyukaimu. Tapi kau tidak cukup mengenalku, Jung Chanwoo. Akan kutunjukkan kalau aku bukanlah gadis bodoh yang mudah dimanfaatkan.

“Baiklah, aku mau menjadi pacar pura-puramu tapi dengan satu syarat.”

Chanwoo menatapku malas, tak terlihat setitik antusias pun atas perkataanku barusan. Seakan tawaranku tak cukup berharga di matanya. Ya, tentu saja. Aku hanyalah segelintir dari banyaknya gadis yang menggilai seorang Jung Chanwoo di luar sana. Pemuda ini bisa menunjuk gadis manapun untuk menjadi pacar pura-puranya. Terlalu muluk jika aku berharap dia akan menjawab—

“Apa?”

—atau mungkin juga tidak.

Dengan sedikit congkak (jangan salahkan aku, aku hanya menirunya) aku melangkah maju, mengikis jarak diantara aku dan Chanwoo. Chanwoo masih menatapku dengan wajah tanpa ekspresi dan aku tidak takut untuk membalas tatapannya.

“Cium aku sehari satu kali.”

Gila memang. Aku tidak pernah merasa setidak waras ini. Ini semua karena Jung Chanwoo, pemuda yang telah menginvasi hatiku sekaligus pikiranku. Tapi untuk kali ini, aku bertindak tidak waras demi memencundangi seorang Jung Chanwoo.

Lihat, Jung Chanwoo. Kau pasti tidak mau mencium gadis yang tidak kau sukai ‘kan? Sebaiknya kau cepat-cepat minta maaf, karena dengan begini aku—

“Baiklah.”

Sepersekian sekon berikutnya ia membungkuk dan mendekatkan wajahnya padaku. Saraf-saraf tubuhku menegang dan seketika neuron otakku tak berfungsi sampai kurasakan bibirnya menyentuh permukaan bibirku. Manikku sontak membelalak.

.

.

.

Kenapa jadi begini?

.

.

.

Dia benar-benar menciumku.

.

.

.

Tak sampai satu menit ia menjauhkan wajahnya. “Aku minta bantuanmu,” ucapnya, sebelum akhirnya berlalu meninggalkanku yang masih diam mematung.

Apa-apaan ini?

Ciuman tanpa perasaan.

Kuseka kasar bibirku.

Oh, aku tidak dapat membendung air mataku lagi.

.

.

.

Jahat.

Padahal kan itu ciuman pertamaku.

.

.

.

Damn!

Kendati begitu, tubuhku tidak dapat berbohong. Jantungku masih berdegup kencang dan pipiku terasa panas. Bagaimanapun aku menyukainya.

Bodoh sekali aku bisa suka padanya.

***

“Shannon!”

“Shannon Williams bangun! Kau tidak mau pulang memangnya?”

Suara cempreng Yein serta-merta membangunkanku. Jam pelajaran terakhir kosong maka aku memanfatkannya untuk sekedar tidur siang—menghilangkan kejadian buruk yang baru kualami. Yeah, begitulah kurang lebih.

“Berisik, Yein—” Aku baru saja akan memarahi Yein saat kulihat Sujeong eonni datang sambil menenteng tas besar. “—Sujeong eonni?”

“Shannon-a, hari ini kau pulang bersama Chanwoo?” tanyanya sumringah. Kutegapkan badanku dengan malas. “Kenapa, eonni?”

“Sini kutata rambutmu. Kau ini sudah memiliki pacar sekeren Chanwoo tetapi masih saja tidak merubah penampilanmu,” ujar Sujeong eonni antusias.

“Siapa juga yang pacaran?” Aku mendumal.

“Kau mengatakan apa?”

Nope.”

***

Sekali lagi aku memperhatikan pantulan diriku pada cermin yang kuletakkan di pintu loker.

Aish, bukankah ini terlalu berlebihan?

Sepertinya Sujeong eonni terlalu bersemangat mendandaniku. Ia menata rambutku menjadi lurus dengan sedikit gelombang di bawahnya. Aku sendiri tidak percaya melihat penampilanku, karena biasanya rambutku mengembang makanya aku lebih sering menguncirnya. Lagipula aku juga tidak yakin akan pulang bersama Chanwoo. Ah, mengingat kejadian kemarin aku jadi kesal.

“Jung Chanwoo!”

J-jung Chanwoo?!

Aku menoleh. Dua loker tak jauh dari milikku, berdiri Jung Chanwoo yang sedang meletakkan barang-barangnya ke loker dan seorang gadis yang tadi meneriakinya. Aku tahu gadis itu, dia Halla, gadis populer dari kelas sebelah.

“Benar kau sudah punya pacar?”

“Iya.”

Ck, kau memulai aktingmu Jung Chanwoo?

“Apa?! Ya! Kupikir kau tidak akan pacaran dengan siapapun. Bagaimana bisa kau menolakku?” gadis itu memekik tidak percaya. Aku heran, padahal wajahnya imut nan manis tapi kenapa sikapnya seperti kasar begitu, sih?

“Kau merasa ‘sok’ karena kau populer?”

Dia masih meracau meski Chanwoo tak mengacuhkannya.

“Kau pikir kau hebat karena kau anak dari artis terkenal?”

Sepertinya dia sudah keterlaluan. Apa dia tidak berpikir kalau kata-katanya bisa saja menyakiti hati seseorang?

Maka kuputuskan untuk menutup lokerku dan berjalan ke arahnya.

“Tanpa itu kau tidak ada apa-apanya!”

“Hei, Halla.”

Gadis bersurai hitam itu menoleh dan menatapku heran, dan jangan lupakan Chanwoo juga.

“Kau siapa?”

“Aku? Aku Shannon.”

“Shannon? Siapa Shannon?”

Aish gadis ini, aku bahkan tahu namanya.

“Aku tidak kenal, tidak penting juga,” ujarnya lalu membuang muka.

“Iya memang tidak penting. Tapi jangan jelek-jelekan pacarku!”

“Kau pacarnya?” Halla bertanya dengan ekspresi meremehkan.

“Iya. Memangnya kenapa?” tantangku balik.

“Kamu itu hanya dimanfaatkan, tahu! Mana mungkin cowok sepopuler Chanwoo mau berpacaran dengan gadis norak sepertimu.”

YA!” Sontak aku maju dan menjambak rambut hitamnya.

“HEI? APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN TANGANMU?!”

“SIAPA SURUH KAU MENGHINAKU? RASAKAN!” Aku menarik rambutnya lebih kencang. Lihat saja, aku juga sudah gemas sedari tadi melihat rambut lurus berkilaunya. Rambutnya benar-benar membuatku iri.

“AWW… KAU MERUSAK RAMBUTKU. DASAR PACAR GADUNGAN!” Sekarang tangannya juga ikut menjambak rambutku. Sial, padahal ‘kan rambutku sudah ditata Sujeong eonni. Tapi aku sudah terlanjur marah, gengsi kalau mengakhirinya. Selain itu sudah banyak pasang mata yang memperhatikan keributan yang kami buat.

“KAU GADIS PENGGODA PACAR ORANG LAIN!”

“HEI!!!”

“AWAS KAU!”

Tiba-tiba lengan seseorang menghalangi tubuhku, “Ayo pulang.” Kemudian menarik tubuhku menjauh dari gadis sialan itu.

“AWAS KAU! SHANNON ATAU SIAPAPUN KAU ITU!!!!”

***

Setelah menarikku dari keributan tadi, sekarang kami—aku dan Chanwoo—berjalan berdampingan menuju halte.

“Hei.” Suara Chanwoo memecah keheningan yang menyelimuti sedari tadi. Aku menoleh—lebih tepatnya mendongak karena perbedaan tinggiku dan Chanwoo terpaut jauh.

“Siapa namamu?”

What? Apa aku salah dengar? Namaku saja dia tidak tahu. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui nama pacarnya. Okay, kami ini memang hanya berpura-pura tapi tetap saja aku ini pacarnya.

“Shannon Williams,” jawabku lugas.

“Williams.”

Aku mengernyit. Panggilan macam apa itu?

“Rambutmu berantakan. Aku malu jalan di sampingmu.”

W-what?!

Dasar! Dia ‘kan bisa bilang baik-baik kalau rambutku berantakan.

“Kenapa tidak menguncir rambutmu?”

“Hah? Kau bertanya apa?” tanyaku sambil berusaha menyisir rambut kusutku dengan tangan.

“Apa setelah bertengkar kau menjadi tuli?”

Ish, menyebalkan. Aku mendengarnya tapi aku hanya ingin memastikan.

“Aku bertanya kenapa kau tidak menguncir rambutmu?”

“Oh…hanya ingin menggerai rambut, kok.” Aku berhenti menyisir rambutku yang kurasa sudah tidak sekusut tadi.

“Tapi begitu lebih bagus.”

“Apa?”

Dia mendengus pelan, “Kau bodoh.”

Hah? Sepertinya barusan dia tidak mengatakan itu.

“Gadis aneh.”

Hey!

Apa hanya kata-kata bermakna mengataiku yang keluar dari mulutnya?

“Ck, iya, aku tahu kalau aku—”

“Untuk apa kau bertengkar dengan gadis gila itu.”

“Aku kan membelamu!”

“Aku tidak minta dibela.”

Apa-apaan dia itu, bukannya berterimakasih tapi malah menghinaku.

“Kupikir kau berbeda dengan gadis-gadis itu.”

Aku menghentikan langkahku (memang sih kini kami sudah sampai di halte, tapi aku berhenti karena perkataanya barusan).

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Bismu datang,” ujarnya dan kembali memasang wajah tanpa ekspresi.

Ck, dia bahkan belum menjawab pertanyaanku.

“Baiklah, aku duluan.”

Aku berbalik, hendak merajut langkah menuju bis. Namun tiba-tiba ada yang menarik lenganku, dan tentu orang itu adalah Jung Chanwoo. Refleks aku menoleh kembali padanya.

“Sehari sekali, kan?” ujarnya.

What?

Apanya? Apa yang dia maksud?

Apa maksudnya…ciuman itu?

Netraku menatap lekat wajahnya, begitu juga Jung Chanwoo. Ekspresi ini, aku belum pernah melihat ekspresinya seperti ini.

“I-iya,” jawabku terbata.

Lantas sepersekian sekon berikutnya, Chanwoo maju mengikis jarak di antara kami. Mendaratkan bibir lembutnya tepat di bibirku. Sama seperti saat pertama kali, seluruh jaringan dan sel di dalam tubuhku merespon dengan cara jantungku berdegup kencang, darah berlomba-lomba mengaliri pembuluh darahku, bahkan menyebar ke kedua pipiku yang kini telah bersemu. Tidak lama, Chanwoo melepaskan bibirku dan memundurkan wajahnya.

“Hati-hati,” ujar bibirnya yang hanya berjarak sejengkal dari wajahku!

“I-iya,” jawabku dengan suara yang hampir tak terdengar. Badannya bergerak mundur sehingga tidak menutup aksesku lagi untuk memasuki bis. Tanpa menoleh ke belakang, aku terus melangkah memasuki bis dan duduk di kursi yang kosong. Perasaanku benar-benar tidak karuan. Aku menyentuh pipiku yang memanas, jantungku bahkan masih berdebar kencang. Tatapan sendu dan suara bisikannya benar-benar membuatku candu.

Aneh.

Entah mengapa aku merasa ciuman kali ini lebih lembut dari sebelumnya.

***

Pagi ini aku datang tepat waktu. Seperti biasa, sebelum masuk kelas aku mengambil buku pelajaran dulu di loker. Aku baru saja membuka lokerku saat kertas-kertas—yang lebih pantas disebut sampah—memenuhi lokerku. What the…? Apakah ini salah satu bentuk perlakuan mereka padaku? Karena mereka sudah tahu bahwa aku adalah pacar Chanwoo?

BRAKKK

Seseorang mendorongku, membuat kepalaku terantuk dengan pintu lokerku. Masih pagi tetapi aku sudah mendapat perlakuan ‘spesial’. Aku menoleh dan mendapati dua orang gadis dibelakangku.

“Ah, maaf ya,” ujar mereka lalu berjalan melewatiku.

“Hahaha…ternyata orangnya norak banget.”

“Bule norak hahaha.”

Tapi aku dapat mendengar jelas apa yang mereka katakan.

“Jadi, pacarnya Chanwoo si kutu buku,” terdengar bisikan lainnya. Dan apa? Kali ini seorang murid laki-laki?

“Iya, kesayang Kim songsaengnim.”

Bahkan murid laki-laki ikut bergosip…ckckck.

“Shannon-a, kau baik-baik saja?” Yein yang baru datang mengelus pelan keningku. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Iya, aku tidak apa-apa. Hal ini sudah biasa aku alami.

“APA? KEMARIN KAU BERCIUMAN DENGAN CHANWOO?!”

Aku tersentak saat mendengar Yein berteriak.

Ya! Pelankan suaramu,” ujarku sambil menarik tangan Yein. Sepertinya semua pasang mata melihat ke arah kami sekarang.

“CHANWOO MENCIUM SHANNON DI HALTE?” Yein kembali berteriak.

Ya, Jeong Yein! Kau sudah tidak waras?”

Beruntunglah aku berhasil membungkam mulut Yein dengan tanganku sebelum dia berteriak lagi.

Itulah Jeong Yein, orang yang keras dan terlalu berterus terang. Tapi itu sangat memalukan, meneriakkan tentang aku berciuman dengan Chanwoo. Eh, tunggu—

“Darimana kau tahu kemarin Chanwoo menciumku?!”

“Tentu saja kami melihatnya, Shannon-a,” Yein yang telah terbebas dari bungkamanku menjawab. Matanya mengerling dan ia tersenyum menggodaku.

“Kami? Yeeun dan Sujeong eonni juga?”

“Kami juga melihat duelmu dengan Halla. Kau keren Shannon-a.”

What?? Ish!” Aku menutup lokerku dengan kesal. Mereka hanya menontonku?

Dengan gusar, aku berjalan mendahului Yein. Dan gadis itu berusaha menyusulku.

“Jadi, si Jung Chanwoo benar-benar serius?” tanya Yein setelah mensejajarkan langkahnya denganku.

“A-apa?” Aku menghentikan langkahku dan menatap Yein heran.

“Kalian pulang bersama dan berciuman. Benar-benar pasangan yang membuat iri.”

Ah, benar juga.

Pulang bersama.

Berciuman.

Siapapun yang melihat pasti mengira kami adalah pasangan normal.

Berarti rencanamu sukses, ya, Jung Chanwoo.

***

Dukk… Dukkk…

Di sinilah aku sekarang. Menghabiskan jam makan siang dengan duduk di bangku penonton gedung olahraga—menonton seorang Jung Chanwoo bermain basket. Aku tidak tahu apa yang mebawaku ke sini dan mendapati Jung Chanwoo sedang bermain basket sendirian. Sepertinya dia memang selalu menghabiskan jam makan siang di sini. Ya, tentu saja pasti karena gedung olahraga jauh dari keramaian. Chanwoo melempar bola basketnya ke sembarang arah dan berjalan menghampiriku.

“Ini tisunya.” Aku mengulurkan sehelai tisu dan memberikan senyum termanisku. Chanwoo menatapku aneh, mengambil tisu di tanganku lalu membuang muka.

Menyebalkan.

“Omong-omong, kau latihan sampai jam berapa?”

Chanwoo duduk di sebelahku dan menyeka keringat yang menuruni pelipisnya, “Aku tidak berlatih.”

“Mau berlatih, mau bermain, terserah. Kau selesai jam berapa?”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum manis lagi.

“Kau aneh.”

Aku berdecih. Dasar Chanwoo, kenapa sifatnya selalu berubah-ubah.

“Ah matta, aku tidak tahu bagaimana cara menghubungimu.”

Alih-alih menjawab, lagi-lagi Chanwoo melempar tatapan aneh.

“Aku tidak tahu nomor ponselmu Jung Chanwoo. Kuperjelas, aku meminta nomor ponselmu.”

“Ponselku tertinggal di kelas,” ujarnya lalu menenggak orange juicenya.

“Yasudah, datang ke kelasku sepulang sekolah.”

Chanwoo tersedak, dia terbatuk-batuk dan memukul dadanya pelan sebelum akhirnya berujar, “Untuk apa?”

“Di mana-mana seorang namjachingu yang menjemput yeojachingunya,” jawabku lalu bangkit dan berjalan meninggalkan Chanwoo.

***

“Bagaimana Shannon-a, kau jadi masuk klub ‘kan?” tanya Yein begitu Park ssaem keluar dari kelas. Bel tanda waktunya pulang baru saja berdering, maka aku langsung membereskan barang-barangku. “Aku masih bingung Yein-a.”

Ya! Kau bilang kau menyukainya.”

“Aku memang suka, tapi aku tidak tahu akan bergabung lagi atau tidak.”

“Aku tidak mau tahu, kau harus ikut!”

“Yein-a, aku—”

“Shannon, Jung Chanwoo mencarimu!” seru SinB dari ambang pintu.

Mwo? Jung Chanwoo benar-benar menjemputku. Padahal tadi aku hanya bercanda. Tapi…entah kenapa, senang rasanya.

Eiy, bahkan sekarang dia menjemputmu di kelas?” ujar Yein menggodaku.

Aku tersenyum menganggapinya. “Yein-a aku duluan, annyeong!” Aku memakai ransel merahku lalu melambaikan tangan. “Annyeong,” balas Yein.

Dengan semangat, aku merajut langkah ke arah pintu kelas. Dan seorang Jung Chanwoo benar-benar berdiri di sana. Bodoh, aku tidak bisa berhenti tersenyum. Seperti ini rasanya dijemput pacar?

Begitu aku sampai di hadapannya, Chanwoo melirikku sekilas lalu berjalan. Ish, menyebalkan. Terpaksa aku harus mengikutinya. Aku merasa seperti idol saja. Semua mata tertuju pada kami—pada Chanwoo sih tepatnya.

“Chanwoo menjemputnya?”

“Mereka benar-benar pacaran?”

Terdengar bisik-bisik sekumpulan gadis di sepanjang koridor.

“Aku masih tidak percaya.”

“Itu memang sulit dipercaya!”

Aku memutar bola mataku malas. Mereka mulai lagi.

***

“Jung Chanwoo.”

Kami sudah berjalan agak jauh dari sekolah. Chanwoo diam saja sedari tadi dan aku hanya mengikutinya dari belakang. “Apa?” balasnya singkat dengan nada yang datar—atau sedikit ketus? Dia kesal karena harus menjemputku di kelas?

“Ayo beli eskrim.” Aku berhenti mengikutinya, menatap punggung tegap itu yang perlahan berbalik dan menatapku heran.

“Aku mau eskrim,” ujarku lagi sambil menunjuk mini market di sisi jalan. Chanwoo tidak bergeming. Aku hendak menarik tangannya, tapi aku tidak berani. Kami belum pernah bergandengan. Maka akhirnya aku malah menarik tali selempang ranselnya. Menyeretnya masuk ke dalam mini market. Aku segera menuju tempat eskrim.

“Kalau kau tidak mau eskrim, beli saja orange juice. Itu, tempat minuman dingin disana,” ujarku menunjuk sisi mini market dimana terdapat display case yang memuat minuman botol ataupun kalengan. Saat aku sedang bingung memilih eskrim yang mana, sesuatu yang dingin menyentuh keningku.

Apa ini?

Refleks tanganku menyentuh benda yang menempel di dahiku itu. Aku mencoba mengambil benda yang sepertinya ditempelkan oleh Chanwoo.

Eskrim stoberi?

“Keningmu memerah,” jawab Chanwoo begitu aku memberikan tatapan tanda tanya padanya.

Merah? Apakah karena tadi pagi?

“Bodoh,” ujar Chanwoo lalu berjalan meninggalkanku. Pemuda itu menuju kasir sambil membawa sebuah eskrim vanilla.

Aku berjalan menyusulnya tapi Chanwoo sudah selesai membayar. “Jung Chanwoo! Tunggu aku.” Namun Chanwoo tidak menghiraukan dan malah keluar dari mini market. Huh, dasar menyebalkan. Secepatnya aku membayar eskrim stoberiku dan keluar menyusulnya.

Kami terdiam lagi. Sibuk menyantap eksrim yang baru kami beli. Hingga akhirnya kami sampai di halte dan duduk menunggu bis. Halte sudah sepi. Terang saja, ini sudah lewat jam pulang.

“Bisnya lama sekali,” keluhku. Sudah hampir lima belas menit kami menunggu tapi bisnya tak kunjung datang.

“Mungkin sudah lewat saat membeli eskrim tadi,” ujar Chanwoo.

“Maaf.”

Aku melirik Chanwoo. Pria itu sibuk menyantap eskrim vanilanya. Dia bahkan tidak menghiraukan ucapanku barusan. Mungkin eskrim vanila itu sangat lezat. Lebih baik aku menghabiskan eskrimku sendiri.

Ini adalah kali kedua aku pulang bersama Chanwoo. Kemarin ia juga mengantarku kendati ia tidak turut naik bis tujuanku. Chanwoo hanya mengantarku sampai halte. Um, aku jadi bertanya-tanya—sebenarnya di mana rumah Chanwoo?

“Oh iya, Jung. Di mana—

.

.

.

Gerakannya begitu cepat. Chanwoo memajukan wajahnya dan seketika bibirnya menyatu dengan milikku. Dan aku bisa merasakan jelas kalau Jung Chanwoo menjilat sudut bibirku?! Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Secepat kemudian dia menjauhkan wajahnya. Dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.

.

.

.

Jeda tiga detik sebelum akhirnya Chanwoo berujar.

“Sudah lama aku tidak makan stoberi.”

Aku masih bergeming di tempatku. Ah, aku benci saat-saat seperti ini otakku seakan tidak bekerja. Aku bahkan masih merasakan bibirnya serta harum vanilla yang membekas di bibirku. Dadaku bergemuruh, detakannya bahkan lebih cepat dari kemarin. Kalau begini terus apakah aku akan mati?

“Bismu datang.” Aku tidak bisa mengangkat wajahku.

“Hei, kau tidak mau naik?”

.

.

.

“Willi—”

.

.

.

“JUNG CHANWOO MESUM!” pekikku kemudian berlari memasuki bis, meninggalkan Jung Chanwoo.

***

“JUNG CHANWOO MESUM!”

Aku mengacak rambutku kasar. Aarrrggghhh reaksimu itu berlebihan Shannon!

Sepertinya tadi aku keterlaluan. Aku mengatainya seperti itu di depan umum. Bagaimana reaksinya? Aku tidak tahu, aku tidak sanggup menatap wajahnya tadi. Lagipula kenapa tiba-tiba dia melakukannya?

Kemarin kami hanya berciuman biasa, dia hanya menempelkan bibirnya dengan bibirku. Tapi tadi siang itu apa? Dia menjilat—asdfghjkl@#$%^&*

Damn! Aku tidak dapat menjelaskannya.

Sudah Shannon, tarik napas…buang…rileks…lebih baik sekarang kau tidur kalau tidak mau terlambat besok. Yeah, semoga aku lupa saat bangun nanti. Aku memejamkan mataku perlahan.

Sedetik kemudian aku membukanya.

.

Damn, Jung Chanwoo! Aku tidak bisa tidur.

.

TBC

 

 [Next]

Iklan

11 respons untuk ‘Mr.Chu (Chapter 1)

  1. Dih Chanwoo-nya di sini agak2 jerk gimana gitu. Hahaha. Semacam apa ya.. Nyebelin tapi ngangenin. Keren. Terus terus.. Aku sebenernya gak gitu suka Shannon, tapi ini fict cukup menghibur buat dinikmati. Hehehe. Aku mau lanjut baca pelan2 ah. Wkwk. 🙂

    Disukai oleh 1 orang

    1. Kak malaaaaa >.<
      iyanih kak makanya dari awal udh aku warning kalo disini tokohnya ooc wkwk
      Wah aku malah suka banget sama shannon abis cantik dan suara dia bagus /malah curcol/
      wahhh seneng kalau ternyata menghibur. iya silahkan kakk 😀
      Makasi udah mampir kak malaa ^^
      p.s : kak aku mau folback wp kakak tapi kok not found? ._.

      Suka

  2. Eheuks, bersyukur aku tau ini pas udah tamat yah /plak/….jadi gak nunggu2 :”)
    Uuuh, suka Shannon (dan lagunya yang kiyowo ituu, tp sukaan yg dia ujan2an itu sii)~
    #melenggangKeChapterBerikutnyah :3

    Disukai oleh 1 orang

      1. Udah udah mabok :”) Tiap simpangan ada ciuman ya ampun tolong tolong T_T baru sampe chapter 2 inih ihiks~ Tapi ini asik bgt sih, enteng banget gitu dibacanya gemes sendiri hayati :3

        Suka

  3. nabung sehari satu chap :’v
    umma tambahin link next next next next dong ditiap chapnya biar gampang gitu bacanya eaak /understand meeh?/
    kirain bakalan ada Bobby ama BI /mreka bias di iKon *ga nanya*/

    E buseeet its full of kiss scene /daku kan blon cukup umur eaaak/
    fufufuh ketauan beud yang bikin jago kissing uhuq-huq

    Disukai oleh 1 orang

  4. Aduh, aku kok ikut senyum senyum sendiri ya pas baca ini. Chanwoo nya dingin tp bikin kesemsem.
    Aku nemu ff ini pas udah baca kissin ny ye in jungkook. Dimana mana halla jd org ketiga ya, jd buat kesel

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s