Accidentally Family (Prolog.)

PicsArt_1434597363810

Accidentally Family (Prolog.)

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Life, Family| Chaptered | G

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

Summary :

Sumber energiku datang hari ini.

.

.

.

“Bagaimana pengacara Lee?”

“Semuanya sudah beres?”

“Kalau begitu, aku bisa menjemputnya hari ini ‘kan?”

“Baiklah, terima kasih banyak pengacara Lee.”

Senyum mengembang terpatri jelas di wajahku. Bagaimana tidak? Aku telah menunggu cukup lama. Dan akhirnya saat ini datang juga. Sumber energiku datang hari ini.

Segera setelah jam kerjaku berakhir, aku membawa mobilku meluncur ke kawasan Yongsandong. Setelah berkendara kurang lebih 2 jam, mobil putihku berhenti di depan sebuah gedung berukuran sedang dengan papan nama besar bertuliskan ‘Panti Asuhan’.

Aku terlalu semangat hingga tanpa sadar aku melangkah terlalu cepat. Setelah masuk, aku langsung menyambangi meja penerima tamu.

“Permisi, aku di sini untuk menjemput anak angkatku.”

“Atas nama siapa?” tanya seorang ahjumma yang sepertinya bertugas di sana.

“Atas nama Bae Joohyun.”

“Sebentar, biar ku periksa.” Ahjumma itu menghilang di balik ruang administrasi yang terletak di belakang meja penerima tamu. Tak butuh waktu lama, dia sudah kembali ke balik meja.

“Bae Joohyun-ssi?”

“Iya.”

Ahjumma itu mengernyit sedikit sebelum akhirnya mengatakan, “maaf, tapi bayinya telah di jemput tadi siang.”

“Apa? Siapa? Dengan siapa?!”

***

Aku memarkirkan mobilku asal. Aku langsung bergegas keluar dan melangkah memasuki halaman rumahku dengan tidak sabar. Senyum mengembangnya luntur sudah, tergantikan wajahku yang memerah menahan amarah.

.

“Seorang pria paruh baya yang menjemputnya. Pria itu mengaku sebagai ayahmu, namanya Bae Byunhee. Dia juga membawa surat dari pengacaramu.”

.

Seorang wanita paruh baya baru saja membukakan pintu rumahku saat aku langsung menodongnya dengan pertanyaan, “dimana Aboeji?”

Aku mengikuti wanita paruh baya—yang tak lain adalah pembantu rumah tangga—menuntunku ke ruang keluarga, di mana Aboeji berada.

Aku sampai pada sebuah ruang yang biasa kami sebut ruang keluarga. Seorang pria paruh baya sedang duduk di atas sofa kulit berwarna hitam. Seperti biasa, menyanding buku politik tebal-nya. Dia adalah Aboejiku.

“Aboeji,” sapaku sopan sesaat setelah pembantu rumah tangga itu pergi.

“Kau sudah datang rupanya.”

Aku mendengus pelan. Aboeji sudah merencanakannya, huh?

“Kalau kau marah, marah saja. Ini tidak seperti dirimu,” dia berucap ringan di balik kacamata tebalnya. “Biasanya kau sangat kritis.”

“Bagaimana bisa Ab—”

“Aku tidak mempermasalahkan lagi perihal kau mengadopsi anak. Tapi aku tidak mau kau melajang seumur hidup dan mengurusi anak yang bukan anak kandungmu.”

“Apa?”

Buku tebal itu sudah tidak lagi berada di depan hidungnya. Buku itu sudah di hempaskannya pada meja di samping kirinya. Berganti dengan kedua pupilnya yangmenatapku intens. “Aboeji tahu apa yang ada di kepalamu. Kau berencana untuk tidak menikah, ‘kan?”

Selalu saja. Aku benci mengakui kau selalu berhasil membaca pikiranku.

“Kau pikir aku akan membiarkannya? Tidak. Ingat Joohyun., hanya kau satu-satunya anak Aboeji. ”

Ya, dan itu fakta yang membuatku semakin benci. Karena aku adalah satu-satunya.

Kedua pupil itu tak lagi mengintimidasiku. Dia justru melepas kacamatanya dan mengelap lensanya dengan santai. “Kau boleh merawat bayi ini tapi,”

Oh, jangan katakan.

“Setelah kau menikah.”

Binggo. Hari yang buruk. Semua ekspektasi berubah menjadi realitas yang—huh, menyebalkan.

“Lalu untuk apa aku mengadopsi bayi?” protesku tak terima. Bagaimana bisa rencana yang telah kususun sedemikian rupa dan sejak lama, dia hancurkan begitu saja.

“Aboeji tidak mau tahu. Sebelum kau mendapatkan suami, bayi ini akan tinggal di sini.”

“Aboeji!”

“Dan satu lagi,”

“Cepat cat kembali rambutmu!”

***

Ini tidak mudah untuk mencari calon suami mengingat aku telah memiliki anak. Kenapa sulit? Karena aku tidak memberitahu mereka kalau ini adalah anak angkat. Aku berlaku seakan-akan aku adalah wanita dengan satu anak. Tak jarang mereka terkejut mendengarnya karena melihat aku masih cukup muda dan belum pernah menikah. Tapi aku melakukan ini demi kebaikan anakku. Aku ingin mendapatkan suami yang tulus menerimaku—yang telah memiliki anak—sehingga mereka akan menyayangi anakku seperti anak mereka sendiri. Karena aku tahu tak sedikit pria yang hanya berlaku manis di depan. Dan aku tidak mau jatuh ke tangan pria macam itu. Tapi aku semakin frustasi saat—

“Batas waktunya bulan ini. Kalau tidak, akan kukembalikan lagi bayi itu ke panti asuhan.”

—Aboeji mengatakan hal seperti itu.

“Apa saja yang kau lakukan, hah?”

Entahlah, mana mungkin aku menceritakan semua itu pada Aboeji.

“Bersiaplah.”

“Lagi?”

“Ini untuk terakhir kalinya. Aboeji hanya ingin membantumu. Jangan kecewakan Aboeji lagi.”

“Baik, aku mengerti.”

Entah pria macam apa lagi yang harus kuhadapi.

***

Pukul 4.15 sore aku telah berdiri di depan restoran besar di kawasan Gangnam. Restoran ini telah menjadi tempat yang rutin ku kunjungi seminggu sekali karena Aboeji selalu mengatur pertemuan dengan pria-pria itu di sini. Aku sampai bosan.

Sekali lagi aku mengecek penampilanku. Aku mengenakan dress selutut berpotongan simple dengan warna broken white dipermanis bolero berwarna hitam. Surai panjangku—yang telah ku cat cokelat—ku gerai. Tak lupa aku melengkapi penampilanku dengan stiletto berwarna senada dan clutch hitam bermerk Guess.

Penampilanku sudah cukup menunjukkan kalau aku berasal dari kalangan berada, bukan? Karena semenjak kemarin pria-pria yang diatur oleh Aboeji kebanyakan adalah seorang CEO atau putra pewaris perusahaan. Aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya.

Semoga hari ini berhasil, walaupun tipis harapan pria itu akan menerimaku.

Tapi aku ingin cepat-cepat bertemu dengan bayiku.

Kuhembuskan napas sebelum akhirnya aku memasuki restoran itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s