Accidentally Family (Chapter 1)

1458576826546.jpg

Accidentally Family

Cast : Jung Taekwoon and Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family, Life | Chaptered | G

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Summary :

“Tapi ada sesuatu yang harus kau ketahui… “

 

“Aku sudah memiliki anak. “

.

.

.

Chapter 1

Gadis berbalut dress broken white itu menghampiri meja bernomor 10. Sepertinya dia datang lebih awal dibanding pria itu, karena meja itu masih kosong. Seorang pelayan mengampiri Joohyun tidak lama setelah dia duduk. Setelah mengatakan kalau dia sedang menunggu seseorang, pelayan itu pergi. Joohyun sedang memainkan ponselnya saat—

“Bae Joohyun-ssi?”

—suara seorang pria menginterupsinya.

Joohyun mendongak, melihat seorang pria bertubuh jangkung berdiri di sebelah mejanya.

“Perkenalkan, aku Jung Taekwoon,” ujar pria itu.

“Ah, ne.” Joohyun berdiri dan membungkukkan badan hormat. “Annyeonghaseyo Jung Taekwoon-ssi.”

Sekarang Joohyun dapat melihat jelas pria itu. Dia mengenakan kemeja biru garis-garis yang dipadu dengan tuxedo berwarna biru dongker, tak lupa celana bahan berwarna hitam yang membalut kaki jenjangnya. Gagah dan tampan, itulah kesan pertama yang Joohyun dapatkan. Sama seperti pria-pria lainnya. Hanya saja pria kali ini sangat tinggi. Joohyun saja harus mendongak untuk melihat wajahnya. Berapakah tingginya? Sepertinya 180 lebih. Oh, dan jangan lupakan suaranya yang halus.

Pria bernama Jung Taekwoon itu langsung memanggil pelayan begitu dia duduk. Setelah memesan, pria itu mulai bertanya.

“Berapa umurmu?”

“24 tahun.”

“Umur kita tidak terlalu jauh, aku 25 tahun.”

Joohyun ragu untuk menanyakan haruskah dia memanggilnya ‘Oppa’? Tapi agaknya panggilan itu sedikit memalukan mengetahui mereka baru saja mengenal.

“Terserah kau mau memanggilku apa. Tidak usah terlalu formal karena perbedaan umur kita juga tidak terlalu jauh,” ujarnya seakan dapat membaca pikiran Joohyun. Joohyun tersenyum kikuk menanggapinya. Bukan masalah pria itu seperti dapat membaca pikirannya, tapi tidakkah pria ini terlalu dingin?

Percakapan mereka berhenti disitu. Ditambah saat makanan mereka datang, tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Joohyun tidak suka keadaan ini. Dia sedang berkencan, tidakkah pria itu bebasa-basi? Sekedar menanyakan pekerjaan, hobi, motto hidup atau tipe ideal. Tapi tampaknya itu tidaklah penting. Ayolah, mereka juga tahu pertemuan ini bertujuan satu, yaitu pernikahan.

“Taekwoon-ssi,” akhirnya Joohyun memberanikan diri membuka suara. Iris pemuda itu beralih, dari piringnya kini menatap Joohyun.

“Ada sesuatu yang harus kau ketahui.”

Pria itu masih bungkam. Enggan berujar, memilih untuk menunggu Joohyun meneruskan kalimatnya.

“Aku sudah memiliki anak.”

Gerakan tangan pria itu berhenti dan dia menatap Joohyun tak berkedip.

Ya, Joohyun sudah memperkirakan ini. Kira-kiranya pria di hadapannya ini tak mau menerimanya.

.

.

.

“Berapa umurnya?” ujar pria itu akhirnya bersuara.

“Yeh? Eum, maksudku 3 bulan. Ya, umurnya baru 3 bulan,” jawab Joohyun tergagap. Tidak menyangka pria itu akan menanyakannya.

“Masih kecil rupanya.”

Joohyun tersenyum tipis menanggapinya.

“Baiklah.”

Joohyun mengerutkan dahinya, “baiklah apanya?”

“Baiklah, aku mau menikah denganmu.”

Joohyun hampir saja tersedak. Benar perkataan orangtua kalau mereka tidak boleh bicara saat makan. Joohyun nyaris memuntahkan potongan steak ke wajah pria itu.

Apakah Joohyun tidak salah dengar? Apa kata pria itu? Dia mau menikah dengannya. Di saat semua pria menolaknya mentah-mentah saat mengetahui Joohyun sudah memiliki anak—ya, walaupun itu anak adopsi, tapi Joohyun tidak mengatakannya.

“Jadi, kapan kita akan bertemu lagi? Ataukah aku ke rumahmu saja. Aku ingin melihat si kecil.”

“Yeh? Apa katamu barusan?” Otak Joohyun tampaknya masih belum dapat mencerna semua perkataan pria itu.

“Aku ingin bertemu bayimu. Baru setelah itu kita tentukan tanggal pernikahannya.”

Pernikahan?

Pria ini setuju menikah dengannya?

***

“Eomma!”

Joohyun langsung menghambur memeluk wanita paruh baya itu. Dia adalah Nyonya bae, eomma Joohyun.

“Putriku, Joohyun.” Nyonya Bae balas memeluk Joohyun.

“Eomma, aku sangat merindukanmu,” Joohyun berujar manja.

“ Eomma juga, Sayang.”

“Huh, Eomma kenapa baru kembali sekarang? Andaikan Eomma kembali sebelum Aboeji memutuskan pernikahanku,” keluh Joohyun begitu melepas pelukannya.

Nyonya Bae mengelus surai cokelat putri semata wayangnya itu.

“Sayang, Eomma memang seringkali dapat membuat Aboejimu itu berubah pikiran. Tapi kali ini Eomma sependapat dengan Aboejimu. Mana ada seorang Eomma yang mau putrinya melajang seumur hidup. Lagipula Eomma yakin bahwa pria yang dipilihkan oleh Aboejimu pasti pria baik dan pantas buatmu. Lagipula kau juga yang menyetujuinya ‘kan?”

Joohyun terdiam. Yah, dia tidak mungkin menerima pria dingin itu kalau bukan karena keadaan.

“Lebih baik kita bertemu dengan cucuku,” ujar Nyonya Bae lalu merangkul Joohyun menuju kamar si kecil.

***

Hari ini Jung Taekwoon datang ke kediaman keluarga Bae untuk menemui bayi Joohyun sekaligus membicarakan pernikahan. Aboeji begitu senang menyambut kedatangannya. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama akhirnya ada juga pria yang melamar anaknya. Mereka mengobrol panjang lebar dan tertawa bersama. Pria itu tidak sedingin saat makan malam dengan Joohyun. Aboeji baru melepaskan Taekwoon saat Joohyun mengatakan bahwa pria itu ingin melihat bayinya.

Taekwoon menunggu di ruang keluarga lantai dua kediaman Bae sementara Joohyun masuk ke kamar. Tidak lama kemudian Joohyun keluar menggendong seorang bayi mungil dibalut selimut berwarna baby blue. Joohyun mendekat ke arah Taekwoon dan duduk di sebelahnya.

“Ini bayiku. Dia laki-laki. Namanya Bae Miki,” ujarnya sambil menunjukkan wajah bayi itu kepada Taekwoon. Taekwoon tertegun sesaat.

“Boleh aku menggendongnya?” tanya Taekwoon tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi Miki.

“Iya, tentu.”

Joohyun memberikan bayi Miki ke pelukan Taekwoon. Taekwoon terus memandangi wajah tertidur bayi Miki lekat-lekat. Kemudian sebuah kurva tercipta di parasnya. Pria dingin itu tersenyum. Tersenyum. Barusan dia tersenyum. Joohyun terkejut. Ini pertama kalinya dia melihat pria itu tersenyum sejak bertemu dengannya tempo hari.

‘Pria ini bisa tersenyum juga ‘ batin Joohyun.

Taekwoon mencium kening Miki dengan sangat hati-hati.

Joohyun tertegun. Kenapa pemandangan ini sangat… indah.

Seakan-akan Taekwoon adalah seorang ayah yang baru pertama kali bertemu dengan anaknya.

***

“Yang broken white saja,” ujar Joohyun saat petugas itu menanyakan gaun mana yang hendak dipilihnya.

“Baiklah, kalau begitu.” Wanita itu tersenyum ramah kemudian berlalu membawa gaun yang dipilih Joohyun.

“Sudah memilih gaunnya?” Taekwoon muncul dari balik ruang tunggu.

Joohyun mengangguk menanggapinya.

“Kalau begitu, aku membayarnya dulu.” Dan pria itu menghilang lagi menuju tempat pembayaran. Saat ini mereka sedang berada di butik untuk memilih gaun pernikahan. Dia baru saja menyewa gedung, memilih tema pernikahan, warna bunga, serta hidangan yang akan disajikan. Joohyun tidak menyangka kalau mempersiapkan pernikahan bisa semerepotkan ini.

“Semuanya sudah ‘kan?” Taekwoon yang sudah selesai membayar kembali menghampirinya.

Joohyun lagi-lagi mengangguk menanggapinya.

“Kalau begitu ayo kita pulang.”

.

.

.

Joohyun dan Taekwoon jalan bersisian di sekitar kawasan Gangnam Street. Mereka keliatan lelah dan diliput kebisuan. Saking kelelahannya membuat Joohyun terus menunduk. Taekwoon menariknya saat seorang pemuda nyaris saja menabraknya.

“Hati-hati.”

Joohyun tersenyum kecil melihat perlakuannya.

“Jung Taekwoon.”

Pemuda jangkung itu berdeham menanggapinya.

“Kenapa kau mau menikah denganku?”

Langkah Taekwoon terhenti, begitu pun Joohyun.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku hanya—yah, penasaran. Karena ini tidak seperti kita menikah karena saling mencintai.”

Taekwoon kembali berjalan, membuat Joohyun harus kembali menyesuaikan langkah. “Karena anakmu lucu?”

Joohyun menatap Taekwoon heran. “Miki bukan satu-satunya bayi yang lucu di dunia ini ‘kan? Apa mungkin kau akan menikahi ibunya karena bayinya lucu?” cibirnya.

Taekwoon tersenyum kecil menyadari jawaban bodohnya.

“Yasudah, kalau bagitu anggap saja kita saling membutuhkan.”

Joohyun terdiam.

“Aku butuh pendamping dan kau butuh Appa untuk anakmu, dan juga karena Aboejimu.”

Ah, begitu maksudnya. Tapi tetap saja, bagaimanapun mereka menikah sungguhan.

“Tapi,” Joohyun menggantung kalimatnya. Masih ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

“Apa lagi?” jawab Taekwoon masih sabar menghadapi pertanyaan-pertanyaan gadis itu.

“Aku harus menyesuaikan diri dulu. Iya, kita tetap menikah. Tapi aku belum bisa—yah, kau tahu.”

Taekwoon menghentikan langkahnya lagi, membuat gadis itu juga melakukan hal yang sama. Tangannya terangkat menyentuh pundak Joohyun, dibaliknya tubuh gadis itu menghadapnya. Netranya bersirobok dengan iris cokelat gadis itu.

“Joohyun, hal itu bukanlah tujuanku menikah denganmu. Jadi aku tidak akan memaksamu. Lakukan saja apa yang membuatmu nyaman.”

***

Joohyun telah resmi menjadi istri seorang Jung Taekwoon. Mereka baru saja mengucap janji suci di hadapan pastur, kedua orangtua Joohyun serta puluhan tamu undangan lainnya. Kini gadis pembawa bunga membawakan sepasang cincin yang akan mereka kenakan. Taekwoon yang hari ini tampak gagah, mengenakan tuxedo putih dengan kemeja berwarna gold. Rambutnya rapi disisir ke belakang, benar-benar tampan. Joohyun melihat Aboejinya terus tersenyum sumringah. Aboeji benar-benar senang mendapat menantu yang gagah. Taekwoon memakaikan cincin berhias batu Swarovski itu pada jari manis Joohyun, begitu juga sebaliknya. Para hadirin bertepuk tangan seusai mereka saling bertukar cincin. Joohyun masih memasang senyum menawannya sampai sang pastur mengatakan—

“Sekarang kau dapat mencium pengantinmu.”

—membuat senyum Joohyun sontak luntur tergantikan ekspresi panik. Joohyun tidak memperkirakan hal ini. Taekwoon memang baik, dan dia sekarang merupakan suaminya. Tapi berciuman? Joohyun belum siap.

Joohyun semakin panik saat Taekwoon memajukan wajahnya.

“T-taekwoon,”lirihnya.

Sedangkan Taekwoon tersenyum, tak menanggapi kepanikan istrinya.

Aboeji Joohyun masih bersorak senang di sana. Tidak sabar melihat kedua pasang pengantin baru itu menunjukkan bukti cinta mereka.

Dan kini wajah mereka berdua hanya berjarak satu mili. Joohyun tidak dapat berbuat apa-apa lagi, hanya menutup matanya dan berharap semua secepatnya berakhir.

Para hadirin bersorak dan bertepuk tangan melihat pemandangan di hadapan mereka. Meninggalkan Joohyun kebingungan.

Sudut bibir? Taekwoon tidak mencium bibirnya, tapi sudut bibirnya.

***

Joohyun dan Taekwoon kini sudah berada di rumah baru mereka. Sebuah apartemen mewah yang masih terletak di Seoul. Tidak hanya upacara pernikahan, resepsi pernikahan pun menguras tenaga mereka berdua. Joohyun masih ingat bagaimana tadi Taekwoon meminta maaf karena telah menciumnya. Padahal pria itu juga sudah mengerti dengan tidak mencium bibirnya.

Setelah mengganti pakaian mereka berdua, kini saatnya mereka akan beristirahat.

“Kamarnya hanya ada dua, satu untuk Miki dan satu lagi untuk… kita,” ujar Taekwoon sambil memperlihatkan dua kamar, kamar yang agak kecil untuk Miki dan yang besar untuk…mereka berdua.

Sejenak mereka menatap canggung satu sama lain.

Taekwoon berdeham untuk menetralisir suasana. “Kau kelihatannya lelah, hari ini biar aku tidur bersama Miki. Kau tidur saja di kamar,” ujar Taekwoon.

Di kamar Miki terdapat sebuah single bed yang memang disediakan saat Joohyun akan tidur bersama Miki atau untuk Miki kalau sudah agak besar nanti.

Joohyun mengangguk canggung. Kamar Miki dan kamar utama terletak berhadapan.

“Selamat malam,” ucap Taekwoon sebelum akhirnya dia membuka pintu kamar Miki.

“I-iya, selamat malam.”

***

Mentari bersinar terang, cahaya kekuningannya masuk ke celah-celah jendela kamar utama. Membuat suhu kamar menjadi hangat. Seorang gadis menggeliat di atas kasur king size nya. Gadis itu terduduk, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Joohyun bangkit dan berjalan menuju kamar Miki. Namun alangkah terkejutnya Joohyun saat menemukan box bayi di kamar itu dalam keadaan kosong. Oh apakah dia ceroboh lagi? Dimana dia lupa meletakkan Miki?

Joohyun segera menuruni tangga menuju lantai satu. Sepi. Tidak ada siapa pun di ruang tamu ataupun dapur. Tapi kemudian Joohyun merasa ada yang aneh.

Dia dimana?

Sibuk berkecamuk dengan pikirannya membuat Joohyun tidak mendengar suara pintu terbuka. Seorang pria jangkung datang sambil mendorong kereta bayi. Pria itu adalah Taekwoon.

“Kau sudah bangun rupanya,” ujar Taekwoon dan itu mengejutkan Joohyun.

“Kapjagiya!”

Astaga, Joohyun baru ingat kalau sekarang dia tidak sendirian, dia sudah memiliki suami.

“K-kau darimana?” tanya Joohyun masih sambil mengelus dadanya.

“Aku habis mengajak Miki jalan-jalan pagi.” Taekwoon menenteng beberapa kantung plastic kea rah dapur.

“Kau ingin sarapan apa?”

Joohyun mengikuti Taekwoon ke dapur. “Kau memasak juga?”

“Iya, kenapa memangnya? Oh iya, tadi aku mampir ke minimarket dan membeli susu dan telur. Sepertinya omelette cukup untuk sarapan.”

Joohyun heran. Dia itu seorang suami atau pembantu sih? Pagi-pagi dia sudah membawa Miki jalan-jalan dan sekarang dia akan membuat sarapan.

***

“Ini dia, di sini tempat pampersnya.”

Joohyun berdeham sambil mengamati satu-persatu merk pampers disana. “Iya yang ini saja.” Joohyun mengangkat sekantung pampers dan mengunjukannya pada pria yang mendorong troli di sebelahnya.

Saat ini mereka sedang berada di super market untuk membeli kebutuhan Miki serta perlengkapan rumah tangga.

“Hei, Miki itu baru saja lahir. Beli yang ukuran baru lahir atau S.” protes pria di sebelahnya.
Gadis itu kembali mengamati merk-merk pampers itu. “Beli yang ukuran S… ” gumamnya.

“Ah, ini dia! Ukuran S.” Joohyun hendak mengambil pampers itu saat terdengar protes lagi dari Taekwoon.

“Jangan beli yang itu!”

“Ini. Iya, beli yang ini. Pampers ini bahannya 2× lebih lembut. Kita ambil yang isinya 100.” Taekwoon mengambil pampers bermerk sebaliknya.

“Selanjutnya, botol susu.” Joohyun tertarik dengan botol susu berwarnya biru muda dengan hiasan gajah di tutupnya.

“Jangan, yang ini saja. Karetnya lebih lembut untuk mulutnya.” Taekwoon mengganti botol di tangan Joohyun dengan botol susu berwarna putih. Dengan terpaksa Joohyun meletakkan botol susu itu ke dalam troli mereka.

Selanjutnya mereka menuju bagian susu bayi.

“Susunya—”

“Iya, aku tahu! Beli susu untuk bayi baru lahir,” ujar Joohyun menyela. Dia kesal disalahkan terus.
Joohyun mengamati merk susu itu satu-persatu. “Ah, ini dia. Kita ambil yang—”

“Tunggu dulu!”
Taekwoon menyambar kaleng susu di tangan Joohyun. Dengan teliti dia membaca kandungan dari susu formula tersebut.

“Ah iya! Apa kau sudah membawa Miki ke dokter?” tanya Taekwoon.

“Belum.”

“Kita harus memastikan apakah Miki alergi protein susu sapi atau tidak.” Taekwoon kembali membaca kandungan di label susu tersebut. “Apa sebaiknya kita membeli susu kedelai saja?”

“Besok aku akan membawanya ke dok—”

“Tidak bisa begitu! Nanti kalau Miki lapar bagaimana?”

“Ya! Miki tidak alergi protein. Dia sudah tinggal di rumahku dan ibuku telah memberikannya susu formula. Pihak panti asuhan juga pasti akan memberitahukanku kalau Miki memiliki alergi ataupun penyakit lainnya. Lagipula—”
“Kenapa daritadi kau yang mengatur kebutuhan Miki?!”
Srek.
Sesuatu terjatuh dari saku celana Taekwoon. Ternyata itu adalah sebuah notes kecil. Tubuh Taekwoon menegang saat Joohyun menunduk untuk mengambil notes itu.
Joohyun membaca deretan kata yang tertulis pada notes itu. Susu formula, pampers, botol susu, selimut…ini semua adalah kebutuhan bayi. Ini untuk Miki?
“Kau mencatat ini semua?” tanya Joohyun tak percaya.

“Kembalikan notes itu.” Taekwoon berusaha merebut notes itu tapi Joohyun lebih pintar mengelak.

“Tunggu. Kau mencari tahu dan menyiapkan daftar ini?” Joohyun masih memburunya dengan pertanyaan. “Ibuku ‘kan sudah pernah berbelanja untuk Miki. Harusnya kau bertanya saja pada ibu—”

“Sudahlah, kita masih harus membeli pakaian bayi. Jangan membuang-buang waktu. Aku bayar belanjaan ini dulu,” ujar Taekwoon gusar dan berlalu mendorong trolinya meninggalkan Joohyun.

Joohyun tertawa kecil. Appa yang perhatian, huh?

TBC

Iklan

Satu respons untuk “Accidentally Family (Chapter 1)

  1. ahayyyy aku mampirrrrrrrrr ~~~

    ihh mau bawa pulang appa yang kaya gitu ihhh,

    feel nya dapet banget lah, aku baca selanjutnya,

    appa leyo mommy iyene forever wkwkw *kena virus*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s